Injil Yudas

 



Kontroversi seputar Injil Yudas mulai mencuat ke publik melalui pemberitaan National 

Geographic pada bulan April 2006, walaupun beberapa sarjana mengaku sebelumnya pernah 

melihat atau ditawari naskah kuno ini  oleh pedagang barang kuno. Pasca pemberitaan 

ini, bak bola salju, isu tentang Injil Yudas terus menggelinding memancing reaksi dari 

berbagai kalangan. Berbagai seminar mulai diadakan, baik dalam tingkat populer (untuk 

jemaat awam) maupun akademis (untuk para teolog).  

 

Bagaimana proses ditemukannya Injil Yudas? Apakah manuskrip itu benar-benar otentik 

(kuno)? Bagaimana konsep tentang Yesus dalam Injil Yudas? Apakah pengaruhnya bagi 

kekristenan? Bagaimana kita menyikapi isu ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi 

fokus pembahasan kita kali ini. 

 

Penemuan Injil Yudas 

 

Keberadaan Injil Yudas seharusnya tidak memicu  kekagetan yang luar biasa bagi orang 

Kristen, seolah-olah kitab ini baru diketahui sekarang. Irenaeus, bapa gereja yang hidup pada 

abad ke-2 M, dalam bukunya Against Heresies pernah menyebut keberadaan Injil Yudas, 

walaupun ia tidak mencatat apa isi kitab kuno itu. Dia hanya menyatakan kalau kitab ini 

yaitu  sesat dan sejarah fiktif (fictitious histories). 

 

Isu modern tentang Injil Yudas berkaitan dengan sebuah penemuan kitab kuno yang di 

dalamnya ada  Injil Yudas di dekat El Minya, Mesir, pada tahun 1970-an oleh seorang 

pencari barang kuno Mesir yang sekarang sudah meninggal dunia. Manuskrip Injil Yudas 

yang ditemukan ditulis dalam bahasa Mesir Coptic pada awal abad ke-4 M (teks asli dari Injil 

Yudas dipercaya ditulis dalam bahasa Yunani pada pertengahan abad ke-2 M). Tahun 1978 

orang ini  menjual kitab kuno ini kepada Hanna, kolektor barang kuno di Kairo. Sekitar 

tahun 1980 sebagian besar koleksi Hanna, termasuk kitab kuno yang berisi Injil Yudas itu, 

dicuri melalui sebuah upaya perampokan dan dibawa keluar dari Mesir. Setelah berkoordinasi 

seorang kolektor barang antik di Genewa, Hanna akhirnya berhasil mendapatkan kitab itu 

kembali. 

 

Hanna yaitu  orang pertama yang menunjukkan kitab kuno ini kepada para ahli dan mereka 

mengakui otentisitas dan signifikansi dari barang kuno ini . Pada tahun 1983, Stephen 

Emmel dan dua orang temannya yang ahli dalam tulisan-tulisan kuno dipanggil untuk 

menyaksikan manuskrip ini di sebuah hotel di Genewa, namun ketiganya dilarang untuk 

mengambil foto atau catatan. Ketiganya langsung mengenali bahwa manuskrip itu sangat tua 

dan penting, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kitab itu berisi Injil Yudas (mungkin 

sebab  mereka hanya diberi waktu 30 menit untuk melihat kitab kuno itu). Pertemuan 

ini  berakhir tanpa adanya transaksi sebab  harga 3 juta dollar US yang diminta Hanna 

dianggap terlalu tinggi. Tahun 1984 Hanna mencoba menjual kitab kuno itu lagi di Amerika. 

2/7 

Usaha ini kembali gagal dan Hanna akhirnya menyimpan kitab itu di sebuah kotak deposit 

keamanan (safe-deposit box) di Hicksville, New York selama 16 tahun.  

