April
860
SANTO STEFANUS († 35)
Stefanus artinya mahkota. Ia yaitu pengikut
Kristus yang pertama yang menerima mahkota
kemartiran. Stefanus yaitu
seorang diakon pada masa
Gereja Perdana. Kita membaca
kisah tentangnya dalam Kitab
Kisah Para Rasul bab 6 dan 7.
Petrus dan para rasul lainnya
menyadari bahwa mereka
membutuhkan penolong-
penolong untuk mengurus para
janda serta kaum miskin. Jadi,
mereka mentahbiskan tujuh
orang diakon. Stefanus yaitu
yang paling terkenal dari antara
mereka.
Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui
St. Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan
karunia yang membuat banyak dari para
pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh
Gereja Yesus merasa geram melihat betapa
berhasilnya khotbah St. Stefanus. Pada akhirnya,
mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka
tidak dapat membantah perkataan-perkataannya
yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan
beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya.
Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus
telah berbicara hujat terhadap Tuhan. St. Stefanus
menghadapi gerombolan para musuhnya yang
banyak itu tanpa rasa takut. Malahan, Kitab Suci
mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa
dengan wajah malaikat.
Stefanus berbicara tentang Yesus,
menunjukkan bahwa Ia yaitu Juruselamat yang
861
dijanjikan Tuhan. Ia mencela para musuhnya sebab
tidak percaya kepada Yesus. Mendengar itu, mereka
menjadi amat marah serta berteriak-teriak
kepadanya. namun , Stefanus memandang ke langit
dan berkata bahwa ia melihat langit terbuka dan
Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Para musuhnya
menutup telinga mereka dan tidak mau
mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret St.
Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya
dengan batu hingga mati. Orang kudus itu berdoa,
“Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian ia
berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak
menghukum para musuh yang membunuhnya.
sesudah pernyataan kasih yang sedemikian besar itu,
Stefanus pergi untuk menerima ganjaran surgawi.
Stefanus († 35), diakon dan martir pertama A:
yang dimahkotai (Y); B: Esteban, Etienne,
Stephen, Stephanus (♂); Stefani, Steffi (♀); L:
seorang diakon dirajam; P: 26 Desember
STELLA
Julukan bagi Santa Maria sebagai bintang
yang membimbing manusia (stella=bintang)
SANTO STEFANUS dari HUNGARIA (969-15
Agustus 1038)
St. Stefanus dilahirkan sekitar tahun 969 di
Hungaria. Nama yang diberikan kepadanya yaitu
Vaik. saat ia menjadi seorang Kristen pada usia
sepuluh tahun, ia diberi nama Stefanus. Pada saat
yang sama, ayahnya, Pangeran Hungaria, dan juga
banyak kaum bangsawan lainnya menjadi Kristen.
Namun demikian, saat Stefanus menjadi raja, di
negerinya itu masih banyak orang kafir. Sebagian
862
penduduknya masih suka kekerasan dan kekejian.
Jadi, Stefanus memutuskan untuk membangun
Gereja yang kokoh di Hungaria. Usahanya itu
diberkati Tuhan. Rahasia keberhasilan St. Stefanus
dalam membimbing
rakyatnya secara
gemilang kepada iman
Kristiani yaitu devosinya
kepada Bunda Maria. Ia
mempercayakan seluruh
kerajaannya dalam
perlindungan Bunda Maria
dan ia membangun
sebuah gereja yang amat
indah untuk menghormati
Bunda Allah.
Paus Sylvester II
mengirimkan sebuah
mahkota raja yang indah bagi Stefanus. Pusaka ini
kemudian dikenal sebagai Mahkota St. Stefanus.
Dalam masa Perang Dunia II, tentara Amerika
merampas mahkota ini , namun akhirnya
diserahkan kembali pada Hungaria pada tahun 1978.
Stefanus seorang pemimpin yang tegas serta gagah
berani. Ia menerapkan hukum yang adil. Namun
demikian, ia juga lemah lembut serta penuh belas
kasihan kepada mereka yang miskin. Sebisa-bisanya
ia menghindari peperangan. Ia suka memberi
bingkisan uang kepada para pengemis tanpa
memberitahukan kepada mereka siapa dia
sebenarnya. Suatu saat ia sedang membagikan
bingkisan dalam penyamarannya, saat sekelompok
pengemis yang brutal menyerang serta
memukulnya. Mereka menarik-narik rambutnya,
jenggotnya serta merampas kantong uangnya. Tak
pernah terbayangkan oleh mereka bahwa mereka
863
sedang mempermainkan raja mereka. Dan mereka
tidak pernah tahu akan hal itu. Raja menerima
segala penghinaan itu dengan diam-diam dan
dengan rendah hati. Sekuat tenaga ia mengarahkan
pikirannya pada Bunda Maria dan berdoa: “Lihatlah,
Ratu Surgawi, bagaimana umatmu memperlakukan
dia yang engkau jadikan raja. Jika mereka musuh-
musuh iman, aku tahu apa yang harus aku lakukan
terhadap mereka. namun , sebab mereka yaitu
kesayangan Putera-mu, aku menerima ini semua
dengan sukacita. Aku mengucap syukur sebab nya.”
Malahan, sesaat itu juga Raja Stefanus berjanji
untuk berderma lebih banyak lagi bagi para
pengemis. Stefanus menjadi raja Hungaria selama
empat puluh dua tahun.
Santo Stefanus dari Hungaria atau
Stephan II (969-15 Agustus 1038), raja
Hungaria, suami dari Santa Gisela dan ayah
dari Santo Emerik, sangat menekankan susaha
hari Minggu dikhususkan bagi Tuhan (orang
tidak boleh bekerja), pelindung nasional
Hungaria (Mahkota Santo Stefanus); L:
mahkota, salib berganda dan bendera Maria; P:
16 Agustus
SANTO STEPHEN HARDING O Cist (1059-
1134)
Stephen yaitu seorang pemuda Inggris yang
hidup pada abad keduabelas. Ia yaitu seorang
murid cemerlang yang suka belajar. Stephen
teristimewa menaruh minat pada sastra. Ia
bersungguh-sungguh mengenai hidup dan bedoa
setiap hari. Suatu saat Stephen dan temannya
berjalan kaki berziarah ke Roma. Sekembalinya,
Stephen bergabung dengan kelompok biarawan yang
amat miskin dan kudus. Para biarawan ini berdoa,
berpuasa dan bekerja keras. Demikianlah cara
864
mereka mengungkapkan kasih mereka kepada
Tuhan. Stephen memperhatikan bagaimana
bahagianya mereka. Abbas mereka yaitu seorang
santo, yakni St Robertus.
Sejenak lamanya, Stephen melayani Tuhan
dengan penuh sukacita bersama mereka. Namun,
sedikit demi sedikit
para biarawan tak
lagi hendak hidup
keras seperti itu.
Jadi, St Robertus
dan St Stephen
bersama duapuluh
biarawan lainnya
mendirikan sebuah
biara baru. Mereka
membangun sendiri
biara itu di padang
liar Perancis yang
disebut Citeaux.
Mereka mengamalkan hidup dalam karya dan
kepapaan. Mereka rindu meneladani kemiskinan
Yesus. Mereka juga memelihara keheningan yang
ketat.
saat St Stephen menjadi abbas biara, ada
banyak persoalan yang harus dihadapi. Para
biarawan hanya makan sedikit saja. Kemudian, lebih
dari separuh biarawan jatuh sakit dan meninggal
dunia. Tampak seolah komunitas akan segera
berakhir. Mereka membutuhkan anggota-anggota
baru yang muda untuk meneruskan semangat
mereka. Stephen berdoa penuh iman. Dan doanya
didengarkan. Tuhan mengirimkan kepada para
biarawan yang disebut Cistercian ini tigapuluh
pemuda yang ingin menggagungkan diri dengan
mereka. Mereka tiba di gerbang biara bersama-
865
sama. Pemimpin mereka kelak menjadi seorang
santo yang hebat pula. Namanya yaitu St
Bernardus. Hari itu merupakan hari yang sungguh
menakjubkan bagi St Stephen dan para biarawan.
St Stephen melewatkan beberapa tahun
terakhir hidupnya dengan menulis sebuah artikel
peraturan bagi para biarawan. Ia juga mendidik St
Bernardus untuk menggantikan posisinya.
Sementara terbaring di ambang ajal, St
Stephen mendengar para biarawan di sekelilingnya
berbisik. Mereka mengatakan bahwa Stephen tidak
perlu takut mati. Ia telah bekerja begitu giat dan
mengasihi Tuhan begitu rupa. namun St Stpehen
mengatakan bahwa ia takut ia tidak cukup baik. Dan
ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Hal
itu menunjukkan betapa rendah hatinya santo besar
ini. Ia wafat pada tahun 1134.
