KEJADIAN
“Segalanya Bermula Dari Sini”
PENTINGNYA KITAB KEJADIAN
Isi Alkitab tidak akan berarti banyak tanpa Kitab Kejadian. Kitab ini menjawab pertanyaan-
pertanyaan "penting" seperti mengapa kita berada di sini dari mana kita datang. Kejaian
berbicara tentang awal mula dunia, manusia, masyarakat, keluarga, bangsa-bangsa, dosa
dan keselamatan. Khususnya, Kejadian bercerita tentang lahirnya bangsa Yahudi.
GAYA PENULISAN KITAB KEJADIAN
1. Kitab Kejadian mengajarkan kebenaran dengan menceritakan kisah-kisah, bukan
dengan memberikan pelajaran dalam bentuk yang lebih formal.
2. Kisah-kisah yang diceritakan bersifat sangat manusiawi. Tidak ada upaya untuk
menutup-nutupi fakta, bahkan pahlawan-pahlawan besar sekalipun digambarkan apa
adanya.
3. Semua kisah diceritakan dengan penuh keagungan dan dengan gaya yang
mengharukan. Dinilai dari standar apa pun, disimpulkan bahwa Kitab Kejadian ditulis
dengan cemerlang.
PENULIS KITAB KEJADIAN
Penulisnya tidak dikenal, namun Perjanjian Baru secara tidak langsung menunjukkan bahwa
Kitab Kejadian ditulis oleh Musa dan pendapat ini tidak pernah dipertanyakan oleh gereja
sampai saat ini. Kita tidak tahu bagaimana kitab ini ditulis, namun cukup beralasan untuk
menerima Musa sebagai editor yang mengumpulkan sejumlah kisah dan fakta, yang
beberapa di antaranya mungkin sudah lama beredar luas sebelum masa Musa.
NILAI KITAB KEJADIAN
Banyak orang mungkin menilai bahwa ilmu modern dan sejarah telah meremehkan nilai
Kitab Kejadian. Kendatipun demikian, kita tetap dapat membaca Kitab Kejadian dengan
penuh kepercayaan akan nilai kebenarannya berdasarkan dua alasan, yaitu:
1. sebab di antara semua argumentasi ilmiah atau sejarah yang mempertanyakan
ketepatan Kitab Kejadian selalu terdapat lebih dari satu yang mendukung Kitab
Kejadian.
2. Sebagian besar dari yang diperdebatkan bukan terutama mengenai kebenaran itu
sendiri, melainkan tentang cara-cara pendekatan modern terhadap kebenaran.
Apapun anggapan kita tentang kebenaran, Kitab Kejadian tetap merupakan
kebenaran. Di atas segalanya, Kitab Kejadian merupakan kebenaran yang
diungkapkan oleh Allah sendiri mengenai diri-Nya, kita dan dunia tempat kita hidup.
KELUARAN
“Lahirnya Satu Bangsa”
MENGAPA KELUARAN?
"Keluaran" adalah judul kitab Musa yang kedua dalam Perjanjian Lama. Sebenarnya
penggambaran mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanya sebagian dari isi kitab
itu.
MENGENAI APA?
Kitab Keluaran terdiri dari tiga bagian penting.
1. Riwayat Musa: bagaimana ia diselamatkan waktu masih bayi; bagaimana ia
dibesarkan di istana Firaun; bagaimana ia dipanggil oleh Allah dari semak belukar
yang menyala; bagaimana ia menantang Firaun untuk membebaskan bangsanya dari
perbudakan; dan bagaimana akhirnya ia memimpin bangsanya dengan penuh
kemenangan menyeberangi Laut Merah menuju ke padang belantara Gunung Sinai.
2. Bagian kedua dari Kitab Keluaran berisi komunikasi Allah dengan Musa di Gunung
Sinai, pemberian Sepuluh Perintah Allah dan perintah-perintah lainnya.
3. Bagian terakhir terutama menceritakan tiga hal, yaitu: pembuatan Tabut Perjanjian
tempat menyimpan loh batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah; pembuatan Kemah
Suci untuk tempat menyimpan kotak Tabut Perjanjian; dan aturan-aturan terinci
tentang peribadatan.
APA ARTI KITAB KELUARAN BAGI KITA DEWASA INI?
Catatan utama dalam Kitab itu ialah tentang penebusan, yaitu pembebasan dari
perbudakan. Kitab Keluaran memberikan banyak ilustrasi yang membantu kita untuk
mengerti penebusan kita sendiri melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Domba Paskah (Kel 12:1-
11) jelaslah melambangkan Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia (Yoh 1:29).
Kristus disebut sebagai Anak Domba Paskah oleh Paulus (1Ko 5:7), sementara itu Petrus
menamakan-Nya sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Pe 1:19). Pada
bagian terakhir Kitab Keluaran kita diingatkan bahwa sebagai umat yang sudah ditebus, kita
dipanggil untuk menjadi umat penyembah Allah. Allah mengajar umat-Nya dengan
memakai alat-alat bantu visual. Kemah Suci melambangkan kehadiran Allah di antara umat-
Nya. Perlu kita ingat bahwa Kristus dikatakan berdiam (berkemah) di antara kita (Yoh 1:14).
Jadi, Kitab Keluaran merupakan contoh bagaimana Perjanjian Lama menerangi Perjanjian
Baru. Bilamana kita mempelajari Kitab Keluaran kita melihat cara Allah melepaskan umat-
Nya dari perbudakan serta rencana-rencana selanjutnya bagi mereka, dan kisah ini berlaku
bagi setiap orang yang menyadari kebutuhannya untuk ditebus.
IMAMAT
“Peraturan mengenai kehidupan dan penyembahan”
MENGAPA IMAMAT?
Sebagian besar isinya menyangkut imam-imam bangsa Lewi, namun pengulangan kata-kata,
"Berbicaralah kepada orang Israel..." menunjukkan bahwa kitab itu juga diperuntukkan bagi
semua orang. Kitab itu harus dianggap sebagai bagian dari Pentateukh, lima kitab pertama
dari Alkitab. Keluaran menceritakan bagaimana Allah membebaskan bangsa Israel dari
Mesir dan membuat perjanjian dengan mereka. Imamat menerangkan bagaimana
kehidupan dan penyembahan bangsa perjanjian itu diatur.
