Kisah santa santo 5

 


ar dan saat  usianya tujuh tahun, ia 

diperkenankan untuk menerima Komuni Kudus-nya 

yang Pertama. 

sebab  keluarganya miskin, Dominikus harus 

berjalan pulang balik sejauh 6 mil (± 9.6 km) setiap 

hari agar dapat bersekolah di kota terdekat. Suatu 

hari saat  gurunya sedang tidak berada di kelas, 

dua orang anak lelaki membawa masuk banyak 

sekali salju dan sampah serta menyumpalkannya ke 

dalam satu-satunya tungku pemanas ruangan. 

saat  Pak Guru kembali, ia menjadi sangat marah. 

Kedua anak ini  ketakutan, mereka 

mengatakan bahwa Dominikus-lah yang telah 

melakukannya. Pak Guru memaki-maki Dominikus 

dengan kata-kata yang keras dan tajam. Ia juga 

menambahkan jika saja ini bukan perbuatannya 

yang pertama, tentulah Dominikus telah diusirnya. 

Dominikus tidak mengatakan sepatah kata pun 

untuk membela diri. Ia berdiri di depan kelas dengan 

kepala tertunduk. Keesokan harinya, tahulah Pak 

Guru apa yang sebenarnya telah terjadi. Segera ia 

menemui Dominikus dan bertanya mengapa ia tidak 

membela diri. Dominikus mengatakan bahwa ia 

khawatir Pak Guru akan mengeluarkan kedua anak 

nakal ini , padahal ia ingin sekali mereka diberi 

kesempatan. “Lagipula,” katanya, “saya ingat bahwa 

Yesus juga dituduh secara tidak adil dan Ia diam 

saja.”

  ORATORIO ST. YOHANES BOSCO

saat  Santo Yohanes Bosco (biasa dipanggil 

Don Bosco) mencari tunas-tunas muda untuk dididik 

sebagai imam dalam Serikat Salesian, imam paroki 

di mana Dominikus tinggal menawarkan Dominikus 

kepadanya. Don Bosco mengujinya terlebih dahulu 

dan sesudah  pertanyaan-pertanyaannya selesai, 

Dominikus balik bertanya, “Bagaimana pendapat 

Romo tentang saya?”

“Menurut saya, engkau yaitu  bahan yang bagus,” 

jawab Don Bosco dengan senyum lebar. “Baiklah, 

Romo yaitu  seorang tukang jahit yang hebat, jika 

bahannya memang bagus, ambillah saya dan jadikan 

saya jubah yang indah bagi Tuhan!” Demikianlah, 

bulan Oktober 1854, pada usia dua belas tahun, 

Dominikus diterima sebagai murid di Oratorio St. 

Fransiskus dari Sales di Turin. 

Di Oratorio, Dominikus dikenal oleh teman-

teman serta para gurunya sebagai seorang anak 

yang periang, ramah, serta teliti. Walaupun masih 

anak-anak, ia dikaruniai Tuhan karunia-karunia 

rohani yang jauh melebihi usianya: mengenali 

mereka yang membutuhkan pertolongan, mengenali 

kebutuhan rohani orang-orang di sekitarnya, serta 

dikarunia kemampuan untuk bernubuat. Dominikus 

memperoleh kasih sayang serta hormat dari teman-

temannya dan juga dari para imam. Dominikus tidak 

suka memaksakan kehendaknya serta tidak suka 

menonjolkan pendapat pribadinya, namun  ia tidak 

akan takut untuk menentang segala yang salah dan 

selalu dapat memberikan alasan mengapa suatu 

tindakan dianggapnya salah.  

Suatu saat , Dominikus secara tidak sengaja 

mendengarkan rencana dua orang temannya yang 

hendak berkelahi dengan saling melempar batu. 

Dominikus berusaha sebaik-baiknya berbicara 

dengan mereka untuk membatalkan pertarungan 

yang berbahaya itu. Namun demikian, tampaknya 

tidak ada lagi yang dapat membujuk kedua anak itu 

untuk mengurungkan niat mereka. Bisa saja 

Dominikus melaporkan mereka kepada guru mereka, 

namun  ia pikir hal itu hanya akan menunda 

perkelahian tanpa menyelesaikan masalah. 

Dominikus berhasil membujuk kedua temannya itu 

untuk menerima satu syarat rahasia darinya, yang 

akan dikatakan Dominikus sesaat sebelum 

perkelahian dimulai. Maka, pergilah Dominikus 

dengan kedua temannya itu. Ia membantu mereka 

mengumpulkan batu-batu guna persiapan 

perkelahian. saat  semuanya sudah siap, 

Dominikus mengacungkan sebuah salib kepada 

mereka seraya berkata, “Kalian berdua, sebelum 

kalian berkelahi, pandanglah salib ini dan 

katakanlah, `Yesus Kristus tidak berdosa dan Ia 

wafat dengan memaafkan pembunuh-pembunuh-

Nya. Saya seorang berdosa, dan saya hendak 

menyakiti Yesus dengan tidak memaafkan musuh-

musuh saya.' sesudah  berkata demikian, terlebih 

dahulu lemparkanlah batu pertama kalian kepadaku. 

Itulah persyaratanku.”   “namun  Dominik, kamu tidak 

pernah menyakiti aku atau pun bersalah kepadaku. 

Kamu yaitu  temanku,” protes mereka. “Kamu tidak 

akan menyakiti aku, yang hanya seorang manusia 

yang lemah. namun  kamu, dengan tindakan-

tindakanmu itu, akan menyakiti Yesus Kristus yang 

yaitu  Tuhan?” 

Kedua temannya itu menundukkan kepala mereka 

sebab  malu dan menjatuhkan batu-batu mereka. 

Mereka saling memaafkan dan berjanji untuk 

menerima Sakramen Tobat. 

  INGIN MENJADI KUDUS

Dominikus Savio bertekad untuk menjadi 

seorang kudus. Ia pergi ke kapel untuk berdoa. Ia 

menolak untuk bermain dengan teman-temannya, 

mukanya pun diubah menjadi muram dan serius. 

Dua hari lamanya Dominikus bersikap demikian. 

Hingga, Don Bosco memanggilnya dan bertanya 

apakah ia sedang sakit. “Tidak,” kata Dominikus, 

“sungguh saya dalam keadaan sehat dan bahagia.” 

“Jika demikian, mengapa kamu tidak mau bermain 

seperti biasanya? Mengapa mukamu demikian 

muram?” “Saya ingin menjadi kudus, Romo.”

Don Bosco memuji ketetapan hatinya namun  

menasehati Dominikus untuk senantiasa gembira 

dan tidak merasa khawatir; melayani Tuhan yaitu  

jalan menuju kebahagiaan sejati.

Nasehat Don Bosco membuahkan hasil. 

Dominikus menjadi teladan sukacita bagi teman-

temannya. Suatu hari, saat ia menyambut seorang 

anak baru di Oratorio, ia menjelaskan programnya. 

“Di sini kita mencapai kekudusan dengan hidup 

penuh sukacita. Kita menghindarkan diri dari dosa 

-yaitu pencuri besar yang merampok rahmat Tuhan 

bagi kita serta merampas kedamaian hati; kita tidak 

melalaikan tugas, serta mencari Tuhan dengan 

segenap hati. Mulailah dari sekarang dan jadikan 

kata-kata ini moto hidupmu: Servite Domino in 

laetitia: Layanilah Tuhan dengan sukacita yang 

kudus.”

 

   CINTA AKAN SAKRAMEN-SAKRAMEN     

       GEREJA

Pengalaman membuktikan bahwa sumber 

pertolongan rohani terbesar diperoleh dari Sakramen 

Tobat dan Sakramen Ekaristi. Anak-anak yang 

menerima kedua sakramen ini secara teratur 

bertumbuh mencapai kedewasaan rohani. Dengan 

demikian hidup mereka menjadi teladan hidup 

Kristiani. 

Sebelum bersekolah di Oratorio, Dominikus 

biasa menerima Sakramen Tobat dan Sakramen 

Ekaristi seminggu sekali. Sejak di Oratorio, ia 

melakukannya lebih sering. Suatu hari Dominikus 

mendengarkan khotbah Don Bosco: “Anak-anak, jika 

kalian ingin menjaga diri agar senantiasa berada di 

jalan menuju Surga, saya nasehatkan kalian agar 

sesering mungkin menerima Sakramen Tobat dan 

Sakramen Ekaristi. Pilihlah seorang Bapa Pengakuan 

kepada siapa kamu dapat mengungkapkan dirimu 

secara bebas dan, jika bukan sebab  hal mendesak, 

janganlah berganti-ganti Bapa Pengakuan.” 

Dominikus memilih seorang Bapa Pengakuan 

baginya. Pada awalnya ia mengakukan dosanya dua 

minggu sekali, kemudian seminggu sekali. Selesai 

menerima Sakramen Tobat, Dominikus 

diperbolehkan menerima Sakramen Ekaristi. Bapa 

Pengakuannya yang melihat perkembangan rohani 

Dominikus yang demikian pesat, menyediakan waktu 

untuk berbicara dengannya tiga kali seminggu. Di 

akhir tahun, ia mengijinkan Dominikus untuk 

menerima Komuni setiap hari! Dominikus amat 

senang, katanya: “Jika saya merasa sedih dan 

khawatir, saya akan pergi kepada Bapa Pengakuan 

saya. Dialah yang akan menunjukkan Kehendak 

Tuhan bagi saya; sebab  Yesus Kristus sendiri telah 

menyatakan bahwa Bapa Pengakuan berbicara 

dengan Suara Allah. Juga, saat  saya menginginkan 

sesuatu yang amat penting, saya pergi menerima 

Komuni Kudus. Saya menerima Tubuh yang sama 

dengan yang ditawarkan Tuhan bagi kita di Salib, 

bersama dengan Darah-Nya yang Mulia, Jiwa-Nya 

dan Ke-Allahan-Nya. Apakah lagi yang masih saya 

inginkan untuk melengkapi kebahagiaan saya, selain 

dari saat saya kelak berhadapan muka dengan muka 

dengan-Nya, yang sekarang ini saya lihat di altar 

hanya dengan mata iman?” 