P: 26 Januari
STURMIUS (715-779)
Murid Santo Bonifasius ini menjadi abbas
pertama biara termasyur di Fulda (Jerman). sebab
lama bertengkar dengan Santo Lullus yang ingin
memiliki relikwi Bonifasius, ia dibuang. Akan namun ia
cepat direhabilitir. Ia membangun biara dan
menjalankan karya misi. Sturmius mengikuti Kaisar
Karolus Agung ke medan perang.
P: 16 Desember
SULPISIUS (615-647)
Uskup Bourges (Perancis) ini sangat disegani
umat sebab murah hati, giat dan berani membela
rakyat terhadap pemerintah yang kurang adil. Ia
mengundurkan diri dari jabatannya susaha dapat
866
dengan lebih aktif mentobatkan penganut bidaah
dan orang Yahudi. P: 17 Januari
SUSANA (abad ke-4)
Kaisar Diokletianus, katanya, ingin
menikahkan anaknya dengan gadis jelita nan kaya
bernama Susana. Namun lamaran itu ditolaknya,
sebab putera kaisar masih kafir. Walaupun kaisar
membujuk dan mengancam, namun Susana tidak
menyerah. Akhirnya ia dibunuh oleh dua imam kafir.
A: bunga bakung (H); P: 11 Agustus
SVORAD († 1009) dan BENEDIKT († 1012)
Kedua pertapa ini hidup di pegunungan
Slowakia. Svorad menjalani hidupnya dengan sangat
keras. Benedikt meninggal sebab dibunuh
penyamun.
P: 17 Juli
867
T
TADEUS LIN (1823)
yaitu seorang imam Tionghoa yang selama
dua tahun mendekam dalam penjara dan akhirnya
dibunuh sebab imannya.
P: 24 Oktober
TANTIANA (230)
Seorang wanita Roma yang meninggal
sebagai saksi iman.
P: 12 Januari
SANTO TARSISIUS (abad ke-1)
Semua jemaat Gereja Perdana menerima
Komuni Kudus setiap hari, dan jika mereka tidak
dapat menerimanya bersama-
sama dengan jemaat yang
lain, maka Hosti akan
diantarkan bagi mereka.
St. Tarsisius yaitu
seorang Putera Altar yang
tinggal di Roma. saat
sedang mengantar Hosti
Kudus, St. Tarsisius diserang
oleh segerombolan berandal
kafir. Ia tidak rela
membiarkan Hosti Kudus
868
dipermainkan dan dimusnahkan oleh para berandal
itu, oleh sebab nya ia berkelahi dengan mereka.
Gerombolan itu merajamnya sampai mati.
Demikianlah St. Tarsisius wafat sebagai martir pada
pertengahan abad ketiga. Ia dimakamkan dalam
Katakomba Paus St. Kalistus yang terletak di Appian
Way.
St. Tarsisius juga dianggap sebagai Diakon
sebab tugas Diakon-lah membagikan Komuni pada
kesempatan-kesempatan khusus serta mengantar
Hosti dari gereja ke gereja. Baik sekali jika para
remaja mohon bantuan doa St. Tarsisius, sebab ia
yaitu santo pelindung remaja. Pestanya dirayakan
setiap tanggal 15 Agustus.
"St. Tarsisius doakanlah kami agar senantiasa berdiri
tegak mempertahankan iman kami."
SANTA TEKLA (abad ke-1)
Tekla yaitu seorang gadis bangsawan kafir
yang cantik yang hidup pada abad pertama. Ia
berasal dari kota
Ikonium di Turki. Tekla
telah membaca
banyak artikel filsafat,
namun tak ada satu
pun yang dapat
memuaskan
keingintahuannya
tentang Pencipta-nya.
Doa Tekla untuk
mengenal Allah yang
satu dan benar
terjawab saat St.
Paulus rasul datang
869
untuk mewartakan Injil Yesus di Ikonium. Dari St.
Paulus, Tekla juga mengetahui bahwa seorang
wanita dapat menjadi pengantin Kristus jika ia
memilih untuk tidak menikah. Saat itu, Tekla tidak
menginginkan yang lain selain dari
mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada
Tuhan.
Orangtua Tekla yang kafir melakukan segala
daya usaha agar ia meninggalkan iman Kristiani-
nya, namun ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris,
memohon kepadanya untuk tidak membatalkan
pertunangan mereka. namun , tekad Tekla sudah
bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada
akhirnya, sebab amat marah, Thamyris
mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak juga
mau mengingkari cintanya kepada Yesus, sebab nya
ia dijatuhi hukuman dengan dibakar sampai mati.
Gadis cantik ini dengan berani menyongsong
maut. Namun, dikisahkan bahwa segera sesudah api
dinyalakan, datanglah badai dari surga untuk
memadamkannya. Kemudian Tekla dijatuhi
hukuman mati dengan dijadikan mangsa singa-singa
yang kelaparan. Namun demikian, sekali lagi Tuhan
menyelamatkan nyawa Tekla. Bukannya
menerkamnya, binatang-binatang buas itu malahan
mendekatinya dengan jinak, berbaring di sisinya,
lalu menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing saja.
Pada akhirnya, sebab ketakutan, hakim
membebaskan Tekla. Tekla mengasingkan diri ke
sebuah gua di mana ia tinggal seumur hidupnya. Ia
berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada
orang-orang yang datang mengunjunginya.
P: 23 September
870
TEKLA OSB († 790)
Putri bangsawan Inggris dan saudari Santa
Lioba yang diikutinya di Jerman ini menjadi abbas di
biara Kitzingen.
P: 15 Oktober
TEKUSA († 312)
Bersama Alexandrea, Phaeine, Klaudia,
Eufrasia, Matrona dan Yulita yaitu perawan tua
yang ditenggelamkan ke dalam sebuah danau di
Ankyra (Turki). Teodotos yang berusaha
menguburkan mayat mereka, disiksa dengan kejam
sampai akhirnya mati juga
P: 18 Mei
TEOBALDUS (1017-1066)
sebab tidak mau masuk dinas militer, ia
menjadi tukang batu dan buruh tani. Bersama
temannya ia berziarah dan akhirnya menetap di
Perancis sebagai pertapa.
P: 30 Juni
TEODARD (613-669)
Uskup Tongern – Maastricht ini sangat
berbelaskasihan kepada umatnya yang diperas oleh
para tuan tanah dan pegawai pajak. Suatu hari ia
peri menghadap raja mengadukan nasib rakyat
jembel itu. Akan namun ditengah jalan ia disergap
oleh pesuruh kaum kaya dan dibunuh.
871
P: 10 September
TEODOROS († 613)
Ia yaitu anak di luar pernikahan. Ibu dan
kakaknya mengelola warung dan tempat pelacuran.
Bocah Teodor dititipkan pada neneknya, yang
kemudian dikristenkannya. Menginjak dewaa ia
masuk biara dan kemudian dipilih menjadi uskup
Anastasianopolis (Turki). Sesudah 10 tahun
memangku jabatan itu ia kembali menjadi biarawan
biasa. Teodor dianugerahi Tuhan rahmat
penyembuhan.
P: 22 April
TEODOROS (759-826)
Abbas di Konstantinopel ini di buang sampai
dua kali dan disiksa sebab tidak menyetujui
perceraian Kaisar dan pengeluaran gambar-gambar
suci dari gereja-gereja. Ia pejuang gigih untuk
membebaskan Gereja dari kekuasaan dan
pengawasan Negara, yang dianggap selamanya
melemahkan semangat Kristiani saja. Ia juga tokoh
pembaharu hidup membiara dalam Gereja Timur
yang sangat besar pengaruhnya. Di dalam
pembuangan Teodor menulis berbagai karya seperti
kateketik, kotbah, nyanyian dan artikel -artikel untuk
membela iman yang benar.
P: 11 Nopember
TEODORUS (609-690)
872
Sepeninggal uskup Canterbury, paus memilih
biarawan awam ini – yang sudah berusia 66 tahun –
sebagai penggantinya. Ia berasal dari kota kelahiran
Santo Paulus, yaitu Tarsus (Turki Timur). Uskup
baru ini sadar, bahwa kehidupan Gereja di Inggris
belum mantap.Maka ia mengangkat uskup-uskup
baru, memanggi sinode dan berusaha memecahkan
berbagai masalah dengan tuntas. Ia juga
memperbaharui tata hidup para imam dan
rohaniwan serta organisasi kegerejaan. Dalam
bidang pendidikan Teodorus membuka sekolah di
bawah pimpinan Santo Adrian dari Afrika. Ia
mengatur dengan baik ibadat, nyanyian koral dan
menegakkan hukum. Selain itu ia berusaha
mempererat hubungan gereja di Inggris dengan
Roma.
P: 19 September
TEODORA II (810-867)
Sesudah Kaisar Teofilos meninggal, Teodora
menjadi wali pemerintah di Konstantinopel
(Istambul, Turki) selama puteranya masih di bawah
umur. Ia memanggil pulang para uskup dan imam
yang dibuang dan bertukar tahanan dengan
pemerintah Bulgaria, sehingga terbukalah kembali
pintu bagi karya misi di negeri ini. Teodora
memerintah dengan bijaksana dan tegas, namun
pada tahun 856 ia turun tahta dan hidup dalam
‘tahanan rumah (istana)’ seperti di biara.