 

Akhirnya seorang pedagang barang antik dari kota Zurich yang bernama Frieda Nussberger-

Tchacos membeli kitab kuno ini  pada bulan April 2000. Ia selanjutnya menyerahkan 

barang itu kepada Beinecke Rare Book and Manuscript Library untuk diuji dan bila 

memungkinkan sekalian dijual. Seorang ahli papirus dari Universitas Yale yang bernama 

Robert Babcock meneliti barang itu dan memastikan bahwa Tchacos memiliki salah satu 

salinan/terjemahan Injil Yudas yang selama ini hanya diketahui para sarjana dari pernyataan 

bapa gereja Irenaeus. Sekalipun penemuan ini sangat mencengangkan, namun Universitas 

Yale tidak mau membeli kitab itu. 

 

Tidak lama kemudian, Tchacos berusaha menjual kepada seorang pedagang barang kuno dari 

Amerika bernama Bruce Ferrini. Tchacos diberi sebuah cek kosong. Dari pengalaman ini ia 

yakin bahwa Ferrini tidak memiliki cukup uang untuk membeli barang kuno itu. Dengan 

bantuan beberapa pedagang barang kuno yang terkenal, Tchacos berhasil mendapatkan 

kembali kitab itu dari tangan Ferrini. Setelah dua kali kegagalan dalam usaha menjual kitab 

kuno ini dan sebab  keadaan kitab itu yang makin memburuk, Tchacos pada bulan Februari 

2001 menyerahkan kitab ini kepada Maecenas Foundation for Ancient Art di Basel, Swiss, 

untuk direstorasi dan diterjemahkan. Organisasi ini selanjutnya bekerja sama dengan National 

Geographic Society (Washington) dan Waitt Insttitute for Historical Discoveries (California). 

Selanjutnya manuskrip Injil Yudas ini  dipamerkan kepada publik di National 

Geographic Museum, sebelum akhirnya dikirim ke Cairo’s Coptic Museum untuk disimpan 

secara permanen.  

 

Isu seputar Injil Yudas semakin menjadi wacana publik melalui pemberitaan National 

Geographic maupun terjemahannya ke dalam bahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 

2006 (The Gospel of Judas. Edited by Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, and Gregor Wurst 

with Additional Commentary by Bart D. Ehrman. Washington, D.C.:National Geographic 

Society, 2006). Di Indonesia, terjemahan Injil Yudas diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada 

tahun 2006 juga. 

 

Otentisitas 

 

Otentisitas berhubungan dengan pertanyaan apakah manuskrip Injil Yudas yang ditemukan 

benar-benar berasal dari abad permulaan (kuno). Pertanyaan seperti ini sangat wajar 

dikemukakan, sebab  beberapa penemuan arkheologi yang dulu diklaim berasal dari abad 

kuno ternyata hanyalah produk abad-abad yang lebih modern. Beragam jenis pengujian 

ternyata memang menunjukkan bahwa manuskrip Injil Yudas yang ditemukan benar-benar 

berasal dari abad permulaan. 

1. Pengujian radiocarbon (C14) di laboratorium Universitas Arizona di Tucson terhadap 

papirus dan kulit pengikat kitab menunjukkan kisaran tahun 220-340 M. Sebagai 

informasi, laboratorium ini yaitu  laboratorium yang sama yang dipakai untuk mengukur 

usia Naskah Laut Mati. 

2. Analisa forensik terhadap tinta secara ekstensif dan tes gambar multispektral merujuk 

pada periode yang sama. 

3. Bukti kontekstual – isi, gaya bahasa dan jenis huruf – menunjukkan bahwa manuskrip ini 

sejaman dengan berbagai naskah Gnostik kuno yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir. 

Semau naskah ini  kemungkinan besar ditulis pada abad ke-3 dan ke-4 M. 

