kami, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari ‘Azrah, dari Al-Hasan Al-’Urani, dari Yahya bin Al-
Jazzar, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Ubay bin Ka’ab, tentang firman Allah ‘Azza wa
Jalla…”120
5. Sulaiman bin Qarm
Ibnu Hibban di dalam kitab Al-Majrûhîn min Al-Muhadditsîn menyatakan,
خبار مع ذلك.
سليمان بن قرم الضبى ... كان رافضيا غاليا في الرفض، و يقلب اال
“Sulaiman bin Qarm Al-Dhabbi..............dia seorang Rafidhi yang berlebihan dalam
kesyiahannya, bahkan menukar hadis.”121
Ibnu ‘Adi Al-Jurjani dalam kitab Al-Kâmil f î Dhu’afâ’Al-Rijâl menyatakan, “...dan di dalam
hadis-hadis ini yang mana dia berpatisipasi meriwayatkannya dan menunjukkan gambaran dari
pribadinya, sesungguhnya dia berlebihan dalam kesyiahannya (ghulat).”122
Selain mengutip kedua ulama hadis di atas, Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl menyatakan,
“Sulaiman bin Qarm, Abu Dawud Al-Dhabbi Al-Kufi. Beliau meriwayatkan dari Tsabit, Al-A’masy
dan selainnya. Disebut juga Sulaiman bin Mu’adz sebab dinasabkan kepada kak eknya. Jadi, beliau
yaitu Sulaiman bin Qarm bin Mu’adz Al-Kufi. Abu Hatim berkata, “Tidak kuat.” sedang
Ahmad bin Hanbal berkata, “Tsiqah.” Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad.123
Sulaiman bin Qarm sebagai sorang Rafidhi ternyata yaitu salah seorang perawi yang dipercaya
oleh Imam Bukhari dalam Shahîh-nya. Di antaranya, dia membawakan sebuah hadis dengan dua
rangkaian sanad berbeda:
دم عن إسرائيل عن منصور عن إبراهيم عن علقمة عن عبد هللا قال ...
خبرنا يحي ى بن ا
حدثنا عبدة بن عبد هللا ا
بو عوانة عن و عن
عمش عن إبراهيم عن علقمة عن عبد هللا مثله. قال و إنا لنتلقاها من فيه رطبة. و تابعه ا
إسرائيل عن اال
سود عن عبد هللا
عمش عن إبراهيم عن اال
بو معاوية و سليمان بن قرم عن اال
مغيرة، و قال حفص و ا
“Telah menyampaikan kepada kami Abdah bin Abdullah, Telah menyampaikan kepada kami
Yahya bin Adam, dari Israil dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah berkata,
“.......... (kemudian menyebutkan lafadz riwayatnya).”
Adapun hadis yang sama dengan sanad yang lain yaitu, “Dari Israil dari Al-A’masy dari Ibrahim
dari ‘Alqamah dari Abdullah, juga dari Aswad bin ‘Amir dari Israil..”
“sedang Hafsh, Abu Muawiyah dan Sulaiman bin Qarm meriwayatkan dari A’masy dari
Ibrahim dari Al-Aswad dari Abdullah.”124
بي وائل قال قال عبد هللا بن مسعود رضي هللا عنه : ...
عمش عن ا
حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا جرير عن اال
بي وائل عن عبد هللا عن النبي صلى هللا عليه و سلم
عمش عن ا
بو عوانة عن اال
تابعه جرير بن حازم و سليمان بن قرم و ا
“Telah menyampaikan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menyampaikan kepada kami
Jarir dari Al-A’masy dari Abu Wail berkata, Abdullah bin Mas’ud berkata.......sanad lain dari
Jarir bin Hazim juga Sulaiman bin Qarm dan Abu Awwanah dari Al-A’masy dari Abu Wail
dari Abdullah dari Nabi Saw…”(kemudian menyebutkan lafadz hadisnya)125
Imam Muslim di dalam Kitab Shahîh meriwayatkan,
َثِنيِه ِبْشُر ْبُن خَ ، ح َو َحدَّ َثَنا اْبُن َاِبى َعِدي َحدَّ
َ
، َقاال ار
ى َواْبُن َبشَّ ُمَثنَّ
ْ
ُد ْبُن ال َثَنا ُمَحمَّ ٌد َحدَّ ، َاْخَبَرَنا ُمَحمَّ ر َيْعِنى اْبَن َجْعفَ -اِلد
َثَنا ُسَلْيَماُن ْبُن َقْرم جَ -
اِب، َحدَّ َجوَّ
ْ
َثَنا َاُبو ال ، َحدَّ َثَنا اْبُن ُنَمْير
ُهَما َعْن ُشْعَبَة، ح َو َحدَّ
َ
، ِكال ِميًعا َعْن ُسَلْيَماَن، َعْن َاِبى َواِئل
ِبى ِ
ِبِمْثِلِه. -صلى هللا عليه وسلم-َعْن َعْبِد هللِا، َعِن النَّ
“Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Bassyar, telah
menyampaikan kepada kami Ibnu Adi.......”
Sanad lain, “Telah menyampaikan kepada kami Bisyr bin Khalid dan Muhammad (Ibnu
Ja’far) dari Syu’bah……….”
Sanad yang lain, “Telah menyampaikan kepada kami ibnu Numair, Telah menyampaikan
kepada kami Abul Jawwab Telah menyampaikan kepada kami Sulaiman bin Qarm dari
Sulaiman dari Abu Wail dari Abdullah dari Nabi Saw..... (kemudian menyebutkan lafadz
hadisnya).”126
Dan yang paling menarik yaitu sorang Rafidhi bernama Ubaidullah bin Musa di samping sebagai
perawi yang mendapat kepercayaan dari Imam Bukhari, beliau ternyata merupakan salah seorang dari
guru utama Imam Bukhari. Berikut penjelasannya:
6. Ubaidullah bin Musa Al-Abusi
بو
بو حاتم وابن معين ... وقال ا
عبيد هللا بن موسى الَعبِسي الكوفي شيخ البخاري ثقة في نفسه لكنه شيعي متحرق وثقه ا
داود كان شيعيا متحرقا
Al-Dzahabi berkata, “Ubaidullah bin Musa Al-’Abusi Al-Kufi, guru Al-Bukhari, dia terpercaya,
akan namun dia seorang Syiah yang berlebihan, dan Abu Hatim dan Ibnu Ma’in mempercayainya.
Abu Dawud berkata, “Sesungguhnya dia Syiah yang berlebih-an.”127
Al-Dzahabi juga berkata di kitab yang lain,
“Ubaidullah bin Musa bin Abul Mukhtar, seorang imam, hafiz, ahli ibadah, gelarnya Abu Muhammad Al-
’Abusi, tuannya orang Kufah.”
Imam Ahmad meriwayatkan sedikit hadis darinya, sebab Imam Ahmad membenci bidah yang ada
pada keyakinannya.”
Aku (Al-Dzahabi) berkata, “Beliau yaitu ahli ibadah yang saleh, pemberani, berakhlaq mulia
namun Syiah yang malang. sebab dia mempelajarinya dari penduduk yang berpegang kepada bidah.”
