9)”61
Fakhr Al-Din Al-Thuraihi (w. 1085 H/1674 M) menyatakan, “Sesungguhnya Alquran dijaga dari
setiap penambahan dan pe-ngurangan, perubahan dan tahrif. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya
yang tidak terjamin keterpeliharaannya, Alquran dihafal orang-orang yang telah mencapai derajat
makrifat dan tidak ditimbang dari selain yang dihafal.”62
Syaikh Ja’far bin Kamal Al-Din bin Muhammad Al-Bahrani Al-Ula (w. 1088 H/1677 M) telah
menulis sebuah kitab bernama Al-Kâmil f î Al-Shinâ’ah yang terdiri dari tiga puluh bab
sempurna. Di antaranya yaitu bab pertama tentang keutama-an Alquran, bab kedua tentang
tiada tahrif , dan bab ketiga tentang kemutawatiran qira’at.63
Al-Faidh Al-Kasyani (w. 1091 H/1680 M) dalam Tafsîr Al-Shâfî, menyatakan, “Kalau seandainya
sebagian ayat Alquran itu muharraf (mengalami perubahan), kita sama sekali tidak akan dapat
bersandar kepadanya, dan Alquran bukan hujjah yang asli, sehingga akan hilanglah manfaat untuk
mengikuti serta berpegang teguh kepadanya……dst, dan banyak riwayat dari Nabi dan para Imam
Ahlul Bait tentang keharusan dikembalikannya hadis kepada Alquran agar dapat diketahui kesahihannya
dengan persetujuan Alquran, dan kepalsuannya dalam pertentangannya dengan Alquran, maka wajib
menolaknya dan menghukumi kebatilannya.”64
Syaikh Muhammad bin Al-Hasan Al-Hurr Al-’Amili (w. 1104 H/1693 M) penulis kitab Wasâil Al-
Syi’ah, menyatakan “Para penulis sejarah, hadis dan atsar mengetahui dengan yakin bahwa Alquran
secara mutawatir diriwayatkan oleh ribuan sahabat dan bahwasannya Alquran telah terartikel kan pada
masa Rasulullah Saw.”65
Syaikh Muhamad Baqir Al-Majlisi (w. 1111 H/1700 M), penulis kitab Bihâr Al-Anwâr, berkata,
“Disebutkan dalam Al-Masail Al-Sarwiyyah bahwa Syaikh Mufid ditanya apakah benar pernyataan
bahwa yang ada di dalam sampul artikel itu yaitu kalam Allah sebenarnya tanpa penambahan dan
pengurangan, sementara anda meriwayatkan dari para Imam as bahwa mereka membaca Kalian
yaitu para Imam terbaik yang dilahirkan untuk manusia begitu pula kami jadikan kalian
para Aimmah wasatha.Bukankah ini bertentangan dengan mushaf yang ada di tangan manusia?
Jawabannya yaitu bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan ini yaitu hadis-hadis ahad dan tidak
bisa disandarkan kebenarannya atas Allah. Oleh sebab itu, kami memilih diam.”66
Syaikh Ja’far bin Khidr Al-Najafi (w. 1228 H/ 1813 M) yang dijuluki Kâsyif Al-Ghithâ’ sebab
artikel nya yang terkenal, Kasyf Al-Ghithâ’ ‘an Mubhamât Al-Syarî’ah Al-Gharrâ’, menyatakan,
“Sudah pasti Alquran terpelihara dari pengurangan dengan hafalan para cendikiawan agama
sebagaimana ditunjukkan oleh penjelasan Al-Furqan, dan kesepakatan ulama sepanjang masa dan tidak
perlu contoh atas ketidaklaziman. Hal-hal yang diriwayatkan tentang pengurangan jelas tertolak oleh
akal.”67
Sayid Muhammad Mujahid bin Abu Al-Ma’ali Al-Thabathaba’i (w. 1242 H/1827 M) menyatakan,
“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seluruh bagian Alquran bersifat mutawatir pada asal dan
bagian-bagiannya. Begitu pula secara urutan tempat menurut peneli-ti Ahlus Sunnah. sebab
Alquran yang penuh mukjizat agung ini yaitu asal agama dan jalan yang lurus. Banyak sekali bukti-
bukti yang menunjukkan periwayatan global dan rinci secara mutawatir. Jika diriwayatkan secara ahad
pastilah ia bukan Alquran.” (Mafatih Al-Ushul)
Muhammad bin Ibrahim Al-Kalbasi (w. 1262 H/1846 M) menyatakan, “Sesungguhnya riwayat yang
menunjukkan adanya tahrif bertentangan dengan kesepakatan umat kecuali bagi orang yang tidak perlu
diperhatikan. Pengurangan Al-Kitab tidak memiliki akar, tidak terkenal dan tidak mutawatir, mengingat
jumlah besar hadis bahkan mayoritas (yang menyatakan kemutawatiran Alquran).”68
Muhammad Jawad Al-Balaghi (w. 1352 H/ 1933 M) menyatakan dalam tafsirnya Âlâ’ Al-Rahmân
fî Tafsîr Al-Qur’ân, “Tidak ada kesepakatan atas kemutawatiran dalam hal yang bersifat sejarah dan
kebenaran abadi seperti kemutawatiran Alquran Al-Karim. Sebagaimana telah dijanjikan Allah dengan
firmannya, Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-
benar menjaganya (QS. Al-Hijr [15]: 9) dan firman-Nya yang lain, Sesungguhnya atas
tanggungan Kami pengumpulannya dan bacaannya. (QS. Al-Qiyâmah [75]: 17). Oleh sebab
itu, jika ada Anda mendengar keanehan dalam suatu riwayat tentang tahrif Alquran dan hilang
sebagiannya, maka ja-ngan perdulikan.”69
Syekh Muhammad Al-Husain Kasyif Al-Githa’ (w. 1373 H/1954 M) dalam kitab Ashl Al-Syî’ah
wa Ushûlihâ menegaskan, “Sesungguhnya kitab yang ada di tangan muslimin yaitu kitab yang telah
Allah turunkan kepada Nabi-Nya sebagai mukjizat, untuk mengajarkan hukum-hukum, membedakan
halal dari yang haram, dan sesungguhnya tidak ada pengurangan di dalamnya, tidak ada tahrif,
tidak ada tambahan. Oleh sebab itu kesepakatan mereka dan orang yang berpendapat dari mereka
atau selainnya dari kelompok muslimin mengenai adanya pengurangan dalam Alquran atau tahrif,
maka dia orang keliru yang nantinya akan berbenturan dengan nas Alquran yang berbunyi, Kami
yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.”70
Syaraf Al-Din Al-Musawi (w. 1377 H/1958 M) menyatakan dalam artikel nya, Al-Fushul Al-
Muhimmah fi Ta’lif Al-Ummah,“ Alquran Al-Karim yang tidak datang kepadanya kebatilan dari depan
maupun dari belakangnya hanyalah yang terdapat dalam dua sampul artikel itu. Yaitu yang ada di
tangan manusia saat ini. Tidak ada penambahan dan pengurangan satu huruf pun. Tidak ada
perubahan kata dan huruf di dalamnya.”71
Syaikh Muhammad Ridha Al-Muzhaffar (w. 1383 H/1963 M) menyatakan dalam ‘Aqâid Al-
Imâmiyyah,“Kami berkeyakinan bahwa Alquran Al-Karim yaitu wahyu ilahi yang turun dari Allah
Swt melalui lisan Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya terdapat penjelas segala sesuatu, yaitu mukjizat
abadi yang membuat takjub manusia dari bahasa, kefasihan dan kandungan hakikat kebenaran dan
puncak pengetahuan. Tidak ada penggantian, perubahan dan tahrif di dalamnya. Ia yaitu yang berada
di tangan kita saat ini, yang kita baca sebagaimana Alquran yang diturunkan atas Nabi. Barang siapa
menuduh selain dari itu, maka ia seorang pandir, penipu atau penyamar. Mereka semua itu tidak
mendapat petunjuk, sebab Alquran yaitu kalam Allah yang Sesungguhnya ia (Alquran) tidak
datang kepadanya kebatilan dari depan maupun dari belakangnya, (QS. Fusshilat [41]: 43).”72
Agha Bozorg Tehrani (w. 1390 H/ 1970 M), penulis ensiklo-pedi kitab-kitab Syiah, Al-Dzarî’ah ilâ
Tashânîf Al-Syî’ah, juga menulis sebuah artikel Al-Naqd Al-Lathîf fî Nafy Al-Tahrîf (Ana-lisis atas
Tahrif).
Sayid Muhammad Hadi Al-Milani (w. 1395 H/1975 M) menyatakan, “Tidak ada tahrif dengan
penambahan atau pengura-ngan dalam Alquran Al-Karim, bahkan dengan perubahan lafaz sekali pun.
