A. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan
Menguasai pola pikir dan struktur keilmuan serta materi ajar Pendidikan Agama
Kristen dalam perspektif Alkitabiah maupun ilmu pengetahuan lainnya sehingga dapat
menjawab apa, siapa, bagaimana dan mengapa Sifat Tuhan Tritunggal dan KasihNya
harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan
1. Menganalisis ajaran Alkitab tentang Tuhan Tritunggal
2. Menganalisis sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan
C. Pokok-Pokok Materi
1. Ajaran Alkitab tentang Tritunggal
2. Sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan
D. Uraian Materi
1. Ajaran Alkitab Tentang Tuhan Tritunggal
Dokrin KeTritunggalan Tuhan atau Trinitas merupakan salah satu dokrin yang
istimewa dan unik bagi umat Kristen. Dikatakan istimewa dan unik sebab iman
Kristen berkayakinan bahwa Tuhan itu esa, namun juga ada tiga yang yaitu Tuhan .
Dokrin ini sangat penting bagi perkembangan iman Kristen sebab berkaitan dengan
siapakah Tuhan yang disembah, bagaimana cara kerjaNya, bagaimana manusia harus
mendekatiNya. namun sekaligus juga menjawab beberapa pertanyaan praktis yang
sering muncul dalam kehidupan umat Kristen maupun dalam kehidupan bersama
dengan sesama yang beragama lain, misalnya siapakah yang harus disembah, apakah
Tuhan Bapa, Tuhan Anak atau Tuhan Roh Kudus, apakah Tuhan Bapa lebih tinggi
kedudukanNya dari Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus ?. sebab itu pada kegiatan
belajar satu ini kita akan meneliti dokrin TriTunggal Tuhan dengan berusaha
menemukan ajaran Alkitab tentang dokrin ini.
a. Keesaan Tuhan
Agama orang Ibrani Kuno sangat mempertahankan iman yang monoteistis, dan
telah berkali-kali dinyatakan kepeda Israel dengan berbagai cara. Misalnya dalam
Keluaran 20:2-3. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “dihadapanKu” yaitu ‘al
panai yang secara harafiah berarti “di Muka-Ku”. Hal ini mengungkapkan bahwa
Tuhan telah menunjukkan realitas-Nya yang unik melalui apa yang telah dilakukan-
Nya, sehingga Ia berhak menuntut penyembahan, pengabdian dan ketaatan mutlak dari
bangsa Israel. Tuhan melarang untuk menyembah berhala (ay. 4) sebab Dia sajalah
Tuhan .
Selain itu sebuah petunjuk yang jelas tentang Tuhan itu tunggal atau esa terdapat
dalam Syema Israel di Kitab Ulangan 6. Ini yaitu kebenaran yang luar biasa dari
Tuhan yang harus diajarkan oleh para orang tua Israel kepada anak-anak mereka.
Dalam Ulangan 6:13,14 menunjukkan bahwa Tuhan itu Esa, dan tidak ada dewa-dewa
bangsa lain di sekitar Israel yang harus dianggap benar dan layak untuk dilayani dan
disembah (bdg. Kel 15:11; Zakh. 14:9). Selain dalam Perjanjian Lama, maka dalam
Perjanjian Baru Yakobus 2:19 menganjurkan untuk percaya kepada Tuhan yang Esa.
Dalam 1 Korintus 8:4,6 Rasul Paulus juga menggarisbawahi keunikkan Tuhan dengan
mengemukakan “…tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Tuhan lain daripada Tuhan
yang esa…bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal
segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang
olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang sebab Dia kita hidup”.
Keesaan Tuhan berarti bahwa, pertama, hanya ada satu Tuhan saja dan bahwa
sifat dasar atau watak Tuhan tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi (Ul. 4:35; I Raja.
8:60; Yes. 45:5-6). Tuhan tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu atau dapat diuraikaan
menjadi bagian-bagian tertentu. Tuhan itu sederhana, menurut angka Ia hanya satu,
bebas dari segala bentuk paduan. Tuhan itu Roh adanya sehingga tidak dapat diurai.