Ibnu Mandah berkata, “Ahmad bin Hanbal menunjukkan Ubaidullah sebagai seorang Rafidhi,
sebab tidak membiarkan se-seorang bernama Muawiyah memasuki rumahnya.”128
Ubaidillah bin Musa dalam beberapa hadis ShahîhAl-Bukhari di bawah ini:
َثَنا ُعَبْيُد هللِا ْبُن ُموَسى َقاَل: َاْخَبَرَنا َحْنَظَلُة ْبُن َاِبى ُسْفَياَن َعْن ِعْكِرَمَة ْبِن َخاِلد َعِن ابْ َقاَل َقاَل -رضى هللا عنهما -ِن ُعَمَر َحدَّ
.....-صلى هللا عليه وسلم -هللِا َرُسوُل
“Telah menyampaikan kepada kami Ubaidullah bin Musa, telah menyampaikan kepada kami
Hanzhalah bin Abi Sufyan, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar berkata: “Rasulullah Saw
bersabda………”(kemudian menyebutkan lafadz hadisnya).129
Imam Bukhari di dalam Kitab Shahîh-nya, membawakan sebuah hadis,
َبْيرِ َثَنا ُعَبْيُد هللِا ْبُن ُموَسى َعْن ِإْسَراِئيَل َعْن َاِبى ِإْسَحاَق َعِن ااَلْسَوِد َقاَل َقاَل ِلى اْبُن الزُّ ...َحدَّ
“Telah menyampaikan kepada kami Ubaidullah bin Musa, dari Israil dari Abu Ishaq dari Al-Aswad,
“Telah berkata kepadaku Ibnu Zubair,……”(kemudian menyebutkan riwayatnya)130
َثَنا ِهَشاُم ْبُن ُعْرَوَة َعْن َاِبيِه َعْن ُعَمَر َثَنا ُعَبْيُد هللِا ْبُن ُموَسى َقاَل َحدَّ ْبِن َاِبى َسَلَمَة ..َحدَّ
“Telah menyampaikan kepada kami Ubaidillah bin Musa, “Telah menyampaikan kepada
kami Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Umar bin Abi Salamah, …….…”(kemudian
menyebutkan lafadz riwayatnya)131
Semua ini hanya merupakan contoh perawi yang dituduh Rafidhi yang terdapat dalam Bukhari
dan Muslim, sementara masih ba-nyak lagi yang lainnya.
Meskipun dinyatakan sebelumnya bahwa riwayat yang datang dari Syiah dapat diterima,
sementara dari Rafidhi wajib ditolak, (artikel Panduan MUI), namun demikian ada baiknya jika
disimak terlebih dahulu pernyataan dari Ibnu Taimiyah dan Al-Dzahabi tentang kelompok Syiah
yang bukan Rafidhi.
Ibnu Taimiyahdalam Majmû’ Fatâwâ mengatakan,
نه كان منافقا زنديقا ثم الشيعة لما حدثوا لم يكن الذي ابتدع التشيع قصده الدين، بل كان غرضه فاسدا، و
قد قيل ا
حاديث الصحيحة، و لهذا ال يوجد
فاصل بدعتهم مبنية على الكذب على رسول هللا صلى هللا عليه و سلم، و تكذيب اال
ك ثر مما يوجد فيهم، بخالف الخوارج فإنه ال يعرف فيهم من يكذب
مة من الكذب ا
فى فرق اال
“Kemudian Syiah saat mereka meriwayatkan hadis, bukanlah tujuannya agama akan namun mereka
mengedepankan kesyiahannya bahkan tujuannya yaitu kerusakan. Telah dikatakan, ‘Sesungguhnya
mereka yaitu munafik, zindik, asas bidah. Mereka yaitu kebohongan mengatasnamakan Rasulullah
Saw dan mendustakan hadis-hadis sahih, oleh sebab itu tidak ditemukan dalam kelompok umat
kebohongan yang lebih banyak dari yang ditemukan dalam kelompok mereka (Syiah). Berbeda dengan
Khawarij, sebab sesungguhnya Khawarij tidak didapati pada mereka seorang pendusta.’”132
Dalam kitab yang sama:
كذب الحديث
صح الحديث و حديث الشيعة من ا
و الخوارج صادقون فحديثهم من ا
“…….dan Khawarij yaitu orang-orang yang terpercaya, maka hadis mereka termasuk paling
sahihnya hadis, dan hadis Syiah termasuk paling dustanya hadis.”133
Pandangan Ibnu Taimiyah begitu jelas bahwa ia menolak periwayatan hadis yang berasal dari
kalangan Syiah namun memberi pujian serta penerimaannya atas hadis yang berasal dari golongan
Khawarij, sebuah sekte radikal pengusung ideologi takfiri ekstrem.
Di tempat yang lain Ibnu Taimiyah menuliskan di dalam kitabnya, “Sesungguhnya Hakim
dinisbatkan kepada Syiah, sebab dia pernah diminta untuk meriwayatkan hadis tentang keutamaan Muawiyah,
lalu dia berkata, ‘Tidak didapati di dalam hatiku (hadis tentang keutamaannya),’ maka orang-orang
memukulinya, tetap dia tidak meriwayatkannya, sedang dia telah meriwayatkan 40 hadis daif bahkan hadis
palsu dalam pandangan ulama hadis (tentang keutamaan Ali), seperti sabda Nabi Saw, ‘Ali akan memerangi
kaum-kaum yang melanggar (Nakitsin), para penyimpang (dari kebenaran) dan kaum yang sesat.’ Akan namun
kesyiahan yang ada di diri Al-Hakim dan selainnya dari para Ulama hadis seperti Al-Nasa’i, Ibnu Abdil Barr
dan selainnya, tidak sampai mengutamakannya (mengutamakan Ali) di atas Abu Bakar dan Umar.’”134
sesudah kita melihat bagaimana penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya tentang Syiah (yang
bukan Rafidhah) ini . Ternyata kita dapati bahwa Ibnu Taimiyah menyebutkan nama beberapa
ulama terkemuka, di antaranya yaitu Al-Hakim, Al-Nasa’i, dan Ibnu Abdil Bar sebagai para Syiah
yang bukan Rafidhi. Oleh sebab itu, sebuah keharusan dan merupakan konsekuensi logis bagi para
pengikut dan penyokong Ibnu Taimiyah untuk tidak lagi berhujjah dan berdalil dengan riwayat yang
di dalamnya terdapat nama ulama-ulama yang sangat dihormati oleh kalangan Muslimin ini
(Al-Hakim, Al-Nasa’i, dan Ibnu Abdil Bar). Sebab menurut Ibnu Taimiyah, mereka tak lain yaitu
para pendusta atas nama Rasulullah Saw yang kedustaannya tentang hadis tidak ada yang melebihi
mereka.
Oleh sebab itu, sekarang mari lihat predikat lain yang juga diberikan kepada Syiah (yang bukan
Rafidhah) dalam kitab berikut:
Al-Dzahabi dalam Mîzân Al-I’tidâl, menyebutkan tentang biografi Aban bin Taghlib Al-Kufi:
بان بن تغلب الكوفى شيعي جلد، لكنه صدوق، فلنا صدقه و عليه بدعته. -
ا
ورده ابن عدى، و قال: كان غاليا في التشيع.
بو حاتم، و ا
حمد بن حنبل، و ابن معين، و ا
و قد وثقه ا
و قال السعدى: زائغ مجاهر.
ن يقول: كيف ساغ توثيق مبتدع وحد الثقة العدالة و
االتقان؟ فكيف يكون عدال من هو صاحب بدعة؟ و جوابه فلقائل ا
و كالتشيع بال غلو وال تحرف، فهذا ك ثير في التابعين و تابعيهم مع
ن البدعة على ضربين: فبدعة صغرى كغلو التشيع، ا
ا
ثار النبوية، و هذه مفسدة بينة.
