Kisah santa santo 20

 


April

860

SANTO STEFANUS († 35)

 Stefanus artinya mahkota. Ia yaitu  pengikut 

Kristus yang pertama yang menerima mahkota 

kemartiran. Stefanus yaitu  

seorang diakon pada masa 

Gereja Perdana. Kita membaca 

kisah tentangnya dalam Kitab 

Kisah Para Rasul bab 6 dan 7. 

Petrus dan para rasul lainnya 

menyadari bahwa mereka 

membutuhkan penolong-

penolong untuk mengurus para 

janda serta kaum miskin. Jadi, 

mereka mentahbiskan tujuh 

orang diakon. Stefanus yaitu  

yang paling terkenal dari antara 

mereka. 

 Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui 

St. Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan 

karunia yang membuat banyak dari para 

pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh 

Gereja Yesus merasa geram melihat betapa 

berhasilnya khotbah St. Stefanus. Pada akhirnya, 

mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka 

tidak dapat membantah perkataan-perkataannya 

yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan 

beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya. 

Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus 

telah berbicara hujat terhadap Tuhan. St. Stefanus 

menghadapi gerombolan para musuhnya yang 

banyak itu tanpa rasa takut. Malahan, Kitab Suci 

mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa 

dengan wajah malaikat. 

 Stefanus berbicara tentang Yesus, 

menunjukkan bahwa Ia yaitu  Juruselamat yang 

861

dijanjikan Tuhan. Ia mencela para musuhnya sebab  

tidak percaya kepada Yesus. Mendengar itu, mereka 

menjadi amat marah serta berteriak-teriak 

kepadanya. namun , Stefanus memandang ke langit 

dan berkata bahwa ia melihat langit terbuka dan 

Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Para musuhnya 

menutup telinga mereka dan tidak mau 

mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret St. 

Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya 

dengan batu hingga mati. Orang kudus itu berdoa, 

“Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian ia 

berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak 

menghukum para musuh yang membunuhnya. 

sesudah  pernyataan kasih yang sedemikian besar itu, 

Stefanus pergi untuk menerima ganjaran surgawi.

Stefanus († 35), diakon dan martir pertama A: 

yang dimahkotai (Y); B: Esteban, Etienne, 

Stephen, Stephanus (♂); Stefani, Steffi (♀); L: 

seorang diakon dirajam; P: 26 Desember

STELLA

Julukan bagi  Santa Maria sebagai bintang 

yang membimbing manusia (stella=bintang)

SANTO STEFANUS dari HUNGARIA (969-15 

Agustus 1038)

St. Stefanus dilahirkan sekitar tahun 969 di 

Hungaria. Nama yang diberikan kepadanya yaitu  

Vaik. saat  ia menjadi seorang Kristen pada usia 

sepuluh tahun, ia diberi nama Stefanus. Pada saat 

yang sama, ayahnya, Pangeran Hungaria, dan juga 

banyak kaum bangsawan lainnya menjadi Kristen. 

Namun demikian, saat  Stefanus menjadi raja, di 

negerinya itu masih banyak orang kafir. Sebagian 

862

penduduknya masih suka kekerasan dan kekejian. 

Jadi, Stefanus memutuskan untuk membangun 

Gereja yang kokoh di Hungaria. Usahanya itu 

diberkati Tuhan. Rahasia keberhasilan St. Stefanus 

dalam membimbing 

rakyatnya secara 

gemilang kepada iman 

Kristiani yaitu  devosinya 

kepada Bunda Maria. Ia 

mempercayakan seluruh 

kerajaannya dalam 

perlindungan Bunda Maria 

dan ia membangun 

sebuah gereja yang amat 

indah untuk menghormati 

Bunda Allah. 

Paus Sylvester II 

mengirimkan sebuah 

mahkota raja yang indah bagi Stefanus. Pusaka ini 

kemudian dikenal sebagai Mahkota St. Stefanus. 

Dalam masa Perang Dunia II, tentara Amerika 

merampas mahkota ini , namun  akhirnya 

diserahkan kembali pada Hungaria pada tahun 1978. 

Stefanus seorang pemimpin yang tegas serta gagah 

berani. Ia menerapkan hukum yang adil. Namun 

demikian, ia juga lemah lembut serta penuh belas 

kasihan kepada mereka yang miskin. Sebisa-bisanya 

ia menghindari peperangan. Ia suka memberi 

bingkisan uang kepada para pengemis tanpa 

memberitahukan kepada mereka siapa dia 

sebenarnya. Suatu saat  ia sedang membagikan 

bingkisan dalam penyamarannya, saat  sekelompok 

pengemis yang brutal menyerang serta 

memukulnya. Mereka menarik-narik rambutnya, 

jenggotnya serta merampas kantong uangnya. Tak 

pernah terbayangkan oleh mereka bahwa mereka 

863

sedang mempermainkan raja mereka. Dan mereka 

tidak pernah tahu akan hal itu. Raja menerima 

segala penghinaan itu dengan diam-diam dan 

dengan rendah hati. Sekuat tenaga ia mengarahkan 

pikirannya pada Bunda Maria dan berdoa: “Lihatlah, 

Ratu Surgawi, bagaimana umatmu memperlakukan 

dia yang engkau jadikan raja. Jika mereka musuh-

musuh iman, aku tahu apa yang harus aku lakukan 

terhadap mereka. namun , sebab  mereka yaitu  

kesayangan Putera-mu, aku menerima ini semua 

dengan sukacita. Aku mengucap syukur sebab nya.” 

Malahan, sesaat  itu juga Raja Stefanus berjanji 

untuk berderma lebih banyak lagi bagi para 

pengemis. Stefanus menjadi raja Hungaria selama 

empat puluh dua tahun. 

Santo Stefanus dari Hungaria  atau 

Stephan II (969-15 Agustus 1038), raja 

Hungaria, suami dari Santa Gisela dan ayah 

dari Santo Emerik, sangat menekankan susaha  

hari Minggu dikhususkan bagi Tuhan (orang 

tidak boleh bekerja), pelindung nasional 

Hungaria (Mahkota Santo Stefanus); L: 

mahkota, salib berganda dan bendera Maria; P: 

16 Agustus

SANTO STEPHEN HARDING  O Cist (1059-

1134)

Stephen yaitu  seorang pemuda Inggris yang 

hidup pada abad keduabelas. Ia yaitu  seorang 

murid cemerlang yang suka belajar. Stephen 

teristimewa menaruh minat pada sastra. Ia 

bersungguh-sungguh mengenai hidup dan bedoa 

setiap hari. Suatu saat  Stephen dan temannya 

berjalan kaki berziarah ke Roma. Sekembalinya, 

Stephen bergabung dengan kelompok biarawan yang 

amat miskin dan kudus. Para biarawan ini berdoa, 

berpuasa dan bekerja keras. Demikianlah cara 

864

mereka mengungkapkan kasih mereka kepada 

Tuhan. Stephen memperhatikan bagaimana 

bahagianya mereka. Abbas mereka yaitu  seorang 

santo, yakni St Robertus.

Sejenak lamanya, Stephen melayani Tuhan 

dengan penuh sukacita bersama mereka. Namun, 

sedikit demi sedikit 

para biarawan tak 

lagi hendak hidup 

keras seperti itu. 

Jadi, St Robertus 

dan St Stephen 

bersama duapuluh 

biarawan lainnya 

mendirikan sebuah 

biara baru. Mereka 

membangun sendiri 

biara itu di padang 

liar Perancis yang 

disebut Citeaux. 

Mereka mengamalkan hidup dalam karya dan 

kepapaan. Mereka rindu meneladani kemiskinan 

Yesus. Mereka juga memelihara keheningan yang 

ketat.

saat  St Stephen menjadi abbas biara, ada 

banyak persoalan yang harus dihadapi. Para 

biarawan hanya makan sedikit saja. Kemudian, lebih 

dari separuh biarawan jatuh sakit dan meninggal 

dunia. Tampak seolah komunitas akan segera 

berakhir. Mereka membutuhkan anggota-anggota 

baru yang muda untuk meneruskan semangat 

mereka. Stephen berdoa penuh iman. Dan doanya 

didengarkan. Tuhan mengirimkan kepada para 

biarawan yang disebut Cistercian ini tigapuluh 

pemuda yang ingin menggagungkan diri dengan 

mereka. Mereka tiba di gerbang biara bersama-

865

sama. Pemimpin mereka kelak menjadi seorang 

santo yang hebat pula. Namanya yaitu  St 

Bernardus. Hari itu merupakan hari yang sungguh 

menakjubkan bagi St Stephen dan para biarawan. 

St Stephen melewatkan beberapa tahun 

terakhir hidupnya dengan menulis sebuah artikel  

peraturan bagi para biarawan. Ia juga mendidik St 

Bernardus untuk menggantikan posisinya.

Sementara terbaring di ambang ajal, St 

Stephen mendengar para biarawan di sekelilingnya 

berbisik. Mereka mengatakan bahwa Stephen tidak 

perlu takut mati. Ia telah bekerja begitu giat dan 

mengasihi Tuhan begitu rupa. namun  St Stpehen 

mengatakan bahwa ia takut ia tidak cukup baik. Dan 

ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Hal 

itu menunjukkan betapa rendah hatinya santo besar 

ini. Ia wafat pada tahun 1134.