Sebelum Komuni Pertamanya, Dominikus 

membuat empat janji yang ditulisnya dalam sebuah 

artikel  kecil. Janji-janjinya itu seringkali dibacanya 

kembali. Tulisnya:

Saya akan menerima Sakramen Tobat dan 

Sakramen Ekaristi sesering mungkin.

Saya akan berusaha memberikan hari Minggu 

serta hari-hari libur sepenuhnya untuk 

Tuhan.

Sahabat terbaikku ialah Yesus dan Maria.

Lebih baik mati dibandingkan  berbuat dosa. 

Janji keempat akan menjadi moto Dominikus 

sepanjang hidupnya. Beberapa kali ia memohon 

pada Tuhan untuk mengijinkannya meninggal 

sebelum ia sempat menyakiti Tuhan dengan 

melakukan dosa berat. 

   CINTA AKAN LAKU SILIH

Dengan semangat jiwanya, Dominikus 

memutuskan untuk makan hanya roti dan minum 

hanya air tawar setiap hari Sabtu demi menghormati 

Bunda Maria. namun , Don Bosco melarangnya. 

Kemudian ia berkeinginan untuk berpuasa selama 

Masa Advent. Baru seminggu ia melakukannya, Don 

Bosco akhirnya mengetahui apa yang sedang 

dilakukannya dan menyuruhnya berhenti berpuasa. 

Ia mohon, setidak-tidaknya ia diijinkan untuk tidak 

sarapan, namun  itu pun tidak diperbolehkan. Semua 

laku silih badani itu akan berakibat buruk bagi 

kesehatannya yang kurang baik.

sebab  berpuasa dan berpantang dilarang, 

Dominikus mencari cara lain untuk melakukan silih. 

Ia meletakkan batu-batu serta ranting-ranting di 

tempat tidurnya sehingga ia tidak dapat tidur 

dengan nyaman. Ia juga ingin mengenakan baju 

kasar. namun , itu pun dilarang. Dominikus mencari 

akal lain. Selama musim dingin ia tetap mengenakan 

selimut musim panas yang tipis. Suatu hari, 

Dominikus sakit dan harus tinggal di tempat tidur. 

Don Bosco datang menjenguknya. Dilihatnya bahwa 

Dominikus hanya mengenakan selimut tipis. “Apa 

maksudnya ini? Kamu ingin mati kedinginan?” 

“Tidak, Romo. Saya tidak akan mati kedinginan. 

Yesus di palungan dan di atas salib mengenakan 

kurang dari yang saya kenakan sekarang ini.”

Meskipun begitu, Dominikus dilarang keras 

melakukan laku silih badani apa pun tanpa ijin Don 

Bosco. Perintah ini ditaatinya, walau dengan hati 

sedih. 

“Saya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Tuhan 

bersabda bahwa tanpa silih, kita tidak dapat sampai 

ke Surga dan sekarang saya dilarang melakukan silih 

apapun; alangkah kecilnya kesempatan saya untuk 

masuk Surga!”

“Silih yang diminta Tuhan darimu ialah ketaatan,” 

jawab Don Bosco

“Tidakkah saya diperbolehkan melakukan silih yang 

lain juga?” pintanya

“Ya, menerima dengan sabar segala penghinaan 

serta menanggung dengan tabah segala cuaca: 

panas, dingin, hujan dan angin; jika kamu lelah 

janganlah bersikap buruk; jika kamu sakit, tetaplah 

bersyukur kepada Tuhan.” 

“namun , hal-hal demikian sudah termasuk dalam 

laku silih yang pokok.”

“Jika demikian, kerjakanlah segala sesuatu dengan 

penuh sukacita, bersedialah menanggung segala 

sesuatu demi cintamu kepada Tuhan, maka pastilah 

kamu beroleh belas kasih dibandingkan -Nya.” Dominikus 

merasa puas dengan jawaban itu dan ia pergi 

dengan gembira.

 PENGENDALIAN DIRI

Merupakan suatu perjuangan yang berat bagi 

Dominikus untuk mengendalikan pandangan 

matanya, sebab  perangainya yang lincah dan suka 

mengamati. Ia menceritakan kepada seorang teman 

bahwa pertama kali ia melatihnya, perjuangannya 

demikianlah hebat hingga membuat kepalanya sakit. 

Namun demikian, pada akhirnya, ia berhasil 

menguasai matanya sepenuhnya hingga mereka 

yang mengenalnya memberikan kesaksian bahwa 

tak pernah sekali pun Dominikus menggunakan 

matanya untuk melihat barang sekilas saja 

pemandangan yang tidak layak. 

“Mata kita,” demikian katanya kepada teman-

temannya, “yaitu  jendela. Seperti kalian hanya 

perlu melihat apa yang ingin kalian lihat lewat 

jendela, demikian jugalah dengan mata; mata akan 

menunjukkan kepada kita malaikat terang atau 

setan kegelapan, kedua-duanya berebut untuk 

menguasai jiwa kita.” 

Suatu hari, seorang anak membawa ke 

sekolah sebuah majalah dengan banyak gambar-

gambar tidak sopan. Sekejap saja anak-anak lelaki 

segera bergerombol di sekelilingnya ingin melihat 

juga gambar-gambar itu. “Ada apa, ya?” Dominikus 

bertanya-tanya, dan ia pun pergi untuk melihatnya. 

Sekilas pandang saja sudah cukup baginya. 

Dirampasnya majalah itu dan dirobek-robeknya! 

“Apa yang kalian pikirkan? Tuhan memberi 

kita mata sehingga kita dapat mengagumi keindahan 

karya-Nya; dan kalian menggunakannya, atau lebih 

tepat menyalahgunakannya, untuk melihat gambar-

gambar yang mengerikan ini. Apakah kalian lupa 

akan apa yang sering dikatakan Tuhan: satu 

pandangan yang tidak benar saja dapat mengotori 

jiwa kita? Dan sekarang kalian memanjakan mata 

kalian dengan gambar-gambar cemar itu!” 

“Oh,” protes seorang anak, “ini hanya 

sekedar untuk bersenang-senang.”

“Untuk bersenang-senang. Dan sementara itu kalian 

mempersiapkan diri kalian ke neraka!” “Memangnya, 

apa sih salahnya melihat-lihat gambar ini?” protes 

teman yang lain. “Bahkan lebih parah. Dengan tidak 

merasa bersalah, melainkan merasa diri benar, 

kalian telah memperbesar dosa kalian. Tidak 

tahukah kalian bahwa nabi Ayub, meskipun sudah 

tua dan rapuh, menyatakan bahwa ia mengadakan 

perjanjian dengan matanya agar matanya tidak 

memandang hal lain selain dari yang suci dan 

kudus?”

Tidak ada seorang pun yang berkata-kata 

lagi. Mereka semua sadar bahwa Dominikus benar. 

Selain mengendalikan matanya, Dominikus juga 

menjaga lidahnya. saat  orang lain berbicara, tak 

peduli pembicaraannya sesuai atau tidak sesuai 

dengan pendapat pribadinya, Dominikus selalu 

bersedia mendengarkan. Malahan seringkali ia 

menghentikan pembicaraannya sendiri untuk 

memberi kesempatan pada yang lain untuk 

berbicara. Lebih dari itu, jika seorang temannya 

mencari perkara dengannya, ia akan menahan diri 

dan menjaga lidahnya. 

Suatu hari, Dominikus mengingatkan seorang 

anak yang memiliki kebiasaan buruk. Bukannya 

menerima nasehat dan memperbaiki sikapnya, anak 

itu malahan marah, memaki, memukul-mukul serta 

menyepak Dominikus. Mudah saja bagi Dominikus 

untuk membalasnya sebab  dia lebih besar serta 

lebih kuat dari anak itu. namun  Dominikus memilih 

untuk memikul Salib Kristus. Meskipun wajahnya 

memerah, ia menguasai dirinya dan berkata: “Kamu 

telah bersikap buruk kepadaku, namun  aku 

memaafkanmu. Berusahalah untuk tidak bersikap 

demikian terhadap yang lain.”

Pada musim dingin, Dominikus menderita 

gatal-gatal pada tangannya. Bagaimanapun sakit 

rasanya, Dominikus tidak pernah mengeluh. 

Malahan, tampaknya ia bergembira sebab nya. 

“Semakin besar,” katanya, “akan semakin baik bagi 

kesehatan,” dan `kesehatan' yang dimaksudkan 

olehnya yaitu  kesehatan jiwa. Dominikus juga tidak 

pernah mengeluh tentang cuaca, atau peraturan-

peraturan sekolah atau pun makanan di asrama. 

Sesungguhnya saat makan yaitu  kesempatan 

baginya untuk melakukan silih. Dengan senang hati 

ia akan menerima potongan-potongan makanan 

yang ditolak anak-anak lain sebab  terlalu asin, atau 

kurang asin, atau terlalu matang, atau pun kurang 

matang. Dominikus mengatakan bahwa makanan 

ini  sungguh sesuai dengan seleranya.

