Perjanjian lama 1


 KEJADIAN

“Segalanya Bermula Dari Sini”

PENTINGNYA KITAB KEJADIAN

Isi Alkitab tidak akan berarti banyak tanpa Kitab Kejadian. Kitab ini menjawab pertanyaan-

pertanyaan "penting" seperti mengapa kita berada di sini dari mana kita datang. Kejaian

berbicara tentang awal mula dunia, manusia, masyarakat, keluarga, bangsa-bangsa, dosa

dan keselamatan. Khususnya, Kejadian bercerita tentang lahirnya bangsa Yahudi.

GAYA PENULISAN KITAB KEJADIAN

1. Kitab  Kejadian  mengajarkan  kebenaran  dengan  menceritakan  kisah-kisah,  bukan

dengan memberikan pelajaran dalam bentuk yang lebih formal.

2. Kisah-kisah  yang  diceritakan  bersifat  sangat  manusiawi.  Tidak  ada  upaya  untuk

menutup-nutupi fakta, bahkan pahlawan-pahlawan besar sekalipun digambarkan apa

adanya.

3. Semua  kisah  diceritakan  dengan  penuh  keagungan  dan  dengan  gaya  yang

mengharukan. Dinilai dari standar apa pun, disimpulkan bahwa Kitab Kejadian ditulis

dengan cemerlang.

PENULIS KITAB KEJADIAN

Penulisnya tidak dikenal, namun  Perjanjian Baru secara tidak langsung menunjukkan bahwa

Kitab Kejadian ditulis oleh Musa dan pendapat ini tidak pernah dipertanyakan oleh gereja

sampai saat ini. Kita tidak tahu bagaimana kitab ini ditulis, namun  cukup beralasan untuk

menerima  Musa  sebagai  editor  yang  mengumpulkan  sejumlah  kisah  dan  fakta,  yang

beberapa di antaranya mungkin sudah lama beredar luas sebelum masa Musa.

NILAI KITAB KEJADIAN

Banyak orang mungkin menilai bahwa ilmu modern dan sejarah telah meremehkan nilai

Kitab  Kejadian.  Kendatipun demikian,  kita  tetap  dapat  membaca Kitab  Kejadian dengan

penuh kepercayaan akan nilai kebenarannya berdasarkan dua alasan, yaitu:

1. sebab   di  antara  semua  argumentasi  ilmiah  atau  sejarah  yang  mempertanyakan

ketepatan  Kitab  Kejadian  selalu  terdapat  lebih  dari  satu  yang  mendukung  Kitab

Kejadian.

2. Sebagian besar dari  yang diperdebatkan bukan terutama mengenai kebenaran itu

sendiri,  melainkan  tentang  cara-cara  pendekatan  modern  terhadap  kebenaran.

Apapun  anggapan  kita  tentang  kebenaran,  Kitab  Kejadian  tetap  merupakan

kebenaran.  Di  atas  segalanya,  Kitab  Kejadian  merupakan  kebenaran  yang

diungkapkan oleh Allah sendiri mengenai diri-Nya, kita dan dunia tempat kita hidup.

KELUARAN

“Lahirnya Satu Bangsa”

MENGAPA KELUARAN?

"Keluaran"  adalah  judul  kitab  Musa  yang  kedua  dalam  Perjanjian  Lama.  Sebenarnya

penggambaran mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanya sebagian dari isi kitab

itu.

MENGENAI APA?   

Kitab Keluaran terdiri dari tiga bagian penting.

1. Riwayat  Musa:  bagaimana  ia  diselamatkan  waktu  masih  bayi;  bagaimana  ia

dibesarkan di istana Firaun; bagaimana ia dipanggil  oleh Allah dari semak belukar

yang menyala; bagaimana ia menantang Firaun untuk membebaskan bangsanya dari

perbudakan;  dan  bagaimana  akhirnya  ia  memimpin  bangsanya  dengan  penuh

kemenangan menyeberangi Laut Merah menuju ke padang belantara Gunung Sinai.

2. Bagian kedua dari  Kitab Keluaran berisi  komunikasi  Allah dengan Musa di  Gunung

Sinai, pemberian Sepuluh Perintah Allah dan perintah-perintah lainnya.

3. Bagian terakhir terutama menceritakan tiga hal, yaitu: pembuatan Tabut Perjanjian

tempat menyimpan loh batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah; pembuatan Kemah

Suci  untuk  tempat  menyimpan  kotak  Tabut  Perjanjian;  dan  aturan-aturan  terinci

tentang peribadatan.

APA ARTI KITAB KELUARAN BAGI KITA DEWASA INI?

Catatan  utama  dalam  Kitab  itu  ialah  tentang  penebusan,  yaitu  pembebasan  dari

perbudakan.  Kitab  Keluaran  memberikan  banyak  ilustrasi  yang  membantu  kita  untuk

mengerti penebusan kita sendiri melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Domba Paskah (Kel 12:1-

11) jelaslah melambangkan Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia (Yoh 1:29).

Kristus disebut sebagai Anak Domba Paskah oleh Paulus (1Ko 5:7), sementara itu Petrus

menamakan-Nya sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Pe 1:19). Pada

bagian terakhir Kitab Keluaran kita diingatkan bahwa sebagai umat yang sudah ditebus, kita

dipanggil  untuk  menjadi  umat  penyembah  Allah.  Allah  mengajar  umat-Nya  dengan

memakai alat-alat bantu visual. Kemah Suci melambangkan kehadiran Allah di antara umat-

Nya. Perlu kita ingat bahwa Kristus dikatakan berdiam (berkemah) di antara kita (Yoh 1:14).

Jadi, Kitab Keluaran merupakan contoh bagaimana Perjanjian Lama menerangi Perjanjian

Baru. Bilamana kita mempelajari Kitab Keluaran kita melihat cara Allah melepaskan umat-

Nya dari perbudakan serta rencana-rencana selanjutnya bagi mereka, dan kisah ini berlaku

bagi setiap orang yang menyadari kebutuhannya untuk ditebus.

IMAMAT

“Peraturan mengenai kehidupan dan penyembahan”

MENGAPA IMAMAT?

Sebagian besar isinya menyangkut imam-imam bangsa Lewi, namun  pengulangan kata-kata,

"Berbicaralah kepada orang Israel..." menunjukkan bahwa kitab itu juga diperuntukkan bagi

semua orang. Kitab itu harus dianggap sebagai bagian dari Pentateukh, lima kitab pertama

dari  Alkitab.  Keluaran  menceritakan  bagaimana  Allah  membebaskan  bangsa  Israel  dari

Mesir  dan  membuat  perjanjian  dengan  mereka.  Imamat  menerangkan  bagaimana

kehidupan dan penyembahan bangsa perjanjian itu diatur.