P: 26 Januari

STURMIUS (715-779)

Murid Santo Bonifasius ini menjadi abbas 

pertama biara termasyur di Fulda (Jerman). sebab  

lama bertengkar dengan Santo Lullus yang ingin 

memiliki relikwi Bonifasius, ia dibuang. Akan namun  ia 

cepat direhabilitir. Ia membangun biara dan 

menjalankan karya misi. Sturmius mengikuti Kaisar 

Karolus Agung ke medan perang.

P: 16 Desember

SULPISIUS (615-647)

Uskup Bourges (Perancis) ini sangat disegani 

umat sebab  murah hati, giat dan berani membela 

rakyat terhadap pemerintah yang kurang adil. Ia 

mengundurkan diri dari jabatannya susaha  dapat 

866

dengan lebih aktif mentobatkan penganut bidaah 

dan orang Yahudi. P: 17 Januari

SUSANA (abad ke-4)

Kaisar Diokletianus, katanya, ingin 

menikahkan anaknya dengan gadis jelita nan kaya 

bernama Susana. Namun lamaran itu ditolaknya, 

sebab  putera kaisar masih kafir. Walaupun kaisar 

membujuk dan mengancam, namun  Susana tidak 

menyerah. Akhirnya ia dibunuh oleh dua imam kafir.

A: bunga bakung (H); P: 11 Agustus

SVORAD († 1009) dan BENEDIKT († 1012)

Kedua pertapa ini hidup di pegunungan 

Slowakia. Svorad menjalani hidupnya dengan sangat 

keras. Benedikt meninggal sebab  dibunuh 

penyamun.

P: 17 Juli

867

T

TADEUS LIN (1823)

yaitu  seorang imam Tionghoa yang selama 

dua tahun mendekam dalam penjara dan akhirnya 

dibunuh sebab  imannya.

P: 24 Oktober

TANTIANA (230)

Seorang wanita Roma yang meninggal 

sebagai saksi iman.

P: 12 Januari

SANTO TARSISIUS (abad ke-1)

Semua jemaat Gereja Perdana menerima 

Komuni Kudus setiap hari, dan jika mereka tidak 

dapat menerimanya bersama-

sama dengan jemaat yang 

lain, maka Hosti akan 

diantarkan bagi mereka. 

St. Tarsisius yaitu  

seorang Putera Altar yang 

tinggal di Roma. saat  

sedang mengantar Hosti 

Kudus, St. Tarsisius diserang 

oleh segerombolan berandal 

kafir. Ia tidak rela 

membiarkan Hosti Kudus 

868

dipermainkan dan dimusnahkan oleh para berandal 

itu, oleh sebab nya ia berkelahi dengan mereka. 

Gerombolan itu merajamnya sampai mati. 

Demikianlah St. Tarsisius wafat sebagai martir pada 

pertengahan abad ketiga. Ia dimakamkan dalam 

Katakomba Paus St. Kalistus yang terletak di Appian 

Way.

St. Tarsisius juga dianggap sebagai Diakon 

sebab  tugas Diakon-lah membagikan Komuni pada 

kesempatan-kesempatan khusus serta mengantar 

Hosti dari gereja ke gereja. Baik sekali jika para 

remaja mohon bantuan doa St. Tarsisius, sebab ia 

yaitu  santo pelindung remaja. Pestanya dirayakan 

setiap tanggal 15 Agustus. 

"St.  Tarsisius  doakanlah  kami  agar  senantiasa  berdiri  

tegak mempertahankan iman kami." 

SANTA TEKLA  (abad ke-1)

Tekla yaitu  seorang gadis bangsawan kafir 

yang cantik yang hidup pada abad pertama. Ia 

berasal dari kota 

Ikonium di Turki. Tekla 

telah membaca 

banyak artikel  filsafat, 

namun tak ada satu 

pun yang dapat 

memuaskan 

keingintahuannya 

tentang Pencipta-nya. 

Doa Tekla untuk 

mengenal Allah yang 

satu dan benar 

terjawab saat  St. 

Paulus rasul datang 

869

untuk mewartakan Injil Yesus di Ikonium. Dari St. 

Paulus, Tekla juga mengetahui bahwa seorang 

wanita dapat menjadi pengantin Kristus jika  ia 

memilih untuk tidak menikah. Saat itu, Tekla tidak 

menginginkan yang lain selain dari 

mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada 

Tuhan. 

 Orangtua Tekla yang kafir melakukan segala 

daya usaha  agar ia meninggalkan iman Kristiani-

nya, namun  ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris, 

memohon kepadanya untuk tidak membatalkan 

pertunangan mereka. namun , tekad Tekla sudah 

bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada 

akhirnya, sebab  amat marah, Thamyris 

mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak juga 

mau mengingkari cintanya kepada Yesus, sebab nya 

ia dijatuhi hukuman dengan dibakar sampai mati. 

Gadis cantik ini  dengan berani menyongsong 

maut. Namun, dikisahkan bahwa segera sesudah  api 

dinyalakan, datanglah badai dari surga untuk 

memadamkannya. Kemudian Tekla dijatuhi 

hukuman mati dengan dijadikan mangsa singa-singa 

yang kelaparan. Namun demikian, sekali lagi Tuhan 

menyelamatkan nyawa Tekla. Bukannya 

menerkamnya, binatang-binatang buas itu malahan 

mendekatinya dengan jinak, berbaring di sisinya, 

lalu menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing saja. 

Pada akhirnya, sebab  ketakutan, hakim 

membebaskan Tekla. Tekla mengasingkan diri ke 

sebuah gua di mana ia tinggal seumur hidupnya. Ia 

berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada 

orang-orang yang datang mengunjunginya.

P: 23 September

870

TEKLA OSB († 790)

Putri bangsawan Inggris dan saudari Santa 

Lioba yang diikutinya di Jerman ini menjadi abbas di 

biara Kitzingen.

P: 15 Oktober

TEKUSA († 312)

Bersama Alexandrea, Phaeine, Klaudia, 

Eufrasia, Matrona dan Yulita yaitu  perawan tua 

yang ditenggelamkan ke dalam sebuah danau di 

Ankyra (Turki). Teodotos yang berusaha 

menguburkan mayat mereka, disiksa dengan kejam 

sampai akhirnya mati juga

P: 18 Mei

TEOBALDUS (1017-1066)

sebab  tidak mau masuk dinas militer, ia 

menjadi tukang batu dan buruh tani. Bersama 

temannya ia berziarah dan akhirnya menetap di 

Perancis sebagai pertapa.

P: 30 Juni

TEODARD (613-669)

Uskup Tongern – Maastricht ini sangat 

berbelaskasihan kepada umatnya yang diperas oleh 

para tuan tanah dan pegawai pajak. Suatu hari ia 

peri menghadap raja mengadukan nasib rakyat 

jembel itu. Akan namun  ditengah jalan ia disergap 

oleh pesuruh kaum kaya dan dibunuh.

871

P: 10 September

TEODOROS († 613)

Ia yaitu  anak di luar pernikahan. Ibu dan 

kakaknya mengelola warung dan tempat pelacuran. 

Bocah Teodor dititipkan pada neneknya, yang 

kemudian dikristenkannya. Menginjak dewaa ia 

masuk biara dan kemudian dipilih menjadi uskup 

Anastasianopolis (Turki). Sesudah 10 tahun 

memangku jabatan itu ia kembali menjadi biarawan 

biasa. Teodor dianugerahi Tuhan rahmat 

penyembuhan.

P: 22 April

TEODOROS (759-826)

Abbas di Konstantinopel ini di buang sampai 

dua kali dan disiksa sebab  tidak menyetujui 

perceraian Kaisar dan pengeluaran gambar-gambar 

suci dari gereja-gereja. Ia pejuang gigih untuk 

membebaskan Gereja dari kekuasaan dan 

pengawasan Negara, yang dianggap selamanya 

melemahkan semangat Kristiani saja. Ia juga tokoh 

pembaharu hidup membiara dalam Gereja Timur 

yang sangat besar pengaruhnya. Di dalam 

pembuangan Teodor menulis berbagai karya seperti 

kateketik, kotbah, nyanyian dan artikel -artikel  untuk 

membela iman yang benar. 

P: 11 Nopember

TEODORUS (609-690)

872

Sepeninggal uskup Canterbury, paus memilih 

biarawan awam ini – yang sudah berusia 66 tahun – 

sebagai penggantinya. Ia berasal dari kota kelahiran 

Santo Paulus, yaitu Tarsus (Turki Timur). Uskup 

baru ini sadar, bahwa kehidupan Gereja di Inggris 

belum mantap.Maka ia mengangkat uskup-uskup 

baru, memanggi sinode dan berusaha memecahkan 

berbagai masalah dengan tuntas. Ia juga 

memperbaharui tata hidup para imam dan 

rohaniwan serta organisasi kegerejaan. Dalam 

bidang pendidikan Teodorus membuka sekolah di 

bawah pimpinan Santo Adrian dari Afrika. Ia 

mengatur dengan baik ibadat, nyanyian koral dan 

menegakkan hukum. Selain itu ia berusaha 

mempererat hubungan gereja di Inggris dengan 

Roma.

P: 19 September

TEODORA II (810-867)

Sesudah Kaisar Teofilos meninggal, Teodora 

menjadi wali pemerintah di Konstantinopel 

(Istambul, Turki) selama puteranya masih di bawah 

umur. Ia memanggil pulang para uskup dan imam 

yang dibuang dan bertukar tahanan dengan 

pemerintah Bulgaria, sehingga terbukalah kembali 

pintu bagi karya misi di negeri ini. Teodora 

memerintah dengan bijaksana dan tegas, namun  

pada tahun 856 ia turun tahta dan hidup dalam 

‘tahanan rumah (istana)’ seperti di biara.