Di waktu luangnya, Dominikus membersihkan 

sepatu, menyikat baju teman-temannya, menyapu, 

melayani mereka yang sakit serta melakukan 

pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya dengan segala 

kerendahan hati: “Semua orang melakukan apa 

yang mampu dilakukannya. Saya tidak mampu 

melakukan hal-hal yang besar, namun  saya mau 

melakukan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang 

remeh sekali pun, demi kemuliaan Tuhan; dan saya 

berharap dalam Belaskasih-Nya yang Tak Terbatas, 

Tuhan akan memandang dengan penuh belas kasih 

segala usaha saya yang tak berarti ini.” 

Jadi, menyantap makanan yang tidak 

disukainya, mengorbankan apa yang disukainya, 

menjaga matanya dari pandangan yang tidak baik, 

mengorbankan keinginannya sendiri, rela 

menanggung penderitaan baik mental maupun fisik; 

hal-hal itulah yang menjadi laku silih Dominikus 

sepanjang hari dan setiap hari. Dengan penuh 

semangat ia rela mati bagi dirinya sendiri agar 

Kristus dapat tinggal di dalamnya. Dengan tekun 

Dominikus berusaha sebaik-baiknya, bahkan dalam 

kesempatan terkecil sekali pun, untuk 

menyempurnakan keutamaan-keutamaannya di 

hadapan Tuhan. 

   PEDOMAN HIDUPNYA

• melaksanakan kewajibannya sebagai seorang 

murid.

• bersikap baik terhadap teman-teman yang 

karakternya kurang menyenangkan

• menyantap semua hidangannya pada saat 

makan tanpa menyingkirkan atau membuang 

sesuatu pun

• belajar semua mata pelajaran, bahkan yang 

tidak menarik

• rendah hati saat  teman-teman lain lebih 

hebat dari saya

• tidak berkeluh kesah tentang cuaca, 

sebaliknya, bersyukur kepada Tuhan

• riang dan gembira saat  cenderung bersikap 

sebaliknya

• dalam setiap kesempatan menunjukkan kasih 

kepada Yesus Kristus

  DOA DAN NUBUAT

Salah satu dari sekian banyak karunia yang 

dilimpahkan Tuhan kepada Dominikus yaitu  

karunia berdoa. Bahkan dalam permainan yang 

paling ribut sekali pun, pikirannya tertuju kepada 

Tuhan dan hatinya diangkatnya dalam doa. Suatu 

saat  Dominikus menghilang dari pagi sampai saat 

makan malam. Don Bosco yang mencarinya, 

akhirnya menemukan muridnya itu di gereja, khusuk 

dalam doa. Ia sudah berada di sana selama enam 

jam, namun pikirnya Misa pagi masih belum selesai! 

Dominikus menyebut saat doa yang khusuk dan 

mendalam itu sebagai “penghiburanku.”

Dalam salah satu `penghiburan' itu, 

Dominikus melihat suatu dataran luas yang 

diselimuti kabut dengan banyak orang meraba-raba 

dalam kabut. Kepada mereka datanglah sosok 

dengan jubah paus membawa obor yang menerangi 

sekitarnya, dan suatu suara mengatakan, “Obor ini 

yaitu  iman Katolik yang akan membawa terang 

bagi rakyat Inggris.”  Atas permintaan Dominikus, 

Don Bosco melaporkannya kepada Paus Pius IX. 

Paus mengatakan bahwa penglihatan itu 

meneguhkan niatnya untuk memberi perhatian 

khusus kepada Inggris. 

   DEVOSINYA KEPADA BUNDA MARIA

Dominikus memiliki devosi yang mendalam 

kepada Bunda Maria. Setiap hari ia melakukan laku 

silih untuk menghormatinya. Setiap kali memasuki 

gereja, Dominikus berlutut di altar serta berdoa, “O, 

Bunda Maria. Aku berharap untuk selalu menjadi 

anakmu. Perolehkanlah bagiku rahmat agar aku 

lebih memilih mati dibandingkan  berbuat dosa dan 

melanggar kesucian.”  Satu tahun sebelum ajalnya 

ia berkata kepada Don Bosco: "Romo, saya ingin 

melakukan sesuatu untuk Bunda Maria. namun  saya 

harus melakukannya dengan segera, sebab  jika 

tidak, saya takut semuanya akan terlambat." 

Maka atas persetujuan Don Bosco, Dominikus 

membentuk perkumpulan remaja yang diberinya 

nama "Persaudaraan Sejati dalam Bunda Maria yang 

Dikandung Tanpa Dosa". Tujuan perkumpulannya 

yaitu  membantu teman-teman yang lain agar 

dapat lebih dekat dan akrab dengan Tuhan Yesus, 

sama seperti yang selalu dilakukan oleh Bunda 

Maria. Di samping kegiatan-kegiatan rohani, mereka 

menyapu, membersihkan sekolah serta 

memperhatikan anak-anak yang kurang diperhatikan 

oleh anak-anak lain. Perkumpulan itu berhasil, 

sampai sekarang masih ada dan berkembang.

sesudah  kematiannya, Dominikus 

menampakkan diri kepada St. Yohanes Bosco, guru 

sekaligus romonya yang terkasih. Don Bosco 

bertanya kepadanya hiburan terbesar apa yang 

didapatnya saat kematiannya. Dominikus menjawab: 

"Hiburan terbesar yang saya terima saat kematian 

saya yaitu  pertolongan dari Bunda Tuhan yang 

penuh kuasa dan kasih. Tolong sampaikan kepada 

teman-teman agar tidak lupa berdoa kepada Bunda 

Maria setiap hari sepanjang hidup mereka." 

   AKHIR HIDUPNYA

Kesehatan Dominikus tidak pernah prima. 

Pada bulan Maret 1857 ia jatuh sakit dan dikirim 

pulang ke rumahnya di Mondonio. Kesehatannya 

semakin memburuk. Dokter menyatakan ia 

menderita radang paru-paru / Tuberculosis . Cara 

pengobatan pada masa itu ialah dengan merobek 

pembuluh darah dan membiarkan `kelebihan' darah 

mengalir keluar. Dalam kurun waktu empat hari, 

dokter telah mengiris lengannya sepuluh kali. 

Bukannya menyembuhkan, mungkin hal itu malahan 

mempercepat kematiannya. Imam dipanggil untuk 

memberikan Sakramen Terakhir. Dominikus 

meminta ayahnya mendaraskan doa-doa bagi 

mereka yang menjelang ajal. saat  doa hampir 

selesai didaraskan, Dominikus mencoba duduk. 

“Selamat tinggal, ayah.” bisiknya, “Romo 

mengatakan sesuatu padaku……namun  aku tidak ingat 

apa…..” Tiba-tiba wajahnya bersinar. Dominikus 

tersenyum bahagia serta penuh sukacita. “Alangkah 

indahnya apa yang aku lihat!”

Kemudian Dominikus tidak berkata-kata lagi. 

Ia meninggal dengan tenang di rumahnya pada 

tanggal 9 Maret 1857 dalam usia empat belas tahun. 

Jenasah Dominikus dimakamkan di Basilika Maria 

Pertolongan Orang Kristen di Turin, tak jauh dari 

makam pembimbingnya kelak, St. Yohanes Bosco. 

sesudah  kematiannya, St. Yohanes Bosco menuliskan 

riwayat hidup Dominikus sehingga gereja 

memproses kanonisasinya. Dalam sejarah gereja, 

Dominikus Savio merupakan orang kudus bukan 

martir yang termuda (belum genap 15 tahun) yang 

dikanonisasi. Dominikus Savio dibeatifikasi oleh 

Venerabilis Paus Pius XII pada tahun 1950 dan pada 

tanggal 12 Juni 1954 dikanonisasi oleh Paus yang 

sama. Pesta Santo Dominikus Savio dirayakan setiap 

tanggal 6 Mei. 

“Seorang remaja seperti Dominikus, yang dengan gagah 

berani  berjuang  mempertahankan  kekudusannya  sejak 

dari Pembaptisan hingga akhir hayatnya, yaitu  sungguh 

seorang kudus.”  ~ Paus St. Pius X

"Saya tidak mampu melakukan hal-hal besar, namun  saya 

mau  melakukan  segala  sesuatu,  bahkan  hal-hal  remeh 

sekali  pun, demi kemuliaan Tuhan.” ~ Santo Dominikus 

Savio

DONATIAN († 260)

yaitu  seorang magang B baptis yang 

dipermandikan dalam penjara di Kartago Tunisia, 

lalu dihukum mati.

P: 6 Mei

DONATUS (830-876)

Donatus berasal dari Irlandia dan menjadi 

uskup di Fiesole Italia. Ia menulis riwayat hidup 

Santa Brigida.

A: yang diberi (L); P: 22 Oktober

DON PASCHOAL (1585)

yaitu  seorang pangeran Jawa dari keluarga 

raja Blambangan. Tak lama sesudah dibaptis, ia 

digodai putrid kerajaan yang masih sepupu sendiri 

untuk berbuat mesum. Don Paschola menolak wanita 

itu. Putri itu kemudian mengadukan dan 

memfitnahnya pada raja. Raja memerintahkan 

susaha  Don Paschoal dibunuh. Mayatnya 

dikebumikan dalam gereja Blambangan, namun  

kemudian dibawa oleh para pastor Fransiskan ke 

gereja di Malaka.

(Salah satu dari Orang-orang Kudus di 

Indonesia)

DOROTEA (1347-1394)

sesudah  suaminya meninggal, ibu dari 9 anak 

ini membiarkan diri dikunci dalam ruangan yang 

sempit di Ktedral Marienwerder (Jerman Timur). 

