ar dan saat usianya tujuh tahun, ia
diperkenankan untuk menerima Komuni Kudus-nya
yang Pertama.
sebab keluarganya miskin, Dominikus harus
berjalan pulang balik sejauh 6 mil (± 9.6 km) setiap
hari agar dapat bersekolah di kota terdekat. Suatu
hari saat gurunya sedang tidak berada di kelas,
dua orang anak lelaki membawa masuk banyak
sekali salju dan sampah serta menyumpalkannya ke
dalam satu-satunya tungku pemanas ruangan.
saat Pak Guru kembali, ia menjadi sangat marah.
Kedua anak ini ketakutan, mereka
mengatakan bahwa Dominikus-lah yang telah
melakukannya. Pak Guru memaki-maki Dominikus
dengan kata-kata yang keras dan tajam. Ia juga
menambahkan jika saja ini bukan perbuatannya
yang pertama, tentulah Dominikus telah diusirnya.
Dominikus tidak mengatakan sepatah kata pun
untuk membela diri. Ia berdiri di depan kelas dengan
kepala tertunduk. Keesokan harinya, tahulah Pak
Guru apa yang sebenarnya telah terjadi. Segera ia
menemui Dominikus dan bertanya mengapa ia tidak
membela diri. Dominikus mengatakan bahwa ia
khawatir Pak Guru akan mengeluarkan kedua anak
nakal ini , padahal ia ingin sekali mereka diberi
kesempatan. “Lagipula,” katanya, “saya ingat bahwa
Yesus juga dituduh secara tidak adil dan Ia diam
saja.”
ORATORIO ST. YOHANES BOSCO
saat Santo Yohanes Bosco (biasa dipanggil
Don Bosco) mencari tunas-tunas muda untuk dididik
sebagai imam dalam Serikat Salesian, imam paroki
di mana Dominikus tinggal menawarkan Dominikus
kepadanya. Don Bosco mengujinya terlebih dahulu
dan sesudah pertanyaan-pertanyaannya selesai,
Dominikus balik bertanya, “Bagaimana pendapat
Romo tentang saya?”
“Menurut saya, engkau yaitu bahan yang bagus,”
jawab Don Bosco dengan senyum lebar. “Baiklah,
Romo yaitu seorang tukang jahit yang hebat, jika
bahannya memang bagus, ambillah saya dan jadikan
saya jubah yang indah bagi Tuhan!” Demikianlah,
bulan Oktober 1854, pada usia dua belas tahun,
Dominikus diterima sebagai murid di Oratorio St.
Fransiskus dari Sales di Turin.
Di Oratorio, Dominikus dikenal oleh teman-
teman serta para gurunya sebagai seorang anak
yang periang, ramah, serta teliti. Walaupun masih
anak-anak, ia dikaruniai Tuhan karunia-karunia
rohani yang jauh melebihi usianya: mengenali
mereka yang membutuhkan pertolongan, mengenali
kebutuhan rohani orang-orang di sekitarnya, serta
dikarunia kemampuan untuk bernubuat. Dominikus
memperoleh kasih sayang serta hormat dari teman-
temannya dan juga dari para imam. Dominikus tidak
suka memaksakan kehendaknya serta tidak suka
menonjolkan pendapat pribadinya, namun ia tidak
akan takut untuk menentang segala yang salah dan
selalu dapat memberikan alasan mengapa suatu
tindakan dianggapnya salah.
Suatu saat , Dominikus secara tidak sengaja
mendengarkan rencana dua orang temannya yang
hendak berkelahi dengan saling melempar batu.
Dominikus berusaha sebaik-baiknya berbicara
dengan mereka untuk membatalkan pertarungan
yang berbahaya itu. Namun demikian, tampaknya
tidak ada lagi yang dapat membujuk kedua anak itu
untuk mengurungkan niat mereka. Bisa saja
Dominikus melaporkan mereka kepada guru mereka,
namun ia pikir hal itu hanya akan menunda
perkelahian tanpa menyelesaikan masalah.
Dominikus berhasil membujuk kedua temannya itu
untuk menerima satu syarat rahasia darinya, yang
akan dikatakan Dominikus sesaat sebelum
perkelahian dimulai. Maka, pergilah Dominikus
dengan kedua temannya itu. Ia membantu mereka
mengumpulkan batu-batu guna persiapan
perkelahian. saat semuanya sudah siap,
Dominikus mengacungkan sebuah salib kepada
mereka seraya berkata, “Kalian berdua, sebelum
kalian berkelahi, pandanglah salib ini dan
katakanlah, `Yesus Kristus tidak berdosa dan Ia
wafat dengan memaafkan pembunuh-pembunuh-
Nya. Saya seorang berdosa, dan saya hendak
menyakiti Yesus dengan tidak memaafkan musuh-
musuh saya.' sesudah berkata demikian, terlebih
dahulu lemparkanlah batu pertama kalian kepadaku.
Itulah persyaratanku.” “namun Dominik, kamu tidak
pernah menyakiti aku atau pun bersalah kepadaku.
Kamu yaitu temanku,” protes mereka. “Kamu tidak
akan menyakiti aku, yang hanya seorang manusia
yang lemah. namun kamu, dengan tindakan-
tindakanmu itu, akan menyakiti Yesus Kristus yang
yaitu Tuhan?”
Kedua temannya itu menundukkan kepala mereka
sebab malu dan menjatuhkan batu-batu mereka.
Mereka saling memaafkan dan berjanji untuk
menerima Sakramen Tobat.
INGIN MENJADI KUDUS
Dominikus Savio bertekad untuk menjadi
seorang kudus. Ia pergi ke kapel untuk berdoa. Ia
menolak untuk bermain dengan teman-temannya,
mukanya pun diubah menjadi muram dan serius.
Dua hari lamanya Dominikus bersikap demikian.
Hingga, Don Bosco memanggilnya dan bertanya
apakah ia sedang sakit. “Tidak,” kata Dominikus,
“sungguh saya dalam keadaan sehat dan bahagia.”
“Jika demikian, mengapa kamu tidak mau bermain
seperti biasanya? Mengapa mukamu demikian
muram?” “Saya ingin menjadi kudus, Romo.”
Don Bosco memuji ketetapan hatinya namun
menasehati Dominikus untuk senantiasa gembira
dan tidak merasa khawatir; melayani Tuhan yaitu
jalan menuju kebahagiaan sejati.
Nasehat Don Bosco membuahkan hasil.
Dominikus menjadi teladan sukacita bagi teman-
temannya. Suatu hari, saat ia menyambut seorang
anak baru di Oratorio, ia menjelaskan programnya.
“Di sini kita mencapai kekudusan dengan hidup
penuh sukacita. Kita menghindarkan diri dari dosa
-yaitu pencuri besar yang merampok rahmat Tuhan
bagi kita serta merampas kedamaian hati; kita tidak
melalaikan tugas, serta mencari Tuhan dengan
segenap hati. Mulailah dari sekarang dan jadikan
kata-kata ini moto hidupmu: Servite Domino in
laetitia: Layanilah Tuhan dengan sukacita yang
kudus.”
CINTA AKAN SAKRAMEN-SAKRAMEN
GEREJA
Pengalaman membuktikan bahwa sumber
pertolongan rohani terbesar diperoleh dari Sakramen
Tobat dan Sakramen Ekaristi. Anak-anak yang
menerima kedua sakramen ini secara teratur
bertumbuh mencapai kedewasaan rohani. Dengan
demikian hidup mereka menjadi teladan hidup
Kristiani.
Sebelum bersekolah di Oratorio, Dominikus
biasa menerima Sakramen Tobat dan Sakramen
Ekaristi seminggu sekali. Sejak di Oratorio, ia
melakukannya lebih sering. Suatu hari Dominikus
mendengarkan khotbah Don Bosco: “Anak-anak, jika
kalian ingin menjaga diri agar senantiasa berada di
jalan menuju Surga, saya nasehatkan kalian agar
sesering mungkin menerima Sakramen Tobat dan
Sakramen Ekaristi. Pilihlah seorang Bapa Pengakuan
kepada siapa kamu dapat mengungkapkan dirimu
secara bebas dan, jika bukan sebab hal mendesak,
janganlah berganti-ganti Bapa Pengakuan.”
Dominikus memilih seorang Bapa Pengakuan
baginya. Pada awalnya ia mengakukan dosanya dua
minggu sekali, kemudian seminggu sekali. Selesai
menerima Sakramen Tobat, Dominikus
diperbolehkan menerima Sakramen Ekaristi. Bapa
Pengakuannya yang melihat perkembangan rohani
Dominikus yang demikian pesat, menyediakan waktu
untuk berbicara dengannya tiga kali seminggu. Di
akhir tahun, ia mengijinkan Dominikus untuk
menerima Komuni setiap hari! Dominikus amat
senang, katanya: “Jika saya merasa sedih dan
khawatir, saya akan pergi kepada Bapa Pengakuan
saya. Dialah yang akan menunjukkan Kehendak
Tuhan bagi saya; sebab Yesus Kristus sendiri telah
menyatakan bahwa Bapa Pengakuan berbicara
dengan Suara Allah. Juga, saat saya menginginkan
sesuatu yang amat penting, saya pergi menerima
Komuni Kudus. Saya menerima Tubuh yang sama
dengan yang ditawarkan Tuhan bagi kita di Salib,
bersama dengan Darah-Nya yang Mulia, Jiwa-Nya
dan Ke-Allahan-Nya. Apakah lagi yang masih saya
inginkan untuk melengkapi kebahagiaan saya, selain
dari saat saya kelak berhadapan muka dengan muka
dengan-Nya, yang sekarang ini saya lihat di altar
hanya dengan mata iman?”