Jika ada riwayat yang menjurus kepada bentuk tahrif, maka mestilah bertujuan perubahan makna
menurut beberapa pandangan dan cara takwil yang batil dan bukan perubahan pada lafaz dan kalimat.”
Al-Lankarani (w. 1402 H/1982 M) dalam Kitab Madkhal Tafsîr Abhâts haula I’jâz Al-Qur’ân
menegaskan, “Dalil tidak adanya tahrif dalam Alquran merupakan riwayat mutawatir dari Nabi dan
‘Itrah yang suci…dst.”73
Muhammad Husein Thabathaba’i dalam Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, menjelaskan banyak
argumentasi penolakannya atas isu tahrif Alquran. Di antaranya ia mengatakan, “Secara
mutlak, Alquran terjaga dalam pengawasan Allah dari segala penambahan, pengurangan dan
perubahan dalam hal lafaz dan urutan.” Selanjutnya ia juga menegaskan, “Banyak hadis Nabi dari
banyak jalur periwayatan dari dua kalangan (Sunnah dan Syiah) yang justru menunjukkan tidak
adanya tahrif. Juga hadis perintah untuk merujuk kepada Alquran manakala terjadi fitnah dan sebagai
jalan keluar dari pelbagai masalah. Sebagaimana hadis mutawatir, ‘Se-sungguhnya aku meninggalkan
kepada kalian Al-Tsaqalain, Kitab Allah dan ‘Itrahku Ahlu Baitku, yang jika kalian berpegang atas
keduanya, maka kalian tidak akan tersesat sesudah ku selama-nya.’ Perintah hadis ini tidak akan
bermakna jika berpegang kepada kitab yang mengalami tahrif.”74
Al-Khu’i (w. 1412 H/1992 M) menjelaskan secara panjang lebar bantahannya atas riwayat-riwayat
dalam khazanah Islam tentang adanya tahrif Alquran dalam Kitab Al-Bayân f î Tafsîr Al-Qur’ân
kemudian menyatakan, “Sebagaimana telah kami jelaskan kepada pembaca, sesungguhnya orang-
orang yang meng-anggap adanya tahrif berlawanan dengan akal sehat. Seandainya ia
membenarkannya maka ia tidaklah berakal.”75
Ruhullah Khomeini (w. 1409 H/1989 M) dalam Anwâr Al-Hidâyah menyatakan, “Adanya tahrif
dalam Al-Kitab menurut hadis-hadis tidaklah mungkin dijadikan sandaran sebagaimana ba-nyaknya
petunjuk global dalam hal ini. Terjadinya tahrif sangatlah tidak mungkin sebagaimana disampaikan
oleh para peneliti, ulama muktabar dari dua pihak sebagaimana telah disampaikan oleh Allamah
Al-Balaghi dalam pembukaan Tafsîr Âlâ’ Al-Rahmân.”76
Murtadha Muthahhari (w. 1399 H/1979 M) menyatakan dalam artikel nya, Al-Ta’arruf ‘alâ Al-
Qur’ân Al-Karîm, “Sesungguhnya ayat-ayat Alquran telah mencapai tingkatan yang tidak
mungkin terjadi perubahan, penambahan atau penghapusan satu huruf pun di dalamnya.”77
Muhammad Husein Ali Al-Shaghir (lahir 1940 M), seorang professor studi Alquran dari
Universitas Kufah menjelaskan dengan gamblang bagaimana isu tahrif Alquran terjadi di
kalangan kaum muslimin dan menolaknya dengan berbagai argumentasinya. Bahkan beliau
juga menulis sebuah artikel bantahan atas Theodore Noldeke (w. 1930) dan kaum orientalis
lainnya, yang menganggap Alquran telah berkurang.78
Tuduhan lainnya yang selalu mengemuka terkait keaslian Alquran hingga saat ini, tidak akan
pernah terlepas dari kitab Al-Fashl Al-Khithâb yang disusun oleh salah seorang ulama Syiah yang
bernama Al-Nuri. Akan namun , kitab ini juga telah disanggah dengan keras dan kritik tajam oleh
Al-Khomeini, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam kitabnya berikut ini :
Dalam kitab Anwâr Al-Hidâyah fî Ta’liqah ‘alâ Al-Kifâyah, beliau menyatakan, “Sesungguhnya jika
satu urusan sebagaimana yang telah digambarkan oleh pengarang kitab Fashl Al-Khithâb yang telah
ditulisnya tidak bermanfaat dari sisi keilmuan dan perbuatan. Dia selalu membawakan riwayat-
riwayat yang daif dan aneh, yang tidak diterima oleh akal sehat. Dan satu hal lagi yang mengherankan
dari mereka yang hidup sezaman dengannya (Al-Nuri) mengapa lalai dan lengah akan hal semacam
ini (membiarkan karyanya ini ).”79
Bukan hanya itu, riwayat ini juga telah disanggah oleh salah seorang murid Al-Nuri
sendiri, Syekh Thahrani dalam kitabnya, Al-Dzarî’ah ilâ Tashânif Al-Syî’ah: “Dia menukil dari
gurunya: “Bahwasannya kitab ini (Al-Fashl Al-Khithâb f î Tahrîf Al-Kitâb) maksudnya bukan
tentang tahrif Alquran penambahan dan pengurangan………dst, sepantasnya dinamakan Fashl Al-
Khithâb f î ‘Adami Tahrif Al-Kitâb (tidak adanya tahrif dalam Alquran).”80
Husain Al-Nuri dalam Kitab Mustadrak Al-Wasâil wa Mustanbath Al-Masâil, menyatakan, “Apa yang
telah kami dengar dari lisan guru kami (Al-Nuri) di akhir hidupnya, beliau berkata, ‘Saya keliru dalam
memberi nama kitab ini yang seharusnya saya namakan dengan “Fashl Al-Khitâb bi ‘Adami Tahrif
Al-Kitâb.’”81
Sekali lagi, prinsip Syiah yang telah dikemukakan di atas ialah mengembalikan kesahihan hadis
kepada Alquran. Bukankah Allah Swt sendiri telah berfirman , Sungguh Kami yang telah menurunkan
Alquran dan Kami pula yang akan menjaganya .” (QS. Al-Hijr [15]: 9)
Tahrif di Kalangan Ahlus Sunnah
Namun demikian isu adanya tahrif di dalam Alquran ternyata bukan hanya ada dalam literatur
Syiah. Beberapa kitab utama Ahlus Sunnah juga meriwayatkan hal serupa. Berikut ini nukilan
beberapa hadis dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah yang memuat adanya tahrif dalam Alquran:
Imam Bukhari dalam Kitab Shahîh-nya, meriwayatkan:
ًدا … َيُة الرَّْجِم، َفقَ -صلى هللا عليه وسلم -ِإنَّ هللَا َبَعَث ُمَحمَّ
ا َاْنَزَل هللُا ا َتاَب َفَكاَن ِممَّ ك ِ
ْ
ِ َوَاْنَزَل َعَلْيِه ال
َحق
ْ
َناَها ِبال
ْ
َرْاَناَها َو َعَقل
اِس َزَماٌن َاْن َيُقوَل َقاِئٌل َو هللِا َما –صلى هللا عليه وسلم -َو َوَعْيَناَها، َرَجَم َرُسوُل هللِا َو َرَجْمَنا َبْعَدُه، َفَاْخَشى ِإْن َطاَل ِبالنَّ
وا ِبَتْرِك َفِريَضة
ُّ
َتاِب هللِا، َفَيِضل َيَة الرَّْجِم ِفى ك ِ
َتاِب هللِا َحقٌّ َعَلى َمْن َزَنى ِإَذا ُاْحِصَن ِمَن َنِجُد ا َاْنَزَلَها هللُا، َو الرَّْجُم ِفى ك ِ
ا َنْقَرُا فِ ا ُكنَّ مَّ ِإنَّ
ُ
َحَبُل َاْو ااِلْعِتَراُف، ث
ْ
َنُة َاْو َكاَن ال ِ
َبي
ْ
َساِء، ِإَذا َقاَمِت ال َِجاِل َو الن ِ
َتاِب هللِا:الر يَما َنْقَرُا ِمْن ك ِ
Umar berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad Saw dengan kebenaran dan telah
menurunkan kitab kepadanya, di antaranya Allah telah menurunkan ayat rajam, maka kami membaca,
memahami dan menjaganya, Rasulullah Saw telah merajam dan kami pun merajam sepeninggalnya,
maka aku khawatir dengan berlalunya zaman, bahwa nanti ada yang berkata, ‘Demi Allah kami tidak
mendapatkan ayat rajam dalam Alquran, mereka akan sesat sebab meninggalkan kewajiban yang telah
Allah turunkan.....dst’”
Umar melanjutkan, “kemudian kami telah membaca apa yang biasa kami baca dalam Kitabullah,
ْفًرا ِبُكْم َاْن َباِئُكْم، َاْو ِإنَّ ك ُ
ْفٌر ِبُكْم َاْن َتْرَغُبوا َعْن ا ُه ك ُ َباِئُكْم، َفِإنَّ
َتْرَغُبوا َعْن ا
َ
َباِئُكْم َاْن ال
َتْرَغُبوا َعْن ا
“Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian sebab itu merupakan kekafiran jika kalian membenci
ayah-ayah kalian” atau “Sesungguhnya kekufuran bagi kalian, jika membenci ayah kalian.”82
Jika kita mencoba menelaah riwayat ini , maka akan muncul sebuah pertanyaan, dimanakah
ayat yang disebutkan di atas terdapat dalam Alquran? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa telah
terjadi tahrif dalam Alquran? Bahkan, tuduhan ini dialamatkan kepada Khalifah Kedua, Umar
bin Al-Khatthab.
