Injil sinoptik 5

 



Kitab Injil merupakan kitab yang terdiri dari Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes.

Keempat kitab Injil ini secara khusus menceriterakan mengenai kisah kehidupan Tuhan Yesus Kristus

dari kelahiran sampai kepada kenaikan ke sorga. Namun dari keempat kitab Injil ini  ada 

kitab yang digolongkan atau dinamakan dengan kitab Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas).

Kata Sinoptik berasal dari dua kata istilah dalam bahasa Yunani yakni “sin” yang berarti bersama

dan “optanomai” yang berarti melihat.” Dari pengertian ini  maka dapat ditarik suatu kesimpulan

bahwa yang dimaksud dengan istilah Injil Sinoptik adalah, penulis menceriterakan mengenai kisah

kehidupan  Yesus  Kristus  dari  sudut  pandang  cerita  yang  sama.  Dalam  hal  ini  Injil  yang

dimaksudkan ialah Matius, Markus dan Lukas, sebagai suatu kemiripan yang harus dilihat secara

bersama-sama. Ketiga kitab ini diakui bahwa pada waktu menulis ini mereka tidak duduk bersama-

sama untuk menuliskan kitabnya masing-masing, juga dilihat dari waktu penulisan tidaklah mungkin

mereka  duduk  bersama  lalu  menulis  kitab  masing-masing.  Jika  ada   kesamaan  di  dalam

penulisan ini , itu tidak berarti bahwa penulisnya hebat, bukan pula sebab  ada kerjasama, dan

bukan pula saling copy dan kutip satu dengan yang lainnya, tetapi semuanya terjadi atas dorongan

dan tuntunan daripada Roh Kudus melalui pengilhamanNya kepada penulis masing-masing, sehingga

tidak ada  suatu kesalahan di dalam penulisannya. Problematika ini sering diperdebatkan banyak

pakar teologi, sehingga beberapa tidak dapat menerima kebenaran dari sisi akal dan logika manusia.

Bahkan muncul  berbagai  pandangan mengenai  pendapat  atau teori-teori  yang ingin  menjelaskan

mengenai keakuratan dari ketiga Injil ini . Sebagai contoh yang dapat kita lihat dalam Alkitab

yakni mengenai peristiwa Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang lain yang diceritakan

dalam ketiga Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas (Mat.8:14-17; Mrk.1:29-34; Luk.4:38-41). Cerita

ini kalau diperhatikan baik-baik menceritakan mengenai suatu peristiwa yang sama yang dilakukan

Yesus terhadap ibu mertua dari Simon Petrus. Pertanyaannya adalah: apakah ketiga-tiganya saling

mengcopy satu dengan yang lain? Jawabannya: peristiwa ini diceritakan dari tempat yang terpisah

namun bila ada  suatu kesamaan cerita ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi semuanya terjadi

oleh sebab  pekerjaan Roh Kudus memakai ketiga penulis ini untuk menceritakan suatu peristiwa

yang sama.

Banyak sisi manusia tidak dapat memahami dan mengerti mengenai cara berpikir Allah dalam

dunia ini, sehingga problematika yang terjadi dalam kitab Injil sinoptik bukanlah suatu pekerjaan yang

sulit bagi Allah untuk memakai ketiga penulis yakin Matius (salah satu dari 12 murid yesus), Markus

(teman sekerja  Paulus & Barnabas) dan Lukas (seorang dokter,  rekan Paulus)  untuk menuliskan

mengenai suatu kebenaran dari tempat yang berbeda, dalam situasi yang berbeda dan dari tingkat

kehidupan yang berbeda, namun isinya banyak ditemukan unsur kesamaan dalam setiap cerita yang

ditulis oleh ketiga penulis ini . Setiap kita harus ingat bahwa Allah menciptakan alam semesta ini

dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan itu dilakukanNya dengan cara bersabda dan berfirman.

Dalam  mengembangkan  teologi  Injil  Sinoptik,  sudut  pandang  penulis  perlu  diperhatikan.

Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat menjadi penuntun:

1. Kepada siapakah Injil-Injil itu ditujukan?

2. Mengapa para penginjil itu menulis Injil mereka?

3. Apa motivasi mereka menulis Injil mereka?

4. Dari manakah latar belakang di penulis?

5. Apakah tekanan spesifik dan ciri khas setiap penulis?

6. Apakah tema khusus setiap buku?

7. Dari manakah mereka mendapatkan sumber-sumber ini ?

8. Kapankah penulis ini menulis kitabnya masing-masing?

Jawaban dari  pertanyaan-pertanyaan ini  dalam studi  Teologi  Alkitab atau Hermeneutik  dalam

menentukan suatu pemahaman dari aspek teologi yang diprioritaskan masing-masing penulis. Jadi

Teologi Alkitab tergantung pada pikiran yang diperlihatkan penulis tanpa penulis secara benar dan

akurat tanpa salah sedikitpun dalam teks asli. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembimbing ke

dalam buku-buku ini  diperhatikan lebih dalam seperti penulis, para pembaca, tahun, gaya, sifat,

isi dan tujuan.

A. PROBLEMATIKA INJIL SINOPTIK

Masalah  yang  ada   dalam  Injil-injil  Sinoptik  adalah  berkaitan  dengan  masalah

perbedaan dan kesamaan dari beberapa cerita yang ada  dalam ketiga Injil  ini  yang

masih banyak orang belum dapat menerimanya berdasarkan sudut pandang logika dan rasio.

Memang  harus  diakui  bahwa  hal  ini  bukanlah  suatu  hal  yang  mudah  dan  gampang  untuk


menerima semua hal yang dibaca dan diketahui dalam Alkitab.  Kita seringkali  tidak mengerti

mengapa semua ini bisa terjadi tanpa memiliki suatu hubungan dan kerjasama yang baik dalam

mencari data, menyusun dan mengolah sampai kepada menghasilkan suatu cerita yang memiliki

kemiripannya yang akurat dan benar.

Masalah dalam injil  Sinoptik  jangan dipandang sebagai  suatu masalah yang akhirnya

membuat ketidakpercayaan terhadap semua cerita yang ada  dalam Injil  Sinoptik ini .

Kita bisa menggunakan berbagai pendekatan yang dapat menolong kita untuk tidak menjadikan

masalah sebagai akhir dari segala kepercayaan yang kita miliki sehingga membuat kita berhenti

sampai disitu. Pendekatan-pendekatan yang dapat kita lakukan ada dua hal yakni pendekatan

ilmuwan dan pendekatan biblikal. Dalam pendekatan ilmuwan ada 4 teori yang dapat kita pakai

sebagai bahan pendekatan untuk mendapat informasi yang diperlukan untuk menemukan dan

memecahkan problematika yang ada  dalam Injil Sinoptik dan 1 teori yang dapat kita pakai

sebagai pendekatan akurat untuk meyakini manusia mengenai masalah dalam Injil Sinoptik.

1. Pendekatan Ilmuwan

Masalah dalam Injil Sinoptik di mana kita dapat melihat dan mempelajarinya melalui

pendekatan  ilmuwan.  Artinya  bahwa  semua  problematika  Injil  Sinoptik  ini  dilihat  dan

didasarkan dari sudut pandang keilmuwan yang dijelaskan oleh pakar teolog, yang memang

sampai  saat  ini  pendekatan  ilmuwan  belum  dapat  diterima  secara  utuh  yang  mampu

memberikan kepuasan bagi banyak orang. Kita harus akui bahwa sekalipun problematika Injil

Sinoptik  dicari  titik  persoalannya  melalui  pendekatan  ilmuwan namun tidak  berarti  bahwa

kesemuanya itu dapat dibuktikan secara benar berdasarkan pembuktian yang akurat, namun

pendekatan  ilmuwan  hanya  bersifat  interpretasi  untuk  menolong  banyak  orang  untuk

memahami mengenai problematika yang terjadi dalam ketiga Injil Sinoptik.

Dalam pendekatan ilmuwan yang terdiri dari 4 teori pendekatan menunjukkan bahwa

keempat teori ini  masing-masing mempunyai nilai kelebihan atau keunggulan dan juga

memiliki  nilai  kekurangan  atau  kelemahan  yang  dipandang  dari  sudut  biblikalnya.  Nilai

keunggulan dari keempat teori ini menunjukkan kepada kita bahwa teori ini dapat diterima

secara akalia dan rasio manusia dengan menggunakan pendekatan ilmuwan yang bersifat

interpretasi,  sedangkan  nilai  kelemahan adalah bahwa mereka tidak dapat  membuktikan

secara akurat dan terpercaya sebagaimana yang mampu diukur melalui pendekatan biblikal

atau imanen.