SIAPA PENULISNYA?

Tak ada nama penulis disebut dalam Imamat. Sebagian besar bahan tulisan diberikan oleh

Allah kepada Musa di  Sinai,  namun   kita  tidak  dapat  mengatakan kapan atau oleh  siapa

semua bahan tulisan itu pada akhirnya disatukan dan disusun.

MENGENAI APA?

Imamat  terutama  terdiri  dari  hukum-hukum  dan  peraturan-peraturan,  namun   terdapat

kerangka cerita dan ilustrasi yang menunjukkan bahwa semua peraturan ini cocok dengan

sejarah  yang  sebenarnya.  Secara  umum kitab  itu  terbagi  atas  dua  bagian,  pasal-pasal

mengenai  Hari  Penebusan  Dosa  terdapat  di  bagian  tengah.  Bagian  pertama  adalah

mengenai pemulihan hubungan dengan Allah -- peraturan mengenai korban dan penyucian.

Bagian akhir adalah tentang hidup sebagai umat Allah.

HUKUM

Sebagian  besar  hukum  dalam  Imamat  adalah  mengenai  upacara  keagamaan,  namun 

terdapat juga hukum mengenai kebersihan dan sikap moral yang serupa dengan Sepuluh

Perintah. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara hukum-hukum yang berbeda-beda

itu; semuanya mencerminkan maksud Allah terhadap bangsa Israel dan semuanya harus

dipatuhi.  Dalam  Perjanjian  Baru  pengorbanan  Kristus  membawa  penyucian  yang

menyeluruh, oleh sebab  itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak

lagi berlaku. Kendati demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan apa

arti kematian Kristus bagi kita.

KORBAN

Ada enam korban yang digambarkan dalam Imamat, yang digolongkan ke dalam tiga jenis.

1. KORBAN PERSEMBAHAN. Bertujuan untuk memuliakan Allah dan mempersembahkan

diri kepada-Nya.

 korban bakaran: binatang utuh dibakar

 korban sajian: termasuk di dalamnya persembahan bukan binatang

2. KORBAN KESELAMATAN. Tujuannya ialah untuk menjaga hubungan dengan Allah.

 korban perdamaian: sebagian korban dibakar, sisanya dimakan dalam o suatu

acara makan bersama

3. KORBAN PENYUCIAN. Tujuannya untuk menghapus dosa dan memperbarui hubungan

dengan Allah.

 korban penghapus dosa: untuk dosa-dosa terhadap Allah

 korban penebus salah: di mana ada ganti rugi yang harus dibayar

 korban pentahbisan: bagi para imam

BILANGAN

“Bangsa Israel di padang gurun”

MENGENAI APA?

Nama kitab  ini  dalam Alkitab  Ibrani  berarti  "di  padang  gurun"  dan  judul  itu  mencakup

semua peristiwa yang dilukiskan dalam kitab itu. Judul "Bilangan" dipakai oleh sebab  kitab

itu  mencatat  "penjumlahan"  bangsa  itu  pada  tahun kedua (pasal Bil  1)  setelah  mereka

meninggalkan  Mesir  dan  tahun  keempat  puluh  (pasal Bil  26).  Sebagian  isi  kitab

menceritakan  pengalaman  bangsa  Israel  selama  empat  puluh  tahun  sebelum  mereka

memasuki  Tanah  Perjanjian.  Dalam  banyak  hal  Bilangan  menjadi  bacaan  yang

menyedihkan, oleh sebab  banyak dari penderitaan bangsa Israel adalah akibat langsung

dari  ketidaksetiaan  dan  ketidaktaatan.  Orang  boleh  mengatakan  bahwa  Bilangan

merupakan catatan mengenai kegagalan manusia terhadap kesetiaan ilahi.

APA KESAN KESELURUHAN?

Salah satu cirinya ialah bahwa kitab ini tidak mencoba untuk menyajikan kepada kita suatu

narasi penuh atau kisah bersambung yang ketat. Sebagai perbandingan, hanya sedikit yang

diceritakan mengenai masa-masa yang dilewati di padang gurun, namun  peristiwa-peristiwa

tertentu ditonjolkan dan digambarkan secara panjang lebar. Kesan keseluruhan ialah bahwa

Allah tetap berkuasa melawan pemberhalaan dan imoralitas bangsa Israel. Sebagian Kitab

Bilangan bersifat sejarah dan sebagian lagi bersifat undang-undang.

SIAPAKAH TOKOH-TOKOH UTAMA YANG DISEBUT DALAM KITAB BILANGAN?

Sudah jelas bahwa Musa banyak sekali disebut dalam kitab ini -- perhatian Musa terhadap

Hobab (Bil 10:29-32); doanya di Tabera (Bil 11:10-15); reaksinya terhadap kecaman (Bil 12);

imannya yang kurang (Bil 13); keprihatinannya terhadap kehormatan Allah (Bil 14:13-19);

ketidakikutsertaannya masuk ke dalam Tanah Perjanjian (Bil 20:2-13). Harun juga disebut,

terutama  dalam hubungannya  dengan  pemberontakan  Korah  (Bil  16).  Miryam,  saudara

perempuan  Musa,  juga  merupakan  salah  seorang  tokoh  dalam  kitab  ini.  Pasal Bil

12 menceritakan bagaimana ia dihukum oleh sebab  iri hati. Nama-nama lain yang disebut

termasuk Yosua dan Kaleb, dua orang mata-mata yang berani percaya kepada Allah dan

hanya mereka berdua dari generasi itu yang diizinkan masuk ke Kanaan. Kisah mengenai

Bileam dan Balak juga dicatat dalam kitab itu (pasal Bil 22-24).

APA KESUKARAN-KESUKARAN YANG DIHADAPI?

Para  kritikus  Alkitab  mengajukan  sejumlah  pertanyaan  tentang  ketepatan  sejarah  dan

statistik dari kitab ini. Sebagian besar, walaupun tidak semua, dari kitab ini dapat diterima

jika  kita  menyadari  bahwa  para  penulis  bangsa  Ibrani  tidak  selalu  mengikuti  urutan

kronologis peristiwa-peristiwa secara ketat. Mereka lebih mementingkan arti dan pentingnya

peristiwa.