Yang berinkarnasi menjadi manusia dan mati disalibkan yaitu Anak, namun tidak
berarti bahwa Bapa yang mengutus Anak ke dalam dunia dan Roh Kudus yang
membaharui orang percaya kepada Anak, tidak bersama-sama dengan Dia.
Kedua, Tuhan itu esa sebab ketiga Oknum tersebut memiliki satu hakikat atau
substansi yang tidak saja sama namun satu. Hakikat yang satu ini yaitu hidup, terang,
kasih, kebenaran, kemuliaan, kekuasaan, kekekalan, dan lain-lain. Seperti Bapa
sempurna demikian juga Anak dan Roh Kudus. Suatu keesaan tidak sama dengan
suatu kesatuan. Satu kesatuan ditandai dengan sifat tunggal. namun keesaan Tuhan
memberikan peluang bagi adanya perbedaan-perbedaan pribadi di dalam sifat dasar
ilahi. Dengan demikian keesaan Tuhan menyatakan secara tidak langsung bahwa ketiga
Oknum Tritunggal bukanlah hakikat-hakikat yang terpisah di dalam hakikat Ilahi itu.
b. Konsep Keilahian Tiga Oknum
Tritunggal dalam teologi Kristen berarti bahwa ada tiga Oknum kekal dalam
hakikat Ilahi yang satu itu, yang masing-masing dikenal sebagai Tuhan Bapa, Tuhan
Anak dan Tuhan Roh Kudus, yang dapat dikatakan sebagai tiga kepribadian Tuhan .
saat berbicara tentang adanya Tiga Oknum yang merupakan Tuhan maka juga perlu
dipelajari dari kesaksian Alkitab. Selain Bapa yang telah disebut sebagai Tuhan dalam
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, maka dalam 1 Korintus 8:4; 1 Timotius
2:5-6, dapat ditemukan berbagai kasus di mana Yesus menyebut Bapa sebagai Tuhan .
sedang ayat kunci menurut Millard Erikson yang menunjukkan keilahian Yesus
terdapat dalam Filipi 2:5-11. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “rupa” yaitu
kata μορφη (morphe) yang berarti seperangkat ciri khas yang membentuk keadaan
sesuatu. Bagi Paulus yang yaitu seorang ortodoks dan dibina dalam ajarana Yahudi
yang ketat ini merupakan pernyataan yang mengherankan sebab mencerminkan iman
gereja mula-mula, dan mengemukakan penyerahan yang mendalam terhadap
keilahian Yesus. Bukan hanya soal penggunaan kata μορφη, namun juga oleh
ungkaopan “setara” ισα” dengan Tuhan . Ayat 6 ini melukiskan bahwa Yesus itu setara
dengan Tuhan , namun tidak berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu saat
menghadap kayafas, Yesus sangat menekankan keilahian-Nya, dan juga saat Thomas
menyapaNya dalam Yohanes 20:28.
Selain Yesus dalam Alkitab juga menunjukkan Roh Kudus yaitu Tuhan .
Misalnya dalam kisah Ananis dan Safira (KPR. 5:3-4) yang menekankan bahwa
berdusta kepada Roh Kudus (ay.3) disamakan dengan berdusta kepada Tuhan (ay.4).
Roh Kudus juga dilukiskan memiliki sifat-sifat Tuhan dan dapat melakukan apa yang
dilakukan Tuhan . Misalnya menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran dan
penghakiman (Yoh. 16:8-11), melahirkan kembali atau memberi hidup baru (Yoh.