SIAPA PENULISNYA?
Tak ada nama penulis disebut dalam Imamat. Sebagian besar bahan tulisan diberikan oleh
Allah kepada Musa di Sinai, namun kita tidak dapat mengatakan kapan atau oleh siapa
semua bahan tulisan itu pada akhirnya disatukan dan disusun.
MENGENAI APA?
Imamat terutama terdiri dari hukum-hukum dan peraturan-peraturan, namun terdapat
kerangka cerita dan ilustrasi yang menunjukkan bahwa semua peraturan ini cocok dengan
sejarah yang sebenarnya. Secara umum kitab itu terbagi atas dua bagian, pasal-pasal
mengenai Hari Penebusan Dosa terdapat di bagian tengah. Bagian pertama adalah
mengenai pemulihan hubungan dengan Allah -- peraturan mengenai korban dan penyucian.
Bagian akhir adalah tentang hidup sebagai umat Allah.
HUKUM
Sebagian besar hukum dalam Imamat adalah mengenai upacara keagamaan, namun
terdapat juga hukum mengenai kebersihan dan sikap moral yang serupa dengan Sepuluh
Perintah. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara hukum-hukum yang berbeda-beda
itu; semuanya mencerminkan maksud Allah terhadap bangsa Israel dan semuanya harus
dipatuhi. Dalam Perjanjian Baru pengorbanan Kristus membawa penyucian yang
menyeluruh, oleh sebab itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak
lagi berlaku. Kendati demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan apa
arti kematian Kristus bagi kita.
KORBAN
Ada enam korban yang digambarkan dalam Imamat, yang digolongkan ke dalam tiga jenis.
1. KORBAN PERSEMBAHAN. Bertujuan untuk memuliakan Allah dan mempersembahkan
diri kepada-Nya.
korban bakaran: binatang utuh dibakar
korban sajian: termasuk di dalamnya persembahan bukan binatang
2. KORBAN KESELAMATAN. Tujuannya ialah untuk menjaga hubungan dengan Allah.
korban perdamaian: sebagian korban dibakar, sisanya dimakan dalam o suatu
acara makan bersama
3. KORBAN PENYUCIAN. Tujuannya untuk menghapus dosa dan memperbarui hubungan
dengan Allah.
korban penghapus dosa: untuk dosa-dosa terhadap Allah
korban penebus salah: di mana ada ganti rugi yang harus dibayar
korban pentahbisan: bagi para imam
BILANGAN
“Bangsa Israel di padang gurun”
MENGENAI APA?
Nama kitab ini dalam Alkitab Ibrani berarti "di padang gurun" dan judul itu mencakup
semua peristiwa yang dilukiskan dalam kitab itu. Judul "Bilangan" dipakai oleh sebab kitab
itu mencatat "penjumlahan" bangsa itu pada tahun kedua (pasal Bil 1) setelah mereka
meninggalkan Mesir dan tahun keempat puluh (pasal Bil 26). Sebagian isi kitab
menceritakan pengalaman bangsa Israel selama empat puluh tahun sebelum mereka
memasuki Tanah Perjanjian. Dalam banyak hal Bilangan menjadi bacaan yang
menyedihkan, oleh sebab banyak dari penderitaan bangsa Israel adalah akibat langsung
dari ketidaksetiaan dan ketidaktaatan. Orang boleh mengatakan bahwa Bilangan
merupakan catatan mengenai kegagalan manusia terhadap kesetiaan ilahi.
APA KESAN KESELURUHAN?
Salah satu cirinya ialah bahwa kitab ini tidak mencoba untuk menyajikan kepada kita suatu
narasi penuh atau kisah bersambung yang ketat. Sebagai perbandingan, hanya sedikit yang
diceritakan mengenai masa-masa yang dilewati di padang gurun, namun peristiwa-peristiwa
tertentu ditonjolkan dan digambarkan secara panjang lebar. Kesan keseluruhan ialah bahwa
Allah tetap berkuasa melawan pemberhalaan dan imoralitas bangsa Israel. Sebagian Kitab
Bilangan bersifat sejarah dan sebagian lagi bersifat undang-undang.
SIAPAKAH TOKOH-TOKOH UTAMA YANG DISEBUT DALAM KITAB BILANGAN?
Sudah jelas bahwa Musa banyak sekali disebut dalam kitab ini -- perhatian Musa terhadap
Hobab (Bil 10:29-32); doanya di Tabera (Bil 11:10-15); reaksinya terhadap kecaman (Bil 12);
imannya yang kurang (Bil 13); keprihatinannya terhadap kehormatan Allah (Bil 14:13-19);
ketidakikutsertaannya masuk ke dalam Tanah Perjanjian (Bil 20:2-13). Harun juga disebut,
terutama dalam hubungannya dengan pemberontakan Korah (Bil 16). Miryam, saudara
perempuan Musa, juga merupakan salah seorang tokoh dalam kitab ini. Pasal Bil
12 menceritakan bagaimana ia dihukum oleh sebab iri hati. Nama-nama lain yang disebut
termasuk Yosua dan Kaleb, dua orang mata-mata yang berani percaya kepada Allah dan
hanya mereka berdua dari generasi itu yang diizinkan masuk ke Kanaan. Kisah mengenai
Bileam dan Balak juga dicatat dalam kitab itu (pasal Bil 22-24).
APA KESUKARAN-KESUKARAN YANG DIHADAPI?
Para kritikus Alkitab mengajukan sejumlah pertanyaan tentang ketepatan sejarah dan
statistik dari kitab ini. Sebagian besar, walaupun tidak semua, dari kitab ini dapat diterima
jika kita menyadari bahwa para penulis bangsa Ibrani tidak selalu mengikuti urutan
kronologis peristiwa-peristiwa secara ketat. Mereka lebih mementingkan arti dan pentingnya
peristiwa.