ULANGAN

“Suatu tantangan bagi umat Allah”

NAMA

Nama Ibrani untuk Kitab Ulangan dirangkum dalam baris pembukaan yang berbunyi "inilah

perkataan-perkataan  itu".  Nama Ulangan  diambil  dari  kata  Yunani  yang  berarti  "hukum

kedua" yang merupakan terjemahan yang sedikit kurang tepat dari "salinan dari hukum ini"

(Ula 17:18).

STRUKTUR KITAB ULANGAN

Dalam Ulangan kita membaca pengulangan dan penekanan kembali dari perjanjian yang

dibuat antara Allah dan bangsa Israel di Sinai. Bentuk perjanjian dibuat sesuai dengan pola

umum naskah perjanjian di daerah Asia Timur Dekat kuno yang terdiri dari latar belakang

historis,  daftar  kewajiban,  uraian  mengenai  berkat  dan  kutuk,  serta  pengaturan  untuk

menyimpan dan membaca dokumen perjanjian. Dalam Ulangan pola ini ditampilkan dalam

bentuk tiga  pidato Musa di  depan bangsa Israel  sebelum ia wafat  untuk mengingatkan

mereka apa artinya menjadi umat Allah.

PENULIS DAN WAKTU PENULISAN

Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa sebagian besar  bahan didapat langsung dari

Musa sendiri. Pendapat bahwa seluruh kitab ini dibuat selama masa reformasi Hizkia atau

Yosia, atau bahkan setelah masa pengasingan tidak dapat didukung, sebab  tidak ada isi

kitab yang berhubungan dengan tradisi  Raja Daud atau Bait Allah; kedua fakta ini amat

penting di kemudian hari. Pada kenyataannya pola hidup yang digambarkan cocok dengan

latar  belakang  kehidupan  bangsa  Israel  sebelum  adanya  kerajaan.  Namun  demikian,

rupanya telah terjadi  beberapa penyuntingan dan penyusunan kembali  sehingga sangat

sukar untuk menentukan kapan akhirnya kitab itu diterbitkan. Contoh-contoh perjanjian dan

prinsip-prinsip  yang terdapat  dalam Keluaran  seringkali  dikemukakan secara  berbeda di

dalam Ulangan. Mungkin hal  ini  dilakukan untuk memenuhi situasi  yang berbeda, namun 

andaikata uraian itu disesuaikan untuk kebutuhan zaman yang kemudian, itu tidak berarti

bahwa tidak seluruh isi kitab didasarkan pada bahan-bahan dari Musa.

MENGAPA ULANGAN DITULIS?

Tujuan utama dari pidato-pidato Musa ialah untuk meyakinkan bangsa Israel sebagai umat

Allah sebelum ia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Yosua dan bangsa itu berjuang

melawan orang Kanaan. Secara keseluruhan Ulangan mengajarkan isi dan arti agama Israel,

menantang mereka untuk melaksanakan peraturan-peraturannya dan mendorong bangsa

itu  untuk  menyerahkan  diri  sekali  lagi  pada  pelayanan  kepada  Allah.  Kitab  itu

menggambarkan  "kehidupan  berbahagia"  dalam  persekutuan  dengan  Allah  sambil

menikmati segala berkat-Nya, dan membandingkannya dengan akibat yang akan terjadi jika

mereka  melalaikan  perjanjian.  Kitab  itu  hampir  dapat  digambarkan  sebagai  suatu  kitab

"undang-undang" bagi bangsa Israel dan bukan hanya sebagai buku pegangan bagi para

pemimpin mereka.

YOSUA

“Merebut Tanah Kanaan”

BAGAIMANA KITAB ITU DITULIS

Yosua  lebih  dikenal  sebagai  pahlawan  daripada  sebagai  penulis  kitab  itu.  Baik  tradisi

maupun kitab itu sendiri (Yos 24:26) mengakui bahwa banyak bahan tulisan berasal dari

Yosua.  Sebagian berasal  dari  hasil  kesaksian pandangan mata,  namun   kemudian seorang

penyunting  rupanya  telah  menyatukan  semua  bahan  ke  dalam bentuk  yang  kita  kenal

sekarang (Yos 4:8, 9; 7:26; 8:28; 24:29, 30).

YOSUA

Pada  waktu  keluar  dari  Mesir  Yosua  masih  seorang  pemuda  dan  kemudian  ia  menjadi

asisten pribadi Musa. Ia ternyata seorang tangan-kanan yang dapat dipercaya dan setia.

Laporan golongan kecilnya, bersama Kaleb, mengenai pengintaian di Kanaan menunjukkan

bahwa ia seorang yang beriman dan berani. Ia adalah pengganti alamiah bagi Musa dan

mengambil  alih  pimpinan  pada  usia  tujuh  puluh  tahun.  Yosua  menempatkan  suku-suku

bangsa Israel di Kanaan dan ia meninggal pada usia 110 tahun.

TUJUAN KITAB YOSUA

Kitab Yosua merupakan kitab yang pertama dan terkemuka yang berisi penuturan sejarah

mengenai  bagaimana  Allah  memenuhi  janji-Nya  untuk  membawa  umat-Nya  ke  tanah

perjanjian. Tema itu dapat ditemukan dalam Yos 1:11: "Menduduki negeri yang diberikan

Tuhan Allahmu kepadamu..."

PENAKLUKAN KANAAN

Merebut negeri itu bukan suatu tugas yang mudah. Yosua memimpin bangsa yang masih

terdiri dari suku-suku melawan bangsa-bangsa yang sudah mapan. Setelah merebut kota-

kota kunci seperti Yerikho dan Ai, Yosua terlibat dalam pertempuran-pertempuran di bagian

tengah, selatan dan utara Kanaan. Meskipun ia berhasil dengan gemilang, tugasnya belum

selesai pada saat ia mulai menempatkan suku-suku bangsa Israel di pemukiman mereka

masing-masing (Yos 13:1).

BAGAIMANA MENAFSIRKAN YOSUA

Walaupun Yosua merupakan sebuah kitab sejarah, isinya banyak berbicara kepada orang

Kristen masa kini. Ibrani 4:1-11 menunjukkan bahwa kitab itu dimaksudkan sebagai sarana

untuk memberi  semangat  kepada orang Kristen,  sehingga mereka tidak kehilangan apa

yang sebetulnya ingin Allah berikan kepada mereka. Meskipun Yosua berbicara mengenai

peperangan dan daerah geografis, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip yang dipakai oleh

Allah pada masa itu dalam peperangan rohani yang kita hadapi dan wilayah rohani yang

dapat kita miliki.