Ditempat inilah ia di karuniai rahmat persatuan 

dengan Tuhan

B: Dora; P: 25 Juni

DOROTEA dari KAISAREA († 303)

Dalam berbagai artikel  kisah umat Kristen 

awal, dapat dijumpai banyak nukilan cerita tentang 

para saksi iman, yang tanpa rasa takut sedikit pun 

rela menyerahkan diri ketangan para algojo. 

Diantara mereka yaitu  kisah seorang gadis 

bernama Dorotea dari kota Kaisarea .

Dorotea dimejahijaukan sebab  percaya 

kepada Jesus. Hakim membujuk gadis itu, agar mau 

menyembah berhala. Kalau tidak bersedia ia akan 

disiksa. “Cepat-cepatlah saja tuan hakim, susaha  

saya segera dapat memuji Tuhan di surga,” kata 

Dorotea kepadanya. namun  Teofilus, pengawal 

penjara mendengar permintaan itu, ia mencibir dan 

mengejeknya: “Kalau telah sampai disana, tolong 

kirimkanlah buah dan bunga, anak manis.” Tak lama 

kemudian, Dorotea menghadap Bapa di surga 

sesudah  mengalami siksaan keji dan lehernya ditebas 

oleh sebilah pedang.

Malam itu juga, seorang bocah menampakkan 

diri secara ajaib kepada Teofilus. Anak itu 

menjinjing sekeranjang buah, walaupun belum 

musimnya, dan sebakul kembang mawar segar 

meskipun sedang musim dingin. “Ini kiriman dari 

Dorotea”’ kata bocah itu yang segera hilang dan 

lenyap. Melihat itu Teofilus (P: 6 Februari) yang 

sebelumnya telah menyiksa banyak orang Kristen 

sampai mati, bertobat dan percaya kepada Kristus, 

Kemudian ia sendiri dibunuh demi imannya ditempat 

yang sama.

Dorotea, martir; meninggal ±303 pada masa 

pengejaran orang Kristen oleh Kaisar 

Diokletianus. B: Tea; L: seorang pemudi 

membawa keranjang penuh buah atau bunga 

mawar. Dorotea dihormati sebagai pelindung 

para petani dan pedagang buah; P: 6 Februari

DUNS SCOTUS OFM (1265-1308)

Mahaguru teologi termasyur di Oxford, 

Cambridge dan Paris itu terkenal pula sebagai 

pengkotbah yang menjunjung tinggi sakramen 

ekaristi. Ia membela ajaran mengenai Maria ‘yang-

dikandung-tanpa-noda-dosa’ (immaculata), sehingga 

dijuluki ‘Doctor Marianus’. sebab  tegas-tegas 

membela kebebasan Gereja dari kendali raja 

Perancis, ia terpaksa dindahkan ke Koln. Di kota 

itulah dia meninggal, sesudah  menertibkan biara 

suster – suster yang menganut paham karismatis 

secara keterlaluan.

P: 14 Nopember

DUNSTAN (909-988)

Dibuang oleh raja Inggeris. namun  sesudah  

raja digantikan, ia dipanggil kembali menjadi uskup 

agung Canterbury. Biarawan Benediktin inilah 

pembaharu Gereja dan tertib hidup biara di Inggeris. 

Ia juga terkenal sebagai penyanyi lagu-lagu gerejani 

yang sangat merdu, sehingga orang mengira ia 

langsung menghadap Tuhan

P: 19 Mei

E

SANTA EANSWIDA († 31 Agustus 640)

Eanswida hidup pada abad ketujuh. Ia yaitu  

cucu St Ethelbert, raja Kristen pertama dalam 

kerajaan Inggris. Ayahnya yaitu  Pangeran Edbald. 

Pada mulanya, Edbald bukanlah seorang religius, 

namun  ia banyak belajar mengenai kekristenan dari 

puterinya. Eanswida seorang gadis yang saleh pun 

menarik. Ayahnya telah memilihkan seorang calon 

suami yang baik untuknya, seorang pangeran kafir 

dari Northumbria. Eanswida sama sekali tidak 

senang. Ia menolak menikah dengan suatu gurauan 

yang halus, agar jangan sampai menyinggung hati 

ayahnya. Edbald menghormati keinginan puterinya 

dan ayahnya itu mengejutkan semua orang saat  ia 

mengijinkan puterinya untuk memulai suatu biara 

bagi para biarawati. 

Puteri Eanswida yaitu  seorang biarawati 

yang riang gembira. Ia hidup sederhana dan dalam 

doa seperti para biarawati lainnya. Ia menghabiskan 

seluruh sisa hidupnya dalam matiraga dan doa bagi 

dirinya sendiri dan bagi segenap rakyat negerinya. 

Eanswida wafat pada tanggal 31 Agustus tahun 640. 

Kaum Danes di kemudian hari menghancurkan 

biaranya, namun  para biarawan Benediktin 

mendirikan biara kembali pada tahun 1095.

EDITH atau ELFRIDA (961-984)

yaitu  puteri tak sah raja Edgar dari Inggeris 

(944-975; P: 8 Juli) yang membaharui hidup 

Kristiani di Inggeris Selatan. Sejak kecil ia dititipkan 

dan dibesarkan dalam biara. Edith tidak mau 

menjadi pimpian biara sebab  senang melayani 

semua penghuni biara.

L: seorang putrid raja yang melayani orang 

sakit; P: 16 September

SANTA EDITH STEIN ~ SANTA TERESA 

BENEDIKTA dari SALIB (12 Oktober 1891-

1942) 

“Kita  membungkuk  hormat  di  hadapan  kesaksian  hidup 

dan mati Edith Stein, seorang puteri Israel yang luar biasa 

dan sekaligus seorang puteri Ordo Karmelit, Suster Teresa 

Benedikta dari Salib, suatu pribadi yang mempersatukan 

dalam  kehidupannya  yang  kaya,  suatu  perpaduan 

dramatis  dari  abad  kita.  Perpaduan  dari  suatu  sejarah 

yang penuh luka mendalam yang masih menyakitkan … 

dan  juga  perpaduan  akan  kebenaran  penuh  mengenai 

manusia.  Semuanya  ini  menyatu  dalam  sebentuk  hati  

yang  terus-menerus  gelisah  dan  tak  tenang  hingga 

akhirnya  ia  beroleh  istirahat  dalam  Tuhan.”  ~  Paus 

Yohanes Paulus II, Beatifikasi Edith Stein, Cologne, 1 May 

1987

 JITSCHEL

Edith Stein yaitu  yang bungsu dari 

total sebelas anak pasangan Yahudi-Ortodoks 

Siegfried Stein dan Auguste Courant Stein. Ia 

dilahirkan di Breslau pada tanggal 12 Oktober 

1891, tepat saat keluarganya merayakan Yom 

Kippur, perayaan terpenting bangsa Yahudi, 

Hari Pendamaian Agung. Lebih dari segalanya, 

hal ini menjadikan si bungsu “Jitschel” amat 

berharga di mata ibunya. Dilahirkan pada hari 

istimewa pendamaian ini bagai suatu nubuat 

bagi Jitschel kecil, yang kelak menjadi seorang 

biarawati Karmelit. 

Ayah Edith, seorang pengusaha kayu, 

meninggal dunia 

mendadak saat  

Edith beranjak 

dua tahun. 

Ibunya, seorang 

yang amat saleh, 

pekerja keras, 

berkemauan kuat 

dan sungguh 

seorang 

wanita  yang mengagumkan, sekarang 

harus menghidupi dirinya sendiri, mengurus 

keluarga serta mengelola perusahaan kayu 

suaminya. Kesemuanya itu ditunaikannya 

dengan berhasil, namun demikian, ia tidak 

berhasil dalam memelihara iman yang hidup 

dalam diri anak-anaknya. Edith kehilangan 

imannya akan Tuhan. “Aku secara sadar 

memutuskan, atas kemauanku sendiri, untuk 

berhenti berdoa,” katanya.

 MAHASISWI

Sejak masih amat muda usianya, Edith 

menunjukkan antusiasme dan kecemerlangan 

dalam belajar. Pada tahun 1911, Edith lulus 

cum laude dari ujian akhir sekolah. Ia 

melanjutkan kuliah di Universitas Breslau untuk 

belajar bahasa Jerman dan sejarah, meski ini 

hanya sekedar pilihan “sampingan”. Minatnya 

yang sesungguhnya yaitu  dalam bidang 

filsafat dan peran wanita . Ia menjadi 

anggota Serikat Prussian untuk Hak 

wanita . Ia berjuang keras demi 

memperbaiki nasib wanita . “Semasa di 

sekolah dan semasa tahun-tahun pertamaku di 

universitas,” tulisnya kemudian, “aku seorang 

aktivis yang radikal. Kemudian minatku hilang 

dalam segala urusan itu. Sekarang aku mencari 

solusi-solusi pragmatis yang murni.”

Pada tahun 1913, Edith Stein pindah ke 

Universitas Göttingen dan belajar filsafat di 

bawah bimbingan Professor Edmund Husserl, 

seorang filsuf tersohor dan penggagas 

fenomenologi. Edith menjadi murid dan asisten 

pengajarnya, dan Husserl membimbingnya 

untuk meraih doktorat. Pada masa itu, 

siapapun yang tertarik pada filsafat akan 

terpikat oleh pandangan realitas baru Husserl, 

di mana dunia seperti yang kita rasakan tidak 

hanya ada di jalan Kantian, dalam persepsi 

subyektif kita. Murid-muridnya melihat filsafat 

Husserl sebagai kembali ke obyek, “back to 

things”. Fenomenologi Husserl tanpa disadari 

menghantar banyak muridnya ke iman 

Kristiani. Di Göttingen, Edith juga bertemu 

dengan filsuf Max Scheler, yang mengarahkan 

perhatiannya ke Katolik Roma. 

