t selamat setelah beberapa lama berada dalam "perut ikan
paus (Yun 1:17). Sebenarnya Alkitab menyebutnya "seekor ikan besar", oleh sebab kita
tidak tahu makhuk apa itu sebenarnya. Ada argumentasi yang mengatakan bahwa kejadian
ini tidak pernah terjadi, oleh sebab nya lebih baik jika kita menganggap kitab ini sebagai
semacam perumpamaan daripada sebagai suatu fakta nyata. Pesan yang terkandung di
dalamnyalah yang lebih penting, bukan itu. Walaupun hal ini tentunya benar, perumpamaan
ini tidak seperti perumpamaan lainnya, sebab Yunus digambarkan sebagai tokoh sejarah
yang nyata. Terlebih lagi, Yesus rupanya menganggap serius ketika Ia membandingkan
kebangkitan-Nya dengan peristiwa itu (Mat 12:39-41). Jika Allah adalah Tuhan atas segala
ciptaan, yang merupakan bagian dari pesan dalam kitab ini, maka tidak ada alasan
mengapa Ia tidak dapat mengatur kejadian seperti itu.
NINIWE
Dari sekian banyak bangsa dari zaman dahulu, tidak ada yang begitu menikmati kejahatan
seperti orang Asyur. Di kemudian hari mereka akan melenyapkan kerajaan utara dan
menghancurkan Yehuda. Dalam zaman Yunus, kekuasaan mereka sedang naik, dan mereka
merupakan ancaman yang dahsyat bagi umat Allah. Jika ada orang yang tidak layak
menerima kebaikan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang tinggal di ibukota Asyur.
Oleh sebab nya, kita dapat mengerti mengapa Yunus merasa jijik ketika ia diperintahkan
untuk pergi dan berkhotbah di sana, terutama ketika ia merasa bahwa Allah akan
mengampuni mereka (Yun 4:2).
MIKHA
“Berita tentang penghakiman dan harapan”
WAKTU PENULISAN
Pasal 1 ayat Mik 1:1 memberi batasan masa kerja Mikha sebagai seorang nabi.
Pemerintahan Raja Yotam dimulai pada tahun 742 SM dan pemerintahan Hizkia berakhir
dalam tahun 687 SM. Yeremia berbicara tentang nubuatan Mikha pada zaman pemerintahan
Hizkia (Yer 26:18) dan mungkin pekerjaan kenabiannya dilaksanakan dalam tahun-tahun
antara 725 SM dan 701 SM.
SITUASI
Mikha hidup di zaman krisis. Dua negeri adi kuasa, Mesir dan Asyur, sedang bertempur
untuk memperebutkan supremasi dan negeri Mikha sendiri masih berada dalam keadaan
cukup makmur -- sebagai peninggalan dari pemerintahan Raja Uzia yang cukup lama dan
stabil (739 SM) namun , tidak selamanya demikian. Dilihat dari sudut pandang keagamaan,
Hizkia adalah seorang raja yang baik (2Raj 18:1-20:21), namun secara politis ia lemah. Di
bawah pengaruh Mikha, ia memimpin gerakan pambaruan keagamaan, namun gerakannya
tidak mengubah bangsanya. Negeri itu sudah rusak -- si kaya bertambah kaya dengan
mempedayakan si miskin, para hakim akan memenangkan perkara mereka yang dapat
membayar paling tinggi, dan bahkan para nabi dan imam menempatkan uang di atas Allah.
Rakyatnya mengabaikan perintah-perintah Allah dan ilah-ilah ada di mana-mana, namun
mereka masih berpendapat bahwa Allah akan melindungi mereka. Dalam tahun 722 SM
kerajaan Israel bagian Utara dihancurkan. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi
Yehuda, namun sebaliknya mereka tetap mengikuti jalan yang salah itu.
PENULIS
Mikha berasal dari negeri Moresyet, sebuah kota kecil yang berbatasan dengan Filistin. Kota
kecil itu merupakan lembah yang subur, dan berada pada jalur perdagangan. Sebagai
seorang desa, Mikha mencurigai kota besar dan melihat bahwa kebobrokan Yehuda berakar
pada kehidupan orang kota (Mik 1:5; 6:9). Didorong oleh kesadarannya yang amat kuat
akan panggilan kenabiannya dan kuasa Tuhan dalam kehidupannya (Mik 3:8; 7:7), ia berani
mempertahankan pendapatnya terhadap pendapat orang banyak.
KITAB INI
Kitab Mikha bukan merupakan sebuah pidato yang diucapkan sekaligus. Kitab itu
merupakan kumpulan berbagai pesan. Ini berarti isinya dengan cepat melompat dari satu
topik ke topik lainnya. Isi kitab silih berganti antara nubuatan dan hukuman yang dijatuhkan
atas Yehuda sebab dosa-dosa mereka, lengkap dengan gambaran yang jelas tentang dosa
dan hukuman, serta nubuatan mengenai hari depan yang cerah setelah penghakiman.