الدين و الورع و الصدق. فلو رد حديث هؤالء لذهب جملة من اال
“Aban bin Taghlib Al-Kufi keras kesyiahanya, namun dia terpercaya / jujur, maka bagi kami
kejujurannya dan baginya bidahnya.”
Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in dan Abu Hatim telah menganggapnya tsiqah. Ibnu Adi
berpendapat tentangnya, “Dia berlebihan dalam kesyiahannya.”
Al-Sa’diy berkomentar, “Dia menyimpang secara terang-tera nga n.”
Jika ada yang berkata, “Bagaimana dibolehkan mempercayai pelaku bidah dengan menghukuminya
tsiqah, adil dan sempurna? Bagaimana pelaku bidah dapat dikatakan adil?”
Maka jawabnya, “Sesungguhnya bidah ada dua bagian;
Bidah kecil, seperti Syiah yang berlebihan (ghuluw; ekstrem) atau pun Syiah tidak berlebihan serta tidak
menyimpang. Hal semacam ini banyak dari kalangan tabi’in dan para pengikut tabi’in dalam sikap
beragama, sifat wara, dankejujuran. Jikalau hadis-hadis me-reka ditolak, maka hilanglah sejumlah
besar Sunnah Nabi, dan hal ini merupakan kebinasaan yang nyata.”
Bidah besar, seperti Rafidhah yang mutlak dan ekstrem di dalamnya. Juga merendahkan Abu Bakar dan
Umar ra dan mengajak orang lain ke dalamnya. Jenis seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah dan
kemuliaan.”135
Dalam hal ini, Al-Dzahabi telah mengakui bahwa Syiah yang berlebihan juga dapat diterima
riwayatnya, demi menjaga Sunnah-sunnah Nabi Saw dari kepunahan. Namun sayangnya, mengapa
dalam hal lain seorang Syiah justru dikatakan sebagai pelaku bidah? Sebab, bagaimana mungkin
seorang pelaku bidah (pembohong) dapat dipercaya? Meskipun dengan argumen bahwa bidahnya
tergolong ke dalam bidah yang paling kecil? Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa setiap
jenis bidah yaitu kesesatan.
Oleh sebab nya, telah terbantahkan pernyataan yang mengata-kan bahwa riwayat yang di
dalamnya terdapat perawi Rafidhi maka wajib ditolak.
Perawi Nashibi Tertolak
Jika kategorisasi Syiah moderat dan Syiah Rafidhah pada perawi hadis dapat diterima, maka hal
itu juga dapat berlaku pada perawi hadis dari penganut Sunni. Ada yang moderat di satu sisi dan
banyak dari perawi hadis yang mengafirkan Syiah dan melaknat Imam Ali. Namun begitu, perawi
hadis yang melaknat Imam Ali justru banyak dijumpai pada Kutub Al-Sittah, padahal jelas-jelas
mereka telah mencederai kehormatan seorang sahabat utama sekaliber Imam Ali.
Pengertian Nashibi:
Al-Dzahabi dalam Kitab Siyâr A’lâm Al-Nubalâ menulis,
مية ماضيهم و باقيهم، و اعتقاده لصحة إمامتهم، حتى لنسب إلى النصب.
نه تشيعه المراء بني ا
و كان مما يزيد في شنا
Al-Dzahabi berkata, ”Adapun sesuatu yang menambah keburukannya yaitu loyalitas Ibnu Hazm
kepada pembesar Bani Umayyah, dari awal hingga akhir. Dan keyakinannya bahwa kepemimpinan
mereka itu sah, sebab itu, Ibnu Hazm dituduh sebagai nashibi.”136
و النصب هو: بغض علي رضي هللا عنه، و مواالة معاوية.
Syuaib Al-Arnaut sebagai penahkik kemudian menambahkan dalam catatan kaki,
“Nashibi yaitu orang yang membenci Ali ra dan loyal kepada Muawiyah bin Abi Sufyan.”
Menghina dan mencaci sahabat mungkin merupakan “sunnah” yang berasal dari Muawiyah dan
Umawiyun. Berikut yaitu salah satu bukti kebencian Muawiyah kepada Ali bin Abi Thalib:
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahîh:
با التراب ؟ .....
ن تسب ا
بي سفيان سعدا فقال ما منعك ا
مر معاوية بن ا
بيه قال ا
بي وقاص عن ا
عن عامر بن سعد بن ا
Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas dari ayahnya dia berkata, “Muawiyah telah memerintahkan
Sa’ad, apa yang mencegah anda tidak mencaci-maki Abu Turab?137
Sementara itu, dalam riwayat lain Rasulullah Saw juga telah menegaskan bahwa siapa saja yang
mencaci maki Ali bin Abi Thalib, sama halnya dengan mencaci maki Rasulullah Saw, sebagaimana
dinukil oleh beberapa penulis kitab hadis berikut ini:
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain meriwayatkan beberapa hadis yang mirip
redaksinya dan disahihkan oleh Al-Dzahabi, di antaranya yaitu :
Dari Abu Abdillah Al-Jadali berkata, “Aku bertemu Ummu Salamah ra dan ia bertanya
kepadaku, ‘Pernahkah Rasulullah dicaci-maki di hadapan kalian?’ Aku menjawab, ‘Aku berlindung
kepada Allah.’ Lalu Ummu Salamah berkata, ‘Aku mende-ngar Rasulullah Saw bersabda,
‘Barang siapa mencaci-maki Ali berarti telah mencaciku.’”
Ummu Salamah berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barang siapa mencaci-maki
Ali berarti telah mencaci-maki aku, barang siapa mencaci-maki aku berarti telah mencaci-maki Allah.’”
Dari Abu Dzar ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah.
Barang siapa durhaka kepadaku berarti ia durhaka kepada Allah. Barang siapa taat kepada Ali berarti
ia taat kepadaku. Barang siapa durhaka kepada Ali ber-arti ia durhaka kepadaku.”138
Al-Hakim berkata, ”Hadis ini sanadnya sahih dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak
meriwayatkannya.”
Al-Dzahabi berkata, ”Sahih.”
Tampaknya telah jelas yang dimaksud ucapan Rasulullah Saw tentang pribadi Ali bin Abi Thalib.