Sebelum Komuni Pertamanya, Dominikus
membuat empat janji yang ditulisnya dalam sebuah
artikel kecil. Janji-janjinya itu seringkali dibacanya
kembali. Tulisnya:
Saya akan menerima Sakramen Tobat dan
Sakramen Ekaristi sesering mungkin.
Saya akan berusaha memberikan hari Minggu
serta hari-hari libur sepenuhnya untuk
Tuhan.
Sahabat terbaikku ialah Yesus dan Maria.
Lebih baik mati dibandingkan berbuat dosa.
Janji keempat akan menjadi moto Dominikus
sepanjang hidupnya. Beberapa kali ia memohon
pada Tuhan untuk mengijinkannya meninggal
sebelum ia sempat menyakiti Tuhan dengan
melakukan dosa berat.
CINTA AKAN LAKU SILIH
Dengan semangat jiwanya, Dominikus
memutuskan untuk makan hanya roti dan minum
hanya air tawar setiap hari Sabtu demi menghormati
Bunda Maria. namun , Don Bosco melarangnya.
Kemudian ia berkeinginan untuk berpuasa selama
Masa Advent. Baru seminggu ia melakukannya, Don
Bosco akhirnya mengetahui apa yang sedang
dilakukannya dan menyuruhnya berhenti berpuasa.
Ia mohon, setidak-tidaknya ia diijinkan untuk tidak
sarapan, namun itu pun tidak diperbolehkan. Semua
laku silih badani itu akan berakibat buruk bagi
kesehatannya yang kurang baik.
sebab berpuasa dan berpantang dilarang,
Dominikus mencari cara lain untuk melakukan silih.
Ia meletakkan batu-batu serta ranting-ranting di
tempat tidurnya sehingga ia tidak dapat tidur
dengan nyaman. Ia juga ingin mengenakan baju
kasar. namun , itu pun dilarang. Dominikus mencari
akal lain. Selama musim dingin ia tetap mengenakan
selimut musim panas yang tipis. Suatu hari,
Dominikus sakit dan harus tinggal di tempat tidur.
Don Bosco datang menjenguknya. Dilihatnya bahwa
Dominikus hanya mengenakan selimut tipis. “Apa
maksudnya ini? Kamu ingin mati kedinginan?”
“Tidak, Romo. Saya tidak akan mati kedinginan.
Yesus di palungan dan di atas salib mengenakan
kurang dari yang saya kenakan sekarang ini.”
Meskipun begitu, Dominikus dilarang keras
melakukan laku silih badani apa pun tanpa ijin Don
Bosco. Perintah ini ditaatinya, walau dengan hati
sedih.
“Saya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Tuhan
bersabda bahwa tanpa silih, kita tidak dapat sampai
ke Surga dan sekarang saya dilarang melakukan silih
apapun; alangkah kecilnya kesempatan saya untuk
masuk Surga!”
“Silih yang diminta Tuhan darimu ialah ketaatan,”
jawab Don Bosco
“Tidakkah saya diperbolehkan melakukan silih yang
lain juga?” pintanya
“Ya, menerima dengan sabar segala penghinaan
serta menanggung dengan tabah segala cuaca:
panas, dingin, hujan dan angin; jika kamu lelah
janganlah bersikap buruk; jika kamu sakit, tetaplah
bersyukur kepada Tuhan.”
“namun , hal-hal demikian sudah termasuk dalam
laku silih yang pokok.”
“Jika demikian, kerjakanlah segala sesuatu dengan
penuh sukacita, bersedialah menanggung segala
sesuatu demi cintamu kepada Tuhan, maka pastilah
kamu beroleh belas kasih dibandingkan -Nya.” Dominikus
merasa puas dengan jawaban itu dan ia pergi
dengan gembira.
PENGENDALIAN DIRI
Merupakan suatu perjuangan yang berat bagi
Dominikus untuk mengendalikan pandangan
matanya, sebab perangainya yang lincah dan suka
mengamati. Ia menceritakan kepada seorang teman
bahwa pertama kali ia melatihnya, perjuangannya
demikianlah hebat hingga membuat kepalanya sakit.
Namun demikian, pada akhirnya, ia berhasil
menguasai matanya sepenuhnya hingga mereka
yang mengenalnya memberikan kesaksian bahwa
tak pernah sekali pun Dominikus menggunakan
matanya untuk melihat barang sekilas saja
pemandangan yang tidak layak.
“Mata kita,” demikian katanya kepada teman-
temannya, “yaitu jendela. Seperti kalian hanya
perlu melihat apa yang ingin kalian lihat lewat
jendela, demikian jugalah dengan mata; mata akan
menunjukkan kepada kita malaikat terang atau
setan kegelapan, kedua-duanya berebut untuk
menguasai jiwa kita.”
Suatu hari, seorang anak membawa ke
sekolah sebuah majalah dengan banyak gambar-
gambar tidak sopan. Sekejap saja anak-anak lelaki
segera bergerombol di sekelilingnya ingin melihat
juga gambar-gambar itu. “Ada apa, ya?” Dominikus
bertanya-tanya, dan ia pun pergi untuk melihatnya.
Sekilas pandang saja sudah cukup baginya.
Dirampasnya majalah itu dan dirobek-robeknya!
“Apa yang kalian pikirkan? Tuhan memberi
kita mata sehingga kita dapat mengagumi keindahan
karya-Nya; dan kalian menggunakannya, atau lebih
tepat menyalahgunakannya, untuk melihat gambar-
gambar yang mengerikan ini. Apakah kalian lupa
akan apa yang sering dikatakan Tuhan: satu
pandangan yang tidak benar saja dapat mengotori
jiwa kita? Dan sekarang kalian memanjakan mata
kalian dengan gambar-gambar cemar itu!”
“Oh,” protes seorang anak, “ini hanya
sekedar untuk bersenang-senang.”
“Untuk bersenang-senang. Dan sementara itu kalian
mempersiapkan diri kalian ke neraka!” “Memangnya,
apa sih salahnya melihat-lihat gambar ini?” protes
teman yang lain. “Bahkan lebih parah. Dengan tidak
merasa bersalah, melainkan merasa diri benar,
kalian telah memperbesar dosa kalian. Tidak
tahukah kalian bahwa nabi Ayub, meskipun sudah
tua dan rapuh, menyatakan bahwa ia mengadakan
perjanjian dengan matanya agar matanya tidak
memandang hal lain selain dari yang suci dan
kudus?”
Tidak ada seorang pun yang berkata-kata
lagi. Mereka semua sadar bahwa Dominikus benar.
Selain mengendalikan matanya, Dominikus juga
menjaga lidahnya. saat orang lain berbicara, tak
peduli pembicaraannya sesuai atau tidak sesuai
dengan pendapat pribadinya, Dominikus selalu
bersedia mendengarkan. Malahan seringkali ia
menghentikan pembicaraannya sendiri untuk
memberi kesempatan pada yang lain untuk
berbicara. Lebih dari itu, jika seorang temannya
mencari perkara dengannya, ia akan menahan diri
dan menjaga lidahnya.
Suatu hari, Dominikus mengingatkan seorang
anak yang memiliki kebiasaan buruk. Bukannya
menerima nasehat dan memperbaiki sikapnya, anak
itu malahan marah, memaki, memukul-mukul serta
menyepak Dominikus. Mudah saja bagi Dominikus
untuk membalasnya sebab dia lebih besar serta
lebih kuat dari anak itu. namun Dominikus memilih
untuk memikul Salib Kristus. Meskipun wajahnya
memerah, ia menguasai dirinya dan berkata: “Kamu
telah bersikap buruk kepadaku, namun aku
memaafkanmu. Berusahalah untuk tidak bersikap
demikian terhadap yang lain.”
Pada musim dingin, Dominikus menderita
gatal-gatal pada tangannya. Bagaimanapun sakit
rasanya, Dominikus tidak pernah mengeluh.
Malahan, tampaknya ia bergembira sebab nya.
“Semakin besar,” katanya, “akan semakin baik bagi
kesehatan,” dan `kesehatan' yang dimaksudkan
olehnya yaitu kesehatan jiwa. Dominikus juga tidak
pernah mengeluh tentang cuaca, atau peraturan-
peraturan sekolah atau pun makanan di asrama.
Sesungguhnya saat makan yaitu kesempatan
baginya untuk melakukan silih. Dengan senang hati
ia akan menerima potongan-potongan makanan
yang ditolak anak-anak lain sebab terlalu asin, atau
kurang asin, atau terlalu matang, atau pun kurang
matang. Dominikus mengatakan bahwa makanan
ini sungguh sesuai dengan seleranya.