3/7 

 

Dari beragam jenis pengujian di atas, otentisitas manuskrip Injil Yudas yang ditemukan 

merupakan hal yang tidak bisa dibantah. Apa yang ditemukan memang berasal dari abad 

permulaan. Tingkat kemungkinan adanya seseorang pada abad modern yang menuliskan 

manuskrip ini  yaitu  sangat kecil: ia harus memiliki papirus dan tinta kuno; ia juga 

harus menguasai tata bahasa Coptic yang hanya dikuasai oleh segelintir ahli saja; ia harus 

mengikat semua lembaran ini  dengan kulit kuno. 

 

Walaupun manuskrip Injil Yudas yang ditemukan memang berasal dari abad kuno, namun 

hal ini tidak berarti apa yang ditulis yaitu  benar dan berotoritas. Kita perlu mengetahui 

bahwa ada banyak tulisan kuno -  sebagian bahkan jauh lebih kuno daripada Injil Yudas - 

yang sekarang berhasil ditemukan, tetapi hal itu tidak berarti bahwa semua yang tertulis di 

dalamnya yaitu  benar. Kekunoan suatu tulisan tidak berkaitan dengan ketepatan isi dari 

tulisan ini . Berbagai pengujian di atas hanya memastikan bahwa manuskrip yang 

ditemukan bukanlah hasil rekayasa orang modern dan dengan demikian semakin menguatkan 

pendapat para ahli bahwa manuskrip ini  yaitu  salah satu terjemahan dari versi asli 

bahasa Yunani yang disinggung oleh Irenaeus dalam bukunya Against Heresies. 

 

Rekonstruksi teks 

 

Apakah manuskrip Injil Yudas yang ditemukan dan sekarang diterjemahkan bisa mewakili 

naskah asli yang dipercayai ditulis dalam bahasa Yunani? Kita sulit menjawab pertanyaan ini. 

Manuskrip Tchacos merupakan satu-satunya manuskrip Injil Yudas yang ditemukan, 

sehingga kita tidak bisa membuat perbandingan untuk merekonstruksi teks aslinya. Kita juga 

tidak boleh melupakan fakta bahwa manuskrip yang ditemukan hanyalah terjemahan, bukan 

salinan. Sebagai sebuah terjemahan, manuskrip ini  pasti melibatkan unsur interpretasi. 

 

Selain faktor di atas, keadaan manuskrip yang ditemukan juga bisa dikatakan buruk, sehingga 

sangat tidak memadai untuk mencapai tahap kepastian apakah manuskrip itu sesuai dengan 

naskah aslinya. Pada saat Maecenas Foundation for Ancient Art memanggil Kasser dan ahli 

yang lain untuk memeriksan, merestorasi dan menerjemahkan manuskrip ini , 

keadaannya cukup parah. Pengikat kulit yang menghubungkan lembaran-lembaran papirus 

yang ada sudah lepas. Beberapa halaman papirus sudah terpecah-pecah menjadi ratusan 

fragmen. Sentuhan sedikit saja akan membuat lembaran papirus hancur menjadi sobekan-

sobekan kecil. Beberapa halaman mulai menghitam, sehingga kalimat yang ada di dalamnya 

sulit untuk dikenali. Susunan halaman dari kitab ini juga tidak sesuai dengan aslinya. 

Kemungkinan besar si penjual sangaja meletakkan lembaran-lembaran yang masih bagus di 

bagian depan sehingga menarik perhatian calon pembeli. Begitu buruknya kondisi kitab kuno 

ini , sampai-sampai membuat Rodolphe Kasser, salah seorang ahli yang terlibat dalam 

rekonstruksi dan terjemahan Injil Yudas, mengatakan bahwa mereka membutuhkan sebuah 

lompatan iman yang ditopang dengan pengharapan untuk merekonstruksi kitab itu. Usaha 

rekonstruksi yang dilakukan ahli rekonstruksi Florence Darbre dan ahli bahasa Coptic Gregor 

Wurst ini dianggap sangat memuaskan (90-95% berhasil direkonstruksi), walaupun sebagian 

baris tetap tidak bisa direkonstruksi sebab  lubang pada papirus. Selain Injil Yudas, kitab 

kuno lain yang ditemukan yaitu  Apokaliptis Yakobus Pertama (First Apocalypse of James), 

Surat Petrus kepada Filipus (A Letter of Peter to Philip) dan fragmen dari sebuah kitab yang 

diberi nama Kitab Allogenes (The Book of Allogenes).  