P: 11 Februari

TEODERIKUS († 1022)

Teoderikus atau Dieter, uskup Orleans 

(Perancis ini hamper di habisi nyawanya oleh 

873

pembunuh bayaran yang disewa Olderikus, tapi 

gagal. Ia akan dibunuh sebab, Olderikus sendiri 

menginginkan jabatan uskup. Walaupun Teoderikus 

teman raja, ia tidak ingin balas dendam, malahan ia 

mengundang musuhnya itu dalam suatu perjamuan.

P: 27 Januari

TEOFANU († 897)

yaitu  seorang isteri yang dibuang oleh 

suaminya sendiri, yaitu Kaisar Leon VI. Kemudian ia 

menekuni sisa hidupnya dalam sebuah biara di 

Konstantinopel.

A: penampakan Tuhan; P: 16 Desember

TEOFILUS († 789)

Laksamana Romawi ini tidak mau melarikan 

diri saat  tentara Islam menggempur pulau Siprus. 

Ia ditangkap dan disiksa sampai mati sebab  tidak 

mau meninggalkan imannya.

P: 22 Juli

TEOFILOS († 186)

Orang Irak yang dibaptis saat  sudah 

dewasa ini menjadi uskup ke-6 Antiokia (Siria). Ia 

membela dan membersihkan iman Kristen dari 

ajaran gnosis (ngelmu) dan filsafat.

A: yang dicintai Tuhan; P: 13 Oktober

TEOKTISTA (abad ke-9)

Biarawati muda ini diculik oleh orang Arab, 

namun  berhasil meloloskan diri dan hidup sebagai 

pertapa dalam hutan selama 35 tahun. Sesaat 

sebelum meninggal, ia ditemukan oleh seorang 

874

pemburu yang kemudian membawakan komuni 

kudus padanya.

P: 8 Nopember

SANTA TERESA BENEDIKTA dari SALIB ~ 

SANTA EDITH STEIN (12 Oktober 1891-

1942) 

 

“Kita  membungkuk  hormat  di  hadapan  kesaksian  hidup 

dan mati Edith Stein, seorang puteri Israel yang luar biasa 

dan sekaligus seorang puteri Ordo Karmelit, Suster Teresa 

Benedikta dari Salib, suatu pribadi yang mempersatukan 

dalam  kehidupannya  yang  kaya,  suatu  perpaduan 

dramatis  dari  abad  kita.  Perpaduan  dari  suatu  sejarah 

yang penuh luka mendalam yang masih menyakitkan … 

dan  juga  perpaduan  akan  kebenaran  penuh  mengenai 

manusia.  Semuanya  ini  menyatu  dalam  sebentuk  hati  

yang  terus-menerus  gelisah  dan  tak  tenang  hingga 

akhirnya  ia  beroleh  istirahat  dalam  Tuhan.”  ~  Paus 

Yohanes Paulus II, Beatifikasi Edith Stein, Cologne, 1 May 

1987

 JITSCHEL

Edith Stein yaitu  yang bungsu dari 

total sebelas anak pasangan Yahudi-Ortodoks 

Siegfried Stein 

dan Auguste 

Courant Stein. Ia 

dilahirkan di 

Breslau pada 

tanggal 12 

Oktober 1891, 

tepat saat 

keluarganya 

875

merayakan Yom Kippur, perayaan terpenting 

bangsa Yahudi, Hari Pendamaian Agung. Lebih 

dari segalanya, hal ini menjadikan si bungsu 

“Jitschel” amat berharga di mata ibunya. 

Dilahirkan pada hari istimewa pendamaian ini 

bagai suatu nubuat bagi Jitschel kecil, yang 

kelak menjadi seorang biarawati Karmelit. 

Ayah Edith, seorang pengusaha kayu, 

meninggal dunia mendadak saat  Edith 

beranjak dua tahun. Ibunya, seorang yang 

amat saleh, pekerja keras, berkemauan kuat 

dan sungguh seorang wanita  yang 

mengagumkan, sekarang harus menghidupi 

dirinya sendiri, mengurus keluarga serta 

mengelola perusahaan kayu suaminya. 

Kesemuanya itu ditunaikannya dengan 

berhasil, namun demikian, ia tidak berhasil 

dalam memelihara iman yang hidup dalam diri 

anak-anaknya. Edith kehilangan imannya akan 

Tuhan. “Aku secara sadar memutuskan, atas 

kemauanku sendiri, untuk berhenti berdoa,” 

katanya.

 MAHASISWI

Sejak masih amat muda usianya, Edith 

menunjukkan antusiasme dan kecemerlangan 

dalam belajar. Pada tahun 1911, Edith lulus 

cum laude dari ujian akhir sekolah. Ia 

melanjutkan kuliah di Universitas Breslau untuk 

belajar bahasa Jerman dan sejarah, meski ini 

hanya sekedar pilihan “sampingan”. Minatnya 

yang sesungguhnya yaitu  dalam bidang 

filsafat dan peran wanita . Ia menjadi 

anggota Serikat Prussian untuk Hak 

wanita . Ia berjuang keras demi 

memperbaiki nasib wanita . “Semasa di 

876

sekolah dan semasa tahun-tahun pertamaku di 

universitas,” tulisnya kemudian, “aku seorang 

aktivis yang radikal. Kemudian minatku hilang 

dalam segala urusan itu. Sekarang aku mencari 

solusi-solusi pragmatis yang murni.”

Pada tahun 1913, Edith Stein pindah ke 

Universitas Göttingen dan belajar filsafat di 

bawah bimbingan Professor Edmund Husserl, 

seorang filsuf tersohor dan penggagas 

fenomenologi. Edith menjadi murid dan asisten 

pengajarnya, dan Husserl membimbingnya 

untuk meraih doktorat. Pada masa itu, 

siapapun yang tertarik pada filsafat akan 

terpikat oleh pandangan realitas baru Husserl, 

di mana dunia seperti yang kita rasakan tidak 

hanya ada di jalan Kantian, dalam persepsi 

subyektif kita. Murid-muridnya melihat filsafat 

Husserl sebagai kembali ke obyek, “back to 

things”. Fenomenologi Husserl tanpa disadari 

menghantar banyak muridnya ke iman 

Kristiani. Di Göttingen, Edith juga bertemu 

dengan filsuf Max Scheler, yang mengarahkan 

perhatiannya ke Katolik Roma. 

Edith tidak melalaikan kuliah-kuliah 

“sampingan”nya dan lulus cum laude pada 

bulan Januari 1915, meski ia mengikutinya 

tanpa bimbingan dosen.

“Aku tak lagi memiliki hidupku sendiri,” 

tulisnya di awal Perang Dunia Pertama, sesudah  

menamatkan kursus perawat dan pergi 

melayani di sebuah rumah sakit lapangan 

Austria. Ini yaitu  masa yang sulit baginya, di 

mana ia merawat mereka yang sakit di bangsal 

tifus dan melihat orang-orang muda mati. 

Walau demikian, Edith bekerja sepenuh hati 

dan mendapatkan medali penghargaan atas 

877

keberanian dan pelayanannya yang tanpa 

pamrih. saat  rumah sakit dibubarkan pada 

tahun 1916, ia mengikuti Husserl sebagai 

asistennya ke Freiburg, di mana ia lulus dari 

doktoratnya dengan summa cum laude pada 

tahun 1917 pada usia 25 tahun dan menerima 

gelar Doktor Filsafat sesudah  menyelesaikan 

tesis “Problem Empati.” 

Pada masa ini Edith pergi ke Katedral 

Frankfurt dan melihat seorang wanita  

dengan keranjang belanja masuk ke dalam 

gereja untuk berlutut memanjatkan doa 

singkat. “Ini sesuatu yang sama sekali baru 

bagiku. Di sinagoga-sinagoga dan di gereja-

gereja Protestan yang telah aku kunjungi, 

orang hanya pergi menghadiri kebaktian. 

namun  di sini, aku melihat seorang yang datang 

tepat dari keramaian pasar ke dalam gereja 

kosong ini, seolah ia hendak mengadakan 

suatu percakapan yang mesra. Ini sesuatu 

yang tak akan pernah aku lupakan.” Di akhir 

disertasinya ia menulis, “Ada orang-orang yang 

percaya bahwa suatu perubahan yang 

sekonyong-konyong terjadi atas diri mereka 

dan bahwa ini yaitu  sebab  rahmat Allah.” 

Edith Stein bersahabat baik dengan 

asisten Husserl di Göttingen, Adolf Reinach, 

dan isterinya. saat  Reinach gugur pada bulan 

November 1917, Edith pergi ke Göttingen 

untuk mengunjungi jandanya. Suami isteri 

Reinach telah memeluk agama Protestan. Pada 

awalnya, Edith merasa canggung menemui 

janda muda ini, namun  ia terkejut saat  

sesungguhnya ia menjumpai seorang 

wanita  penuh iman. “Inilah perjumpaan 

pertamaku dengan Salib dan kuasa ilahi yang 

878

diberikan kepada mereka yang 

menanggungnya … itulah saat saat  

ketidakpercayaanku hancur dan Kristus mulai 

menyinarkan terang-Nya atasku - Kristus 

dalam misteri Salib.”