Sebaliknya Ibnu Taimiyah menggambarkan Ali bin Abi Thalib secara berbeda:
Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Kitab Minhâj Al-Sunnah,
ن تكون رعية معاوية خيرا من رعية عليلمعاوية ما لم تنتظم لعلي فيلزم
ا
”Kondis i politik lebih tertata pada masa kepemimpina n Muawiyah daripada masa Ali,
sebab itu, wajib menganggap para pejabat Muawiyah lebih baik daripada para pejaba t
Ali.”139
Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seandainya dibolehkan bagi Rafidhi untuk
mengatakan, sesungguhnya ini (Muawiyah) yaitu orang yang mencari kekayaan serta kedudukan,
maka Nashibi juga boleh mengatakan Ali yaitu orang yang zalim, yang mencari kekayaan dan
kedudukan, Ali berpe- rang untuk meraih kekuasaan, sehingga orang Islam berperang satu sama
lain, sementara dia belum pernah membunuh orang-orang kafir, dan sepanjang kekuasaannya tidak
membawa keberhasilan apa pun bagi muslimin kecuali keburukan dan fitnah dalam agama dan dunia
mereka.”140
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika Rafidhi berdalil dengan kepopuleran islamnya (Ali), hijrahnya,
serta jihadnya. Maka demi-kian juga islamnya Muawiyah, Yazid, para khalifah Bani Umayyah dan
Bani Abbas. Salat mereka, puasa dan jihad mereka terhadap orang kafir dan Jika Rafidhi mengklaim
salah seorang dari mereka itu munafik, maka orang di luar Rafidhi juga boleh mengatakan munafik
(kepada Ali).”141
Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Nabi meninggalkan Ali di Madinah sebab kebencian Nabi
kepadanya. Jika beliau pergi berperang, beliau menjadikan seseorang sebagai pengganti bagi umatnya,
sementara di Madinah saat itu banyak lelaki mukmin yang mampu mengembannya, akan namun di
perang Tabuk beliau tidak memberi izin untuk siapa pun dan tidak meninggalkan seorang pun
melainkan sebab dia memiliki alasan tertentu atau telah berbuat maksiat…….dan telah diketahui,
sebelumnya Rasulullah Saw telah menjadikan pengganti baginya selain Ali, mereka pun memilik i
kedudukan yang sama dengan Ali, sebab itu, hal ini bukanlah kekhususan bagi Ali. Jikalau dia yaitu
pengganti Rasulullah Saw yang paling utama, niscaya dia tidak akan takut serta menyusul Nabi
dengan menangis.”142
Pernyataan Ibnu Taimiyah dalam membandingkan pengikut Ali dengan selainnya, tanpa
disadari sesungguhnya telah mengarah kepada bentuk penghinaan terhadap pribadi Ali bin Abu
Thalib. Hal ini terjadi lantaran adanya kebencian serta kedengkian yang ada dalam diri Ibnu
Taimiyah. Dan sejatinya ia tak lain yaitu guru sekaligus panutan bagi para pengikutnya yang telah
berani menuding bahwa Ali yaitu seorang munafik.
Bukan hanya itu, komentarnya dalam riwayat di atas juga telah mengatasnamakan orang lain,
bahwa Ali tidak diikutsertakan dalam perang Tabuk sebab kebencian Rasulullah Saw terhadapnya.
Oleh sebab itu, dengan segala sikap Ibnu Taimiyah terhadap Ali ini , bukankah gelar yang layak
disandang oleh Ibnu Taimiyah yaitu Nashibi?
Oleh sebab nya, pertanyaan yang kemudian muncul yaitu , bagaimanakah hukum terhadap
seseorang yang membenci sahabat Nabi Saw? Sebab, bukankah Ali yaitu seorang sahabat, menantu,
dan sekaligus salah satu Al-Khulafa Al-Rasyidun? Apakah hal semacam ini yang diajarkan oleh
seorang Ibnu Taimiyah? Tak heran jika seorang Ibnu Hajar kemudian mengkritik dan menolak cara
berfikir Ibnu Taimiyah yang dianggapnya sangat berlebihan dan melampaui batas, berikut kutipan
dari pernyataan Ibnu Hajar dalam kitabnya:
Ibnu Hajar berkata dalam Lisân Al-Mîzân,“….aku melihat Ibnu Taimiyah di dalam bantahannya,
banyak yang melampaui batas dalam menyanggah hadis-hadis yang dinukil oleh Ibnu Muthahhar
(ulama Syiah), walaupun di dalamnya ba-nyak hadis-hadis palsu, akan namun Ibnu Taimiyah
banyak pula menyanggah hadis-hadis Sahih….. sering kali pendapat yang berlebihan darinya
untuk menyesatkan Rafidhah justru malah mencela keutamaan Ali ra. . .”143
Tidak hanya itu, terdapat pula pernyataan yang sama dari Al-Albani tentang pribadi Ibnu
Taimiyah saat berhadapan dengan riwayat keutamaan Ali bin Abi Thalib berikut:
Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahâdîts Al-Shahîhah:
ن رسول هللا صلى هللا عليه وسلم قال لعلي:
نت ولي كل مؤمن بعدي”ا
شيخ ”. ... ا
ن يتجرا
فمن العجيب حقا ا
“اإلسالم ابن تيمية على إنكار هذا الحديث و تكذيبه في منهاج السنة
Sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Ali, “Kamu yaitu wali setiap orang beriman
sepeninggalku (ba’di).”
Al-Albani berkata, “Benar-benar suatu keanehan bahwa Ibnu Taimiyah sangat berani
mengingkari hadis ini dan mendustakannya dalam kitab Minhaj Al-Sunnah.”144
Al-Albani dalam kitab yang sama juga menyatakan, “Saya melihat Syekh Ibnu Taimiyah
telah mendaifkan bagian awal hadis (man kuntu maulah fa ‘Aliyun maulah – keutamaan untuk
Ali) sedang bagian yang lain, dia meyakininya bahwa hadis ini dusta. Ini di antara
kesimpulan dan penilaian yang berlebihan dari ketergesa-gesaannya dalam mendaifkan hadis-
hadis sebelum dia mengumpulkan dan meneliti jalur-jalurnya terlebih dahulu.”145
Kultus Ali dan Ahlul Bait
Benarkah “kultus” (menyanjung) secara general dan mutlak dilarang? Logiskah memperlakukan
orang yang baik sama dengan orang yang jahat?
Sebagaimana kita ketahui dari karya-karya Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu TaImiyah,
menolak shalawat dengan aksesoris “sayyidina” dan kalimat-kalimat pujian kepada Nabi dan
keluarganya, yang dianggapnya sebagai syirik, pemujaan yang berlebihan. sebab itu, upacara maulid
dan ziarah kubur beliau anggap sebagai bidah.
Tapi, sikap antipemujaan yang digembor-gemborkan oleh gerom-bolan “mazhab horor” ini tidak
tercermin dalam televisi mereka, terutama saat berita seputar raja, emir dan keluarganya. Pembaca
berita harus menunjukkan sikap penghambaan, manakala menyebut sederet pujian dan pujaan
sebelum menyebut namanya, seperti Sumuww Al-Amîr (Paduka Pangeran), Jalâlah Al-Malik (Yang
Dipertuan Agung Raja), Ma’âli Waliy Al-’Ahd (Junjungan Putra Mahkota) dan serumpunnya, lalu
diakhiri dengan kata doa “hafizhahu-Llâh” (semoga Allah melindunginya).
Ternyata dalam Alquran terdapat sejumlah “ayat diskriminasi”. Ini bukan modus liberalisasi teks
suci. Artinya, Allah Swt secara terangan-terangan mengutamakan sekelompok manusia dari yang
lain. Tentu bukan didasarkan pada orang atau alasan-alasan determinan, melainkan berdasar
standar-standar rasional.
Di sisi lain, memperlakukan semua orang secara sama, bukanlah keadilan, malah merupakan
kezaliman. sebab itu sama dengan tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Samakah orang yang berjuang, mengeluarkan pikiran, tenaga, waktu dan harta demi kebaikan
banyak orang dengan orang yang hanya menjadi sekadar “warga negara yang baik”. Tentu tidak.
Allah menegaskan, Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang
tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga)
dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.
(QS. Al-Nisâ’ [4]: 95)
Selain itu, yang berhak mendapatkan perlakuan diskriminatif yaitu orang yang fasik, orang
yang, sebab meragukan akhirat, melakukan korupsi dan memanfaatkan kepercayaan publik sebagai
cara untuk menjadi kaya raya. Orang demikian, selain tidak berhak dihormati mesti dipermalukan.
Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. (QS. Al-
Sajdah [32]: 18). Iman yaitu buah dari pengetahuan yang benar akan Sebab Pengada alam semesta
dan kepastian hari akhir. Iman yang disandang seseorang yaitu alasan rasional untuk dipuja dan
diidolakan, bahkan dikultuskan (meski istilah “kultus” kian kabur).