NAHUM
(lihat OBAJA)
HABAKUK
“Bagaimana Allah dapat memakai orang jahat?”
NABI YANG TIDAK DIKENAL
Selain dari satu petunjuk yang singkat, kita samma sekali tidak tahu tentang Habakuk atau
kapan ia berkhotbah. Beberapa orang berpendapat bahwa sebab pasal Hab 3 ditulis seperti
Mazmur lainnya, yaitu untuk penyembahan umum -- lengkap dengan petunjuk-petunjuk
untuk musiknya (Hab 3:1,3,9,13,19) -- ia boleh jadi seorang Lewi yang bekerja di dalam
Rumah Tuhan di Yerusalemm dan juga seorang nabi. Petunjuk yang kita punyai mengacu
kepada orang Kasdim atau orang babel. (Hab 1:6), dan ada yang memperdebatkan apakah
Habakuk meramalkan kebangkitan kekuasaan mereka atau hanya menggambarkan apa
yang terjadi pada masa hidupnya. Kedua asumsi menempatkan Habakuk pada akhir abad
ketujuh S.M. Pada waktu itulah kerajaan Asyur menyerah kepada bangsa Babel (612 S.M).
Pada waktu itulah kerajaan Asyur menyerah kepada bangsa Babel (612 S.M). Setelah
mereka mengalahkan Mesir dalam perang Karkemis (605 S.M), mereka terus menggempur
Palestina. Pada tahun 597 S.M mereka merebut Yerusalem, dan sepuluh tahun kemudian
mereka menghancurkannya. Bangsa Babel menutup satu era dalam sejarah orang Yahudi.
APA YANG HARUS DIBERITAKANNYA?
Beberapa orang berpendapat bahwa kitab yang sekarang kita punyai ini terdiri bermacam-
macam tulisan, namun rupanya hanya ada satu tema. Kembali tema itu mengenai masalah
penderitaan, dilihat baik dalam masyarakat maupun pada skala yang lebih luas dalam
politik internasional. Sementara nabi Habakuk yakin bahwa Allah itu berdaulat, dan bhwa
segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendaknya, ia juga tahu bahwa Allah itu kudus
dan benar. Bagaimana mungkin Allah memakai tangan-tangan orang jahat tanpa mengerti
mengotori tanganNya sendiri? Bagian pertama dari kitab ini merupakan suatu percakapan
yang didalamnya nabi itu mengeluh kepada Allah dan memaksa diberikannya suatu
jawaban, walaupun jalan keluar yang sebenarnya terhadap masalah itu tidak diberikan.
Menghadapi tidak adanya rasa perikemanusiaan manusia terhadap manusia lain, kita hanya
boleh percaya bahwa Allah akan meluruskan yang salah menurut kehendak dan waktuNya.
ZEFANYA
“Tuhan: kuat untuk menghancurkan, kuat untuk menyelamatkan”
PENULIS
Nama Zefanya berarti "Tuhan bersembunyi". Ia adalah satu-satunya nabi yang silsilah
keturunannya dapat ditelusuri empat generasi ke belakang, mungkin untuk menentukan
hubungan kebangsawanannya. Hizkia (Zef 1:1) mungkin harus diidentifikasikan dengan
seorang raja dengan nama yang sama yang memerintah Yehuda dari tahun 715-686 SM.
Dengan demikian Zefanya merupakan seppupu jauh dari raja yang sedang memerintah,
raja Yosia. Gambarannya tentang daerah-daerah khusus di Yerusalem -- Pintu Gerbang Ikan,
Perkampungan Baru, daerah pasar (Zef 1:10-11) menunjukkan bahwa ia tinggal di kota itu.
WAKTU PENULISAN
Zefanya mungkin merupakan nabi yang pertama dari nabi-nabi abad ketujuh yang memulai
pelayanannya sedikit lebih awal daripada Yeremia dan Nahum. Beberapa dari cara ibadah
yang tidak benar yang dicela olehnya dihapuskan waktu terjadi reformasi raja Yosia, yang
dimulai kira-kira tahun 629 SM. Ia mungkin adalah salah satu dari para nabi yang dikenal
bersama-sama dengan Yosia mengadakan gerakan pembaruan (lihat 2Ra 23:2).