Imam Muslim dalam Kitab Shahîh-nya, juga meriwayatkan:
نزل حدثنا
نها قالت: كان فيما ا
بي بكر، عن عمرة، عن عائشة، ا
ت على مالك، عن عبد هللا بن ا
يحي ى بن يحي ى قال: قرا
، فتوفي رسول هللا صلى هللا عليه و سلم و هن ْوَمات ُيْحِرْمَن، ثم نسخن بخمس معلومات
ُ
ن: َعْشُر َرَضَعات َمْعل
من القرا
ن.
من القرا
فيما يقرا
Yahya bin Yahya menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, “Aku membaca dengan bacaan Malik,
dari Abdullah bin Abi Bakar, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, dia berkata, ‘Semula persusuan yang
menyebabkan kemahraman yaitu sepuluh kali susuan seperti yang ini di sebagian ayat Alquran,
kemudian dihapus dan diganti menjadi lima kali susuan oleh ayat Alquran ini . Lalu sesudah
Rasulullah Saw wafat, maka ayat Alquran lima kali susuan itulah yang dibaca.,”83
Muhammad bin Yazid bin Majah dalam Kitab Shahîh-nya, yang ditahkik oleh Al-Albani,
meriwayatkan:
ية الرجم و رضاعة الكبير عشرا و لقد كان في صحيفة تحت سريري فلما مات رسول هللا صلى
عن عائشة قالت: لقد نزلت ا
كلها.
هللا عليه وسلم و تشاغلنا بموته دخل داجن فا
لباني :حسن
تحقيق اال
‘Aisyah berkata, “Telah turun ayat rajam dan menyusui orang dewasa 10 kali, lembaran-lembaran
ini ada di bawah tempat tidurku, saat Nabi Saw wafat kami pun disibukkan dengan
kematiannya, maka masuklah kambing dan memakannya.”
Al-Albani berkata, “Hadis hasan.”84
Abi Ya’la Al-Maushili meriwayatkan dalam Kitab Musnad-nya,
ية الرجم و رضاعة الكبير عشرا فلقد كانت في صحيفة
بيه قال:]قالت عائشة[: لما نزلت ا
و عن عبد الرحمن بن القاسم عن ا
كلها.
تحت سريري فلما مات رسول هللا صلى هللا عليه و سلم تشاغلنا بموته فدخل داجن فا
Dari Abd Al-Rahman bin Al-Qasim dari ayahnya, ‘Aisyah berkata, “saat ayat rajam turun
dan menyusui orang dewasa 10 kali, di bawah tempat tidurku ada dalam lembaran yang saat
Rasulullah Saw wafat, kami pun disibukkan dengan kematiannya, maka masuklah kambing dan
memakannya.”85
Jika saat ini kita melihat kepada Alquran, maka kita tidak akan mendapatkan ayat nasikh dan
mansukhnya. Oleh sebab itu, dalam hal ini mereka juga menuduh bahwa istri Nabi Saw telah
meyakini terjadinya pengurangan terhadap Alquran.
Ibnu Hibban dalam Kitab Shahîh-nya meriwayatkan,
خبرنا النضر بن شميل، قال: حدثنا حماد بن -
زدي، قال: حدثنا إسحاق بن إبراهيم، قال: ا
خبرنا عبد هللا بن محمد اال
ا
بي بن كعب قال:
بي النجود، عن زر، عن ا
حزاب توازي سورة البقرة، فكان فيه“سلمة، عن عاصم بن ا
ا كانت سورة اال
.”الشيخ و الشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة
وهام و بقي السند ثقات على الشرط الصحيحين
بي النجود صدوق له ا
قال المحقق: عاصم بن ا
Dari Ubay bin Ka’ab, “Surat Al-Ahzab sama dengan surat Al-Baqarah, maka di dalamnya terdapat
ayat, “Laki-laki dan perempuan (yang sudah menikah) apabila berzina, maka rajamlah
keduanya.’”
Penahkik kitab berkata, “‘Ashim bin Abi Nujum yaitu orang jujur, dan sebagian sanadnya tsiqah
(dapat dipercaya) sesuai syarat sahih.”86
Dhiya’ Al-Din Al-Maqdisi meriwayatkan dalam Kitab Al-Ahâdîts Al-Mukhtârah, yang ditahkik oleh
Abdul Malik bin Abdillah bin Duhaisy;
ية فقال إن
ربع و سبعين ال
و ا
حزاب قلت ثالث ا
ية الرجم فقال كم تعدون سورة اال
بي بن كعب عن ا
لت ا
..عن زر قال سا
ية الرجم )الشيخ
طول، و إن فيها اال
و ا
و الشيخة فارجموهما نكاال من هللا و هللا عزيز حكيم( كانت لتقارب سورة البقرة ا
......
Dari Zur, berkata,“Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang ayat rajam, dia bertanya,
‘Berapakah jumlah ayat surah Al-Ahzâb?’ Aku berkata, ‘Tujuh puluh tiga atau tujuh puluh empat
ayat.’ Maka Ka’ab berkata, ‘Sesungguhnya ia hampir menyamai surat Al-Baqarah atau lebih dari
itu. Dan sungguh di dalamnya terdapat ayat Rajam (… ).’”
Penahkik kitab berkata, “Sanadnya sahih.”87
Jika kita membuka Alquran, maka kita dapati surah Al-Ahzâb berjumlah 73 ayat. Namun dalam
riwayat di atas dijelaskan bahwa surah Al-Ahzâb memiliki ayat hingga mencapai seperti jumlah ayat
dalam surah Al-Baqarah. Itu artinya telah meyakini akan hilangnya beberapa ayat di surah Al-Ahzâb.
Sehingga dalam hal ini, mereka juga telah menuduh sahabat Nabi, yaitu Ubay bin Ka’ab meyakini
bahwa Alquran saat ini telah berkurang dari aslinya yang berkisar dua juz.
Al-Qurthubi dalam Kitab Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân, meriwayatkan,
بي بن كعب:
و روى زر قال: قال لي ا
و كم
بي بن كعب ان كانت لتعدل سورة البقرة ا
ية قال: فوالذي يحلف به ا
حزاب؟ قلت: ثالثا و سبعين ا
تعدون سورة اال
ن تلك الزيادة كانت في صحيفة في
ما ما يحكى ا
ية الرجم: الشيخ و الشيخة إذا زنيا فارجموهما ...و ا
نا منها ا
طول و لقد قرا
ا
ليف ا
كلتها الداجن فمن تا
لمالحدة و الروافضبيت عائشة فا
Zur meriwayatkan, Ubay bin Ka’ab bertanya kepadaku, “Berapakah jumlah ayat surah Al-
Ahzâb?’ Aku menjawab, ‘Tujuh puluh tiga ayat.’ Dia berkata, ‘Demi Dzat yang telah dijadikan
sumpah oleh Ubay bin Ka’ab bahwa ayat surah Al-Ahzâb sebanding dengan surah Al-Baqarah atau
lebih panjang lagi, sungguh kami telah membaca yang di antaranya ada ayat rajam yang berbunyi,
Laki-laki dan perempuan (yang telah menikah) jika berzina, maka rajamlah keduanya
....dst.’”
Kemudian Al-Qurthubi berkata, “Adapun yang telah diceritakan dari tambahan ini bahwa
lembaran itu ada di rumah ‘Aisyah, kemudian dimakan oleh kambing, ini merupakan karangan orang
kafir dan Rafidhah.”88
Jika demikian, mereka yang telah meriwayatkan surah Al-Ahzâb berjumlah sama dengan Al-
Baqarah, maka dalam pandangan Qurthubi mereka yaitu kafir dan Rafidhi seperti Imam Bukhari,
Muslim, dan Ibnu Hibban.