Di waktu luangnya, Dominikus membersihkan
sepatu, menyikat baju teman-temannya, menyapu,
melayani mereka yang sakit serta melakukan
pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya dengan segala
kerendahan hati: “Semua orang melakukan apa
yang mampu dilakukannya. Saya tidak mampu
melakukan hal-hal yang besar, namun saya mau
melakukan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang
remeh sekali pun, demi kemuliaan Tuhan; dan saya
berharap dalam Belaskasih-Nya yang Tak Terbatas,
Tuhan akan memandang dengan penuh belas kasih
segala usaha saya yang tak berarti ini.”
Jadi, menyantap makanan yang tidak
disukainya, mengorbankan apa yang disukainya,
menjaga matanya dari pandangan yang tidak baik,
mengorbankan keinginannya sendiri, rela
menanggung penderitaan baik mental maupun fisik;
hal-hal itulah yang menjadi laku silih Dominikus
sepanjang hari dan setiap hari. Dengan penuh
semangat ia rela mati bagi dirinya sendiri agar
Kristus dapat tinggal di dalamnya. Dengan tekun
Dominikus berusaha sebaik-baiknya, bahkan dalam
kesempatan terkecil sekali pun, untuk
menyempurnakan keutamaan-keutamaannya di
hadapan Tuhan.
PEDOMAN HIDUPNYA
• melaksanakan kewajibannya sebagai seorang
murid.
• bersikap baik terhadap teman-teman yang
karakternya kurang menyenangkan
• menyantap semua hidangannya pada saat
makan tanpa menyingkirkan atau membuang
sesuatu pun
• belajar semua mata pelajaran, bahkan yang
tidak menarik
• rendah hati saat teman-teman lain lebih
hebat dari saya
• tidak berkeluh kesah tentang cuaca,
sebaliknya, bersyukur kepada Tuhan
• riang dan gembira saat cenderung bersikap
sebaliknya
• dalam setiap kesempatan menunjukkan kasih
kepada Yesus Kristus
DOA DAN NUBUAT
Salah satu dari sekian banyak karunia yang
dilimpahkan Tuhan kepada Dominikus yaitu
karunia berdoa. Bahkan dalam permainan yang
paling ribut sekali pun, pikirannya tertuju kepada
Tuhan dan hatinya diangkatnya dalam doa. Suatu
saat Dominikus menghilang dari pagi sampai saat
makan malam. Don Bosco yang mencarinya,
akhirnya menemukan muridnya itu di gereja, khusuk
dalam doa. Ia sudah berada di sana selama enam
jam, namun pikirnya Misa pagi masih belum selesai!
Dominikus menyebut saat doa yang khusuk dan
mendalam itu sebagai “penghiburanku.”
Dalam salah satu `penghiburan' itu,
Dominikus melihat suatu dataran luas yang
diselimuti kabut dengan banyak orang meraba-raba
dalam kabut. Kepada mereka datanglah sosok
dengan jubah paus membawa obor yang menerangi
sekitarnya, dan suatu suara mengatakan, “Obor ini
yaitu iman Katolik yang akan membawa terang
bagi rakyat Inggris.” Atas permintaan Dominikus,
Don Bosco melaporkannya kepada Paus Pius IX.
Paus mengatakan bahwa penglihatan itu
meneguhkan niatnya untuk memberi perhatian
khusus kepada Inggris.
DEVOSINYA KEPADA BUNDA MARIA
Dominikus memiliki devosi yang mendalam
kepada Bunda Maria. Setiap hari ia melakukan laku
silih untuk menghormatinya. Setiap kali memasuki
gereja, Dominikus berlutut di altar serta berdoa, “O,
Bunda Maria. Aku berharap untuk selalu menjadi
anakmu. Perolehkanlah bagiku rahmat agar aku
lebih memilih mati dibandingkan berbuat dosa dan
melanggar kesucian.” Satu tahun sebelum ajalnya
ia berkata kepada Don Bosco: "Romo, saya ingin
melakukan sesuatu untuk Bunda Maria. namun saya
harus melakukannya dengan segera, sebab jika
tidak, saya takut semuanya akan terlambat."
Maka atas persetujuan Don Bosco, Dominikus
membentuk perkumpulan remaja yang diberinya
nama "Persaudaraan Sejati dalam Bunda Maria yang
Dikandung Tanpa Dosa". Tujuan perkumpulannya
yaitu membantu teman-teman yang lain agar
dapat lebih dekat dan akrab dengan Tuhan Yesus,
sama seperti yang selalu dilakukan oleh Bunda
Maria. Di samping kegiatan-kegiatan rohani, mereka
menyapu, membersihkan sekolah serta
memperhatikan anak-anak yang kurang diperhatikan
oleh anak-anak lain. Perkumpulan itu berhasil,
sampai sekarang masih ada dan berkembang.
sesudah kematiannya, Dominikus
menampakkan diri kepada St. Yohanes Bosco, guru
sekaligus romonya yang terkasih. Don Bosco
bertanya kepadanya hiburan terbesar apa yang
didapatnya saat kematiannya. Dominikus menjawab:
"Hiburan terbesar yang saya terima saat kematian
saya yaitu pertolongan dari Bunda Tuhan yang
penuh kuasa dan kasih. Tolong sampaikan kepada
teman-teman agar tidak lupa berdoa kepada Bunda
Maria setiap hari sepanjang hidup mereka."
AKHIR HIDUPNYA
Kesehatan Dominikus tidak pernah prima.
Pada bulan Maret 1857 ia jatuh sakit dan dikirim
pulang ke rumahnya di Mondonio. Kesehatannya
semakin memburuk. Dokter menyatakan ia
menderita radang paru-paru / Tuberculosis . Cara
pengobatan pada masa itu ialah dengan merobek
pembuluh darah dan membiarkan `kelebihan' darah
mengalir keluar. Dalam kurun waktu empat hari,
dokter telah mengiris lengannya sepuluh kali.
Bukannya menyembuhkan, mungkin hal itu malahan
mempercepat kematiannya. Imam dipanggil untuk
memberikan Sakramen Terakhir. Dominikus
meminta ayahnya mendaraskan doa-doa bagi
mereka yang menjelang ajal. saat doa hampir
selesai didaraskan, Dominikus mencoba duduk.
“Selamat tinggal, ayah.” bisiknya, “Romo
mengatakan sesuatu padaku……namun aku tidak ingat
apa…..” Tiba-tiba wajahnya bersinar. Dominikus
tersenyum bahagia serta penuh sukacita. “Alangkah
indahnya apa yang aku lihat!”
Kemudian Dominikus tidak berkata-kata lagi.
Ia meninggal dengan tenang di rumahnya pada
tanggal 9 Maret 1857 dalam usia empat belas tahun.
Jenasah Dominikus dimakamkan di Basilika Maria
Pertolongan Orang Kristen di Turin, tak jauh dari
makam pembimbingnya kelak, St. Yohanes Bosco.
sesudah kematiannya, St. Yohanes Bosco menuliskan
riwayat hidup Dominikus sehingga gereja
memproses kanonisasinya. Dalam sejarah gereja,
Dominikus Savio merupakan orang kudus bukan
martir yang termuda (belum genap 15 tahun) yang
dikanonisasi. Dominikus Savio dibeatifikasi oleh
Venerabilis Paus Pius XII pada tahun 1950 dan pada
tanggal 12 Juni 1954 dikanonisasi oleh Paus yang
sama. Pesta Santo Dominikus Savio dirayakan setiap
tanggal 6 Mei.
“Seorang remaja seperti Dominikus, yang dengan gagah
berani berjuang mempertahankan kekudusannya sejak
dari Pembaptisan hingga akhir hayatnya, yaitu sungguh
seorang kudus.” ~ Paus St. Pius X
"Saya tidak mampu melakukan hal-hal besar, namun saya
mau melakukan segala sesuatu, bahkan hal-hal remeh
sekali pun, demi kemuliaan Tuhan.” ~ Santo Dominikus
Savio
DONATIAN († 260)
yaitu seorang magang B baptis yang
dipermandikan dalam penjara di Kartago Tunisia,
lalu dihukum mati.
P: 6 Mei
DONATUS (830-876)
Donatus berasal dari Irlandia dan menjadi
uskup di Fiesole Italia. Ia menulis riwayat hidup
Santa Brigida.
A: yang diberi (L); P: 22 Oktober
DON PASCHOAL (1585)
yaitu seorang pangeran Jawa dari keluarga
raja Blambangan. Tak lama sesudah dibaptis, ia
digodai putrid kerajaan yang masih sepupu sendiri
untuk berbuat mesum. Don Paschola menolak wanita
itu. Putri itu kemudian mengadukan dan
memfitnahnya pada raja. Raja memerintahkan
susaha Don Paschoal dibunuh. Mayatnya
dikebumikan dalam gereja Blambangan, namun
kemudian dibawa oleh para pastor Fransiskan ke
gereja di Malaka.
(Salah satu dari Orang-orang Kudus di
Indonesia)
DOROTEA (1347-1394)
sesudah suaminya meninggal, ibu dari 9 anak
ini membiarkan diri dikunci dalam ruangan yang
sempit di Ktedral Marienwerder (Jerman Timur).
