sar pada isterinya itu.
Meskipun Raja Denis seorang pemimpin yang baik,
ia tidak seperti isterinya yang suka berdoa dan
melakukan kebajikan. Sesungguhnya, dosa-dosanya
yang melanggar kemurnian menjadi skandal heboh
di seluruh kerajaannya.
St.
Elizabeth berusaha menjadi ibu yang penuh kasih
sayang bagi anak-anaknya, Alphonso dan
Constance. Ia juga murah hati serta penuh perhatian
pada rakyat Portugal. Meskipun suaminya tidak
setia, Elizabeth terus berdoa agar suatu hari nanti
suaminya itu mengubah perangainya. Elizabeth tidak
mau bersedih dan marah. Ia memperdalam
kehidupan doanya dan ikut dalam spiritualitas
Fransiskan. Lambat-laun, raja mulai tergerak hatinya
oleh kesabaran serta teladan hidup isterinya. Ia
mulai memperbaiki sikap hidupnya. Ia mohon maaf
pada isterinya serta menaruh hormat pada isterinya
itu. Di saat-saat terakhir saat raja terbaring sakit,
ratu tidak pernah beranjak dari sisinya kecuali untuk
pergi Misa. Raja Denis meninggal pada tanggal 6
Januari 1325. Ia menunjukkan tobat mendalam atas
dosa-dosanya dan wafat dalam damai. Elizabeth
hidup hingga sebelas tahun kemudian. Ia melakukan
perbuatan-perbuatan amal kasih dan laku tobat. Ia
merupakan teladan mengagumkan dalam kebaikan
hatinya terhadap orang-orang miskin. wanita
yang lemah lembut ini juga menjadi pendamai dalam
perselisihan antar anggota keluarga maupun antar
negara. St. Elizabeth dari Portugal wafat pada
tanggal 4 Juli 1336. Ia dinyatakan kudus oleh Paus
Urbanus VIII pada tahun 1626. St. Elizabeth dari
Portugal dirayakan setiap tanggal 4 Juli.
“Jika kamu cinta damai, semuanya akan menjadi baik.” ~
Santa Elizabeth
ELISABET dan ZAKARIA (abad ke-1)
yaitu ibu dan ayah dari Santo Yohanes
Pembaptis (lihat Injil Lukas bab 1)
P: 5 Nopember
SANTA ELIZABETH BICHIER (1773-26
Agustus 1838)
Elizabeth dilahirkan pada tahun 1773. saat
masih kanak-kanak, permainan kesukaannya ialah
membuat benteng-benteng di pasir. Bertahun-tahun
kemudian, wanita Perancis yang kudus ini memikul
tanggung jawab pembangunan biara-biara bagi ordo
para biarawati yang didirikannya. “Aku rasa
membangun memang dimaksudkan untuk menjadi
pekerjaanku,” katanya bergurau, “sebab aku telah
memulainya sejak masih kanak-kanak!”
Sesungguhnya, hingga tahun 1830, yaitu delapan
tahun sebelum wafatnya, Elizabeth telah mendirikan
lebih dari enam puluh biara.
Selama masa Revolusi Perancis, keluarga
Elizabeth kehilangan segala harta milik mereka. Hal
ini terjadi sebab kaum
republik menyita harta milik
para bangsawan. namun ,
gadis muda berusia sembilan
belas tahun yang sangat
pandai ini belajar hukum
agar dapat memenangkan
kasus keluarganya di
pengadilan. saat Elizabeth
berhasil memenangkan
perkaranya dan
menyelamatkan keluarganya
dari kehancuran, tukang
sepatu desa berseru,
“Sekarang, satu-satunya hal
yang perlu engkau lakukan
yaitu menikah dengan seorang kaum Republik
yang baik!” Namun demikian, Elizabeth tidak
memiliki niat untuk menikah dengan siapa pun,
entah dari kalangan republik atau pun dari kalangan
bangsawan. Di balik sebuah gambar Bunda Maria, ia
menulis, “Aku embaktikan serta mempersembahkan
diriku kepada Yesus dan Maria untuk selama-
lamanya.”
Dengan bantuan St. Andreas Fournet,
Elizabeth membentuk suatu ordo religius baru yang
diberi nama Putri-putri Salib. Ordo baru ini berkarya
dengan mengajar anak-anak dan melayani orang
sakit. Elizabeth siap menghadapi segala bahaya
demi menolong sesama. Suatu saat ia mendapati
seorang gelandangan terbaring sakit di sebuah
gudang. Ia membawanya ke rumah sakit biara dan
melakukan segala yang ia mampu untuknya hingga
gelandangan itu meninggal dunia. Keesokan
paginya, kepala polisi datang memberitahu bahwa ia
ditangkap sebab melindungi seseorang yang
diyakini sebagai seorang penjahat. Elizabeth tidak
takut, “Aku hanya melakukan apa yang mungkin
engkau sendiri akan lakukan, Tuan,” katanya. “Aku
menemukan orang sakit yang malang ini, dan
merawatnya hingga ia meninggal. Aku siap untuk
mengatakan kepada hakim apa yang telah terjadi.”
Tentu saja, kejujuran dan belas kasihan santa kita
ini mendapat banyak simpati. Orang banyak
mengagumi jawaban-jawabannya yang jujur, tegas
dan jelas.
Sahabat yang membantunya mendirikan
ordo, St. Andreas Fournet, wafat pada tahun 1834.
St. Elizabeth menulis kepada para biarawatinya,
“Inilah kehilangan kita yang paling besar dan paling
menyedihkan.” St. Elizabeth wafat pada tanggal 26
Agustus 1838. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius
XII pada tahun 1947.
ELLA ASHEBA (KALEB)
Raja Etiopia ini memerangi dan memecat raja
Yaman Selatan (565) sebab menganiaya orang-
orang Kristen. Kemudian ia menjadi rahib pada
pertapaan Santo Pantaleon di Aksum.
P: 27 Oktober
ELFRED OSB (1109-1167)
yaitu kepala istana Raja David dari
Skotlandia. Pada 1133 ia masuk biara Sisterisien dan
hidup bermatiraga keras. Terhadap biarawan-
biarawan yang dipimpinnya abbas ini berlaku murah
hati, sehingga tak seorangpun yang meninggalkan
biara.
B: Aelredus; P: 12 Januari
EMANUEL(A)
Artinya “Tuhan beserta kita”. Sebutan itu
dipakai sebagai gelar Almasih (lihat Kitab Isaias 7,
14 dan 8,8). Bentuk singkatan: Manuel (♂) dan
Manuela (♀).
EMANUEL († 1198)
Uskup Cremona Italia ini diusir atas dalih
politik dan meninggal di Frisia.
P: 27 Februari.
Emanuel seorang pelayan dari Jawa (35 tahun),
Anton Samba seorang pelaut dari pulau Solor yang
berumahtangga di Macao, Albertus seorang budak
yang masih muda (17 tahun dan berasal dari Timor,
dan Dominikus seorang Melayu yang
berumahtangga di Macao dan dibunuh oleh orang
Jepang sebab mereka tidak mau murtad. Mereka
mati sebagai martir dengan 57 pedagang dan pelaut
dari 16 bangsa di Nagasaki (Jepang) pada tahun
1641.
(Orang-orang Kudus di Indonesia)
EMERENTIA(NA) (246-258)
yaitu teman bermain Santa Agnes.
Orangtuanya yang masih kafir bekerja sebagai
pelayan keluarga Agnes, bangsawan Roma yang
sudah beragama Kristen. Selagi masih bocah, ayah-
ibunya meninggal, sehingga Emerentiana dididik
oleh orangtua Agnes. Cara hidup Kristen keluarga itu
menyemai benih iman dalam batinnya. saat
231
sedang berdoa di makam Agnes yang baru saja
meninggal dimartir, ia dilempari batu sebab
beriman Kristen. Ia meninggal dan dibaptis dengan
darahnya sendiri.
P: 23 Januari.
EMIL (AEMILIUS)
Bersama dengan Kastus mengingkari
imannya saat disiksa di Kartago Tunisia. namun
kemudian mereka bertobat lagi dan mati sebagai
saksi iman (203)
P: 23 Januari
EMILI (AEMILIA BICCHIERI) (1238-1314)
Suster Dominikan ini dikaruniai pengalaman
mistik dan mengerjakan banyak mukjijat.
L: merpati putih; P: 19 Agustus
SANTA EMILIA De VIALAR (1797-24 Agustus
1856)
Emilia de Vialar yaitu anak tunggal. Ia
dilahirkan di Perancis pada tahun 1797. Orangtuanya
yang kaya mengirim gadis
kecil ini untuk bersekolah di
Paris. Ia pulang kembali ke
kota kecilnya, Gaillac, saat
ibunya meninggal dunia.