ULANGAN
“Suatu tantangan bagi umat Allah”
NAMA
Nama Ibrani untuk Kitab Ulangan dirangkum dalam baris pembukaan yang berbunyi "inilah
perkataan-perkataan itu". Nama Ulangan diambil dari kata Yunani yang berarti "hukum
kedua" yang merupakan terjemahan yang sedikit kurang tepat dari "salinan dari hukum ini"
(Ula 17:18).
STRUKTUR KITAB ULANGAN
Dalam Ulangan kita membaca pengulangan dan penekanan kembali dari perjanjian yang
dibuat antara Allah dan bangsa Israel di Sinai. Bentuk perjanjian dibuat sesuai dengan pola
umum naskah perjanjian di daerah Asia Timur Dekat kuno yang terdiri dari latar belakang
historis, daftar kewajiban, uraian mengenai berkat dan kutuk, serta pengaturan untuk
menyimpan dan membaca dokumen perjanjian. Dalam Ulangan pola ini ditampilkan dalam
bentuk tiga pidato Musa di depan bangsa Israel sebelum ia wafat untuk mengingatkan
mereka apa artinya menjadi umat Allah.
PENULIS DAN WAKTU PENULISAN
Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa sebagian besar bahan didapat langsung dari
Musa sendiri. Pendapat bahwa seluruh kitab ini dibuat selama masa reformasi Hizkia atau
Yosia, atau bahkan setelah masa pengasingan tidak dapat didukung, sebab tidak ada isi
kitab yang berhubungan dengan tradisi Raja Daud atau Bait Allah; kedua fakta ini amat
penting di kemudian hari. Pada kenyataannya pola hidup yang digambarkan cocok dengan
latar belakang kehidupan bangsa Israel sebelum adanya kerajaan. Namun demikian,
rupanya telah terjadi beberapa penyuntingan dan penyusunan kembali sehingga sangat
sukar untuk menentukan kapan akhirnya kitab itu diterbitkan. Contoh-contoh perjanjian dan
prinsip-prinsip yang terdapat dalam Keluaran seringkali dikemukakan secara berbeda di
dalam Ulangan. Mungkin hal ini dilakukan untuk memenuhi situasi yang berbeda, namun
andaikata uraian itu disesuaikan untuk kebutuhan zaman yang kemudian, itu tidak berarti
bahwa tidak seluruh isi kitab didasarkan pada bahan-bahan dari Musa.
MENGAPA ULANGAN DITULIS?
Tujuan utama dari pidato-pidato Musa ialah untuk meyakinkan bangsa Israel sebagai umat
Allah sebelum ia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Yosua dan bangsa itu berjuang
melawan orang Kanaan. Secara keseluruhan Ulangan mengajarkan isi dan arti agama Israel,
menantang mereka untuk melaksanakan peraturan-peraturannya dan mendorong bangsa
itu untuk menyerahkan diri sekali lagi pada pelayanan kepada Allah. Kitab itu
menggambarkan "kehidupan berbahagia" dalam persekutuan dengan Allah sambil
menikmati segala berkat-Nya, dan membandingkannya dengan akibat yang akan terjadi jika
mereka melalaikan perjanjian. Kitab itu hampir dapat digambarkan sebagai suatu kitab
"undang-undang" bagi bangsa Israel dan bukan hanya sebagai buku pegangan bagi para
pemimpin mereka.
YOSUA
“Merebut Tanah Kanaan”
BAGAIMANA KITAB ITU DITULIS
Yosua lebih dikenal sebagai pahlawan daripada sebagai penulis kitab itu. Baik tradisi
maupun kitab itu sendiri (Yos 24:26) mengakui bahwa banyak bahan tulisan berasal dari
Yosua. Sebagian berasal dari hasil kesaksian pandangan mata, namun kemudian seorang
penyunting rupanya telah menyatukan semua bahan ke dalam bentuk yang kita kenal
sekarang (Yos 4:8, 9; 7:26; 8:28; 24:29, 30).
YOSUA
Pada waktu keluar dari Mesir Yosua masih seorang pemuda dan kemudian ia menjadi
asisten pribadi Musa. Ia ternyata seorang tangan-kanan yang dapat dipercaya dan setia.
Laporan golongan kecilnya, bersama Kaleb, mengenai pengintaian di Kanaan menunjukkan
bahwa ia seorang yang beriman dan berani. Ia adalah pengganti alamiah bagi Musa dan
mengambil alih pimpinan pada usia tujuh puluh tahun. Yosua menempatkan suku-suku
bangsa Israel di Kanaan dan ia meninggal pada usia 110 tahun.
TUJUAN KITAB YOSUA
Kitab Yosua merupakan kitab yang pertama dan terkemuka yang berisi penuturan sejarah
mengenai bagaimana Allah memenuhi janji-Nya untuk membawa umat-Nya ke tanah
perjanjian. Tema itu dapat ditemukan dalam Yos 1:11: "Menduduki negeri yang diberikan
Tuhan Allahmu kepadamu..."
PENAKLUKAN KANAAN
Merebut negeri itu bukan suatu tugas yang mudah. Yosua memimpin bangsa yang masih
terdiri dari suku-suku melawan bangsa-bangsa yang sudah mapan. Setelah merebut kota-
kota kunci seperti Yerikho dan Ai, Yosua terlibat dalam pertempuran-pertempuran di bagian
tengah, selatan dan utara Kanaan. Meskipun ia berhasil dengan gemilang, tugasnya belum
selesai pada saat ia mulai menempatkan suku-suku bangsa Israel di pemukiman mereka
masing-masing (Yos 13:1).
BAGAIMANA MENAFSIRKAN YOSUA
Walaupun Yosua merupakan sebuah kitab sejarah, isinya banyak berbicara kepada orang
Kristen masa kini. Ibrani 4:1-11 menunjukkan bahwa kitab itu dimaksudkan sebagai sarana
untuk memberi semangat kepada orang Kristen, sehingga mereka tidak kehilangan apa
yang sebetulnya ingin Allah berikan kepada mereka. Meskipun Yosua berbicara mengenai
peperangan dan daerah geografis, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip yang dipakai oleh
Allah pada masa itu dalam peperangan rohani yang kita hadapi dan wilayah rohani yang
dapat kita miliki.