Di kemudian hari Edith menulis, 

“Apapun yang tidak sesuai dengan rencanaku 

sendiri sungguh berada dalam rencana Allah. 

Aku bahkan memiliki keyakinan yang terlebih 

mendalam dan terlebih teguh lagi bahwa tak 

suatupun yang sekedar kebetulan belaka 

jika  dilihat dalam terang Tuhan, bahwa 

seluruh hidupku hingga ke hal-hal yang paling 

detil sekalipun telah dirancangkan bagiku 

dalam rencana Penyelenggaraan Ilahi dan 

memiliki makna yang sepenuhnya dan logis 

dalam pandangan Tuhan yang melihat 

semuanya. Jadi aku mulai bersukacita dalam 

terang kemuliaan di mana makna ini akan 

disingkapkan bagiku.” 

Pada musim gugur 1918, Edith Stein 

mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai 

asisten pengajar Husserl. Ia ingin bekerja 

mandiri. Baru pada tahun 1930 Edith bertemu 

kembali dengan Husserl sesudah  pertobatannya, 

dan ia berbagi iman dengannya, sebab ia ingin 

Husserl menjadi seorang Kristiani juga. Lalu 

Edith menuliskan kata-kata nubuat ini, “Setiap 

saat aku merasakan ketakberdayaanku dan 

ketakmampuanku untuk mempengaruhi orang 

secara langsung, aku menjadi semakin sadar 

akan perlunya `holocaust'ku sendiri.” 

Edith Stein mendamba gelar professor, 

suatu impian yang mustahil bagi seorang 

wanita  pada masa itu. Husserl menuliskan 

referensi berikut, “Andai karir akademis 

879

terbuka bagi kaum wanita , maka aku akan 

merekomendasikannya dengan segenap hatiku 

dan sebagai pilihan pertamaku untuk gelar 

ini .” Edith akhirnya ditolak terutama 

sebab  ia seorang Yahudi.

Sekembalinya ke Breslau, Edith Stein 

mulai menulis artikel-artikel mengenai dasar 

filosofis dari psikologi. namun , ia juga membaca 

Perjanjian Baru, Kierkegaard dan Latihan 

Rohani St Ignatius dari Loyola. Ia merasa 

bahwa orang tak dapat sekedar membaca 

sebuah artikel  macam itu, melainkan harus 

mengamalkannya.

 “INILAH KEBENARAN”

Pada musim panas 1921, ia melewatkan 

beberapa minggu di Bergzabern (di Palatinate) 

di tempat Hedwig Conrad-Martius, seorang 

murid Husserl. Hedwig dan suaminya telah 

memeluk agama Protestan. Suatu sore, dari 

perpustakaan Hedwig, Edith mengambil secara 

acak sebuah artikel  yang ternyata yaitu  artikel  

otobiografi St Theresia dari Avila, dan terus ia 

membaca artikel  ini  sepanjang malam 

hingga fajar merekah. “saat  aku selesai 

membaca, aku berkata kepada diriku sendiri: 

Inilah kebenaran!” 

Keesokan harinya, Edith membeli artikel  

Misa dan Katekismus yang di hari-hari 

selanjutnya menjadi tumpuan perhatiannya. 

saat  dirasa ia sudah cukup paham, Edith 

untuk pertama kalinya masuk ke sebuah Gereja 

Katolik dan dengan mudah mengikuti jalannya 

Misa. Ia ingin dibaptis segera; dan saat  

Pastor Breitling mengatakan bahwa agar dapat 

dibaptis orang perlu persiapan untuk mengenal 

880

ajaran dan tradisi-tradisi Gereja, ia menjawab, 

“Ujilah saya!” Ini dilakukan pastor dan Edith 

lulus dengan cemerlang.  

“Edith, pernahkah engkau memohon 

rahmat iman sebelum engkau bertobat?” 

Jawabnya, “Terus-menerus mencari kebenaran 

itulah satu-satunya doaku.” Dan kepada 

seorang biarawati Benediktin sahabatnya, Edith 

menulis, “Barangsiapa mencari kebenaran, 

entah sadar atau tidak, ia mencari Tuhan.” 

Pada tanggal 1 Januari 1922, Teresa 

Edith Stein menerima Sakramen Baptis dan 

Sakramen Komuni Pertama di Gereja Santo 

Martinus, Bergzabern. Hari itu yaitu  hari 

Peringatan Penyunatan Yesus, saat  Yesus 

masuk ke dalam perjanjian Abraham. Teresa 

Edith Stein berdiri dekat bejana baptis dengan 

mengenakan gaun pengantin putih milik 

Hedwig Conrad-Martius. Dengan dispensasi 

khusus Bapa Uskup, Hedwig menjadi wali 

baptisnya. “Aku meninggalkan agama Yahudiku 

saat  aku masih seorang gadis berusia 

empatbelas tahun dan tidak lagi merasakan 

keyahudian hingga akhirnya aku kembali 

kepada Tuhan.” Sejak saat itu ia terus-menerus 

sadar sepenuhnya bahwa ia yaitu  milik 

Kristus bukan hanya secara rohani, melainkan 

juga sebab  hubungan darah. Pada tanggal 2 

Februari, hari Peringatan Pentahiran Maria - 

suatu hari yang merujuk pada Perjanjian Lama 

- ia menerima Sakramen Penguatan oleh Uskup 

Speyer di kapel pribadi bapa uskup.

Edith langsung menuju Breslau: 

“Mama,” katanya dengan berlutut sembari 

menggenggam kedua tangan sang ibu, “Aku 

seorang Katolik.” Ibunya yang seorang Yahudi 

881

saleh itu bagai disambar petir. Kemudian 

perlahan airmata berlinang-linang membasahi 

wajahya yang keriput. Edith belum pernah 

melihat ibunya yang tegar itu menangis! Ini 

terlalu berat baginya. Dalam keluarganya, 

Katolik dianggap sekte yang hina. Edith siap 

menerima teguran yang paling tajam 

sekalipun, ia bahkan khawatir akan diusir dari 

rumah. namun , airmata itu, ungkapan 

kesedihan hati yang terdalam. Kedua 

wanita  itu pun menangis. Hedwig Conrad 

Martius menulis: “Lihat, inilah dua orang Israel 

sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (bdk 

Yohanes 1:47).

 FRAULEIN DOCTOR

Segera sesudah  pertobatannya, 

kerinduan Edith Stein yang terdalam yaitu  

menggabungkan diri dalam sebuah biara 

Karmelit. namun , para pembimbing rohaninya, 

Vikaris Jenderal Schwind dari Speyer, dan P 

Erich Przywara SJ, untuk sementara 

menghalanginya. Mereka beranggapan bahwa 

rencana Tuhan yaitu  bahwa Edith Stein 

mengabdi Gereja lewat ilmunya. P Schwind 

mengatur agar Edith menjadi guru bahasa 

Jerman dan sejarah di sekolah Suster-suster 

Dominikan dan juga guru pembimbing mereka 

yang akan masuk universitas di Biara St 

Magdalena di Speyer. 

“Segalanya untuk semua orang,” itulah 

semboyan Edith sejak ia menjadi Katolik, dan 

dalam hal itu ia menjadi teladan bagi semua 

orang. Satu dari banyak kesaksian yang ditulis 

oleh para mantan muridnya mengatakan, 

“Kami baru berumur tujuhbelas tahun dan 

882

Fraulein (= nona) Doctor mengajar kami 

bahasa Jerman. Sesungguhnya ia memberi 

kami segalanya. Kami masih sangat muda, 

namun daya tarik yang terpancar darinya tak 

akan pernah kami lupakan. Tiap-tiap hari kami 

melihat dia berlutut di bangku doanya, di 

depan koor, selama Perayaan Ekaristi. Maka 

kami mulai sedikit mengerti apa artinya iman 

dan sikap hidup yang diserasikan. Bagi kami, di 

usia yang penuh kritik, sikapnya saja sudah 

menjadi teladan. Kami tak pernah melihat dia 

lain dibandingkan  anggun, tenang dan pendiam. 

Seperti itu ia selalu masuk ke kelas kami, 

seperti itu juga ia seminggu sekali menemani 

kami waktu rekreasi….”

Pada saat yang sama, Abbas Agung 

Raphael Walzer dari Biara Beuron 

mendorongnya untuk menerima tawaran 

memberikan ceramah-ceramah. Sebanyak 

mungkin Edith menerima tawaran ini yang 

merupakan sarana baginya untuk mewartakan 

iman Katolik. Jadi Edith melewatkan hari-

harinya dengan mengajar, memberikan kuliah, 

menulis dan menerjemahkan, memberikan 

ceramah-ceramah baik di Jerman maupun di 

luar negeri, dan segera saja ia terkenal sebagai 

seorang filsuf dan pengarang yang ternama, 

meski yang didambakannya yaitu  keheningan 

dan kontemplasi di Karmel. Pernah ia dicela 

sebab  dianggap terlalu kuat menggarisbawahi 

segi adikodrati, yang dijawabnya dengan tegas, 

“Jika aku tidak berbicara tentang hal ini, maka 

tak ada gunanya aku duduk di atas mimbar.”

Edith belajar bahwa yaitu  mungkin 

untuk “mengejar ilmu pengetahuan sebagai 

suatu pelayanan kepada Tuhan…. Hingga aku 

883

memahami hal ini maka aku mulai secara 

serius menekuni karya akademis kembali.” 