Al-Suyuthi dalam Kitab Al-Durr Al-Mantsûr meriwayatkan,
ن يك
راد ا
ن عثمان بن عفان رضي هللا عنه قال: لما ا
حمر ا
ن يلغوا الواو التي في براءة عن علباء بن ا
رادوا ا
تب المصاحف ا
ضعن سيفي على عاتقي. فالحقوها.
و ال
بي رضي هللا عنه: لتلحقنها ا
}والذين يكنزون الذهب و الفضة{ قال لهم ا
Dari ‘Alba’ bin Ahmar, “Sesungguhnya Utsman bin Affan pada saat ingin menulis mushaf, mereka
hendak untuk menghilangkan huruf “waw” dalam surah Al-Bara’ah (Al-Taubah) yang berbunyi,
َة ِفضَّ
ْ
َهَب َو ال
َّ
ِذْيَن َيْكِنُزْوَن الذ
َّ
﴾٣٤﴿َو ال
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.(QS. Al-Taubah [9]: 34)
Ubay berkata kepada mereka, “Jika kamu tidak meletakkannya (huruf waw), niscaya akan aku
hunus pedangku, maka mereka pun meletakkannya.”89
Kemudian Al-Suyuthi mengutip Imam Bukhari yang meriwayatkan dalam Târîkh-nya,
خرج البخاري في
ية ما وجدتها.و ا
حزاب على النبي ص فنسيت منها سبعين ا
ت سورة اال
تاريخ عن حذيفة قال: قرا
Bukhari telah meriwayatkan dalam Târîkh-nya dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku membaca surah Al-Ahzâb
di hadapan Nabi Saw, kemudian aku lupa tujuh puluh ayat, sekarang aku tidak menemukannya.”90
Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam Kitab Shahîh-nya, meriwayatkan,
َثَنا َعِلىُّ ْبُن ُمْسِهر َعْن َداُوَد َعْن َاِبى َحْرِب ْبِن َاِبى ااَلْسَوِد َعْن اَ
َثِنى ُسَوْيُد ْبُن َسِعيد َحدَّ
ِبيِه َقاَل َبَعَث َاُبو ُموَسى ااَلْشَعِرىُّ َحدَّ
َن َفَقاَل َاْنُتْم ِخَياُر اَ
ُقْرا
ْ
ِماَئِة َرُجل َقْد َقَرُءوا ال
ُ
ث
َ
َبْصَرِة َفَدَخَل َعَلْيِه َثال
ْ
اِء َاْهِل ال وَلنَّ ِإَلى ُقرَّ
ُ
َيط
َ
وُه َوال
ُ
اُؤُهْم َفاْتل َبْصَرِة َوُقرَّ
ْ
ْهِل ال
وُب َمْن
ُ
وُبُكْم َكَما َقَسْت ُقل
ُ
ِة ِبَبَراَءَة َفُاْنِسيُتَها َعَلْيُكُم ااَلَمُد َفَتْقُسَو ُقل دَّ ِ
وِل َو الش
ُّ
ُهَها ِفى الط ِ
ا ُنَشب ا َنْقَرُا ُسوَرًة ُكنَّ ا ُكنَّ َكاَن َقْبَلُكْم َو ِإنَّ
َيْمالُ
َ
ْبَتَغى َواِدًيا َثاِلًثا َوال
َ
َدَم َواِدَياِن ِمْن َمال ال
ُت ِمْنَها َلْو َكاَن اِلْبِن ا
ْ
ى َقْد َحِفظ ِ
ا َنْقَرُا ُسوَرًة َجوْ َغْيَر َان َراُب. َو ُكنَّ التُّ
َّ
َدَم ِإال
َف اْبِن ا
َمُنوا لِ
ِذيَن ا
َّ
َها ال ُت ِمْنَها )َيا َايُّ
ْ
ى َحِفظ ِ
َحاِت َفُاْنِسيُتَها َغْيَر َان ِ
ُمَسب
ْ
ُهَها ِبِإْحَدى ال ِ
ا ُنَشب َتُب َشَهاَدًة ُكنَّ وَن( َفُتك ْ
ُ
َتْفَعل
َ
وَن َما ال
ُ
َم َتُقول
ِقَياَمِة.ِفى َاْعَناقِ
ْ
وَن َعْنَها َيْوَم ال
ُ
ُكْم َفُتْسَال
Dari Abu Harb bin Abul Aswad dari ayahnya, dia berkata,“Abu Musa Al-Asy’ari mengutus
(seseorang) untuk memanggil para ahli membaca Alquran dari penduduk Bashrah. Maka datang-lah tiga
ratus orang yang benar-benar ahli membaca Alquran me- nemuinya.”
Kemudian Abu Musa berkata, ‘Kalian yaitu penduduk Bashrah pilihan dan ahli membaca dari mereka,
maka bacalah Alquran ……dst.’
Abu Musa berkata, ‘Sungguh kami dahulu pernah membaca satu surah dan menyamakan panjang
surah Al-Bara’ah (Al-Taubah), namun aku lupa surah itu, tapi aku ingat sebagian surah ini yaitu:
َراُب “ التُّ
َّ
َدَم ِإال
َيْماُل َجْوَف اْبِن ا
َ
ْبَتَغى َواِدًيا َثاِلًثا َوال
َ
َدَم َواِدَياِن ِمْن َمال ال
”َلْو َكاَن اِلْبِن ا
Kalaulah anak adam memiliki dua lembah harta, pasti dia akan mengharapkan lembah yang ketiga, dan
tidak ada yang bisa memenuhi perut anak adam kecuali tanah (kematian).
Dan kami juga dahulu membaca satu surah yang kami menyamakannya dengan salah satu (surah)
mutasyabihat lalu aku lupa. Hanya yang aku hafal sebagian darinya,
وَن عَ
ُ
َتُب َشَهاَدًة ِفى َاْعَناِقُكْم َفُتْسَال وَن( َفُتك ْ
ُ
َتْفَعل
َ
وَن َما ال
ُ
َمُنوا ِلَم َتُقول
ِذيَن ا
َّ
َها ال ِقَياَمِة )َيا َايُّ
ْ
ْنَها َيْوَم ال
[Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian berkata apa-apa yang tidak kalian
kerjakan (QS. Al-Shaff [61]: 2)] sungguh akan ditulis kesaksian pada jiwa-jiwa kalian dan kalian
akan ditanya (tentang hal itu) di hari kiamat.”91
Adakah tambahan ayat demikian dalam Alquran surah Al-Shaff? Bukankah merupakan sebuah
persepsi yang membahayakan jika kita menuduh bahwa para kerabat Nabi Saw seperti, Khalifah
Kedua, istri Nabi, dan Ubay bin Ka’ab meyakini adanya tahrif Alquran? Bahkan Khalifah Ketiga juga
ingin menghilangkan huruf “waw” dalam surah Al-Bara’ah, sehingga jika dikatakan bahwa orang
yang meyakini ada-nya tahrif dalam Alquran yaitu kafir, maka secara tidak langsung juga telah
mendakwa istri dan sahabat Nabi Saw.
Pandangan Ulama Ahlus Sunnah tentang Tahrif
Pada komentar sebelumnya, telah kami tegaskan bahwa mazhab Ahlul Bait tidak meyakini
adanya tahrif dalam Alquran. Bahkan, hal ini juga dipertegas oleh ulama Ahlus Sunnah yang
mengatakan bahwa tidak ada pernyataan dari ulama Ahlul Bait tentang adanya tahrif dalam Alquran.
Di antara para ulama Ahlus Sunnah yang berbicara jujur terhadap mazhab Ahlul Bait yaitu :
1. Muhammad Al-Ghazali menyatakan dalam kitabnya, Al-Difâ’ ‘an Al-’Aqîdah wa Al-
Syarî’ah dhidda Mathâin Al-Mustasyriqîn, “Saya mendengar seseorang berkata dalam suatu
majelis bahwa Syiah memiliki Alquran lain yang terdapat penambahan dan pengurangan dari
Alquran yang ada saat ini. Isu semacam ini yang telah dilemparkan ke tengah-tengah warga ,
agar mereka berburuk sangka kepada saudara dan juga kepada kitabnya. Se-sungguhnya mushaf
ini sama yang dicetak di Kairo disucikan oleh orang Syiah di Najaf atau di Teheran, dan
lembarannya berada di tangan dan rumah mereka. Kepercayaan semacam ini yaitu permainan
yang dapat mempermalukan yang terjadi di antara umat Islam dari Sunnah dan Syiah. Jika ada
seseorang yang bersamaku beriman kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw, mengerjakan
salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan haji, bagaimana dihalalkan
pengafirannya, hanya sebab kesalahan dalam pemahaman hukum.