Emilia yang kala itu berusia
limabelas tahun akan
menjadi teman yang baik
bagi ayahnya. Tuan de
Vialar berusaha mencarikan
seorang suami yang pantas
bagi puterinya. namun , ia
menjadi marah saat Emilia menolak mentah-
mentah untuk menikah. Ayahnya kerap kali memulai
perdebatan dan membentak-bentak Emilia dalam
amarah. Emilia tahu bahwa ia rindu menjadi seorang
biarawati religius dan mempersembahkan hidup
sepenuhnya kepada Tuhan.
saat Emilia berusia duapuluh satu tahun,
seorang imam baru tiba di Gaillac. Imam itu yaitu
Pastor Mercier. Ia membimbing Emilia dalam
panggilannya. Emilia berniat membantu orang-orang
yang miskin dan sakit. P Mercier membantunya
membuka sebuah pelayanan umum di serambi
rumah de Vialar. Ayah Emilia tidak senang dengan
segala gangguan ini. Saling bersitegang antara
Emilia dan ayahnya berlangsung hingga limabelas
tahun lamanya. Kemudian, kakek Emilia, Baron de
Portal, meninggal dunia. Kakeknya meninggalkan
warisan untuk Emilia dan pada akhirnya Emilia dapat
memiliki kebebasan yang dibutuhkannya untuk
memulai karya besar bagi Tuhan. Dengan bantuan P
Mercier, Emilia membeli sebuah rumah besar di kota
kediamannya. Ia dan tiga wanita lain memulai
suatu ordo religius. Mereka mendesain jubah dan
memilih nama. Mereka menyebut diri sebagai
Suster-suster St Yosef dari Penampakan. (Dalam
Injil Matius, seorang malaikat menampakkan diri
kepada Yosef untuk memberitahukan kepadanya
bahwa anak dalam rahim Maria yaitu dari Tuhan.)
Uskup Agung memberkati kongregasi dan pelayanan
mereka. Para biarawati ini membaktikan diri dalam
pelayanan fakir miskin dan orang-orang sakit, pula
dalam pendidikan anak-anak. Dalam waktu tiga
bulan, duabelas wanita muda menggabungkan
diri. Sr Emilia mengucapkan kaul pada tahun 1835
bersama dengan tujuhbelas biarawati lainnya. Uskup
Agung memberikan persetujuan atas regula para
biarawati ini. Suster-suster St Yosef mulai
membuka cabang-cabang biara. Pada tahun 1847,
para biarawati pergi ke Birma dan pada tahun 1854
ke Australia. Dalam jangka waktu empatpuluh
tahun, Moeder Emilia melihat kongregasinya
berkembang dari serambi rumahnya di Gaillac,
Perancis menjadi empatpuluh biara di segenap
penjuru dunia.
Moeder Emilia menulis banyak surat yang
mengungkapkan kasihnya yang luar biasa kepada
Tuhan, kepada Gereja dan kepada sesama. Ia
memberikan perhatian kepada semua orang. Ia
melihat dalam hatinya orang-orang di mana saja
yang membutuhkan kebenaran Injil dan kasih yang
didatangkan oleh Kekristenan. Ia memohon kepada
Yesus kekuatan yang ia butuhkan untuk terus maju.
Kesehatan Moeder Emilia mulai memburuk sekitar
tahun 1850. Ia wafat pada tanggal 24 Agustus 1856.
Paus Pius XII menyatakannya sebagai santa pada
tahun 1951.
P: 24 Agustus
EMPAT PULUH TENTARA dari SEBASTE (†
320)
Angin dingin dari Timur semilir berhembus
membuat beku air danau. Semua orang
berselimutkan mantel tebal melilit tubuh mereka.
Tiba-tiba sekelompok tentara muncul di gerbang ibu
kota menggiring kawan mereka berjumlah empat
puluh.
Mereka akan menjalani hukuman mati diluar
kota. Siapakah mereka itu? Mereka yaitu anggota
“Legio Fulminata” (Pasukan Gerak Cepat), yang
menolak perintah Kaisar Licinnus susaha murtad.
Diseputar danau mereka ditelanjangi dengan paksa
dan dilarang beranjak dari danau beku itu sampai
semua mati kedinginan. Salah seorang diantara
mereka meninggalkan imannya. Namun, seorang
tentara bukan Kristen menggantikannya dan
bergabung dengan mereka terdorong oleh kesetiaan
iman teman-temannya serta rahmat Tuhan.
Empat Puluh Tentara Legio Fulminata
dibunuh sebagai martir di Sebaste (kini Siwas
Armenia pada tahun 320; P: 9 Maret
EPIFANIUS (315-403)
yaitu seorang Yahudi yang bertobat dan
dipilih menjadi uskup Salamis (Siprus). Ia membela
iman yang benar dan menyerang aneka aliran
bidaah dengan karangannya yang bernyala-nyala.
A: penampakan (Tuhan; Y); P: 12 Mei
EPIFANIUS (438-496)
yaitu uskup Pavia Italia yang hidup suci dan
melindungi Gereja dalam masa yang sangat kacau
oleh perang yang terus menerus
P: 21 Januari
ERASMUS († 303)
Uskup Antiokia (Siria) ini dikejar-kejar sampai
akhirnya tertangkap di Formiae dan dibunuh
B: Elmo, Ermo; P:2 Juni
ERIK IX († 160)
yaitu raja dan santo pelindung Swedia yang
menggiatkan penyebaran injil di Finlandia. Ia
dibunuh oleh pemberontak di dalam Katedral
Upasala
B: Erika (♀); P: 10 Juli
ERMINUS († 737)
Abbas dan uskup di Laon Perancis.
P: 25 April
ERNESTUS († 1148)
yaitu seorang abbas dari Zwiefalten
Jerman. Hatinya tergugah oleh kotbah Santo
Bernardus yang menganjurkan susaha biarawan
mendampingi para tentara dalam perang salib untuk
membebaskan Tanah Suci dari pendudukan Arab
dan mengamankan peziarah-peziarah ke tempat-
tempat suci. Ernestus ditangkap disiksa dan dibunuh
di Mekkah.
P: 7 Nopember
ESTER
yaitu permaisuri Raja Xerxes (485-465 seb.
M.) dari Persia. Ia berhasil
Menggagalkan pembunuhan missal atas bangsa
Yahudi yang dihukum pembuangan. Lihat Kitab
Ester.
A: bintang (Persia)
ETHELDREDA (630-679)
Putri raja Anglia Timur ini dinikahkan dua
kali, namun tidak pernah mau digauli, sehingga
ditolak oleh suaminya yang kedua. Ia mendirikan
biara di Ely Inggris, yang kemudian menjadi tempat
ziarah yang termasyur. Adiknya Santa Sexburga (P:
6 Juli), bekas ratu, menjadi penggantinya.
P: 23 Juni
EUDOKIMOS
yaitu seorang awam dan pegawai tinggi
yang hidup suci dan beramal di Kapadoria (Turki)
P: 31 Juli
EUFEMIA († 303)
yaitu perawan dan martir di Kalsedon
(Asia Kecil). Konon ia meninggal sesudah dimangsa
oleh binatang-binatang buas dalam suatu
pertunjukan.
A: yang memiliki nama baik (Y); P: 16 September
SANTO EUCHERIUS († 743)
St Eucherius dilahirkan di Orleans, Perancis,
pada abad kedelapan. Ia diasuh dan dididik secara
Kristiani. Satu kalimat
dari surat pertama St
Paulus kepada jemaat di
Korintus menimbulkan
kesan mendalam
padanya: “Dunia seperti
yang kita kenal sekarang
akan berlalu” (1 Korintus
7:31). Pernyataan ini
membuat Eucherius
sadar bahwa hidup kita
di dunia ini amat singkat.
Ia sadar bahwa surga
dan neraka akan
berlangsung selamanya.
Ia bertekad untuk
menemukan sukacita surgawi dengan hidup hanya
bagi Tuhan saja.
Pada tahun 714, St Eucherius meninggalkan
rumahnya yang mewah untuk masuk ke sebuah
biara Benediktin. Di sana ia melewatkan tujuh tahun
dalam persatuan yang erat dengan Tuhan. sesudah
wafat pamannya, Uskup Orleans, pada tahun 721,
Eucherius dipilih untuk menggantikannya. Pada
waktu itu Eucherius masih berusia duapuluh lima
tahun dan amat rendah hati. Ia tak hendak
meninggalkan biara yang sangat dikasihinya.
Dengan berurai airmata ia memohon agar diijinkan
tetap tinggal sendirian bersama Tuhan dalam biara.
namun , pada akhirnya ia menyerah atas nama
ketaatan. Eucherius menjadi seorang uskup yang
bijaksana dan kudus. Ia banyak berbuat baik bagi
para imam dan umatnya.
Seorang tokoh politik yang berkuasa, Charles
Martel, biasa mengambil uang Gereja untuk
membiayai perang. Sebab Uskup Eucherius
mengatakan kepadanya bahwa itu salah, Martel
menjebloskannya ke dalam penjara. Uskup pertama-
tama dibuang ke Cologne, dan lalu ke sebuah
benteng dekat Liege. namun gubernur kepada siapa
Martel mempercayakan pengasingan uskup, tergerak
hatinya oleh kelemah-lembutan Eucherius terhadap
para musuhnya. Beberapa waktu kemudian, sang
gubernur dengan diam-diam membebaskan uskup
dari penjara dan mengirimkannya ke sebuah biara.
Di sini, orang kudus kita melewatkan hari-harinya
dengan tenang dalam doa hingga wafatnya pada
tahun 743.