a. Teori Tradisi Lisan

1) Matius :  Matius  mencatat  ajaran  Tuhan  Yesus  dalam  bahasa  Aram  dengan

menggunakan dialek bahasa Ibrani

2) Markus :  Markus  merupakan  ahli  penerjemah  Petrus  dan  mencatat  apa  yang

diingatnya tetapi tidak berututan

3) Lukas : Lukas sebagai suatu reproduksi dari kotbah-kotbah Paulus dan kemudian

dibukukan

Teori “Tradisi Lisan” menjelaskan bahwa ketiga Injil ini mendapat informasi dan

data dari  berbagai  sumber  yang berbeda dan para penulis  menjelaskan berdasarkan

pada  kapabilitas  yang  mereka  miliki.  Mereka  tidak  berani  menuliskan  sesuatu  yang

dijadikan sebagai kebenaran dengan cara merekayasa atau memanipulasi data sebab 

itu akan membahayakan banyak orang dan reputasi mereka sebagai seorang penulis.

Pertama,  Matius  jelas  mendapat  data  dan informasi  secara  langsung sebab 

Matius merupakan saksi hidup dan saksi mata mengenai kisah perjalanan dan pelayanan

Tuhan Yesus sejak dipanggil sampai kepada kenaikan Tuhan Yesus ke sorga sebab 

Matius adalah salah satu dari 12 murid yang dipanggil oleh Yesus (Mat.9:9-13; 10:1-3)

Kedua, Markus bukanlah salah satu  dari  murid  Tuhan Yesus namun Markus

adalah seorang  petobat Kristen yang dibesarkan di Yerusalem (Kis.12:12). Sekalipun

Markus bukan salah satu dari murid Tuhan Yesus, tetapi Markus merupakan murid dari

Paulus,  Barnabas  dan  Petrus,  sebab   Markus  banyak  belajar  dari  ketiga  orang  ini.

Markus mendapat data dari  berbagai informasi  di  antaranya dari  Paulus (Kis.13:1-13;

Kol.4:10;  Fil.1:24),  Barnabas (Kis.15:39)  dan Petrus  (1Ptr.5:13).  Namun kemungkinan

besar data yang akurat didapatkan dari Petrus yang juga adalah salah satu dari 12 murid

Tuhan Yesus dan Markus juga dikenal sebagai juru bahasanya Petrus.

Ketiga, Lukas bukan salah satu dari murid Yesus dan juga bukan salah satu dari

murid  para  rasul,  tetapi  pekerjaan  Lukas  dikenal  sebagai  seorang  dokter.  Lukas

terpanggil  untuk  menuliskan  suatu  kebenaran  Allah  yang  berkaitan  dengan  kisah


perjalanan kehidupan Yesus sampai kenaikan Yesus ke sorga, dengan cara mencari dan

menemukan sebanyak mungkin data dan informasi, kemudian diteliti  dengan seksama

dan setelah itu menuliskannya sebagai suatu kebenaran yang absolut (Luk.1:1-4).

b. Teori Hipotesis Dua Dokumen

Teori “Hipotesis Dua Dokumen” menjelaskan bahwa data yang diperoleh dalam

Injil Matius dan Ijil Lukas bersumber dari Injil Markus, artinya bahwa sumber-sumber yang

diperoleh  bukan  didasarkan  dari  hasil  pencarian  sendiri,  namun  kedua  Injil  ini 

mengambil data yang sudah dijelaskan dalam Injil Markus. Injil Markus dikatakan sebagai

salah satu  sumber utama yang dijadikan oleh Matius dan Lukas untuk mendapatkan

sebanyak mungkin data yang mereka perlukan.

Di samping itu juga dikatakan bahwa kelengkapan data yang ada  dalam Injil

Matius maupun Injil Lukas tidak semuanya diperoleh dari Injil Markus, namun ada satu

sumber yang dipakai Matius dan Lukas sebagai sumber untuk memperoleh informasi

yang perlukan yang dinamakan dengan sumber Q. Kata “Q” berasal dari bahasa Jerman

“Quelle” yang mengandung pengertian sumber1.

