mengenal syiah 3


 9)”61 

Fakhr Al-Din Al-Thuraihi (w. 1085 H/1674 M) menyatakan, “Sesungguhnya Alquran dijaga dari 

setiap penambahan dan pe-ngurangan, perubahan dan tahrif. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya 

yang tidak terjamin keterpeliharaannya, Alquran dihafal orang-orang yang telah mencapai derajat 

makrifat dan tidak ditimbang dari selain yang dihafal.”62 

Syaikh Ja’far bin Kamal Al-Din bin Muhammad Al-Bahrani Al-Ula (w. 1088 H/1677 M) telah 

menulis sebuah kitab bernama Al-Kâmil f î Al-Shinâ’ah yang terdiri dari tiga puluh bab 

sempurna. Di antaranya yaitu  bab pertama tentang keutama-an Alquran, bab kedua tentang 

tiada tahrif , dan bab ketiga tentang kemutawatiran qira’at.63 

Al-Faidh Al-Kasyani (w. 1091 H/1680 M) dalam Tafsîr Al-Shâfî, menyatakan, “Kalau seandainya 

sebagian ayat Alquran itu muharraf (mengalami perubahan), kita sama sekali tidak akan dapat 

bersandar kepadanya, dan Alquran bukan hujjah yang asli, sehingga akan hilanglah manfaat untuk 

mengikuti serta berpegang teguh kepadanya……dst, dan banyak riwayat dari Nabi dan para Imam 

Ahlul Bait tentang keharusan dikembalikannya hadis kepada Alquran agar dapat diketahui kesahihannya 

dengan persetujuan Alquran, dan kepalsuannya dalam pertentangannya dengan Alquran, maka wajib 

menolaknya dan menghukumi kebatilannya.”64 

Syaikh Muhammad bin Al-Hasan Al-Hurr Al-’Amili (w. 1104 H/1693 M) penulis kitab Wasâil Al-

Syi’ah, menyatakan “Para penulis sejarah, hadis dan atsar mengetahui dengan yakin bahwa Alquran 

secara mutawatir diriwayatkan oleh ribuan sahabat dan bahwasannya Alquran telah terartikel kan pada 

masa Rasulullah Saw.”65 

Syaikh Muhamad Baqir Al-Majlisi (w. 1111 H/1700 M), penulis kitab Bihâr Al-Anwâr, berkata, 

“Disebutkan dalam Al-Masail Al-Sarwiyyah bahwa Syaikh Mufid ditanya apakah benar pernyataan 

bahwa yang ada di dalam sampul artikel  itu yaitu  kalam Allah sebenarnya tanpa penambahan dan 

pengurangan, sementara anda meriwayatkan dari para Imam as bahwa mereka membaca Kalian 

yaitu  para Imam terbaik yang dilahirkan untuk manusia begitu pula kami jadikan kalian 

para Aimmah wasatha.Bukankah ini bertentangan dengan mushaf yang ada di tangan manusia? 

Jawabannya yaitu  bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan ini  yaitu  hadis-hadis ahad dan tidak 

bisa disandarkan kebenarannya atas Allah. Oleh sebab  itu, kami memilih diam.”66 

Syaikh Ja’far bin Khidr Al-Najafi (w. 1228 H/ 1813 M) yang dijuluki Kâsyif Al-Ghithâ’ sebab  

artikel nya yang terkenal, Kasyf Al-Ghithâ’ ‘an Mubhamât Al-Syarî’ah Al-Gharrâ’, menyatakan, 

“Sudah pasti Alquran terpelihara dari pengurangan dengan hafalan para cendikiawan agama 

sebagaimana ditunjukkan oleh penjelasan Al-Furqan, dan kesepakatan ulama sepanjang masa dan tidak 

perlu contoh atas ketidaklaziman. Hal-hal yang diriwayatkan tentang pengurangan jelas tertolak oleh 

akal.”67 

Sayid Muhammad Mujahid bin Abu Al-Ma’ali Al-Thabathaba’i (w. 1242 H/1827 M) menyatakan, 

“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seluruh bagian Alquran bersifat mutawatir pada asal dan 

bagian-bagiannya. Begitu pula secara urutan tempat menurut peneli-ti Ahlus Sunnah. sebab  

Alquran yang penuh mukjizat agung ini yaitu  asal agama dan jalan yang lurus. Banyak sekali bukti-

bukti yang menunjukkan periwayatan global dan rinci secara mutawatir. Jika diriwayatkan secara ahad 

pastilah ia bukan Alquran.” (Mafatih Al-Ushul) 

Muhammad bin Ibrahim Al-Kalbasi (w. 1262 H/1846 M) menyatakan, “Sesungguhnya riwayat yang 

menunjukkan adanya tahrif bertentangan dengan kesepakatan umat kecuali bagi orang yang tidak perlu 

diperhatikan. Pengurangan Al-Kitab tidak memiliki akar, tidak terkenal dan tidak mutawatir,  mengingat 

jumlah besar hadis bahkan mayoritas (yang menyatakan kemutawatiran Alquran).”68 

Muhammad Jawad Al-Balaghi (w. 1352 H/ 1933 M) menyatakan dalam tafsirnya Âlâ’ Al-Rahmân 

fî Tafsîr Al-Qur’ân, “Tidak ada kesepakatan atas kemutawatiran dalam hal yang bersifat sejarah dan 

kebenaran abadi seperti kemutawatiran Alquran Al-Karim. Sebagaimana telah dijanjikan Allah dengan 

firmannya, Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-

benar menjaganya (QS. Al-Hijr [15]: 9) dan firman-Nya yang lain, Sesungguhnya atas 

tanggungan Kami pengumpulannya dan bacaannya. (QS. Al-Qiyâmah [75]: 17). Oleh sebab  

itu, jika ada Anda mendengar keanehan dalam suatu riwayat tentang tahrif Alquran dan hilang 

sebagiannya, maka ja-ngan perdulikan.”69 

Syekh Muhammad Al-Husain Kasyif Al-Githa’ (w. 1373 H/1954 M) dalam kitab Ashl Al-Syî’ah 

wa Ushûlihâ menegaskan, “Sesungguhnya kitab yang ada di tangan muslimin yaitu  kitab yang telah 

Allah turunkan kepada Nabi-Nya sebagai mukjizat, untuk mengajarkan hukum-hukum, membedakan 

halal dari yang haram, dan sesungguhnya tidak ada pengurangan di dalamnya, tidak ada tahrif, 

tidak ada tambahan. Oleh sebab  itu kesepakatan mereka dan orang yang berpendapat dari mereka 

atau selainnya dari kelompok muslimin mengenai adanya pengurangan dalam Alquran atau tahrif, 

maka dia orang keliru yang nantinya akan berbenturan dengan nas Alquran yang berbunyi, Kami 

yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.”70 

Syaraf Al-Din Al-Musawi (w. 1377 H/1958 M) menyatakan dalam artikel nya, Al-Fushul Al-

Muhimmah fi Ta’lif Al-Ummah,“ Alquran Al-Karim yang tidak datang kepadanya kebatilan dari depan 

maupun dari belakangnya hanyalah yang terdapat dalam dua sampul artikel  itu. Yaitu yang ada di 

tangan manusia saat ini. Tidak ada penambahan dan pengurangan satu huruf pun. Tidak ada 

perubahan kata dan huruf di dalamnya.”71 

Syaikh Muhammad Ridha Al-Muzhaffar (w. 1383 H/1963 M) menyatakan dalam ‘Aqâid Al-

Imâmiyyah,“Kami berkeyakinan bahwa Alquran Al-Karim yaitu  wahyu ilahi yang turun dari Allah 

Swt melalui lisan Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya terdapat penjelas segala sesuatu, yaitu mukjizat 

abadi yang membuat takjub manusia dari bahasa, kefasihan dan kandungan hakikat kebenaran dan 

puncak pengetahuan. Tidak ada penggantian, perubahan dan tahrif di dalamnya. Ia yaitu  yang berada 

di tangan kita saat ini, yang kita baca sebagaimana Alquran yang diturunkan atas Nabi. Barang siapa 

menuduh selain dari itu, maka ia seorang pandir, penipu atau penyamar. Mereka semua itu tidak 

mendapat petunjuk, sebab  Alquran yaitu  kalam Allah yang Sesungguhnya ia (Alquran) tidak 

datang kepadanya kebatilan dari depan maupun dari belakangnya, (QS. Fusshilat [41]: 43).”72 

Agha Bozorg Tehrani (w. 1390 H/ 1970 M), penulis ensiklo-pedi kitab-kitab Syiah, Al-Dzarî’ah ilâ 

Tashânîf Al-Syî’ah, juga menulis sebuah artikel  Al-Naqd Al-Lathîf fî Nafy Al-Tahrîf (Ana-lisis atas 

Tahrif). 

Sayid Muhammad Hadi Al-Milani (w. 1395 H/1975 M) menyatakan, “Tidak ada tahrif dengan 

penambahan atau pengura-ngan dalam Alquran Al-Karim, bahkan dengan perubahan lafaz sekali pun. 