Pada hari ini, kita dapat merenungkan kata-kata St Paulus
yang menimbulkan kesan mendalam pada Santo
Eucherius: “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan
berlalu” (1 Korintus 7:31).
SANTA EUFRASIA atau EUPRAXIA († 420)
St. Eufrasia dilahirkan pada abad kelima
dalam keluarga Kristiani yang amat saleh. Ayahnya,
seorang kerabat
kaisar, meninggal
dunia saat ia baru
berusia satu tahun.
Kaisar menjadi wali
bagi dia dan ibunya.
saat Eufrasia
berusia tujuh tahun,
ibunya membawanya
ke Mesir. Di sana
mereka tinggal di
sebuah rumah yang
besar dekat sebuah
biara wanita.
Eufrasia terpesona dengan cara hidup para
biarawati. Ia memohon kepada ibunya agar diijinkan
melayani Tuhan dalam biara di mana para biarawati
kudus itu tinggal. Ia masih seorang gadis kecil,
namun ia tidak mau mengubah atau pun melupakan
niatnya itu. Tak lama kemudian, ibunya membawa
Eufrasia ke biara serta mempercayakan
pemeliharaannya kepada pemimpin biara.
Tahun-tahun berlalu. saat ibunya
meninggal dunia, kaisar mengingatkan Eufrasia
bahwa orangtuanya telah mengikat perjanjian
pernikahan baginya dengan seorang majelis muda
yang kaya. Tentu saja Eufrasia ingin hanya menjadi
milik Yesus saja. Jadi, ia menulis sepucuk surat
penuh hormat kepada kaisar. Di dalamnya ia
menulis, “Saya ini milik Yesus, dan sebab nya saya
tidak dapat memberikan diri saya kepada yang lain.
Satu-satunya kerinduan saya yaitu bahwa dunia
sepenuhnya melupakan saya. Dengan penuh hormat
saya mohon kepada Yang Mulia untuk mengambil
alih seluruh harta warisan keluarga saya serta
membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin.
Saya mohon Yang Mulia membebaskan semua budak
yang ada dalam keluarga saya. Saya juga mohon
agar Baginda menghapuskan semua hutang orang
kepada keluarga saya.” Kaisar sangat terharu oleh
surat yang begitu indah itu hingga ia
membacakannya di hadapan seluruh majelis.
Kemudian ia mengabulkan semua permohonan
Eufrasia.
Eufrasia menghabiskan sisa hidupnya sebagai
seorang biarawati. Ia tidak pernah menyesal bahwa
Tuhan telah memanggilnya untuk menjadi seorang
religius. Eufrasia wafat pada tahun 420.
A: yang gembira; P: 13 Maret
EUFROSINA († 1173)
Bertapa di Polotsk (Polandia). Ia menyalin
artikel -artikel untuk mencari dana. Hasilnya digunakan
untuk membantu kaum papa miskin. Ia meninggal
saat sedang berziarah ke Yerusalem.
♀A: kebahagiaan (Y); P: 23 Mei
EUGENIA (abad ke-3/4)
yaitu puteri seorang hakim di Mesir yang
menjadi Kristen. Menurut kisah kuno, ia
mengenakan pakaian laki-laki dan masuk biara pria
serta menjadi pemimpinnya. Ia ditangkap dan diadili
sebab percaya pada Kristus. namun saat akan
dihukum ia memperkenalkan diri sebagai puteri
hakim sendiri, sehingga ayah beserta keluarganya
bertobat dan mati sebagai martir.
A: dilahirkan (dari orangtua yang) baik (Y) ♀;
Eugenius ♂; P: 25 Desember
240
EUGENIA SMET (1825-1871)
Dengan percaya penuh kepada
penyelenggaraan Ilahi dan bantuan arwah-arwah
orang Kristen mendirikan kongregasi suster yang
giat dalam karya amal.
P: 2 Februari
EUGENIUS (481-505)
Menjabar uskup Kartago Tunisia saat terjadi
banyak perang di kawasan itu. Ia dibuang dua kali
dari keuskupannya sebab menguatkan iman umat
susaha jangan mengikuti bidaah Arius
A: dilahirkan (dari orangtua yang) baik(Y); P: 13 Juli
EUGENIUS († 657)
yaitu seorang pangeran. Kemudian ia
menjadi biarawan, teolog dan uskup di Toledo
Spanyol. Ia menggubah lagu-lagu gerejani yang
indah dan memperbaharui upacara-upacara ibadat.
P: 13 Nopember
BEATO EUGENE de MAZENOD OMI (1782-
1861)
Eugene dilahirkan di Perancis pada tahun
1782. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun
1811. Pater Eugene seorang yang peka terhadap
kebutuhan mereka yang miskin dan berkekurangan
dan ia melayani mereka. Ia senantiasa antusias
mencari cara-cara baru untuk menjangkau kaum
muda. Ia rindu membawa mereka kepada kasih dan
mengamalkan iman mereka. Ia percaya akan nilai
perutusan paroki. Ia sadar bahwa para imam
misionaris di suatu paroki dapat melakukan banyak
hal guna membangunkan kembali dedikasi umat
terhadap iman mereka.
Pater de Mazenod
memulai suatu ordo religius
baru bagi para imam dan
broeder awam pada tahun
1826. Mereka yaitu para
misionaris yang disebut
Oblata Maria Immaculata
(Santa Perawan Maria
Dikandung Tanpa Dosa).
Pelayanan mereka yang
teristimewa yaitu pergi
kepada orang-orang yang
belum pernah mendengar
mengenai Yesus dan Gereja-
Nya. Pater de Mazenod dan ordonya sungguh gagah
berani dalam menjawab permintaan-permintaan dari
para uskup yang membutuhkan bantuan mereka.
Para uskup dari Amerika Utara dengan anusias
menanti Oblata. Uskup Ignace Bourget dari Montreal
khususnya nyaris tak sabar. Dalam waktu sepuluh
tahun, Oblata telah berkembang pesat. Mereka
menjangkau seluruh Canada dan memulai pelayanan
di Amerika Serikat juga.
Pada tahun 1837, Pater de Mazenod
ditahbiskan sebagai Uskup Marseilles, Perancis. Ia
dikenal sebab kesetiaan dan kasihnya kepada paus.
Ia juga seorang organisator dan pendidik yang
berbakat. Uskup de Mazenod tetap menjadi Superior
Oblata hingga wafatnya pada tahun 1861. Karya
besar yang dirintis Uskup de Mazenod terus
berlanjut hingga kini melalui para misionaris Oblata
di seluruh dunia. Mereka ada di daerah-daerah misi,
paroki-paroki dan universitas-universitas.
BEATO PAUS EUGENUS III (8 Juli 1153)
Beato Eugenius III dilahirkan dekat Pisa,
Italia, pada abad keduabelas. Ia dibaptis dengan
nama Petrus. Santo
Antoninus menyebut
Paus Eugenius “seorang
paus agung yang sarat
penderitaan.” Paus
Eugenius dulunya yaitu
Pater Petrus, seorang
imam di Pisa, kala ia
merasakan panggilan
untuk menjadi seorang
biarawan Cistercian. Ia
pergi ke Clairvaux,
Perancis dan bergabung
dengan para biarawan di
sana. Santo Bernardus
dari Clairvaux menjabat
sebagai superior di sana. Petrus memilih “Bernardus”
sebagai nama religiusnya. Ini dilakukannya sebab
rasa hormat dan kekagumannya pada St Bernardus.
St Bernardus dari Clairvaux menetapkan
Bernardus menjadi superior sebuah biara di Roma.
Paus Lusius II wafat pada tahun 1145. Ini yaitu
suatu peristiwa yang jarang terjadi. Para kardinal
memilih Abbas Bernardus untuk menjadi paus.
Abbas Bernardus sendiri tidak ada dalam rapat itu
sebab ia bukan seorang kardinal. Bernardus shock.
St Bernardus dari Clairvaux juga sama terkejutnya.
Ia merasa kasihan kepada Bernardus. Ia menulis
sebuah surat terbuka kepada para kardinal, “Kiranya
Allah mengampuni kalian sebab apa yang telah
kalian lakukan,” katanya.
Bernardus memilih nama Eugenius III.
Masanya sebagai paus mendatangkan banyak
kesulitan baginya. Majelis Tinggi Roma mengancam
untuk menentangnya jika ia tidak membiarkan
mereka menyimpan harta yang mereka curi.
Seseorang yang sebelumnya telah diekskomunikasi
datang kepada Paus Eugenius memohon
pengampunan. Sebentar saja, orang itu telah jatuh
lagi ke dalam cara hidupnya yang lama. Ia bahkan
menggabungkan diri dengan suatu kelompok yang
secara langsung menentang paus. Paus Eugenius
harus meninggalkan Roma beberapa kali oleh sebab
mara bahaya yang mengepungnya. jika ini
terjadi, ia akan menemukan damai dan kekuatan di
sebuah biara. Maka, ia akan mendapatkan
keberanian untuk kembali dan menghadapi tugas
tanggung jawabnya yang sulit kembali. Ia
mengenakan jubah Cistercian dan hidup sederhana.
Tak peduli betapa kalut hidupnya, ia senantiasa
memiliki hati seorang biarawan. Salah seorang rekan
biarawan menulis kepada St Bernardus dari
Clairvaux mengenai Paus Eugenius, “Tak ada
kesombongan pun sok kuasa dalam dia.” Paus
Eugenius III wafat pada tanggal 8 Juli 1153.