Saya menyayangkan sebagian orang yang menebarkan tuduhan tanpa
mempertimbangkan akibat-akibatnya……mereka memberikan citra buruk kepada Islam dan
umatnya dengan keburukan yang nyata.”92
2. Rasul Ja’fariyan dalam Kitab Ukdzûbah Tahrîf Al-Qur’ân baina Al-Syî’ah wa Al-Sunnah,
menyatakan:
Muhammad Imarah berkata, “Orang-orang munafik tidak pernah meninggalkan pintu
dari semua pintu penghinaan dalam Alquran yang mulia, dan berbohong atasnya. Di antara pintu
ini hal-hal yang datang di dalam sebagian kitab Akhba-riyyun…….dari Syiah, dari riwayat
yang berkata bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki mushaf yang lebih besar dari mushaf yang ada di
tangan muslimin, dan mereka memfokuskan atas salah seorang mukmin Syiah (dari kelompok
Akhbariyyun) yaitu Mirza Husain Al-Nuri yang telah menyusun kitab dengan judul ‘Fashl Al-
Khithâb fî Tahrîf Kitâb Rabb Al-Arbâb’. Akan namun kelompok munafik ini tidak menyebutkan
bahwa saudara-saudara kita- dari ulama Syiah Imamiyah- telah menggugurkan, mengkritik, dan
mendustakan semua tulisan dan riwayat yang terdapat dalam peninggalan Akhbariyyun dari
ulama mereka.”93
3. Rahmatullah bin Khalilirrahman Al-Hindi dalam kitab Izhâr Al-Haqq, jilid 2, menyatakan:
“Sesungguhnya Alquran yang mulia di hadapan mayoritas Syiah Dua Belas Imam, terjaga dari
perubahan, penambahan dan pe-ngurangan, dan barang siapa di antara mereka berkata telah
terjadi kekurangan di dalamnya maka pernyataannya ini tertolak di hadapan mereka.”
“Sangat jelas bahwa mazhab yang dibenarkan di hadapan ulama Syiah Dua Belas Imam, bahwa
sesungguhnya Alquran yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, yaitu yang terdapat
di tangan manusia, telah terkumpul dan tersusun di zaman Rasulullah Saw, yang telah dijaganya
dan ribuan sahabat pun telah menyalinnya.”94
Syiah dan Hadis
Biasa dituduhkan bahwa Syiah mempercayai hadis-hadis yang berbeda dengan yang dipercayai
Ahlus Sunnah. Hal ini sesungguhnya terbantah oleh sedikitnya tiga alasan sebagai berikut:
Pertama, meski diriwayatkan dengan rantai periwayatan yang berbeda, banyak sekali hadis Syiah
yang memiliki kesamaan kandungan dengan hadis-hadis yang beredar di kalangan Ahlus Sunnah. Hal
ini mudah dilihat bagi orang-orang yang terbiasa membaca artikel -artikel Syiah dan Ahlus Sunnah
sekaligus.
Kedua, tak jarang penulis Syiah menggunakan hadis-hadis yang beredar di kalangan Ahlus
Sunnah. Contoh yang menonjol dalam hal ini yaitu 20 jilid artikel Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân karya
Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i, atau pun berbagai karya Ayatullah Murtadha
Muthahhari yang terjemahannya banyak beredar di Indonesia.
Ketiga, amat banyak rijâl hadis di kalangan Syiah yang riwayatnya diterima di berbagai kitab sahih
di kalangan Ahlus Sunnah. Di bawah ini yaitu daftar sebagian di antaranya:
1. Aban ibn Taghlib
2. Ibrahim ibn Yazid ibn ‘Umar ibn Al-Aswad Al-Nakh‘i Al-Kufi
3. Ahmad ibn Al-Mufdil ibn Al-Kufi Al-Hafri
4. Isma’il ibn Abban Al-Azdi Al-Kufi Al-Warraq
5. Isma’il ibn Khalifah Al-Mulai Al-Kufi
6. Isma’il ibn Zakaria Al-Asadi Al-Khalqani Al-Kufi
7. Isma’il ibn ‘Abbad ibn Al-Abbas Al-Taleqani
8. Isma’il ibn ‘Abdul-Rahman ibn Abu Karimah Al-Kufi
9. Isma’il ibn Musa Al-Fazari Al-Kufi
10. Talid ibn Sulayman Al-Kufi, Al-A‘raj
11. Thabit ibn Dinar (Abu Hamzah Al-Thumali)
12. Thuwayr ibn Abu Fakhita (Abu Jahm Al-Kufi)
13. Jabir ibn Yazid ibn Al-Harith Al-Ju‘fi Al-Kufi
14. Jarir ibn ‘Abdul-Hamid Al-Dabi Al-Kufi
15. Ja‘far ibn Ziyad Al-Ahmar Al-Kufi
16. Ja‘far ibn Sulayman Al-Dab‘i Al-Basri (AbuSulayman)
17. Jami‘ ibn ‘Umayrah ibn Tha‘labah Al-Kufi Al-Taymi (Taymullah)
18. Al-Harith ibn Hasirah Abul Nu‘man Al-Azdi Al-Kufi
19. Al-Harith ibn ‘Abdullah Al-Hamadani
20. Habib ibn Abu Thabit Al-Asadi Al-Kahili Al-Kufi
21. Al-Hasan ibn Hayy
22. Al-Hakam ibn ‘Utaybah Al-Kufi
23. Hammad ibn ‘Isa Al-Jahni
24. Hamran ibn ‘Ayinah
25. Khalid ibn Mukhlid Al-Qatwani
26. Dawud ibn Abu ‘Awf (Abul-Hijab)
27. Zubayd ibn al-Harith ibn ‘Abdul-Karim Al-Yami Al-Kufi
28. Zaid bin Al-Habab, Abul-Hasan Al-Kufi Al-Tamimi
29. Salim ibn Abul Ja‘d Al-Asyja‘i Al-Kufi
30. Salim ibn Abu Hafsah Al-‘Ijli Al-Kufi
31. Sa‘d ibn Tarif Al-Iskafi Al-Hanzali Al-Kufi
32. Sa‘id ibn Ashwa’
33. Sa‘id ibn Khaytham Al-Hilali
34. Salamah ibn Al-Fudayl Al-Abrash
35. Salamah ibn Kahil ibn Hasin ibn Kadih ibn Asad Al-Hadrami, Abu Yahya
36. Sulayman ibn Sa‘id Al-Khuza‘i Al-Kufi
37. Sulayman ibn Tarkhan Al-Taymi Al-Basri
38. Sulayman ibn Qarm ibn Ma‘ath
39. Sulayman ibn Mahran Al-Kahili Al-Kufi Al-Asla’
40. Sharik ibn ‘Abdullah ibn Sinan Al-Nakh‘i Al-Kufi
41. Shu‘bah ibn Al-Hajjaj Abul-Ward Al-‘Atki Al-Wasiti (Abu Bastam)
42. Sa‘sa‘ah ibn Sawhan ibn Hajar ibn Al-Harith Al‘Abdi
43. Thawus ibn Kisan Al-Khawlani Al-Hamadani Al-Yamani
44. Zalim ibn ‘Amr ibn Sufyan, Abul-Aswad Al-Du’ali
45. ‘Amr ibn Wa’ilah ibn ‘Abdullah ibn ‘Umer Al-Laithi Al-Makki
46. ‘Abbad ibn Ya‘qub Al-Asadi Al-Ruwajni Al-Kufi
47. ‘Abdullah ibn Dawud
48. ‘Abdullah ibn Shaddad ibn Al-Had
49. ‘Abdullah ibn ‘Umer ibn Muhammad ibn Abanibn Salih ibn ‘Umayr Al-Qarashi Al-Kufi
50. ‘Abdullah ibn Lahi‘ah ibn ‘Uqbah Al-Hadrami
51. ‘Abdullah ibn Maymun Al-Qaddah Al-Makki
52. ‘Abdul-Rahman ibn Salih Al-Azdi
53. ‘Abdul-Razzaq ibn Humam ibn Nafi‘ Al-Himyari Al-San‘ani
54. ‘Abdul-Malik ibn ‘Ayan
55. ‘Ubaydullah ibn Musa Al-‘Abasi Al-Kufi
56. ‘Utsman ibn ‘Umayr ‘Abdul-Yaqzan Al-Thaqafi Al-Kufi Al-Bijli
57. ‘Adi ibn Thabit Al-Kufi
58. ‘Atiyyah ibn Sa‘d ibn Janadah Al-‘Awfi
59. Al‘ala’ ibn Salih Al-Taymi Al-Kufi
60. ‘Alqamah ibn Qays ibn ‘Abdullah Al-Nakh‘i, Abu Shibil
61. ‘Ali ibn Badimah
62. ‘Ali ibn Al-Ja‘d
63. ‘Ali ibn Zaid
64. ‘Ali ibn Salih
65. ‘Ali ibn Ghurab Abu Yahya Al-Fazari Al-Kufi
66. ‘Ali ibn Qadim Abul-Hasan Al-Khuza‘i Al-Kufi