Edith tidak melalaikan kuliah-kuliah 

“sampingan”nya dan lulus cum laude pada 

bulan Januari 1915, meski ia mengikutinya 

tanpa bimbingan dosen.

“Aku tak lagi memiliki hidupku sendiri,” 

tulisnya di awal Perang Dunia Pertama, sesudah  

menamatkan kursus perawat dan pergi 

melayani di sebuah rumah sakit lapangan 

Austria. Ini yaitu  masa yang sulit baginya, di 

mana ia merawat mereka yang sakit di bangsal 

tifus dan melihat orang-orang muda mati. 

Walau demikian, Edith bekerja sepenuh hati 

dan mendapatkan medali penghargaan atas 

keberanian dan pelayanannya yang tanpa 

pamrih. saat  rumah sakit dibubarkan pada 

tahun 1916, ia mengikuti Husserl sebagai 

asistennya ke Freiburg, di mana ia lulus dari 

doktoratnya dengan summa cum laude pada 

tahun 1917 pada usia 25 tahun dan menerima 

gelar Doktor Filsafat sesudah  menyelesaikan 

tesis “Problem Empati.” 

Pada masa ini Edith pergi ke Katedral 

Frankfurt dan melihat seorang wanita  

dengan keranjang belanja masuk ke dalam 

gereja untuk berlutut memanjatkan doa 

singkat. “Ini sesuatu yang sama sekali baru 

bagiku. Di sinagoga-sinagoga dan di gereja-

gereja Protestan yang telah aku kunjungi, 

orang hanya pergi menghadiri kebaktian. 

namun  di sini, aku melihat seorang yang datang 

tepat dari keramaian pasar ke dalam gereja 

kosong ini, seolah ia hendak mengadakan 

suatu percakapan yang mesra. Ini sesuatu 

yang tak akan pernah aku lupakan.” Di akhir 

disertasinya ia menulis, “Ada orang-orang yang 

percaya bahwa suatu perubahan yang 

sekonyong-konyong terjadi atas diri mereka 

dan bahwa ini yaitu  sebab  rahmat Allah.” 

Edith Stein bersahabat baik dengan 

asisten Husserl di Göttingen, Adolf Reinach, 

dan isterinya. saat  Reinach gugur pada bulan 

November 1917, Edith pergi ke Göttingen 

untuk mengunjungi jandanya. Suami isteri 

Reinach telah memeluk agama Protestan. Pada 

awalnya, Edith merasa canggung menemui 

janda muda ini, namun  ia terkejut saat  

sesungguhnya ia menjumpai seorang 

wanita  penuh iman. “Inilah perjumpaan 

pertamaku dengan Salib dan kuasa ilahi yang 

diberikan kepada mereka yang 

menanggungnya … itulah saat saat  

ketidakpercayaanku hancur dan Kristus mulai 

menyinarkan terang-Nya atasku - Kristus 

dalam misteri Salib.”

Di kemudian hari Edith menulis, 

“Apapun yang tidak sesuai dengan rencanaku 

sendiri sungguh berada dalam rencana Allah. 

Aku bahkan memiliki keyakinan yang terlebih 

mendalam dan terlebih teguh lagi bahwa tak 

suatupun yang sekedar kebetulan belaka 

jika  dilihat dalam terang Tuhan, bahwa 

seluruh hidupku hingga ke hal-hal yang paling 

detil sekalipun telah dirancangkan bagiku 

dalam rencana Penyelenggaraan Ilahi dan 

memiliki makna yang sepenuhnya dan logis 

dalam pandangan Tuhan yang melihat 

semuanya. Jadi aku mulai bersukacita dalam 

terang kemuliaan di mana makna ini akan 

disingkapkan bagiku.” 

Pada musim gugur 1918, Edith Stein 

mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai 

asisten pengajar Husserl. Ia ingin bekerja 

mandiri. Baru pada tahun 1930 Edith bertemu 

kembali dengan Husserl sesudah  pertobatannya, 

dan ia berbagi iman dengannya, sebab ia ingin 

Husserl menjadi seorang Kristiani juga. Lalu 

Edith menuliskan kata-kata nubuat ini, “Setiap 

saat aku merasakan ketakberdayaanku dan 

ketakmampuanku untuk mempengaruhi orang 

secara langsung, aku menjadi semakin sadar 

akan perlunya `holocaust'ku sendiri.” 

Edith Stein mendamba gelar professor, 

suatu impian yang mustahil bagi seorang 

wanita  pada masa itu. Husserl menuliskan 

referensi berikut, “Andai karir akademis 

terbuka bagi kaum wanita , maka aku akan 

merekomendasikannya dengan segenap hatiku 

dan sebagai pilihan pertamaku untuk gelar 

ini .” Edith akhirnya ditolak terutama 

sebab  ia seorang Yahudi.

Sekembalinya ke Breslau, Edith Stein 

mulai menulis artikel-artikel mengenai dasar 

filosofis dari psikologi. namun , ia juga membaca 

Perjanjian Baru, Kierkegaard dan Latihan 

Rohani St Ignatius dari Loyola. Ia merasa 

bahwa orang tak dapat sekedar membaca 

sebuah artikel  macam itu, melainkan harus 

mengamalkannya.

 “INILAH KEBENARAN”

Pada musim panas 1921, ia melewatkan 

beberapa minggu di Bergzabern (di Palatinate) 

di tempat Hedwig Conrad-Martius, seorang 

murid Husserl. Hedwig dan suaminya telah 

memeluk agama Protestan. Suatu sore, dari 

perpustakaan Hedwig, Edith mengambil secara 

acak sebuah artikel  yang ternyata yaitu  artikel  

otobiografi St Theresia dari Avila, dan terus ia 

membaca artikel  ini  sepanjang malam 

hingga fajar merekah. “saat  aku selesai 

membaca, aku berkata kepada diriku sendiri: 

Inilah kebenaran!” 

Keesokan harinya, Edith membeli artikel  

Misa dan Katekismus yang di hari-hari 

selanjutnya menjadi tumpuan perhatiannya. 

saat  dirasa ia sudah cukup paham, Edith 

untuk pertama kalinya masuk ke sebuah Gereja 

Katolik dan dengan mudah mengikuti jalannya 

Misa. Ia ingin dibaptis segera; dan saat  

Pastor Breitling mengatakan bahwa agar dapat 

dibaptis orang perlu persiapan untuk mengenal 

ajaran dan tradisi-tradisi Gereja, ia menjawab, 

“Ujilah saya!” Ini dilakukan pastor dan Edith 

lulus dengan cemerlang.  

“Edith, pernahkah engkau memohon 

rahmat iman sebelum engkau bertobat?” 

Jawabnya, “Terus-menerus mencari kebenaran 

itulah satu-satunya doaku.” Dan kepada 

seorang biarawati Benediktin sahabatnya, Edith 

menulis, “Barangsiapa mencari kebenaran, 

entah sadar atau tidak, ia mencari Tuhan.”

Pada tanggal 1 Januari 1922, Teresa 

Edith Stein menerima Sakramen Baptis dan 

Sakramen Komuni Pertama di Gereja Santo 

Martinus, Bergzabern. Hari itu yaitu  hari 

Peringatan Penyunatan Yesus, saat  Yesus 

masuk ke dalam perjanjian Abraham. Teresa 

Edith Stein berdiri dekat bejana baptis dengan 

mengenakan gaun pengantin putih milik 

Hedwig Conrad-Martius. Dengan dispensasi 

khusus Bapa Uskup, Hedwig menjadi wali 

baptisnya. “Aku meninggalkan agama Yahudiku 

saat  aku masih seorang gadis berusia 

empatbelas tahun dan tidak lagi merasakan 

keyahudian hingga akhirnya aku kembali 

kepada Tuhan.” Sejak saat itu ia terus-menerus 

sadar sepenuhnya bahwa ia yaitu  milik 

Kristus bukan hanya secara rohani, melainkan 

juga sebab  hubungan darah. Pada tanggal 2 

Februari, hari Peringatan Pentahiran Maria - 

suatu hari yang merujuk pada Perjanjian Lama 

- ia menerima Sakramen Penguatan oleh Uskup 

Speyer di kapel pribadi bapa uskup.

Edith langsung menuju Breslau: 

“Mama,” katanya dengan berlutut sembari 

menggenggam kedua tangan sang ibu, “Aku 

seorang Katolik.” Ibunya yang seorang Yahudi 

saleh itu bagai disambar petir. Kemudian 

perlahan airmata berlinang-linang membasahi 

wajahya yang keriput. Edith belum pernah 

melihat ibunya yang tegar itu menangis! Ini 

terlalu berat baginya. Dalam keluarganya, 

Katolik dianggap sekte yang hina. Edith siap 

menerima teguran yang paling tajam 

sekalipun, ia bahkan khawatir akan diusir dari 

rumah. namun , airmata itu, ungkapan 

kesedihan hati yang terdalam. Kedua 

wanita  itu pun menangis. Hedwig Conrad 

Martius menulis: “Lihat, inilah dua orang Israel 

sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (bdk 

Yohanes 1:47).

 FRAULEIN DOCTOR

Segera sesudah  pertobatannya, 

kerinduan Edith Stein yang terdalam yaitu  

menggabungkan diri dalam sebuah biara 

Karmelit. namun , para pembimbing rohaninya, 

Vikaris Jenderal Schwind dari Speyer, dan P 

Erich Przywara SJ, untuk sementara 

menghalanginya. Mereka beranggapan bahwa 

rencana Tuhan yaitu  bahwa Edith Stein 

mengabdi Gereja lewat ilmunya. P Schwind 

mengatur agar Edith menjadi guru bahasa 

Jerman dan sejarah di sekolah Suster-suster 

Dominikan dan juga guru pembimbing mereka 

yang akan masuk universitas di Biara St 

Magdalena di Speyer. 