EULALIA († 304)
saat berusia 12 tahun Eulalia menegur
hakim yang berlaku kejam terhadap orang Kristen.
Lalu puteri cilik ini disiksa dengan api dan dibunuh.
A: kata baik (Y); B: Olala; P: 12 Februari
SANTO EULOGIUS dari SPANYOL († 859)
St Eulogius hidup pada abad kesembilan.
Keluarganya terpandang dan ia mendapatkan
pendidikan yang baik.
Sementara ia belajar dari bahan-
bahan pelajarannya, ia belajar
juga dari teladan baik para
gurunya. Eulogius suka sekali
membaca dan mendalami Kitab
Suci. Hal ini membantunya
mencintai Sabda Tuhan. Ia rindu
mewartakan Sabda Tuhan
kepada semua orang. saat
dewasa, ia menjadi seorang
imam dan pemimpin suatu
sekolah yang terkenal.
Pada masa itu, kaum
Muslim telah menaklukkan Spanyol. Mereka
menentang kekristenan. Pertama-tama mereka
berusaha membuat orang meninggalkan iman
mereka. Jika menolak mengubah agama mereka,
mereka dijebloskan ke dalam penjara. Sebagian
bahkan dibunuh.
Eulogius dan uskupnya dijebloskan ke dalam
penjara bersama banyak umat Kristiani lainnya. Di
penjara, Eulogius membaca Kitab Suci keras-keras
demi menyemangati para tawanan lainnya.
Sementara mendengarkan dengan seksama, rasa
gentar mereka pun lenyap. Mereka tak lagi takut
untuk mati bagi Yesus. Dalam masa itulah, St
Eulogius menulis sebuah artikel yang mendorong
umat Kristiani untuk lebih memilih mati dibandingkan
mengingkari iman mereka yang kudus.
Orang kudus ini sendiri, lebih dari segalanya,
rindu menjadi seorang martir. namun , malahan ia
dilepaskan dari penjara. Begitu dibebaskan, St
Eulogius mulai berkhotbah dan mempertobatkan
banyak orang. Hal ini membuat para bekas
penawannya menjadi begitu murka hingga mereka
menangkapnya kembali. Di hadapan pengadilan, St
Eulogius dengan gagah berani memaklumkan bahwa
Yesus yaitu Tuhan. Eulogius dijatuhi hukuman mati
dan ia mempersembahkan hidupnya bagi Yesus. Ia
wafat pada tahun 859.
A: yang memuji (Y); P: 11 Maret
EUSTOKIA OSB (1444-1469)
yaitu anak seorang suster yang tergoda,
yang sering sakit dan kerasukan roh jahat. namun
sebab berpegang teguh pada kerahiman Tuhan, lagi
pula sangat sabar dan taat pada bimbingan bapa
pengakuannya, suster di Padua Italia ini menjadi
suci. Mayatnya tetap utuh.
P: 13 Oktober
EUSTOKIUM (368-419)
Puteri Santa Paula ini yaitu teman dan
murid kesayangan Santo Hieronimus. Ia mendorong
gurunya susaha menulis artikel -artikel tafsir Kitab Suci.
Tidak lama sesudah biaranya di Bethlehem di rusak
para perampok ia mati sebab kesedihan.
P: 28 September
SANTO EUSEBIUS VERSELLI (283-1
Agustus 371)
Eusebius dilahirkan di pulau Sardinia, Italia,
sekitar tahun 283. Kedua orangtuanya yaitu orang-
orang Kristen yang saleh. Menurut tradisi, ayahnya
wafat sebagai martir. Eusebius senantiasa aktif
dalam komunitas Kristiani. Ia terpanggil untuk
melayani umat di Roma dan kemudian pergi ke Italia
utara, ke Vercelli. Eusebius
dipilih sebagai uskup pertama
Vercelli. Uskup Eusebius dan
sebagian imamnya menjalani
hidup biasa seturut gaya
hidup para biarawan dalam
biara. Para imamnya
mendapatkan persiapan
matang untuk bertumbuh
dalam kehidupan rohani.
Mereka juga berlajar
bagaimana menghadapi
orang-orang yang datang
kepada mereka untuk mohon
bimbingan. Para imam dalam bimbingan St Eusebius
menjadi pelayan-pelayan Kristus yang tekun dan
riang gembira. Banyak dari antara mereka yang di
kemudian hari ditahbiskan sebagai uskup.
Pada masa itu, bidaah Arian tersebar luas.
Banyak orang menjadi bingung dan menganggap
bidaah ini sebagai benar. Kaisar Konstantius
juga seorang penganut bidaah Arian, ia
menghendaki agar semua orang berpihak
kepadanya. Para uskup yang tidak mau tunduk
padanya dibuang dari keuskupan mereka. St
Atanasius dibuang pada tahun 355. Eusebius hadir
dalam Sidang Milan yang mengutuk St Atanasius.
namun , Eusebius tidak mau memberikan suaranya
untuk menentang Atanasius, jadi ia disingkirkan
juga. Eusebius dibuang ke Palestina. Pada mulanya,
seorang yang baik hati memberinya tumpangan
sebagai tamu terhormat di rumahnya. namun , orang
yang baik ini meninggal dunia dan para penganut
bidaah Arian menculik sang uskup. Mereka
menganiaya, menyeretnya di jalan-jalan, lalu
mengurungnya dalam sebuah kamar sempit empat
hari lamanya. saat para utusan dari keuskupan
Vercelli menuntut agar uskup dibebaskan serta
dikembalikan ke tempat asalnya, tuntutan dipenuhi.
namun , sebentar kemudian, bapa uskup disiksa dan
dianiaya kembali. saat Konstantius wafat pada
tahun 361, kaisar berikutnya mengijinkan para
uskup yang diasingkan untuk kembali ke keuskupan
mereka.
St Eusebius yaitu seorang pembela
kebenaran yang gagah berani, juga para uskup
lainnya yang mengagumkan pada masa itu, seperti
St Atanasius dan St Meletius. St Eusebius diyakini
sebagai salah seorang yang memberikan sumbangan
dalam persiapan “Kredo Atanasius.” Kredo ini
merupakan salah satu kredo yang sangat berharga
di mana dinyatakan segala apa yang kita yakini
sebagai orang Katolik. Uskup Eusebius
menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di
Vercelli, di tengah umat keuskupannya. Ia wafat
pada tanggal 1 Agustus 371.
“Aku mohon pada kalian agar memelihara iman dengan
penuh waspada, mengusahakan kerukunan, bertekun
dalam doa, ingatlah aku selalu, agar kiranya Kristus
menganugerahkan kebebasan kepada GerejaNya yang
menderita di seluruh penjuru dunia.” ~ Santo Eusebius
EUTIMOS AGUNG (377-473)
yaitu seorang imam dari Armenia yang
tinggal dalam gua-gua di Palestina. Ia
mengumpulkan murid-murid dan memberikan
pelajaran/ teladan hidup bertapa yang sangat
disenangi. Eutimos terkenal sebagai misionaris Badui
(Arab). A: terhormat (Y); P: 20 Januari
EUTIMOS MUDA (824-898)
Meninggalkan anak isterinya untuk menjadi
rahib. Ia selalu pindah-pindah tempat, sebab tidak
mau diganggu oleh orang-orang yang minta
nasehatnya. Di hari tuanya ia menyerahkan dua
biara dibawah pimpinan cucu pria dan wanitanya.
Kemudian Eutimos mengundurkan diri ke
semenanjung Athos Yunani.
P: 15 Oktober
SANTO PAUS EVARISTUS († 107)
St Evaristus hidup pada abad kedua. Ia
berasal dari sebuah keluarga Yahudi di Betlehem.
Keluarganya tinggal
di Yunani pada saat
ia dilahirkan.
Evaristus dibesarkan
dan dididik dalam
agama Yahudi.
Ayahnya sangat
bangga akan
kesalehan dan
kecerdasan
puteranya, hingga ia
mengirimkan
putranya untuk
belajar pada guru-
guru terbaik.
sesudah dewasa, Evaristus menjadi seorang
Kristiani. Begitu besar cintanya pada iman barunya
ini hingga ia memutuskan untuk menjadi seorang
imam. Di Roma, di mana ia melakukan karya
pelayanan, semua orang mengagumi serta
mengasihinya. Demikianlah, saat paus wafat
sebagai martir, Evaristus dipilih untuk
menggantikannya. Evaristus merasa sama sekali tak
layak menjadi seorang paus, namun Yesus tahu yang
terbaik.
Masa itu yaitu masa-masa penganiayaan
Gereja. Fitnah-fitnah keji tersebar luas mengenai
iman Katolik hingga orang-orang Romawi tidak perlu
berpikir dua kali untuk membunuh umat Kristiani.
Siapa saja yang menjadi paus nyaris pasti akan
ditangkap. Paus St Evaristus menggembalakan
Gereja selama kurang lebih delapan tahun.