3:8). Dalam 1 Petrus 1:2, Petrus menyebut para pembaca suratnya sebagai orang-
orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Tuhan , Bapa kita, dan dikuduskan oleh Roh
untuk taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.
c. Ke-Tritunggalan Tuhan
Perjanjian lama mencatat bahwa Tuhan berkali-kali memakai kata ganti jamak
(Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes. 6:8) serta kata kerja jamak (Kej. 1: 26; 11:7) untuk
menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Nama Tuhan yang dipakai dalam ayat-ayat ini
yaitu Elohim yakni sebuah istilah jamak. Keadaan jamak yang melukiskan
KeTritunggalan ini dapat ditemukan dalam kenyataaan berikut :
a. Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan Tuhan (Kej. 19:24; Hos. 1:7; Zach 3:2).
b. Anak Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan Bapa (Yes 48:16 bdg. Maz. 45:7-8; Yes.
63:9-10)
c. Roh juga dibedakan dari Tuhan Bapa (Kej. 1:1; 6:3; Bil. 27:18).
Selain itu dalam Perjanjian Lama dikemukakan Malaikat Tuhan yang bukan
malaikat biasa, sebab Malaikat Tuhan itu berfirman atas namaNya sendiri dan mau
disembah (Kej. 16:10; Yos.5; Hak.21). Istilah Malaikat Tuhan dalam Perjanjian
Lama merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dalam ke-Tuhan an sebelum
penjelmaan-Nya, dan merupakan pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di
kemudian hari. Malaikat Tuhan disamakan dengan Tuhan, namun berbeda dengan
Tuhan. Dalam Perjanjian Lama ditemukan juga pernyataan tentang Roh Tuhan yang
memberi ilham kepada manusia (Yeh. 11:5). Kadang juga diperlihatkaan Oknum
yang lebih dari satu (Maz. 33:6; 45:6-8; Yes. 63:8-10). Dalam beberapa ayat Alkitab
juga ketiga Oknum Ilahi dihubungkan satu dengan yang lain dan ditampilkan setara.
Misalnya dalam formula baptisan dalam Amanat Yesus (Mat. 28:19-20). Nama yang
digunakan dalam ayat-ayat ini yaitu dalam bentuk tunggal, meskipun ada tiga
Oknum yang termasuk. Selain itu hubungan ketiga Oknum ini juga terdapat dalam
berkat Paulus (2 Kor. 13:13). Pada saat pembaptisan Yesus, ketiga Oknum
Tritunggal hadir. Sang Anak dibaptis, Roh Tuhan turun seperti burung merpati, serta
Tuhan Bapa mengucapkan kata-kata pujian tentang Sang Anak. Petrus juga
menekankan hubungan ketiga Oknum Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam khotbahnya
pada hari Pentakosta (Kis. 2:33,38).
Injil Yohanes juga memberikan bukti yang kuat tentang kesetaraan Tritunggal.
Rumusan rangkap 3 dijumpai berkali-kali sebagaimana diamati oleh George Hendry
yang dikutip Erikson, yakni Anak diutus oleh Bapa (14:24), dan berasal dari Dia
(16:28). Roh diberikan oleh Bapa (14:16), diutus oleh Bapa (14:26) dan berasal dari
Bapa (15:16). Sekalipun demikian , Anak sangat terlibat dalam kedatangan Roh
Kudus; Anak mendoakan kedatangan-Nya (14:6), Bapa mengutus Roh dalan nama
Anak (14:26), Anak akan mengutus Roh dari Bapa (15:26). Pelayanan Roh Kudus
dipahami sebagai kelanjutan dari pelayanan Anak.
Yesus dalam pelayanan-Nya pun menunjukkan persatuan-Nya dengan Bapa,
dengan mengatakaan “Aku dan Bapa yaitu satu “(10:30) dan “Barangsiapa telah
melihat Aku, ia telah melihat Bapa”(14:9). Dia berdoa agar para murid-Nya bersatu
sebagaimana Dia dan Bapa yaitu satu juga (17:21).
2. Latar Belakang Munculnya Dokrin Tritunggal
Sepanjang dua abad pertama tarikh Masehi tidak ada usaha yang serius untuk
menggumuli masalah-masalah teologis dan filosofis yang berkaitan dengan ajaran
Tritunggal. Ditemukan penggunaan formula Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun tidak
ada usaha untuk menjelaskannya secara rinci. Misalnya Yustinus dan Tatian
menekankan kesatuan hakikat antara Firman dan Bapa dengan perumpamaan tidak
mungkin memisahkan terang dari sumbernya, yakni matahari. Yang menunjukkan
bahwa sekalipun Firman dan Bapa itu berbeda, keduanya tidak dapat dipisahkan.