Studi masalah dari teori hipotesis dua dokument yang berkaitan dengan sumber

“Q” yang paling menyolok adalah berkaitan dengan peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus

oleh Yohanes Pembaptis dan peristiwa mengenai pencobaan Tuhan Yesus di Padang

Gurun.  Jadi  kesimpulannya  bahwa  Matius  menggabungkan  sumber-sumbernya,

sedangkan Lukas menyatukan sumber-sumbernya.

c. Teori Sumber Matius 

Teori  “Sumber Matius”  atau dengan kata lain dikenal dengan sebutan “Teori

Prioritas Injil markus.” Teori ini sudah muncul pada abad pertama dan kemudian hilang,

namun beberapa  waktu  kemudian  muncul  kembali  lagi  pada  abad pertengahan yaitu

abad  ke-17  sampai  abad  ke-18.  Teori  ini  jelas  lebih  menekankan  dan  menonjolkan

keakuratan  dari  Injil  Matius  sebagai  sumber  utama  dan  yang  pertama  kali  ditulis

dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas. Teori ini menekankan bahwa Markus

dan  Lukas  menggunakan  Injil  Matius  sebagai  sumber  utama  dalam  penulisan  Injil

mereka. Dari gambar yang dapat kita lihat bahwa ketiga Injil Sinoptik ini masing-masing

mendapatkan data dari beberapa sumber yang diperlukan antara lain.

Injil  Matius. Matius mendapatkan dua sumber yang berbeda,  yaitu:  pertama,

sumber utamanya yang tidak lain dari pengalamannya bersama Tuhan Yesus sebagai

saksi  mata dan saksi  hidup di  mana Matius melihat  secara langsung,  sehingga tidak

diragukan lagi mengenai sumber yang diperolehnya. Kedua, Matius mendapat sumber

dari  para  saksi  mata  yang  juga  tidak  luput  menyaksikan  mengenai  kisah  kehidupan

Tuhan  Yesus  yang  dimulai  dari  peristiwa  kelahiran  sampai  kepada  kenaikan  Tuhan

Yesus ke sorga. Kedua sumber ini bagi Matius sudah sangat cukup untuk menjadikan

sebagai sumber utamanya di dalam penulisan Matius.

Injil Lukas. Dalam hal ini Lukas juga mendapatkan data dari  dua sumber yang

berbeda, yaitu: pertama, Lukas mendapatkannya dari para saksi mata yang hidup pada

zaman  Tuhan  Yesus  dan  yang  turut  mengambil  bagian  secara  langsung  dalam

kehidupan pelayanan Tuhan Yesus. Kedua, Lukas juga mendapat sumber yang akurat

dan terpercaya dari  salah satu  orang saksi  mata dan saksi  hidup yakni  Matius yang

adalah salah satu dari 12 murid Tuhan Yesus yang tidak meungkin menginformasikan

data yang salah dan keliru kepada Lukas.

Injil  Markus. Dalam Injil  Markus di mana Markus mendapatkan data dari  tiga

sumber yang  berbeda  dan  dapat  dipercaya  antara  lain:  pertama,  Markus  mendapat

sumber dari Matius sebagai salah satu dari saksi mata yang melihat secara langsung

peristiwa  mengenai  kisah  kehidupan  Tuhan  Yesus  sejak  dipanggil  sampai  kepada

kenaikan ke sorga. Kedua, Markus mendapat informasi data dari Lukas yang dianggap

lebih  dahulu  mendapatkan  informasi  dari  Matius.  Ketiga,  Markus  mendapat  informasi

data yang akurat juga dari salah satu dari 12 murid Tuhan Yesus yakni Simon Petrus

yang mana dalam hal ini Markus banyak belajar dari Petrus dan mendapatkan banyak

sumber indormasi yang dibutuhkan untuk menuliskan Injil Markus atau dengan kata lain

bahwa Markus adalah anak rohani dari Simon Petrus.

d. Teori Ketergantungan Timbal Balik

1

4


Dalam teori “Ketergantungan Timbal Balik” berpendapat bahwa Injil Matius dan

Injil Lukas meminjam atau menggunakan Injil Markus sebagai sumber utama di dalam

menulis  kedua  Injil  ini .  Data  yang  diperoleh  dari  Matius  dan  Lukas  kemudian

diseleksi  dan diteliti  dengan baik kemudian dibukukan sebagai suatu kebenaran yang

ditujukan  kepada  orang  Yahudi  dan  juga  kepada  orang  Yunani  dan  orang  Romawi

Kristen.  Bagi  teori  ketergantungan  timbal  balik  ini  mengatakan  bahwa  Injil  Markus

merupakan sumber utama yang kemudian dijadikan sebagai dasar kitab Injil Matius dan

Injil Lukas.