Pengetahuan benar, yang merupakan sumber iman atau keyakin-an yang benar, juga merupakan
sebuah prestasi yang layak diapresiasi dan tidak boleh sama sekali dianggap sama dengan yang tidak
berprestasi. Apakah (tidaklah) sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.
(QS. Al-Zumar [39]: 9).
Firman-firman Allah diatas dapat dianggap sebagai afirmasi tentang perlunya menjaga
keseimbangan antara kultus dan diskriminasi, antara pemujaan dan penistaan dengan tolok ukur
kerja keras (jihad), iman dan pengetahuan. Pengistimewaan menjadi sah dan perlu, demikian pula
diskriminasi. Islam yang rasional meletakkan segala sesuatu secara proporsional.
Menurut Islam, kelas tidak mutlak dihapus. Namun ia menghapus kelas-kelas sosial berdasar
kekayaan, raga, rupa dan simbol-simbol semu lainnya. Perbedaan pelakuan dan tingkat
penghormatan harus tetap ada agar yang tidak berprestasi dan berbuat zalim tidak merasa benar.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. (QS. Al-Hujurât [49]: 13) Islam mengabadikan hak dan prestasi orang-
orang yang memang layak untuk dipanggil “Yang Mulia”.
Kultus yaitu perlakukan istimewa terhadap orang yang tidak berhak dan layak. Bila orang yang
diperlakukan istimewa memang berhak diistimewakan sebab ketinggian spiritualnya, maka itu
yaitu perlakukan yang adil dan terpuji. Nabi dan para wali yaitu orang-orang yang harus
diistimewakan.
Syiah Buatan Yahudi?
Tuduhan bahwa mazhab syiah yaitu ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’
telah lama diketengahkan kepada warga muslim dan semacam sudah merasuk di tengah
warga bahwa Syiah yaitu ajaran Yahudi Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam
namun bertujuan untuk menghancurkan pega-ngan aqidah umat Islam.
Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri mazhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori
bahwa Ali yaitu washi Muhammad Saw. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibnu Al-
Sawda’ atau Ibnu ‘Amat Al-Sawda’ – anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah bin
Saba’ yaitu satu dongengan (fiktif) semata.
Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ yang terdapat
dalam beberapa kitab Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Thabari (w. 310 H/922 M), Ibnu ‘Asakir (w.
571H/1175 M), Ibnu Abi Bakr (w. 741 H/1340 M) dan Al-Dzahabi (w. 747 H/1346 M). Mereka semua itu
sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ dari satu sumber yaitu; Saif bin Umar Al-Tamimi
dalam artikel nya “Al-Futuh Al-Kabîr wa Al-Riddah dan Al-Jamâl wa Al-Masîr ‘Aisyah wa ‘Ali”. [Murtadha
Askari, Abdullah ibn Saba’ wa Digar Afsanehaye Tarikhi, Tehran, 1360 H].
Saif yaitu seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanya-kan penulis-penulis kitab rijal
seperti Yahya bin Ma’in (w. 233 H/847 M), Abu Dawud (w. 275 H/888 M), Al-Nasa’i (w. 303 H/915 M),
Ibnu Abi Hatim (w. 327 H/938 M), Ibnu Al-Sukn (w. 353 H/964 M), Ibnu Hibban (w. 354 H/965 M), Al-
Daruquthni (w. 385 H/995 M), Al-Hakim (w. 405 H/1014 M), Al-Firuzabadi (w. 817 H/1414 M), Ibnu
Hajar (w. 852 H/1448 M), Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M, dan Al-Safi Al-Din (w. 923 H/1517 M).
Pembahasan Saif bin Umar akan dijelaskan pada bab pembahasan tentang kata Al-Sunnah.
Abdullah bin Saba’, konon seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman , dikatakan
seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat lain untuk
menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Utsman bin ‘Affan.
Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ yaitu sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas
mazhab ghuluw (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah bin Saba’ ini yaitu hasil rekaan
Saif yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat, dan kota lain hasil khayalannya. Dari
cerita Saif inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ ini . Beberapa
orang yang terpengaruh dengan kisah bohong Saif seperti: Said ibn Abdullah bin Abi Khalaf Al-
Asy’ari Al-Qummi (w. 301 H/913 M) dalam artikel nya Al-Maqâlât wa Al-Firâq, Al-Hasan bin Musa Al-
Nawbakhti (w. 310 H/922 M) dalam artikel nya Firâq Al-Syî’ah, dan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (w. 324
H/935 M) dalam artikel nya Maqâlât Al-Islâmiyyîn.
Allamah Al-Askari mengupas hakikat cerita Abdullah bin Saba’ dari riwayat Syiah dari Rijal oleh
Al-Kassyi. Al-Kassyi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d bin Abdullah Al-Asy’ari Al-Qummi yang
menyebut bahwa Abdullah bin Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai
seorang nabi. Hal itu sebab mengikut dua riwayat ini, Ali memerintahkannya menyingkirkan
pahaman ini , dan sebab keengganannya Abdullah bin Saba telah dihukum bakar hidup-hidup.
Walau bagaimana pun menurut Sa’d bin Abdullah, Ali telah menghalau Abdullah bin Saba’ ke
Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali menemui kesyahidannya. Pada saat itu Abdullah bin
Saba’ mengatakan, “Ali tidak wafat, sebaliknya, ia akan kembali semula ke dunia.”
Al-Kassyi, sesudah meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba’
menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang pertama yang
mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman
bakar hidup-hidup yaitu satu perkara bidah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda
antara mazhab Syiah atau pun Sunnah.
Kisah ini tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang
masyhur seperti Ibnu Al-Khayyat, Al-Ya’qubi, Al-Thabari, Al-Mas’udi, Ibnu Al-Atsir, Ibnu Katsir
atau Ibnu Khaldun. Peran yang dimainkan oleh Abdullah bin Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan
Utsman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali tidak pernah disebut oleh para penulis yang
terdahulu se-perti Ibnu Sa’ad (w. 230 H/844 M), Al-Baladzuri, (w. 279 H/892 M) atau Al-Ya’qubi.
Hanya Al-Baladzuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam artikel Ansâb Al-Asyrâf saat
meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali. Al-Baladzuri berkata, “Hujr bin ‘Adi Al-Kindi, Amr bin
Al-Hamiq Al-Khuza’i, Hibah bin Juwayn Al-Bajli Al-Arani, dan Abdullah bin Wahhab Al-Hamdani – Ibnu
Saba’ datang kepada Imam Ali dan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan Umar….”
Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M) dalam artikel nya Al-Imâmah wa Al-Siyâsah dan Al-Tsaqafi (w. 284
H/897 M) dalam Al-Ghârât telah menyatakan peristiwa ini . Ibnu Qutaibah memberikan identitas
orang ini sebagai Abdullah bin Saba’. Sa’ad bin Abdullah Al-Anshari dalam artikel nya Al-Maqâlât wa
Al-Firâq menyebutkan namanya sebagai Abdullah bin Saba’ penggagas ajaran Saba’iyyah – sebagai
Abdullah bin Wahb Al-Rasibi. Ibnu Malukah (w. 474 H/1082 M) dalam artikel nya Al-Ikmâl dan Al-
Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam artikel nya Al-Musytabah saat menerangkan perkataan
‘Saba’iyyah’, menyebut Abdullah bin Wahb Al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibnu Hajar dalam
Tansîr Al-Mutanabbih menerangkan bahwa Saba’iyyah sebagai ‘satu kumpulan Khawarij yang
diketuai oleh Abdullah bin Wahb Al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w. 848 H/1444 M) dalam artikel nya Al-Khithât
menamakan tokoh khayalan Abdullah bin Saba’ ini sebagai ‘Abdullah bin Wahb bin Saba’, juga
dikenali sebagai Ibnu Al-Sawda’ Al-Saba’i.