P: 11 Februari
TEODERIKUS († 1022)
Teoderikus atau Dieter, uskup Orleans
(Perancis ini hamper di habisi nyawanya oleh
873
pembunuh bayaran yang disewa Olderikus, tapi
gagal. Ia akan dibunuh sebab, Olderikus sendiri
menginginkan jabatan uskup. Walaupun Teoderikus
teman raja, ia tidak ingin balas dendam, malahan ia
mengundang musuhnya itu dalam suatu perjamuan.
P: 27 Januari
TEOFANU († 897)
yaitu seorang isteri yang dibuang oleh
suaminya sendiri, yaitu Kaisar Leon VI. Kemudian ia
menekuni sisa hidupnya dalam sebuah biara di
Konstantinopel.
A: penampakan Tuhan; P: 16 Desember
TEOFILUS († 789)
Laksamana Romawi ini tidak mau melarikan
diri saat tentara Islam menggempur pulau Siprus.
Ia ditangkap dan disiksa sampai mati sebab tidak
mau meninggalkan imannya.
P: 22 Juli
TEOFILOS († 186)
Orang Irak yang dibaptis saat sudah
dewasa ini menjadi uskup ke-6 Antiokia (Siria). Ia
membela dan membersihkan iman Kristen dari
ajaran gnosis (ngelmu) dan filsafat.
A: yang dicintai Tuhan; P: 13 Oktober
TEOKTISTA (abad ke-9)
Biarawati muda ini diculik oleh orang Arab,
namun berhasil meloloskan diri dan hidup sebagai
pertapa dalam hutan selama 35 tahun. Sesaat
sebelum meninggal, ia ditemukan oleh seorang
874
pemburu yang kemudian membawakan komuni
kudus padanya.
P: 8 Nopember
SANTA TERESA BENEDIKTA dari SALIB ~
SANTA EDITH STEIN (12 Oktober 1891-
1942)
“Kita membungkuk hormat di hadapan kesaksian hidup
dan mati Edith Stein, seorang puteri Israel yang luar biasa
dan sekaligus seorang puteri Ordo Karmelit, Suster Teresa
Benedikta dari Salib, suatu pribadi yang mempersatukan
dalam kehidupannya yang kaya, suatu perpaduan
dramatis dari abad kita. Perpaduan dari suatu sejarah
yang penuh luka mendalam yang masih menyakitkan …
dan juga perpaduan akan kebenaran penuh mengenai
manusia. Semuanya ini menyatu dalam sebentuk hati
yang terus-menerus gelisah dan tak tenang hingga
akhirnya ia beroleh istirahat dalam Tuhan.” ~ Paus
Yohanes Paulus II, Beatifikasi Edith Stein, Cologne, 1 May
1987
JITSCHEL
Edith Stein yaitu yang bungsu dari
total sebelas anak pasangan Yahudi-Ortodoks
Siegfried Stein
dan Auguste
Courant Stein. Ia
dilahirkan di
Breslau pada
tanggal 12
Oktober 1891,
tepat saat
keluarganya
875
merayakan Yom Kippur, perayaan terpenting
bangsa Yahudi, Hari Pendamaian Agung. Lebih
dari segalanya, hal ini menjadikan si bungsu
“Jitschel” amat berharga di mata ibunya.
Dilahirkan pada hari istimewa pendamaian ini
bagai suatu nubuat bagi Jitschel kecil, yang
kelak menjadi seorang biarawati Karmelit.
Ayah Edith, seorang pengusaha kayu,
meninggal dunia mendadak saat Edith
beranjak dua tahun. Ibunya, seorang yang
amat saleh, pekerja keras, berkemauan kuat
dan sungguh seorang wanita yang
mengagumkan, sekarang harus menghidupi
dirinya sendiri, mengurus keluarga serta
mengelola perusahaan kayu suaminya.
Kesemuanya itu ditunaikannya dengan
berhasil, namun demikian, ia tidak berhasil
dalam memelihara iman yang hidup dalam diri
anak-anaknya. Edith kehilangan imannya akan
Tuhan. “Aku secara sadar memutuskan, atas
kemauanku sendiri, untuk berhenti berdoa,”
katanya.
MAHASISWI
Sejak masih amat muda usianya, Edith
menunjukkan antusiasme dan kecemerlangan
dalam belajar. Pada tahun 1911, Edith lulus
cum laude dari ujian akhir sekolah. Ia
melanjutkan kuliah di Universitas Breslau untuk
belajar bahasa Jerman dan sejarah, meski ini
hanya sekedar pilihan “sampingan”. Minatnya
yang sesungguhnya yaitu dalam bidang
filsafat dan peran wanita . Ia menjadi
anggota Serikat Prussian untuk Hak
wanita . Ia berjuang keras demi
memperbaiki nasib wanita . “Semasa di
876
sekolah dan semasa tahun-tahun pertamaku di
universitas,” tulisnya kemudian, “aku seorang
aktivis yang radikal. Kemudian minatku hilang
dalam segala urusan itu. Sekarang aku mencari
solusi-solusi pragmatis yang murni.”
Pada tahun 1913, Edith Stein pindah ke
Universitas Göttingen dan belajar filsafat di
bawah bimbingan Professor Edmund Husserl,
seorang filsuf tersohor dan penggagas
fenomenologi. Edith menjadi murid dan asisten
pengajarnya, dan Husserl membimbingnya
untuk meraih doktorat. Pada masa itu,
siapapun yang tertarik pada filsafat akan
terpikat oleh pandangan realitas baru Husserl,
di mana dunia seperti yang kita rasakan tidak
hanya ada di jalan Kantian, dalam persepsi
subyektif kita. Murid-muridnya melihat filsafat
Husserl sebagai kembali ke obyek, “back to
things”. Fenomenologi Husserl tanpa disadari
menghantar banyak muridnya ke iman
Kristiani. Di Göttingen, Edith juga bertemu
dengan filsuf Max Scheler, yang mengarahkan
perhatiannya ke Katolik Roma.
Edith tidak melalaikan kuliah-kuliah
“sampingan”nya dan lulus cum laude pada
bulan Januari 1915, meski ia mengikutinya
tanpa bimbingan dosen.
“Aku tak lagi memiliki hidupku sendiri,”
tulisnya di awal Perang Dunia Pertama, sesudah
menamatkan kursus perawat dan pergi
melayani di sebuah rumah sakit lapangan
Austria. Ini yaitu masa yang sulit baginya, di
mana ia merawat mereka yang sakit di bangsal
tifus dan melihat orang-orang muda mati.
Walau demikian, Edith bekerja sepenuh hati
dan mendapatkan medali penghargaan atas
877
keberanian dan pelayanannya yang tanpa
pamrih. saat rumah sakit dibubarkan pada
tahun 1916, ia mengikuti Husserl sebagai
asistennya ke Freiburg, di mana ia lulus dari
doktoratnya dengan summa cum laude pada
tahun 1917 pada usia 25 tahun dan menerima
gelar Doktor Filsafat sesudah menyelesaikan
tesis “Problem Empati.”
Pada masa ini Edith pergi ke Katedral
Frankfurt dan melihat seorang wanita
dengan keranjang belanja masuk ke dalam
gereja untuk berlutut memanjatkan doa
singkat. “Ini sesuatu yang sama sekali baru
bagiku. Di sinagoga-sinagoga dan di gereja-
gereja Protestan yang telah aku kunjungi,
orang hanya pergi menghadiri kebaktian.
namun di sini, aku melihat seorang yang datang
tepat dari keramaian pasar ke dalam gereja
kosong ini, seolah ia hendak mengadakan
suatu percakapan yang mesra. Ini sesuatu
yang tak akan pernah aku lupakan.” Di akhir
disertasinya ia menulis, “Ada orang-orang yang
percaya bahwa suatu perubahan yang
sekonyong-konyong terjadi atas diri mereka
dan bahwa ini yaitu sebab rahmat Allah.”
Edith Stein bersahabat baik dengan
asisten Husserl di Göttingen, Adolf Reinach,
dan isterinya. saat Reinach gugur pada bulan
November 1917, Edith pergi ke Göttingen
untuk mengunjungi jandanya. Suami isteri
Reinach telah memeluk agama Protestan. Pada
awalnya, Edith merasa canggung menemui
janda muda ini, namun ia terkejut saat
sesungguhnya ia menjumpai seorang
wanita penuh iman. “Inilah perjumpaan
pertamaku dengan Salib dan kuasa ilahi yang
878
diberikan kepada mereka yang
menanggungnya … itulah saat saat
ketidakpercayaanku hancur dan Kristus mulai
menyinarkan terang-Nya atasku - Kristus
dalam misteri Salib.”