 


Yesus dalam Injil Yudas: sebuah kontroversi 

 

Injil Yudas tidak berisi banyak narasi seperti yang ditemukan dalam kitab-kitab injil kanonik. 

Injil Yudas terfokus pada percakapan rahasia antara Yesus dan Yudas Iskariot seminggu 

sebelum peristiwa penyaliban Yesus, walaupun kita juga bisa mengetahui konsep-konsep lain 

yang tersirat dalam percakapan rahasia ini, misalnya konsep tentang Allah, penciptaan, 

Kristus dan keselamatan. Menurut Injil Yudas, Yudas bukanlah pengkhianat. Sebaliknya, ia 

yaitu  sahabat dan pahlawan bagi Yesus. Dalam sebuah percakapan rahasia, Yesus meminta 

tolong kepada Yudas, “engkau akan mengorbankan manusia (daging yang bersifat materi) 

yang melingkupi aku”. Ungkapan ini merujuk pada upaya Yesus untuk membebaskan jiwa-

Nya dari tubuh-Nya yang jahat. Dengan menyerahkan Yesus kepada musuh-musuh-Nya, 

Yudas justru telah membantu Yesus melaksanakan rencana Allah. 

 

Cerita kontroversial tentang Yesus seperti ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Dari 

dulu sampai sekarang Yesus memang selalu menjadi pusat kontroversi. Yang membuat isu 

tentang Injil Yudas menjadi semakin populer yaitu  pandangan para sarjana liberal tentang 

apa yang diajarkan dalam Injil Yudas. Menurut mereka, Injil Yudas bukan hanya 

memberikan alternatif lain tentang figur Yudas, namun tulisan kuno ini juga “membuktikan” 

bahwa pada masa awal gereja, kekristenan belum memiliki keseragaman konsep. Upaya 

untuk menyeragamkan teologi kekristenan baru dilakukan setelah kekristenan diterima 

sebagai agama resmi negara pada awal abad ke-4 melalui Edict Milan yang dikeluarkan oleh 

Kaisar Konstantinopel. Dengan kuasa yang semakin besar, kekristenan ortodoks dianggap 

telah menindas dan memusnahkan semua kitab maupun ajaran lain, termasuk Injil Yudas. 

Tidak heran, mereka menyebut Injil Yudas sebagai injil yang hilang. berdasar  

pemahaman seperti ini, mereka berpendapat bahwa kisah tentang Yesus dalam Alkitab 

hanyalah salah satu versi dan tidak bisa mewakili figur Yesus yang sesungguhnya. Dengan 

kata lain, Yesus di dalam Alkitab yaitu  Yesus ciptaan sekte Kristen yang dominan. Semua 

ini terangkum dalam pernyataan Kasser sebagai berikut: "kita dapat menganggap ini sebagai 

sebuah mujizat nyata bahwa [karya tulis kuni seperti ini – khususnya yang diancam oleh 

kebencian pihak mayoritas pembaca pada masa itu yang memandang hal ini sebagai sebuah 

aib dan skandal, yang ditentukan untuk dimusnahkan,…tiba-tiba muncul dan dibawa kepada 

terang”. 

 

Analisa kritis terhadap Injil Yudas 

 

Bagaimana kita menyikapi isu seputar penemuan Injil Yudas ini? Respon pertama yaitu  kita 

tidak perlu terkejut. Tidak ada yang baru di bawah matahari (Pkh 1:9). Sebagaimana sudah 

disinggung secara sekilas, berbagai konsep tentang Yesus yang berbeda dengan Alkitab telah 

muncul dari masa ke masa. Bapa gereja Origen (abad ke-3 M) menulis sebuah buku untuk 

menentang pandangan Celsus (175 M), seorang pengikut neo-platonisme,  yang menuduh 

Yesus lahir dari perselingkuhan Maria dengan tentara Romawi serta memiliki kuasa dari ilmu 

sihir Mesir. Beberapa tulisan para rabi abad ke-3 sampai ke-6 M juga menyiratkan hal yang 

sama. Yang penting bukanlah berapa banyak versi tentang Yesus yang muncul. Yang paling 

penting yaitu  di antara semua versi ini  manakah yang paling otentik (sesuai dengan 

Yesus yang asli)? 