Ditempat inilah ia di karuniai rahmat persatuan
dengan Tuhan
B: Dora; P: 25 Juni
DOROTEA dari KAISAREA († 303)
Dalam berbagai artikel kisah umat Kristen
awal, dapat dijumpai banyak nukilan cerita tentang
para saksi iman, yang tanpa rasa takut sedikit pun
rela menyerahkan diri ketangan para algojo.
Diantara mereka yaitu kisah seorang gadis
bernama Dorotea dari kota Kaisarea .
Dorotea dimejahijaukan sebab percaya
kepada Jesus. Hakim membujuk gadis itu, agar mau
menyembah berhala. Kalau tidak bersedia ia akan
disiksa. “Cepat-cepatlah saja tuan hakim, susaha
saya segera dapat memuji Tuhan di surga,” kata
Dorotea kepadanya. namun Teofilus, pengawal
penjara mendengar permintaan itu, ia mencibir dan
mengejeknya: “Kalau telah sampai disana, tolong
kirimkanlah buah dan bunga, anak manis.” Tak lama
kemudian, Dorotea menghadap Bapa di surga
sesudah mengalami siksaan keji dan lehernya ditebas
oleh sebilah pedang.
Malam itu juga, seorang bocah menampakkan
diri secara ajaib kepada Teofilus. Anak itu
menjinjing sekeranjang buah, walaupun belum
musimnya, dan sebakul kembang mawar segar
meskipun sedang musim dingin. “Ini kiriman dari
Dorotea”’ kata bocah itu yang segera hilang dan
lenyap. Melihat itu Teofilus (P: 6 Februari) yang
sebelumnya telah menyiksa banyak orang Kristen
sampai mati, bertobat dan percaya kepada Kristus,
Kemudian ia sendiri dibunuh demi imannya ditempat
yang sama.
Dorotea, martir; meninggal ±303 pada masa
pengejaran orang Kristen oleh Kaisar
Diokletianus. B: Tea; L: seorang pemudi
membawa keranjang penuh buah atau bunga
mawar. Dorotea dihormati sebagai pelindung
para petani dan pedagang buah; P: 6 Februari
DUNS SCOTUS OFM (1265-1308)
Mahaguru teologi termasyur di Oxford,
Cambridge dan Paris itu terkenal pula sebagai
pengkotbah yang menjunjung tinggi sakramen
ekaristi. Ia membela ajaran mengenai Maria ‘yang-
dikandung-tanpa-noda-dosa’ (immaculata), sehingga
dijuluki ‘Doctor Marianus’. sebab tegas-tegas
membela kebebasan Gereja dari kendali raja
Perancis, ia terpaksa dindahkan ke Koln. Di kota
itulah dia meninggal, sesudah menertibkan biara
suster – suster yang menganut paham karismatis
secara keterlaluan.
P: 14 Nopember
DUNSTAN (909-988)
Dibuang oleh raja Inggeris. namun sesudah
raja digantikan, ia dipanggil kembali menjadi uskup
agung Canterbury. Biarawan Benediktin inilah
pembaharu Gereja dan tertib hidup biara di Inggeris.
Ia juga terkenal sebagai penyanyi lagu-lagu gerejani
yang sangat merdu, sehingga orang mengira ia
langsung menghadap Tuhan
P: 19 Mei
E
SANTA EANSWIDA († 31 Agustus 640)
Eanswida hidup pada abad ketujuh. Ia yaitu
cucu St Ethelbert, raja Kristen pertama dalam
kerajaan Inggris. Ayahnya yaitu Pangeran Edbald.
Pada mulanya, Edbald bukanlah seorang religius,
namun ia banyak belajar mengenai kekristenan dari
puterinya. Eanswida seorang gadis yang saleh pun
menarik. Ayahnya telah memilihkan seorang calon
suami yang baik untuknya, seorang pangeran kafir
dari Northumbria. Eanswida sama sekali tidak
senang. Ia menolak menikah dengan suatu gurauan
yang halus, agar jangan sampai menyinggung hati
ayahnya. Edbald menghormati keinginan puterinya
dan ayahnya itu mengejutkan semua orang saat ia
mengijinkan puterinya untuk memulai suatu biara
bagi para biarawati.
Puteri Eanswida yaitu seorang biarawati
yang riang gembira. Ia hidup sederhana dan dalam
doa seperti para biarawati lainnya. Ia menghabiskan
seluruh sisa hidupnya dalam matiraga dan doa bagi
dirinya sendiri dan bagi segenap rakyat negerinya.
Eanswida wafat pada tanggal 31 Agustus tahun 640.
Kaum Danes di kemudian hari menghancurkan
biaranya, namun para biarawan Benediktin
mendirikan biara kembali pada tahun 1095.
EDITH atau ELFRIDA (961-984)
yaitu puteri tak sah raja Edgar dari Inggeris
(944-975; P: 8 Juli) yang membaharui hidup
Kristiani di Inggeris Selatan. Sejak kecil ia dititipkan
dan dibesarkan dalam biara. Edith tidak mau
menjadi pimpian biara sebab senang melayani
semua penghuni biara.
L: seorang putrid raja yang melayani orang
sakit; P: 16 September
SANTA EDITH STEIN ~ SANTA TERESA
BENEDIKTA dari SALIB (12 Oktober 1891-
1942)
“Kita membungkuk hormat di hadapan kesaksian hidup
dan mati Edith Stein, seorang puteri Israel yang luar biasa
dan sekaligus seorang puteri Ordo Karmelit, Suster Teresa
Benedikta dari Salib, suatu pribadi yang mempersatukan
dalam kehidupannya yang kaya, suatu perpaduan
dramatis dari abad kita. Perpaduan dari suatu sejarah
yang penuh luka mendalam yang masih menyakitkan …
dan juga perpaduan akan kebenaran penuh mengenai
manusia. Semuanya ini menyatu dalam sebentuk hati
yang terus-menerus gelisah dan tak tenang hingga
akhirnya ia beroleh istirahat dalam Tuhan.” ~ Paus
Yohanes Paulus II, Beatifikasi Edith Stein, Cologne, 1 May
1987
JITSCHEL
Edith Stein yaitu yang bungsu dari
total sebelas anak pasangan Yahudi-Ortodoks
Siegfried Stein dan Auguste Courant Stein. Ia
dilahirkan di Breslau pada tanggal 12 Oktober
1891, tepat saat keluarganya merayakan Yom
Kippur, perayaan terpenting bangsa Yahudi,
Hari Pendamaian Agung. Lebih dari segalanya,
hal ini menjadikan si bungsu “Jitschel” amat
berharga di mata ibunya. Dilahirkan pada hari
istimewa pendamaian ini bagai suatu nubuat
bagi Jitschel kecil, yang kelak menjadi seorang
biarawati Karmelit.
Ayah Edith, seorang pengusaha kayu,
meninggal dunia
mendadak saat
Edith beranjak
dua tahun.
Ibunya, seorang
yang amat saleh,
pekerja keras,
berkemauan kuat
dan sungguh
seorang
wanita yang mengagumkan, sekarang
harus menghidupi dirinya sendiri, mengurus
keluarga serta mengelola perusahaan kayu
suaminya. Kesemuanya itu ditunaikannya
dengan berhasil, namun demikian, ia tidak
berhasil dalam memelihara iman yang hidup
dalam diri anak-anaknya. Edith kehilangan
imannya akan Tuhan. “Aku secara sadar
memutuskan, atas kemauanku sendiri, untuk
berhenti berdoa,” katanya.
MAHASISWI
Sejak masih amat muda usianya, Edith
menunjukkan antusiasme dan kecemerlangan
dalam belajar. Pada tahun 1911, Edith lulus
cum laude dari ujian akhir sekolah. Ia
melanjutkan kuliah di Universitas Breslau untuk
belajar bahasa Jerman dan sejarah, meski ini
hanya sekedar pilihan “sampingan”. Minatnya
yang sesungguhnya yaitu dalam bidang
filsafat dan peran wanita . Ia menjadi
anggota Serikat Prussian untuk Hak
wanita . Ia berjuang keras demi
memperbaiki nasib wanita . “Semasa di
sekolah dan semasa tahun-tahun pertamaku di
universitas,” tulisnya kemudian, “aku seorang
aktivis yang radikal. Kemudian minatku hilang
dalam segala urusan itu. Sekarang aku mencari
solusi-solusi pragmatis yang murni.”
Pada tahun 1913, Edith Stein pindah ke
Universitas Göttingen dan belajar filsafat di
bawah bimbingan Professor Edmund Husserl,
seorang filsuf tersohor dan penggagas
fenomenologi. Edith menjadi murid dan asisten
pengajarnya, dan Husserl membimbingnya
untuk meraih doktorat. Pada masa itu,
siapapun yang tertarik pada filsafat akan
terpikat oleh pandangan realitas baru Husserl,
di mana dunia seperti yang kita rasakan tidak
hanya ada di jalan Kantian, dalam persepsi
subyektif kita. Murid-muridnya melihat filsafat
Husserl sebagai kembali ke obyek, “back to
things”. Fenomenologi Husserl tanpa disadari
menghantar banyak muridnya ke iman
Kristiani. Di Göttingen, Edith juga bertemu
dengan filsuf Max Scheler, yang mengarahkan
perhatiannya ke Katolik Roma.