Di kemudian hari Edith menulis,
“Apapun yang tidak sesuai dengan rencanaku
sendiri sungguh berada dalam rencana Allah.
Aku bahkan memiliki keyakinan yang terlebih
mendalam dan terlebih teguh lagi bahwa tak
suatupun yang sekedar kebetulan belaka
jika dilihat dalam terang Tuhan, bahwa
seluruh hidupku hingga ke hal-hal yang paling
detil sekalipun telah dirancangkan bagiku
dalam rencana Penyelenggaraan Ilahi dan
memiliki makna yang sepenuhnya dan logis
dalam pandangan Tuhan yang melihat
semuanya. Jadi aku mulai bersukacita dalam
terang kemuliaan di mana makna ini akan
disingkapkan bagiku.”
Pada musim gugur 1918, Edith Stein
mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai
asisten pengajar Husserl. Ia ingin bekerja
mandiri. Baru pada tahun 1930 Edith bertemu
kembali dengan Husserl sesudah pertobatannya,
dan ia berbagi iman dengannya, sebab ia ingin
Husserl menjadi seorang Kristiani juga. Lalu
Edith menuliskan kata-kata nubuat ini, “Setiap
saat aku merasakan ketakberdayaanku dan
ketakmampuanku untuk mempengaruhi orang
secara langsung, aku menjadi semakin sadar
akan perlunya `holocaust'ku sendiri.”
Edith Stein mendamba gelar professor,
suatu impian yang mustahil bagi seorang
wanita pada masa itu. Husserl menuliskan
referensi berikut, “Andai karir akademis
879
terbuka bagi kaum wanita , maka aku akan
merekomendasikannya dengan segenap hatiku
dan sebagai pilihan pertamaku untuk gelar
ini .” Edith akhirnya ditolak terutama
sebab ia seorang Yahudi.
Sekembalinya ke Breslau, Edith Stein
mulai menulis artikel-artikel mengenai dasar
filosofis dari psikologi. namun , ia juga membaca
Perjanjian Baru, Kierkegaard dan Latihan
Rohani St Ignatius dari Loyola. Ia merasa
bahwa orang tak dapat sekedar membaca
sebuah artikel macam itu, melainkan harus
mengamalkannya.
“INILAH KEBENARAN”
Pada musim panas 1921, ia melewatkan
beberapa minggu di Bergzabern (di Palatinate)
di tempat Hedwig Conrad-Martius, seorang
murid Husserl. Hedwig dan suaminya telah
memeluk agama Protestan. Suatu sore, dari
perpustakaan Hedwig, Edith mengambil secara
acak sebuah artikel yang ternyata yaitu artikel
otobiografi St Theresia dari Avila, dan terus ia
membaca artikel ini sepanjang malam
hingga fajar merekah. “saat aku selesai
membaca, aku berkata kepada diriku sendiri:
Inilah kebenaran!”
Keesokan harinya, Edith membeli artikel
Misa dan Katekismus yang di hari-hari
selanjutnya menjadi tumpuan perhatiannya.
saat dirasa ia sudah cukup paham, Edith
untuk pertama kalinya masuk ke sebuah Gereja
Katolik dan dengan mudah mengikuti jalannya
Misa. Ia ingin dibaptis segera; dan saat
Pastor Breitling mengatakan bahwa agar dapat
dibaptis orang perlu persiapan untuk mengenal
880
ajaran dan tradisi-tradisi Gereja, ia menjawab,
“Ujilah saya!” Ini dilakukan pastor dan Edith
lulus dengan cemerlang.
“Edith, pernahkah engkau memohon
rahmat iman sebelum engkau bertobat?”
Jawabnya, “Terus-menerus mencari kebenaran
itulah satu-satunya doaku.” Dan kepada
seorang biarawati Benediktin sahabatnya, Edith
menulis, “Barangsiapa mencari kebenaran,
entah sadar atau tidak, ia mencari Tuhan.”
Pada tanggal 1 Januari 1922, Teresa
Edith Stein menerima Sakramen Baptis dan
Sakramen Komuni Pertama di Gereja Santo
Martinus, Bergzabern. Hari itu yaitu hari
Peringatan Penyunatan Yesus, saat Yesus
masuk ke dalam perjanjian Abraham. Teresa
Edith Stein berdiri dekat bejana baptis dengan
mengenakan gaun pengantin putih milik
Hedwig Conrad-Martius. Dengan dispensasi
khusus Bapa Uskup, Hedwig menjadi wali
baptisnya. “Aku meninggalkan agama Yahudiku
saat aku masih seorang gadis berusia
empatbelas tahun dan tidak lagi merasakan
keyahudian hingga akhirnya aku kembali
kepada Tuhan.” Sejak saat itu ia terus-menerus
sadar sepenuhnya bahwa ia yaitu milik
Kristus bukan hanya secara rohani, melainkan
juga sebab hubungan darah. Pada tanggal 2
Februari, hari Peringatan Pentahiran Maria -
suatu hari yang merujuk pada Perjanjian Lama
- ia menerima Sakramen Penguatan oleh Uskup
Speyer di kapel pribadi bapa uskup.
Edith langsung menuju Breslau:
“Mama,” katanya dengan berlutut sembari
menggenggam kedua tangan sang ibu, “Aku
seorang Katolik.” Ibunya yang seorang Yahudi
881
saleh itu bagai disambar petir. Kemudian
perlahan airmata berlinang-linang membasahi
wajahya yang keriput. Edith belum pernah
melihat ibunya yang tegar itu menangis! Ini
terlalu berat baginya. Dalam keluarganya,
Katolik dianggap sekte yang hina. Edith siap
menerima teguran yang paling tajam
sekalipun, ia bahkan khawatir akan diusir dari
rumah. namun , airmata itu, ungkapan
kesedihan hati yang terdalam. Kedua
wanita itu pun menangis. Hedwig Conrad
Martius menulis: “Lihat, inilah dua orang Israel
sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (bdk
Yohanes 1:47).
FRAULEIN DOCTOR
Segera sesudah pertobatannya,
kerinduan Edith Stein yang terdalam yaitu
menggabungkan diri dalam sebuah biara
Karmelit. namun , para pembimbing rohaninya,
Vikaris Jenderal Schwind dari Speyer, dan P
Erich Przywara SJ, untuk sementara
menghalanginya. Mereka beranggapan bahwa
rencana Tuhan yaitu bahwa Edith Stein
mengabdi Gereja lewat ilmunya. P Schwind
mengatur agar Edith menjadi guru bahasa
Jerman dan sejarah di sekolah Suster-suster
Dominikan dan juga guru pembimbing mereka
yang akan masuk universitas di Biara St
Magdalena di Speyer.
“Segalanya untuk semua orang,” itulah
semboyan Edith sejak ia menjadi Katolik, dan
dalam hal itu ia menjadi teladan bagi semua
orang. Satu dari banyak kesaksian yang ditulis
oleh para mantan muridnya mengatakan,
“Kami baru berumur tujuhbelas tahun dan
882
Fraulein (= nona) Doctor mengajar kami
bahasa Jerman. Sesungguhnya ia memberi
kami segalanya. Kami masih sangat muda,
namun daya tarik yang terpancar darinya tak
akan pernah kami lupakan. Tiap-tiap hari kami
melihat dia berlutut di bangku doanya, di
depan koor, selama Perayaan Ekaristi. Maka
kami mulai sedikit mengerti apa artinya iman
dan sikap hidup yang diserasikan. Bagi kami, di
usia yang penuh kritik, sikapnya saja sudah
menjadi teladan. Kami tak pernah melihat dia
lain dibandingkan anggun, tenang dan pendiam.
Seperti itu ia selalu masuk ke kelas kami,
seperti itu juga ia seminggu sekali menemani
kami waktu rekreasi….”
Pada saat yang sama, Abbas Agung
Raphael Walzer dari Biara Beuron
mendorongnya untuk menerima tawaran
memberikan ceramah-ceramah. Sebanyak
mungkin Edith menerima tawaran ini yang
merupakan sarana baginya untuk mewartakan
iman Katolik. Jadi Edith melewatkan hari-
harinya dengan mengajar, memberikan kuliah,
menulis dan menerjemahkan, memberikan
ceramah-ceramah baik di Jerman maupun di
luar negeri, dan segera saja ia terkenal sebagai
seorang filsuf dan pengarang yang ternama,
meski yang didambakannya yaitu keheningan
dan kontemplasi di Karmel. Pernah ia dicela
sebab dianggap terlalu kuat menggarisbawahi
segi adikodrati, yang dijawabnya dengan tegas,
“Jika aku tidak berbicara tentang hal ini, maka
tak ada gunanya aku duduk di atas mimbar.”
Edith belajar bahwa yaitu mungkin
untuk “mengejar ilmu pengetahuan sebagai
suatu pelayanan kepada Tuhan…. Hingga aku
883
memahami hal ini maka aku mulai secara
serius menekuni karya akademis kembali.”