Semangatnya begitu berkobar-kobar hingga jumlah
orang-orang yang percaya semakin hari semakin
bertambah banyak. namun , pada akhirnya, ia
ditangkap juga. Para sipir penjara terkagum-kagum
melihat sukacita pada wajah orang tua yang kudus
ini sementara ia digiring ke penjara. St Evaristus
menganggap diri memperoleh hak istimewa didapati
pantas menderita sengsara dan mati bagi Yesus.
Tiada hadiah yang lebih berharga yang dapat
diberikan kepadanya selain dari kemartirannya. Paus
St Evaristus wafat pada tahun 107.
EWALDUS BERSAUDARA (abad ke-7)
Dua misionaris bangsawan Ianggeris ini
berkarya di Jerman dan menemui ajalnya sesudah
dibunuh oleh orang-orang yang masih kafir.
P: 3 Oktober
EZEKIEL MARENO DIAZ (1848-1906)
Semula yaitu misionaris di Philipina,
kemudian memimpin suatu biara di Spanyol dan
akhirnya diangkat menjadi uskup di Kolombia
Amerika Latin.
Ia dengan rajin sekali mencurahkan tenaga dan
kesehatannya untuk menguatkan iman umatnya,
susaha bertahan dalam masa penganiayaan.
A: semoga Allah memperkuat (H); P: 19 Agustus
F
SANTO PAUS FABIANUS († 250) & SANTO
SEBASTIANUS († 288)
Fabianus yaitu seorang paus yang wafat
sebagai martir pada tahun 250, yaitu pada masa
penganiayaan oleh Kaisar
Decius. Dalam catatan
dikatakan bahwa Fabianus
merupakan seorang yang
luar biasa, seorang yang
dikenal sangat kudus. Dalam
sepucuk surat yang ditulis
tak lama sesudah kematian
Fabianus, St. Siprianus
menjelaskan bagaimana
Fabianus terpilih sebagai
paus. Kelompok yang
berkumpul untuk memilih
paus menerima suatu tanda
nyata bahwa pilihan harus dijatuhkan kepada
Fabianus. Ia yaitu orang awam pertama yang
menjadi paus. Sebagai uskup dan martir, jenasah
Fabianus ditempatkan di Basilika St. Sebastianus.
Kedua martir ini, St. Fabianus dan St. Sebastianus,
dirayakan pestanya pada hari yang sama.
Sebastianus dikenal luas sejak dari masa
Gereja Perdana. Sebagai seorang perwira Romawi, ia
dikenal oleh sebab kebaikan hatinya dan
kegagahannya. Dalam masa penganiayaan oleh
Kaisar Diocletian, Sebastianus tidak mau
mengingkari iman Kristianinya. Para pemanah
membidikkan anak-anak panah ke tubuhnya dan
meninggalkannya dalam keadaan hampir mati.
saat seorang janda yang kudus hendak
menguburkan jenasahnya, ia sangat terkejut
mendapati bahwa Sebastianus masih hidup. Janda
itu membawanya pulang ke rumahnya serta
merawat luka-lukanya. saat Sebastianus telah
sembuh kembali, janda itu berusaha membujuknya
untuk meloloskan diri dari penganiayaan oleh bangsa
Romawi. namun , Sebastianus yaitu seorang ksatria
yang gagah berani. Ia tidak hendak melarikan diri.
Ia bahkan mendatangi Kaisar Diocletian dan
mendesaknya untuk segera menghentikan
penganiayaan terhadap umat Kristiani. Kaisar sangat
terperanjat melihat bahwa Sebastianus masih hidup.
Ia menolak mendengarkan apa yang hendak
dikatakan oleh perwiranya itu. Diocletian
memerintahkan agar Sebastianus segera didera
hingga tewas. Sebastianus wafat sebagai martir
pada tahun 288.
P: 20 Januari
FABIOLA († 399)
yaitu puteri keluarga ningrat di Roma. Ia
membangun rumah tangga dengan lelaki yang bejat
cara hidupnya. sebab tidak tahan Fabiola berusaha
minta cerai, dan akhirnya berhasil bercerai di
catatan sipil. Kemudian dia nekad untuk menikah
lagi meskipun beragama Kristen, perbuatannya itu
jelas mencemarkan nama baik umat. Namun tidak
lama sesudah pernikahannya itu, suaminya
meninggal dunia. Fabiola pun bertobat di hadapan
umat dan diterima kembali ke dalam pangkuan
gereja.
Cara hidup lama ia tinggalkan sama sekali; ia
mendermakan seluruh harta kekayaannya dan
berbuat amal. Kemudian ia pergi ke Bethlehem dan
bergabung dengan Hieronimus dalam karya
penterjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin.
Namun impian Fabiola untuk hidup tenang tidak
menjadi kenyataan. Sebab, suasana kandang
Bethlehem yang diinginkannya berdekatan dengan
penginapan yang berjubel dan hiruk pikuk. Selain
itu, pada waktu itu terjadi perpecahan diantara
golongan Kristen di Palestina. Tanah suci juga
terancam oleh bangsa Hun. Itulah sebabnya Fabiola
terpaksa angkat kai dari Bethlehem bersama
Hieronimus menuju Jaffa. Dari sana mereka kembali
ke Roma.
Bersama dengan seorang teman Fabiola
mendirikan rumah penginapan bagi orang sakit dan
mereka yang sedang dalam perjalanan. Itulah
yayasan amal pertama yang mengurus suatu
hospital. Namanya cepat menanjak dan lembaga itu
segera ditiru oleh orang-orang Kristen dalam karya
amal.
Fabiola, janda, pendiri hospital di Porto;
meninggal tahun 399; P: 27 Desember
FATIMA
Nama untuk wanita ini yaitu nama tempat
penampakan Santa Maria (1917) dan tempat Ziarah
di Portugal. Nama desa itu diambil dari nama anak
Muhammad, yaitu Fatima, waktu penjajahan Arab.
SANTA FAUSTINA KOWALSKA
(25 Agustus 1905-5 Oktober 1938)
Helena Kowalska dilahirkan di Glogowiec,
Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905 sebagai
anak ketiga dari sepuluh putera-puteri pasangan
suami isteri Katolik yang saleh Stanislaw Kowalski
dan Marianna Babel. Ayahnya seorang petani
merangkap tukang kayu. Keluarga Kowalski, sama
seperti penduduk Glogowiec lainnya, hidup miskin
dan menderita dalam penjajahan Polandia oleh
Rusia.
Helena hanya sempat bersekolah hingga
kelas 3 SD saja. Ia seorang anak yang cerdas dan
rajin, juga rendah hati dan
lemah lembut hingga
disukai orang banyak.
Sementara
menggembalakan sapi,
Helena biasa membaca
artikel ; artikel kegemarannya
yaitu riwayat hidup para
santa dan santo. Seringkali
ia mengumpulkan teman-
teman sebayanya dan
menjadi `katekis' bagi
mereka dengan
menceritakan kisah santa
dan santo yang dikenalnya. Helena kecil juga suka
berdoa. Kerapkali ia bangun tengah malam dan
berdoa seorang diri hingga lama sekali. jika
ibunya menegur, ia akan menjawab, “Malaikat
pelindung yang membangunkanku untuk berdoa.”
saat usianya 16 tahun, Helena mulai
bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat
meringankan beban ekonomi keluarga. namun ,
setahun kemudian ia pulang ke rumah untuk minta
ijin masuk biara. Mendengar keinginan Helena,
ayahnya menanggapi dengan tegas, “Papa tidak
punya uang untuk membelikan pakaian dan barang-
barang lain yang kau perlukan di biara. Selain itu,
Papa masih menanggung hutang!” Puterinya
mendesak, “Papa, aku tidak perlu uang. Tuhan Yesus
Sendiri yang akan mengusahakan aku masuk biara.”
Namun, orangtuanya tetap tidak memberikan
persetujuan mereka.
Patuh pada kehendak orangtua, Helena
bekerja kembali sebagai pembantu. Ia hidup penuh
penyangkalan diri dan matiraga, hingga suatu hari
pada bulan Juli 1924 terjadi suatu peristiwa yang
menggoncang jiwanya.
“Suatu saat aku berada di sebuah pesta
dansa dengan salah seorang saudariku. Sementara
semua orang berpesta-pora, jiwaku tersiksa begitu
hebat. saat aku mulai berdansa, sekonyong-
konyong aku melihat Yesus di sampingku; Yesus
menderita sengsara, nyaris telanjang, sekujur
tubuh-Nya penuh luka-luka; Ia berkata kepadaku:
“Berapa lama lagi Aku akan tahan denganmu dan
berapa lama lagi engkau akan mengabaikan-Ku”
Saat itu hingar-bingar musik berhenti, orang-orang
di sekelilingku lenyap dari penglihatan; hanya ada
Yesus dan aku di sana. Aku mengambil tempat
duduk di samping saudariku terkasih, berpura-pura
sakit kepala guna menutupi apa yang terjadi dalam
jiwaku. Beberapa saat kemudian aku menyelinap
pergi, meninggalkan saudari dan semua teman-
temanku, melangkahkan kaki menuju Katedral St
Stanislaus Kostka.
Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan; hanya
sedikit orang saja ada dalam katedral. Tanpa
mempedulikan sekeliling, aku rebah (= prostratio) di
hadapan Sakramen Mahakudus dan memohon
dengan sangat kepada Tuhan agar berbaik hati
membuatku mengerti apa yang harus aku lakukan
selanjutnya.