HAKIM-HAKIM

“Lingkaran Dosa”

HAKIM-HAKIM

Hakim-hakim  merupakan  kitab  yang  penting  sebab   memberikan  gambaran  mengenai

hubungan antara Yosua,  yang memimpin bangsa Israel  masuk ke Kanaan,  dengan Saul,

Daud dan raja-raja Israel  lainnya.  Selama masa hakim-hakim, Israel  lambat laun belajar

untuk menjadi suatu bangsa dan bukan lagi sebagai dua belas suku yang berdiri sendiri-

sendiri.

PENULISNYA

Kita tidak tahu siapa penulis kitab itu. Mungkin juga dikumpulkan dari catatan-catatan pada

masa itu dan lama sesudahnya baru diterbitkan. Tiga kali dinyatakan dalam kitab itu bahwa

"pada masa itu Israel tidak mempunya raja" (Hak 17:6; 18:1; 21:25), hal ini mengisyaratkan

bahwa kitab itu diterbitkan beberapa waktu sesudah kerajaan dibentuk.

SIAPA HAKIM-HAKIM ITU?

Judul kitab itu agak membingungkan, sebab  kedua belas "hakim-hakim" itu tidak semata-

mata mengurusi  masalah hukum; mereka adalah para pangeran yang diilhami oleh Roh

Kudus untuk memberikan semacam kepemimpinan karismatis pada saat-saat diperlukan.

Ada dua belas hakim, dan yang menarik ialah bahwa Yefta menyebut Allah sebagai "Tuhan,

Hakim" (Hak 11:27), memakai panggilan yang sama seperti  yang diberikan kepada para

hakim. Mereka menyadari bahwa mereka dipimpin oleh kuasa ilahi dan bukan semata-mata

pilihan manusia.

LINGKARAN DOSA

Kitab ini terdiri dari pendahuluan (Hak 1:1-2:5) dan lampiran (Hak 17:1-21:25), dan sisanya

berisi kisah dari kedua belas hakim dan enam masa penindasan. Lingkaran peristiwa yang

terjadi:

1. Rakyat hidup sejahtera. Tidak ada keperluan khusus dengan Allah. Oleh sebab  itu,

Allah  ditinggalkan  dan  ilah-ilah  dari  negara  tetangga  yang  kafir  mengambil  alih

kedudukan Allah.

2. Penindasan.  Allah  meninggalkan  mereka  menurut  kemauan  mereka  sendiri.  Allah

membiarkan mereka mengurus diri mereka sendiri! Moab dan Amon, bangsa Filistin

dan orang Midian semuanya berbalik menyerang Israel.

3. Pertobatan. Israel mengakui kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah, memohon

pengampunan.  Setiap  kali  Allah  selalu  bersedia  mengampuni  dan  memulihkan

mereka.

4. Pembebasan.  Seorang hakim muncul  untuk membebaskan umat Allah.  Setiap kali

jelas bahwa Allahlah yang menyelamatkan melalui hakim itu.

5. Rakyat kembali hidup sejahtera... lingkaran dosa berulang kembali.

RUT

“Imbalan Kesetiaan”

LATAR BELAKANG

Rut digambarkan sebagai kitab tentang kesetiaan manusia. Penulisnya tidak diketahui. Kitab

itu menunjuk pada masa Hakim-hakim dan memberikan gambaran mengenai kehidupan

sehari-hari bangsa Israel pada waktu itu. Cerita itu sendiri hanya meliputi jangka waktu kira-

kira sepuluh tahun.

TUJUAN

Pada dasarnya Rut merupakan kisah persahabatan Rut dengan ibu mertuanya, Naomi. Kitab

ini  memiliki  daya tarik  tersendiri,  sebab mengingatkan kita bahwa Raja Daud adalah

seorang keturunan Rut dan suaminya, Boas. Lebih dari itu, dilihat dari sudut kemanusiaan,

Yesus dapat menelusuri nenek moyangnya melalui Rut (Mat 1:5). Dengan demikian kitab ini

menceritakan kepada kita bahwa keluarga penebus, yang darinya seribu tahun kemudian

dilahirkan Sang Penebus, memiliki  seorang anggota keluarga yang bukan Yahudi.

KISAH-KISAH UTAMA

Rut  memberikan  gambaran  sekilas  tentang  adat  istiadat  perkawinan  pada  masa  itu.

Merupakan kewajiban dari famili terdekat janda yang memiliki  anak untuk menggantikan

kedudukan suaminya yang sudah meninggal itu. Tanggung jawab ini biasanya jatuh pada

saudara  laki-laki  orang  yang  sudah  meninggal  itu  (Ula  25:5-10).  Suami  Rut,  Mahlon,

meninggal tanpa meninggalkan anak. Boas bukanlah iparnya, namun  ia diceritakan sebagai

seorang sanak dari Naomi (Rut 2:1). Rut harus menunjukkan kepada Boas bahwa ia tertarik

pada kemungkinan untuk menikah lagi, dan hal ini dilakukannya (Rut 3:1-18). Boas tahu

bahwa ia masih memiliki  hubungan keluarga dengan Rut, namun  ia mengatakan bahwa

masih ada sanak yang hubungannya lebih dekat daripada dia. Hanya jika sanak terdekat itu

menolak,  maka baru ada kemungkinan bagi  Boas untuk menggantikannya.  Dalam pasal

empat  kita  membaca  tentang  proses  bagaimana  akhirnya  Rut  menjadi  istri  Boas.  Ada

masalah lebih lanjut, yaitu siapa saja yang mengawini Rut diminta untuk menyelamatkan

sebidang tanah yang dijual oleh Naomi atas namanya. Keluarga terdekat itu tidak bersedia

melakukannya (Rut 4:6), dan oleh sebab nya ia kehilangan haknya (Rut 4:7, 8). Dengan

demikian terbuka jalan bagi Boas untuk menikahi Rut.