HAKIM-HAKIM
“Lingkaran Dosa”
HAKIM-HAKIM
Hakim-hakim merupakan kitab yang penting sebab memberikan gambaran mengenai
hubungan antara Yosua, yang memimpin bangsa Israel masuk ke Kanaan, dengan Saul,
Daud dan raja-raja Israel lainnya. Selama masa hakim-hakim, Israel lambat laun belajar
untuk menjadi suatu bangsa dan bukan lagi sebagai dua belas suku yang berdiri sendiri-
sendiri.
PENULISNYA
Kita tidak tahu siapa penulis kitab itu. Mungkin juga dikumpulkan dari catatan-catatan pada
masa itu dan lama sesudahnya baru diterbitkan. Tiga kali dinyatakan dalam kitab itu bahwa
"pada masa itu Israel tidak mempunya raja" (Hak 17:6; 18:1; 21:25), hal ini mengisyaratkan
bahwa kitab itu diterbitkan beberapa waktu sesudah kerajaan dibentuk.
SIAPA HAKIM-HAKIM ITU?
Judul kitab itu agak membingungkan, sebab kedua belas "hakim-hakim" itu tidak semata-
mata mengurusi masalah hukum; mereka adalah para pangeran yang diilhami oleh Roh
Kudus untuk memberikan semacam kepemimpinan karismatis pada saat-saat diperlukan.
Ada dua belas hakim, dan yang menarik ialah bahwa Yefta menyebut Allah sebagai "Tuhan,
Hakim" (Hak 11:27), memakai panggilan yang sama seperti yang diberikan kepada para
hakim. Mereka menyadari bahwa mereka dipimpin oleh kuasa ilahi dan bukan semata-mata
pilihan manusia.
LINGKARAN DOSA
Kitab ini terdiri dari pendahuluan (Hak 1:1-2:5) dan lampiran (Hak 17:1-21:25), dan sisanya
berisi kisah dari kedua belas hakim dan enam masa penindasan. Lingkaran peristiwa yang
terjadi:
1. Rakyat hidup sejahtera. Tidak ada keperluan khusus dengan Allah. Oleh sebab itu,
Allah ditinggalkan dan ilah-ilah dari negara tetangga yang kafir mengambil alih
kedudukan Allah.
2. Penindasan. Allah meninggalkan mereka menurut kemauan mereka sendiri. Allah
membiarkan mereka mengurus diri mereka sendiri! Moab dan Amon, bangsa Filistin
dan orang Midian semuanya berbalik menyerang Israel.
3. Pertobatan. Israel mengakui kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah, memohon
pengampunan. Setiap kali Allah selalu bersedia mengampuni dan memulihkan
mereka.
4. Pembebasan. Seorang hakim muncul untuk membebaskan umat Allah. Setiap kali
jelas bahwa Allahlah yang menyelamatkan melalui hakim itu.
5. Rakyat kembali hidup sejahtera... lingkaran dosa berulang kembali.
RUT
“Imbalan Kesetiaan”
LATAR BELAKANG
Rut digambarkan sebagai kitab tentang kesetiaan manusia. Penulisnya tidak diketahui. Kitab
itu menunjuk pada masa Hakim-hakim dan memberikan gambaran mengenai kehidupan
sehari-hari bangsa Israel pada waktu itu. Cerita itu sendiri hanya meliputi jangka waktu kira-
kira sepuluh tahun.
TUJUAN
Pada dasarnya Rut merupakan kisah persahabatan Rut dengan ibu mertuanya, Naomi. Kitab
ini memiliki daya tarik tersendiri, sebab mengingatkan kita bahwa Raja Daud adalah
seorang keturunan Rut dan suaminya, Boas. Lebih dari itu, dilihat dari sudut kemanusiaan,
Yesus dapat menelusuri nenek moyangnya melalui Rut (Mat 1:5). Dengan demikian kitab ini
menceritakan kepada kita bahwa keluarga penebus, yang darinya seribu tahun kemudian
dilahirkan Sang Penebus, memiliki seorang anggota keluarga yang bukan Yahudi.
KISAH-KISAH UTAMA
Rut memberikan gambaran sekilas tentang adat istiadat perkawinan pada masa itu.
Merupakan kewajiban dari famili terdekat janda yang memiliki anak untuk menggantikan
kedudukan suaminya yang sudah meninggal itu. Tanggung jawab ini biasanya jatuh pada
saudara laki-laki orang yang sudah meninggal itu (Ula 25:5-10). Suami Rut, Mahlon,
meninggal tanpa meninggalkan anak. Boas bukanlah iparnya, namun ia diceritakan sebagai
seorang sanak dari Naomi (Rut 2:1). Rut harus menunjukkan kepada Boas bahwa ia tertarik
pada kemungkinan untuk menikah lagi, dan hal ini dilakukannya (Rut 3:1-18). Boas tahu
bahwa ia masih memiliki hubungan keluarga dengan Rut, namun ia mengatakan bahwa
masih ada sanak yang hubungannya lebih dekat daripada dia. Hanya jika sanak terdekat itu
menolak, maka baru ada kemungkinan bagi Boas untuk menggantikannya. Dalam pasal
empat kita membaca tentang proses bagaimana akhirnya Rut menjadi istri Boas. Ada
masalah lebih lanjut, yaitu siapa saja yang mengawini Rut diminta untuk menyelamatkan
sebidang tanah yang dijual oleh Naomi atas namanya. Keluarga terdekat itu tidak bersedia
melakukannya (Rut 4:6), dan oleh sebab nya ia kehilangan haknya (Rut 4:7, 8). Dengan
demikian terbuka jalan bagi Boas untuk menikahi Rut.