Jika ada riwayat yang menjurus kepada bentuk tahrif, maka mestilah bertujuan perubahan makna 

menurut beberapa pandangan dan cara takwil yang batil dan bukan perubahan pada lafaz dan kalimat.”  

Al-Lankarani (w. 1402 H/1982 M) dalam Kitab Madkhal Tafsîr Abhâts haula I’jâz Al-Qur’ân 

menegaskan, “Dalil tidak adanya tahrif dalam Alquran merupakan riwayat mutawatir dari Nabi dan 

‘Itrah yang suci…dst.”73 

Muhammad Husein Thabathaba’i dalam Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân, menjelaskan banyak 

argumentasi penolakannya atas isu tahrif Alquran. Di antaranya ia mengatakan, “Secara 

mutlak, Alquran terjaga dalam pengawasan Allah dari segala penambahan, pengurangan dan 

perubahan dalam hal lafaz dan urutan.” Selanjutnya ia juga menegaskan, “Banyak hadis Nabi dari               

banyak jalur periwayatan dari dua kalangan (Sunnah dan Syiah) yang justru menunjukkan tidak 

adanya tahrif. Juga hadis perintah untuk merujuk kepada Alquran manakala terjadi fitnah dan sebagai 

jalan keluar dari pelbagai masalah. Sebagaimana hadis mutawatir, ‘Se-sungguhnya aku meninggalkan 

kepada kalian Al-Tsaqalain, Kitab Allah dan ‘Itrahku Ahlu Baitku, yang jika kalian berpegang atas 

keduanya, maka kalian tidak akan tersesat sesudah ku selama-nya.’ Perintah hadis ini tidak akan 

bermakna jika berpegang kepada kitab yang mengalami tahrif.”74 

Al-Khu’i (w. 1412 H/1992 M) menjelaskan secara panjang lebar bantahannya atas riwayat-riwayat 

dalam khazanah Islam tentang adanya tahrif Alquran dalam Kitab Al-Bayân f î Tafsîr Al-Qur’ân 

kemudian menyatakan, “Sebagaimana telah kami jelaskan kepada pembaca, sesungguhnya orang-

orang yang meng-anggap adanya tahrif berlawanan dengan akal sehat. Seandainya ia 

membenarkannya maka ia tidaklah berakal.”75  

 Ruhullah Khomeini (w. 1409 H/1989 M) dalam Anwâr Al-Hidâyah menyatakan, “Adanya tahrif 

dalam Al-Kitab menurut hadis-hadis tidaklah mungkin dijadikan sandaran sebagaimana ba-nyaknya 

petunjuk global dalam hal ini. Terjadinya tahrif sangatlah tidak mungkin sebagaimana disampaikan 

oleh para peneliti, ulama muktabar dari dua pihak sebagaimana telah disampaikan oleh           Allamah 

Al-Balaghi dalam pembukaan Tafsîr Âlâ’ Al-Rahmân.”76 

Murtadha Muthahhari (w. 1399 H/1979 M) menyatakan dalam artikel nya, Al-Ta’arruf ‘alâ Al-

Qur’ân Al-Karîm, “Sesungguhnya ayat-ayat Alquran telah mencapai tingkatan yang tidak 

mungkin terjadi perubahan, penambahan atau penghapusan satu huruf pun di dalamnya.”77 

Muhammad Husein Ali Al-Shaghir (lahir 1940 M), seorang professor studi Alquran dari 

Universitas Kufah menjelaskan dengan gamblang bagaimana isu tahrif Alquran terjadi di 

kalangan kaum muslimin dan menolaknya dengan berbagai argumentasinya. Bahkan beliau 

juga menulis sebuah artikel  bantahan atas Theodore Noldeke (w. 1930) dan kaum orientalis 

lainnya, yang menganggap Alquran telah berkurang.78 

Tuduhan lainnya yang selalu mengemuka terkait keaslian Alquran hingga saat ini, tidak akan 

pernah terlepas dari kitab Al-Fashl Al-Khithâb yang disusun oleh salah seorang ulama Syiah yang 

bernama Al-Nuri. Akan namun , kitab ini  juga telah disanggah dengan keras dan kritik tajam oleh 

Al-Khomeini, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam kitabnya berikut ini :  

Dalam kitab Anwâr Al-Hidâyah fî Ta’liqah ‘alâ Al-Kifâyah, beliau menyatakan, “Sesungguhnya jika 

satu urusan sebagaimana yang telah digambarkan oleh pengarang kitab Fashl Al-Khithâb yang telah 

ditulisnya tidak bermanfaat dari sisi keilmuan dan perbuatan. Dia selalu membawakan riwayat-

riwayat yang daif dan aneh, yang tidak diterima oleh akal sehat. Dan satu hal lagi yang mengherankan 

dari mereka yang hidup sezaman dengannya (Al-Nuri) mengapa lalai dan lengah akan hal semacam 

ini (membiarkan karyanya ini ).”79 

Bukan hanya itu, riwayat ini  juga telah disanggah oleh salah seorang murid Al-Nuri 

sendiri, Syekh Thahrani dalam kitabnya, Al-Dzarî’ah ilâ Tashânif Al-Syî’ah: “Dia menukil dari 

gurunya: “Bahwasannya kitab ini  (Al-Fashl Al-Khithâb f î Tahrîf Al-Kitâb) maksudnya bukan 

tentang tahrif Alquran penambahan dan pengurangan………dst, sepantasnya dinamakan Fashl Al-

Khithâb f î ‘Adami Tahrif Al-Kitâb (tidak adanya tahrif dalam Alquran).”80 

Husain Al-Nuri dalam Kitab Mustadrak Al-Wasâil wa Mustanbath Al-Masâil, menyatakan, “Apa yang 

telah kami dengar dari lisan guru kami (Al-Nuri) di akhir hidupnya, beliau berkata, ‘Saya keliru dalam 

memberi nama kitab ini  yang seharusnya saya namakan dengan “Fashl Al-Khitâb bi ‘Adami Tahrif 

Al-Kitâb.’”81 

 

Sekali lagi, prinsip Syiah yang telah dikemukakan di atas ialah mengembalikan kesahihan hadis 

kepada Alquran. Bukankah Allah Swt sendiri telah berfirman , Sungguh Kami yang telah menurunkan 

Alquran dan Kami pula yang akan menjaganya .” (QS. Al-Hijr [15]: 9) 

Tahrif di Kalangan Ahlus Sunnah 

Namun demikian isu adanya tahrif di dalam Alquran ternyata bukan hanya ada dalam literatur 

Syiah. Beberapa kitab utama Ahlus Sunnah juga meriwayatkan hal serupa. Berikut ini nukilan 

beberapa hadis dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah yang memuat adanya tahrif dalam Alquran: 

Imam Bukhari dalam Kitab Shahîh-nya, meriwayatkan: 

ًدا … َيُة الرَّْجِم، َفقَ  -صلى هللا عليه وسلم  -ِإنَّ هللَا َبَعَث ُمَحمَّ

 

ا َاْنَزَل هللُا ا َتاَب َفَكاَن ِممَّ ك ِ

ْ

ِ َوَاْنَزَل َعَلْيِه ال

َحق 

ْ

َناَها ِبال

ْ

َرْاَناَها َو َعَقل

اِس َزَماٌن َاْن َيُقوَل َقاِئٌل َو هللِا َما  –صلى هللا عليه وسلم  -َو َوَعْيَناَها، َرَجَم َرُسوُل هللِا  َو َرَجْمَنا َبْعَدُه، َفَاْخَشى ِإْن َطاَل ِبالنَّ

وا ِبَتْرِك َفِريَضة  

ُّ

َتاِب هللِا، َفَيِضل َيَة الرَّْجِم ِفى ك ِ

 

َتاِب هللِا َحقٌّ َعَلى َمْن َزَنى ِإَذا ُاْحِصَن ِمَن َنِجُد ا  َاْنَزَلَها هللُا، َو الرَّْجُم ِفى ك ِ

ا َنْقَرُا فِ  ا ُكنَّ مَّ ِإنَّ

ُ

َحَبُل َاْو ااِلْعِتَراُف، ث

ْ

َنُة َاْو َكاَن ال ِ

َبي 

ْ

َساِء، ِإَذا َقاَمِت ال َِجاِل َو الن ِ

َتاِب هللِا:الر   يَما َنْقَرُا ِمْن ك ِ

Umar berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad Saw dengan kebenaran dan telah 

menurunkan kitab kepadanya, di antaranya Allah telah menurunkan ayat rajam, maka kami membaca, 

memahami dan menjaganya, Rasulullah Saw telah merajam dan kami pun merajam sepeninggalnya, 

maka aku khawatir dengan berlalunya zaman, bahwa nanti ada yang berkata, ‘Demi Allah kami tidak 

mendapatkan ayat rajam dalam Alquran, mereka akan sesat sebab  meninggalkan kewajiban yang telah 

Allah turunkan.....dst’” 

Umar melanjutkan, “kemudian kami telah membaca apa yang biasa kami baca dalam Kitabullah, 

ْفًرا ِبُكْم َاْن  َباِئُكْم، َاْو ِإنَّ ك ُ

 

ْفٌر ِبُكْم َاْن َتْرَغُبوا َعْن ا ُه ك ُ َباِئُكْم، َفِإنَّ

 

 َتْرَغُبوا َعْن ا

َ

َباِئُكْم َاْن ال

 

 َتْرَغُبوا َعْن ا

“Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian sebab  itu merupakan kekafiran jika kalian membenci 

ayah-ayah kalian” atau “Sesungguhnya kekufuran bagi kalian, jika membenci ayah kalian.”82 

Jika kita mencoba menelaah riwayat ini , maka akan muncul sebuah pertanyaan, dimanakah 

ayat yang disebutkan di atas terdapat dalam Alquran? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa telah 

terjadi tahrif dalam Alquran? Bahkan, tuduhan ini  dialamatkan kepada Khalifah Kedua, Umar 

bin Al-Khatthab. 