“Segalanya untuk semua orang,” itulah 

semboyan Edith sejak ia menjadi Katolik, dan 

dalam hal itu ia menjadi teladan bagi semua 

orang. Satu dari banyak kesaksian yang ditulis 

oleh para mantan muridnya mengatakan, 

“Kami baru berumur tujuhbelas tahun dan 

Fraulein (= nona) Doctor mengajar kami 

bahasa Jerman. Sesungguhnya ia memberi 

kami segalanya. Kami masih sangat muda, 

namun daya tarik yang terpancar darinya tak 

akan pernah kami lupakan. Tiap-tiap hari kami 

melihat dia berlutut di bangku doanya, di 

depan koor, selama Perayaan Ekaristi. Maka 

kami mulai sedikit mengerti apa artinya iman 

dan sikap hidup yang diserasikan. Bagi kami, di 

usia yang penuh kritik, sikapnya saja sudah 

210

menjadi teladan. Kami tak pernah melihat dia 

lain dibandingkan  anggun, tenang dan pendiam. 

Seperti itu ia selalu masuk ke kelas kami, 

seperti itu juga ia seminggu sekali menemani 

kami waktu rekreasi….”

Pada saat yang sama, Abbas Agung 

Raphael Walzer dari Biara Beuron 

mendorongnya untuk menerima tawaran 

memberikan ceramah-ceramah. Sebanyak 

mungkin Edith menerima tawaran ini yang 

merupakan sarana baginya untuk mewartakan 

iman Katolik. Jadi Edith melewatkan hari-

harinya dengan mengajar, memberikan kuliah, 

menulis dan menerjemahkan, memberikan 

ceramah-ceramah baik di Jerman maupun di 

luar negeri, dan segera saja ia terkenal sebagai 

seorang filsuf dan pengarang yang ternama, 

meski yang didambakannya yaitu  keheningan 

dan kontemplasi di Karmel. Pernah ia dicela 

sebab  dianggap terlalu kuat menggarisbawahi 

segi adikodrati, yang dijawabnya dengan tegas, 

“Jika aku tidak berbicara tentang hal ini, maka 

tak ada gunanya aku duduk di atas mimbar.”

Edith belajar bahwa yaitu  mungkin 

untuk “mengejar ilmu pengetahuan sebagai 

suatu pelayanan kepada Tuhan…. Hingga aku 

memahami hal ini maka aku mulai secara 

serius menekuni karya akademis kembali.” 

Edith bekerja keras luar biasa, menerjemahkan 

surat-surat dan artikel  harian Kardinal Newman 

dari masa sebelum ia menjadi Katolik, pula 

Quaestiones Disputatae de Veritate tulisan St 

Thomas Aquinas. Karya yang disebut 

belakangan ini merupakan suatu terjemahan 

yang sangat bebas, demi kepentingan dialog 

dengan filosofi modern. P Erich Przywara juga 

mendorongnya untuk menuliskan karya-karya 

filosofisnya sendiri. “Pada masa menjelang dan 

awal pertobatanku, aku pikir bahwa 

melewatkan suatu kehidupan religius berarti 

meninggalkan segala hal-hal duniawi dan 

mengarahkan akal budi pada hal-hal ilahi saja. 

Namun demikian, perlahan-lahan, aku belajar 

bahwa hal-hal lain juga diharapkan dari kita di 

dunia ini…. Aku bahkan percaya bahwa 

semakin seorang tenggelam dalam Tuhan, 

semakin ia harus `mengatasi dirinya sendiri' 

dalam hal ini, yakni, masuk ke dalam dunia dan 

melaksanakan hidup ilahi di dalamnya.” 

Pada tahun 1931, Edith Stein 

meninggalkan sekolah biara di Speyer dan 

membaktikan diri untuk meraih gelar professor 

kembali, kali ini di Breslau dan Freiburg, meski 

ternyata usahanya sia-sia belaka. Pada waktu 

itulah ia menulis “Potensi dan Tindakan”, suatu 

studi mengenai konsep-konsep inti yang 

dikembangkan oleh St Thomas Aquinas. Di 

kemudian hari, di Biara Karmelit di Cologne, ia 

menulis ulang studi ini demi menghasikan 

karya utamanya dalam filosofis dan teologis, 

“Keterbatasan dan Keabadian” yang 

diselesaikannya pada tahun 1936. namun , 

sebab  hukum anti Yahudi yang diberlakukan 

pada masa itu, karyanya tidak dapat 

dipublikasikan hingga tahun 1950. 

Pada tahun 1932, ia menerima jabatan 

dosen di Institut Jerman untuk Ilmu Pedagogi 

di Universitas Munster, di mana ia 

mengembangkan antropologinya. Dengan 

gemilang Edith memadukan ilmu pengetahuan 

dan iman dalam karya dan pengajarannya, 

sebagai usaha menjadi “alat Tuhan” dalam 

segala yang ia ajarkan. “Jika seorang datang 

kepadaku, aku ingin menghantarnya kepada 

Dia.”

Serangan terhadap bangsa Yahudi 

semakin gencar dan pada tahun 1933, Adolf 

Hitler dan Partai Nazi berkuasa di Jerman. “Aku 

telah mendengar perlakuan buruk terhadap 

bangsa Yahudi sebelumnya. namun  sekarang 

mulai tampak bagiku bahwa Tuhan telah 

menekankan tangan-Nya dengan kuat ke atas 

umat-Nya, dan bahwa nasib bangsa ini juga 

akan menjadi nasibku.” Hukum Arian Nazi 

menjadikan mustahil bagi Edith Stein untuk 

terus mengajar, “Jika aku tak dapat terus di 

sini, maka tidak akan ada lagi kesempatan 

bagiku di Jerman,” tulisnya; “aku telah menjadi 

seorang asing di dunia.”

Sekarang P Walzer, Abbas Agung 

Beuron yang menjadi pembimbing rohaninya, 

tak lagi menghalanginya untuk masuk biara 

Karmelit. Sementara di Speyer, Edith telah 

mengucapkan kaul kemiskinan, kemurnian dan 

ketaatan. Pada tahun 1933 ia bertemu dengan 

Priorin Biara Karmelit di Cologne. saat  

diberitahukan kepadanya bahwa ia tidak usah 

berharap dapat melanjutkan karya ilmiahnya di 

Karmel, Edith menjawab sepenuh hati, “Karya 

manusia tak ada gunanya, yang berarti 

hanyalah sengsara Kristus. Dan yaitu  

kerinduanku untuk ikut ambil bagian di 

dalamnya.”

SANTO EDMUND († 870)

Edmund yaitu  seorang raja Inggris yang 

hidup pada abad kesembilan. Ia menjadi raja saat  

usianya baru empatbelas 

tahun. Namun demikian, 

jabatan yang tinggi itu tidak 

menjadikannya congkak 

atau pun sombong. 

Sebaliknya, ia menjadikan 

Raja Daud -tokoh Perjanjian 

Lama- sebagai teladan 

hidupnya. Edmund 

berusaha untuk melayani 

Tuhan sebaik-baiknya 

seperti yang telah dilakukan 

Daud. Edmund bahkan 

menghafalkan mazmur-

mazmur Daud di luar 

kepala. Mazmur yaitu  

nyanyian puji-pujian indah 

kepada Tuhan yang ada 

dalam Kitab Suci.

Raja Edmund memerintah dengan bijaksana, 

dengan menunjukkan belas kasihan kepada segenap 

rakyatnya. saat  pasukan barbar Denmark 

menyerang negerinya, ia berperang melawan 

mereka dengan gagah berani. Pasukan musuh jauh 

lebih besar dan lebih kuat dibandingkan  pasukannya. 

Akhirnya, raja Inggris itu tertangkap. Pemimpin 

barbar bersedia menyelamatkan nyawanya jika ia 

setuju dengan beberapa syarat yang mereka ajukan. 

namun , oleh sebab  persyaratan-persyaratan 

ini  menentang negara dan agamanya, raja 

menolak. Raja dengan tegas menyatakan bahwa ia 

tidak akan pernah menyelamatkan nyawanya 

dengan menghina Tuhan dan rakyatnya. sebab  

geram, pemimpin kafir itu menjatuhkan hukuman 

mati kepadanya. St. Edmund diikatkan ke sebatang 

pohon dan dicambuki dengan kejam. Raja yang 

kudus itu menerima siksaannya dengan sabar, 

sambil menyebutkan nama Yesus untuk memberinya 

kekuatan. Kemudian, para penyiksanya 

membidikkan panah-panah ke seluruh bagian 

tubuhnya. Para pemanah itu membidik dengan hati-

hati agar tidak mengenai bagian tubuhnya yang 

vital, sehingga penderitaannya dapat diperpanjang. 

Pada akhirnya, St. Edmund dipenggal kepalanya. 

Raja Edmund meninggal pada tahun 870. Devosi 

kepada St. Edmund sang martir menjadi demikian 

populer di Inggris. Banyak gereja didirikan untuk 

menghormatinya.

Edmund (841-869) Raja Anglia Timur yang 

dibunuh oleh tentara Denmark; B: Ed, Edy; P: 

20 Nopember

SANTO EDMUND CAMPION († 1581)

Edmund hidup pada abad keenambelas. Ia 

seorang pelajar muda Inggris yang amat populer, 

seorang ahli pidato yang mengagumkan. Edmund 

terpilih untuk menyampaikan pidato sambutan 

kepada Ratu Elizabeth saat  ratu mengunjungi 

perguruan tingginya. Sekelompok temannya tertarik 

akan sikapnya yang periang dan bakat-bakatnya 

yang beranekaragam. 