Edith bekerja keras luar biasa, menerjemahkan 

surat-surat dan artikel  harian Kardinal Newman 

dari masa sebelum ia menjadi Katolik, pula 

Quaestiones Disputatae de Veritate tulisan St 

Thomas Aquinas. Karya yang disebut 

belakangan ini merupakan suatu terjemahan 

yang sangat bebas, demi kepentingan dialog 

dengan filosofi modern. P Erich Przywara juga 

mendorongnya untuk menuliskan karya-karya 

filosofisnya sendiri. “Pada masa menjelang dan 

awal pertobatanku, aku pikir bahwa 

melewatkan suatu kehidupan religius berarti 

meninggalkan segala hal-hal duniawi dan 

mengarahkan akal budi pada hal-hal ilahi saja. 

Namun demikian, perlahan-lahan, aku belajar 

bahwa hal-hal lain juga diharapkan dari kita di 

dunia ini…. Aku bahkan percaya bahwa 

semakin seorang tenggelam dalam Tuhan, 

semakin ia harus `mengatasi dirinya sendiri' 

dalam hal ini, yakni, masuk ke dalam dunia dan 

melaksanakan hidup ilahi di dalamnya.” 

Pada tahun 1931, Edith Stein 

meninggalkan sekolah biara di Speyer dan 

membaktikan diri untuk meraih gelar professor 

kembali, kali ini di Breslau dan Freiburg, meski 

ternyata usahanya sia-sia belaka. Pada waktu 

itulah ia menulis “Potensi dan Tindakan”, suatu 

studi mengenai konsep-konsep inti yang 

dikembangkan oleh St Thomas Aquinas. Di 

kemudian hari, di Biara Karmelit di Cologne, ia 

menulis ulang studi ini demi menghasikan 

karya utamanya dalam filosofis dan teologis, 

“Keterbatasan dan Keabadian” yang 

diselesaikannya pada tahun 1936. namun , 

884

sebab  hukum anti Yahudi yang diberlakukan 

pada masa itu, karyanya tidak dapat 

dipublikasikan hingga tahun 1950. 

Pada tahun 1932, ia menerima jabatan 

dosen di Institut Jerman untuk Ilmu Pedagogi 

di Universitas Munster, di mana ia 

mengembangkan antropologinya. Dengan 

gemilang Edith memadukan ilmu pengetahuan 

dan iman dalam karya dan pengajarannya, 

sebagai usaha menjadi “alat Tuhan” dalam 

segala yang ia ajarkan. “Jika seorang datang 

kepadaku, aku ingin menghantarnya kepada 

Dia.”

Serangan terhadap bangsa Yahudi 

semakin gencar dan pada tahun 1933, Adolf 

Hitler dan Partai Nazi berkuasa di Jerman. “Aku 

telah mendengar perlakuan buruk terhadap 

bangsa Yahudi sebelumnya. namun  sekarang 

mulai tampak bagiku bahwa Tuhan telah 

menekankan tangan-Nya dengan kuat ke atas 

umat-Nya, dan bahwa nasib bangsa ini juga 

akan menjadi nasibku.” Hukum Arian Nazi 

menjadikan mustahil bagi Edith Stein untuk 

terus mengajar, “Jika aku tak dapat terus di 

sini, maka tidak akan ada lagi kesempatan 

bagiku di Jerman,” tulisnya; “aku telah menjadi 

seorang asing di dunia.”

Sekarang P Walzer, Abbas Agung 

Beuron yang menjadi pembimbing rohaninya, 

tak lagi menghalanginya untuk masuk biara 

Karmelit. Sementara di Speyer, Edith telah 

mengucapkan kaul kemiskinan, kemurnian dan 

ketaatan. Pada tahun 1933 ia bertemu dengan 

Priorin Biara Karmelit di Cologne. saat  

diberitahukan kepadanya bahwa ia tidak usah 

berharap dapat melanjutkan karya ilmiahnya di 

885

Karmel, Edith menjawab sepenuh hati, “Karya 

manusia tak ada gunanya, yang berarti 

hanyalah sengsara Kristus. Dan yaitu  

kerinduanku untuk ikut ambil bagian di 

dalamnya.”

BEATA TERESA dari CALCUTTA 

(26 Agustus 1910-5 September 1997)

“Menurut darah, saya seorang Albania. 

Menurut kewarganegaraan, saya seorang India. 

Menurut iman, saya seorang biarawati Katolik. 

Menurut panggilan, saya milik dunia. 

Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik Hati Yesus.” 

~ Beata Teresa dari Calcutta

Agnes Gonxha Bojaxhiu dilahirkan pada 

tanggal 26 Agustus 1910 di Skopje, sebagai yang 

bungsu dari tiga bersaudara 

putra-putri Bapak Nikola 

dan Ibu Drane Bojaxhiu. 

Pada usia delapan belas 

tahun, bulan September 

1928, Agnes masuk Biara 

Suster-suster Loreto di 

Irlandia. Ia memilih nama 

Suster Maria Teresa sebagai 

kenangan akan St. Theresia 

Lisieux. Pada bulan 

Desember, Sr Teresa 

berangkat ke India dan tiba 

di Calcutta pada tanggal 6 

Januari 1929. sesudah  

mengucapkan Kaul Pertamanya pada bulan Mei 

1931, Sr Teresa ditugaskan untuk mengajar di 

886

sekolah putri St Maria, Calcutta. Pada tanggal 24 Mei 

1937, Sr. Teresa mengucapkan Kaul Kekalnya, dan 

menjadi “pengantin Yesus” untuk “selama-lamanya”. 

Sejak saat itu ia dipanggil Ibu Teresa. Ia tetap 

mengajar di sekolah St Maria dan pada tahun 1944 

diangkat sebagai kepala sekolah. 

Pada tanggal 10 September 1946, dalam 

perjalanan kereta api dari Calcutta ke Darjeeling 

untuk menjalani retret tahunannya, Ibu Teresa 

menerima “inspirasi”, “panggilan dalam panggilan”-

nya. Pada hari itu, dengan suatu cara yang tidak 

pernah dapat dijelaskannya, dahaga Yesus akan 

cinta dan akan jiwa-jiwa memenuhi hatinya. “Mari, 

jadilah cahaya bagi-Ku.” Sejak itu, Ibu Teresa 

dipenuhi hasrat “untuk memuaskan dahaga Yesus 

yang tersalib akan cinta dan akan jiwa-jiwa” dengan 

“berkarya demi keselamatan dan kekudusan orang-

orang termiskin dari yang miskin”. Pada tanggal 17 

Agustus 1948, untuk pertama kalinya Ibu Teresa 

tampil mengenakan sari putih dengan pinggiran 

garis-garis warna biru. Ia keluar melewati gerbang 

Biara Loreto yang amat dicintainya untuk memasuki 

dunia orang-orang miskin.

Pada tanggal 21 Desember untuk pertama 

kalinya Ibu Teresa keluar-masuk perkampungan 

kumuh India. Ia mengunjungi keluarga-keluarga, 

membasuh borok dan luka beberapa anak, merawat 

seorang bapak tua yang tergeletak sakit di pinggir 

jalan dan merawat seorang wanita sekarat yang 

hampir mati sebab  kelaparan dan TBC.  Setiap hari 

Ibu Teresa memulai hari barunya dengan persatuan 

dengan Yesus dalam Ekaristi, lalu kemudian pergi 

dengan rosario di tangan, untuk mencari dan 

melayani Dia dalam “mereka yang terbuang, yang 

teracuhkan, yang tak dikasihi”. sesudah  beberapa 

887

bulan, ia ditemani oleh, seorang demi seorang, para 

pengikutnya yang pertama.      

Pada tanggal 7 Oktober 1950, kongregasi 

Misionaris Cinta Kasih memperoleh pengakuan dari 

Gereja Katolik dengan persetujuan Paus Pius XII. 

Awal tahun 1960-an, Ibu Teresa mulai mengutus 

para susternya ke bagian-bagian lain India. Dekrit 

Pujian yang dianugerahkan kepada Kongregasi oleh 

Paus Paulus VI pada bulan Februari 1965 mendorong 

Ibu Teresa untuk membuka rumah penampungan di 

Venezuela. Langkah ini  diikuti dengan langkah 

serupa di Roma, Tanzania dan pada akhirnya di 

setiap benua. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu 

Teresa membuka rumah-rumah penampungan di 

hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk 

Uni Soviet, Albania dan Kuba. Namun demikian, 

meskipun telah berdaya-usaha , ia tidak pernah 

dapat membuka satu pun di Cina. 

Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum 

miskin, baik jasmani maupun rohani, dengan lebih 

baik, Ibu Teresa membentuk Kongregasi Para 

Biarawan Misionaris Cinta Kasih pada tahun 1963, 

dan pada tahun 1976 membentuk Para Suster 

Kontemplatif, pada tahun 1979 Para Biarawan 

Kontemplatif, dan pada tahun 1984 Para Imam 

Misionaris Cinta Kasih. Ia juga membentuk Kerabat 

Kerja Ibu Teresa dan Kerabat Kerja Sick and 

Suffering, yaitu orang-orang dari berbagai kalangan 

agama dan kebangsaan dengan siapa ia berbagi 

semangat doa, kesederhanaan, kurban silih dan 

karya sebagai pelayan cinta kasih. Semangat ini 

kemudian mengilhami terbentuknya Misionaris Cinta 

Kasih Awam. Atas permintaan banyak imam, pada 

tahun 1981 Ibu Teresa juga memulai Gerakan 

Corpus Christi bagi Para Imam sebagai “jalan kecil 

888

kekudusan” bagi mereka yang rindu untuk berbagi 

karisma dan semangat dengannya.