Istilah Tritunggal tidak pernah dipergunakan dalam Alkitab. Orang yang pertama
menggunakan istilah ini yaitu Tertulianus. Menurut Tertulianus, terdapat tiga wujud
dari Tuhan yang Esa. Sekalipun ketiga wujud itu berbeda menurut angka, sehingga
dapat dihitung, namun merupakan penyataan dari suatu kekuatan tunggal yang tidak
terpisahkan. Sebagai ilustrasi dari persatuan di dalam Ke-Tuhan an, Tertulianus
menunjuk pada persatuan antara akar dan tunasnya., sumber air dengan sungainya,
matahari dengan terangnya. Bapa, Anak, dan Roh merupakan zat yang sama,
diperluas menjadi tiga perwujudan, namun tidak terbagi. Tertulianus menggunakan
istilah Tritunggal berdasarkan apa yang dikemukan dalam 1 Yohanes 5:7. Kata-kata
“…Ketiganya yaitu satu” menjadi indikasi dari Tritunggal. Istilah Tritunggal
dipergunakan Tertulianus dengan pengertian bahwa substansi Tuhan yaitu satu,
namun ada tiga Oknum, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Penjelasan Tertulianus
memiliki kelemahan sebab ia membedakan Oknum I dan Oknum II dalam
derajatNya. Menurut Tertulianus Oknum II, yakni Anak lebih rendah derajatnya dari
Oknum I sebagai Bapa. Setelah Tertulianus muncul Origenes yang mengemukakan
bahwa bukan hanya Anak yang lebih rendah dari Bapa, namun Oknum III, yaitu Roh
Kudus lebih rendah dari Anak dan Bapa. Bahkan Arians menyangkali keilahian Anak
dan Roh Kudus.
Pada akhir abad ke-2 dan permulaan abad ke-3, muncul dua usaha untuk
menghasilkan definisi yang lebih tepat tentang hubungan antara Kristus dengan Tuhan .
Pandangan ini disebut Monarkhianisme (harafiah,”satu-satunya kekuasaan tertinggi”),
sebab menekankan keunikan dan persatuan Tuhan . Usaha yang pertama dikenal
dengan pandangan monarkhianisme dinamis, pencetusnya yaitu seorang pedagang
kulit hitam dari Bizantium yang bernama Theodotus. Ia memperkenalkan pandangan
ini di Roma sekitar tahun 190. Theodotus berpendapat bahwa sebelum dibaptis Yesus
yaitu manusia biasa, walaupun benar-benar saleh. Dan pada saat dibaptis, Roh atau
Kristus hinggap diatas-Nya dan Yesus dapat melakukan berbagai mujizat. Dan bagi
Theodotus Yesus yaitu manusia biasa, diilhami, namun tidak didiami oleh Roh
Kudus.
Pada parohan kedua abad ke-3, tampil Paulus dari Samosata yang
mempertahankan bahwa Firman (Logos) tidak merupakan wujud yang berkepribadian
dan mampu hidup sendiri. Hal ini berarti Yesus Kristus bukan Firman. Tapi menurut
Paulus dari Samosata, Firman itu merujuk pada perintah dan ketetapan Tuhan . Tuhan
memerintahkan dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dengan perantaraan
manusia yang namanya Yesus. Inilah yang dimaksudkan dengan logos dalam
Yohanes 1. Dengan demikian terdapat unsur kesamaan antara Tertulianus dengan
Paulus dari Samosata, yaitu kenyataan bahwa Tuhan hadir secara dinamis di dalam
kehidupan manusia yang namanya Yesus, namun sama sekali tidak terdapat kehadiran
Tuhan yang benar-benar nyata di dalam diri Yesus.