67. ‘Ali ibn Al-Munthir Al-Tara’ifi
68. ‘Ali ibn Al-Hashim ibn Al-Barid Abul-Hasan Al-KufiAl-Khazzaz Al-‘Aithi
69. ‘Ammar ibn Zurayq Al-Kufi
70. ‘Ammar ibn Mu‘awiyah atau Ibn Abu Mu‘awiyah
71. ‘Amr ibn ‘Abdullah Abu Issaq Al-Subai‘i Al-Hamadani Al-Kufi
72. ‘Awf ibn Abu Jamila Al-Basri, Abu Sahl
73. Al-Fadl ibn Dakin
74. Fadil ibn Marzuq Al-Aghar Al-Ruwasi Al-Kufi, Abu ‘Abdul-Rahman
75. Fitr ibn Khalifah Al-Hannat Al-Kufi
76. Malik ibn Isma‘il ibn Ziyad ibn Dirham Abu Hasan Al-Kufi Al-Hindi
77. Muhammad ibn Khazim
78. Muhammad ibn ‘Abdullah Al-Dabi Al-Tahani Al-Nisaburi, Abu ‘Abdullah Al-Hakim
79. Muhammad ibn ‘Ubaydullah ibn Abu Rafi‘ Al-Madani
80. Muhammad ibn Fudayl ibn Ghazwan Abu ‘Abdul-Rahman Al-Kufi
81. Muhammad ibn Muslim ibn Al-Ta‘ifi
82. Muhammad ibn Musa ibn ‘Abdullah Al-QatariAl-Madani
83. Mu‘awiyah ibn ‘Ammar Al-Dihni Al-Bajli Al-Kufi
84. Ma‘ruf ibn Kharbuth Al-Karkhi
85. Mansur ibn Al-Mu‘tamir ibn ‘Abdullah ibn Rabi‘ahAl-Salami Al-Kufi
86. Al-Minhal ibn ‘Amr Al-Kufi
87. Musa ibn Qays Al-Hadrami, Abu Muhammad
88. Nafi‘ ibn Al-Harith Abu Dawud Al-Nakh‘i Al-Kufi Al-Hamadani Al-Subay‘i
89. Nuh ibn Qays ibn Rabah Al-Hadani
90. Harun ibn Sa‘d Al-‘Ijli Al-Kufi
91. Hashim ibn Al-Barid ibn Zaid Abu ‘Ali Al-Kufi
92. Hubayrah ibn Maryam Al-Himyari
93. Hisham ibn Ziyad Abul Miqdam Al-Basri
94. Hisham ibn ‘Ammar ibn Nasr ibn Maysarah, Abu Al-Walid
95. Hashim ibn Bashir ibn Al-Qasim ibn Dinar Al-Wasiti, Abu Mu‘awiyah
96. Waki‘ ibn Al-Jarrah ibn Malih ibn ‘Adi
97. Yahya ibn Al-Jazzar Al-‘Arni Al-Kufi
98. Yahya ibn Sa‘id Al-Qattan
99. Yazid ibn Ziyad Al-Kufi, Abu ‘Abdullah
100. Abu ‘Abdullah Al-Jadali
Lebih jauh tentang perawi Syiah yang ada dalam kitab-kitab Islam akan dijelaskan pada bagian
berikutnya.
Perawi Rafidhah Tertolak
Syiah moderat (yang tidak beraqidah Rafidhah) riwayatnya dapat diterima oleh para ulama hadis, tapi tidak
demikian halnya jika seorang perawi hadis tergolong Syi’ah Rafidhah yang menolak, mencaci dan mengafirkan
Abu Bakar dan Umar serta mendakwahkan ajaran itu, pasti ditolak riwa-yatnya.95
Tanggapan:
Pernyataan bahwa hanya Syiah moderat saja (tidak beraqidah Rafidhah) yang riwayatnya dapat
diterima oleh para ulama hadis, sama sekali tidak tebukti. Justru dalam banyak kasus, beberapa
perawi Syiah yang dituduh sebagai Rafidhah muncul dan diterima keunggulannya sebagai perawi
hadis yang terpercaya. Klarifikasi tentang Rafidhah akan dibahas pada tema khusus berjudul, “Syiah
dan Rafidhah”. sedang pada tema “Syiah dan Hadis” sebelumnya dalam artikel ini, telah disebutkan
seratus orang perawi Syiah yang tercantum dalam sanad-sanad Ahlus Sunnah. Untuk menguatkan
argumentasi ini, maka berikut penjelasan tentang beberapa perawi ini :
Perawi Rafidhah dalam Tafsir Thabari
Sebelum membincangkan nama-nama ini (yang dituduh sebagai Rafidhah), sebaiknya
disampaikan pujian Ibnu Taimiyah atas Tafsîr Al-Thabari,
ا َفاِسيرُ “َو َامَّ َها ” التَّ اِس َفَاَصحُّ ِتي ِفي َاْيِدي النَّ
َّ
ِد ْبِن َجِرير الطبري“ال
اِبَتِة ” َتْفِسيُر ُمَحمَّ ََساِنيِد الثَّ
ْ
َلِف ِباال ِت السَّ
َ
ُكُر َمَقاال
ْ
ُه َيذ َفِإنَّ
َو َلْيَس ِفيِه ِبْدَعةٌ
“Adapun kitab tafsir paling sahih yang ada di hadapan manusia yaitu Tafsir Muhammad bin Jarir
Al-Thabari, sebab dia menyebutkan pernyataan-pernyataan salaf dengan sanad-sanad yang kuat dan
di dalamnya tidak terdapat bidah.”96
Siapa saja di antara para perawi yang terdapat dalam Tafsîr Al-Thabari? Ibnu Jarir Al-Thabari
dalam kitab Tafsir-nya, tentang QS. Al-Baqarah [2]: 282 menyebutkan riwayat dari Athiyyah Al-’Aufi.97
Tidak hanya itu, terdapat banyak ayat lain yang Al-Thabari telah mengambil riwayat dari jalur
Athiyyah. Bagaimanakah sosok Athiyyah Al-’Aufi dalam kitab yang disusun oleh Ibnu Al-Jauzi?
Hadis riwayat dari Abdul Wahhab Al-Anmathi, dari Muhammad bin Al-Muzhaffar, dari Ahmad bin
Muhammad Al-’Atiqi, dari Yusuf bin Al-Dakhil, dari Abu Ja’far Al-’Aqili, dari Ahmad bin Yahya Al-Halawani,
dari Abdullah bin Dahir, dari Abdullah bin Abdul Quddus, dari Al-A’masy, dari Athiyyah, dari Abi Said
berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Sungguh telah aku tinggalkan untuk kalian tsaqalain, yaitu Kitabullah dan
Itrahku...dst.’”
Ibnu Al-Jauzi berkata, “Hadis ini tidak sahih. Athiyyah telah di- daifkan Ahmad, Yahya dan selainnya.
sedang Ibnu Abdil Quddus, Yahya berkata, ‘Dia tidak bernilai sedikit pun, dia seorang Rafidhah yang
buruk.’ sedang Abdullah bin Dahir, Ahmad dan Yahya berkata, ‘Dia tidak bernilai sedikit pun, dan
manusia tidak ada yang mencatat kebaikan dari pribadinya.’”98
Jika Ibnu Al-Jauzi menyatakan bahwa Ahmad dan Yahya mendaifkannya, maka Ibnu Taimiyah
dalam artikel nya, Iqtidhâ’ Al-Shirât Al-Mustaqîm mengutip bahwa Yahya bin Mu’in menilai ‘Athiyyah
bin Sa’ad Al-’Aufi seorang yang saleh.99
Sementara itu, Ibnu Sa’ad dalam Kitâb Al-Thabaqât Al-Kubrâ meriwayatkan bahwa ‘Athiyyah bin
Sa’ad bin Junâdah Al-’Aufi diberinama oleh Ali bin Abi Thalib saat beliau di Kufah. Pada masanya,
Athiyyah bin Sa’ad Al-’Aufi pernah dicambuk oleh Al-Hajjaj seba-nyak empat ratus kali, dan dicukur
kepala dan janggutnya sebab tidak mau melaknat Ali bin Abi Thalib ra. Dia seorang yang tsiqah
insya Allah dan mempunyai banyak hadis yang benar, namun sebagian orang tidak meriwayatkan
darinya.100
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menuliskan, “Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah
Al-’Aufi, Al-Jadali, Al-Kufi, Abu Al-Hasan. Dia seorang yang jujur, namun banyak lupa. Dia seorang
Syi’i yang berlebihan.”101
Seperti yang telah kita lihat di atas, bahwa Imam Thabari telah mengambil riwayat dari seorang
“Rafidhi”. Sehingga pertanyaan yang muncul selanjutnya yaitu , apakah mereka (pengikut Ibnu
Taimiyah) juga akan menolak tafsir yang disusun oleh seorang mufasir ternama yang dipuji oleh Ibnu
Taimiyah ini?