Mata dunia mulai terbuka terhadap Ibu 

Teresa dan karyanya. Berbagai penghargaan 

dianugerahkan kepadanya, mulai dari Indian 

Padmashri Award pada tahun 1962, Hadiah 

Perdamaian dari Beato Paus Yohanes XXIII, Nobel 

Perdamaian pada tahun 1979 dan penghargaan-

penghargaan lainnya seperti: Magsaysay (Philipina), 

Warga Kehormatan India, Albania, USA, Doktor 

Kehormatan bidang Teologi Kedokteran Manusia dan 

diberikan kehormatan berpidato di depan Majelis 

Umum PBB. Di samping itu berbagai media dengan 

penuh minat mulai mengikuti perkembangan 

kegiatannya. Ibu Teresa menerima baik 

penghargaan maupun perhatian dunia “demi 

kemuliaan Tuhan atas nama orang-orang miskin.”

Sepanjang tahun-tahun terakhir hidupnya, 

meskipun mengalami gangguan penyakit yang cukup 

parah, Ibu Teresa tetap mengendalikan 

kongregasinya serta menanggapi kebutuhan orang-

orang miskin dan Gereja. Pada tahun 1997, para 

biarawatinya telah hampir mencapai 4000 orang, 

tergabung dalam 610 cabang dan tersebar di 123 

negara dari berbagai belahan dunia. Pada bulan 

Maret 1997, Ibu Teresa memberikan restu kepada 

Sr. Nirmala MC, penerusnya sebagai Superior 

Jenderal Misionaris Cinta Kasih. sesudah  bertemu 

dengan Paus Yohanes Paulus II untuk terakhir 

kalinya, ia kembali ke Calcutta dan melewatkan 

minggu-minggu terakhir hidupnya dengan menerima 

kunjungan para tamu dan memberikan nasehat-

nasehat terakhir kepada para biarawatinya. 

Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30 

malam, hidup Ibu Teresa di dunia ini berakhir. 

Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk ke 

889

Gereja St. Thomas, gereja dekat Biara Loreto di 

mana ia menjejakkan kaki pertama kalinya di India 

hampir 69 tahun yang lalu. Ratusan ribu pelayat dari 

berbagai kalangan dan agama, dari India maupun 

luar negeri, berdatangan untuk menyampaikan 

penghormatan terakhir mereka. Ibu Teresa 

mendapat kehormatan dimakamkan secara 

kenegaraan oleh Pemerintah India pada tanggal 13 

September. Jenazahnya diarak dalam kereta yang 

sama yang dulu digunakan mengusung jenazah 

Mohandas K. Gandhi and Jawaharlal Nehru, melewati 

jalan-jalan di Calcutta sebelum akhirnya 

dimakamkan di Rumah Induk Misionaris Cinta kasih. 

Segera saja makamnya menjadi tempat ziarah dan 

tempat doa bagi banyak orang dari berbagai 

kalangan agama, kaya maupun miskin. Ibu Teresa 

mewariskan teladan iman yang kokoh, harapan yang 

tak kunjung padam, dan cinta kasih yang luar biasa. 

Jawaban atas panggilan Yesus, “Mari, jadilah cahaya 

bagi-Ku,” menjadikannya seorang Misionaris Cinta 

Kasih, seorang “ibu bagi kaum miskin”, sebagai 

simbol belas kasih terhadap dunia, dan sebagai saksi 

hidup bagi Tuhan yang dahaga.  

26 April 2002, kurang dari dua tahun sejak 

kematiannya, mengingat reputasi Ibu Teresa yang 

tersebar luas sebab  kekudusan dan karya-

karyanya, Paus Yohanes Paulus II memberikan 

persetujuan untuk dimulainya proses kanonisasi Ibu 

Teresa. Pada tanggal 20 Desember 2002 Bapa Suci 

menyetujui dekrit keutamaan-keutamaannya yang 

gagah berani dan mukjizat yang terjadi atas bantuan 

doanya. 19 Oktober 2003 Paus Yohanes Paulus II 

memaklumkan Ibu Teresa sebagai “BEATA TERESA 

dari CALCUTTA”.

890

“Jangan  pernah  kita  lupa  akan  teladan  mengagumkan 

yang  diwariskan  oleh  Ibu  Teresa,  dan  marilah  kita 

mengingatnya  bukan  hanya  dalam  kata-kata  belaka! 

Melainkan, dengan senantiasa memiliki keberanian untuk 

memberikan  prioritas  pada  kemanusiaan.”  ~  Paus 

Yohanes Paulus II

TERESA SOIRON (1794)

Semula ia yaitu  pelayan wanita di istana. 

Kemudian ia mengikuti suster-suster Karmilites dan 

dibunuh bersama dengan mereka di Compiegne 

(Perancis).

P: 17 Juli

SANTO THEODORUS TIRO († 306)

Theodorus hidup pada abad ketiga. Baru saja 

ia diterima sebagai prajurit dalam ketentaraan 

Romawi saat  ia harus 

mati demi imannya. 

Meskipun masih muda, 

Theodorus tahu 

bagaimana menjaga 

agar jiwanya bersih dan 

kudus. Ia seorang yang 

bijaksana yang sungguh 

mengganggap setan 

sebagai musuh 

utamanya. saat  

pasukannya berkemah 

selama musim dingin di 

daerah Pontus, semua 

prajurit ikut ambil bagian dalam upacara 

penyembahan dewa-dewi kafir. sebab  ia seorang 

Kristen, ia tahu bahwa dewa-dewi itu tidak ada. Jadi, 

891

Theodorus menolak ikut serta dalam upacara-

upacara mereka. Maka, Theodorus ditangkap.   

“Berani benar engkau menganut agama yang 

diancam oleh kaisar dengan hukuman mati!” tuntut 

sang gubernur. Tanpa ragu, prajurit muda itu 

menjawab, “Saya tidak mengenal dewa-dewi tuan. 

Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, Dia-lah Tuhan-

ku. Jika tuan menganggap jawaban saya sebagai 

suatu penghinaan, silakan tuan potong lidah saya. 

Setiap bagian tubuh saya siap menderita jika Tuhan 

menghendaki pengurbanan yang demikian.” 

Para hakim kafir meloloskan Theodorus sekali 

itu. Kemudian, ia ditangkap kembali. Para hakim 

mula-mula berusaha membujuknya dengan lemah-

lembut. saat  usaha ini  gagal, mereka 

berusaha menakut-nakutinya dengan menyebutkan 

segala siksa dan aniaya yang harus ia tanggung. 

Pada akhirnya, mereka menyerahkan Theodorus 

kepada para algojo.

saat  prajurit yang telah disiksa dengan 

aniaya itu dibawa kembali ke penjara, beberapa 

orang mengatakan bahwa malaikat-malaikat datang 

untuk menghiburnya. sesudah  diinterogasi tiga kali, 

akhirnya Theodorus dijatuhi hukuman mati dengan 

dibakar hidup-hidup pada tahun 306. Sebuah gereja 

yang indah kelak didirikan untuk menghormati 

abunya. Banyak orang datang ke sana untuk mohon 

bantuan doa sang martir.   

SANTO THEODOSIUS (423-529)

Theodosius dilahirkan di Asia Kecil pada 

tahun 423. Sebagai pemuda ia berangkat berziarah 

ke Tanah Suci. Dikatakan bahwa ia terinspirasi oleh 

perjalanan iman Abraham sebagaimana dicatat 

dalam Kitab Kejadian dalam Kitab Suci.

892

sesudah  mengunjungi tempat-tempat suci, ia 

memutuskan untuk mengamalkan hidup doa. Ia 

mohon bimbingan dari seorang kudus bernama 

Longinus. Segera orang menyadari betapa kudus 

Theodosius sendiri. Banyak orang mohon 

diperkenankan bergabung dengannya. Mereka juga 

rindu menjadi biarawan. Theodosius membangun 

sebuah biara besar di Cathismus, dekat Betlehem. 

Tak lama kemudian, biaranya telah dipenuhi dengan 

para biarawan dari Yunani, Armenia, Arabia, Persia 

dan negara-negara Slav. 

Pada akhirnya, wilayah itu 

berkembang menjadi 

sebuah “kota kecil”. Satu 

bangunan diperuntukkan 

orang-orang sakit, satu 

untuk orang-orang lanjut 

usia, dan satu untuk kaum 

miskin dan kaum tuna 

wisma.

Theodosius 

senantiasa murah hati. Ia 

memberi makan suatu 

antrian fakir miskin yang 

tanpa akhir. Terkadang tampaknya tak akan tersedia 

cukup makanan bagi para biarawan. namun  

Theodosius menempatkan kepercayaan besar pada 

Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan mereka yang 

datang pergi dengan tangan kosong, bahkan meski 

nyaris tak tersisa lagi makanan. Biara itu merupakan 

suatu tempat yang amat damai. Para biarawan hidup 

dalam keheningan dan doa. Semuanya berjalan 

begitu baik hingga Patriark Yerusalem menunjuk 

Theodosius sebagai pemimpin dari segenap biarawan 

di timur. Bersama Santo Sabas ia membela iman, 

mengurus rumah-rumah untuk orang jompo, 

893

penderita sakit, tamu asing dan orang gila. Santo 

Teognios († 522; P: 15 Februari) di kala remaja 

yaitu  muridnya yang kemudian menjadi uskup.