 

 

 

 

5/7 

Ujian kredibilitas kitab kuno 

 

Sekarang marilah kita menguji kredibilitas Injil Yudas berdasar  kriteria yang biasa 

dipakai untuk menguji kitab kuno. Ada 3 (tiga) ujian yang harus dilakukan: 

(1) Bibliographical test (ujian bibliografi): apakah interval waktu antara peristiwa-penulisan-

penyalinan dekat? Apakah jumlah salinan memadai untuk dipakai sebagai perbandingan 

dalam merekonstruksi naskah aslinya? 

(2) Interval evidence test (ujian bukti dari dalam): apakah suatu tulisan menunjukkan indikasi 

yang kuat bahwa penulisnya serius dengan fakta yang dia ungkap? 

(3) External evidence test (ujian bukti dari luar): apakah ada sumber-sumber lain di luar 

tulisan ini  yang meneguhkan apa yang ditulis? 

 

Aplikasi dari tiga kriteria di atas menghasilkan konklusi seperti terlihat dari tabel berikut ini: 

 

Kitab injil kanonik Injil Yudas 

 

Peristiwa dan penulisan dilakukan pada abad 

ke-1 M. Kehidupan Yesus antara 6 SM – 28 M, 

Perjanjian Baru ditulis antara akhir 40-an 

sampai akhir 80-an. 

Jarak antara “peristiwa” (jika yang dicatat yaitu  

benar) dan penulisan lebih dari satu abad. 

Salinan tertua ditulis tahun 125 M Salinan tertua ditulis pada abad ke-3 atau ke-4 M. 

Jumlah salinan mencapai lebih dari 5000 Jumlah salinan hanya satu 

Kitab-kitab injil memiliki rujukan waktu, 

tempat dan jabatan tokoh yang jelas, sehingga 

menunjukkan keseriusan penulisnya terhadap 

fakta (kebenaran catatan ini  dapat dicek) 

Tidak ada rujukan tempat, waktu, dsb. Injil 

Yudas didominasi oleh percakapan, itupun 

disebut sebagai “percakapan rahasia”  

Beberapa ayat tampak sulit dimengerti menurut 

perspektif iman ortodoks, misalnya Yesus tidak 

tahu kapan Ia akan datang kembali (Mat 

24:36//Mar 13:32). Hal ini mengindikasikan 

kesetiaan penulis terhadap tradisi yang ada, 

walaupun itu sekilas sulit dipahami dalam 

kerangka berpikir teologis penulis. 

Semua yang ada dalam Injil Yudas menunjukkan 

warna Gnostisisme yang kental dan konsisten. 

Tidak ada satu bagian pun yang tampak berpihak 

pada iman ortodoks. 

Arkheologi dan para penulis kafir kuno 

menyebutkan beberapa hal yang sama yang 

dicatat dalam Perjanjian Baru 

Tidak (belum) ada bukti eksternal yang 

meneguhkan, sebab  memang tidak ada rujukan 

historis yang diberikan. 

 

Warna Gnostisisme dalam Injil Yudas 

 

Pemikiran Gnostik kemungkinan besar sudah muncul sejak abad ke-1 M, sebab  secara 

esensial pemikiran Gnostik bersumber dari konsep dualisme Hellenis yang sudah umum pada 

abad ke-1 M. Hampir semua sarjana umumnya berpendapat bahwa pemikiran Gnostik baru 

menjadi sebuah “isme” (paham) pada abad ke-2. Pemikiran ini terus membawa pengaruh 

yang cukup besar, baik dalam konteks kekristenan maupun di luarnya. 