Usaha kedua dikenal dengan pandangan monarkhianisme modalis yang berusaha
meneguhkan dokrin Tritunggal. Monarkhianisme modalis juga berusaha
mempertahankan dokrin kesatuan Tuhan , namun juga mengakui keilahan penuh Yesus
Kristus. Menurut pandangan monarkhianisme modalis istilah Bapa menunjuk kepada
Ke-Tuhan an itu sendiri, dan setiap gagasan bahwa Firman atau Anak itu kepribadian
yang lain dari Bapa agak sulit diterima oleh golongan ini. Adapun tokoh dari gerakan
ini yang menonjol yaitu Noetus dari Smirna, yang aktif pada akhir abad ke-2 dan
Sabellius yang menulis dan mengajar di bagian awal abad ke-3 dan yang
mengembangkan pemikiran dokrin gerakan ini sehingga memperoleh bentuk yang
lengkap dan cangkih.
Gagasan pokok dari golongan ini yaitu hanya ada satu Ke-Tuhan an yang dapat
disebut dengan berbagai cara sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Istilah-istilah ini
tidak menunjukkan kepada pembedaan yang nyata, namun sekedar merupakan nama
yang dianggap cocok dan dapat digunakan pada saat-saat yang berbeda. Bapa, Anak
dan Roh Kudus itu identik, ketiganya merupakan penyataan yang berturut-turut dari
Oknum yang sama. Hal ini berarti pemecahan monarkhianisme modalis terhadap
paradox ketigaan dan keesaan yang digagaskan bukanlah bahwa Tuhan yaitu tiga
Oknum dengan tiga nama, namun satu Oknum dengan tiga nama, tiga peranan, atau
tiga kegiatan yang berbeda.
Selain itu gagasan lainnya dari modalisme ialah Sang Bapa ikut menderita
bersama dengan Kristus, sebab Bapa benar-benar hadir di dalam dan secara pribadi
identik dengan Yesus, Sang Anak. Pandangan ini dikenal sebagai Patripassianisme”,
dan pandangan ini dianggap sesat sebab dianggap bertentangan dengan filsafat
Yunani bahwa Tuhan tidak dapat merasakan penderitaan atau kesakitan.
Pendapat yang beragam dan saling bertentangan ini dianggap mengganggu
keberadaan dan pertumbuhan gereja sehingga diabad ke-4 gereja mengadakan siding
dengan tujuan merumuskan rumusan yang benar bagi Tritunggal. Pada siding gereja
di Nicea (Tahun 325 Ses M) dibuat kesimpulan bahwa hanya ada satu bukan tiga
Tuhan , dan bahwa Anak dilahirkan secara kekal dari subsatansi Bapa, sebab itu Anak
sederajat dengan Bapa. Dan pada siding gereja berikutnya tahun 381 di Kontantinopel
lebih dipertegas lagi rumusan tentang Oknum Roh Kudus dengan dikemukakan
bahwa Roh Kudus juga sederajat dengan Anak dan Bapa.
Pada masa reformasi dan sesudahnya kesalahpamahamn tentang dokrin Tritunggal
muncul lagi secara berulang-ulang. Misalnya golongan Arminians demi menegaskan
kesatuan Tuhan , cenderung merendahkan Oknum Anak dan Roh Kudus, dan Oknum
Bapa dianggap derajatNya lebih tinggi. Selain itu dari golongan Lutheran juga
mengikuti modalisme dengan menganggap keberadaan Bapa, Anak dan Roh Kudus
hanyalah model yang berbeda dari Tuhan yang satu.
Pemahaman tentang hakikat Tuhan merupakan sumbangan pemikiran Origenes
tentang keesaan Tritunggal. Dan pada sidang gereja tahun 325 di Necia status
dogmatis tentang keesaan Tuhan diterima dengan menggunakan istilah homo-usios
(satu hakekat), sehingga bermakna satu hakekat, keberadaan dasar, essens atau
substansi.