1 SAMUEL
“Bagaimana bangsa Israel mendapat seorang raja”
KISAH TENTANG TIGA ORANG
Pada mulanya 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Namun demikian, sebab kitab kedua
melulu bercerita mengenai raja Daud, maka yang pertama mengisahkan ketiga orang tokoh
yang hidupnya saling berkaitan satu sama lain yaitu Samuel, Saul dan Daud. Riwayat yang
diceritakan tidak utuh; siapapun yang mengumpulkan seluruh kisah itu tentu mengambilnya
dari beberapa sumber. Hal itu tidak menjadi masalah asal kita ingat bahwa bagi para
penulis kuno arti suatu kejadian lebih penting daripada ketepatan waktu. Kitab Samuel
bukan hanya semata-mata sebagai sejarah, namun merupakan cerita tentang bagaimana
Allah menangani umat-Nya. Dalam pada itu riwayat yang diceritakan sungguh-sungguh
terjadi. Bahkan, pahlawan bangsa seperti Daud digambarkan sebagai orang yang
bermasalah dan seorang manusia biasa.
"KAMI MENGINGINKAN SEORANG RAJA"
Kitab Hakim-hakim menyimpulkan bahwa anarki merajalela di Israel pada masa itu, sebab
"Israel tidak memiliki raja" (Hak 21:25). Samuel, hakim terakhir, walauoun terkenal
namun pengaruhnya hanya setempat dan terbatas. Umat Israel memerlukan seorang
pemimpin bangsa. Oleh sebab itu, permohonan mereka untuk mendapat seorang raja
bukanlah semata-mata sebagai suatu kecaman terhadap kepemimpinan Samuel, namun
menunjukkan betapa manusiawinya pengharapan mereka. Pada kenyataannya hanya Allah
yang dapat memimpin mereka untuk memperoleh kemenangan; kekalahan-kekalahan
mereka tidak disebabkan sebab mereka tidak memiliki seorang raja, namun oleh sebab
mereka telah melupakan perjanjian dengan Allah (1Sa 10:18,19; 12:6-15). Mereka telah
mengikuti cara-cara penyembahan orang kafir. Gagasan mengenai pembentukan kerajaan
itu sendiri tidak salah, namun mereka menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa
kafir yang ada di sekitar mereka. Samuel memperingatkan mereka bahwa raja-raja
memiliki potensi untuk kebaikan dan kejahatan, seperti yang akan mereka lihat sendiri di
kemudian hari.
BANGSA FILISTIN
Oleh sebab bangsa Israel tidak membinasakan orang Filistin ketika mereka menduduki
Kanaan, maka negara tetangga Israel ini terus menerus menjadi ancaman bagi keamanan
mereka. Kita membaca mengenai bangsa Amori, Amalek dan Amon, namun kebanyakan
mengenai bangsa Filistin. Bangsa-bangsa ini tinggal di lima kota pantai yaitu Asdod, Gat,
Ekron, Gaza dan Askelon, dan mereka mengurung Israel (1Sa 13:19-21). Saul dan Yonatan
memulai suatu revolusi, namun raja Daudlah yang akhirnya menumpas bangsa Filistin dan
yang lainnya secara tuntas.
2 SAMUEL
“Keluarga Daud”
GARIS KETURUNAN DAUD
II Samuel seringkali dianggap sebagai Sejarah Kehidupan Daud. Di dalamnya kita baca
tentang keberhasilan, kegagalan dan dosa-dosa Daud, khususnya mengenai liku-liku dan
perjuangan hidup yang harus dialaminya. Namun, terselip dalam kisah ini suatu janji yang
kemudian digenapi di dalam Kristus. Daud bukan saja pilihan Allah pada waktu itu; dia
menjadi awal garis keluarga yang akan membawa kepada Sang Penebus sendiri.
MUSUH-MUSUH DAUD
Daud memiliki karunia besar untuk menjadi pemimpin pasukan militer. Dia menarik
"orang-orang perkasa" yang kegagahannya menjadi legenda di zaman mereka. Pada saat ia
sudah menguasai seluruh bangsa Israel, ia mengkonsolidasikan kerajaannya dengan
mengalahkan negara-negara tetangga yang susah dikendalikan dengan melancarkan
serangkaian serangan (2Sa 8:1-14; 10:1-9; 11:1; 12:26-31). Tindakan ini melindungi daerah
kekuasaannya dari serangan musuh dan memberinya kekuasaan atas daerah yang lebih
luas daripada yang pernah ada sebelumnya.
PEMERINTAHAN DAUD
Sekali-sekali kita membaca siapa yang berkuasa dalam pemerintahan Raja Daud (2Sa 8:15-
18; 20:23-26). Kemampuan Absalom untuk menimbulkan ketidakpuasan rakyat (2Sa 15:1-6)
menunjukkan bahwa Daud bukanlah orang yang dapat memerintah dengan baik. Walaupun
Daud dapat mendorong timbulnya kesetiaan yang sungguh-sungguh, namun kenyataan
bahwa Absalom dapat menimbulkan perang saudara berarti ada kemungkinan bahwa pada
waktu raja mulai tua, ia kehilangan kontrol dalam banyak hal. Sensus yang diadakannya
dianggap sebagai suatu kekeliruan sebab hal itu boleh jadi dihubungkan dengan rencana
kerja paksa (2Sa 24:1-10), sesuatu yang kemudian dieksploitasi secara kejam oleh anaknya,
Salomo.
MASALAH RUMAH TANGGA DAUD
Poligami tidak dilarang dalam Perjanjian Lama, namun kisah kehidupan rumah tangga Daud
menunjukkan kejelekan-kejelekannya. Pada masa itu memiliki banyak istri dan gundik
serta keluarga besar merupakan simbol status. Namun, keluarga semacam itu dapat
menimbulkan bahaya. Setiap anak merupakan calon pewaris takhta, dan jika anak itu keras
kepala, ia menjadi ancaman bagi sang ayah. Di samping itu, Daud bukanlah orang-tua yang
terbaik. Dia gagal mendisiplin anak-anaknya dan sebagai akibatnya ia harus menanggung
derita.