Lalu aku mendengar kata-kata ini: “Segeralah
pergi ke Warsawa, engkau akan masuk suatu biara
di sana.” Aku bangkit berdiri, pulang ke rumah,
membereskan hal-hal yang perlu diselesaikan.
Sebisaku, aku menceritakan kepada saudariku apa
yang telah terjadi dalam jiwaku. Aku memintanya
untuk menyampaikan selamat tinggal kepada
orangtua kami, dan lalu, dengan baju yang melekat
di tubuh, tanpa barang-barang lainnya, aku tiba di
Warsawa,” demikian tulis St Faustina di kemudian
hari.
sesudah ditolak di banyak biara, akhirnya
Helena tiba di biara Kongregasi Suster-suster Santa
Perawan Maria Berbelas Kasih. Kongregasi ini
membaktikan diri pada pelayanan kepada para
wanita yang terlantar secara moral. Sejak awal
didirikannya oleh Teresa Rondeau, kongregasi
mengaitkan misinya dengan misteri Kerahiman Ilahi
dan misteri Santa Perawan Maria Berbelas Kasih.
“saat Moeder Superior, yaitu Moeder
Jenderal Michael yang sekarang, keluar untuk
menemuiku, sesudah berbincang sejenak, ia
menyuruhku untuk menemui Tuan rumah dan
menanyakan apakah Ia mau menerimaku. Sesaat
aku mengerti bahwa aku diminta menanyakan hal ini
kepada Tuhan Yesus. Dengan kegirangan aku
menuju kapel dan bertanya kepada Yesus: “Tuan
rumah ini, apakah Engkau mau menerimaku? Salah
seorang suster menyuruhku untuk menanyakannya
kepada-Mu.”
Segera aku mendengar suara ini: “Aku
menerimamu; engkau ada dalam Hati-Ku.” saat
aku kembali dari kapel, Moeder Superior langsung
bertanya, “Bagaimana, apakah sang Tuan
menerimamu?” Aku menjawab, “Ya.” “Jika Tuan
telah menerimamu, maka aku juga akan
menerimamu.” Begitulah bagaimana aku diterima
dalam biara.”
Namun demikian, Helena masih harus tetap
bekerja lebih dari setahun lamanya guna
mengumpulkan cukup uang untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari pada tahap awal tinggal di
biara. Akhirnya pada tanggal 1 Agustus 1925,
menjelang ulangtahunnya yang ke-20, Helena
diterima dalam Kongregasi Suster-suster Santa
Perawan Maria Berbelas Kasih. “Aku merasa sangat
bahagia, seakan-akan aku telah melangkahkan kaki
ke dalam kehidupan Firdaus,” kenang St Faustina.
sesudah tinggal di biara, Helena terkejut
melihat kehidupan para biarawati yang sibuk sekali
hingga kurang berdoa. sebab nya, tiga minggu
kemudian Helena bermaksud meninggalkan biara
dan pindah ke suatu biara kontemplatif yang
menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa.
Helena yang bingung dan bimbang rebah dalam doa
di kamarnya. “Beberapa saat kemudian suatu terang
memenuhi bilikku, dan di atas tirai aku melihat
wajah Yesus yang amat menderita. Luka-luka
menganga memenuhi WajahNya dan butir-butir
besar airmata jatuh menetes ke atas seprei tempat
tidurku. Tak paham arti semua ini, aku bertanya
kepada Yesus, “Yesus, siapakah gerangan yang telah
menyengsarakan-Mu begitu rupa?” Yesus berkata
kepadaku: “Engkaulah yang yang akan
mengakibatkan sengsara ini pada-Ku jika engkau
meninggalkan biara. Ke tempat inilah engkau Ku-
panggil dan bukan ke tempat lain; Aku telah
menyediakan banyak rahmat bagimu.” Aku mohon
pengampunan pada Yesus dan segera mengubah
keputusanku.”
Pada tanggal 30 April 1926, Helena menerima
jubah biara dan nama baru, yaitu Sr Maria Faustina;
di belakang namanya, seijin kongregasi ia
menambahkan “dari Sakramen Mahakudus”. Dalam
upacara penerimaan jubah, dua kali Sr Faustina tiba-
tiba lemas; pertama, saat menerima jubah; kedua,
saat jubah dikenakan padanya. Dalam artikel
Catatan Harian, St Faustina menulis bahwa ia panik
sekaligus tidak berdaya sebab pada saat itu ia
melihat penderitaan yang harus ditanggungnya
sebagai seorang biarawati. Dalam biara, tugas yang
dipercayakan kepadanya sungguh sederhana, yaitu
di dapur, di kebun atau di pintu sebagai penerima
tamu. Semuanya dijalankan Sr Faustina dengan
penuh kerendahan hati.
Pada tanggal 22 Februari 1931, St Faustina
mulai menerima pesan kerahiman ilahi dari Kristus
yang harus disebarluaskannya ke seluruh dunia.
Kristus memintanya untuk menjadi rasul dan
sekretaris Kerahiman Ilahi, menjadi teladan belas
kasih kepada sesama, menjadi alat-Nya untuk
menegaskan kembali rencana belas kasih Allah bagi
dunia. Seluruh hidupnya, sesuai teladan Kristus,
akan menjadi suatu kurban - hidup yang
diperuntukkan bagi orang lain. Menanggapi
permintaan Tuhan Yesus, St Faustina dengan rela
mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam
persatuan dengan-Nya sebagai silih atas dosa-dosa
manusia; dalam hidup sehari-hari ia akan menjadi
pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai
bagi sesama; dan dengan menulis mengenai
kerahiman ilahi, ia mendorong yang lain untuk
mengandalkan Yesus dan dengan demikian
mempersiapkan dunia bagi kedatangan-Nya kembali.
Meskipun sadar akan ketidaklayakannya,
serta ngeri akan pemikiran harus berusaha
menuliskan sesuatu, toh akhirnya, pada tahun 1934,
ia mulai menulis artikel catatan harian dalam ketaatan
pada pembimbing rohaninya, dan juga pada Tuhan
Yesus Sendiri. Selama empat tahun ia mencatat
wahyu-wahyu ilahi, pengalaman-pengalaman mistik,
juga pikiran-pikiran dari lubuk hatinya sendiri,
pemahaman serta doa-doanya. Hasilnya yaitu
suatu artikel catatan harian setebal 600 halaman,
yang dalam bahasa sederhana mengulang serta
menjelaskan kisah kasih Injil Allah bagi umatnya,
dan di atas segalanya, menekankan pentingnya
kepercayaan pada tindak kasih-Nya dalam segala
segi kehidupan kita. artikel itu menunjukkan suatu
contoh luar biasa bagaimana menanggapi belas
kasih Allah dan mewujud-nyatakannya kepada
sesama.
Di kemudian hari, saat tulisan-tulisan St
Faustina diperiksa, para ilmuwan dan juga para
teolog terheran-heran bahwa seorang biarawati
sederhana dengan pendikan formal yang amat
minim dapat menulis begitu jelas serta terperinci;
mereka memaklumkan bahwa tulisan St Faustina
sepenuhnya benar secara teologis, dan bahwa
tulisannya itu setara dengan karya-karya tulis para
mistikus besar.
Devosinya yang istimewa kepada Santa
Perawan Maria Tak Bercela, kepada Sakramen
Ekaristi dan Sakramen Tobat memberi St Faustina
kekuatan untuk menanggung segala penderitaannya
sebagai suatu persembahan kepada Tuhan atas
nama Gereja dan mereka yang memiliki kepentingan
khusus, teristimewa para pendosa berat dan mereka
yang di ambang maut.
St Faustina Kowalska menulis dan menderita
diam-diam, hanya pembimbing rohani dan beberapa
superior saja yang mengetahui bahwa suatu yang
istimewa tengah terjadi dalam hidupnya. sesudah
wafat St Faustina, bahkan teman-temannya yang
terdekat terperanjat mengetahui betapa besar
penderitaan dan betapa dalam pengalaman-
pengalaman mistik yang dianugerahkan kepada
saudari mereka ini, yang senantiasa penuh sukacita
dan bersahaja.
Pesan Kerahiman Ilahi yang diterima St
Faustina sekarang telah tersebar luas ke segenap
penjuru dunia; dan artikel catatan hariannya,
“Kerahiman Ilahi Dalam Jiwaku” menjadi artikel
pegangan bagi Devosi Kerahiman Ilahi. St Faustina
sendiri tak akan terkejut mengenai hal ini, sebab
telah dikatakan kepadanya bahwa pesan kerahiman
ilahi akan tersebar luas melalui tulisan-tulisan
tangannya demi keselamatan jiwa-jiwa.
Dalam suatu pernyataan nubuat yang
ditulisnya, St Faustina memaklumkan: “Aku merasa
yakin bahwa misiku tidak akan berakhir sesudah
kematianku, melainkan akan dimulai. Wahai jiwa-
jiwa yang bimbang, aku akan menyingkapkan bagi
kalian selubung surga guna meyakinkan kalian akan
kebajikan Allah” (artikel Catatan Harian, 281)
St Maria Faustina Kowalska dari Sakramen
Mahakudus, rasul kerahiman ilahi, wafat pada
tanggal 5 Oktober 1938 di Krakow dalam usia 33
tahun sebab penyakit TBC yang dideritanya.