Edith tidak melalaikan kuliah-kuliah
“sampingan”nya dan lulus cum laude pada
bulan Januari 1915, meski ia mengikutinya
tanpa bimbingan dosen.
“Aku tak lagi memiliki hidupku sendiri,”
tulisnya di awal Perang Dunia Pertama, sesudah
menamatkan kursus perawat dan pergi
melayani di sebuah rumah sakit lapangan
Austria. Ini yaitu masa yang sulit baginya, di
mana ia merawat mereka yang sakit di bangsal
tifus dan melihat orang-orang muda mati.
Walau demikian, Edith bekerja sepenuh hati
dan mendapatkan medali penghargaan atas
keberanian dan pelayanannya yang tanpa
pamrih. saat rumah sakit dibubarkan pada
tahun 1916, ia mengikuti Husserl sebagai
asistennya ke Freiburg, di mana ia lulus dari
doktoratnya dengan summa cum laude pada
tahun 1917 pada usia 25 tahun dan menerima
gelar Doktor Filsafat sesudah menyelesaikan
tesis “Problem Empati.”
Pada masa ini Edith pergi ke Katedral
Frankfurt dan melihat seorang wanita
dengan keranjang belanja masuk ke dalam
gereja untuk berlutut memanjatkan doa
singkat. “Ini sesuatu yang sama sekali baru
bagiku. Di sinagoga-sinagoga dan di gereja-
gereja Protestan yang telah aku kunjungi,
orang hanya pergi menghadiri kebaktian.
namun di sini, aku melihat seorang yang datang
tepat dari keramaian pasar ke dalam gereja
kosong ini, seolah ia hendak mengadakan
suatu percakapan yang mesra. Ini sesuatu
yang tak akan pernah aku lupakan.” Di akhir
disertasinya ia menulis, “Ada orang-orang yang
percaya bahwa suatu perubahan yang
sekonyong-konyong terjadi atas diri mereka
dan bahwa ini yaitu sebab rahmat Allah.”
Edith Stein bersahabat baik dengan
asisten Husserl di Göttingen, Adolf Reinach,
dan isterinya. saat Reinach gugur pada bulan
November 1917, Edith pergi ke Göttingen
untuk mengunjungi jandanya. Suami isteri
Reinach telah memeluk agama Protestan. Pada
awalnya, Edith merasa canggung menemui
janda muda ini, namun ia terkejut saat
sesungguhnya ia menjumpai seorang
wanita penuh iman. “Inilah perjumpaan
pertamaku dengan Salib dan kuasa ilahi yang
diberikan kepada mereka yang
menanggungnya … itulah saat saat
ketidakpercayaanku hancur dan Kristus mulai
menyinarkan terang-Nya atasku - Kristus
dalam misteri Salib.”
Di kemudian hari Edith menulis,
“Apapun yang tidak sesuai dengan rencanaku
sendiri sungguh berada dalam rencana Allah.
Aku bahkan memiliki keyakinan yang terlebih
mendalam dan terlebih teguh lagi bahwa tak
suatupun yang sekedar kebetulan belaka
jika dilihat dalam terang Tuhan, bahwa
seluruh hidupku hingga ke hal-hal yang paling
detil sekalipun telah dirancangkan bagiku
dalam rencana Penyelenggaraan Ilahi dan
memiliki makna yang sepenuhnya dan logis
dalam pandangan Tuhan yang melihat
semuanya. Jadi aku mulai bersukacita dalam
terang kemuliaan di mana makna ini akan
disingkapkan bagiku.”
Pada musim gugur 1918, Edith Stein
mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai
asisten pengajar Husserl. Ia ingin bekerja
mandiri. Baru pada tahun 1930 Edith bertemu
kembali dengan Husserl sesudah pertobatannya,
dan ia berbagi iman dengannya, sebab ia ingin
Husserl menjadi seorang Kristiani juga. Lalu
Edith menuliskan kata-kata nubuat ini, “Setiap
saat aku merasakan ketakberdayaanku dan
ketakmampuanku untuk mempengaruhi orang
secara langsung, aku menjadi semakin sadar
akan perlunya `holocaust'ku sendiri.”
Edith Stein mendamba gelar professor,
suatu impian yang mustahil bagi seorang
wanita pada masa itu. Husserl menuliskan
referensi berikut, “Andai karir akademis
terbuka bagi kaum wanita , maka aku akan
merekomendasikannya dengan segenap hatiku
dan sebagai pilihan pertamaku untuk gelar
ini .” Edith akhirnya ditolak terutama
sebab ia seorang Yahudi.
Sekembalinya ke Breslau, Edith Stein
mulai menulis artikel-artikel mengenai dasar
filosofis dari psikologi. namun , ia juga membaca
Perjanjian Baru, Kierkegaard dan Latihan
Rohani St Ignatius dari Loyola. Ia merasa
bahwa orang tak dapat sekedar membaca
sebuah artikel macam itu, melainkan harus
mengamalkannya.
“INILAH KEBENARAN”
Pada musim panas 1921, ia melewatkan
beberapa minggu di Bergzabern (di Palatinate)
di tempat Hedwig Conrad-Martius, seorang
murid Husserl. Hedwig dan suaminya telah
memeluk agama Protestan. Suatu sore, dari
perpustakaan Hedwig, Edith mengambil secara
acak sebuah artikel yang ternyata yaitu artikel
otobiografi St Theresia dari Avila, dan terus ia
membaca artikel ini sepanjang malam
hingga fajar merekah. “saat aku selesai
membaca, aku berkata kepada diriku sendiri:
Inilah kebenaran!”
Keesokan harinya, Edith membeli artikel
Misa dan Katekismus yang di hari-hari
selanjutnya menjadi tumpuan perhatiannya.
saat dirasa ia sudah cukup paham, Edith
untuk pertama kalinya masuk ke sebuah Gereja
Katolik dan dengan mudah mengikuti jalannya
Misa. Ia ingin dibaptis segera; dan saat
Pastor Breitling mengatakan bahwa agar dapat
dibaptis orang perlu persiapan untuk mengenal
ajaran dan tradisi-tradisi Gereja, ia menjawab,
“Ujilah saya!” Ini dilakukan pastor dan Edith
lulus dengan cemerlang.
“Edith, pernahkah engkau memohon
rahmat iman sebelum engkau bertobat?”
Jawabnya, “Terus-menerus mencari kebenaran
itulah satu-satunya doaku.” Dan kepada
seorang biarawati Benediktin sahabatnya, Edith
menulis, “Barangsiapa mencari kebenaran,
entah sadar atau tidak, ia mencari Tuhan.”
Pada tanggal 1 Januari 1922, Teresa
Edith Stein menerima Sakramen Baptis dan
Sakramen Komuni Pertama di Gereja Santo
Martinus, Bergzabern. Hari itu yaitu hari
Peringatan Penyunatan Yesus, saat Yesus
masuk ke dalam perjanjian Abraham. Teresa
Edith Stein berdiri dekat bejana baptis dengan
mengenakan gaun pengantin putih milik
Hedwig Conrad-Martius. Dengan dispensasi
khusus Bapa Uskup, Hedwig menjadi wali
baptisnya. “Aku meninggalkan agama Yahudiku
saat aku masih seorang gadis berusia
empatbelas tahun dan tidak lagi merasakan
keyahudian hingga akhirnya aku kembali
kepada Tuhan.” Sejak saat itu ia terus-menerus
sadar sepenuhnya bahwa ia yaitu milik
Kristus bukan hanya secara rohani, melainkan
juga sebab hubungan darah. Pada tanggal 2
Februari, hari Peringatan Pentahiran Maria -
suatu hari yang merujuk pada Perjanjian Lama
- ia menerima Sakramen Penguatan oleh Uskup
Speyer di kapel pribadi bapa uskup.
Edith langsung menuju Breslau:
“Mama,” katanya dengan berlutut sembari
menggenggam kedua tangan sang ibu, “Aku
seorang Katolik.” Ibunya yang seorang Yahudi
saleh itu bagai disambar petir. Kemudian
perlahan airmata berlinang-linang membasahi
wajahya yang keriput. Edith belum pernah
melihat ibunya yang tegar itu menangis! Ini
terlalu berat baginya. Dalam keluarganya,
Katolik dianggap sekte yang hina. Edith siap
menerima teguran yang paling tajam
sekalipun, ia bahkan khawatir akan diusir dari
rumah. namun , airmata itu, ungkapan
kesedihan hati yang terdalam. Kedua
wanita itu pun menangis. Hedwig Conrad
Martius menulis: “Lihat, inilah dua orang Israel
sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (bdk
Yohanes 1:47).
FRAULEIN DOCTOR
Segera sesudah pertobatannya,
kerinduan Edith Stein yang terdalam yaitu
menggabungkan diri dalam sebuah biara
Karmelit. namun , para pembimbing rohaninya,
Vikaris Jenderal Schwind dari Speyer, dan P
Erich Przywara SJ, untuk sementara
menghalanginya. Mereka beranggapan bahwa
rencana Tuhan yaitu bahwa Edith Stein
mengabdi Gereja lewat ilmunya. P Schwind
mengatur agar Edith menjadi guru bahasa
Jerman dan sejarah di sekolah Suster-suster
Dominikan dan juga guru pembimbing mereka
yang akan masuk universitas di Biara St
Magdalena di Speyer.