Theodosius wafat pada tahun 529 dalam usia 

106 tahun. Patriark Yerusalem dan banyak orang 

menghadiri pemakamannya. Theodosius 

dimakamkan di mana ia pertama-tama hidup 

sebagai seorang biarawan. Tempat itu disebut Gua 

Para Majus. Orang percaya bahwa Para Bijak tinggal 

di sana saat  mereka datang dalam perjalanan 

mencari Yesus.

P: 11 Januari

SANTO THEOPHANE VENARD († 2 Februari 

1861)

Bahkan semasa mudanya, imam Perancis 

yang kudus ini telah berangan-angan untuk menjadi 

seorang martir. Ia bersekolah 

untuk menjadi seorang imam. 

Kemudian ia masuk seminari 

untuk para misionaris di Paris, 

Perancis. Keluarganya, yang 

sangat ia kasihi, teramat sedih 

memikirkan bahwa kelak, 

sesudah  menjadi imam, ia 

akan meninggalkan mereka. 

Pada masa itu perjalanan 

tidaklah semudah seperti 

sekarang ini. Theophane sadar 

bahwa perjalanannya 

menyeberangi samudera luas 

ke Timur hampir dapat dipastikan akan 

memisahkannya dari keluarganya sepanjang 

hidupnya.

894

“Saudariku tersayang,” demikian tulisnya 

dalam salah satu suratnya, “betapa aku menangis 

saat  membaca suratmu. Ya, aku sadar sepenuhnya 

akan penderitaan besar yang aku timbulkan bagi 

keluarga kita. Aku pikir, terlebih-lebih lagi betapa 

dahsyat penderitaan itu bagimu, adikku terkasih. 

namun , tidakkah kamu berpikir bahwa aku 

mencucurkan banyak air mata juga? Dengan 

mengambil keputusan demikian, aku sadar bahwa 

aku akan memicu  penderitaan teramat besar 

bagi kalian semua. Siapakah yang mencintai 

keluarganya lebih dibandingkan  aku? Seluruh 

kebahagiaanku di dunia ini berasal dari sana. namun  

Tuhan, yang telah mempersatukan kita semua 

dalam ikatan cinta kasih mesra, ingin menarikku dari 

sana.”

sesudah  ditahbiskan menjadi imam, 

Theophane berangkat ke Hong Kong. Ia mulai 

berlayar pada bulan September 1852. Ia belajar 

beberapa bahasa asing selama lebih dari setahun di 

sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke 

Tongking. Dua rintangan menghambat karya 

misionaris kita yang penuh semangat ini, yaitu: 

kesehatannya yang buruk dan penganiayaan yang 

dahsyat. namun  ia terus berjuang dengan gigih. 

Sering ia menulis kepada saudarinya yang terkasih 

di Perancis tentang segala petualangan serta 

pengalamannya meloloskan diri dari para 

penganiayanya. Akhirnya, sesudah  dengan gigih 

melayani banyak umat Kristiani di Tongking, 

Theophane tertangkap juga. Ia dirantai dan 

dimasukkan dalam kurungan selama dua bulan.

Sikapnya yang lemah lembut meluluhkan hati 

semua orang, bahkan para sipir penjara. Ia berhasil 

menulis sepucuk surat kepada keluarganya di mana 

ia menulis, “Semua orang di sekitarku yaitu  orang 

895

yang beradab serta sopan. Banyak dari antara 

mereka yang mengasihiku. Dari pejabat tinggi 

hingga prajurit yang terendah sekali pun, semua 

menyesalkan bahwa hukum negara menjatuhkan 

hukuman mati. Aku tidaklah mereka siksa seperti 

saudara-saudaraku yang lain.” Namun demikian, 

simpati mereka tidaklah dapat menyelamatkan 

nyawanya. sesudah  St. Theophane dipenggal 

kepalanya, kerumunan umat berebut mencelupkan 

saputangan mereka pada darahnya (sebagai reliqui). 

St. Theophane wafat sebagai martir pada tanggal 2 

Februari 1861. Pastor Venard dinyatakan kudus oleh 

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. 

Ia yaitu  salah seorang dari Para Martir Vietnam 

yang pestanya dirayakan pada tanggal 24 

November.

SANTA THERESIA dari AVILLA (28 Maret 

1515-1582)

 Theresia dilahirkan di Avila, Spanyol, pada 

tanggal 28 Maret tahun 1515. Sebagai seorang gadis 

kecil di rumah keluarganya 

yang kaya, Theresia dan 

kakaknya: Rodrigo suka 

sekali membaca riwayat 

hidup para kudus dan para 

martir. Bagi mereka, 

tampaknya menjadi martir 

yaitu  cara mudah untuk 

dapat pergi ke surga. Oleh 

sebab  itu kedua anak 

ini  secara diam-diam 

berencana untuk pergi ke 

tanah Moor.  Sementara 

mereka menapaki jalan, 

896

mereka berdoa agar mereka boleh wafat bagi 

Kristus. namun , mereka belumlah jauh dari rumah 

saat  mereka bertemu dengan paman mereka. 

Sesaat  itu juga sang paman membawa mereka 

pulang ke pelukan ibu mereka yang sudah teramat 

cemas. Kemudian, anak-anak itu bermaksud untuk 

menjadi pertapa di pekarangan rumah mereka. 

Rencana ini pun tidak berhasil juga. Mereka tidak 

dapat mengumpulkan cukup banyak batu untuk 

membangun gubug mereka. St. Teheresia sendirilah 

yang menuliskan kisah masa kecilnya yang 

menggelikan itu. 

 Namun demikian, saat  Theresia tumbuh 

menjadi seorang gadis remaja, ia berubah. Ia 

banyak membaca artikel -artikel  novel dan kisah-kisah 

roman picisan hingga ia tidak punya banyak waktu 

lagi untuk berdoa. Ia lebih banyak memikirkan cara 

merias serta mendadani dirinya agar tampak cantik. 

namun , sesudah  ia sembuh dari suatu penyakit parah, 

Theresia membaca sebuah artikel  tentang St. 

Hieronimus yang hebat. Pada saat itu juga, ia 

bertekad untuk menjadi pengantin Kristus. saat  

menjadi seorang biarawati, amatlah susah bagi 

Theresia untuk berdoa. Selain itu, kesehatannya pun 

buruk. Ia menghabiskan waktunya setiap hari 

dengan mengobrol tentang hal-hal yang remeh. 

Suatu hari, di hadapan lukisan Yesus, ia merasakan 

suatu kesedihan yang mendalam bahwa ia tidak lagi 

mencintai Tuhan. Sejak itu, ia mulai hidup hanya 

bagi Yesus saja, tidak peduli betapa pun besarnya 

pengorbanan yang harus dilakukannya. 

Sebagai balas atas cintanya, Kristus 

memberikan kepada St. Theresia karunia untuk 

mendengar-Nya berbicara kepadanya. Ia juga mulai 

belajar berdoa dengan cara yang mengagumkan 

juga. St. Theresia dari Avila terkenal sebab  

897

mendirikan biara-biara Karmelit yang baru. Biara-

biara ini  dipenuhi oleh para biarawati yang 

rindu untuk hidup kudus. Mereka banyak berkurban 

untuk Yesus. Theresia sendiri memberi teladan 

kepada mereka. Ia berdoa dengan cinta yang 

menyala-nyala dan bekerja keras melakukan tugas-

tugas biara. St. Theresia yaitu  seorang pemimpin 

besar dan seorang yang sungguh-sungguh 

mengasihi Yesus serta Gereja-Nya. Ia wafat pada 

tahun 1582 dan dinyatakan kudus oleh Paus 

Gregorius XV pada tahun 1622. Ia digelari Pujangga 

Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.

Santa Theresia dari Avilla atau “Theresa 

Besar” (28 Maret 1515-1582), pembaharu 

hidup membiara, mistikus dan pujangga Gereja; 

lahir di Avilla dan meninggal di Alba (Spanyol). 

Ia dihormati sebagai pelindung Negara Spanyol. 

B: Resa, Resi Tea, Teresia, Trees; L: seorang 

suster berjubah coklat dengan hati tertembus 

panah pada dadanya dan artikel  dalam 

tangannya; P: 15 Oktober 

SANTA THERESIA LISIEUX 

(2 Januari 1873-30 September 1897)

• KISAH HIDUP THERESIA

Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon, 

Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ayahnya 

bernama Louis Martin dan ibunya Zelie Guerin. 

Pasangan ini  dikarunia sembilan orang anak, 

namun  hanya lima yang bertahan hidup hinga 

dewasa. Kelima bersaudara itu semuanya puteri dan 

semuanya menjadi biarawati! 

saat  Theresia masih kanak-kanak, ibunya 

terserang penyakit kanker. Pada masa itu, mereka 

belum memiliki obat-obatan dan perawatan khusus 

seperti sekarang. Para dokter mengusahakan yang 

898

terbaik untuk menyembuhkannya, namun  penyakit 

Nyonya Martin bertambah parah. Ia meninggal dunia 

saat  Theresia baru berusia empat tahun. 