Untuk melengkapi  data dan informasi  yang diperlukan baik dalam Injil  Matius

maupun Injil Lukas, maka menurut teori ketergantungan timbal balik mengatakan bahwa

penulis  Matius  dan  penulis  Lukas  saling  meminjamkan  data  dan  informasi  mereka

mengingat  bahwa  pada  zaman  dahulu  tidak  ada  undang-undang  yang  mengatur

mengenai hak cipta, sehingga Matius maupun Lukas memanfaatkan dokument yang ada

secara tertulis dengan bebas dan sukarela. Dengan dasar inilah maka data yang dimiliki

oleh  Matius  pemungut  cukai  dengan  dokter  Lukas  mengalami  pertukaran  yang

menyebabkan  terjadinya  beberapa  unsur  kesamaan  di  dalam  berbagai  cerita  yang

ada  dalam Injil Matius maupun Injil Lukas.

Sekalipun  Injil  Matius  dan  Injil  Lukas  dikatakan  saling  meminjam  data  dan

informasi,  namun di sisi  lain masih banyak ditemukan beberapa peristiwa yang ditulis

berdasarkan sudut pandang masing-masing, yaitu:

Pertama, kisah  mengenai  silsilah  Yesus.  Ada  ada   perbedaan  mengenai

silsilah Yesus dalam Injil  Matius dan Injil  Lukas.  Dalam Matius 1:1-17,  silsilah Yesus

dimulai dari Abraham sampai kepada Daud ada empatbelas keturunan, generasi kedua

dari  Daud  sampau  kepada  pembuangan  ke  Babel  ada  empatbelas  keturunan,  dan

generasi ketiga dari pembuangan Babel sampai Tuhan Yesus Kristus ada empat belas

keturunan. Jadi total semuanya ada empat puluh dua keturunan. Sementara dalam Lukas

(3:23-38), silsilah Yesus Kristus dimulai dari Tuhan Kristus mundur sampai kepada Adam

yang  semuanya  berjumlah  lima  puluh  dua  keturunan.  Kedua  cerita  silsilah  ini  telah

menunjukkan satu perbedaan yang cukup tajam.

Kedua, kisah mengenai pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di

sungai  Yordan.  Dalam Injil  Matius  (3:13-17)  menjelaskan  bahwa  peristiwa  itu  terjadi

ketika Tuhan Yesus baru saja datang dari Galilea ke sungai Yordan dan meminta agar

Yohanes Pembaptis  membaptis  Yesus.  Ketika Yesus selsai  dibaptis  dikatakan Yesus

segera keluar dari air dan pada saat itulah langit terbuka dan Roh Kudus turun dalam

bentuk  burung  merpati  ke  atas  Yesus.  Sedangkan  dalam  Injil  Lukas  (3:21-22)

menjelaskan bahwa banyak orang yang dibaptis pada saat Yesus dibaptis dan setelah

Yesus dibaptis Ia langsung berdoa dan sedang dalam doa itu terbukalah langit dan Roh

Kudus dalam rupa burung merpati turun ke atas Yesus.

Ketiga,  kisah  mengenai  pencobaan  Tuhan  Yesus  di  padang  gurun.  Dalam

Matius  (4:1-11)  menjelaskan  bahwa  ada  3  bentuk  pencobaan  yang  dilakukan  Iblis

terhadap Yesus, antara lain: (a) membuat batu jadi roti (ay.3,4); (b) membawa Yesus ke

bubungan Bait  Allah dan memerintahkan Yesus untuk menjatuhkan diriNya ke bawah

(ay.5-7);  (c)  memperlihatkan  semua  kerajaan  dunia  kepada  Tuhan  Yesus  (ay.8-10).

Tetapi  dalam Injil  Lukas  (4:1-13)  menjelaskan bahwa ada 3 bentuk pencobaan yang

dilakukan iblis terhadap Yesus, antara lain: (a) membuat batu mejadi roti  (ay.3-4); (b)

memperlihatkan  semua  kerajaan  dunia  kepada  Tuhan  Yesus  (ay.5-8);  (c)  membawa

Yesus  ke  bubungan  Bait  Allah  dan  menyuruh  Yesus  untuk  menjatuhkan  diriNya  ke

bawah (ay.9-11).