1 SAMUEL

“Bagaimana bangsa Israel mendapat seorang raja”

KISAH TENTANG TIGA ORANG

Pada mulanya 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Namun demikian, sebab  kitab kedua

melulu bercerita mengenai raja Daud, maka yang pertama mengisahkan ketiga orang tokoh

yang hidupnya saling berkaitan satu sama lain yaitu Samuel, Saul dan Daud. Riwayat yang

diceritakan tidak utuh; siapapun yang mengumpulkan seluruh kisah itu tentu mengambilnya

dari  beberapa  sumber.  Hal  itu  tidak  menjadi  masalah  asal  kita  ingat  bahwa bagi  para

penulis  kuno arti  suatu  kejadian  lebih  penting daripada ketepatan waktu.  Kitab  Samuel

bukan hanya semata-mata sebagai sejarah,  namun   merupakan cerita tentang bagaimana

Allah  menangani  umat-Nya.  Dalam pada  itu  riwayat  yang  diceritakan  sungguh-sungguh

terjadi.  Bahkan,  pahlawan  bangsa  seperti  Daud  digambarkan  sebagai  orang  yang

bermasalah dan seorang manusia biasa.

"KAMI MENGINGINKAN SEORANG RAJA"

Kitab Hakim-hakim menyimpulkan bahwa anarki merajalela di Israel pada masa itu, sebab 

"Israel  tidak  memiliki   raja"  (Hak  21:25).  Samuel,  hakim terakhir,  walauoun  terkenal

namun   pengaruhnya  hanya  setempat  dan  terbatas.  Umat  Israel  memerlukan  seorang

pemimpin  bangsa.  Oleh  sebab   itu,  permohonan  mereka  untuk  mendapat  seorang  raja

bukanlah  semata-mata  sebagai  suatu  kecaman  terhadap  kepemimpinan  Samuel,  namun 

menunjukkan betapa manusiawinya pengharapan mereka. Pada kenyataannya hanya Allah

yang  dapat  memimpin  mereka  untuk  memperoleh  kemenangan;  kekalahan-kekalahan

mereka tidak disebabkan sebab  mereka tidak memiliki  seorang raja, namun  oleh sebab 

mereka telah melupakan perjanjian dengan Allah (1Sa 10:18,19;  12:6-15).  Mereka telah

mengikuti cara-cara penyembahan orang kafir. Gagasan mengenai pembentukan kerajaan

itu sendiri  tidak salah,  namun   mereka menginginkan seorang raja seperti  bangsa-bangsa

kafir  yang  ada  di  sekitar  mereka.  Samuel  memperingatkan  mereka  bahwa  raja-raja

memiliki  potensi untuk kebaikan dan kejahatan, seperti yang akan mereka lihat sendiri di

kemudian hari.

BANGSA FILISTIN

Oleh sebab  bangsa Israel  tidak  membinasakan orang Filistin  ketika  mereka menduduki

Kanaan, maka negara tetangga Israel ini terus menerus menjadi ancaman bagi keamanan

mereka.  Kita  membaca mengenai  bangsa Amori,  Amalek dan  Amon,  namun   kebanyakan

mengenai bangsa Filistin. Bangsa-bangsa ini tinggal di lima kota pantai yaitu Asdod, Gat,

Ekron, Gaza dan Askelon, dan mereka mengurung Israel (1Sa 13:19-21). Saul dan Yonatan

memulai suatu revolusi, namun  raja Daudlah yang akhirnya menumpas bangsa Filistin dan

yang lainnya secara tuntas.

2 SAMUEL

“Keluarga Daud”

GARIS KETURUNAN DAUD

II  Samuel  seringkali  dianggap  sebagai  Sejarah  Kehidupan Daud.  Di  dalamnya  kita  baca

tentang keberhasilan, kegagalan dan dosa-dosa Daud, khususnya mengenai liku-liku dan

perjuangan hidup yang harus dialaminya. Namun, terselip dalam kisah ini suatu janji yang

kemudian digenapi  di  dalam Kristus.  Daud bukan saja pilihan Allah pada waktu itu;  dia

menjadi awal garis keluarga yang akan membawa kepada Sang Penebus sendiri.

MUSUH-MUSUH DAUD

Daud  memiliki   karunia  besar  untuk  menjadi  pemimpin  pasukan  militer.  Dia  menarik

"orang-orang perkasa" yang kegagahannya menjadi legenda di zaman mereka. Pada saat ia

sudah  menguasai  seluruh  bangsa  Israel,  ia  mengkonsolidasikan  kerajaannya  dengan

mengalahkan  negara-negara  tetangga  yang  susah  dikendalikan  dengan  melancarkan

serangkaian serangan (2Sa 8:1-14; 10:1-9; 11:1; 12:26-31). Tindakan ini melindungi daerah

kekuasaannya dari  serangan musuh dan memberinya kekuasaan atas daerah yang lebih

luas daripada yang pernah ada sebelumnya.

PEMERINTAHAN DAUD

Sekali-sekali kita membaca siapa yang berkuasa dalam pemerintahan Raja Daud (2Sa 8:15-

18; 20:23-26). Kemampuan Absalom untuk menimbulkan ketidakpuasan rakyat (2Sa 15:1-6)

menunjukkan bahwa Daud bukanlah orang yang dapat memerintah dengan baik. Walaupun

Daud  dapat  mendorong  timbulnya  kesetiaan  yang  sungguh-sungguh,  namun   kenyataan

bahwa Absalom dapat menimbulkan perang saudara berarti ada kemungkinan bahwa pada

waktu raja mulai tua, ia kehilangan kontrol dalam banyak hal. Sensus yang diadakannya

dianggap sebagai suatu kekeliruan sebab hal itu boleh jadi dihubungkan dengan rencana

kerja paksa (2Sa 24:1-10), sesuatu yang kemudian dieksploitasi secara kejam oleh anaknya,

Salomo.

MASALAH RUMAH TANGGA DAUD

Poligami tidak dilarang dalam Perjanjian Lama, namun  kisah kehidupan rumah tangga Daud

menunjukkan kejelekan-kejelekannya. Pada masa itu memiliki  banyak istri dan gundik

serta  keluarga  besar  merupakan  simbol  status.  Namun,  keluarga  semacam  itu  dapat

menimbulkan bahaya. Setiap anak merupakan calon pewaris takhta, dan jika anak itu keras

kepala, ia menjadi ancaman bagi sang ayah. Di samping itu, Daud bukanlah orang-tua yang

terbaik. Dia gagal mendisiplin anak-anaknya dan sebagai akibatnya ia harus menanggung

derita.