Allamah Askari mengemukakan rasa keheranannya di saat tidak seorang pun dari para penulis
tokoh Abdullah bin Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab
yang pada zamannya memainkan peran penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal
menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. namun dalam
kisah Abdullah bin Saba’, yang dikatakan berasal dari Shan’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya.
Allamah Askari yakin bahwa Ibnu Saba’ dan golongan Sabai’yyah yaitu satu cerita khayalan dari
Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam artikel nya. Walau
bagaimana pun, nama Abdullah bin Wahb bin Rasib bin Malik bin Midan bin Malik bin Nasr Al-Azd
bin Ghauts bin Nubatah bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i
yaitu pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam peperangan Nahrawan saat menentang Imam
Ali.
Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Saif bin Umar
Al-Tamimi) untuk melukiskan pri-badi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah
Ali. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Utsman,
menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali, kemudian dibakar h idup-
hidup oleh Ali atau dihalau oleh Ali dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali. Abdullah
bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup
kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadap-an musuh-musuh
Ali.
Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah yaitu berasal-usul sebagai satu istilah umum
untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab, yaitu Bani Qahthan dari Yaman.
Kemudian disebabkan banyak pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib berasal dari Yaman seperti
‘Ammar ibn Yasir, Malik Al-Asytar, Kumayl bin Ziyad, Hujr bin ‘Adi, ‘Adi bin Hatim, Qays bin Sa’ad
bin ‘Ubadah, Khuzaymah bin Tsabit, Sahl bin Hunayf, Utsman bin Hunaif, ‘Amr bin Hamiq, Sulaiman
bin Surad, Abdullah Badil, maka istilah ini ditujukan kepada para penyokong Ali ini. Justru
Ziyad bin Abihi pada suatu saat mendakwa Hujr dan teman -temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’
Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan
penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman.
sesudah runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu Al-’Abbas Al-
Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada Muslim Syiah yang mempersoalkan hak
Bani Abbas sebagai khalifah kala itu.
Walau bagaimana pun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan
yang sesat. Malah Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin ‘Adi dan teman-temannya sebagai
golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Saif ibn Umar pada
pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat
yang konon dilandaskan oleh tokoh khayalan Abdullah bin Saba’.
Konsep Imamah Buatan Abdullah bin Saba’?
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 24 dan 25 disebutkan: “Kendatipun persoalan imamah
menjadi pokok keimanan Syiah, namun ternyata telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah
Syiah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al-Hasan bin Musa An-Naubakhti, ulama
Syiah yang hidup pada pertengahan abad 3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq as -Syiah (hal. 19-109) telah
menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Di antaranya, sesudah Ali bin Abi
Thalib wafat, menurut an-Naubakhti Syiah terpecah menjadi 3 golongan:
Pertama, kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga dia berhasil
menegakkan keadilan di dunia. Inilah kelompok ekstrem (ghuluw) pertama. Kelompok ini disebut Syiah as-
Sabaiyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’. Mereka yaitu kelompok yang terang-terangan mencaci serta
berlepas diri (bara’ah) dari Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku Ali-
lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini.
Menurut an-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ asalnya beragama Yahudi. saat masuk Islam, ia mendukung
Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri
(bara’ah) dari musuh-musuhnya.
Tanggapan:
Pertama, jauh sebelum isu figur Abdullah bin Saba yang konon hidup semasa Khalifah Utsman,
konsep imamah telah dikemukakan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Sebagai konsep Ilahiyah,
Imamah ada dalam ayat Alquran yang terjaga kesuciannya. Pengangkatan pemimpin (imam) ini
merupakan hak dan kewenangan Allah Swt. Hal itu nyata dijelaskan Alquran tentang kepemimpinan
Ibrahim as dalam firman-Nya:
ِتي َقاَوِإِذ ابْ يَّ ِ
ر
ُ
اِس ِإَماًما َقاَل َوِمْن ذ َك ِللنَّ
ُ
ي َجاِعل ِ
ُهنَّ َقاَل ِإن ُه ِبَكِلَمات َفَاَتمَّ اِلِميَن َتَلى ِإْبَراِهيَم َربُّ
َّ
َيَناُل َعْهِدي الظ
َ
﴾421﴿َل ال
dan (ingatlah), saat Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menu-naikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari
keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’(QS. Al-
Baqarah [2]:124)
Oleh sebab itu, anggapan bahwa konsep Imamah tak lain yaitu ciptaan Abdullah bin Saba’
telah bertentangan dengan Alquran.
Dalam ayat dikatakan Allah berjanji akan memberi gelar imam kepada keturunan Ibrahim as
.Hal ini menunjukkan bahwa Imamah berkesinambungan sampai hari kiamat .(keturunanku) “ذريتي“
Kata “جاعلك” menunjukkan “Ism fâ’il” (subyek/pelaku) yang fungsinya “istimrâriyyah” atau
“berkesinambungan“. Maka, dari ayat ini kita meyakini bahwa bumi Allah tidak akan pernah kosong
dari seorang Imam dari keturunan Ibrahim as.
Kedua, dalam beberapa hadis juga dapat kita temui untuk me-nguatkan konsep ilahiyah ini
seperti, hadis pengangkatan Ali bin Abi Thalib di lembah bernama Ghadir Khum yang akan dibahas
pada bab berikutnya secara terperinci.
Ketiga, adapun pengelompokan dan pembagian Syiah yang dilakukan oleh Al-Naubakhti –
terlepas benar tidaknya – sama sekali tidak dapat menegasikan keberadaan nas pengangkatan para
Imam sesudah Rasulullah Saw. Sebagaimana keimanan atas para Nabi dan keberadaan Allah Swt
dengan dalil yang sangat jelas (aksiomatik), maka dalil-dalil itu tidak mencegah orang-orang untuk
tetap meragukan bahkan menolaknya.
Keempat, dengan mengemukanya isu Imamah justru menunjukkan fakta sejarah adanya konsep
Imamah sejak masa awal Islam.
Siapa Abdullah bin Saba’?
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 25 disebutkan: “Penjelasan An-Naubakhti ini sekaligus
merupakan jawaban terhadap kalangan Syiah serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin Saba
ha-nya tokoh fiktif ciptaan kalangan Ahlu Sunnah yang sumber utamanya dari Thabari melalui satu-satunya
jalur Saif bin Umar At-Tamimy yang dinilai daif (lemah).
Tanggapan:
Sebelumnya perlu diketahui bahwa di kalangan sejarawan dan ulama Syiah sendiri dalam
menilai Abdullah bin Saba’ setidaknya ada dua pendapat:
Pendapat yang menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh fiktif. Pendapat ini dipopulerkan
oleh ulama Syiah kontemporer, seperti Allamah Murtadha Al-’Askari dalam dua karya
monumentalnya, (1. Abdullah bin Saba’: Bahts haula Mâ Katabahu Al-Mu’arrikhûn wa Al-
Mustasyriqûn Ibtidâ’an Min Al-Qarn Al-Tsâni Al-Hijri; 2. Abdullah bin Saba’ wa Asâthîr Al-Ukhrâ);
dan 3. Muhammad Jawad Mughniyah dalam Kitab Al-Tasyayyu’.