“Segalanya untuk semua orang,” itulah
semboyan Edith sejak ia menjadi Katolik, dan
dalam hal itu ia menjadi teladan bagi semua
orang. Satu dari banyak kesaksian yang ditulis
oleh para mantan muridnya mengatakan,
“Kami baru berumur tujuhbelas tahun dan
Fraulein (= nona) Doctor mengajar kami
bahasa Jerman. Sesungguhnya ia memberi
kami segalanya. Kami masih sangat muda,
namun daya tarik yang terpancar darinya tak
akan pernah kami lupakan. Tiap-tiap hari kami
melihat dia berlutut di bangku doanya, di
depan koor, selama Perayaan Ekaristi. Maka
kami mulai sedikit mengerti apa artinya iman
dan sikap hidup yang diserasikan. Bagi kami, di
usia yang penuh kritik, sikapnya saja sudah
210
menjadi teladan. Kami tak pernah melihat dia
lain dibandingkan anggun, tenang dan pendiam.
Seperti itu ia selalu masuk ke kelas kami,
seperti itu juga ia seminggu sekali menemani
kami waktu rekreasi….”
Pada saat yang sama, Abbas Agung
Raphael Walzer dari Biara Beuron
mendorongnya untuk menerima tawaran
memberikan ceramah-ceramah. Sebanyak
mungkin Edith menerima tawaran ini yang
merupakan sarana baginya untuk mewartakan
iman Katolik. Jadi Edith melewatkan hari-
harinya dengan mengajar, memberikan kuliah,
menulis dan menerjemahkan, memberikan
ceramah-ceramah baik di Jerman maupun di
luar negeri, dan segera saja ia terkenal sebagai
seorang filsuf dan pengarang yang ternama,
meski yang didambakannya yaitu keheningan
dan kontemplasi di Karmel. Pernah ia dicela
sebab dianggap terlalu kuat menggarisbawahi
segi adikodrati, yang dijawabnya dengan tegas,
“Jika aku tidak berbicara tentang hal ini, maka
tak ada gunanya aku duduk di atas mimbar.”
Edith belajar bahwa yaitu mungkin
untuk “mengejar ilmu pengetahuan sebagai
suatu pelayanan kepada Tuhan…. Hingga aku
memahami hal ini maka aku mulai secara
serius menekuni karya akademis kembali.”
Edith bekerja keras luar biasa, menerjemahkan
surat-surat dan artikel harian Kardinal Newman
dari masa sebelum ia menjadi Katolik, pula
Quaestiones Disputatae de Veritate tulisan St
Thomas Aquinas. Karya yang disebut
belakangan ini merupakan suatu terjemahan
yang sangat bebas, demi kepentingan dialog
dengan filosofi modern. P Erich Przywara juga
mendorongnya untuk menuliskan karya-karya
filosofisnya sendiri. “Pada masa menjelang dan
awal pertobatanku, aku pikir bahwa
melewatkan suatu kehidupan religius berarti
meninggalkan segala hal-hal duniawi dan
mengarahkan akal budi pada hal-hal ilahi saja.
Namun demikian, perlahan-lahan, aku belajar
bahwa hal-hal lain juga diharapkan dari kita di
dunia ini…. Aku bahkan percaya bahwa
semakin seorang tenggelam dalam Tuhan,
semakin ia harus `mengatasi dirinya sendiri'
dalam hal ini, yakni, masuk ke dalam dunia dan
melaksanakan hidup ilahi di dalamnya.”
Pada tahun 1931, Edith Stein
meninggalkan sekolah biara di Speyer dan
membaktikan diri untuk meraih gelar professor
kembali, kali ini di Breslau dan Freiburg, meski
ternyata usahanya sia-sia belaka. Pada waktu
itulah ia menulis “Potensi dan Tindakan”, suatu
studi mengenai konsep-konsep inti yang
dikembangkan oleh St Thomas Aquinas. Di
kemudian hari, di Biara Karmelit di Cologne, ia
menulis ulang studi ini demi menghasikan
karya utamanya dalam filosofis dan teologis,
“Keterbatasan dan Keabadian” yang
diselesaikannya pada tahun 1936. namun ,
sebab hukum anti Yahudi yang diberlakukan
pada masa itu, karyanya tidak dapat
dipublikasikan hingga tahun 1950.
Pada tahun 1932, ia menerima jabatan
dosen di Institut Jerman untuk Ilmu Pedagogi
di Universitas Munster, di mana ia
mengembangkan antropologinya. Dengan
gemilang Edith memadukan ilmu pengetahuan
dan iman dalam karya dan pengajarannya,
sebagai usaha menjadi “alat Tuhan” dalam
segala yang ia ajarkan. “Jika seorang datang
kepadaku, aku ingin menghantarnya kepada
Dia.”
Serangan terhadap bangsa Yahudi
semakin gencar dan pada tahun 1933, Adolf
Hitler dan Partai Nazi berkuasa di Jerman. “Aku
telah mendengar perlakuan buruk terhadap
bangsa Yahudi sebelumnya. namun sekarang
mulai tampak bagiku bahwa Tuhan telah
menekankan tangan-Nya dengan kuat ke atas
umat-Nya, dan bahwa nasib bangsa ini juga
akan menjadi nasibku.” Hukum Arian Nazi
menjadikan mustahil bagi Edith Stein untuk
terus mengajar, “Jika aku tak dapat terus di
sini, maka tidak akan ada lagi kesempatan
bagiku di Jerman,” tulisnya; “aku telah menjadi
seorang asing di dunia.”
Sekarang P Walzer, Abbas Agung
Beuron yang menjadi pembimbing rohaninya,
tak lagi menghalanginya untuk masuk biara
Karmelit. Sementara di Speyer, Edith telah
mengucapkan kaul kemiskinan, kemurnian dan
ketaatan. Pada tahun 1933 ia bertemu dengan
Priorin Biara Karmelit di Cologne. saat
diberitahukan kepadanya bahwa ia tidak usah
berharap dapat melanjutkan karya ilmiahnya di
Karmel, Edith menjawab sepenuh hati, “Karya
manusia tak ada gunanya, yang berarti
hanyalah sengsara Kristus. Dan yaitu
kerinduanku untuk ikut ambil bagian di
dalamnya.”
SANTO EDMUND († 870)
Edmund yaitu seorang raja Inggris yang
hidup pada abad kesembilan. Ia menjadi raja saat
usianya baru empatbelas
tahun. Namun demikian,
jabatan yang tinggi itu tidak
menjadikannya congkak
atau pun sombong.
Sebaliknya, ia menjadikan
Raja Daud -tokoh Perjanjian
Lama- sebagai teladan
hidupnya. Edmund
berusaha untuk melayani
Tuhan sebaik-baiknya
seperti yang telah dilakukan
Daud. Edmund bahkan
menghafalkan mazmur-
mazmur Daud di luar
kepala. Mazmur yaitu
nyanyian puji-pujian indah
kepada Tuhan yang ada
dalam Kitab Suci.
Raja Edmund memerintah dengan bijaksana,
dengan menunjukkan belas kasihan kepada segenap
rakyatnya. saat pasukan barbar Denmark
menyerang negerinya, ia berperang melawan
mereka dengan gagah berani. Pasukan musuh jauh
lebih besar dan lebih kuat dibandingkan pasukannya.
Akhirnya, raja Inggris itu tertangkap. Pemimpin
barbar bersedia menyelamatkan nyawanya jika ia
setuju dengan beberapa syarat yang mereka ajukan.
namun , oleh sebab persyaratan-persyaratan
ini menentang negara dan agamanya, raja
menolak. Raja dengan tegas menyatakan bahwa ia
tidak akan pernah menyelamatkan nyawanya
dengan menghina Tuhan dan rakyatnya. sebab
geram, pemimpin kafir itu menjatuhkan hukuman
mati kepadanya. St. Edmund diikatkan ke sebatang
pohon dan dicambuki dengan kejam. Raja yang
kudus itu menerima siksaannya dengan sabar,
sambil menyebutkan nama Yesus untuk memberinya
kekuatan. Kemudian, para penyiksanya
membidikkan panah-panah ke seluruh bagian
tubuhnya. Para pemanah itu membidik dengan hati-
hati agar tidak mengenai bagian tubuhnya yang
vital, sehingga penderitaannya dapat diperpanjang.
Pada akhirnya, St. Edmund dipenggal kepalanya.
Raja Edmund meninggal pada tahun 870. Devosi
kepada St. Edmund sang martir menjadi demikian
populer di Inggris. Banyak gereja didirikan untuk
menghormatinya.
Edmund (841-869) Raja Anglia Timur yang
dibunuh oleh tentara Denmark; B: Ed, Edy; P:
20 Nopember
SANTO EDMUND CAMPION († 1581)
Edmund hidup pada abad keenambelas. Ia
seorang pelajar muda Inggris yang amat populer,
seorang ahli pidato yang mengagumkan. Edmund
terpilih untuk menyampaikan pidato sambutan
kepada Ratu Elizabeth saat ratu mengunjungi
perguruan tingginya. Sekelompok temannya tertarik
akan sikapnya yang periang dan bakat-bakatnya
yang beranekaragam.