Jenasahnya mula-mula dimakamkan di pekuburan
biara, lalu dipindahkan ke sebuah kapel yang
dibangun khusus di biara. Pada tahun 1967, dengan
dekrit Kardinal Karol Wojtyla, Uskup Agung Krakow,
kapel ini dijadikan sanctuarium reliqui Abdi
Allah Sr Faustina Kowalska. Pada Pesta Kerahiman
Ilahi tanggal 18 April 1993, Sr Faustina dibeatifikasi
oleh Paus Yohanes Paulus II dan pada Pesta
Kerahiman Ilahi tanggal 30 April 2000 dikanonisasi
oleh paus yang sama. Pesta St Faustina dirayakan
setiap tanggal 5 Oktober.
SANTO FAUSTINUS dan SANTA JOVITA
(abad ke-2)
Santo Faustinus dan Santa Jovita yaitu dua
bersaudara yang tinggal di Brescia, Italia. Mereka
termasuk di kalangan para martir awal Kristen.
Kedua pemuda ini banyak menderita dalam masa
penganiayaan Kaisar Hadrian pada abad kedua.
Sejak masih belia, Faustinus dan Jovita telah
dikenal sebab cintanya yang besar kepada agama
yang mereka peluk. Mereka juga mengamalkan
karya-karya belas kasih Kristiani. Kedua bersaudara
ini saling tolong-menolong dalam berbuat baik
kepada mereka semua yang membutuhkan. Uskup
Brescia menahbiskan keduanya menjadi imam.
Demikianlah, mereka mulai berkhotbah ke mana-
mana, baik kepada mereka yang kaya maupun yang
miskin. Mereka tak menghindarkan diri dari kurban
yang diperlukan untuk membawa banyak orang
kepada Tuhan. sebab waktu itu yaitu masa
penganiayaan, orang mudah merasa takut. namun ,
Faustinus dan Jovita tak menyerah pada rasa takut
menghadapi para prajurit meski para prajurit ini
tanpa belas kasihan membantai banyak umat
Kristiani.
saat kaisar mendengar bahwa Faustinus
dan Jovita berani berkhotbah secara terbuka, ia
menjebloskan mereka ke dalam penjara dan
menyiksa mereka. Kaisar berpikiran bahwa siksa
aniaya akan dapat membungkam mereka. namun ,
tak peduli betapa berat penderitaan yang harus
ditanggung kedua imam itu, mereka tak hendak
berjanji untuk berhenti berkhotbah tentang Yesus.
Mereka senantiasa dalam sikap doa bahkan dalam
penjara yang gelap ngeri. Sesungguhnya, mereka
secara suka hati mempersembahkan penderitaan
mereka kepada Tuhan. Faustinus dan Jovita saling
menyemangati satu sama lain untuk tetap gagah
berani bahkan jika mereka, juga, harus mati sebagai
martir demi Yesus. Kedua bersaudara itu tetap setia
pada iman dan kasih kepada Yesus hingga keduanya
wafat dimartir. Tanggal tepatnya kematian mereka
tidak dicatat. Meski begitu, kesaksian mereka yang
gagah berani merupakan kenangan suci sekaligus
tantangan bagi kita semua untuk hidup seturut
teladan mereka.
A: Faustinus: beruntung (L) ♂; Yovita: Langit
(L) ♀; B: Yovi; P: 15 Februari
FEBRONIA (abad ke-4)
Dikisahkan, bahwa pada abad ke-7 puteri
cantik di kota Nisibia kawasan Mesopotamia (Irak)
itu akan dibebaskan dari penjara oleh kepala
pengadilan Selenus, asal ia murtad dan mau
menikah dengan Lisimakus, keponakannya.
namun Febronia menolak, akibatnya ia disiksa dan
dipukuli dengan kayu sampai mati, lalu Selenus
menjadi gila dan bunuh diri, sedangkan
keponakannya bertobat. P: 25 Juni
SANTA FELISITAS dan SANTA PERPETUA (†
202)
Perpetua dan Felisitas hidup di Kartago,
Afrika Utara, pada abad ketiga. Pada masa itu terjadi
penganiayaan yang
hebat atas orang-
orang Kristen oleh
Kaisar Septimus
Severus. Perpetua
yang berusia
duapuluh dua tahun
yaitu puteri
seorang bangsawan
kaya. Semenjak
kecilnya ia selalu
mendapatkan apa
saja yang ia
inginkan. namun ia
sadar bahwa ia mengasihi Yesus dan iman
Kristianinya jauh lebih berharga dari apa pun yang
dapat ditawarkan oleh dunia. Oleh sebab imannya
itulah ia menjadi seorang tahanan yang siap
menghadapi hukuman mati.
Ayah Perpetua yaitu seorang kafir. Ia
melakukan segala daya usaha untuk membujuk
puterinya agar mengingkari iman Kristianinya. Ia
berusaha meyakinkan Perpetua akan betapa
pentingnya menyelamatkan nyawanya. namun ,
Perpetua tetap pada pendiriannya, meskipun ia tahu
bahwa ia harus meninggalkan suami serta bayinya.
Felisitas, pelayan Perpetua yang Kristen,
yaitu seorang budak. Ia dan Perpetua bersahabat.
Mereka saling berbagi iman dan cinta akan Yesus.
Felisitas juga rela kehilangan nyawanya bagi Yesus
dan bagi imannya. Oleh sebab itu ia juga menjadi
seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman
mati.
Felisitas yaitu seorang isteri. saat sedang
di penjara sebab imannya, ia juga menjadi seorang
ibu muda pula. Bayinya diangkat anak oleh seorang
wanita Kristen yang baik. Felisitas amat bahagia
sebab sekarang ia dapat pergi sebagai martir.
Bergandengan tangan, Perpetua dan Felisitas
menghadapi kemartiran mereka dengan gagah
berani. Mereka dijadikan mangsa binatang-binatang
buas dan kemudian dipenggal kepalanya. Mereka
berdua wafat sekitar tahun 202.
SANTA FELISITAS dan KETUJUH
PUTERANYA
Felisitas yaitu seorang wanita Kristen
bangsawan dari Roma. Ia hidup pada abad kedua.
Sesudah suaminya meninggal
dunia, Felisitas mengabdi Tuhan
dengan berdoa dan melakukan
karya belas kasihan. Teladan
baiknya menghantar banyak
orang untuk menjadi Kristen
pula.
Hal ini memicu
imam-imam kafir amat marah
dan melaporkannya kepada
Kaisar Antonius Pius. Mereka
mengatakan bahwa Felisitas
yaitu musuh negara oleh
sebab ia membuat dewa-dewa murka. Maka, kaisar
memerintahkan agar Felisitas ditangkap. Tujuh
orang pemuda ditangkap bersamanya. Mereka
yaitu ketujuh putera Felisitas. Seperti ibu dalam
Kitab Makabe dalam Perjanjian Lama, Felisitas tetap
tenang. Gubernur sia-sia saja membujuknya untuk
mempersembahkan korban kepada para dewa.
Akhirnya Gubernur berseru, “wanita celaka! Jika
engkau ingin mati, matilah! namun , janganlah
engkau membinasakan anak-anakmu pula.”
“Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya
jika mereka, seperti saya, mengutuk dewa-dewa
berhala dan mati bagi Tuhan,” jawab Felisitas.
Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan
putera-puteranya dihukum mati. Seorang mati
dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga
orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas
ditenggelamkan. Empat bulan kemudian, Felisitas
juga dihukum pancung. Kekuatannya yang luar biasa
itu bersumber pada pengharapannya yang besar
akan kehidupan kekal kelak bersama Tuhan dan
putera-puteranya di surga. Dapat dikatakan, St.
Felisitas wafat dimartir delapan kali, sebab ia harus
menyaksikan satu demi satu puteranya wafat
dimartir hingga akhirnya ia sendiri
mempersembahkan nyawanya juga bagi Yesus.
FELIX († 303)
yaitu uskup di Thibiuka (Tunisia). Ia
dipaksa menyerahkan Kitab Suci untuk dibakar.
Namun ia menjawab: “Lebih baik sayalah yang
dibakar dibandingkan Kitab Suci ini. Sebab, lebih tepat
patuh kepada Tuhan dibandingkan kepada manusia.”
Kemudian ia menerima ganjaran hukuman mati.
P: 24 Oktober
SANTO PAUS FELIX III (II) († 492)
Paus St Felix III (II) yaitu leluhur dari Paus
St Gregorius Agung (540-604). Gregorius menulis
bahwa saat bibinya, St Tharsilla,
sedang menghadapi ajal, Paus
Felix menampakkan diri kepada
bibinya dan membimbingnya ke
surga. Siapakah Paus St Felix ini?
Dan peristiwa-peristiwa apakah
yang terjadi dalam hidupnya yang
menghantarnya ke kekudusan?