 

Apakah yang dimaksud Gnostisisme? Istilah “gnostisisme” berasal dari kata Yunani gnwsis 

yang berarti “pengetahuan”. Istilah ini sesuai dengan karakteristik utama Gnostisisme yang 

mengagungkan pengetahuan secara mistis dan rahasia dari allah kepada manusia. Dalam 

Gnostisisme, seseorang dianggap rohani apabila dia telah berhasil mendapat wahyu yang 

khusus dari allah. Ketika ajaran ini bercampur (bersinkretis) dengan kekristenan, tokoh-tokoh 

6/7 

yang diangkat sebagai penerima wahyu khusus dari Allah yaitu  para tokoh Alkitab yang 

tidak terlalu terkenal, misalnya Yudas Iskariot, Maria Magdalena, Filipus dan Thomas. Hal 

ini mungkin sebagai upaya protes dan serangan terhadap kekristenan ortodoks yang 

melandaskan wahyu pada sejarah (saksi mata) dan diketahui oleh publik. Ini pula yang 

membuat isi yang “diwahyukan” dalam Gnostisisme berbeda dengan ajaran kekristenan 

ortodoks.  

 

Ciri khas lain dari ajaran ini yaitu  dualisme Hellenis yang menganggap materi bersifat jahat, 

sebaliknya yang non-material yaitu  baik. Mereka percaya di dunia ada dua kekuatan yang 

saling berjuang untuk mengalahkan satu sama lain, yaitu kekuatan materi (jahat) dan roh 

(baik). Allah yang bersifat roh (baik) tidak mungkin menciptakan materi yang jahat. Pencipta 

materi yaitu  Demiurgos, yaitu kekuatan ilahi yang memiliki roh sekaligus materi. 

Keselamatan manusia pun dipahami dalam konteks dualisme ini. Keselamatan yaitu  

keterlepasan dari tubuh (materi). 

 

Dua konsep di atas tercermin dengan jelas dalam beberapa pernyataan Yesus dalam Injil 

Yudas.  

(1) Injil Yudas diawali dengan pernyataan “Catatan rahasia tentang wahyu yang Yesus 

katakan dalam percakapan dengan Yudas Iskariot selama seminggu sebelum ia 

merayakan Paskah”. 

(2) Allah yang menciptakan dunia ini yaitu  allah yang berbeda dengan yang disembah 

Yesus. Ketika murid-murid Yesus berdoa kepada allah, Yesus justru menertawakan 

mereka.  

(3) Yesus tidak dilahirkan sebagai manusia. Ia hanya menampakkan diri/muncul di bumi. 

(4) Yesus meminta Yudas Iskariot membantu Dia untuk membebaskan diri dari tubuh 

(materi) yang jahat. 

(5) Tidak ada cerita tentang kebangkitan Yesus secara badani. 

(6) Yudas Iskariot disebut “akan melebihi semua murid” dan dianggap sebagai roh ke-13. 

  

Istilah “injil” 

 

Kata “injil” (euangelion) dipakai dalam beragam konteks. Kata ini bisa merujuk pada kabar 

baik secara umum, misalnya kabar kemenangan dalam peperangan maupun kelahiran anak 

penguasa. Dalam Alkitab kata ini dipakai untuk kabar keselamatan melalui karya Yesus 

Kristus. Dalam periode selanjutnya, kata euangelion juga dipakai oleh para bapa gereja untuk 

menyebut empat kitab yang menceritakan kehidupan (tindakan dan ucapan) Yesus. 

 

berdasar  penggunaan kata euangelion di atas, penyebutan “Injil Yudas” sebenarnya tidak 

tepat, baik dari sisi isi maupun jenis tulisan. Dari sisi isi, Injil Yudas mengabaikan beberapa 

elemen penting dari injil, yaitu kelahiran (inkarnasi) dan kebangkitan Yesus Kristus. Dari sisi 

jenis tulisan, Injil Yudas hanya membahas percakapan rahasia antara Yesus dengan  Yudas 

Iskariot selama seminggu sebelum Yesus disalibkan.   