Sepeninggal isterinya, ayah Theresia 

memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana 

kerabat mereka tinggal.  Di dekat sana ada sebuah 

biara Karmel di mana para suster berdoa secara 

khusus untuk kepentingan seluruh dunia. saat  

Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya, 

Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat 

berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi "ibunya 

yang kedua", merawatnya dan mengajarinya, serta 

melakukan semua hal seperti 

yang dilakukan ibumu untuk 

kamu. Theresia sangat 

kehilangan Pauline hingga ia sakit 

parah. Meskipun sudah satu 

bulan Theresia sakit, tak satu pun 

dokter yang dapat menemukan 

penyakitnya. Ayah Theresia dan 

keempat saudarinya berdoa 

memohon bantuan Tuhan. 

Hingga, suatu hari patung Bunda 

Maria di kamar Theresia 

tersenyum padanya dan ia 

sembuh sama sekali dari 

penyakitnya!

Suatu saat , Theresia mendengar berita 

tentang seorang penjahat yang telah melakukan tiga 

kali pembunuhan dan sama sekali tidak merasa 

menyesal. Theresia mulai berdoa dan melakukan 

silih bagi penjahat itu (seperti menghindari hal-hal 

yang ia sukai dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan 

yang kurang ia sukai). Ia memohon pada Tuhan 

untuk mengubah hati penjahat itu. Sesaat sebelum 

kematiannya, penjahat itu meminta salib dan 

899

mencium Tubuh Yesus yang tergantung di kayu 

salib. Theresia sangat bahagia!  Ia tahu bahwa 

penjahat itu telah menyesali dosanya di hadapan 

Tuhan.

Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin 

mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia 

ingin masuk biara Karmel agar ia dapat 

menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan 

berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan 

mengasihi Tuhan. namun  masalahnya, ia terlalu 

muda. Jadi, ia berdoa dan menunggu dan menunggu 

dan berdoa. Hingga akhirnya, saat  umurnya lima 

belas tahun, atas ijin khusus dari Paus, ia diijinkan 

masuk biara Karmelit di Liseux.

Apa yang dilakukan Theresia di biara? Tidak 

ada yang istimewa. namun , ia memiliki  suatu 

rahasia: CINTA. Suatu saat  Theresia mengatakan, 

"Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini 

atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya." Jadi, 

Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia 

berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, 

walaupun itu bukan hal yang selalu mudah. Para 

suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan 

tangan. Seorang suster tanpa sengaja selalu 

mencipratkan air kotor ke wajah Theresia. namun  

Theresia tidak pernah menegur atau pun marah 

kepadanya. Theresia juga menawarkan diri untuk 

melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut 

dan banyak kali mengeluh sebab  sakitnya. Theresia 

berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani 

Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi 

sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai yaitu  

pekerjaan yang membuat Theresia sangat bahagia.

Hanya sembilan tahun lamanya Theresia 

menjadi biarawati. Ia terserang penyakit 

tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat 

900

menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat 

menyembuhkan penyakit TBC. Dokter hanya bisa 

sedikit menolong. saat  ajal menjelang, Theresia 

memandang salib dan berbisik, "O, aku cinta pada-

Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!" Pada tanggal 30 

September 1897, Theresia meninggal dunia saat  

usianya masih duapuluh empat tahun. Sebelum 

wafat, Theresia berjanji untuk tidak menyerah pada 

rahasianya. Ia berjanji untuk tetap mencintai dan 

menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal 

Thresesia mengatakan, "Dari surga aku akan 

berbuat kebaikan bagi dunia." Dan ia menepati 

janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang 

memohon bantuan St. Theresia untuk mendoakan 

mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban 

atas doa-doa mereka. 

• sesudah  THERESIA WAFAT

sesudah  wafat, Theresia menjadi terkenal 

sebab  artikel  yang ditulisnya "Kisah Suatu Jiwa," 

yang diterbitkan satu tahun sesudah  wafatnya (di 

Indonesia diterjemahkan dengan judul: 'Aku Percaya 

akan Cinta Kasih Allah'). Theresia dikanonisasi pada 

tahun 1925 oleh Paus Pius X. Ia dikenal dengan 

sebutan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau 

Santa Theresia si Bunga Kecil. St. Theresia bersama-

sama dengan St. Jeanne d'Arc diberi gelar Pelindung 

Perancis. Selain itu St. Theresia bersama-sama 

dengan St. Fransiskus Xaverius diberi gelar 

Pelindung Misionaris.  Baru-baru ini, tanggal 19 

Oktober 1997, Theresia juga menjadi wanita ke-3 

yang diberi gelar Doktor Gereja. Kalian dapat mohon 

bantuannya mengenai apa saja. Ia pernah berjanji 

 akan melimpahi kita dengan bunga-bunga mawar 

dari surga dan memang, sejak kematiannya banyak 

901

mukjizat yang terjadi berkat bantuan doanya. 

Pestanya dirayakan setiap tanggal 1 Oktober. 

• RAHASIA THERESIA : JALAN KECIL, 

JALAN KANAK-KANAK ROHANI

Theresia seorang gadis yang sederhana 

dengan `jalan kecilnya' yang istimewa.  Ia 

menunjukkan bahwa kekudusan dapat dicapai oleh 

siapa saja betapa pun rendah, hina dan biasanya 

orang itu. Caranya ialah dengan melaksanakan 

pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari 

dengan penuh cinta kasih murni kepada Tuhan. 

Kamu pun dapat menjadi kudus dengan cara-cara 

sederhana seperti yang dilakukan oleh St. Theresia 

dengan jalan kecilnya. 

DOA

O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus

tolong petikkan bagiku sekuntum mawar

dari taman surgawi dan 

kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta.

O Bunga Kecil dari Yesus

mintalah kepada Allah hari ini

untuk menganugerahkan rahmat yang sangat 

kubutuhkan ………

(katakan kepada St. Theresia permohonanmu)

Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa 

percaya

kepada belaskasih Allah yang sedemikian besar,

sebagaimana telah engkau wujudkan di dalam 

hidupmu,

sehingga aku boleh mengikuti 'Jalan Kecil'mu setiap 

hari.

Amin.

902

• CATATAN ST. THERESIA DARI KANAK-

KANAK YESUS

"Oh Yesus, aku tahu cinta hanya dapat 

dibalas dengan cinta, maka aku sudah 

menemukan alat untuk memuaskan hatiku 

dengan memberikan cinta kepada Cinta-Mu." 

(Otobiografi)

"Kamu ingin susaha  aku memberitahukan 

sarana untuk menjadi sempurna. Aku hanya 

tahu satu ini saja: CINTA." (Otobiografi, surat 

kepada Marie Guerin)

"Perbuatan-perbuatan yang gemilang bukan 

untukku.... Jadi, bagaimanakah akan 

kubuktikan cintaku, sebab  cinta dibuktikan 

dalam perbuatan? Dengan perbuatan dan 

kurbanku yang kecil-kecil. Ya Yesus, hal-hal 

kecil yang tak berarti itu akan menyenangkan 

Engkau!" (Otobiografi)

"Aku merasa diriku dikuasai oleh sekian 

banyak kelemahan, namun itu tidak pernah 

membuatku heran ... alangkah manisnya 

merasakan diriku lemah dan kecil." 

(Percakapan Terakhir)

"Kekudusan yaitu  suatu sikap hati, yang 

menempatkan kita ke dalam tangan Tuhan, 

kecil dan rendah hati, menyadari kelemahan 

kita dan secara buta mengandalkan kebaikan 

Ke-Bapaan-Nya." (Percakapan Terakhir)

"Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di 

salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang 

menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa 

sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke 

tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku 

pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di 

kaki salib susaha  dapat menampung darah 

903

Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku 

mengerti bahwa sesudah  itu aku harus 

menuangkannya atas jiwa-jiwa." 

(Otobiografi)

Santa Theresia Lisieux atau Theresia dari 

Kanak-kanak Jesus (2 Januari 1873-30 

September 1897), pelindung misi (bersama 

Santo Fransiskus Xaverius); L: bunga mawar; 

P: 1 Oktober

THADDAIOS (816)

Budak belian ini dimerdekakan, lalu menjadi 

biarawan. sebab  tidak mau menyingkirkan gambar-

gambar suci yang ada  dalam gereja, ia 

dicambuk dengan kumparan kulit sapi sebanyak 120 

kali, sehingga dua hari kemudian meninggal.

A: yang berani (H); P: 29 Desember

THIMO (1040-1101)

Uskup Salzburg (Austria) ini memperbaharui 

semangat iman di keuskupannya. sebab  masalah 

politik ia terpaksa mengungsi. Thimo terjun dalam 

perang salib, ditangkap dan dibunuh sebab  menolak 

masuk Islam.

P: 28 September

THOMAS († 1321)

Dibebaskan dari penjara oleh jendral 

Fransiskan dan kemudian diutus ke Armenia. Raja 

Armenia sangat simpati kepadanya dan 

menjadikannya duta. Suatu saat  ia bersama 

904

Fransiskan-Fransiskan lainnya, yaitu Yakobus, Petrus 

dan Demetrius diutus ke Tiongkok. namun  kapal 

mereka kandas di pulau Salsalete dekat Bombay. Di 

sini mereka dibunuh oleh orang-orang Isalm 

setempat.

P: 9 April

SANTO THOMAS AQUINAS († 7 Maret 

1274)

Thomas hidup pada abad ketigabelas. Ia 

yaitu  putera dari sebuah keluarga bangsawan di 

Italia. Thomas seorang yang amat cerdas, namun