1 RAJA-RAJA
“Kerajaan Israel bersatu dan terpecah”
ISI KITAB
I Raja-raja merupakan bagian pertama dari kisah yang pada mulanya merupakan satu kitab
yang menceritakan mengenai kehidupan bangsa Israel selama empat abad sesudah
kematian Daud dan pembuangan bangsa Israel ke Babel. Kitab itu menceritakan bagaimana
suatu negara yang kuat dan bersatu terpecah menjadi dua; bagaimana kerajaan utara yang
lebih besar yang terus menerus berpaling dari Allah akhirnya dimusnahkan; bagaimana
Yehuda juga gagal untuk memelihara perjanjian dengan Allah dan bagaimana negeri itu
juga dilanda bencana, yang mencapai puncaknya pada penghancuran Yerusalem dan
pembuangan besar-besaran ke Babel. I Raja-raja merangkum 120 tahun pertama dari kisah
yang lengkap.
SIAPA PENULISNYA?
Kitab ini mungkin ditulis oleh seorang nabi atau sejumlah nabi yang menulis di Babel
selama masa pembuangan, sekitar tahun 550 SM. Bahan tulisan diambil dari berbagai
sumber, seperti catatan resmi pemerintah atau kumpulan kisah-kisah tentang para nabi
yang kemudian disatukan sedemikian rupa untuk memberikan tekanan pada pokok-pokok
yang ingin diungkapkan oleh si penulis.
TUJUAN PENULISAN
Dalam I dan II Raja-raja penulis tidak ingin mencoba untuk memberikan suatu kisah yang
lengkap dari seluruh peristiwa yang terjadi pada masa itu. Ia menceritakan dengan panjang
lebar mengenai peristiwa dan tokoh-tokoh yang dianggapnya penting seperti Salomo atau
Elia, namun tokoh lainnya hanya diceritakan secara sepintas. Raja-raja hanya menulis
mengenai pentingnya peristiwa yang terjadi dalam hubungannya dengan perkembangan
kehidupan rohani manusia.
PANDANGAN PENULIS
Masalah yang ditunjukkan oleh penulis ialah betapa pentingnya bagi umat Allah untuk
menjaga perjanjian mereka dengan-Nya. Manusia dan bangsa-bangsa keduanya dinilai
sampai seberapa jauh mereka mencari dan mengikuti kehendak Allah. Jika mereka
mengasihi Allah dan patuh pada perintah-perintah-Nya, maka Allah akan memberkati
mereka; jika mereka berpaling dari-Nya, maka bencara akan menimpa mereka. Dalam
banyak hal sikap seorang raja dianggap sebagai gambaran dari sikap bangsa itu secara
keseluruhan; dalam satu segi seorang raja merupakan wakil dari rakyatnya.
METODE PENULISAN
Kisah mengenai kedua bangsa Israel dan Yehuda mudah diikuti jika kita tahu metode
penulisan yang dipakai. Kita selalu diberi kisah baru mengenai setiap negeri secara
berurutan. Sebagai contoh, gambaran peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seorang raja
Israel diikuti oleh kisah raja-raja Yehuda yang naik takhta selama pemerintahannya dan
seterusnya.
2 RAJA-RAJA
“Pembaruan dan pemberontakan”
MENGENAI KITAB ITU
II Raja-raja melanjutkan kisah tentang kerajaan Israel dan Yehuda beberapa saat sebelum
kematian Elia, dan diteruskan sampai Israel dihancurkan dan Yehuda dibuang ke Babel.
Diceritakannya kembali kisah Elia dalam II Raja-raja mengingatkan kita bahwa kitab ini
merupakan bagian kedua dari satu kitab Raja-raja yang utuh. Tidak ada alasan yang jelas
mengenai pembagian kitab menjadi I dan II Raja-raja, namun oleh sebab panjang kedua
kitab hampir sama, kemungkinannya ialah hal itu dilakukan untuk mempermudah penulisan
dalam dua gulungan. Beberapa kisah yang kita temukan dalam Raja-raja juga terdapat
dalam Tawarikh, walaupun penulis Tawarikh menulis dari sudut yang agak berbeda dan
hanya menulis tentang kerajaan selatan, yaitu Yehuda.
MENGAPA KITAB ITU DITULIS?
II Raja-raja meliputi kurun waktu kurang lebih 270 tahun, dua kali lebih panjang daripada
periode yang meliputi I Raja-raja. Namun, sebagian besar kisah menceritakan kehidupan
Elisa. Seperti juga dalam I Raja-raja, tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dalam
kerohanian bangsa, seperti Hizkia dan Yosia diceritakan dengan panjang lebar. Sedangkan
yang lain, walaupun mereka memerintah dalam jangka waktu yang lama dan membawa
kemakmuran, hanya diceritakan secara sepintas saja. Orang Yahudi mengakui bahwa semua
kitab sejarah sungguh-sungguh memiliki maksud rohani, dan mereka mengelompokkan
kitab-kitab tersebut dalam "nabi-nabi terdahulu".
PARA NABI
Banyak dari nabi-nabi penulis (yang dikenal dalam Kitab Suci bangsa Ibrani sebagai "nabi-
nabi yang belakangan") melayani dalam periode yang terangkum dalam II Raja-raja, dan
kitab-kitab yang mereka tulis memberikan kepada kita banyak informasi mengenai
seberapa jauh korupsi yang terjadi dalam kedua negeri itu. Namun demikian, hanya sedikit
sekali yang kita pelajari mengenai karya Raja-raja dan pengaruh mereka. Diceritakan bahwa
Hizkia pergi menemui Yesaya, namun Amos, Hosea, Mikha dan Yeremia tidak disebut-sebut
sama sekali. Penulis kitab Raja-raja lebih menekankan mengenai bagaimana para raja dan
rakyatnya menanggapi pesan-pesan Allah daripada menulis tentang bagaimana dan dari
mana mereka menerima pesan itu.
RAJA-RAJA
Sukar untuk membuat suatu daftar tentang semua raja dan masa pemerintahan mereka,
sebab waktu kurang setahun selalu dihitung sebagai setahun. Yang sering terjadi ialah
seorang putra menjabat sebagai pejabat sementara bersama-sama sang ayah, kemudian
waktu pemerintahan itu dihitung sebagai masa pemerintahan mereka berdua. Hal yang
sering membingungkan ialah mengenai nama-nama raja. Ada seorang Raja Yehoram dan
Raja Yoahas, baik di Israel maupun di Yehuda, dan sebab kedua nama ini sering disingkat
sebagai Yoram dan Yoas, maka kita harus berhati-hati dalam membedakan mereka.