 

Penyeragaman teologi Kristen? 

 

Apakah benar Injil Yudas merupakan “injil yang hilang”? Apakah benar bahwa gereja mulai 

menyeragamkan teologi setelah mendapatkan kekuasan secara legal dari negara? Benarkah 

usaha kanonisasi Alkitab yang hanya menerima 27 kitab Perjanjian Baru merupakan bukti 

penindasan yang dilakukan golongan Kristen mayoritas? 

7/7 

Semua pertanyaan di atas ternyata hanyalah dugaan tanpa dasar dari para sarjana liberal. 

Tidak ada bukti historis apapun yang mendukung dugaan itu. Sebaliknya, ada beberapa bukti 

kuat yang meruntuhkan dugaan ini .  

 

(1) 27 kitab yang diterima dalam kanon semuanya ditulis pada abad ke-1 M dan secara 

konsisten dan intensif dikutip oleh bapa-bapa gereja awal dan diakui sebagai firman 

Allah, padahal waktu itu kekristenan masih menjadi minoritas dan terus dianiaya. 

 

(2) Bapa-bapa gereja awal sejak dini sudah memiliki sikap yang jelas terhadap berbagai 

tulisan yang muncul. Jauh sebelum upaya kanonisasi yang resmi pada abad ke-4 M, 

mereka sudah memiliki “patokan” kitab-kitab apa saja yang secara tradisi bersumber dari 

ajaran Yesus dan para rasul. Usaha untuk memilah-milah ini didorong oleh beberapa 

faktor: 

a. Penganiayaan. Waktu itu banyak orang dianiaya sebab  memiliki kitab-kitab relijius 

tertentu. Orang Kristen ingin memastikan bahwa apa yang mereka miliki yaitu  

firman Tuhan yang benar, sehingga sekalipun mereka harus menderita sebab  

memiliki kitab-kitab itu, mereka merasa pantas untuk melakukannya. 

b. Ajaran sesat. Ajaran sesat selalu menjadi problem bagi gereja sejak awal. Ajaran sesat 

ini tidak hanya menyebarkan ajaran secara lisan, tetapi secara tertulis juga. 

Banyaknya kitab yang muncul (dan sekaligus saling berkontradiksi) menuntut orang 

Kristen untuk mengetahui dengan pasti manakah kitab yang benar-benar firman 

Allah. 

c. Pembacaan kitab suci dalam ibadah. Orang Kristen mengadopsi liturgi ibadah Yahudi 

yang mencakup pembacaan kitab suci secara publik. Tradisi ini mendorong mereka 

untuk mengetahui sejak dini kitab-kitab apa saja yang diakui sebagai firman Allah dan 

bisa dibaca dalam ibadah. 

 

(3) Dalam daftar kitab-kitab yang diakui oleh bapa-bapa gereja awal (sebelum kekristenan 

menjadi kekuatan mayoritas), tidak ada satu kitab “injil” gnostik apapun yang 

dimasukkan ke dalamnya. Secara khusus bapa gereja Irenaeus (abad ke-2 M) bahkan 

mengelompokkan Injil Yudas sebagai tulisan gnostik yang harus ditolak. 

 

Dari semua penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Injil Yudas bukanlah injil 

yang hilang. Injil ini yaitu  injil yang sudah lama diketahui oleh para pemimpin Kristen abad 

ke-2 M. Kitab ini juga sudah ditolak, jauh sebelum kekristenan menjadi kekuatan mayoritas. 

Penolakan ini bukan didasarkan pada pertimbangan politik atau keinginan untuk 

menyeragamkan ajaran Kristen. Penolakan ini merupakan upaya untuk memurnikan 

kekristenan. #