 

Imam Muslim dalam Kitab Shahîh-nya, juga meriwayatkan:  

نزل  حدثنا

 

نها قالت: كان فيما ا

 

بي بكر، عن عمرة، عن عائشة، ا

 

ت على مالك، عن عبد هللا بن ا

 

يحي  ى بن يحي  ى قال: قرا

، فتوفي رسول هللا صلى هللا عليه و سلم و هن  ْوَمات  ُيْحِرْمَن، ثم نسخن بخمس  معلومات 

ُ

ن: َعْشُر َرَضَعات  َمْعل

 

من القرا

ن.

 

 من القرا

 

 فيما يقرا

Yahya bin Yahya menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, “Aku membaca dengan bacaan Malik, 

dari Abdullah bin Abi Bakar, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, dia berkata, ‘Semula persusuan yang 

menyebabkan kemahraman yaitu  sepuluh kali susuan seperti yang ini  di sebagian ayat Alquran, 

kemudian dihapus dan diganti menjadi lima kali susuan oleh ayat Alquran ini . Lalu sesudah  

Rasulullah Saw wafat, maka ayat Alquran lima kali susuan itulah yang dibaca.,”83 

 

Muhammad bin Yazid bin Majah dalam Kitab Shahîh-nya, yang ditahkik oleh Al-Albani, 

meriwayatkan: 

ية الرجم و رضاعة الكبير عشرا و لقد كان في صحيفة تحت سريري فلما مات رسول هللا صلى 

 

عن عائشة قالت: لقد نزلت ا

كلها. 

 

 هللا عليه وسلم و تشاغلنا بموته دخل داجن فا

لباني :حسن 

 

 تحقيق اال

‘Aisyah berkata, “Telah turun ayat rajam dan menyusui orang dewasa 10 kali, lembaran-lembaran 

ini  ada di bawah tempat tidurku, saat  Nabi Saw wafat kami pun disibukkan dengan 

kematiannya, maka masuklah kambing dan memakannya.” 

Al-Albani berkata, “Hadis hasan.”84 

 

Abi Ya’la Al-Maushili meriwayatkan dalam Kitab Musnad-nya,  

ية الرجم و رضاعة الكبير عشرا فلقد كانت في صحيفة 

 

بيه قال:]قالت عائشة[: لما نزلت ا

 

و عن عبد الرحمن بن القاسم عن ا

كلها.

 

 تحت سريري فلما مات رسول هللا صلى هللا عليه و سلم تشاغلنا بموته فدخل داجن فا

Dari Abd Al-Rahman bin Al-Qasim dari ayahnya, ‘Aisyah berkata,  “saat  ayat rajam turun 

dan menyusui orang dewasa 10 kali, di bawah tempat tidurku ada dalam lembaran yang saat  

Rasulullah Saw wafat, kami pun disibukkan dengan kematiannya, maka masuklah kambing dan 

memakannya.”85 

Jika saat ini kita melihat kepada Alquran, maka kita tidak akan mendapatkan ayat nasikh dan 

mansukhnya. Oleh sebab  itu, dalam hal ini mereka juga menuduh bahwa istri Nabi Saw telah 

meyakini terjadinya pengurangan terhadap Alquran. 

 

Ibnu Hibban dalam Kitab Shahîh-nya meriwayatkan, 

خبرنا النضر بن شميل، قال: حدثنا حماد بن  -

 

زدي، قال: حدثنا إسحاق بن إبراهيم، قال: ا

 

خبرنا عبد هللا بن محمد اال

 

ا

بي بن كعب قال: 

 

بي النجود، عن زر، عن ا

 

حزاب توازي سورة البقرة، فكان فيه“سلمة، عن عاصم بن ا

 

ا كانت سورة اال

 .”الشيخ و الشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة 

وهام و بقي السند ثقات على الشرط الصحيحين

 

بي النجود صدوق له ا

 

 قال المحقق: عاصم بن ا

Dari Ubay bin Ka’ab, “Surat Al-Ahzab sama dengan surat Al-Baqarah, maka di dalamnya terdapat 

ayat, “Laki-laki dan perempuan (yang sudah menikah) apabila berzina, maka rajamlah 

keduanya.’” 

Penahkik kitab berkata, “‘Ashim bin Abi Nujum yaitu  orang jujur, dan sebagian sanadnya tsiqah 

(dapat dipercaya) sesuai syarat sahih.”86 

 

Dhiya’ Al-Din Al-Maqdisi meriwayatkan dalam Kitab Al-Ahâdîts Al-Mukhtârah, yang ditahkik oleh 

Abdul Malik bin Abdillah bin Duhaisy; 

ية فقال إن 

 

ربع و سبعين ال

 

و ا

 

حزاب قلت ثالث ا

 

ية الرجم فقال كم تعدون سورة اال

 

بي بن كعب عن ا

 

لت ا

 

..عن زر قال سا

ية الرجم )الشيخ 

 

طول، و إن فيها اال

 

و ا

 

و الشيخة فارجموهما نكاال من هللا و هللا عزيز حكيم( كانت لتقارب سورة البقرة ا

...... 

Dari Zur, berkata,“Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang ayat rajam, dia bertanya,  

‘Berapakah jumlah ayat surah Al-Ahzâb?’ Aku berkata, ‘Tujuh puluh tiga atau tujuh puluh empat 

ayat.’ Maka Ka’ab berkata, ‘Sesungguhnya ia hampir menyamai surat Al-Baqarah atau lebih dari 

itu. Dan sungguh di dalamnya terdapat ayat Rajam (… ).’” 

Penahkik kitab berkata, “Sanadnya sahih.”87 

Jika kita membuka Alquran, maka kita dapati surah Al-Ahzâb berjumlah 73 ayat. Namun dalam 

riwayat di atas dijelaskan bahwa surah Al-Ahzâb memiliki ayat hingga mencapai seperti jumlah ayat 

dalam surah Al-Baqarah. Itu artinya telah meyakini akan hilangnya beberapa ayat di surah Al-Ahzâb. 

Sehingga dalam hal ini, mereka juga telah menuduh sahabat Nabi, yaitu Ubay bin Ka’ab meyakini 

bahwa Alquran saat ini telah berkurang dari aslinya yang berkisar dua juz.  

 

Al-Qurthubi dalam Kitab Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân, meriwayatkan, 

بي بن كعب: 

 

 و روى زر قال: قال لي ا

و  كم

 

بي بن كعب ان كانت لتعدل سورة البقرة ا

 

ية قال: فوالذي يحلف به ا

 

حزاب؟ قلت: ثالثا و سبعين ا

 

تعدون سورة اال

ن تلك الزيادة كانت في صحيفة في 

 

ما ما يحكى ا

 

ية الرجم: الشيخ و الشيخة إذا زنيا فارجموهما ...و ا

 

نا منها ا

 

طول و لقد قرا

 

ا

ليف ا

 

كلتها الداجن فمن تا

 

 لمالحدة و الروافضبيت عائشة فا

Zur meriwayatkan, Ubay bin Ka’ab bertanya kepadaku, “Berapakah jumlah ayat surah Al-

Ahzâb?’ Aku menjawab, ‘Tujuh puluh tiga ayat.’ Dia berkata, ‘Demi Dzat yang telah dijadikan 

sumpah oleh Ubay bin Ka’ab bahwa ayat surah Al-Ahzâb sebanding dengan surah Al-Baqarah atau 

lebih panjang lagi, sungguh kami telah membaca yang di antaranya ada ayat rajam yang berbunyi, 

Laki-laki dan perempuan (yang telah menikah) jika berzina, maka rajamlah keduanya  

....dst.’”  

Kemudian Al-Qurthubi berkata, “Adapun yang telah diceritakan dari tambahan ini  bahwa 

lembaran itu ada di rumah ‘Aisyah, kemudian dimakan oleh kambing, ini merupakan karangan orang 

kafir dan Rafidhah.”88 

Jika demikian, mereka yang telah meriwayatkan surah Al-Ahzâb berjumlah sama dengan Al-

Baqarah, maka dalam pandangan Qurthubi mereka yaitu  kafir dan Rafidhi seperti Imam Bukhari, 

Muslim, dan Ibnu Hibban.  