Pendapat yang mengakui keberadaan Abdullah bin Saba’ dan menyatakan bahwa dia seorang
yang ghuluw ekstrem bahkan jatuh dalam kekafiran. Hal ini diakui oleh ulama Syiah
terdahulu dalam kitab-kitab mereka, seperti Al-Isfahani, Al-Qummi, dan Al-Kassyi.
Kendati demikian, kedua pendapat ini memiliki keyakinan yang sama bahwa Abdullah
bin Saba’ sama sekali tidak terkait apa pun dengan keberadaan mazhab Syiah , baik sebagai
pengikut apalagi sebagai pendiri mazhab Syiah.
Berikut yaitu hadis yang dinukil dari Imam Al-Baqir serta sikap dan pernyataan beberapa
Ulama Syiah terkait Abdullah bin Saba:
Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Al-Thusi meriwayatkan beberapa hadis perihal
Abdullah bin Saba’ dalam kitabnya, Ikhtiyâr Ma’rifah Al-Rijâl yang terkenal dengan Rijâl Al-
Kassyi. Satu di antaranya ialah hadis dari Abu Ja’far, Imam Muhammad Al-Baqir, bahwa
Abdullah bin Saba’ mengakui dirinya sebagai nabi dan menganggap Amirul Mukminin
sebagai Tuhan yang maha tinggi. Maka sampailah kabar ini kepada Amirul Mukminin
dan beliau memanggilnya dan menanyakannya. Dia (Ibnu Saba’) mengakuinya, “Ya,
engkaulah Dia. Telah datang bisikan ke dalam hatiku bahwa engkau yaitu Allah dan aku seorang
nabi.” Amirul Mukminin berkata, ‘Celakalah engkau! Setan telah menghinakan engkau! Kembalilah
kepada jalan yang benar! Ibumu akan kehilanganmu dan bertaubatlah!’ Namun ia tetap pada
pendiriannya. Maka Amirul Mukminin memenjarakannya, menunggu ia bertaubat hingga
tiga hari, namun ia tetap tak bertaubat. Maka Amirul Mukminin membakarnya dan berkata,
‘Sesungguhnya setan telah merasukinya, mendatanginya dan membisikkan hal itu kepadanya.’”146
Syaikh Al-Thusi berkata, “Abdullah bin Saba’ kembali kufur dan menampakkan sikap ekstrem
(ghuluw).”147
Al-Hilliy memasukkan nama Abdullah bin Saba’ sebagai ghuluw dalam Kitâb Al-Rijâl.148
Al-Mamqaniy berkata, “Para sahabat Ali as berkata, Abdullah bin Saba’ dikembalikan padanya
kekafiran dan ghuluw yang nyata.” Dia juga berkata, ‘Abdullah bin Saba’ ghuluw terlaknat,
Imam Ali membakarnya dengan api, ia mengatakan Ali yaitu Tuhan dan dia sendiri yaitu
Nabi.’ (Tanqîh Al-Maqâl fi ‘Ilm Rijâl 2/183-184).
Shahib Al-Ma’alim, Syaikh Hasan bin Zain Al-Din menga-takan, “Abdullah bin Saba’ ekstrem
terlaknat, Amirul Mukminin Ali membakarnya. Dia (Abdullah bin Saba’) menganggap Imam
Ali sebagai Tuhan dan dia sendiri sebagai Nabi. Semoga Allah melaknatnya.”149
Al-Mazandarani berkata, “Abdullah bin Saba’ lebih layak dikutuk daripada disebut namanya.”150
Sayyid Al-Burujerdi berkata, “Abdullah bin Saba’ yaitu ghulat dan terkutuk, Ali bin Abi Thalib
telah membakarnya, Abdullah bin Saba’ meyakini bahwa Ali yaitu tuhan dan dia sendiri
(Abdullah bin Saba’) yaitu nabi, maka laknat Allah baginya. Dia kembali menjadi kufur dan
menampakkan sikap ekstrem.”151
Selain itu, masih banyak lagi pernyataan para ulama Syiah atas kekafiran Abdullah bin Saba’.
Sikap tegas para ulama di atas menjadi bukti betapa Abdullah bin Saba’ yaitu seorang durjana yang
semua keyakinannya bertolak belakang dengan prinsip-prinsip utama dalam mazhab Syiah dan Islam
itu sendiri.
Syiah Buatan Majusi Persia?
Beberapa orang telah mencampuradukkan antara Republik Islami Iran dengan Syiah. Mereka
mencoba untuk menunjukkan bahwa Syiah yaitu orang-orang Persia yang membenci Arab. Oleh
sebab itu mereka membenci Umar dan beberapa sahabat lainnya. Iran yaitu sebuah negara dan
Syiah yaitu sebuah keyakinan. Keduanya yaitu entitas yang berbeda. Banyak pengikut Syiah yang
bukan orang Iran. Ada pengikut Syiah di Irak, Hijaz (Jazirah Arab), Suriah, Lebanon, dan mereka
semua orang Arab. Selain itu, ada juga Syiah di Pakistan, India, Afrika, Amerika, dan mereka semua
bukan Arab atau Persia.
Lebih lanjut, seluruh dua belas imam Syiah yaitu Arab Quraisy dari Bani Hasyim. Jika Persia
membenci Arab, sebagaimana tuduhan beberapa orang, mereka akan memilih Salman Al-Farisi
sebagai imam, sebab beliau yaitu sahabat besar nabi dan dihormati oleh Syiah maupun Sunni. Di
sisi lain, banyak imam Sunni terkemuka yaitu orang Persia, seperti Abu Hanifah, Al-Nasa’i, Al-
Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-Ghazali, Al-Farabi, dan banyak lainnya.
Jika semua Syiah yaitu orang Persia yang menolak Umar sebab dia telah menghancurkan
kekuatan mereka, bagaimana kita menjelaskan penolakan orang-orang Arab (terhadap Syiah) yang
bukan orang Persia? sebab nya, hal ini yaitu pernyataan yang tidak masuk akal. Orang-orang
ini menolak Umar sebab perannya dalam mengeluarkan Ali dari kepemimpinan sesudah wafatnya
nabi dan juga sebab perselisihan yang tragis.
Memang benar bahwa Syiah, entah mereka Arab atau Persia atau bangsa lainnya, mengikuti
Alquran dan Sunnah Nabi yang disampaikan oleh keluarga beliau, dan menolak alternatif lain.
Meskipun ada kebijakan menindas rezim Umayyah dan Abbasiah selama tujuh abad. Selama periode
itu, mereka mengejar orang-orang Syiah di mana pun. Mereka membunuh, mengusir, menolak hak-
hak mereka, dan berusaha menghancurkan kultur dan warisan intelektual, kemudian menyebarkan
berbagai macam rumor tentang mereka agar orang-orang menjauh darinya. Warisan dari kebijakan
ini masih terasa sampai sekarang.
Dalam literatur Islam otentik mengandung banyak riwayat yang berpihak pada Persia. Di
antaranya:
Shahîh Al-Bukhârî hadis 4897, Abu Hurairah meriwayatkan, “Kami dulu sedang duduk bersama
Nabi, maka surah Al-Jumu’ah diturunkan kepadanya dan (juga) kepada kaum yang lain dari
mereka yang belum berhubungan dengan mereka… (QS. Al-Jumu’ah [62]: 3). Saya berkata,
‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Nabi tidak menjawab sampai saya mengulangi pertanyaan tiga
kali. Pada saat itu, Salman Al-Farisi bersama kami. Maka Rasulullah meletakkan tangannya pada
Salman, berkata, ‘Seandainya iman berada di bintang Tsuraya, maka orang-orang dari orang ini (Persia) yang
akan menggapainya.”