Mereka menjadikan Edmund 

sebagai pemimpin mereka. 

Bahkan ratu dan para 

menterinya pun menyukai 

pemuda yang menarik ini.

namun , Edmund 

memiliki  masalah 

dengan agamanya. Ia selalu 

beranggapan bahwa Gereja 

Katolik yaitu  satu-satunya Gereja yang benar. Dan 

ia tidak menyembunyikan pendapatnya itu. Oleh 

sebab nya, pemerintah, yang menganiaya orang-

orang Katolik, menjadi amat curiga kepadanya. 

Edmund tahu bahwa ia akan kehilangan simpati ratu 

dan juga kehilangan semua kesempatan untuk 

mendapatkan jabatan tinggi jika  ia memilih 

untuk menjadi seorang Katolik. Pemuda ini berdoa 

dan menetapkan keputusannya. Ia akan tetap 

menjadi seorang Katolik! 

sesudah  melarikan diri dari Inggris, Edmund 

belajar untuk menjadi seorang imam. Ia masuk 

Serikat Yesus. saat  Bapa Suci memutuskan untuk 

mengirimkan imam-imam Yesuit ke Inggris, Pastor 

Campion termasuk di antara imam-imam pertama 

yang diutus. Malam sebelum ia pergi, salah seorang 

rekan imam merasa terdorong untuk menuliskan 

kata-kata ini di pintu kamarnya: “Pastor Edmund 

Campion, martir.” Meskipun Pastor Campion tahu 

akan bahaya yang menghadangnya, imam yang 

kudus ini berangkat juga dengan riang. Malahan, ia 

banyak tertawa oleh sebab  ia menyamar sebagai 

seorang pedagang permata. Di Inggris, ia 

berkhotbah dengan berhasil di hadapan umat Katolik 

yang menjumpainya secara rahasia. Mata-mata ratu 

ada di mana-mana, mereka mencoba 

menangkapnya. Pastor Campion menulis: “Sebentar 

lagi aku tidak akan terlepas dari tangan mereka. 

Kadang-kadang aku membaca tulisan yang berbunyi 

'Campion telah tertangkap!” Seorang pengkhianatlah 

yang pada akhirnya memicu  imam Yesuit itu 

tertangkap. Di penjara, Pastor Campion dikunjungi 

oleh para pejabat kerajaan yang mengaguminya. 

Bahkan Ratu Elizabeth sendiri juga datang. namun  

tidak satu pun dari ancaman ataupun janji-janji 

mereka yang dapat membuatnya mengingkari iman 

Katoliknya. Bahkan tidak juga aniaya. 

Walaupun harus banyak menderita, ia masih 

tetap mempertahankan diri dan rekan-rekan imam 

lainnya dengan cara yang demikian mengagumkan 

sehingga tidak seorang pun mampu mendebatnya. 

Meskipun begitu, ia tetap juga dijatuhi hukuman 

mati. Sebelum hukuman dilaksanakan, St. Edmund 

mengampuni orang yang telah mengkhianatinya. Ia 

bahkan membantu menyelamatkan nyawa orang itu. 

St. Edmund Campion wafat pada tahun 1581 pada 

usia empatpuluh satu tahun.

SANTO EDWARD (1004-1066)

Raja St Edward yaitu  salah seorang yang 

paling dikasihi dari semua raja Inggris. Ia hidup 

pada abad kesebelas. Oleh sebab para musuh di 

tanah airnya sendiri, ia harus tinggal di Normandy, 

Perancis, sejak usianya sepuluh tahun hingga 

empatpuluh tahun. saat  ia pulang kembali untuk 

memimpin negeri, segenap rakyat menyambutnya 

dengan sukacita.

St Edward yaitu  seorang yang tinggi dan 

tegap perawakannya, namun  kesehatannya amat 

rapuh. Meski begitu ia dapat memimpin negerinya 

dengan baik dan senantiasa memelihara kedamaian 

di negerinya. Ini sebab  ia percaya dan 

mengandalkan Tuhan. Raja Edward ikut ambil bagian 

dalam misa setiap hari. Ia yaitu  seorang yang 

lemah lembut dan baik hati, yang tidak pernah 

berbicara kasar. Kepada orang-orang miskin dan 

orang-orang asing, ia menunjukkan belas kasih yang 

istimewa. Ia juga membantu para biarawan dengan 

segala cara yang dapat ia lakukan. yaitu  

keadilannya kepada setiap orang dan kasihnya 

kepada Gereja Tuhan 

yang menjadikan St 

Edward begitu populer di 

kalangan rakyat Inggris. 

Mereka akan bersorak-

sorai sementara ia 

mengendarai kudanya 

keluar istana.

Meski ia seorang 

raja dengan kekuasaan 

yang besar, St Edward menunjukkan kejujurannya 

dengan jalan menepati janjinya kepada Tuhan dan 

kepada rakyat. Sewaktu masih tinggal di Normandy, 

ia mengucapkan suatu ikrar kepada Tuhan. Ia 

mengatakan bahwa jika  keluarganya 

berkesempatan melihat masa-masa yang lebih baik, 

ia akan pergi berziarah ke makam St Petrus di 

Roma. sesudah  dinobatkan sebagai raja, ia rindu 

untuk menepati ikrarnya ini. namun  para bangsawan 

tahu bahwa tak akan ada siapa-siapa lagi yang akan 

memelihara perdamaian diantara orang-orang yang 

gemar berperang di tanah itu. Jadi, meski mereka 

mengagumi devosi raja, mereka tak hendak 

membiarkannya pergi. Segala masalah ini 

disampaikan kepada paus, St Leo IX. Bapa Suci 

memutuskan bahwa raja dapat tinggal di 

kerajaannya. Beliau mengatakan bahwa 

hendaknyalah Raja Edward membagi-bagikan uang 

yang seharusnya dipergunakannya untuk berziarah 

kepada orang-orang miskin. Ia hendaknya juga 

membangun atau memperbaiki suatu biara demi 

menghormati St Petrus. Dengan taat, raja 

melaksanakan keputusan paus. Raja wafat pada 

tahun 1066 dan dimakamkan di sebuah biara indah 

yang telah ia bangun kembali, yaitu Westminster

Abbey. Ia dimaklumkan sebagai santo oleh Paus 

Alexander III pada tahun 1161.

B: Edward; L: raja dengan merpati dan 

tongkat.; P: 13 Oktober

SANTO EFREM (306-Juni 373)

Efrem dilahirkan di Mesopotamia sekitar 

tahun 306. Ia dibaptis saat  usianya delapan belas 

tahun. Beberapa waktu 

kemudian, Efrem pergi ke 

pegunungan dan menjadi 

seorang pertapa. Ia 

menemukan sebuah gua dekat 

kota Edessa di Siria. Bajunya 

compang-camping dan ia 

hanya makan makanan hasil 

bumi.

Efrem cepat sekali naik 

darah. Perlahan-lahan ia dapat 

menguasai dirinya. Orang-

orang yang berjumpa 

dengannya menyangka bahwa 

sudah watak dasarnya ia seorang yang amat sabar. 

Efrem sering berkhotbah di Edessa. jika  ia 

berbicara tentang pengadilan Tuhan, umat yang 

mendengarnya menangis tersedu-sedu. Ia akan 

mengatakan kepada mereka bahwa ia yaitu  

seorang pendosa besar. Dan sungguh demikianlah 

maksudnya, sebab sekali pun ringan, dosa-dosa itu 

tampak berat baginya. saat  St. Basilius berjumpa 

dengannya, ia bertanya, “Engkaukah Efrem, hamba 

Yesus yang termashyur itu?” Segera Efrem 

menjawab, “Akulah Efrem yang dengan tidak layak 

berjalan menuju keselamatan.” Kemudian ia 

memohon serta menerima nasehat dari St. Basilius 

mengenai bagaimana bertumbuh dalam hidup 

rohani.

Efrem menghabiskan waktunya dengan 

menulis artikel -artikel  rohani. Ia menulis dalam 

beberapa bahasa: Siria, Yunani, Latin dan Armenia. 

Karya tulisnya sungguh sangatlah indah dan 

mendalam hingga diterjemahkan ke dalam berbagai 

bahasa. Higga sekarang orang masih membacanya. 

Efrem juga menulis kidung-kidung pujian. Lagu-

lagunya menjadi sangat populer. Sementara orang 

menyanyikannya, mereka belajar banyak tentang 

iman mereka. Itulah sebabnya St. Efrem dijuluki  

“harpa Roh Kudus”. Ia seorang guru yang hebat, 

yang mengajar lewat tulisan-tulisannya, sebab  

itulah pada tahun 1920 ia digelari Pujangga Gereja. 

St. Efrem wafat pada bulan Juni tahun 373. Pesta 

perayaannya setiap tanggal 9 Juni

“Ya  Yesus,  melalui  sakramen-Mu,  kami  setiap  hari  

memeluk-Mu  serta  menerima-Mu  dalam  tubuh  kami; 

jadikan  kami  layak  menikmati  kebangkitan  yang  kami 

rindukan.  Kami  telah  menyimpan  harta  pusaka-Mu  itu 

yang tersembunyi dalam diri kami sejak kami menerima 

rahmat  Sakramen  Pembaptisan;  yang  senantiasa 

diperkaya dengan Sakramen Perjamuan-Mu.” ~ St. Efrem

EILIN († 1160)

Janda muda yang saleh ini berziarah dari 

Swedia ke Yerusalem. Oleh sanak keluarganya ia 

dituduh merencanakan pembunuhan atas suami 

puterinya. sebab  itu Eilin digebuki dengan tongkat 

kayu sampai mati. Banyak peziarah menyaksikan 

terjadinya banyak mukjizt pada makamnya. 