Edith bekerja keras luar biasa, menerjemahkan
surat-surat dan artikel harian Kardinal Newman
dari masa sebelum ia menjadi Katolik, pula
Quaestiones Disputatae de Veritate tulisan St
Thomas Aquinas. Karya yang disebut
belakangan ini merupakan suatu terjemahan
yang sangat bebas, demi kepentingan dialog
dengan filosofi modern. P Erich Przywara juga
mendorongnya untuk menuliskan karya-karya
filosofisnya sendiri. “Pada masa menjelang dan
awal pertobatanku, aku pikir bahwa
melewatkan suatu kehidupan religius berarti
meninggalkan segala hal-hal duniawi dan
mengarahkan akal budi pada hal-hal ilahi saja.
Namun demikian, perlahan-lahan, aku belajar
bahwa hal-hal lain juga diharapkan dari kita di
dunia ini…. Aku bahkan percaya bahwa
semakin seorang tenggelam dalam Tuhan,
semakin ia harus `mengatasi dirinya sendiri'
dalam hal ini, yakni, masuk ke dalam dunia dan
melaksanakan hidup ilahi di dalamnya.”
Pada tahun 1931, Edith Stein
meninggalkan sekolah biara di Speyer dan
membaktikan diri untuk meraih gelar professor
kembali, kali ini di Breslau dan Freiburg, meski
ternyata usahanya sia-sia belaka. Pada waktu
itulah ia menulis “Potensi dan Tindakan”, suatu
studi mengenai konsep-konsep inti yang
dikembangkan oleh St Thomas Aquinas. Di
kemudian hari, di Biara Karmelit di Cologne, ia
menulis ulang studi ini demi menghasikan
karya utamanya dalam filosofis dan teologis,
“Keterbatasan dan Keabadian” yang
diselesaikannya pada tahun 1936. namun ,
884
sebab hukum anti Yahudi yang diberlakukan
pada masa itu, karyanya tidak dapat
dipublikasikan hingga tahun 1950.
Pada tahun 1932, ia menerima jabatan
dosen di Institut Jerman untuk Ilmu Pedagogi
di Universitas Munster, di mana ia
mengembangkan antropologinya. Dengan
gemilang Edith memadukan ilmu pengetahuan
dan iman dalam karya dan pengajarannya,
sebagai usaha menjadi “alat Tuhan” dalam
segala yang ia ajarkan. “Jika seorang datang
kepadaku, aku ingin menghantarnya kepada
Dia.”
Serangan terhadap bangsa Yahudi
semakin gencar dan pada tahun 1933, Adolf
Hitler dan Partai Nazi berkuasa di Jerman. “Aku
telah mendengar perlakuan buruk terhadap
bangsa Yahudi sebelumnya. namun sekarang
mulai tampak bagiku bahwa Tuhan telah
menekankan tangan-Nya dengan kuat ke atas
umat-Nya, dan bahwa nasib bangsa ini juga
akan menjadi nasibku.” Hukum Arian Nazi
menjadikan mustahil bagi Edith Stein untuk
terus mengajar, “Jika aku tak dapat terus di
sini, maka tidak akan ada lagi kesempatan
bagiku di Jerman,” tulisnya; “aku telah menjadi
seorang asing di dunia.”
Sekarang P Walzer, Abbas Agung
Beuron yang menjadi pembimbing rohaninya,
tak lagi menghalanginya untuk masuk biara
Karmelit. Sementara di Speyer, Edith telah
mengucapkan kaul kemiskinan, kemurnian dan
ketaatan. Pada tahun 1933 ia bertemu dengan
Priorin Biara Karmelit di Cologne. saat
diberitahukan kepadanya bahwa ia tidak usah
berharap dapat melanjutkan karya ilmiahnya di
885
Karmel, Edith menjawab sepenuh hati, “Karya
manusia tak ada gunanya, yang berarti
hanyalah sengsara Kristus. Dan yaitu
kerinduanku untuk ikut ambil bagian di
dalamnya.”
BEATA TERESA dari CALCUTTA
(26 Agustus 1910-5 September 1997)
“Menurut darah, saya seorang Albania.
Menurut kewarganegaraan, saya seorang India.
Menurut iman, saya seorang biarawati Katolik.
Menurut panggilan, saya milik dunia.
Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik Hati Yesus.”
~ Beata Teresa dari Calcutta
Agnes Gonxha Bojaxhiu dilahirkan pada
tanggal 26 Agustus 1910 di Skopje, sebagai yang
bungsu dari tiga bersaudara
putra-putri Bapak Nikola
dan Ibu Drane Bojaxhiu.
Pada usia delapan belas
tahun, bulan September
1928, Agnes masuk Biara
Suster-suster Loreto di
Irlandia. Ia memilih nama
Suster Maria Teresa sebagai
kenangan akan St. Theresia
Lisieux. Pada bulan
Desember, Sr Teresa
berangkat ke India dan tiba
di Calcutta pada tanggal 6
Januari 1929. sesudah
mengucapkan Kaul Pertamanya pada bulan Mei
1931, Sr Teresa ditugaskan untuk mengajar di
886
sekolah putri St Maria, Calcutta. Pada tanggal 24 Mei
1937, Sr. Teresa mengucapkan Kaul Kekalnya, dan
menjadi “pengantin Yesus” untuk “selama-lamanya”.
Sejak saat itu ia dipanggil Ibu Teresa. Ia tetap
mengajar di sekolah St Maria dan pada tahun 1944
diangkat sebagai kepala sekolah.
Pada tanggal 10 September 1946, dalam
perjalanan kereta api dari Calcutta ke Darjeeling
untuk menjalani retret tahunannya, Ibu Teresa
menerima “inspirasi”, “panggilan dalam panggilan”-
nya. Pada hari itu, dengan suatu cara yang tidak
pernah dapat dijelaskannya, dahaga Yesus akan
cinta dan akan jiwa-jiwa memenuhi hatinya. “Mari,
jadilah cahaya bagi-Ku.” Sejak itu, Ibu Teresa
dipenuhi hasrat “untuk memuaskan dahaga Yesus
yang tersalib akan cinta dan akan jiwa-jiwa” dengan
“berkarya demi keselamatan dan kekudusan orang-
orang termiskin dari yang miskin”. Pada tanggal 17
Agustus 1948, untuk pertama kalinya Ibu Teresa
tampil mengenakan sari putih dengan pinggiran
garis-garis warna biru. Ia keluar melewati gerbang
Biara Loreto yang amat dicintainya untuk memasuki
dunia orang-orang miskin.
Pada tanggal 21 Desember untuk pertama
kalinya Ibu Teresa keluar-masuk perkampungan
kumuh India. Ia mengunjungi keluarga-keluarga,
membasuh borok dan luka beberapa anak, merawat
seorang bapak tua yang tergeletak sakit di pinggir
jalan dan merawat seorang wanita sekarat yang
hampir mati sebab kelaparan dan TBC. Setiap hari
Ibu Teresa memulai hari barunya dengan persatuan
dengan Yesus dalam Ekaristi, lalu kemudian pergi
dengan rosario di tangan, untuk mencari dan
melayani Dia dalam “mereka yang terbuang, yang
teracuhkan, yang tak dikasihi”. sesudah beberapa
887
bulan, ia ditemani oleh, seorang demi seorang, para
pengikutnya yang pertama.
Pada tanggal 7 Oktober 1950, kongregasi
Misionaris Cinta Kasih memperoleh pengakuan dari
Gereja Katolik dengan persetujuan Paus Pius XII.
Awal tahun 1960-an, Ibu Teresa mulai mengutus
para susternya ke bagian-bagian lain India. Dekrit
Pujian yang dianugerahkan kepada Kongregasi oleh
Paus Paulus VI pada bulan Februari 1965 mendorong
Ibu Teresa untuk membuka rumah penampungan di
Venezuela. Langkah ini diikuti dengan langkah
serupa di Roma, Tanzania dan pada akhirnya di
setiap benua. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu
Teresa membuka rumah-rumah penampungan di
hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk
Uni Soviet, Albania dan Kuba. Namun demikian,
meskipun telah berdaya-usaha , ia tidak pernah
dapat membuka satu pun di Cina.
Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum
miskin, baik jasmani maupun rohani, dengan lebih
baik, Ibu Teresa membentuk Kongregasi Para
Biarawan Misionaris Cinta Kasih pada tahun 1963,
dan pada tahun 1976 membentuk Para Suster
Kontemplatif, pada tahun 1979 Para Biarawan
Kontemplatif, dan pada tahun 1984 Para Imam
Misionaris Cinta Kasih. Ia juga membentuk Kerabat
Kerja Ibu Teresa dan Kerabat Kerja Sick and
Suffering, yaitu orang-orang dari berbagai kalangan
agama dan kebangsaan dengan siapa ia berbagi
semangat doa, kesederhanaan, kurban silih dan
karya sebagai pelayan cinta kasih. Semangat ini
kemudian mengilhami terbentuknya Misionaris Cinta
Kasih Awam. Atas permintaan banyak imam, pada
tahun 1981 Ibu Teresa juga memulai Gerakan
Corpus Christi bagi Para Imam sebagai “jalan kecil
888
kekudusan” bagi mereka yang rindu untuk berbagi
karisma dan semangat dengannya.