1 TAWARIKH
“Sejarah kerohanian bangsa Israel”
TENTANG APA I TAWARIKH?
I Tawarikh merupakan buku sejarah yang khususnya menceritakan pemerintahan Raja Daud
(1000-961 SM). Pasal-pasal pembukaan (1Ta 1-9) merupakan ringkasan tentang sejarah
mula-mula bangsa Israel dengan menuliskan silsilah keturunan yang dimulai dari Adam dan
seterusnya. Kitab ini secara singkat juga menyebutkan kejatuhan Saul dan kenaikan
Salomo. namun , sisanya melulu bercerita mengenai Daud.
BAGAIMANA CARA PENULISAN I TAWARIKH?
I Tawarikh tidak ditulis oleh seorang penulis, namun oleh seorang penyusun tulisan yang
dengan pandainya menggabungkan sejumlah tulisan yang terdahulu (lihat 1Ta 9:1;
29:29,30) untuk dijadikan suatu kesatuan sejarah. Tradisi Yahudi menegaskan bahwa si
penyusun itu ialah Ezra. Kitab ini merupakan bagian dari suatu karya yang terdiri dari empat
jilid, yang termasuk didalamnya 2 Tawarikh, Ezra dan Nehemia. Ada beberapa usul
mengenai masa penyusunan kitab itu. Jika Ezra dianggap sebagai penyunting, maka kitab
itu boleh jadi disusun dalam abad keempat sebelum Masehi.
MENGAPA I TAWARIKH DITULIS?
Kisah sejarah yang terdapat dalam I Tawarikh ditulis dengan suatu tujuan tertentu; tidak
hanya mencatat fakta-fakta sejarah, namun juga mengemukakan arti dari apa yang terjadi. 1
Tawarikh merupakan kitab sejarah yang ditulis menurut pandangan Tuhan. Kitab ini ditulis
pada waktu umat Allah hidup dalam lingkungan yang bersiifat sangat duniawi. Negeri
mereka telah hancur sebab perang, akibatnya banyak dari mereka yang runtuh imannya.
Mereka tidak lagi dapat melihat campur tangan Allah dalam masalah-masalah mereka atau
percaya bahwa Dia adalah Allah yang menepati apa yang telah dijanjikannya. I Tawarikh
menjelaskan mengapa peristiwa sejarah berjalan sedemikian rupa dan mengapa masih
mungkin menekuni iman.
APAKAH 1 TAWARIKH DAPAT DIPERCAYA?
Si penyusun seakan-akan memilih peristiwa sejarah untuk membuktikan argumentasinya,
dan sebagai akibatnya banyak fakta sejarah bangsa Israel yang terlewatkan dan gambaran
sejarah yang disusunnya agak berbeda dengan yang ditemukan dalam Samuel atau Raja-
raja. Dari kisah-kisah yang dihilangkan terdapat kisah Elia dan peristiwa-peristiwa yang
kurang berkenan dalam kehidupan Daud. Walaupun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa
I Tawarikh tidak akurat. Si penyusun tidak mengada-ada, ia semata-mata memakai apa
yang ada untuk menarik pelajaran tertentu untuk masa itu. Sejarah masih ditulis dengan
cara seperti itu. Sebenarnya, sukar untuk menulis sejarah tanpa memilih fakta yang dapat
dibuktikan. dan itulah yang dilakukan oleh si Penyusun.
2 TAWARIKH
“Pelajaran mengenai Kesetiaan”
ISI II TAWARIKH
II Tawarikh menceritakan kisah umat Allah dengan pemeritahan Raja Salomo. Kitab itu
menelusuri berbagai kejadian yang menimpa Yehuda selama hampir empat ratus tahun
sampai akhirnya negeri itu hancur, rakyatnya dibuang dan ibukotanya dihancurkan (587
SM). Kisah kehancuran ini bukan merupakan kata akhir Tawarikh. Kalimat-kalimat terakhir
dari kitab ini menunjuk kepada masa depan yang penuh harapan ketika bangsa ini
dipulihkan melalui maklumat raja Kores (2Ta 36:23).
MENGAPA KITAB INI DITULIS
Si penyusun memiliki tiga alasan untuk menyusun kitab ini:
1. Untuk menafsirkan jalannya sejarah. Ia menerangkan mengapa beberapa raja
memerintah dengan damai dan sejahtera sedangkan yang lain memerintah dalam
pergolakan. Rahasia keberhasilan itu terletak pada kesetiaan kepada Allah.
2. Untuk mengajar. Si penyusun tidak puas hanya dengan menguraikan masa lalu dalam
tulisannya. Ia ingin menghimbau umat Allah untuk belajar dari kesalahan-kesalahan
yang terjadi sepanjang sejarah, dan setia kepada-Nya sekarang.
3. Untuk menggugah iman. Banyak orang Yahudi merasa Allah telah meninggalkan
mereka. Dengan menjelaskan sebab-sebab dari penderitaan mereka, si penyusun
mendorong mereka untuk kembali percaya kepada Allah yang besar dan berkuasa.
Untuk komentar terinci mengenai mengapa 2 Tawarikh ditulis bacalah komentar
mengenai 1 Tawarikh.
CIRI KHUSUS
1. Si penyusun setia kepada keluarga Daud dan memperlihatkan bagaimana Allah tetap
setia memenuhi janji-Nya bahwa takta Daud akan tetap aman (2Ta 21:7) kendati Ia
memiliki alasan untuk tidak melakukannya.
2. Kerajaan Israel Utara dianggap melakukan kesalahan, sebab memisahkan diri dari
takta Daud (2Ta 13:1-12). Dalam seluruh kitab tindakan bangsa israel dianggap jahat
(misalnya 2Ta 21:6,13). Sejarah bangsa Israel diabaikan kecuali kisah yang dapat
dipakai sebagai peringatan untuk tidak melakukan kesalahan.