Salah satu tokoh yang paling kreatif dalam sejarah teologi Kristen yaitu
Augustinus dalam karyanya De Trinitate, ini merupakan karyanya yang terbesar di
mana ia memperkerjakan kecerdasan berpikirnya yang luar biasa untuk memecahkan
persoalan Tritunggal. Augustinus lebih menekankan persatuan Tuhan dari pada
ketigaan Tuhan . Menurut Augustinus Tiga anggota Tritunggal bukanlah Oknum-
Oknum yang tersendiri, namun setiap Oknum mempunyai hakekat yang identik dengan
Oknum yang lain atau dengan substansi ilahi itu sendiri. Oknum-Oknum tersebut
berbeda berkenaan dengan hubungan mereka di dalam Ke-Tuhan an. Dalam De
Trinitate analogi yang didasarkan pada kegiatan pikiran disajikan dalam tiga tahap
atau tiga Trinitas, yaitu :
1. Pikiran, pengetahuan tentang dirinya, dan cintanya pada dirinya;
2. Daya ingat, pengertian dan kehendak;
3. Pikiran yang mengingat Tuhan , mengetahui Tuhan dan mengasihi Tuhan .
Augustinus menarik kesimpulan bahwa manusia secara sadar memusatkan perhatian
pada Tuhan , ia sepenuhnya memperlihatkan gambar Penciptanya.
Dengan demikian dokrin Tritunggal merupakan bagian yang sangat penting dari
iman Kristen. Masing-masing dari ketiga Oknum ini harus disembah sebagai Tuhan
Tritunggal. Dokrin tersebut tidak masuk akal dari sudut pandang manusia sehingga
tidak seorang akan menciptakannya. Menurut Millard J. Erikson, Orang Kristen tidak
menganut dokrin Tritunggal sebab dokrin itu nyata dan secara logis kuat dan
meyakinkan, namun menganutnya sebab Tuhan telah menyatakan bahwa demikianlah
keadaan-Nya. Erikson mengutip pernyataan seseorang demikian :
Cobalah menjelaskan, dan anda akan hilang akal; namun cobalah
mengingkarinya, maka jiwa anda akan hilang.
Dalam sebauh artikel yang ditulis oleh Samuel T. Gunawan dikemukakan beberapa
pandangan yang keliru tentang Tritunggal atau Trinitas, sebagaai berikut :
1. Triteisme, yakni pandangan yang menolak keesaan Tuhan dan percaya pada tiga
Tuhan .
2. Monarkkianisme, yang menekankan bahwa Tuhan anak hanyalah merupakan mode
lain dari pernyataan Tuhan Bapa.
3. Sabellianisme. Sabelius dari Ptolomais yang menyatakan bahwa Bapa, Anak dan
Roh Kudus yaitu tiga bentuk eksistensi atau manifestasi dari satu Tuhan . Dalam
pandangan ini , Tritunggal bukan berkaitan dengan natur Tuhan , namun hanya cara
Tuhan menyatakan diriNya.
4. Arianisme, Arius seorang penatua yang anti Trinitarian dari Alexandria
mengajarkan Tuhan yang kekal yang esa dari Anak yang diperanakkan oleh Bapa,
dank arena itu, Anak memiliki permulaan (diciptakan). Jadi Arius
mengsubordinasikan anak pada Bapa. sedang Roh Kudus yaitu yang pertama
diciptakan oleh Anak. Dan Tuhan Bapa satu-satunya yang sama sekali tidak
mempunyai permulaan.
5. Socinianisme, Socinus pada abad ke enam belas mengajarkan bahwa yaitu keliru
untuk mempercayai pribadi-pribadi dari Trinitas memiliki satu hakekat yang esa.
Paham mengajarkan bahwa hanya ada satu zat yang ilahi yang terdiri hanya satu
pribadi. Socinus melakukan penyangkalan terhadap pra eksistensi Anak dan
menganggap Anak hanya seorang manusia. Dan ia mendefinisikan Roh Kudus
sebagai kebajikan atau tenaga yang mengalir dari Tuhan kepada manusia.