 

Al-Suyuthi dalam Kitab Al-Durr Al-Mantsûr meriwayatkan, 

ن يك 

 

راد ا

 

ن عثمان بن عفان رضي هللا عنه قال: لما ا

 

حمر ا

 

ن يلغوا الواو التي في براءة عن علباء بن ا

 

رادوا ا

 

تب المصاحف ا

ضعن سيفي على عاتقي. فالحقوها.

 

و ال

 

بي رضي هللا عنه: لتلحقنها ا

 

 }والذين يكنزون الذهب و الفضة{ قال لهم ا

Dari ‘Alba’ bin Ahmar, “Sesungguhnya Utsman bin Affan pada saat ingin menulis mushaf, mereka 

hendak untuk menghilangkan huruf “waw” dalam surah Al-Bara’ah (Al-Taubah) yang berbunyi, 

َة  ِفضَّ

ْ

َهَب َو ال

َّ

ِذْيَن َيْكِنُزْوَن الذ

َّ

 ﴾٣٤﴿َو ال

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.(QS. Al-Taubah [9]: 34) 

Ubay berkata kepada mereka, “Jika kamu tidak meletakkannya (huruf waw), niscaya akan aku 

hunus pedangku, maka mereka pun meletakkannya.”89 

 

Kemudian Al-Suyuthi mengutip Imam Bukhari yang meriwayatkan dalam Târîkh-nya, 

خرج البخاري في 

 

ية ما وجدتها.و ا

 

حزاب على النبي ص فنسيت منها سبعين ا

 

ت سورة اال

 

 تاريخ عن حذيفة قال: قرا

Bukhari telah meriwayatkan dalam Târîkh-nya dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku membaca surah Al-Ahzâb 

di hadapan Nabi Saw, kemudian aku lupa tujuh puluh ayat, sekarang aku tidak menemukannya.”90 

 

 Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam Kitab Shahîh-nya, meriwayatkan,  

َثَنا َعِلىُّ ْبُن ُمْسِهر  َعْن َداُوَد َعْن َاِبى َحْرِب ْبِن َاِبى ااَلْسَوِد َعْن اَ 

َثِنى ُسَوْيُد ْبُن َسِعيد  َحدَّ

 ِبيِه َقاَل َبَعَث َاُبو ُموَسى ااَلْشَعِرىُّ َحدَّ

َن َفَقاَل َاْنُتْم ِخَياُر اَ 

 

ُقْرا

ْ

ِماَئِة َرُجل  َقْد َقَرُءوا ال

ُ

ث

َ

َبْصَرِة َفَدَخَل َعَلْيِه َثال

ْ

اِء َاْهِل ال وَلنَّ ِإَلى ُقرَّ

ُ

 َيط

َ

وُه َوال

ُ

اُؤُهْم َفاْتل َبْصَرِة َوُقرَّ

ْ

ْهِل ال

وُب َمْن 

ُ

وُبُكْم َكَما َقَسْت ُقل

ُ

ِة ِبَبَراَءَة َفُاْنِسيُتَها  َعَلْيُكُم ااَلَمُد َفَتْقُسَو ُقل دَّ ِ

وِل َو الش 

ُّ

ُهَها ِفى الط ِ

ا ُنَشب  ا َنْقَرُا ُسوَرًة ُكنَّ ا ُكنَّ َكاَن َقْبَلُكْم َو ِإنَّ

 َيْمالُ 

َ

ْبَتَغى َواِدًيا َثاِلًثا َوال

َ

َدَم َواِدَياِن ِمْن َمال  ال

 

ُت ِمْنَها َلْو َكاَن اِلْبِن ا

ْ

ى َقْد َحِفظ ِ

ا َنْقَرُا ُسوَرًة َجوْ  َغْيَر َان  َراُب. َو ُكنَّ  التُّ

َّ

َدَم ِإال

 

َف اْبِن ا

َمُنوا لِ 

 

ِذيَن ا

َّ

َها ال ُت ِمْنَها )َيا َايُّ

ْ

ى َحِفظ ِ

َحاِت َفُاْنِسيُتَها َغْيَر َان  ِ

ُمَسب 

ْ

ُهَها ِبِإْحَدى ال ِ

ا ُنَشب  َتُب َشَهاَدًة ُكنَّ وَن( َفُتك ْ

ُ

 َتْفَعل

َ

وَن َما ال

ُ

َم َتُقول

ِقَياَمِة.ِفى َاْعَناقِ 

ْ

وَن َعْنَها َيْوَم ال

ُ

 ُكْم َفُتْسَال

Dari Abu Harb bin Abul Aswad dari ayahnya, dia berkata,“Abu Musa Al-Asy’ari mengutus  

(seseorang) untuk memanggil para ahli membaca Alquran dari penduduk Bashrah. Maka datang-lah tiga 

ratus orang yang benar-benar ahli membaca Alquran me- nemuinya.” 

Kemudian Abu Musa berkata, ‘Kalian yaitu  penduduk Bashrah pilihan dan ahli membaca dari mereka, 

maka bacalah Alquran ……dst.’  

Abu Musa berkata, ‘Sungguh kami dahulu pernah membaca satu surah dan menyamakan panjang 

surah Al-Bara’ah (Al-Taubah), namun aku lupa surah itu, tapi aku ingat sebagian surah ini  yaitu:  

َراُب “  التُّ

َّ

َدَم ِإال

 

 َيْماُل َجْوَف اْبِن ا

َ

ْبَتَغى َواِدًيا َثاِلًثا َوال

َ

َدَم َواِدَياِن ِمْن َمال  ال

 

 ”َلْو َكاَن اِلْبِن ا

Kalaulah anak adam memiliki dua lembah harta, pasti dia akan mengharapkan lembah yang ketiga, dan 

tidak ada yang bisa memenuhi perut anak adam kecuali tanah (kematian).  

Dan kami juga dahulu membaca satu surah yang kami menyamakannya dengan salah satu (surah) 

mutasyabihat lalu aku lupa. Hanya yang aku hafal sebagian darinya,  

وَن عَ 

ُ

َتُب َشَهاَدًة ِفى َاْعَناِقُكْم َفُتْسَال وَن(  َفُتك ْ

ُ

 َتْفَعل

َ

وَن َما ال

ُ

َمُنوا ِلَم َتُقول

 

ِذيَن ا

َّ

َها ال ِقَياَمِة )َيا َايُّ

ْ

 ْنَها َيْوَم ال

[Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian berkata apa-apa yang tidak kalian 

kerjakan (QS. Al-Shaff [61]: 2)] sungguh akan ditulis kesaksian pada jiwa-jiwa kalian dan kalian 

akan ditanya (tentang hal itu) di hari kiamat.”91 

Adakah tambahan ayat demikian dalam Alquran surah Al-Shaff? Bukankah merupakan sebuah 

persepsi yang membahayakan jika kita menuduh bahwa para kerabat Nabi Saw seperti, Khalifah 

Kedua, istri Nabi, dan Ubay bin Ka’ab meyakini adanya tahrif Alquran? Bahkan Khalifah Ketiga juga 

ingin menghilangkan huruf “waw” dalam surah Al-Bara’ah, sehingga jika dikatakan bahwa orang 

yang meyakini ada-nya tahrif dalam Alquran yaitu  kafir, maka secara tidak langsung juga telah 

mendakwa istri dan sahabat Nabi Saw. 

 

Pandangan Ulama Ahlus Sunnah tentang Tahrif 

Pada komentar sebelumnya, telah kami tegaskan bahwa mazhab Ahlul Bait tidak meyakini 

adanya tahrif dalam Alquran. Bahkan, hal ini  juga dipertegas oleh ulama Ahlus Sunnah yang 

mengatakan bahwa tidak ada pernyataan dari ulama Ahlul Bait tentang adanya tahrif dalam Alquran. 

Di antara para ulama Ahlus Sunnah yang berbicara jujur terhadap mazhab Ahlul Bait yaitu :  

1. Muhammad Al-Ghazali menyatakan dalam kitabnya, Al-Difâ’ ‘an Al-’Aqîdah wa Al-

Syarî’ah dhidda Mathâin Al-Mustasyriqîn, “Saya mendengar seseorang berkata dalam suatu 

majelis bahwa Syiah memiliki Alquran lain yang terdapat penambahan dan pengurangan dari 

Alquran yang ada saat ini. Isu semacam ini yang telah dilemparkan ke tengah-tengah warga , 

agar mereka berburuk sangka kepada saudara dan juga kepada kitabnya. Se-sungguhnya mushaf 

ini  sama yang dicetak di Kairo disucikan oleh orang Syiah di Najaf  atau di Teheran, dan 

lembarannya berada di tangan dan rumah mereka. Kepercayaan semacam ini yaitu  permainan 

yang dapat mempermalukan yang terjadi di antara umat Islam dari Sunnah dan Syiah. Jika ada 

seseorang yang bersamaku beriman kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw, mengerjakan 

salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan haji, bagaimana dihalalkan 

pengafirannya, hanya sebab  kesalahan dalam pemahaman hukum. 