Mereka menjadikan Edmund
sebagai pemimpin mereka.
Bahkan ratu dan para
menterinya pun menyukai
pemuda yang menarik ini.
namun , Edmund
memiliki masalah
dengan agamanya. Ia selalu
beranggapan bahwa Gereja
Katolik yaitu satu-satunya Gereja yang benar. Dan
ia tidak menyembunyikan pendapatnya itu. Oleh
sebab nya, pemerintah, yang menganiaya orang-
orang Katolik, menjadi amat curiga kepadanya.
Edmund tahu bahwa ia akan kehilangan simpati ratu
dan juga kehilangan semua kesempatan untuk
mendapatkan jabatan tinggi jika ia memilih
untuk menjadi seorang Katolik. Pemuda ini berdoa
dan menetapkan keputusannya. Ia akan tetap
menjadi seorang Katolik!
sesudah melarikan diri dari Inggris, Edmund
belajar untuk menjadi seorang imam. Ia masuk
Serikat Yesus. saat Bapa Suci memutuskan untuk
mengirimkan imam-imam Yesuit ke Inggris, Pastor
Campion termasuk di antara imam-imam pertama
yang diutus. Malam sebelum ia pergi, salah seorang
rekan imam merasa terdorong untuk menuliskan
kata-kata ini di pintu kamarnya: “Pastor Edmund
Campion, martir.” Meskipun Pastor Campion tahu
akan bahaya yang menghadangnya, imam yang
kudus ini berangkat juga dengan riang. Malahan, ia
banyak tertawa oleh sebab ia menyamar sebagai
seorang pedagang permata. Di Inggris, ia
berkhotbah dengan berhasil di hadapan umat Katolik
yang menjumpainya secara rahasia. Mata-mata ratu
ada di mana-mana, mereka mencoba
menangkapnya. Pastor Campion menulis: “Sebentar
lagi aku tidak akan terlepas dari tangan mereka.
Kadang-kadang aku membaca tulisan yang berbunyi
'Campion telah tertangkap!” Seorang pengkhianatlah
yang pada akhirnya memicu imam Yesuit itu
tertangkap. Di penjara, Pastor Campion dikunjungi
oleh para pejabat kerajaan yang mengaguminya.
Bahkan Ratu Elizabeth sendiri juga datang. namun
tidak satu pun dari ancaman ataupun janji-janji
mereka yang dapat membuatnya mengingkari iman
Katoliknya. Bahkan tidak juga aniaya.
Walaupun harus banyak menderita, ia masih
tetap mempertahankan diri dan rekan-rekan imam
lainnya dengan cara yang demikian mengagumkan
sehingga tidak seorang pun mampu mendebatnya.
Meskipun begitu, ia tetap juga dijatuhi hukuman
mati. Sebelum hukuman dilaksanakan, St. Edmund
mengampuni orang yang telah mengkhianatinya. Ia
bahkan membantu menyelamatkan nyawa orang itu.
St. Edmund Campion wafat pada tahun 1581 pada
usia empatpuluh satu tahun.
SANTO EDWARD (1004-1066)
Raja St Edward yaitu salah seorang yang
paling dikasihi dari semua raja Inggris. Ia hidup
pada abad kesebelas. Oleh sebab para musuh di
tanah airnya sendiri, ia harus tinggal di Normandy,
Perancis, sejak usianya sepuluh tahun hingga
empatpuluh tahun. saat ia pulang kembali untuk
memimpin negeri, segenap rakyat menyambutnya
dengan sukacita.
St Edward yaitu seorang yang tinggi dan
tegap perawakannya, namun kesehatannya amat
rapuh. Meski begitu ia dapat memimpin negerinya
dengan baik dan senantiasa memelihara kedamaian
di negerinya. Ini sebab ia percaya dan
mengandalkan Tuhan. Raja Edward ikut ambil bagian
dalam misa setiap hari. Ia yaitu seorang yang
lemah lembut dan baik hati, yang tidak pernah
berbicara kasar. Kepada orang-orang miskin dan
orang-orang asing, ia menunjukkan belas kasih yang
istimewa. Ia juga membantu para biarawan dengan
segala cara yang dapat ia lakukan. yaitu
keadilannya kepada setiap orang dan kasihnya
kepada Gereja Tuhan
yang menjadikan St
Edward begitu populer di
kalangan rakyat Inggris.
Mereka akan bersorak-
sorai sementara ia
mengendarai kudanya
keluar istana.
Meski ia seorang
raja dengan kekuasaan
yang besar, St Edward menunjukkan kejujurannya
dengan jalan menepati janjinya kepada Tuhan dan
kepada rakyat. Sewaktu masih tinggal di Normandy,
ia mengucapkan suatu ikrar kepada Tuhan. Ia
mengatakan bahwa jika keluarganya
berkesempatan melihat masa-masa yang lebih baik,
ia akan pergi berziarah ke makam St Petrus di
Roma. sesudah dinobatkan sebagai raja, ia rindu
untuk menepati ikrarnya ini. namun para bangsawan
tahu bahwa tak akan ada siapa-siapa lagi yang akan
memelihara perdamaian diantara orang-orang yang
gemar berperang di tanah itu. Jadi, meski mereka
mengagumi devosi raja, mereka tak hendak
membiarkannya pergi. Segala masalah ini
disampaikan kepada paus, St Leo IX. Bapa Suci
memutuskan bahwa raja dapat tinggal di
kerajaannya. Beliau mengatakan bahwa
hendaknyalah Raja Edward membagi-bagikan uang
yang seharusnya dipergunakannya untuk berziarah
kepada orang-orang miskin. Ia hendaknya juga
membangun atau memperbaiki suatu biara demi
menghormati St Petrus. Dengan taat, raja
melaksanakan keputusan paus. Raja wafat pada
tahun 1066 dan dimakamkan di sebuah biara indah
yang telah ia bangun kembali, yaitu Westminster
Abbey. Ia dimaklumkan sebagai santo oleh Paus
Alexander III pada tahun 1161.
B: Edward; L: raja dengan merpati dan
tongkat.; P: 13 Oktober
SANTO EFREM (306-Juni 373)
Efrem dilahirkan di Mesopotamia sekitar
tahun 306. Ia dibaptis saat usianya delapan belas
tahun. Beberapa waktu
kemudian, Efrem pergi ke
pegunungan dan menjadi
seorang pertapa. Ia
menemukan sebuah gua dekat
kota Edessa di Siria. Bajunya
compang-camping dan ia
hanya makan makanan hasil
bumi.
Efrem cepat sekali naik
darah. Perlahan-lahan ia dapat
menguasai dirinya. Orang-
orang yang berjumpa
dengannya menyangka bahwa
sudah watak dasarnya ia seorang yang amat sabar.
Efrem sering berkhotbah di Edessa. jika ia
berbicara tentang pengadilan Tuhan, umat yang
mendengarnya menangis tersedu-sedu. Ia akan
mengatakan kepada mereka bahwa ia yaitu
seorang pendosa besar. Dan sungguh demikianlah
maksudnya, sebab sekali pun ringan, dosa-dosa itu
tampak berat baginya. saat St. Basilius berjumpa
dengannya, ia bertanya, “Engkaukah Efrem, hamba
Yesus yang termashyur itu?” Segera Efrem
menjawab, “Akulah Efrem yang dengan tidak layak
berjalan menuju keselamatan.” Kemudian ia
memohon serta menerima nasehat dari St. Basilius
mengenai bagaimana bertumbuh dalam hidup
rohani.
Efrem menghabiskan waktunya dengan
menulis artikel -artikel rohani. Ia menulis dalam
beberapa bahasa: Siria, Yunani, Latin dan Armenia.
Karya tulisnya sungguh sangatlah indah dan
mendalam hingga diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa. Higga sekarang orang masih membacanya.
Efrem juga menulis kidung-kidung pujian. Lagu-
lagunya menjadi sangat populer. Sementara orang
menyanyikannya, mereka belajar banyak tentang
iman mereka. Itulah sebabnya St. Efrem dijuluki
“harpa Roh Kudus”. Ia seorang guru yang hebat,
yang mengajar lewat tulisan-tulisannya, sebab
itulah pada tahun 1920 ia digelari Pujangga Gereja.
St. Efrem wafat pada bulan Juni tahun 373. Pesta
perayaannya setiap tanggal 9 Juni
“Ya Yesus, melalui sakramen-Mu, kami setiap hari
memeluk-Mu serta menerima-Mu dalam tubuh kami;
jadikan kami layak menikmati kebangkitan yang kami
rindukan. Kami telah menyimpan harta pusaka-Mu itu
yang tersembunyi dalam diri kami sejak kami menerima
rahmat Sakramen Pembaptisan; yang senantiasa
diperkaya dengan Sakramen Perjamuan-Mu.” ~ St. Efrem
EILIN († 1160)
Janda muda yang saleh ini berziarah dari
Swedia ke Yerusalem. Oleh sanak keluarganya ia
dituduh merencanakan pembunuhan atas suami
puterinya. sebab itu Eilin digebuki dengan tongkat
kayu sampai mati. Banyak peziarah menyaksikan
terjadinya banyak mukjizt pada makamnya.