Perawi Rafidhah dalam Musnad Ahmad bin Hanbal
Selanjutnya, Ibnu Taimiyah memuji kedudukan dan keutamaan kitab Musnad Al-Imam Ahmad bin
Hanbal:
ْث َو كَاَن َاْحَمد َرِحمه هللا َعَلى مَا َتُدلُّ َعَلْيِه َطِرْيَقُتُه ِفي الُمْسَنِد ِإَذا َرَاى َانَّ الَحِدْيَث َمْوُضْوٌع ِ
َاْو َقِرْيٌب ِمَن الَمْوُضْوِع َلْم ُيَحد
ِبِه
Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya metode Ahmad dalam (menyusun) kitab Musnad, jika ia
melihat hadis palsu atau mendekati kategori “palsu”, maka dia tidak meriwayatkannya.”102
Di dalam kitab ini , Ibnu Taimiyah secara gamblang telah menjelaskan bahwa semua riwayat
yang terdapat dalam Kitab Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal tidak ada satu pun yang maudhu’
(riwayat palsu) atau pun daif (riwayat lemah). Sekarang mari kita lihat salah satu perawi yang
terdapat dalam kitab Musnad Ahmad ini , sebagaimana telah diakui kesahihannya oleh Ibnu
Taimiyah.
Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sejumlah tujuh puluh tiga (73) hadis dalam Musnad-nya yang
berasal dari ‘Athiyyah bin Sa’ad Al-’Aufi, yaitu pada hadis nomor 3008, 4998, 5227, 5521, 5634...19346.103
Hal ini , jelas merupakan sebuah bukti yang tak terbantahkan, yang Ahmad bin Hanbal telah
menjadikan riwayat dari Athiyyah sebagai hujjah. Dan bukan hanya itu saja, bahkan tercatat lebih
dari 73 riwayat dalam kitab Ahmad bin Hanbal yang di dalamnya telah dinukil dari Athiyyah.
Hal itu juga telah diakui oleh Al-Albani yang menulis dalam kitabnya:
Hanbal bin Ishaq berkata, “Pamanku (Ahmad bin Hanbal) mengum-pulkan kami yaitu; aku, Shaleh dan
Abdullah, beliau membacakan kitab Musnad kepada kami dan tidak ada (orang lain) yang mendengarnya kecuali
kami, dia berkata, ‘Sesungguhnya kitab ini (Musnad) telah aku kumpulkan dan telah aku pilah-pilah lebih dari
750.000 hadis, apabila muslimin berselisih (pendapat) tentang hadis Rasulullah Saw, maka kembalikanlah
kepadanya (Musnad) kalau hadis ini terdapat di dalamnya (berarti hujjah) dan apabila tidak ada maka
bukan hujjah.’”
Al-Albani berkata, “Al-Hafidz Al-Madini mengutipnya dalam Khashâish (h. 21), Ibnu Al-Jauzi dalam
Manâqib Imam Ahmad (h. 191) melalui dua jalur dari Hanbal dan hal itu kuat serta sahih. Oleh sebab itu, Al-
Dzahabi memastikan dalam Siyâr A’lâm Al-Nubalâ’, (bahwa imam Ahmad berkata), ‘Jagalah Musnad ini sebab
nantinya akan menjadi pedoman bagi manusia.’”104
Oleh sebab itu, sebagaimana pernyataan Imam Ahmad ini , maka kita dapat
menyimpulkan bahwa semua riwayat yang terdapat dalam Musnad Ahmad merupakan sebuah
hujjah yang kuat dan sahih. Namun seperti yang sudah kita ketahui bahwa di antara para perawi
yang terdapat di dalam kitab Musnad ini yaitu seorang ‘Athiyyah Al-’Aufi yang dikenal
sebagai Syiah Rafidhah.
Sekarang mari kita beralih kepada perawi lain yang dituduh sebagai Rafidhi, yaitu Fitr bin
Khalifah, sebagaimana yang telah di-nyatakan oleh Yahya bin Said dalam kitab:
“Fitr bin Khalifah yaitu seorang syekh yang alim, ahli hadis, jujur,… maula ‘Amr bin Harits”
Ahmad bin Hanbal telah mentsiqahkannya, dan suatu kali berkata, “Menurut Yahya bin Sa’id, Fitr
seorang yang tsiqah hanya saja seorang ‘Khasyabi’ (Rafidhah) yang berlebihan.” Ahmad Al-’Ijli berkata, “Fitr
seorang yang tsiqah, hadisnya hasan, Syiah.” Ibnu Sa’ad juga menganggap Fitr seorang yang tsiqah.
NamunAbu Bakar bin Ayasy berkata, “Tidaklah aku tinggalkan riwayat dari Fitr melainkan sebab
keburukan mazhabnya.” Abdullah bin Ahmad berkata, “Aku pernah bertanya pada ayahku tentang Fitr,
maka dia berkata, “Tsiqah, hadisnya baik, kata-katanya seorang yang cerdas hanya sa ja dia seorang Syiah.”105
Salah satu contoh riwayat dalam kitab yang telah diakui kesahihannya oleh Ibnu Taimiyah, yaitu
Musnad Ahmad yang dalam kitabnya terdapat seseorang yang bernama Fitr bin Khalifah.
sesudah menukil riwayat yang di dalamnya terdapat Fitr, kemudian penahkik kitab, Arnaut
berkata, “Sanadnya sahih, perawi-perawinya terpercaya, termasuk di antara perawi Bukhari Muslim, selain
Fitr –yaitu Ibnu Khalifah- dia termasuk perawi kitab-kitab Sunan.”106
Perawi Rafidhah dalam Shahîh Bukhari dan Muslim
1. Abbad bin Ya’qub Al-Asadi
Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahîh-nya,
خبرنا عباد بن العوام، عن الشيباني، عن الوليد
سدي ا
حدثني سليمان، حدثنا شعبة، عن الوليد، و حدثني عباد بن يعقوب اال
بي عمرو الشيباني، عن ابن مسعود رضي هللا
فضل؟ بن العيزار، عن ا
عمال ا
ي اال
ل النبي صلى هللا عليه و سلم ا
ن رجال سا
عنه: ا
قال )الصالة لوقتها و بر الوالدين ثم الجهاد في سبيل هللا(
“Telah menyampaikan kepadaku Sulaiman dari Syu’bah dari Al-Walid, dan telah menyampaikan
kepadaku Abbad bin Ya’qub Al-Asadi dari Abbad bin ‘Awam dari Syaibani dari Al-Walid bin Aizari
dari Abu Amar Al-Syaibani dari Ibnu Mas’ud…….(kemudian menyebutkan lafadz
hadisnya).”107
Siapakah pribadi Abbad Bin Ya’qub Al-Asadidalam pandangan ulama hadis?
بو سعيد، الكوفي: يروي عن
شريك عباد بن يعقوب الرواجني، ا
قال ابن حبان: كان رافضيا، داعيا يروي المناكير عن المشاهير فاستحق الترك.
هل البيت، و ما له غيرهم. و قال الدارقطني ليس بضعيف, قال
نكرت عليه في فضائل ا
حاديث ا
و قال ابن عدي: روى ا
خرج عنه البخاري
المصنف قلت: قد ا
Abbad bin Ya’qub Al-Asadi. Ia meriwayatkan hadis dari Syarik. Ibnu Hibban berkata, “Dia
seorang Rafidhi, yang meriwayatkan (hadis) munkar dari pada yang masyhur, maka (dia) pantas
diabaikan.”
Ibnu ‘Adi berkata, “Ia meriwayatkan hadis-hadis munkar tentang keutamaan Ahlul Bait, dan tidak
memiliki hadis selain itu.
Al-Daruqutni berkata, “Tidak termasuk daif.”