Saya menyayangkan sebagian orang yang menebarkan tuduhan tanpa 

mempertimbangkan akibat-akibatnya……mereka memberikan citra buruk kepada Islam dan 

umatnya dengan keburukan yang nyata.”92 

 

2. Rasul Ja’fariyan dalam Kitab Ukdzûbah Tahrîf Al-Qur’ân baina Al-Syî’ah wa Al-Sunnah,  

menyatakan: 

Muhammad Imarah berkata, “Orang-orang munafik tidak pernah meninggalkan pintu 

dari semua pintu penghinaan dalam Alquran yang mulia, dan berbohong atasnya. Di antara pintu 

ini  hal-hal yang datang di dalam sebagian kitab Akhba-riyyun…….dari Syiah, dari riwayat 

yang berkata bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki mushaf yang lebih besar dari mushaf yang ada di 

tangan muslimin, dan mereka memfokuskan atas salah seorang mukmin Syiah (dari kelompok 

Akhbariyyun) yaitu Mirza Husain Al-Nuri yang telah menyusun kitab dengan judul ‘Fashl Al-

Khithâb fî Tahrîf Kitâb Rabb Al-Arbâb’. Akan namun  kelompok munafik ini  tidak menyebutkan 

bahwa saudara-saudara kita- dari ulama Syiah Imamiyah- telah menggugurkan, mengkritik, dan 

mendustakan semua tulisan dan riwayat yang terdapat dalam peninggalan Akhbariyyun dari 

ulama mereka.”93 

 

3. Rahmatullah bin Khalilirrahman Al-Hindi dalam kitab Izhâr Al-Haqq, jilid 2, menyatakan: 

“Sesungguhnya Alquran yang mulia di hadapan mayoritas Syiah Dua Belas Imam, terjaga dari 

perubahan, penambahan dan pe-ngurangan, dan barang siapa di antara mereka berkata telah 

terjadi kekurangan di dalamnya maka pernyataannya ini  tertolak di hadapan mereka.”  

“Sangat jelas bahwa mazhab yang dibenarkan di hadapan ulama Syiah Dua Belas Imam, bahwa 

sesungguhnya Alquran yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, yaitu  yang terdapat 

di tangan manusia, telah terkumpul dan tersusun di zaman Rasulullah Saw, yang telah dijaganya 

dan ribuan sahabat pun telah menyalinnya.”94 

 

Syiah dan Hadis 

Biasa dituduhkan bahwa Syiah mempercayai hadis-hadis yang berbeda dengan yang dipercayai 

Ahlus Sunnah. Hal ini sesungguhnya terbantah oleh sedikitnya tiga alasan sebagai berikut:  

Pertama, meski diriwayatkan dengan rantai periwayatan yang berbeda, banyak sekali hadis Syiah 

yang memiliki kesamaan kandungan dengan hadis-hadis yang beredar di kalangan Ahlus Sunnah. Hal 

ini mudah dilihat bagi orang-orang yang terbiasa membaca artikel -artikel  Syiah dan Ahlus Sunnah 

sekaligus.  

Kedua, tak jarang penulis Syiah menggunakan hadis-hadis yang beredar di kalangan Ahlus 

Sunnah. Contoh yang menonjol dalam hal ini yaitu  20 jilid artikel  Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân karya 

Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i, atau pun berbagai karya Ayatullah Murtadha 

Muthahhari yang terjemahannya banyak beredar di Indonesia.  

Ketiga, amat banyak rijâl hadis di kalangan Syiah yang riwayatnya diterima di berbagai kitab sahih 

di kalangan Ahlus Sunnah. Di bawah ini yaitu  daftar sebagian di antaranya: 

1. Aban ibn Taghlib 

2. Ibrahim ibn Yazid ibn ‘Umar ibn Al-Aswad Al-Nakh‘i Al-Kufi 

3. Ahmad ibn Al-Mufdil ibn Al-Kufi Al-Hafri 

4. Isma’il ibn Abban Al-Azdi Al-Kufi Al-Warraq 

5. Isma’il ibn Khalifah Al-Mulai Al-Kufi 

6. Isma’il ibn Zakaria Al-Asadi Al-Khalqani Al-Kufi 

7. Isma’il ibn ‘Abbad ibn Al-Abbas Al-Taleqani 

8. Isma’il ibn ‘Abdul-Rahman ibn Abu Karimah Al-Kufi 

9. Isma’il ibn Musa Al-Fazari Al-Kufi 

10. Talid ibn Sulayman Al-Kufi, Al-A‘raj 

11. Thabit ibn Dinar (Abu Hamzah Al-Thumali) 

12. Thuwayr ibn Abu Fakhita (Abu Jahm Al-Kufi) 

13. Jabir ibn Yazid ibn Al-Harith Al-Ju‘fi Al-Kufi 

14. Jarir ibn ‘Abdul-Hamid Al-Dabi Al-Kufi 

15. Ja‘far ibn Ziyad Al-Ahmar Al-Kufi 

16. Ja‘far ibn Sulayman Al-Dab‘i Al-Basri (AbuSulayman) 

17. Jami‘ ibn ‘Umayrah ibn Tha‘labah Al-Kufi Al-Taymi (Taymullah) 

18. Al-Harith ibn Hasirah Abul Nu‘man Al-Azdi Al-Kufi 

19. Al-Harith ibn ‘Abdullah Al-Hamadani 

20. Habib ibn Abu Thabit Al-Asadi Al-Kahili Al-Kufi 

21. Al-Hasan ibn Hayy 

22. Al-Hakam ibn ‘Utaybah Al-Kufi 

23. Hammad ibn ‘Isa Al-Jahni 

24. Hamran ibn ‘Ayinah  

25. Khalid ibn Mukhlid Al-Qatwani 

26. Dawud ibn Abu ‘Awf (Abul-Hijab) 

27. Zubayd ibn al-Harith ibn ‘Abdul-Karim Al-Yami Al-Kufi 

28. Zaid bin Al-Habab, Abul-Hasan Al-Kufi Al-Tamimi 

29. Salim ibn Abul Ja‘d Al-Asyja‘i Al-Kufi 

30. Salim ibn Abu Hafsah Al-‘Ijli Al-Kufi 

31. Sa‘d ibn Tarif Al-Iskafi Al-Hanzali Al-Kufi 

32. Sa‘id ibn Ashwa’ 

33. Sa‘id ibn Khaytham Al-Hilali 

34. Salamah ibn Al-Fudayl Al-Abrash 

35. Salamah ibn Kahil ibn Hasin ibn Kadih ibn Asad Al-Hadrami, Abu Yahya 

36. Sulayman ibn Sa‘id Al-Khuza‘i Al-Kufi 

37. Sulayman ibn Tarkhan Al-Taymi Al-Basri 

38. Sulayman ibn Qarm ibn Ma‘ath  

39. Sulayman ibn Mahran Al-Kahili Al-Kufi Al-Asla’ 

40. Sharik ibn ‘Abdullah ibn Sinan Al-Nakh‘i Al-Kufi 

41. Shu‘bah ibn Al-Hajjaj Abul-Ward Al-‘Atki Al-Wasiti (Abu Bastam) 

42. Sa‘sa‘ah ibn Sawhan ibn Hajar ibn Al-Harith Al‘Abdi 

43. Thawus ibn Kisan Al-Khawlani Al-Hamadani Al-Yamani 

44. Zalim ibn ‘Amr ibn Sufyan, Abul-Aswad Al-Du’ali 

45. ‘Amr ibn Wa’ilah ibn ‘Abdullah ibn ‘Umer Al-Laithi Al-Makki 

46. ‘Abbad ibn Ya‘qub Al-Asadi Al-Ruwajni Al-Kufi 

47. ‘Abdullah ibn Dawud 

48. ‘Abdullah ibn Shaddad ibn Al-Had 

49. ‘Abdullah ibn ‘Umer ibn Muhammad ibn Abanibn Salih ibn ‘Umayr Al-Qarashi Al-Kufi 