Mata dunia mulai terbuka terhadap Ibu
Teresa dan karyanya. Berbagai penghargaan
dianugerahkan kepadanya, mulai dari Indian
Padmashri Award pada tahun 1962, Hadiah
Perdamaian dari Beato Paus Yohanes XXIII, Nobel
Perdamaian pada tahun 1979 dan penghargaan-
penghargaan lainnya seperti: Magsaysay (Philipina),
Warga Kehormatan India, Albania, USA, Doktor
Kehormatan bidang Teologi Kedokteran Manusia dan
diberikan kehormatan berpidato di depan Majelis
Umum PBB. Di samping itu berbagai media dengan
penuh minat mulai mengikuti perkembangan
kegiatannya. Ibu Teresa menerima baik
penghargaan maupun perhatian dunia “demi
kemuliaan Tuhan atas nama orang-orang miskin.”
Sepanjang tahun-tahun terakhir hidupnya,
meskipun mengalami gangguan penyakit yang cukup
parah, Ibu Teresa tetap mengendalikan
kongregasinya serta menanggapi kebutuhan orang-
orang miskin dan Gereja. Pada tahun 1997, para
biarawatinya telah hampir mencapai 4000 orang,
tergabung dalam 610 cabang dan tersebar di 123
negara dari berbagai belahan dunia. Pada bulan
Maret 1997, Ibu Teresa memberikan restu kepada
Sr. Nirmala MC, penerusnya sebagai Superior
Jenderal Misionaris Cinta Kasih. sesudah bertemu
dengan Paus Yohanes Paulus II untuk terakhir
kalinya, ia kembali ke Calcutta dan melewatkan
minggu-minggu terakhir hidupnya dengan menerima
kunjungan para tamu dan memberikan nasehat-
nasehat terakhir kepada para biarawatinya.
Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30
malam, hidup Ibu Teresa di dunia ini berakhir.
Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk ke
889
Gereja St. Thomas, gereja dekat Biara Loreto di
mana ia menjejakkan kaki pertama kalinya di India
hampir 69 tahun yang lalu. Ratusan ribu pelayat dari
berbagai kalangan dan agama, dari India maupun
luar negeri, berdatangan untuk menyampaikan
penghormatan terakhir mereka. Ibu Teresa
mendapat kehormatan dimakamkan secara
kenegaraan oleh Pemerintah India pada tanggal 13
September. Jenazahnya diarak dalam kereta yang
sama yang dulu digunakan mengusung jenazah
Mohandas K. Gandhi and Jawaharlal Nehru, melewati
jalan-jalan di Calcutta sebelum akhirnya
dimakamkan di Rumah Induk Misionaris Cinta kasih.
Segera saja makamnya menjadi tempat ziarah dan
tempat doa bagi banyak orang dari berbagai
kalangan agama, kaya maupun miskin. Ibu Teresa
mewariskan teladan iman yang kokoh, harapan yang
tak kunjung padam, dan cinta kasih yang luar biasa.
Jawaban atas panggilan Yesus, “Mari, jadilah cahaya
bagi-Ku,” menjadikannya seorang Misionaris Cinta
Kasih, seorang “ibu bagi kaum miskin”, sebagai
simbol belas kasih terhadap dunia, dan sebagai saksi
hidup bagi Tuhan yang dahaga.
26 April 2002, kurang dari dua tahun sejak
kematiannya, mengingat reputasi Ibu Teresa yang
tersebar luas sebab kekudusan dan karya-
karyanya, Paus Yohanes Paulus II memberikan
persetujuan untuk dimulainya proses kanonisasi Ibu
Teresa. Pada tanggal 20 Desember 2002 Bapa Suci
menyetujui dekrit keutamaan-keutamaannya yang
gagah berani dan mukjizat yang terjadi atas bantuan
doanya. 19 Oktober 2003 Paus Yohanes Paulus II
memaklumkan Ibu Teresa sebagai “BEATA TERESA
dari CALCUTTA”.
890
“Jangan pernah kita lupa akan teladan mengagumkan
yang diwariskan oleh Ibu Teresa, dan marilah kita
mengingatnya bukan hanya dalam kata-kata belaka!
Melainkan, dengan senantiasa memiliki keberanian untuk
memberikan prioritas pada kemanusiaan.” ~ Paus
Yohanes Paulus II
TERESA SOIRON (1794)
Semula ia yaitu pelayan wanita di istana.
Kemudian ia mengikuti suster-suster Karmilites dan
dibunuh bersama dengan mereka di Compiegne
(Perancis).
P: 17 Juli
SANTO THEODORUS TIRO († 306)
Theodorus hidup pada abad ketiga. Baru saja
ia diterima sebagai prajurit dalam ketentaraan
Romawi saat ia harus
mati demi imannya.
Meskipun masih muda,
Theodorus tahu
bagaimana menjaga
agar jiwanya bersih dan
kudus. Ia seorang yang
bijaksana yang sungguh
mengganggap setan
sebagai musuh
utamanya. saat
pasukannya berkemah
selama musim dingin di
daerah Pontus, semua
prajurit ikut ambil bagian dalam upacara
penyembahan dewa-dewi kafir. sebab ia seorang
Kristen, ia tahu bahwa dewa-dewi itu tidak ada. Jadi,
891
Theodorus menolak ikut serta dalam upacara-
upacara mereka. Maka, Theodorus ditangkap.
“Berani benar engkau menganut agama yang
diancam oleh kaisar dengan hukuman mati!” tuntut
sang gubernur. Tanpa ragu, prajurit muda itu
menjawab, “Saya tidak mengenal dewa-dewi tuan.
Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, Dia-lah Tuhan-
ku. Jika tuan menganggap jawaban saya sebagai
suatu penghinaan, silakan tuan potong lidah saya.
Setiap bagian tubuh saya siap menderita jika Tuhan
menghendaki pengurbanan yang demikian.”
Para hakim kafir meloloskan Theodorus sekali
itu. Kemudian, ia ditangkap kembali. Para hakim
mula-mula berusaha membujuknya dengan lemah-
lembut. saat usaha ini gagal, mereka
berusaha menakut-nakutinya dengan menyebutkan
segala siksa dan aniaya yang harus ia tanggung.
Pada akhirnya, mereka menyerahkan Theodorus
kepada para algojo.
saat prajurit yang telah disiksa dengan
aniaya itu dibawa kembali ke penjara, beberapa
orang mengatakan bahwa malaikat-malaikat datang
untuk menghiburnya. sesudah diinterogasi tiga kali,
akhirnya Theodorus dijatuhi hukuman mati dengan
dibakar hidup-hidup pada tahun 306. Sebuah gereja
yang indah kelak didirikan untuk menghormati
abunya. Banyak orang datang ke sana untuk mohon
bantuan doa sang martir.
SANTO THEODOSIUS (423-529)
Theodosius dilahirkan di Asia Kecil pada
tahun 423. Sebagai pemuda ia berangkat berziarah
ke Tanah Suci. Dikatakan bahwa ia terinspirasi oleh
perjalanan iman Abraham sebagaimana dicatat
dalam Kitab Kejadian dalam Kitab Suci.
892
sesudah mengunjungi tempat-tempat suci, ia
memutuskan untuk mengamalkan hidup doa. Ia
mohon bimbingan dari seorang kudus bernama
Longinus. Segera orang menyadari betapa kudus
Theodosius sendiri. Banyak orang mohon
diperkenankan bergabung dengannya. Mereka juga
rindu menjadi biarawan. Theodosius membangun
sebuah biara besar di Cathismus, dekat Betlehem.
Tak lama kemudian, biaranya telah dipenuhi dengan
para biarawan dari Yunani, Armenia, Arabia, Persia
dan negara-negara Slav.
Pada akhirnya, wilayah itu
berkembang menjadi
sebuah “kota kecil”. Satu
bangunan diperuntukkan
orang-orang sakit, satu
untuk orang-orang lanjut
usia, dan satu untuk kaum
miskin dan kaum tuna
wisma.
Theodosius
senantiasa murah hati. Ia
memberi makan suatu
antrian fakir miskin yang
tanpa akhir. Terkadang tampaknya tak akan tersedia
cukup makanan bagi para biarawan. namun
Theodosius menempatkan kepercayaan besar pada
Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan mereka yang
datang pergi dengan tangan kosong, bahkan meski
nyaris tak tersisa lagi makanan. Biara itu merupakan
suatu tempat yang amat damai. Para biarawan hidup
dalam keheningan dan doa. Semuanya berjalan
begitu baik hingga Patriark Yerusalem menunjuk
Theodosius sebagai pemimpin dari segenap biarawan
di timur. Bersama Santo Sabas ia membela iman,
mengurus rumah-rumah untuk orang jompo,
893
penderita sakit, tamu asing dan orang gila. Santo
Teognios († 522; P: 15 Februari) di kala remaja
yaitu muridnya yang kemudian menjadi uskup.