B: Elin; P: 31 Juli

EISTEIN († 1188)

yaitu  uskup agung di Trondheim Norwegia. 

Ia berjuang mati-matian utnuk membebaskan 

Gereja dari pengawasan Negara. Akibatnya ia 

dibuang oleh raja. Eistein mengajak para imam 

susaha  hidup berkomunitas.

P: 26 Januari

ELEONORA († 1296)

yaitu  ratu Inggeris yang giat membantu 

suaminya menegakkan keadilan dan perdamaian. Ia 

menolong orang-orang miskin dan mendirikan biara. 

Sesudah suaminya meninggal, Eleonora (Lore, Nora, 

Ellen) hidup selama 20 tahun sebagai suster biasa 

dalam biara.

P: 21 Februari

ELFEGE OSB (954-1012)

Akan dibebaskan dari tahanan oleh tentara 

Denmark dengan tebusan uang. Namun rahib dan 

uskup Canterbury ini menolak membeli 

kebebasannya dengan uang yang telah dikhususkan 

bagi kaum miskin.

P: 19 April

ELIAS (518)

yaitu  rahib Arab yang menjadi uskup 

Yerusalem. Ia dibuang Kaisar sebab  membela iman 

yang benar.

P: 4 Juli

ELIAS, NABI (abad ke-9 seb. Masehi)

Nabi dan pembela iman akan Tuhan yang 

Mahasatu itu mengutuk penyembahan berhala (lihat 

a.l. Kitab Raja-raja Bab 17 dst.). Ia tidak mati, 

melainkan langsung diangkat ke surga dengan 

keretanya, sehingga diharapkan akan kembali pada 

akhir jaman.

A: Tuhanku ialah Yahwe; P: 20 Juli.

ELIGIUS (588-660)

Semula yaitu  pandai emas, pencetak uang 

logam dan penasehat raja. Ia membeli banyak 

budak-belian dan membebaskan mereka. saat  

uskup Noyon (Perancis) meninggal, ia dipilih 

menggantikannya. Eligius dihormati sebagai santo 

pelindung pandai emas.

A: terpilih (L); P: 1 Desember

SANTA ELIZABETH ANN SETON 

(28 Agustus 1774-4 Januari 1821)

“Moeder Seton” demikianlah orang 

mengenalnya saat  ia wafat pada tanggal 4 Januari  

1821 di   Emmitsburg,  Maryland. Suatu perjalanan 

hidup yang penuh dengan kejutan telah 

menghantarnya untuk menyandang gelar itu. 

Elizabeth dilahirkan di kota New York pada tanggal 

28 Agustus 1774. Ayahnya, Richard Bayley, yaitu  

seorang dokter yang tersohor. Ibunya, Katarina, 

meninggal dunia saat  ia masih amat muda. 

Elizabeth seorang jemaat Episcopal (Gereja Anglikan 

di Amerika Serikat dan Skotlandia). Semasa 

remajanya, ia melakukan banyak hal untuk 

menolong orang-orang miskin. 

Pada tahun 1794, 

Elizabeth menikah dengan 

William Seton. William 

yaitu  seorang saudagar 

kaya-raya yang memiliki 

suatu armada kapal laut. 

Elizabeth, William, beserta 

kelima anak mereka hidup 

berbahagia. namun , tiba-tiba 

saja, William jatuh bangkrut 

dan sakit parah dalam waktu 

yang singkat. Elizabeth mendengar bahwa cuaca 

Italia mungkin dapat membuat keadaan suaminya 

lebih baik. Maka, Elizabeth, William berserta puteri 

tertua mereka, Anna, melakukan perjalanan ke Italia 

dengan kapal laut. namun , William meninggal dunia 

tak lama kemudian. Elizabeth dan Anna untuk 

sementara waktu tetap tinggal di Italia sebagai tamu 

keluarga Filicchi. Keluarga Filicchi amat baik hati. 

Mereka berusaha meringankan penderitaan Elizabeth 

dan Anna dengan membagikan cinta mereka yang 

mendalam akan iman Katolik. Elizabet pulang 

kembali ke New York dengan tekad bahwa ia akan 

menjadi seorang Katolik. Keluarga serta teman-

temannya menentang Elizabeth. Mereka amat 

kecewa mendengar keputusannya, namun  Elizabeth 

maju terus dengan berani. Ia bergabung dalam 

Gereja Katolik pada tanggal 4 Maret 1805.

Beberapa tahun kemudian, Elizabeth dimintai 

tolong untuk datang serta membuka sebuah sekolah 

putri di Baltimore. Di sanalah Elizabeth memutuskan 

untuk hidup sebagai seorang biarawati. Banyak 

wanita yang datang untuk bergabung dengannya, 

termasuk saudarinya dan juga saudari iparnya. 

Puteri-puterinya sendiri, Anna dan Katarina, juga 

bergabung pula. Mereka membentuk Suster-suster 

Putri Kasih Amerika dan Elizabeth diangkat sebagai 

pemimpin mereka dan dipanggil “Moeder Seton.” 

Elizabeth menjadi terkenal. Ia mendirikan banyak 

sekolah Katolik dan beberapa rumah yatim piatu. Ia 

juga merencanakan untuk mendirikan sebuah rumah 

sakit yang kemudian diresmikan sesudah  wafatnya. 

Elizabeth suka menulis dan ia juga menerjemahkan 

beberapa artikel  pegangan dari bahasa Perancis ke 

bahasa Inggris. namun , Elizabeth jauh lebih dikenal 

oleh sebab  kebiasaannya mengunjungi mereka 

yang miskin dan sakit. Elizabeth dinyatakan kudus 

oleh Paus Paulus VI pada tanggal 14 September 

1975. 

Jika sesuatu yang telah terjadi mengubah 

hidup kita dari suka menjadi duka, marilah kita 

berpaling kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh 

Moeder Seton, serta memohon pertolongan-Nya. 

Tuhan membantu kita untuk melihat bagaimana 

saat-saat yang sulit dapat memunculkan bakat-

bakat kita yang terpendam. Kemudian kita akan 

melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan 

oleh kita sebelumnya. P: 4 Januari

SANTA ELIZABETH dari 

HUNGARIA (1207-1231)

Elizabeth ialah puteri raja 

Hungaria. Ia dilahirkan pada 

tahun 1207. Elizabeth dinikahkan 

dengan Louis, penguasa 

Thuringia, saat  ia masih amat 

muda. (Kita merayakan pesta 

Beato Louis pada tanggal 11 

September). Elizabeth seorang mempelai yang 

cantik, yang amat mengasihi suaminya yang 

tampan. Louis membalas kasih isterinya dengan 

segenap hatinya. Tuhan mengaruniakan kepada 

mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia 

selama enam tahun. 

Kemudian, mulailah penderitaan St. 

Elizabeth. Louis wafat sebab  suatu wabah penyakit. 

Elizabeth demikian pilu hatinya hingga ia berseru: 

“Dunia sudah mati untukku, dunia beserta segala 

kesenangannya.” Sanak-saudara Louis tidak pernah 

menyukai Elizabeth sebab  ia biasa membagikan 

banyak makanan kepada kaum miskin. Semasa 

Louis masih hidup, mereka tidak dapat berbuat apa-

apa. namun  sekarang, mereka dapat dan mereka 

melakukannya. Segera saja, puteri yang cantik serta 

lemah lembut ini beserta ketiga anaknya diusir dari 

kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan. 

Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan 

penderitaannya yang berat itu. Malahan ia 

mengucap syukur kepada Tuhan dan berdoa dengan 

lebih tekun. Elizabeth menerima penderitaannya 

sama seperti ia menerima kabahagiaannya. 

Sanak-saudara Elizabeth datang 

menolongnya. Ia beserta anak-anaknya memiliki  

tempat tinggal kembali. Pamannya menghendaki 

agar Elizabeth menikah lagi, sebab  ia masih muda 

dan menarik. namun  orang kudus ini telah bertekad 

untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ia 

ingin meneladani semangat kemiskinan St. 

Fransiskus. Elizabeth kemudian tinggal di sebuah 

desa miskin dan menghabiskan tahun-tahun terakhir 

hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta 

miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha 

untuk memperoleh tambahan uang bagi kaum 

miskin yang dikasihinya. St. Elizabeth baru berusia 

duapuluh empat tahun saat  ia wafat. Menjelang 

ajalnya, orang dapat mendengarnya bersenandung 

pelan di atas pembaringannya. Ia yakin betul bahwa 

Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth 

wafat pada tahun 1231.

Elizabeth lahir di Bratislava Hungaria 1207 dan 

meninggal di Marburg Jerman 1231. Ia 

dihormati sebagai pelindung lembaga-lembaga 

amal. L: ratu yang membawa sebakul bunga 

mawar; P: 17 Nopember.

SANTA ELIZABETH dari PORTUGAL (1271-4 

Juli 1336)

Elizabeth, seorang puteri Spanyol, dilahirkan 

pada tahun 1271. Ia dinikahkan dengan Raja Denis 

dari Portugal pada usia dua belas tahun. Elizabeth 

seorang puteri yang cantik serta menyenangkan. Ia 

juga seorang yang taat beragama, ia ikut ambil 

bagian dalam Misa setiap hari. Elizabeth seorang 

isteri yang menawan pula. Pada mulanya, suaminya 

sayang padanya, namun  tak lama kemudian ia mulai 

memicu  penderitaan be