Ibnu Jauzi berkata, “Bukhari telah meriwayatkan (hadis) darinya.”108
Al-Dzahabi berkata, “Abbad bin Ya’qub Al-Asadi Al-Rawajini Al-Kufi seorang dari kelompok Syiah
yang ghulat, dan salah seorang pemimpin bidah namun dia jujur dalam hadis. Beliau meriwaytkan hadis
dari Syarik, Walid bin Abu Tsaur, dan Khalq. Salah satu hadisnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dalam Shahîh-nya bersama hadis lainnya. Al-Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Abu
Dawud juga meriwayatkan hadis darinya.”109
Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,“Abbad bin Ya’qub Al-Rawajini ….jujur, seorang Rafidhi, yang
hadisnya terdapat dalam Bukhari.”110
2. Adi bin Tsabit Al-Anshari Al-Kufi
Al-Dzahabi Berkata, “Al-Daruqutni yaitu seorang Imam, hafiz, Syaikh Islam, simbol ahli dalam
menemukan baik dan buruk sesuatu (‘Alam Al-Jahabidzah), Abul Hasan, Ali bin Umar… Sesungguhnya dia
memiliki ilmu yang sangat dalam, dan dari Imam dunia, dia yaitu puncak hafalan dan pengetahuan tentang
kecacatan hadis sekaligus perawinya.”111
Dari pernyataan Al-Dzahabi di atas cukup jelas bahwa pengetahuan Daruqutni di dalam ilmu
hadis, sangatlah mendalam. Oleh sebab itu penilaian dari seorang Daruqutni terhadap sosok perawi,
sangatlah meyakinkan dan dapat dijadikan sandaran. Sekarang mari kita simak pendapat Daruqutni
tentang pribadi Adi bin Tsabit Al-Anshari, berikut ini:
ن
حمد و النسائي و العجلي و الدارقطني إال ا
نصاري الكوفي التابعي المشهور وثقه ا
ه قال كان يغلو في عدي بن ثابت اال
التشيع
Ibnu Hajar berkata, ”Adi bin Tsabit Al-Anshari Al-Kufi seorang tabi’in yang terkenal, Ahmad, Al-
Nasa’i, Al-Ajuli, dan Daruqutni telah mempercayainya, namun Daruqutni berkata bahwa dia (Adi bin
Tsabit) berlebihan dalam kesyiahannya .”112
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahîh-nya,
َثَنا ُشْعَبُة َقاَل َاْخَبَرِنى َعِديُّ ْبُن َثاِبت َقاَل َسِمْعُت َعْبَد هللا اُج ْبُن ِمْنَهال َقاَل َحدَّ
َثَنا َحجَّ ْبَن َيِزيَد َعْن َاِبى َمْسُعود َعِن َحدَّ
ِبى ِ
”ُبَها َفُهَو َلُه َصَدَقٌة.ِإَذا َاْنَفَق الرَُّجُل َعَلى َاْهِلِه َيْحَتِس ”َقاَل -صلى هللا عليه وسلم -النَّ
Telah menyampaikan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menyampaikan kepada kami
Syu’bah, telah menyampaikan kepada saya Adi bin Tsabit, ia berkata, “Saya mendengar
Abdullah bin Yazid dari Abu Mas’ud dari Nabi Saw bersabda,…………. (kemudian
menyebutkan lafadz hadisnya).”113
Kemudian pada kitab yang sama, kitab Al-Âdzân, hadis 769:
َبَراَء رضى هللا
ْ
، َسِمَع ال َثَنا َعِديُّ ْبُن َثاِبت َثَنا ِمْسَعٌر، َقاَل َحدَّ ى، َقاَل َحدَّ ُد ْبُن َيْحي َ
َّ
َثَنا َخال صلى -ِبىَّ عنه َقاَل َسِمْعُت النَّ َحدَّ
ِعَشاِء ، َوَما َسِمْعُت َاَحًدا َاْحَسَن َصْوًتا ِمْنُه َاْو ِقَراَءةً -هللا عليه وسلم
ْ
ْيُتوِن( ِفى ال يِن َوالزَّ َيْقَرُا )َوالت ِ
Telah menyampaikan kepada kami Khallad bin Yahya, telah menyampaikan kepada kami
Mis’ar, telah menyampaikan kepada kami Adi bin Tsabit, saya mendengar Barra’ berkata:
“Saya mendengar Rasulullah Saw membaca...” (kemudian menyebutkan lafadz hadisnya)
Selain hadis-hadis di atas, nama Adi bin Tsabit juga tersebar di beberapa tempat dalam Shahîh Al-
Bukhârî, misalnya dalam:
Kitab Al-’Idain, Bab Al-Khutbah ba’da Id, hadis 964,
Kitab Al-’Idain, Bab Shalat qabla ‘Id wa ba’daha, hadis 989,
Kitab Al-Janâiz, Bab Ma Qila fi Auladi Al-Muslimin, hadis 1382,
Kitab Al-Hajj, Bab Man Jama’a bainahuma wa lam Yatathawwa’,hadis 1674 dan selainnya.
Sebenarnya masih banyak lagi riwayat Adi bin Tsabit dalam Shahîh Al-Bukhârî. Namun, tidak
disebutkan seluruhnya di sini.
3. Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyebutkan:
عبد هللا بن عبد القدوس التميمي السعدي الكوفي صدوق رمي بالرفض
“Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus Al-Tamimi, Al-Sa’di, Al-Kufi jujur dan dituduh Rafidhi.”114
Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl, berkata, “Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus seorang Kufah yang
Rafidhi.“ Al-Dzahabi juga mengutip pendapat para ulama hadis lainnya tentang sosok Abdullah bin
‘Abd Al-Quddus. Di antaranya; Ibnu ‘Adi berkata, “Secara umum yang diriwayatkan olehnya tentang
keutamaan Ahlul Bait.” Yahya berkata, “Tidak bernilai sedikit pun, dia seorang Rafidhi yang berlebihan.” Al-
Nasa’i berkata, “Tidak tsiqah.” Al-Daraquthni berkata, “Lemah.” Abu Ma’mar berkata, “Dia seorang
khasyabiy (Rafidhi).”115
berdasar kesaksian Ibnu Hajar dan selainnya, tampak jelas bahwa Abdullah bin ‘Abd Al-
Quddus yaitu seorang Rafidhi. Lalu adakah nama Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus di dalam Shahîh
Al-Bukhârî? Imam Bukhari untuk memberikan penjelasannya sendiri.
Imam Bukhari di dalam Kitab Shahîh meriwayatkan hadis:
عمش، عن مجاهد،
دم، حدثنا شعبة، عن اال
عن عائشة رضي هللا عنها قالت: قال النبي صلى هللا عليه و سلم )ال حدثنا ا
عمش.
فضوا إلى ما قدموا(.و رواه عبد هللا بن عبد القدوس عن اال
موات فإنهم قد ا
تسبوا اال
Rasulullah Saw bersabda……… (menyebutkan lafadz ha-disnya) diriwayatkan oleh
Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus dari Al-A’masy…….116
4. Yahya bin Al-Jazzar Al-‘Urani
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan,
يحي ى بن الجزار العرني ...هو صدوق رمي بالغلو في التشيع
“Yahya bin Al-Jazzar Al-’Urani, Al-Kufi. Terpercaya, dia dituduh dengan berlebihan dalam
kesyiahan(ghulat).”117
Sementara Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl menyatakan, ”Yahya bin Al-Jazzar meriwayatkan dari
Ali. Dia seorang yang jujur lagi terpercaya. Al-Hakam bin ‘Utaibah mengatakan bahwa dia seorang yang
berlebihan dalam Syiah.”118
Imam Muslim di dalam Shahîh-nya, kitab Al-Masjid wa Mawadhi’ Al-Shalah, menyebutkan sebuah
hadis:
ى بن الجزار عن علي َو حدثناه ابو بكر بن ابي شيبة، و زهير بن حرب، قاال: حدثنا وكيع، عن شعبة، عن الحكم، َعْن َيْحي َ
...
“Telah menyampaikan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, Telah
menyampaikan kepada kami Waqi’ dari Syu’bah dari Al-Hakam dari Yahya bin Al-Jazzar dari
Ali....”(kemudian menyebutkan lafadz riwayatnya).”119
Kemudian Imam Muslim dalam Shahîh-nya pula, kitab Shifah Al-Qiyamah wa Al-Jannah
menyebutkan salah satu hadis:
َثَنا شُ ، َحدَّ ٌد اْبَن َجْعَفر
َثَنا ُمَحمَّ : َحدَّ
َ
، َقاال ار
ُد اْبُن َبشَّ ى، َو ُمَحمَّ ُمَثنَّ
ْ
ُد ْبُن ال َثَنا ُمَحمَّ َثَنا َاُبو َبَكر بِن َابي شيبَحدَّ
ة، ْعَبَة ح َو َحدَّ
َثَنا ُغنَدر، عن ُشْعَبَة، عن قتادة، عن عزرة، عن الحسن العرني، عن يحي ى بن الجزار، عن عبد الرحمن -و اللفظ له - ، َحدَّ
بي ليلى، عن ُابي بن كعب، في قوله عز و جل: ...
بن ا
“Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dan Muhammad bin
Bassyar. Keduanya berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah
menyampaikan kepada kami Syu’bah sebuah hadis dan menyampaikan kepada kami Abu
Bakar bin Abu Syaibah, - dan lafazhnya berasal darinya -. Gundar menyampaikan kepada