KEADAAN
Yosia adalah raja yang paling saleh dari semua raja Yehuda. Ketika ia menjadi raja, Yehuda
sedang menderita akibat dari pemerintahan raja Manasye (686-642 SM), raja paling buruk
yang memerintah kerajaan selatan. Agama negeri itu ialah sinkretistik (yaitu gabungan
antara penyembahan kepada Tuhan dan dewa-dewa lain), dan pada umumnya rakyat tidak
lagi menunjukkan rasa hormat kepada Allah. Yosia berusaha dengan sekuat tenaga untuk
memperbaiki situasi ini, namun rakyat sudah melangkah terlalu jauh menuju jalan
keruntuhan rohani, dan gerakan pembaruannya berhasil memperbaiki tata ibadah agama,
namun bukan perubahan hati. Zefanya melihat bahwa Yehuda pada akhirnya tidak dapat
melepaskan diri dari penghukuman Allah, yang terutama dilihatnya sehubungan dengan
"Hari Tuhan", dan yang juga akan mempengaruhi seluruh dunia.
HAGAI
“Pelajaran untuk para penganut atheis”
NABI ITU
Hagai hanya sedikit sekali muncul dalam Alkitab. Selain dari kitab yang mencatat pesan-
pesannya, hanya Ezra yang menyebut namanya, yaitu dalam Ezr 5:1; 6:14, yang dengan
sekilas menghargai pengaruh baik dari nubuat nabi itu. Namanya mengandung arti bahwa
ia dilahirkan pada hari perayaan keagamaan. Wajar jika ada dugaan bahwa ia seorang
imam, namun kita tidak dapat memastikannya. Yang jelas ialah bahwa hubungannya dengan
Allah dekat sekali. Sukar untuk menentukan pada umur berapa ia mulai berkhotbah.
Pesannya mengenai Rumah Tuhan yang sudah tua (Hag 2:3), yang dihancurkan pada tahun
587 SM, membuat sebagian orang percaya bahwa ia pada waktu itu sudah tua dan ia
teringat tentang Rumah Tuhan itu. Berdasarkan ayat yang sama ada pula yang berpendapat
bahwa mungkin pada waktu itu Hagai adalah seorang pemuda yang pergi ke Yerusalem
untuk pertama kalinya bersama-sama dengan orang-orang lain yang baru kembali dari
pembuangan dalam tahun 538 SM. Ia berkhotbah pada waktu yang hampir bersamaan
dengan Zakharia.
SITUASI
Hagai mencatat tanggal khotbah-khotbah yang dibawakannya antara bulan Agustus dan
November tahun 520 SM. Pada waktu itu Yerusalem merupakan suatu masyarakat kecil
yang miskin dengan penduduk kurang lebih 20.000 jiwa. Mereka telah mengalami masa
panen yang buruk dan sebagian hasil panen mengalami kegagalan. Oleh sebab itu,
sesungguhnya waktu dan tenaga mereka terpakai untuk mempertahankan hidup mereka.
Keadaan di Yerusalem tidak banyak dibantu dengan adanya kekacauan di dunia
internasional. Oleh sebab nya, ketika Hagai mulai menyampaikan khotbahnya, rakyat
sedang berada dalam keadaan tidak bersemangat.
GAYA
Hagai bukanlah tipe seorang nabi yang menggebu-gebu. Walaupun ia berbicara tentang hal-
hal yang besar, ia melakukannya dengan argumentasi yang biasa dan bukan dengan
tuduhan yang berapi-api. Ia lebih sering dianggap sebagai seorang guru daripada seorang
nabi. Ia memimpin para pendengarnya selangkah demi selangkah ke arah yang diingininya,
kemudian ia berhasil memotivasi mereka untuk memberikan tanggapan yang benar.
ZAKHARIA
“Nabi dan imam”
PENULISNYA
Zakharia adalah cucu Ido (Zak 1:1) yang mungkin saja adalah imam yang disebut
dalam Nehemia 12:4 sebagai orang telah menemani Zerubabel dan Yesua dari Babilonia ke
Yerusalem. Jika Ido seorang imam, maka Zakharia adalah seorang imam dan nabi. Hal ini
menjelaskan keprihatinan Zakharia untuk segera membangun kembali Rumah Tuhan (Ezra
6:14).
SITUASI SAAT ITU
Bangsa Yahudi dibawa kepembuangan di Babel dalam tahun 587/6 SM, namun kerajaan
Babel tiba-tiba dikalahkan oleh Koresy, "Mesias Allah" (Yes 45:1). Ia segera mengumumkan
bahwa orang-orang buangan boleh kembali ke Yerusalem, dan mulai dari tahun 538 SM
daan seterusnya terjadi arus kembalinya bangsa Yahudi ke tanah air mereka. namun
pekerjaan membangun kembali Rumah Tuhan berjalan lambat sekali. Dalam tahun kedua
pemerintahan Darius, Zakharia yang pada waktu itu masih muda mulai memberi semangat
kepada mereka untuk mendorong menyelesaikan pekerjaan itu.