Theodosius wafat pada tahun 529 dalam usia
106 tahun. Patriark Yerusalem dan banyak orang
menghadiri pemakamannya. Theodosius
dimakamkan di mana ia pertama-tama hidup
sebagai seorang biarawan. Tempat itu disebut Gua
Para Majus. Orang percaya bahwa Para Bijak tinggal
di sana saat mereka datang dalam perjalanan
mencari Yesus.
P: 11 Januari
SANTO THEOPHANE VENARD († 2 Februari
1861)
Bahkan semasa mudanya, imam Perancis
yang kudus ini telah berangan-angan untuk menjadi
seorang martir. Ia bersekolah
untuk menjadi seorang imam.
Kemudian ia masuk seminari
untuk para misionaris di Paris,
Perancis. Keluarganya, yang
sangat ia kasihi, teramat sedih
memikirkan bahwa kelak,
sesudah menjadi imam, ia
akan meninggalkan mereka.
Pada masa itu perjalanan
tidaklah semudah seperti
sekarang ini. Theophane sadar
bahwa perjalanannya
menyeberangi samudera luas
ke Timur hampir dapat dipastikan akan
memisahkannya dari keluarganya sepanjang
hidupnya.
894
“Saudariku tersayang,” demikian tulisnya
dalam salah satu suratnya, “betapa aku menangis
saat membaca suratmu. Ya, aku sadar sepenuhnya
akan penderitaan besar yang aku timbulkan bagi
keluarga kita. Aku pikir, terlebih-lebih lagi betapa
dahsyat penderitaan itu bagimu, adikku terkasih.
namun , tidakkah kamu berpikir bahwa aku
mencucurkan banyak air mata juga? Dengan
mengambil keputusan demikian, aku sadar bahwa
aku akan memicu penderitaan teramat besar
bagi kalian semua. Siapakah yang mencintai
keluarganya lebih dibandingkan aku? Seluruh
kebahagiaanku di dunia ini berasal dari sana. namun
Tuhan, yang telah mempersatukan kita semua
dalam ikatan cinta kasih mesra, ingin menarikku dari
sana.”
sesudah ditahbiskan menjadi imam,
Theophane berangkat ke Hong Kong. Ia mulai
berlayar pada bulan September 1852. Ia belajar
beberapa bahasa asing selama lebih dari setahun di
sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke
Tongking. Dua rintangan menghambat karya
misionaris kita yang penuh semangat ini, yaitu:
kesehatannya yang buruk dan penganiayaan yang
dahsyat. namun ia terus berjuang dengan gigih.
Sering ia menulis kepada saudarinya yang terkasih
di Perancis tentang segala petualangan serta
pengalamannya meloloskan diri dari para
penganiayanya. Akhirnya, sesudah dengan gigih
melayani banyak umat Kristiani di Tongking,
Theophane tertangkap juga. Ia dirantai dan
dimasukkan dalam kurungan selama dua bulan.
Sikapnya yang lemah lembut meluluhkan hati
semua orang, bahkan para sipir penjara. Ia berhasil
menulis sepucuk surat kepada keluarganya di mana
ia menulis, “Semua orang di sekitarku yaitu orang
895
yang beradab serta sopan. Banyak dari antara
mereka yang mengasihiku. Dari pejabat tinggi
hingga prajurit yang terendah sekali pun, semua
menyesalkan bahwa hukum negara menjatuhkan
hukuman mati. Aku tidaklah mereka siksa seperti
saudara-saudaraku yang lain.” Namun demikian,
simpati mereka tidaklah dapat menyelamatkan
nyawanya. sesudah St. Theophane dipenggal
kepalanya, kerumunan umat berebut mencelupkan
saputangan mereka pada darahnya (sebagai reliqui).
St. Theophane wafat sebagai martir pada tanggal 2
Februari 1861. Pastor Venard dinyatakan kudus oleh
Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988.
Ia yaitu salah seorang dari Para Martir Vietnam
yang pestanya dirayakan pada tanggal 24
November.
SANTA THERESIA dari AVILLA (28 Maret
1515-1582)
Theresia dilahirkan di Avila, Spanyol, pada
tanggal 28 Maret tahun 1515. Sebagai seorang gadis
kecil di rumah keluarganya
yang kaya, Theresia dan
kakaknya: Rodrigo suka
sekali membaca riwayat
hidup para kudus dan para
martir. Bagi mereka,
tampaknya menjadi martir
yaitu cara mudah untuk
dapat pergi ke surga. Oleh
sebab itu kedua anak
ini secara diam-diam
berencana untuk pergi ke
tanah Moor. Sementara
mereka menapaki jalan,
896
mereka berdoa agar mereka boleh wafat bagi
Kristus. namun , mereka belumlah jauh dari rumah
saat mereka bertemu dengan paman mereka.
Sesaat itu juga sang paman membawa mereka
pulang ke pelukan ibu mereka yang sudah teramat
cemas. Kemudian, anak-anak itu bermaksud untuk
menjadi pertapa di pekarangan rumah mereka.
Rencana ini pun tidak berhasil juga. Mereka tidak
dapat mengumpulkan cukup banyak batu untuk
membangun gubug mereka. St. Teheresia sendirilah
yang menuliskan kisah masa kecilnya yang
menggelikan itu.
Namun demikian, saat Theresia tumbuh
menjadi seorang gadis remaja, ia berubah. Ia
banyak membaca artikel -artikel novel dan kisah-kisah
roman picisan hingga ia tidak punya banyak waktu
lagi untuk berdoa. Ia lebih banyak memikirkan cara
merias serta mendadani dirinya agar tampak cantik.
namun , sesudah ia sembuh dari suatu penyakit parah,
Theresia membaca sebuah artikel tentang St.
Hieronimus yang hebat. Pada saat itu juga, ia
bertekad untuk menjadi pengantin Kristus. saat
menjadi seorang biarawati, amatlah susah bagi
Theresia untuk berdoa. Selain itu, kesehatannya pun
buruk. Ia menghabiskan waktunya setiap hari
dengan mengobrol tentang hal-hal yang remeh.
Suatu hari, di hadapan lukisan Yesus, ia merasakan
suatu kesedihan yang mendalam bahwa ia tidak lagi
mencintai Tuhan. Sejak itu, ia mulai hidup hanya
bagi Yesus saja, tidak peduli betapa pun besarnya
pengorbanan yang harus dilakukannya.
Sebagai balas atas cintanya, Kristus
memberikan kepada St. Theresia karunia untuk
mendengar-Nya berbicara kepadanya. Ia juga mulai
belajar berdoa dengan cara yang mengagumkan
juga. St. Theresia dari Avila terkenal sebab
897
mendirikan biara-biara Karmelit yang baru. Biara-
biara ini dipenuhi oleh para biarawati yang
rindu untuk hidup kudus. Mereka banyak berkurban
untuk Yesus. Theresia sendiri memberi teladan
kepada mereka. Ia berdoa dengan cinta yang
menyala-nyala dan bekerja keras melakukan tugas-
tugas biara. St. Theresia yaitu seorang pemimpin
besar dan seorang yang sungguh-sungguh
mengasihi Yesus serta Gereja-Nya. Ia wafat pada
tahun 1582 dan dinyatakan kudus oleh Paus
Gregorius XV pada tahun 1622. Ia digelari Pujangga
Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.
Santa Theresia dari Avilla atau “Theresa
Besar” (28 Maret 1515-1582), pembaharu
hidup membiara, mistikus dan pujangga Gereja;
lahir di Avilla dan meninggal di Alba (Spanyol).
Ia dihormati sebagai pelindung Negara Spanyol.
B: Resa, Resi Tea, Teresia, Trees; L: seorang
suster berjubah coklat dengan hati tertembus
panah pada dadanya dan artikel dalam
tangannya; P: 15 Oktober
SANTA THERESIA LISIEUX
(2 Januari 1873-30 September 1897)
• KISAH HIDUP THERESIA
Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon,
Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ayahnya
bernama Louis Martin dan ibunya Zelie Guerin.
Pasangan ini dikarunia sembilan orang anak,
namun hanya lima yang bertahan hidup hinga
dewasa. Kelima bersaudara itu semuanya puteri dan
semuanya menjadi biarawati!
saat Theresia masih kanak-kanak, ibunya
terserang penyakit kanker. Pada masa itu, mereka
belum memiliki obat-obatan dan perawatan khusus
seperti sekarang. Para dokter mengusahakan yang
898
terbaik untuk menyembuhkannya, namun penyakit
Nyonya Martin bertambah parah. Ia meninggal dunia
saat Theresia baru berusia empat tahun.