50. ‘Abdullah ibn Lahi‘ah ibn ‘Uqbah Al-Hadrami 

51. ‘Abdullah ibn Maymun Al-Qaddah Al-Makki 

52. ‘Abdul-Rahman ibn Salih Al-Azdi 

53. ‘Abdul-Razzaq ibn Humam ibn Nafi‘ Al-Himyari Al-San‘ani 

54. ‘Abdul-Malik ibn ‘Ayan 

55. ‘Ubaydullah ibn Musa Al-‘Abasi Al-Kufi 

56. ‘Utsman ibn ‘Umayr ‘Abdul-Yaqzan Al-Thaqafi Al-Kufi Al-Bijli 

57. ‘Adi ibn Thabit Al-Kufi 

58. ‘Atiyyah ibn Sa‘d ibn Janadah Al-‘Awfi 

59. Al‘ala’ ibn Salih Al-Taymi Al-Kufi 

60. ‘Alqamah ibn Qays ibn ‘Abdullah Al-Nakh‘i, Abu Shibil 

61. ‘Ali ibn Badimah  

62. ‘Ali ibn Al-Ja‘d 

63. ‘Ali ibn Zaid 

64. ‘Ali ibn Salih 

65. ‘Ali ibn Ghurab Abu Yahya Al-Fazari Al-Kufi 

66. ‘Ali ibn Qadim Abul-Hasan Al-Khuza‘i Al-Kufi 

67. ‘Ali ibn Al-Munthir Al-Tara’ifi 

68. ‘Ali ibn Al-Hashim ibn Al-Barid Abul-Hasan Al-KufiAl-Khazzaz Al-‘Aithi 

69. ‘Ammar ibn Zurayq Al-Kufi 

70. ‘Ammar ibn Mu‘awiyah atau Ibn Abu Mu‘awiyah 

71. ‘Amr ibn ‘Abdullah Abu Issaq Al-Subai‘i Al-Hamadani Al-Kufi 

72. ‘Awf ibn Abu Jamila Al-Basri, Abu Sahl 

73. Al-Fadl ibn Dakin 

74. Fadil ibn Marzuq Al-Aghar Al-Ruwasi Al-Kufi, Abu ‘Abdul-Rahman 

75. Fitr ibn Khalifah Al-Hannat Al-Kufi 

76. Malik ibn Isma‘il ibn Ziyad ibn Dirham Abu Hasan Al-Kufi Al-Hindi 

77. Muhammad ibn Khazim 

78. Muhammad ibn ‘Abdullah Al-Dabi Al-Tahani Al-Nisaburi, Abu ‘Abdullah Al-Hakim 

79. Muhammad ibn ‘Ubaydullah ibn Abu Rafi‘ Al-Madani 

80. Muhammad ibn Fudayl ibn Ghazwan Abu ‘Abdul-Rahman Al-Kufi 

81. Muhammad ibn Muslim ibn Al-Ta‘ifi 

82. Muhammad ibn Musa ibn ‘Abdullah Al-QatariAl-Madani 

83. Mu‘awiyah ibn ‘Ammar Al-Dihni Al-Bajli Al-Kufi 

84. Ma‘ruf ibn Kharbuth Al-Karkhi 

85. Mansur ibn Al-Mu‘tamir ibn ‘Abdullah ibn Rabi‘ahAl-Salami Al-Kufi 

86. Al-Minhal ibn ‘Amr Al-Kufi 

87. Musa ibn Qays Al-Hadrami, Abu Muhammad 

88. Nafi‘ ibn Al-Harith Abu Dawud Al-Nakh‘i Al-Kufi Al-Hamadani Al-Subay‘i 

89. Nuh ibn Qays ibn Rabah Al-Hadani 

90. Harun ibn Sa‘d Al-‘Ijli Al-Kufi 

91. Hashim ibn Al-Barid ibn Zaid Abu ‘Ali Al-Kufi 

92. Hubayrah ibn Maryam Al-Himyari 

93. Hisham ibn Ziyad Abul Miqdam Al-Basri 

94. Hisham ibn ‘Ammar ibn Nasr ibn Maysarah, Abu Al-Walid 

95. Hashim ibn Bashir ibn Al-Qasim ibn Dinar Al-Wasiti, Abu Mu‘awiyah 

96. Waki‘ ibn Al-Jarrah ibn Malih ibn ‘Adi 

97. Yahya ibn Al-Jazzar Al-‘Arni Al-Kufi 

98. Yahya ibn Sa‘id Al-Qattan 

99. Yazid ibn Ziyad Al-Kufi, Abu ‘Abdullah  

100. Abu ‘Abdullah Al-Jadali 

 

Lebih jauh tentang perawi Syiah yang ada dalam kitab-kitab Islam akan dijelaskan pada bagian 

berikutnya. 

 

Perawi Rafidhah Tertolak 

Syiah moderat (yang tidak beraqidah Rafidhah) riwayatnya dapat diterima oleh para ulama hadis, tapi tidak 

demikian halnya jika seorang perawi hadis tergolong Syi’ah Rafidhah yang menolak, mencaci dan mengafirkan 

Abu Bakar dan Umar serta mendakwahkan ajaran itu, pasti ditolak riwa-yatnya.95 

Tanggapan:  

Pernyataan bahwa hanya Syiah moderat saja (tidak beraqidah Rafidhah) yang riwayatnya dapat 

diterima oleh para ulama hadis, sama sekali tidak tebukti. Justru dalam banyak kasus, beberapa 

perawi Syiah yang dituduh sebagai Rafidhah muncul dan diterima keunggulannya sebagai perawi 

hadis yang terpercaya. Klarifikasi tentang Rafidhah akan dibahas pada tema khusus berjudul, “Syiah 

dan Rafidhah”. sedang  pada tema “Syiah dan Hadis” sebelumnya dalam artikel  ini, telah disebutkan 

seratus orang perawi Syiah yang tercantum dalam sanad-sanad Ahlus Sunnah. Untuk menguatkan 

argumentasi ini, maka berikut penjelasan tentang beberapa perawi ini :  

Perawi Rafidhah dalam Tafsir Thabari 

Sebelum membincangkan nama-nama ini  (yang dituduh sebagai Rafidhah), sebaiknya 

disampaikan pujian Ibnu Taimiyah atas Tafsîr Al-Thabari, 

ا  َفاِسيرُ “َو َامَّ َها ” التَّ اِس َفَاَصحُّ ِتي ِفي َاْيِدي النَّ

َّ

ِد ْبِن َجِرير  الطبري“ال

اِبَتِة ” َتْفِسيُر ُمَحمَّ ََساِنيِد الثَّ

ْ

َلِف ِباال ِت السَّ

َ

ُكُر َمَقاال

ْ

ُه َيذ َفِإنَّ

  َو َلْيَس ِفيِه ِبْدَعةٌ 

“Adapun kitab tafsir paling sahih yang ada di hadapan manusia yaitu  Tafsir Muhammad bin Jarir 

Al-Thabari, sebab  dia menyebutkan pernyataan-pernyataan salaf dengan sanad-sanad yang kuat dan 

di dalamnya tidak terdapat bidah.”96 

Siapa saja di antara para perawi yang terdapat dalam Tafsîr Al-Thabari? Ibnu Jarir Al-Thabari 

dalam kitab Tafsir-nya, tentang QS. Al-Baqarah [2]: 282 menyebutkan riwayat dari Athiyyah Al-’Aufi.97 

Tidak hanya itu, terdapat banyak ayat lain yang Al-Thabari telah mengambil riwayat dari jalur 

Athiyyah. Bagaimanakah sosok Athiyyah Al-’Aufi dalam kitab yang disusun oleh Ibnu Al-Jauzi?  

Hadis riwayat dari Abdul Wahhab Al-Anmathi, dari Muhammad bin Al-Muzhaffar, dari Ahmad bin 

Muhammad Al-’Atiqi, dari Yusuf bin Al-Dakhil, dari Abu Ja’far Al-’Aqili, dari Ahmad bin Yahya Al-Halawani, 

dari Abdullah bin Dahir, dari Abdullah bin Abdul Quddus, dari Al-A’masy, dari Athiyyah, dari Abi Said 

berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Sungguh telah aku tinggalkan untuk kalian tsaqalain, yaitu Kitabullah dan 

Itrahku...dst.’” 

Ibnu Al-Jauzi berkata, “Hadis ini tidak sahih. Athiyyah telah di- daifkan Ahmad, Yahya dan selainnya. 

sedang  Ibnu Abdil Quddus,        Yahya berkata, ‘Dia tidak bernilai sedikit pun, dia seorang Rafidhah yang 

buruk.’ sedang  Abdullah bin Dahir, Ahmad dan Yahya berkata, ‘Dia     tidak bernilai sedikit pun, dan 

manusia tidak ada yang mencatat kebaikan dari pribadinya.’”98 

Jika Ibnu Al-Jauzi menyatakan bahwa Ahmad dan Yahya mendaifkannya, maka Ibnu Taimiyah 

dalam artikel nya, Iqtidhâ’ Al-Shirât Al-Mustaqîm mengutip bahwa Yahya bin Mu’in menilai ‘Athiyyah 

bin Sa’ad Al-’Aufi seorang yang saleh.99 

Sementara itu, Ibnu Sa’ad dalam Kitâb Al-Thabaqât Al-Kubrâ meriwayatkan bahwa ‘Athiyyah bin 

Sa’ad bin Junâdah Al-’Aufi diberinama oleh Ali bin Abi Thalib saat beliau di Kufah. Pada masanya, 

Athiyyah bin Sa’ad Al-’Aufi pernah dicambuk oleh Al-Hajjaj seba-nyak empat ratus kali, dan dicukur 

kepala dan janggutnya sebab  tidak mau melaknat Ali bin Abi Thalib ra. Dia seorang yang tsiqah   

insya Allah dan mempunyai banyak hadis yang benar, namun sebagian orang tidak meriwayatkan 

darinya.100 

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menuliskan, “Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah 

Al-’Aufi, Al-Jadali, Al-Kufi, Abu Al-Hasan. Dia seorang yang jujur, namun banyak lupa. Dia seorang 

Syi’i yang berlebihan.”101 

Seperti yang telah kita lihat di atas, bahwa Imam Thabari telah mengambil riwayat dari seorang 

“Rafidhi”. Sehingga pertanyaan yang muncul selanjutnya yaitu , apakah mereka (pengikut Ibnu 

Taimiyah) juga akan menolak tafsir yang disusun oleh seorang mufasir ternama yang dipuji oleh Ibnu 

Taimiyah ini?  