Salman berasal dari sebuah provinsi di Iran bernama Fars, yang saat ini berada di tengah-tengah
Iran. Imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Tirmidzi juga memiliki riwayat yang sama
dengan di atas.
Berbeda Rukun Iman dan Rukun Islam?
Rumusan Rukun Iman dan Rukun Islam yaitu konsensus atau konvensi, sementara
sesungguhnya banyak dasar yang menunjukkan bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam bisa
didefinisikan dan ditetapkan sebagai memiliki jumlah dan kandungan yang berbeda.
Sebagian orang, terutama yang tidak akrab dengan literatur Islam, menganggap “Rukun-rukun
Iman” dan “Rukun-rukun Islam dalam teologi Asy’ariyah sebagai paket yang disepakati baik isi
maupun penafsirannya. Sehingga dijadikan sebagai parameter kesesatan dan kesahihan keyakinan
setiap Muslim.
Pertama:
Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh warga di Indonesia hanyalah
interpretasi spekulatif (pemikiran) yang tidak mewakili pandangan teologi Sunni secara menyeluruh,
sebab Asy’ariyah yaitu salah satu aliran dalam himpunan aliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Aliran teologi Maturidiyah dan Mu’tazilah, yang notabene lebih “Sunni” dari Syiah mempunyai
rumusan sendiri tentang substansi rukun Iman dan rukun Islam yang berbeda dengan rumusan
Asya’riyah.
Ahlul Hadis dan teologi Salafi yang mengaku menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga
memberikan rumusan rinci tentang akidah yang berbeda dengan Asy’ariyah. Sejarah membuktikan
adanya ketegangan berdarah antara penganut Asy’ariyah dan Ahlul Hadis, yang sama-sama Sunni,
dalam sengketa seputar Kalam Allah.
Kedua:
Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh warga Muslim Indonesia sebenarnya
yaitu salah satu penafsiran teologis yang dirumuskan dari sebagian riwayat -riwayat dalam
khazanah hadis dan sunnah.
Dalam literatur hadis Ahlus Sunnah sendiri terdapat banyak riwayat yang menyebutkan versi
berbeda dengan Rukun Iman dan Rukun Islam yang dibakukan dalam teologi Asy’ariah.
Di bawah ini sebagian buktinya, sesuai dengan hadis-hadis sahih di kalangan Ahlus-sunnah:
Hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahîh mereka, bab Al-Imân Mâ
Huwa wa Bayâni Khishâlihi:
Riwayat Imam Bukhari: dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw muncul
di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman
itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya
kepada yang ghaib.’”
Riwayat Imam Muslim: dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw muncul
di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman
itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya
kepada yang ghaib.’” Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Iman itu hanya: (1) Ber-
iman kepada Allah; (2) Kepada para malaikat; (3) Kepada kitab-Nya; (4) Perjumpaan
dengan-Nya; (5) Kepada para rasul. Tidak ada sebutan apa pun tentang kewajiban
percaya kepada Qadha’ dan Qadar.
Hadis sahih dalam riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahîh -nya, bab Al-Amru bi Al-Imân bi-
Llah wa Rasûlihi, berbunyi sebagai berikut, “Aku perintahkan kamu agar mengesakan
keimanan hanya kepada Allah! Tahukah kamu apa iman kepada Allah itu?” Mereka
menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan
sesungguhnya Muhammad yaitu Rasul Allah, menegakkan salat, membayar zakat,
berpuasa di bulan Ramadan dan membayar khumus (seperlima dari
keuntungan/perolehan).’”152
Hadis di atas menegaskan bahwa inti keimanan itu sebagai berikut: 1. Bersaksi tiada
tuhan selain Allah; 2. Dan bersaksi Muhammad yaitu utusan Allah; 3. Menegakkan salat; 4.
Membayar zakat; 5. Berpuasa di bulan Ramadan; 6. Membayar khumus.
Dengan demikian, ketiadaan unsur-unsur tertentu dalam rumusan Rukun Islam dan Rukun Iman
tak niscaya disimpulkan bahwa unsur-unsur ini yaitu prinsip dan parameter mutlak keislaman
dan keimanan seseorang.
Ketiga:
Kata “rukun Iman” dan “rukun Islam” yaitu rumusan yang dibuat berdasar interpretasi
kelompok dan aliran Asy’ariyah, bukan dogma final yang “wajib” diterima tanpa perlu didiskusikan
oleh siapa pun, sehingga tidak akan pernah absah menjadi parameter menilai sesat dan tidak sesat
kelompok lain. Dengan kata lain, tidak mengikuti rumusan teologi Asy’ariyah yang lazim disebut
“Rukun Iman” dan “Rukun Islam” tidak bisa serta merta ditafsirkan sebagai menolak prinsip-prinsip
dasar akidah Islam. Menilai apalagi menyesatkan keyakinan orang yang tidak sama keyakinan
berdasar keyakinan kita sendiri tidaklah bijak dan menghalangi harapan kerukunan antar
Muslim.
Keempat:
Enam rukun iman aliran ini didasarkan pada Alquran. Yang perlu diketahui ialah perbedaan
antara ‘percaya kepada’ dan ‘percaya bahwa’. Semua item dalam rukun iman itu lebih difokuskan
pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan bahwa’. Padahal kepercayaan kepada Allah,
malaikat dan lainnya yaitu buah dari kepercayaan bahwa Allah, malaikat dan lainnya. Inilah
paradoks yang terlewat oleh banyak orang.
Kelima:
Sumber pembentukan rukun iman dalam aliran Asy’ariyah terkesan berasal dari teks suci.
Padahal menjadikan teks sebagai basis untuk merumuskan dasar kepercayaan yang semestinya
merupakan produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi apabila Alquran
dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang merupakan sila pertama dalam rukun iman,
maka konsekuensi logisnya, kepercayaan kepada Alquran mendahului kepercayaan kepada Allah.
Bukankah Alquran diyakini sebagai wahyu Allah sesudah meyakini keberadaan Allah dan sesudah
mengimani orang yang menerimanya (Nabi)? Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh
dengan akal fitri sebelum mempercayai Alquran. Alquran yaitu petunjuk bagi yang telah beriman,
sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya. Alquran yaitu pedoman bagi yang
mengimani Allah dan nabinya. Artinya, Alquran dijadikan seba-gai dasar sesudah memastikan wujud
Allah dan kemestian kenabian Muhammad.
Keenam:
Dalam teologi Asy’ariyah rukun Iman mendahului rukun Islam. Padahal dalam sebuah ayat suci
melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah beriman tapi Nabi Saw diperintahkan
untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam, sebab
iman belum masuk ke dalam hati mereka. Allah berfirman, Orang-orang Arab Badui itu berkata,
“Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’,
sebab iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia
tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurât [49]: 14)
Ketujuh:
Rukun pertama dalam Rukun-rukun Iman yaitu keimanan kepada Allah. Apa maksud dari
kalimat ini? Apakah meyakini keberadaan-Nya saja ataukah keesaan-Nya? Sekadar ‘kata kepada
Allah’ masih menyimpan banyak pertanyaan -pertanyaan. Apakah iman ini berhubungan dengan
‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang ketuhanan’? Persoalan teologi tidak sesederhana yang
dibayangkan oleh sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya (kurang
lebih), Dan sesungguhnya apabila kau (Muhammad) tanyakan mereka, ‘Siapakah yang menciptakan
langit da