Meski tak banyak catatan
tentangnya, namun kita tahu bahwa
Felix yaitu seorang Romawi. Ia
seorang yang jujur dan gagah
berani dalam menghadapi masa-
masa sulit. Felix dinobatkan
menjadi paus pada tahun 483. Gereja terpecah-
belah atas kelompok-kelompok sebab ajaran-ajaran
sesat. Faktor-faktor politis mempersulit pelayanan
paus. namun , Felix berhasil membuktikan diri sebagai
seorang yang gagah berani dalam membela
kebenaran-kebenaran iman dan hak-hak Gereja.
Banyak yang memperbandingkannya dengan Paus St
Leo Agung yang wafat pada tahun 461. Paus Felix
sungguh universal dalam pandangannya. Ia
berusaha memahami serta menyelesaikan masalah-
masalah Gereja di berbagai belahan dunia.
Felix melewatkan sembilan tahun dari masa
hidupnya sebagai paus. Ia akan dikenang sebagai
seorang yang berdedikasi total kepada Yesus dan
Gereja-Nya. Paus St Felix wafat pada tahun 492.
A: bahagia (L); P: 1 Maret
SANTO FELIX dan SANTO SIPRIANUS
Felix dan Siprianus, keduanya yaitu Uskup
Afrika yang hidup pada abad kelima. Mereka
menderita bersama lebih dari 4900 martir dalam
masa penganiayaan yang hebat oleh bangsa Vandal.
Huneric, raja Vandal, membuang umat Kristiani ini
ke pengasingan di padang gurun Libya. Mereka
diperlakukan dengan begitu keji oleh bangsa Moor.
Seorang uskup yang kudus bernama Victor
berusaha menolong umat Kristiani yang malang ini,
yang dijebloskan ke dalam sebuah penjara yang
ngeri. Mereka dikurung tanpa udara maupun
penerangan yang cukup. Uskup Victor menuliskan
kisah keberanian dan penderitaan yang mereka
alami. Beliau menceritakan bahwa saat mereka
diperintahkan untuk pergi ke tempat pembuangan di
padang gurun yang ganas, mereka keluar dari
penjara dengan menyanyikan madah pujian. Umat
Kristiani lainnya mencucurkan arimata melihat
kegagahan mereka. Bahkan para wanita dan
anak-anak ikut pergi bersama mereka ke
pembuangan dan tewas di sana. Dalam kisah ini
diceritakan pula tentang Uskup St Felix. Ia tua renta
dan setengah lumpuh hingga seseorang mengatakan
kepada raja Vandal, “Baginda dapat meninggalkan
dia mati di sini.” namun Raja Huneric dengan keji
menjawab, “Jika ia tidak dapat menunggang kuda, ia
dapat diseret dengan lembu.” Pada akhirnya,
mereka memutuskan untuk mengikatkan uskup tua
yang gagah berani ini pada seekor keledai dan
dengan demikian ia dibuang agar mati di padang
gurun.
Kita juga merayakan St Siprianus. Uskup
Siprianus hidup dua abad sesudah St Siprianus dari
Kartago. St Siprianus yang pestanya kita rayakan
hari ini mempertaruhkan nyawanya sendiri demi
memelihara sebanyak mungkin para tawanan. Ia
menghabiskan segenap waktu dan kekuatannya,
pula segala yang dimilikinya, demi menolong
mereka. Akhirnya, ia sendiri ditangkap juga dan
dibuang ke pengasingan. Di sana ia wafat sebagai
martir akibat perlakuan keji terhadap umat Kristiani.
FELIX dari NOLA
Diterangi oleh sinar redup pelita minyak kecil,
orang-orang Kristen kota Nola berkumpul
mendoakan Felix, pastor mereka. Felix yaitu anak
seorang bekas tentara dan menjadi pastor yang rajin
sekali mengunjungi umat.
Pada tahun 250 Kaisar Decius melancarkan
pengejaran terhadap orang Kristen. Felix tertangkap
dan dijebloskan ke dalam penjara. Dua kali sudah
dicemeti sesudah bajunya ditanggalkan. namun Felix
berhati baja dan tak mau mengkhianati imannya.
Hal ini mengobarkan kemarahan para
penganiayanya. Felix dilemparkan ke dalam sel
gelap tak berjendela dan lantai penuh dengan
pecahan kaca. Esok hari ia mesti menjalani hukuman
mati.
Tuhan mendengarkan doa umat Nola
malam itu: Dengan cara ajaib Felix melintasi pintu
penjara satu demi satu. namun ia tidak langsung
bersmbunyi atau menemui umatnya. Ia telah
mendengar, bahwa uskup Maximus dari Nola,
sedang bersembunyi di suatu tempat dalam keadaan
sengsara dan memerlukan pertolongan. Maka
tindakan Felix yang pertama yaitu menemui
gembalanya. Berjam-jam lamanya Felix berjalan
terseok-seok menurutkan liku-liku lorong sempit.
Sebab, seharian perutnya kosong dan badan lunglai
akibat penganiayaan. Akhirnya ia berhasil
menemukan uskup itu sendirian, sakit dan tidak
berdaya. Dengan bersusah payah Felix
menggendongnya ke sebuah rumah, susaha uskup
dapat beristirahat memulihkan kekuatannya.
Sesaat sesudah tersiar kabar bahwa Felix
melarikan diri, tentara dikerahkan untuk melacak
dan menangkapnya kembali. Mereka juga diberi
kuasa untuk melaksanakan hukuman mati seperti
yang telah diputuskan. namun Felix
menyembunyikan diri. Baru sesudah kaisar yang
kejam itu digantikan oleh kaisar baru, Felix muncul
lagi. saat uskup Maximus meninggal, umat
meminta Felix menggantikannya. namun ia menolak
kedudukan terhormat itu. Ia memilih tetap sebagai
imam biasa dengan hidup sederhana. Ia dihormati
sebab kebaikan dan keberaniannya semasa
pengejaran.
Felix dari Nola (Italia Selatan) hidup pada
abad ke-3. Makamnya masih utuh dalam
Katedral Nola. A: yang bahagia; P: 14 Januari.
FELIX OFM CAP (1515-1578)
Yang senantiasa minta derma itu dijuluki
‘Bruder Deogratias’, sebab selalu mengucap
“Syukur kepada Allah” atas segala perlakuan yang
diterimanya. Hidupnya sangat sederhana, banyak
berdoa dan selalu sopan, sehingga disenangi rakyat
kecil.
P: 18 Mei
FELIX, LUCIUS, NEMESIAN, FELIX, LITEUS
POLIAN, VIKTOR, JADER dan DAVITUS
(257)
yaitu uskup-uskup Afrika Utara yang
bersama banyak imam dan awam dihukum kerja
paksa dalam tambang batu marmer di Sium. Santo
Siprianus menulis surat kepada mereka untuk
menguatkan iman para saksi Kristus ini.
P: 10 September
FEODOR (=TEODOR) dan JOAN († 983)
yaitu martir Rusia pertama. saat raja
kembali dari medan perang untuk merayakan
kemenangannya, ia berikrar akan mengurbankan
seorang manusia. Undian jatuh kepada Joan. Dia
dan ayahnya Feodor yang sudah beriman Kristen
menolak kebiasaan kafir yang buruk itu. Akhirnya
nereka dibunuh oleh orang-orang Rusia yang belum
mengenal Kristus itu
P: 12 Juli
SANTO FERDINANDUS III (1199-1252)
yaitu putera Raja Alfonso IX dari Leon dan
Ratu Berengaria dari Kastilia. Ia naik tahta di Katilia
pada usia 20 tahun. Tigabelas tahun kemudian ia
menjadi raja atas Leon. Persatuan antara kedua
kerajaan ini seterusnya tak terpecahkan lagi. Masa
pemerintahannya memiliki arti yang sangat
penting bagi sejarah Spanyol. Sebab, dialah yang
berhasil merebut lagi sebagian besar Andalusia dari
pendudukan orang-orang Moor (Islam). Melalui
pertempuran yang sengit ia berhasil mempersatukan
kembali seluruh wilayah ke dalam Negara Kristen
itu. Ferdinandus yaitu raja yang besar, dalam arti
berkuasa dan memiliki keberanian, namun juga
berhati besar, yakni tidak mementingkan diri sendiri,
penuh pengabdian kepada iman dan rakyatnya. Ia
juga memperluas Universita Salamanca. Tatkala
meninggal, banyak orang menganggap dia sebagai
santo. namun baro 400 tahun kemudian ia secara
resmi dinyatakan kudus.
Ferdinandus III (1199-1252), Raja dari Leon
dan Kastilia (Spanyol); dimakamkan dalam
Katedral Sevilla; L: bola (=bumi ini) dan
pedang; P: 30 Mei
FERDINANDUS († 1443)
Ia dijuluki Pangeran Tabah (= El Pricipe
Constante). Ia ditangkap oleh tentara Maroko saat
bersama saudaranya Henrikus Navigator berperang
di Ceuta. Ia menjadi sandera dank arena tak mampu
membayar uang tebusan Ferdinanus tak dibebaskan.
Lalu ia disiksa dengan keji sampai mati di Fez pada
tahun 1443.
P: 5 juni
FEREMENATOS (380)
saat bersama saudara Edesia sedang
melakukan perjalanan, mereka ditangkap oleh orang
Etiopia. Namun pedagang dari Libanon ini disukai
oleh raja dari Aksum, sehingga diminta mendidik
putera