Perawi Rafidhah dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 

Selanjutnya, Ibnu Taimiyah memuji kedudukan dan keutamaan kitab Musnad Al-Imam Ahmad bin 

Hanbal: 

ْث َو كَاَن َاْحَمد َرِحمه هللا َعَلى مَا َتُدلُّ َعَلْيِه َطِرْيَقُتُه ِفي الُمْسَنِد ِإَذا َرَاى َانَّ الَحِدْيَث َمْوُضْوٌع  ِ

َاْو َقِرْيٌب ِمَن الَمْوُضْوِع َلْم ُيَحد 

 ِبِه 

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya metode Ahmad dalam (menyusun) kitab Musnad, jika ia  

melihat hadis palsu atau mendekati kategori “palsu”, maka dia tidak meriwayatkannya.”102 

 

Di dalam kitab ini , Ibnu Taimiyah secara gamblang telah menjelaskan bahwa semua riwayat 

yang terdapat dalam Kitab Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal tidak ada satu pun yang maudhu’ 

(riwayat palsu) atau pun daif  (riwayat lemah). Sekarang mari kita lihat salah satu perawi yang 

terdapat dalam kitab Musnad Ahmad ini , sebagaimana telah diakui kesahihannya oleh Ibnu 

Taimiyah. 

Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sejumlah tujuh puluh tiga (73) hadis dalam Musnad-nya yang 

berasal dari ‘Athiyyah bin Sa’ad Al-’Aufi, yaitu pada hadis nomor 3008, 4998, 5227, 5521, 5634...19346.103 

Hal ini , jelas merupakan sebuah bukti yang tak terbantahkan, yang Ahmad bin Hanbal telah 

menjadikan riwayat dari Athiyyah sebagai hujjah. Dan bukan hanya itu saja, bahkan tercatat lebih 

dari 73 riwayat dalam kitab Ahmad bin Hanbal yang di dalamnya telah dinukil dari Athiyyah.  

Hal itu juga telah diakui oleh Al-Albani yang menulis dalam kitabnya: 

Hanbal bin Ishaq berkata, “Pamanku (Ahmad bin Hanbal) mengum-pulkan kami yaitu; aku, Shaleh dan 

Abdullah, beliau membacakan kitab Musnad kepada kami dan tidak ada (orang lain) yang mendengarnya kecuali 

kami, dia berkata, ‘Sesungguhnya kitab ini (Musnad) telah aku kumpulkan dan telah aku pilah-pilah lebih dari 

750.000 hadis, apabila muslimin berselisih (pendapat) tentang hadis Rasulullah Saw, maka kembalikanlah 

kepadanya (Musnad) kalau hadis ini  terdapat di dalamnya (berarti hujjah) dan apabila tidak ada maka 

bukan hujjah.’” 

Al-Albani berkata, “Al-Hafidz Al-Madini mengutipnya dalam Khashâish (h. 21), Ibnu Al-Jauzi dalam 

Manâqib Imam Ahmad (h. 191) melalui dua jalur dari Hanbal dan hal itu kuat serta sahih. Oleh sebab itu, Al-

Dzahabi memastikan dalam Siyâr A’lâm Al-Nubalâ’, (bahwa imam Ahmad berkata), ‘Jagalah Musnad ini sebab  

nantinya akan menjadi pedoman bagi manusia.’”104 

Oleh sebab  itu, sebagaimana pernyataan Imam Ahmad ini , maka kita dapat 

menyimpulkan bahwa semua riwayat yang terdapat dalam Musnad Ahmad merupakan sebuah 

hujjah yang kuat dan sahih. Namun seperti yang sudah kita ketahui bahwa di antara para perawi 

yang terdapat di dalam kitab Musnad ini  yaitu  seorang ‘Athiyyah Al-’Aufi yang dikenal 

sebagai Syiah Rafidhah. 

Sekarang mari kita beralih kepada perawi lain yang dituduh sebagai Rafidhi, yaitu  Fitr bin 

Khalifah, sebagaimana yang telah di-nyatakan oleh Yahya bin Said dalam kitab: 

“Fitr bin Khalifah yaitu  seorang syekh yang alim, ahli hadis, jujur,… maula ‘Amr bin Harits”  

Ahmad bin Hanbal telah mentsiqahkannya, dan suatu kali berkata, “Menurut Yahya bin Sa’id, Fitr 

seorang yang tsiqah hanya saja seorang ‘Khasyabi’ (Rafidhah) yang berlebihan.” Ahmad Al-’Ijli berkata, “Fitr 

seorang yang tsiqah, hadisnya hasan, Syiah.” Ibnu Sa’ad juga menganggap Fitr seorang yang tsiqah. 

NamunAbu Bakar bin Ayasy berkata, “Tidaklah aku tinggalkan riwayat dari Fitr melainkan sebab  

keburukan mazhabnya.” Abdullah bin Ahmad berkata, “Aku pernah bertanya pada ayahku tentang Fitr, 

maka dia berkata, “Tsiqah, hadisnya baik, kata-katanya seorang yang cerdas hanya sa ja dia seorang Syiah.”105 

Salah satu contoh riwayat dalam kitab yang telah diakui kesahihannya oleh Ibnu Taimiyah, yaitu 

Musnad Ahmad yang dalam kitabnya terdapat seseorang yang bernama Fitr bin Khalifah. 

sesudah  menukil riwayat yang di dalamnya terdapat Fitr, kemudian penahkik kitab, Arnaut 

berkata, “Sanadnya sahih, perawi-perawinya terpercaya, termasuk di antara perawi Bukhari Muslim, selain 

Fitr –yaitu Ibnu Khalifah- dia termasuk perawi kitab-kitab Sunan.”106 

Perawi Rafidhah dalam Shahîh Bukhari dan Muslim 

1.    Abbad bin Ya’qub Al-Asadi 

Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahîh-nya,  

خبرنا عباد بن العوام، عن الشيباني، عن الوليد 

 

سدي ا

 

حدثني سليمان، حدثنا شعبة، عن الوليد، و حدثني عباد بن يعقوب اال

بي عمرو الشيباني، عن ابن مسعود رضي هللا 

 

فضل؟ بن العيزار، عن ا

 

عمال ا

 

ي اال

 

ل النبي صلى هللا عليه و سلم ا

 

ن رجال سا

 

عنه: ا

 قال )الصالة لوقتها و بر الوالدين ثم الجهاد في سبيل هللا(

“Telah menyampaikan kepadaku Sulaiman dari Syu’bah dari Al-Walid, dan telah menyampaikan 

kepadaku Abbad bin Ya’qub Al-Asadi dari Abbad bin ‘Awam dari Syaibani dari Al-Walid bin Aizari 

dari Abu Amar Al-Syaibani dari Ibnu Mas’ud…….(kemudian menyebutkan lafadz 

hadisnya).”107 

 

Siapakah pribadi Abbad Bin Ya’qub Al-Asadidalam pandangan ulama hadis?  

بو سعيد، الكوفي: يروي عن

 

 شريك  عباد بن يعقوب الرواجني، ا

 قال ابن حبان: كان رافضيا، داعيا يروي المناكير عن المشاهير فاستحق الترك.

هل البيت، و ما له غيرهم. و قال الدارقطني ليس بضعيف, قال 

 

نكرت عليه في فضائل ا

 

حاديث ا

 

و قال ابن عدي: روى ا

خرج عنه البخاري 

 

 المصنف قلت: قد ا

Abbad bin Ya’qub Al-Asadi. Ia meriwayatkan hadis dari Syarik. Ibnu Hibban berkata, “Dia  

seorang Rafidhi, yang meriwayatkan (hadis) munkar dari pada yang masyhur, maka (dia) pantas  

diabaikan.”  

Ibnu ‘Adi berkata, “Ia meriwayatkan hadis-hadis munkar tentang keutamaan Ahlul Bait, dan tidak 

memiliki hadis selain itu. 

Al-Daruqutni berkata, “Tidak termasuk daif.” 