1 RAJA-RAJA

“Kerajaan Israel bersatu dan terpecah”

ISI KITAB

I Raja-raja merupakan bagian pertama dari kisah yang pada mulanya merupakan satu kitab

yang  menceritakan  mengenai  kehidupan  bangsa  Israel  selama  empat  abad  sesudah

kematian Daud dan pembuangan bangsa Israel ke Babel. Kitab itu menceritakan bagaimana

suatu negara yang kuat dan bersatu terpecah menjadi dua; bagaimana kerajaan utara yang

lebih  besar  yang terus menerus berpaling dari  Allah akhirnya dimusnahkan;  bagaimana

Yehuda juga gagal untuk memelihara perjanjian dengan Allah dan bagaimana negeri  itu

juga  dilanda  bencana,  yang  mencapai  puncaknya  pada  penghancuran  Yerusalem  dan

pembuangan besar-besaran ke Babel. I Raja-raja merangkum 120 tahun pertama dari kisah

yang lengkap.

SIAPA PENULISNYA?   

Kitab  ini  mungkin  ditulis  oleh  seorang  nabi  atau  sejumlah  nabi  yang  menulis  di  Babel

selama  masa  pembuangan,  sekitar  tahun  550  SM.  Bahan  tulisan  diambil  dari  berbagai

sumber,  seperti  catatan resmi pemerintah atau kumpulan kisah-kisah tentang para nabi

yang kemudian disatukan sedemikian rupa untuk memberikan tekanan pada pokok-pokok

yang ingin diungkapkan oleh si penulis.

TUJUAN PENULISAN

Dalam I dan II Raja-raja penulis tidak ingin mencoba untuk memberikan suatu kisah yang

lengkap dari seluruh peristiwa yang terjadi pada masa itu. Ia menceritakan dengan panjang

lebar mengenai peristiwa dan tokoh-tokoh yang dianggapnya penting seperti Salomo atau

Elia,  namun   tokoh  lainnya  hanya  diceritakan  secara  sepintas.  Raja-raja  hanya  menulis

mengenai  pentingnya peristiwa yang terjadi  dalam hubungannya dengan perkembangan

kehidupan rohani manusia.

PANDANGAN PENULIS

Masalah  yang ditunjukkan  oleh  penulis  ialah  betapa  pentingnya  bagi  umat  Allah  untuk

menjaga  perjanjian  mereka  dengan-Nya.  Manusia  dan  bangsa-bangsa  keduanya  dinilai

sampai  seberapa  jauh  mereka  mencari  dan  mengikuti  kehendak  Allah.  Jika  mereka

mengasihi  Allah  dan  patuh  pada  perintah-perintah-Nya,  maka  Allah  akan  memberkati

mereka;  jika  mereka  berpaling  dari-Nya,  maka  bencara  akan  menimpa  mereka.  Dalam

banyak hal sikap seorang raja dianggap sebagai gambaran dari sikap bangsa itu secara

keseluruhan; dalam satu segi seorang raja merupakan wakil dari rakyatnya.

METODE PENULISAN

Kisah  mengenai  kedua  bangsa  Israel  dan  Yehuda  mudah  diikuti  jika  kita  tahu  metode

penulisan  yang  dipakai.  Kita  selalu  diberi  kisah  baru  mengenai  setiap  negeri  secara

berurutan. Sebagai contoh, gambaran peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seorang raja

Israel  diikuti  oleh kisah raja-raja Yehuda yang naik takhta selama pemerintahannya dan

seterusnya.

2 RAJA-RAJA

“Pembaruan dan pemberontakan”

MENGENAI KITAB ITU

II Raja-raja melanjutkan kisah tentang kerajaan Israel dan Yehuda beberapa saat sebelum

kematian Elia,  dan diteruskan sampai  Israel  dihancurkan dan Yehuda dibuang ke Babel.

Diceritakannya kembali  kisah Elia  dalam II  Raja-raja  mengingatkan  kita  bahwa kitab ini

merupakan bagian kedua dari satu kitab Raja-raja yang utuh. Tidak ada alasan yang jelas

mengenai pembagian kitab menjadi  I  dan II  Raja-raja, namun   oleh sebab  panjang kedua

kitab hampir sama, kemungkinannya ialah hal itu dilakukan untuk mempermudah penulisan

dalam dua gulungan.  Beberapa kisah  yang kita  temukan dalam Raja-raja  juga terdapat

dalam Tawarikh,  walaupun penulis  Tawarikh menulis  dari  sudut  yang agak berbeda dan

hanya menulis tentang kerajaan selatan, yaitu Yehuda.

MENGAPA KITAB ITU DITULIS?   

II Raja-raja meliputi kurun waktu kurang lebih 270 tahun, dua kali lebih panjang daripada

periode yang meliputi I  Raja-raja. Namun, sebagian besar kisah menceritakan kehidupan

Elisa. Seperti juga dalam I Raja-raja, tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dalam

kerohanian bangsa, seperti Hizkia dan Yosia diceritakan dengan panjang lebar. Sedangkan

yang lain, walaupun mereka memerintah dalam jangka waktu yang lama dan membawa

kemakmuran, hanya diceritakan secara sepintas saja. Orang Yahudi mengakui bahwa semua

kitab sejarah sungguh-sungguh memiliki  maksud rohani, dan mereka mengelompokkan

kitab-kitab tersebut dalam "nabi-nabi terdahulu".

PARA NABI

Banyak dari nabi-nabi penulis (yang dikenal dalam Kitab Suci bangsa Ibrani sebagai "nabi-

nabi yang belakangan") melayani dalam periode yang terangkum dalam II Raja-raja, dan

kitab-kitab  yang  mereka  tulis  memberikan  kepada  kita  banyak  informasi  mengenai

seberapa jauh korupsi yang terjadi dalam kedua negeri itu. Namun demikian, hanya sedikit

sekali yang kita pelajari mengenai karya Raja-raja dan pengaruh mereka. Diceritakan bahwa

Hizkia pergi menemui Yesaya, namun  Amos, Hosea, Mikha dan Yeremia tidak disebut-sebut

sama sekali. Penulis kitab Raja-raja lebih menekankan mengenai bagaimana para raja dan

rakyatnya menanggapi pesan-pesan Allah daripada menulis tentang bagaimana dan dari

mana mereka menerima pesan itu.

RAJA-RAJA

Sukar untuk membuat suatu daftar tentang semua raja dan masa pemerintahan mereka,

sebab  waktu kurang setahun selalu  dihitung sebagai  setahun.  Yang sering terjadi  ialah

seorang putra menjabat sebagai pejabat sementara bersama-sama sang ayah, kemudian

waktu pemerintahan itu  dihitung sebagai  masa pemerintahan mereka berdua.  Hal  yang

sering membingungkan ialah mengenai nama-nama raja. Ada seorang Raja Yehoram dan

Raja Yoahas, baik di Israel maupun di Yehuda, dan sebab  kedua nama ini sering disingkat

sebagai Yoram dan Yoas, maka kita harus berhati-hati dalam membedakan mereka.