3. Peristiwa dalam sejarah dipakai sedemikian rupa sehingga arti kerohaniannya dapat
ditonjolkan. Si penyusun tidak mengada-ada maupun memutarbalikkan sejarah; ia
juga bukannya tidak teliti. 1 dan 2 Raja-raja memberikan gambaran sejarah yang
lebih lengkap tentang kisah bangsa Israel dan Yehuda, namun kedua kitab itu tidak
menunjukkan motivasi yang sama untuk menggunakan sejarah guna mengajar
masalah rohani.
EZRA
“Bangsa yang bangkit dari debu”
LATAR BELAKANG
Yerusalem dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 587 S.M. dan bangsa Yehuda dibuang
ke pengasingan. Peristiwa itu terjadi hampir lima puluh tahun sebelum Kerajaaan Babel
ditumbangkan oleh bangsa Persia. Penguasa mereka, Koresy, mengambil suatu
kebijaksanaan baru dengan mengizinkan orang-orang buangan kembali ke tanah air
mereka, memberikan segala bantuan yang diperlukan untuk membangun kembali rumah-
rumah ibadah dan menyelenggarakan ibadah mereka kembali. Banyak orang Yahudi yang
sudah betah tinggal di pengasingan dan mereka tidak ingin kembali ke tanah air mereka.
Kitab Ezra dimulai dengan kembalinya orang-orang Yahudi kurang lebih tahun 538 S.M..
Pasal Ezr 1-6 menceritakan apa yang terjadi dua puluh dua tahun kemudian ketika di bawah
pimpinan Zerubabel mereka menghadapi banyak kekecewaan, namun akhirnya mereka
dapat menyelesaikan pembangunan kembali Rumah Tuhan. Ezra sendiri tidak diperkenalkan
sampai pasal Ezr 7:1. Ia memimpin serombongan orang buangan kembali ke tanah air
mereka pada tahun 458 S.M.. Pasal Ezr 7-10 menceritakan cara Ezra membangun kembali
bangsa itu menjadi bangsa yang hidupnya berkenan kepada Allah. Perlu dicatat bahwa ada
masa tenang selama hampir enam puluh tahun di antara pasal Ezr 6:22 dan Ezr 7:1.
KITAB ITU
Kitab Ezra merupakan bagian dari suatu kisah bersambung yang dimulai dari permulaan I
Tawarikh sampai pada akhir Nehemia.
Perhatikan:
1. Ezra mungkin tidak menulis kitab itu sendiri, walaupun bagian kedua kisah itu diambil
dari catatan hariannya.
2. Seringkali sukar untuk menentukan berbagai tahun kejadian. Kisah mengenai
perlawanan di bawah Artahsasta (Ezr 4:7-24) menunjuk pada masa yang kemudian
dibandingkan dengan apa yang terjadi pada bagian permulaan kitab ini.
3. Ezra bukanlah semata-mata catatan sejarah. Si Penulis menggunakan sejarah untuk
mengajar kita bagaimana Allah menangani umat-Nya. Pengajaran-pengajaran itu
masih berlaku sampai saat ini.
EZRA
Ezra adalah seorang terpelajar yang menjadi Menteri Negara urusan orang Yahudi dalam
pemerintahan Artahsasta. Kehidupannya yang boleh jadi sangat mengesankan di hadapan
raja ditandai dengan tiga sifat, yaitu: ia berdedikasi tinggi mempelajari kitab suci (Ezr 7:10);
ia memperagakan keberanian untuk percaya kepada Allah (Ezr 8:21-23) dan ia dengan
rendah hati menunjukkan solidaritas terhadap bangsanya (Ezr 9:6-15).
NEHEMIA
“Pembangunan kembali tembok Yerusalem”
LATAR BELAKANG SEJARAH
Setelah kematian Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua -- kerajaan utara dan
selatan. Ibukota kerajaan utara ialah Samaria, dan dalam tahun 722 SM kota itu direbut oleh
bangsa Asyur dan banyak rakyatnya dijadikan tawanan. Hal yang hampir sama terjadi juga
terhadap kerajaan selatan, Yehuda, ketika Yerusalem direbut oleh bangsa Babel pada tahun
586 SM. Dalam tahun 539 SM bangsa Babel sendiri dikalahkan oleh bangsa Persia -- dan
raja Persia mendorong sebagian orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Kira-kira
50.000 orang kembali dan memulai tugas untuk membangun kembali Rumah Tuhan, namun
kemudian mereka menjadi kecil hati dan hanya mampu membangun fondasinya saja.
Sejarah selanjutnya agak ruwet, namun rupanya kira-kira enam belas tahun kemudian Allah
mengirimkan dua orang nabi, Hagai dan Zakharia, untuk menggugah semangat rakyat.
Mereka sudah menempati rumah mereka masing-masing, namun mengabaikan
pembangunan kembali Rumah Tuhan. Sebagai akibatnya, pekerjaan pembangunan dimulai
lagi dan kali ini Rumah Tuhan dapat diselesaikan. Dalam tahun 486 SM serombongan lagi
orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra. Ezra berusaha sebaik mungkin
untuk membangun semangat bangsanya dan mengangkat moral serta kehidupan rohani
mereka, namun ia banyak menemui kekecewaan. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun
445 SM Allah berbicara kepada seorang lain, yaitu Nehemia dan menugaskannya untuk
secara khusus menekuni pembangunan kembali tembok kota yang sudah hancur itu.
Beberapa orang menempatkan kisah kembalinya Ezra sesudah Nehemia, namun keterangan
tersebut tidak meyakinkan.
SIAPAKAH NEHEMIA?
Sebagai pengurus minuman raja, Nehemia mencicipi lebih dahulu anggur yang akan
disajikan kepada raja untuk membuktikan bahwa minuman itu tidak mengandung racun.
Hanya orang yang paling dipercaya dapat menduduki posisi tertinggi ini dalam istana raja
Persia. Namun demikian, hati Nehemia lebih cenderung untuk melakukan tugas yang Allah
bebankan kepadanya. Ia digambarkan sebagai seorang pengusaha yang hidupnya penuh
diwarnai doa. Nehemia tidak melupakan bangsanya sendiri. Ia bersedia meninggalkan
kehidupan mewah dalam istana dan pergi ke Yerusalem untuk me