Ibnu Jauzi berkata, “Bukhari telah meriwayatkan (hadis) darinya.”108 

Al-Dzahabi berkata, “Abbad bin Ya’qub Al-Asadi Al-Rawajini Al-Kufi seorang dari kelompok Syiah 

yang ghulat, dan salah seorang pemimpin bidah namun  dia jujur dalam hadis. Beliau meriwaytkan hadis 

dari Syarik, Walid bin Abu Tsaur, dan Khalq. Salah satu hadisnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari 

dalam Shahîh-nya bersama hadis lainnya. Al-Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Abu 

Dawud juga meriwayatkan hadis darinya.”109 

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,“Abbad bin Ya’qub Al-Rawajini ….jujur, seorang Rafidhi, yang 

hadisnya terdapat dalam Bukhari.”110 

 

2.     Adi bin Tsabit Al-Anshari Al-Kufi   

Al-Dzahabi Berkata, “Al-Daruqutni yaitu  seorang Imam, hafiz, Syaikh Islam, simbol ahli dalam 

menemukan baik dan buruk sesuatu (‘Alam Al-Jahabidzah), Abul Hasan, Ali bin Umar… Sesungguhnya dia 

memiliki ilmu yang sangat dalam, dan dari Imam dunia, dia yaitu  puncak hafalan dan pengetahuan tentang 

kecacatan hadis sekaligus perawinya.”111 

Dari pernyataan Al-Dzahabi di atas cukup jelas bahwa pengetahuan Daruqutni di dalam ilmu 

hadis, sangatlah mendalam. Oleh sebab itu penilaian dari seorang Daruqutni terhadap sosok perawi, 

sangatlah meyakinkan dan dapat dijadikan sandaran. Sekarang mari kita simak pendapat Daruqutni 

tentang pribadi Adi bin Tsabit Al-Anshari, berikut ini:  

ن

 

حمد و النسائي و العجلي و الدارقطني إال ا

 

نصاري الكوفي التابعي المشهور وثقه ا

 

ه قال كان يغلو في عدي بن ثابت اال

 التشيع

Ibnu Hajar berkata, ”Adi bin Tsabit Al-Anshari Al-Kufi seorang tabi’in yang terkenal, Ahmad, Al-

Nasa’i, Al-Ajuli, dan Daruqutni telah mempercayainya, namun  Daruqutni berkata bahwa dia (Adi bin 

Tsabit) berlebihan dalam kesyiahannya .”112 

 

 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahîh-nya,  

َثَنا ُشْعَبُة َقاَل َاْخَبَرِنى َعِديُّ ْبُن َثاِبت  َقاَل َسِمْعُت َعْبَد هللا اُج ْبُن ِمْنَهال  َقاَل َحدَّ

َثَنا َحجَّ  ْبَن َيِزيَد َعْن َاِبى َمْسُعود  َعِن َحدَّ

ِبى ِ 

 ”ُبَها َفُهَو َلُه َصَدَقٌة.ِإَذا َاْنَفَق الرَُّجُل َعَلى َاْهِلِه َيْحَتِس  ”َقاَل  -صلى هللا عليه وسلم  -النَّ

Telah menyampaikan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menyampaikan kepada kami 

Syu’bah, telah menyampaikan kepada saya Adi bin Tsabit, ia berkata, “Saya mendengar 

Abdullah bin Yazid dari Abu Mas’ud dari Nabi Saw bersabda,…………. (kemudian 

menyebutkan lafadz hadisnya).”113 

 

Kemudian pada kitab yang sama, kitab Al-Âdzân, hadis 769: 

َبَراَء رضى هللا

ْ

، َسِمَع ال َثَنا َعِديُّ ْبُن َثاِبت  َثَنا ِمْسَعٌر، َقاَل َحدَّ ى، َقاَل َحدَّ ُد ْبُن َيْحي  َ

َّ

َثَنا َخال صلى  -ِبىَّ  عنه َقاَل َسِمْعُت النَّ َحدَّ

ِعَشاِء ، َوَما َسِمْعُت َاَحًدا َاْحَسَن َصْوًتا ِمْنُه َاْو ِقَراَءةً  -هللا عليه وسلم 

ْ

ْيُتوِن( ِفى ال يِن َوالزَّ  َيْقَرُا )َوالت ِ

Telah menyampaikan kepada kami Khallad bin Yahya, telah menyampaikan kepada kami 

Mis’ar, telah menyampaikan kepada kami Adi bin Tsabit, saya mendengar Barra’ berkata: 

“Saya mendengar Rasulullah Saw membaca...” (kemudian menyebutkan lafadz hadisnya)  

 

Selain hadis-hadis di atas, nama Adi bin Tsabit juga tersebar di beberapa tempat dalam Shahîh Al-

Bukhârî, misalnya dalam: 

Kitab Al-’Idain, Bab Al-Khutbah ba’da Id, hadis 964, 

Kitab Al-’Idain, Bab Shalat qabla ‘Id wa ba’daha, hadis 989, 

Kitab Al-Janâiz, Bab Ma Qila fi Auladi Al-Muslimin, hadis 1382, 

Kitab Al-Hajj, Bab Man Jama’a bainahuma wa lam Yatathawwa’,hadis 1674 dan selainnya. 

Sebenarnya masih banyak lagi riwayat Adi bin Tsabit dalam Shahîh Al-Bukhârî. Namun, tidak 

disebutkan seluruhnya di sini. 

 

 

3. Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus 

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyebutkan: 

 عبد هللا بن عبد القدوس التميمي السعدي الكوفي صدوق رمي بالرفض

“Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus Al-Tamimi, Al-Sa’di, Al-Kufi jujur dan dituduh Rafidhi.”114 

 

Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl, berkata, “Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus seorang Kufah yang 

Rafidhi.“ Al-Dzahabi juga mengutip pendapat para ulama hadis lainnya tentang sosok Abdullah bin 

‘Abd Al-Quddus. Di antaranya; Ibnu ‘Adi berkata, “Secara umum yang diriwayatkan olehnya tentang 

keutamaan Ahlul Bait.” Yahya berkata, “Tidak bernilai sedikit pun, dia seorang Rafidhi yang berlebihan.” Al-

Nasa’i berkata, “Tidak tsiqah.” Al-Daraquthni berkata, “Lemah.” Abu Ma’mar berkata, “Dia seorang 

khasyabiy (Rafidhi).”115 

berdasar  kesaksian Ibnu Hajar dan selainnya, tampak jelas bahwa Abdullah bin ‘Abd Al-

Quddus yaitu  seorang Rafidhi. Lalu adakah nama Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus di dalam Shahîh 

Al-Bukhârî? Imam Bukhari untuk memberikan penjelasannya sendiri.  

 

Imam Bukhari di dalam Kitab Shahîh meriwayatkan hadis: 

عمش، عن مجاهد، 

 

دم، حدثنا شعبة، عن اال

 

عن عائشة رضي هللا عنها قالت: قال النبي صلى هللا عليه و سلم )ال حدثنا ا

عمش.

 

فضوا إلى ما قدموا(.و رواه عبد هللا بن عبد القدوس عن اال

 

موات فإنهم قد ا

 

 تسبوا اال

Rasulullah Saw bersabda……… (menyebutkan lafadz ha-disnya) diriwayatkan oleh 

Abdullah bin ‘Abd Al-Quddus dari Al-A’masy…….116 

 

4. Yahya bin Al-Jazzar Al-‘Urani 

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan, 

 يحي  ى بن الجزار العرني ...هو صدوق رمي بالغلو في التشيع

“Yahya bin Al-Jazzar Al-’Urani, Al-Kufi. Terpercaya, dia dituduh dengan berlebihan dalam 

kesyiahan(ghulat).”117 

Sementara Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl menyatakan, ”Yahya bin Al-Jazzar meriwayatkan dari 

Ali. Dia seorang yang jujur lagi terpercaya. Al-Hakam bin ‘Utaibah mengatakan bahwa dia seorang yang 

berlebihan dalam Syiah.”118 

Imam Muslim di dalam Shahîh-nya, kitab Al-Masjid wa Mawadhi’ Al-Shalah, menyebutkan sebuah 

hadis: 

ى بن الجزار عن علي  َو حدثناه ابو بكر بن ابي شيبة، و زهير بن حرب، قاال: حدثنا وكيع، عن شعبة، عن الحكم، َعْن َيْحي  َ

... 

“Telah menyampaikan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, Telah 

menyampaikan kepada kami Waqi’ dari Syu’bah dari Al-Hakam dari Yahya bin Al-Jazzar dari 

Ali....”(kemudian menyebutkan lafadz riwayatnya).”119 

 

Kemudian Imam Muslim dalam Shahîh-nya pula, kitab Shifah Al-Qiyamah wa Al-Jannah 

menyebutkan salah satu hadis: 

َثَنا شُ  ، َحدَّ ٌد اْبَن َجْعَفر 

َثَنا ُمَحمَّ : َحدَّ

َ

، َقاال ار 

ُد اْبُن َبشَّ ى، َو ُمَحمَّ ُمَثنَّ

ْ

ُد ْبُن ال َثَنا ُمَحمَّ َثَنا َاُبو َبَكر  بِن َابي شيبَحدَّ

ة، ْعَبَة ح َو َحدَّ

َثَنا ُغنَدر، عن ُشْعَبَة، عن قتادة، عن عزرة، عن الحسن العرني، عن يحي  ى بن الجزار، عن عبد الرحمن -و اللفظ له  - ، َحدَّ

بي ليلى، عن ُابي بن كعب، في قوله عز و جل: ...

 

 بن ا

“Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dan Muhammad bin 

Bassyar. Keduanya berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah 

menyampaikan kepada kami Syu’bah sebuah hadis dan menyampaikan kepada kami Abu 

Bakar bin Abu Syaibah,      - dan lafazhnya berasal darinya -. Gundar menyampaikan kepada