1 TAWARIKH

“Sejarah kerohanian bangsa Israel”

TENTANG APA I TAWARIKH?   

I Tawarikh merupakan buku sejarah yang khususnya menceritakan pemerintahan Raja Daud

(1000-961 SM).  Pasal-pasal  pembukaan (1Ta 1-9)  merupakan  ringkasan  tentang sejarah

mula-mula bangsa Israel dengan menuliskan silsilah keturunan yang dimulai dari Adam dan

seterusnya.  Kitab  ini  secara  singkat  juga  menyebutkan  kejatuhan  Saul  dan  kenaikan

Salomo. namun , sisanya melulu bercerita mengenai Daud.

BAGAIMANA CARA PENULISAN I TAWARIKH?

I  Tawarikh tidak ditulis  oleh seorang penulis,  namun   oleh seorang penyusun tulisan yang

dengan  pandainya  menggabungkan  sejumlah  tulisan  yang  terdahulu  (lihat 1Ta  9:1;

29:29,30)  untuk  dijadikan  suatu  kesatuan  sejarah.  Tradisi  Yahudi  menegaskan bahwa si

penyusun itu ialah Ezra. Kitab ini merupakan bagian dari suatu karya yang terdiri dari empat

jilid,  yang  termasuk  didalamnya  2  Tawarikh,  Ezra  dan  Nehemia.  Ada  beberapa  usul

mengenai masa penyusunan kitab itu. Jika Ezra dianggap sebagai penyunting, maka kitab

itu boleh jadi disusun dalam abad keempat sebelum Masehi.

MENGAPA I TAWARIKH DITULIS?

Kisah sejarah yang terdapat dalam I Tawarikh ditulis dengan suatu tujuan tertentu; tidak

hanya mencatat fakta-fakta sejarah, namun  juga mengemukakan arti dari apa yang terjadi. 1

Tawarikh merupakan kitab sejarah yang ditulis menurut pandangan Tuhan. Kitab ini ditulis

pada  waktu  umat  Allah  hidup  dalam  lingkungan  yang  bersiifat  sangat  duniawi.  Negeri

mereka telah hancur sebab  perang, akibatnya banyak dari mereka yang runtuh imannya.

Mereka tidak lagi dapat melihat campur tangan Allah dalam masalah-masalah mereka atau

percaya bahwa Dia adalah Allah yang menepati apa yang telah dijanjikannya. I Tawarikh

menjelaskan  mengapa  peristiwa  sejarah  berjalan  sedemikian  rupa  dan  mengapa  masih

mungkin menekuni iman.

APAKAH 1 TAWARIKH DAPAT DIPERCAYA?

Si penyusun seakan-akan memilih peristiwa sejarah untuk membuktikan argumentasinya,

dan sebagai akibatnya banyak fakta sejarah bangsa Israel yang terlewatkan dan gambaran

sejarah yang disusunnya agak berbeda dengan yang ditemukan dalam Samuel atau Raja-

raja.  Dari  kisah-kisah  yang dihilangkan terdapat  kisah Elia  dan peristiwa-peristiwa yang

kurang berkenan dalam kehidupan Daud. Walaupun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa

I  Tawarikh tidak akurat.  Si  penyusun tidak mengada-ada,  ia  semata-mata memakai  apa

yang ada untuk menarik pelajaran tertentu untuk masa itu. Sejarah masih ditulis dengan

cara seperti itu. Sebenarnya, sukar untuk menulis sejarah tanpa memilih fakta yang dapat

dibuktikan. dan itulah yang dilakukan oleh si Penyusun.

2 TAWARIKH

“Pelajaran mengenai Kesetiaan”

ISI II TAWARIKH   

II  Tawarikh  menceritakan  kisah  umat  Allah  dengan  pemeritahan  Raja  Salomo.  Kitab  itu

menelusuri  berbagai  kejadian yang menimpa Yehuda selama hampir  empat ratus tahun

sampai akhirnya negeri  itu hancur,  rakyatnya dibuang dan ibukotanya dihancurkan (587

SM). Kisah kehancuran ini bukan merupakan kata akhir Tawarikh. Kalimat-kalimat terakhir

dari  kitab  ini  menunjuk  kepada  masa  depan  yang  penuh  harapan  ketika  bangsa  ini

dipulihkan melalui maklumat raja Kores (2Ta 36:23).

MENGAPA KITAB INI DITULIS

Si penyusun memiliki  tiga alasan untuk menyusun kitab ini:

1. Untuk  menafsirkan  jalannya  sejarah.  Ia  menerangkan  mengapa  beberapa  raja

memerintah dengan damai dan sejahtera sedangkan yang lain memerintah dalam

pergolakan. Rahasia keberhasilan itu terletak pada kesetiaan kepada Allah.

2. Untuk mengajar. Si penyusun tidak puas hanya dengan menguraikan masa lalu dalam

tulisannya. Ia ingin menghimbau umat Allah untuk belajar dari kesalahan-kesalahan

yang terjadi sepanjang sejarah, dan setia kepada-Nya sekarang.

3. Untuk  menggugah  iman.  Banyak  orang  Yahudi  merasa  Allah  telah  meninggalkan

mereka.  Dengan menjelaskan  sebab-sebab  dari  penderitaan  mereka,  si  penyusun

mendorong mereka untuk kembali percaya kepada Allah yang besar dan berkuasa.

Untuk  komentar  terinci  mengenai  mengapa  2  Tawarikh  ditulis  bacalah  komentar

mengenai 1 Tawarikh.

CIRI KHUSUS

1. Si penyusun setia kepada keluarga Daud dan memperlihatkan bagaimana Allah tetap

setia memenuhi janji-Nya bahwa takta Daud akan tetap aman (2Ta 21:7) kendati Ia

memiliki  alasan untuk tidak melakukannya.

2. Kerajaan Israel Utara dianggap melakukan kesalahan, sebab  memisahkan diri dari

takta Daud (2Ta 13:1-12). Dalam seluruh kitab tindakan bangsa israel dianggap jahat

(misalnya 2Ta 21:6,13).  Sejarah  bangsa  Israel  diabaikan  kecuali  kisah  yang dapat

dipakai sebagai peringatan untuk tidak melakukan kesalahan.