B: Elin; P: 31 Juli
EISTEIN († 1188)
yaitu uskup agung di Trondheim Norwegia.
Ia berjuang mati-matian utnuk membebaskan
Gereja dari pengawasan Negara. Akibatnya ia
dibuang oleh raja. Eistein mengajak para imam
susaha hidup berkomunitas.
P: 26 Januari
ELEONORA († 1296)
yaitu ratu Inggeris yang giat membantu
suaminya menegakkan keadilan dan perdamaian. Ia
menolong orang-orang miskin dan mendirikan biara.
Sesudah suaminya meninggal, Eleonora (Lore, Nora,
Ellen) hidup selama 20 tahun sebagai suster biasa
dalam biara.
P: 21 Februari
ELFEGE OSB (954-1012)
Akan dibebaskan dari tahanan oleh tentara
Denmark dengan tebusan uang. Namun rahib dan
uskup Canterbury ini menolak membeli
kebebasannya dengan uang yang telah dikhususkan
bagi kaum miskin.
P: 19 April
ELIAS (518)
yaitu rahib Arab yang menjadi uskup
Yerusalem. Ia dibuang Kaisar sebab membela iman
yang benar.
P: 4 Juli
ELIAS, NABI (abad ke-9 seb. Masehi)
Nabi dan pembela iman akan Tuhan yang
Mahasatu itu mengutuk penyembahan berhala (lihat
a.l. Kitab Raja-raja Bab 17 dst.). Ia tidak mati,
melainkan langsung diangkat ke surga dengan
keretanya, sehingga diharapkan akan kembali pada
akhir jaman.
A: Tuhanku ialah Yahwe; P: 20 Juli.
ELIGIUS (588-660)
Semula yaitu pandai emas, pencetak uang
logam dan penasehat raja. Ia membeli banyak
budak-belian dan membebaskan mereka. saat
uskup Noyon (Perancis) meninggal, ia dipilih
menggantikannya. Eligius dihormati sebagai santo
pelindung pandai emas.
A: terpilih (L); P: 1 Desember
SANTA ELIZABETH ANN SETON
(28 Agustus 1774-4 Januari 1821)
“Moeder Seton” demikianlah orang
mengenalnya saat ia wafat pada tanggal 4 Januari
1821 di Emmitsburg, Maryland. Suatu perjalanan
hidup yang penuh dengan kejutan telah
menghantarnya untuk menyandang gelar itu.
Elizabeth dilahirkan di kota New York pada tanggal
28 Agustus 1774. Ayahnya, Richard Bayley, yaitu
seorang dokter yang tersohor. Ibunya, Katarina,
meninggal dunia saat ia masih amat muda.
Elizabeth seorang jemaat Episcopal (Gereja Anglikan
di Amerika Serikat dan Skotlandia). Semasa
remajanya, ia melakukan banyak hal untuk
menolong orang-orang miskin.
Pada tahun 1794,
Elizabeth menikah dengan
William Seton. William
yaitu seorang saudagar
kaya-raya yang memiliki
suatu armada kapal laut.
Elizabeth, William, beserta
kelima anak mereka hidup
berbahagia. namun , tiba-tiba
saja, William jatuh bangkrut
dan sakit parah dalam waktu
yang singkat. Elizabeth mendengar bahwa cuaca
Italia mungkin dapat membuat keadaan suaminya
lebih baik. Maka, Elizabeth, William berserta puteri
tertua mereka, Anna, melakukan perjalanan ke Italia
dengan kapal laut. namun , William meninggal dunia
tak lama kemudian. Elizabeth dan Anna untuk
sementara waktu tetap tinggal di Italia sebagai tamu
keluarga Filicchi. Keluarga Filicchi amat baik hati.
Mereka berusaha meringankan penderitaan Elizabeth
dan Anna dengan membagikan cinta mereka yang
mendalam akan iman Katolik. Elizabet pulang
kembali ke New York dengan tekad bahwa ia akan
menjadi seorang Katolik. Keluarga serta teman-
temannya menentang Elizabeth. Mereka amat
kecewa mendengar keputusannya, namun Elizabeth
maju terus dengan berani. Ia bergabung dalam
Gereja Katolik pada tanggal 4 Maret 1805.
Beberapa tahun kemudian, Elizabeth dimintai
tolong untuk datang serta membuka sebuah sekolah
putri di Baltimore. Di sanalah Elizabeth memutuskan
untuk hidup sebagai seorang biarawati. Banyak
wanita yang datang untuk bergabung dengannya,
termasuk saudarinya dan juga saudari iparnya.
Puteri-puterinya sendiri, Anna dan Katarina, juga
bergabung pula. Mereka membentuk Suster-suster
Putri Kasih Amerika dan Elizabeth diangkat sebagai
pemimpin mereka dan dipanggil “Moeder Seton.”
Elizabeth menjadi terkenal. Ia mendirikan banyak
sekolah Katolik dan beberapa rumah yatim piatu. Ia
juga merencanakan untuk mendirikan sebuah rumah
sakit yang kemudian diresmikan sesudah wafatnya.
Elizabeth suka menulis dan ia juga menerjemahkan
beberapa artikel pegangan dari bahasa Perancis ke
bahasa Inggris. namun , Elizabeth jauh lebih dikenal
oleh sebab kebiasaannya mengunjungi mereka
yang miskin dan sakit. Elizabeth dinyatakan kudus
oleh Paus Paulus VI pada tanggal 14 September
1975.
Jika sesuatu yang telah terjadi mengubah
hidup kita dari suka menjadi duka, marilah kita
berpaling kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh
Moeder Seton, serta memohon pertolongan-Nya.
Tuhan membantu kita untuk melihat bagaimana
saat-saat yang sulit dapat memunculkan bakat-
bakat kita yang terpendam. Kemudian kita akan
melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan
oleh kita sebelumnya. P: 4 Januari
SANTA ELIZABETH dari
HUNGARIA (1207-1231)
Elizabeth ialah puteri raja
Hungaria. Ia dilahirkan pada
tahun 1207. Elizabeth dinikahkan
dengan Louis, penguasa
Thuringia, saat ia masih amat
muda. (Kita merayakan pesta
Beato Louis pada tanggal 11
September). Elizabeth seorang mempelai yang
cantik, yang amat mengasihi suaminya yang
tampan. Louis membalas kasih isterinya dengan
segenap hatinya. Tuhan mengaruniakan kepada
mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia
selama enam tahun.
Kemudian, mulailah penderitaan St.
Elizabeth. Louis wafat sebab suatu wabah penyakit.
Elizabeth demikian pilu hatinya hingga ia berseru:
“Dunia sudah mati untukku, dunia beserta segala
kesenangannya.” Sanak-saudara Louis tidak pernah
menyukai Elizabeth sebab ia biasa membagikan
banyak makanan kepada kaum miskin. Semasa
Louis masih hidup, mereka tidak dapat berbuat apa-
apa. namun sekarang, mereka dapat dan mereka
melakukannya. Segera saja, puteri yang cantik serta
lemah lembut ini beserta ketiga anaknya diusir dari
kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan.
Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan
penderitaannya yang berat itu. Malahan ia
mengucap syukur kepada Tuhan dan berdoa dengan
lebih tekun. Elizabeth menerima penderitaannya
sama seperti ia menerima kabahagiaannya.
Sanak-saudara Elizabeth datang
menolongnya. Ia beserta anak-anaknya memiliki
tempat tinggal kembali. Pamannya menghendaki
agar Elizabeth menikah lagi, sebab ia masih muda
dan menarik. namun orang kudus ini telah bertekad
untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ia
ingin meneladani semangat kemiskinan St.
Fransiskus. Elizabeth kemudian tinggal di sebuah
desa miskin dan menghabiskan tahun-tahun terakhir
hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta
miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha
untuk memperoleh tambahan uang bagi kaum
miskin yang dikasihinya. St. Elizabeth baru berusia
duapuluh empat tahun saat ia wafat. Menjelang
ajalnya, orang dapat mendengarnya bersenandung
pelan di atas pembaringannya. Ia yakin betul bahwa
Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth
wafat pada tahun 1231.
Elizabeth lahir di Bratislava Hungaria 1207 dan
meninggal di Marburg Jerman 1231. Ia
dihormati sebagai pelindung lembaga-lembaga
amal. L: ratu yang membawa sebakul bunga
mawar; P: 17 Nopember.
SANTA ELIZABETH dari PORTUGAL (1271-4
Juli 1336)
Elizabeth, seorang puteri Spanyol, dilahirkan
pada tahun 1271. Ia dinikahkan dengan Raja Denis
dari Portugal pada usia dua belas tahun. Elizabeth
seorang puteri yang cantik serta menyenangkan. Ia
juga seorang yang taat beragama, ia ikut ambil
bagian dalam Misa setiap hari. Elizabeth seorang
isteri yang menawan pula. Pada mulanya, suaminya
sayang padanya, namun tak lama kemudian ia mulai
memicu penderitaan be