Sepeninggal isterinya, ayah Theresia
memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana
kerabat mereka tinggal. Di dekat sana ada sebuah
biara Karmel di mana para suster berdoa secara
khusus untuk kepentingan seluruh dunia. saat
Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya,
Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat
berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi "ibunya
yang kedua", merawatnya dan mengajarinya, serta
melakukan semua hal seperti
yang dilakukan ibumu untuk
kamu. Theresia sangat
kehilangan Pauline hingga ia sakit
parah. Meskipun sudah satu
bulan Theresia sakit, tak satu pun
dokter yang dapat menemukan
penyakitnya. Ayah Theresia dan
keempat saudarinya berdoa
memohon bantuan Tuhan.
Hingga, suatu hari patung Bunda
Maria di kamar Theresia
tersenyum padanya dan ia
sembuh sama sekali dari
penyakitnya!
Suatu saat , Theresia mendengar berita
tentang seorang penjahat yang telah melakukan tiga
kali pembunuhan dan sama sekali tidak merasa
menyesal. Theresia mulai berdoa dan melakukan
silih bagi penjahat itu (seperti menghindari hal-hal
yang ia sukai dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan
yang kurang ia sukai). Ia memohon pada Tuhan
untuk mengubah hati penjahat itu. Sesaat sebelum
kematiannya, penjahat itu meminta salib dan
899
mencium Tubuh Yesus yang tergantung di kayu
salib. Theresia sangat bahagia! Ia tahu bahwa
penjahat itu telah menyesali dosanya di hadapan
Tuhan.
Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin
mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia
ingin masuk biara Karmel agar ia dapat
menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan
berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan
mengasihi Tuhan. namun masalahnya, ia terlalu
muda. Jadi, ia berdoa dan menunggu dan menunggu
dan berdoa. Hingga akhirnya, saat umurnya lima
belas tahun, atas ijin khusus dari Paus, ia diijinkan
masuk biara Karmelit di Liseux.
Apa yang dilakukan Theresia di biara? Tidak
ada yang istimewa. namun , ia memiliki suatu
rahasia: CINTA. Suatu saat Theresia mengatakan,
"Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini
atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya." Jadi,
Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia
berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar,
walaupun itu bukan hal yang selalu mudah. Para
suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan
tangan. Seorang suster tanpa sengaja selalu
mencipratkan air kotor ke wajah Theresia. namun
Theresia tidak pernah menegur atau pun marah
kepadanya. Theresia juga menawarkan diri untuk
melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut
dan banyak kali mengeluh sebab sakitnya. Theresia
berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani
Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi
sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai yaitu
pekerjaan yang membuat Theresia sangat bahagia.
Hanya sembilan tahun lamanya Theresia
menjadi biarawati. Ia terserang penyakit
tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat
900
menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat
menyembuhkan penyakit TBC. Dokter hanya bisa
sedikit menolong. saat ajal menjelang, Theresia
memandang salib dan berbisik, "O, aku cinta pada-
Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!" Pada tanggal 30
September 1897, Theresia meninggal dunia saat
usianya masih duapuluh empat tahun. Sebelum
wafat, Theresia berjanji untuk tidak menyerah pada
rahasianya. Ia berjanji untuk tetap mencintai dan
menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal
Thresesia mengatakan, "Dari surga aku akan
berbuat kebaikan bagi dunia." Dan ia menepati
janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang
memohon bantuan St. Theresia untuk mendoakan
mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban
atas doa-doa mereka.
• sesudah THERESIA WAFAT
sesudah wafat, Theresia menjadi terkenal
sebab artikel yang ditulisnya "Kisah Suatu Jiwa,"
yang diterbitkan satu tahun sesudah wafatnya (di
Indonesia diterjemahkan dengan judul: 'Aku Percaya
akan Cinta Kasih Allah'). Theresia dikanonisasi pada
tahun 1925 oleh Paus Pius X. Ia dikenal dengan
sebutan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau
Santa Theresia si Bunga Kecil. St. Theresia bersama-
sama dengan St. Jeanne d'Arc diberi gelar Pelindung
Perancis. Selain itu St. Theresia bersama-sama
dengan St. Fransiskus Xaverius diberi gelar
Pelindung Misionaris. Baru-baru ini, tanggal 19
Oktober 1997, Theresia juga menjadi wanita ke-3
yang diberi gelar Doktor Gereja. Kalian dapat mohon
bantuannya mengenai apa saja. Ia pernah berjanji
akan melimpahi kita dengan bunga-bunga mawar
dari surga dan memang, sejak kematiannya banyak
901
mukjizat yang terjadi berkat bantuan doanya.
Pestanya dirayakan setiap tanggal 1 Oktober.
• RAHASIA THERESIA : JALAN KECIL,
JALAN KANAK-KANAK ROHANI
Theresia seorang gadis yang sederhana
dengan `jalan kecilnya' yang istimewa. Ia
menunjukkan bahwa kekudusan dapat dicapai oleh
siapa saja betapa pun rendah, hina dan biasanya
orang itu. Caranya ialah dengan melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari
dengan penuh cinta kasih murni kepada Tuhan.
Kamu pun dapat menjadi kudus dengan cara-cara
sederhana seperti yang dilakukan oleh St. Theresia
dengan jalan kecilnya.
DOA
O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus
tolong petikkan bagiku sekuntum mawar
dari taman surgawi dan
kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta.
O Bunga Kecil dari Yesus
mintalah kepada Allah hari ini
untuk menganugerahkan rahmat yang sangat
kubutuhkan ………
(katakan kepada St. Theresia permohonanmu)
Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa
percaya
kepada belaskasih Allah yang sedemikian besar,
sebagaimana telah engkau wujudkan di dalam
hidupmu,
sehingga aku boleh mengikuti 'Jalan Kecil'mu setiap
hari.
Amin.
902
• CATATAN ST. THERESIA DARI KANAK-
KANAK YESUS
"Oh Yesus, aku tahu cinta hanya dapat
dibalas dengan cinta, maka aku sudah
menemukan alat untuk memuaskan hatiku
dengan memberikan cinta kepada Cinta-Mu."
(Otobiografi)
"Kamu ingin susaha aku memberitahukan
sarana untuk menjadi sempurna. Aku hanya
tahu satu ini saja: CINTA." (Otobiografi, surat
kepada Marie Guerin)
"Perbuatan-perbuatan yang gemilang bukan
untukku.... Jadi, bagaimanakah akan
kubuktikan cintaku, sebab cinta dibuktikan
dalam perbuatan? Dengan perbuatan dan
kurbanku yang kecil-kecil. Ya Yesus, hal-hal
kecil yang tak berarti itu akan menyenangkan
Engkau!" (Otobiografi)
"Aku merasa diriku dikuasai oleh sekian
banyak kelemahan, namun itu tidak pernah
membuatku heran ... alangkah manisnya
merasakan diriku lemah dan kecil."
(Percakapan Terakhir)
"Kekudusan yaitu suatu sikap hati, yang
menempatkan kita ke dalam tangan Tuhan,
kecil dan rendah hati, menyadari kelemahan
kita dan secara buta mengandalkan kebaikan
Ke-Bapaan-Nya." (Percakapan Terakhir)
"Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di
salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang
menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa
sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke
tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku
pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di
kaki salib susaha dapat menampung darah
903
Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku
mengerti bahwa sesudah itu aku harus
menuangkannya atas jiwa-jiwa."
(Otobiografi)
Santa Theresia Lisieux atau Theresia dari
Kanak-kanak Jesus (2 Januari 1873-30
September 1897), pelindung misi (bersama
Santo Fransiskus Xaverius); L: bunga mawar;
P: 1 Oktober
THADDAIOS (816)
Budak belian ini dimerdekakan, lalu menjadi
biarawan. sebab tidak mau menyingkirkan gambar-
gambar suci yang ada dalam gereja, ia
dicambuk dengan kumparan kulit sapi sebanyak 120
kali, sehingga dua hari kemudian meninggal.
A: yang berani (H); P: 29 Desember
THIMO (1040-1101)
Uskup Salzburg (Austria) ini memperbaharui
semangat iman di keuskupannya. sebab masalah
politik ia terpaksa mengungsi. Thimo terjun dalam
perang salib, ditangkap dan dibunuh sebab menolak
masuk Islam.
P: 28 September
THOMAS († 1321)
Dibebaskan dari penjara oleh jendral
Fransiskan dan kemudian diutus ke Armenia. Raja
Armenia sangat simpati kepadanya dan
menjadikannya duta. Suatu saat ia bersama
904
Fransiskan-Fransiskan lainnya, yaitu Yakobus, Petrus
dan Demetrius diutus ke Tiongkok. namun kapal
mereka kandas di pulau Salsalete dekat Bombay. Di
sini mereka dibunuh oleh orang-orang Isalm
setempat.
P: 9 April
SANTO THOMAS AQUINAS († 7 Maret
1274)
Thomas hidup pada abad ketigabelas. Ia
yaitu putera dari sebuah keluarga bangsawan di
Italia. Thomas seorang yang amat cerdas, namun