3. Peristiwa dalam sejarah dipakai sedemikian rupa sehingga arti kerohaniannya dapat

ditonjolkan.  Si  penyusun tidak mengada-ada maupun memutarbalikkan sejarah; ia

juga bukannya tidak teliti.  1 dan 2 Raja-raja memberikan gambaran sejarah yang

lebih lengkap tentang kisah bangsa Israel dan Yehuda, namun  kedua kitab itu tidak

menunjukkan  motivasi  yang  sama  untuk  menggunakan  sejarah  guna  mengajar

masalah rohani.

EZRA

“Bangsa yang bangkit dari debu”

LATAR BELAKANG

Yerusalem dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 587 S.M. dan bangsa Yehuda dibuang

ke pengasingan.  Peristiwa itu terjadi  hampir  lima puluh tahun sebelum Kerajaaan Babel

ditumbangkan  oleh  bangsa  Persia.  Penguasa  mereka,  Koresy,  mengambil  suatu

kebijaksanaan  baru  dengan  mengizinkan  orang-orang  buangan  kembali  ke  tanah  air

mereka, memberikan segala bantuan yang diperlukan untuk membangun kembali rumah-

rumah ibadah dan menyelenggarakan ibadah mereka kembali. Banyak orang Yahudi yang

sudah betah tinggal di pengasingan dan mereka tidak ingin kembali ke tanah air mereka.

Kitab Ezra dimulai  dengan kembalinya orang-orang Yahudi kurang lebih tahun 538 S.M..

Pasal Ezr 1-6 menceritakan apa yang terjadi dua puluh dua tahun kemudian ketika di bawah

pimpinan  Zerubabel  mereka  menghadapi  banyak  kekecewaan,  namun   akhirnya  mereka

dapat menyelesaikan pembangunan kembali Rumah Tuhan. Ezra sendiri tidak diperkenalkan

sampai  pasal Ezr  7:1.  Ia  memimpin  serombongan  orang  buangan  kembali  ke  tanah  air

mereka pada tahun 458 S.M.. Pasal Ezr 7-10 menceritakan cara Ezra membangun kembali

bangsa itu menjadi bangsa yang hidupnya berkenan kepada Allah. Perlu dicatat bahwa ada

masa tenang selama hampir enam puluh tahun di antara pasal Ezr 6:22 dan Ezr 7:1.

KITAB ITU

Kitab Ezra merupakan bagian dari suatu kisah bersambung yang dimulai dari permulaan I

Tawarikh sampai pada akhir Nehemia.

Perhatikan:

1. Ezra mungkin tidak menulis kitab itu sendiri, walaupun bagian kedua kisah itu diambil

dari catatan hariannya.

2. Seringkali  sukar  untuk  menentukan  berbagai  tahun  kejadian.  Kisah  mengenai

perlawanan di bawah Artahsasta (Ezr 4:7-24) menunjuk pada masa yang kemudian

dibandingkan dengan apa yang terjadi pada bagian permulaan kitab ini.

3. Ezra bukanlah semata-mata catatan sejarah. Si Penulis menggunakan sejarah untuk

mengajar  kita  bagaimana  Allah  menangani  umat-Nya.  Pengajaran-pengajaran  itu

masih berlaku sampai saat ini.

EZRA

Ezra adalah seorang terpelajar yang menjadi Menteri Negara urusan orang Yahudi dalam

pemerintahan Artahsasta. Kehidupannya yang boleh jadi sangat mengesankan di hadapan

raja ditandai dengan tiga sifat, yaitu: ia berdedikasi tinggi mempelajari kitab suci (Ezr 7:10);

ia  memperagakan keberanian  untuk  percaya kepada Allah (Ezr  8:21-23)  dan ia  dengan

rendah hati menunjukkan solidaritas terhadap bangsanya (Ezr 9:6-15).

NEHEMIA

“Pembangunan kembali tembok Yerusalem”

LATAR BELAKANG SEJARAH

Setelah  kematian  Salomo,  kerajaan  Israel  terpecah  menjadi  dua  --  kerajaan  utara  dan

selatan. Ibukota kerajaan utara ialah Samaria, dan dalam tahun 722 SM kota itu direbut oleh

bangsa Asyur dan banyak rakyatnya dijadikan tawanan. Hal yang hampir sama terjadi juga

terhadap kerajaan selatan, Yehuda, ketika Yerusalem direbut oleh bangsa Babel pada tahun

586 SM. Dalam tahun 539 SM bangsa Babel sendiri dikalahkan oleh bangsa Persia -- dan

raja Persia mendorong sebagian orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Kira-kira

50.000 orang kembali dan memulai tugas untuk membangun kembali Rumah Tuhan, namun 

kemudian  mereka  menjadi  kecil  hati  dan  hanya  mampu  membangun  fondasinya  saja.

Sejarah selanjutnya agak ruwet, namun  rupanya kira-kira enam belas tahun kemudian Allah

mengirimkan dua orang nabi,  Hagai  dan Zakharia,  untuk menggugah semangat  rakyat.

Mereka  sudah  menempati  rumah  mereka  masing-masing,  namun   mengabaikan

pembangunan kembali Rumah Tuhan. Sebagai akibatnya, pekerjaan pembangunan dimulai

lagi dan kali ini Rumah Tuhan dapat diselesaikan. Dalam tahun 486 SM serombongan lagi

orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra. Ezra berusaha sebaik mungkin

untuk membangun semangat bangsanya dan mengangkat moral  serta kehidupan rohani

mereka, namun  ia banyak menemui kekecewaan. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun

445 SM Allah berbicara kepada seorang lain,  yaitu Nehemia dan menugaskannya untuk

secara  khusus  menekuni  pembangunan  kembali  tembok  kota  yang  sudah  hancur  itu.

Beberapa orang menempatkan kisah kembalinya Ezra sesudah Nehemia, namun  keterangan

tersebut tidak meyakinkan.

SIAPAKAH NEHEMIA?

Sebagai  pengurus  minuman  raja,  Nehemia  mencicipi  lebih  dahulu  anggur  yang  akan

disajikan kepada raja untuk membuktikan bahwa minuman itu tidak mengandung racun.

Hanya orang yang paling dipercaya dapat menduduki posisi tertinggi ini dalam istana raja

Persia. Namun demikian, hati Nehemia lebih cenderung untuk melakukan tugas yang Allah

bebankan kepadanya. Ia digambarkan sebagai seorang pengusaha yang hidupnya penuh

diwarnai  doa.  Nehemia  tidak  melupakan  bangsanya  sendiri.  Ia  bersedia  meninggalkan

kehidupan mewah dalam istana dan pergi ke Yerusalem untuk me