CIRI-CIRI NUBUATAN ZAKHARIA
Nubuatan Zakharia dapat dibagi dalam dua bagian (pasal Zak 1-8 dan Zak 9-14). Bagian
pertama terdiri dari tujuh penglihatan yang luar biasa, ditambah dengan suatu
pemandangan di sidang pengadilan tempat Imam Besar Yosua dituduh oleh Setan. Bagian
kedua terutama membahas dua tema, yaitu penghakiman dan penyelamatan: penghakiman
untuk orang yang tidak percaya, namun penyelamatan bagi umat Allah. Nubuatan ini ditutup
dengan pemandangan mengenai hari Tuhan dan seruan nyata untuk hidup dalam kesucian.
Perbedaan gaya penulisan kedua bagian nubuatan ini menurut pengamatan beberapa ahli
disebabkan oleh sebab bagian pertama ditulis pada waktu Zakharia berusia dua puluhan
sedangkan bagian keduaa ditulis bertahun- tahun kemudia. Dan ciri yang luar biasa dari
bagian kedua Zakharia adalah bahwa akibat dari suatu kejadian digambarkan sebelum
kejadian itu terjadi. Sebagai contoh, dalam pasal 9, ayat Zak 9:1-8 menggambarkan
penghakiman terhadap musuh- musuh bangsa Israel, namun kedatangan raja yang akan
menghakimi mereka muncul dalam ayat Zak 9:9-13. Dalam pasal Zak 14 pembangunan
kembali Yerusalem digambarkan sebelum tulah yang ditimpakan kepada bangsa-bangsa
yang memerangi Yerusalem, tulah yang memaksa mereka untuk menghentikan serangan
mereka. Perlu disebutkan juga mengenai "perumpamaan tentang para gembala" (pasal Zak
10,Zak 11) yang mengandung hal-hal yang sesuai atau yang berlawanan dengan tema
Perjanjian Baru tentang Gembala Yang Baik. Di sini, para domba yang jemu terhadap
Gembala Yang Baik membayarnya dengan tiga puluh keping perak (Zak 11:12,13; lihat Yoh
10; Mat 26:14-16; 27:3-10).
MALEAKHI
“Akankah Anda merampok Tuhan?”
SIAPAKAH MALEAKHI?
Maleakhi berarti "utusanku". Mungkin ini addalah nama sebenarnya dari nabi itu, namun
yang lebih mungkin ialah bahwa nama itu semata-mata hanyalah suatu cara untuk
menggambarkan siapa dia. Nabi itu sama sekali tidak dikenal di mana-mana.
KAPAN IA MENULIS?
Nubuatan Maleakhi dibuat pada masa sesudah pembuangan, ketika banyak orang Yahudi
telah kembali ke tanah air mereka. Dia menunjuk kepada seorang "gubernur" dan hal ini
jelas menunjuk kepada masa setelah pembuangan (Mal 1:8). Zerubabellah yang
dimaksudkan (Hagai 1:1). Tidak ada petunjuk mengenai pembangunan kembali Rumah
Tuhan, jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa pembangunan dilaksanakan beberapa tahun
sebelumnya. Situasi yang digambarkan dalam kitab itu terutama menunjuk kepada masa-
masa Ezra dan Nehemia. Waktu itu terjadi kemerosotan rohani, yaitu ketika agama orang
Yahudi telah menjadi formalitas semata. Maleakhi merupakan nabi terakhir. Empat ratus
tahun akan berlalu sebelum kelahiran Kristus, oleh sebab nya maka Maleakhi dapat
dianggap menjembatani Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
MENGAPA IA MENULIS?
Maleakhi merasa jijik melihat kehidupan agama yang dingin dan kesantaian bangsa itu. Ia
datang sebagai seorang pembaharu, berseru kepada rakyat supaya bertobat. Misinya
sangat mirip dengan misi Yohanes Pembaptis. Kitab ini sebagian besar terdiri dari dialog
antara Allah dan umat, yang isinya Allah menyanggah berbagai pernyataan kurang percaya
yang dibuat oleh bangsa Israel. Maleakhi menegaskan hubungan perjanjian yang ada antara
Allah dan bangsa itu dan menyerukan kepada umat Israel untuk memenuhi kewajiban
mereka sesuai dengan perjanjian yang ada. Ia menuduh mereka telah merampok Allah.
Nubuatan Maleakhi menggambarkan akhir dari suatu zaman. 400 tahun sesudah itu disebut
"masa diam". Selama masa itu tidak ada seorang nabi alkitabiah yang berbicara atau
menulis. Bagi banyak orang ciri-ciri yang paling menonjol dari nubuatan Maleakhi ialah
tantangan untuk "menguji Allah". Jika kita melakukannya dan menerima berkat yaang
dijanjikan-Nya, maka harus ada penyerahan total di pihak umat Allah (Mal 3:10).