Dari  ketiga  contoh  masalah  Matius  dan  Lukas  di  atas,  maka  tidak  mungkin

kedua-duanya  saling  menukarkan  atau  saling  meminjamkan data  dan  informasi  yang

sama  sebab  ada  gaya  berpikir  yang  tolak  belakang  dari  keduanya.  Hal  ini  seirng

menimbulkan suatu problematika yang cukup tajam mengenai siapa yang benar dan dari

manakah sesungguhnya data yang mereka peroleh,  apakah data ini  didapatkan

dari  satu  sumber atau  diperoleh  dari  hasil  saling  meminjamkan.  Oleh sebab itu  teori

ketergantungan timbal balik perlu dikaji ulang untuk menemukan dan mendapatkan data

yang akurat dan terpercaya yang dapat menjadi berkat bagi semua orang.

2. Pendekatan Biblikal


Untuk menyelesaikan problematika yang ada  dalam Injil Sinoptik, yakni Matius,

Markus dan Lukas, maka pendekatan yang dilakukan dengan cara studi biblikal. sebab  bagi

kita pendekatan studi biblikal inilah yang dapat menyelesaikan dan menuntaskan masalah

yang selama ini diperdebatkan para teolog yang berkaitan dengan masalah Sinoptik.

Pendekatan melalui studi biblikal ini diharapkan mampu memberikan kepuasan bagi

semua orang untuk mendapatkan satu jawaban mengenai problematika yang terjadi dalam

ketiga Injil ini . Memang untuk menuntaskan masalah Sinoptik tidaklah mudah, namun

tidak berarti  bahwa masalah ini  tidak dapat ditemukan solusinya. Solusi yang paling

tepat, akurat dan terpercaya dapat ditemukan jika kita memulainya dengan menggunakan

pendekatan studi biblikal.

Studi  Biblikal  merupakan solusi  yang tepat  sebab  prinsip-prinsipnya  berdasarkan

Alkitab yang isinya tanpa salah dalam teks asli. Alkitab adalah isi hati Allah yang dituangkan

secara tertulis kepada manusia dengan tujuan agar manusia dapat memahami dan mengerti

secara benar mengenai kepedulian dankasih sayang Allah yang tidak pernah berkesudahan

di dalam kehidupan manusia.

Pemahaman  biblikal  selalu  mendasarkan  prinsip  pengilhaman  Roh  Kudus  yang

berkuasa atas penulis  kitab suci,  sehingga isi  dari  semua Injil  Sinoptik adalah dari  Allah.

Dalam hal kemiripan teks dapat menunjukkan bahwa mereka semua diilhami oleh Roh Kudus

yang sama, yang memberikan wahyu kepada masing-masing sesuai tujuan Allah dalam kitab

mereka.

PENDEKATAN Biblikal  merupakan  satu  pendekatan  yang  akurat  dan  terpercaya

sebab  Allah telah mempercayakan si penulis yang telah dipilihNya di bawah pengontrolan

Roh Kudus yang memimpin, menjaga, menguasai dan menggerakkan hati si penulis secara

sadar untuk menyatakan kehendak Allah kepada manusia tanpa salah dan keliru sesuai yang

tertulis dalam naskah asli. Hal ini menunjukkan bahwa dari ketiga penulis Injil Sinoptik tidak

ada yang saling menyontek, tidak ada yang saling meminjamkan data dan tidak ada yang

saling menukar data mereka, namun ketiga penulis ini dalam menulis Injilnya masing-masing

semata-mata didasarkan sebab  pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami setiap penulis untuk

menuliskan tanpa salah dan keliru sesuai naskah aslinya.

Matius, Markus dan Lukas adalah ketiga penulis kitab Injil Sinoptik yang dipakai oleh

Allah secara langsung untuk menuliskan semua kebenaran yang ingin Allah tuangkan kepada

manusia secara tertulis. Perlu dimengerti bahwa sekalipun ketiga tulisan ini ditulis dari tempat

yang  berbeda,  dalam  jangka  waktu  yang  berbeda,  latarbelakang  yang  berbeda,  tetapi

ditemukan ada beberapa bagian peristiwa yang mengandung unsur kesamaan dalam cerita

mereka bukanlah sesuatu yang aneh, sebab  kita tahu bahwa ketiga penulis ini langsung

dipimpin dan dikontrol oleh Roh Kudus yang adalah Pribadi Allah Ketiga dari Allah Tritunggal,

sehingga jika ada  kesamaan cerita itu semata-mata disebabkan sebab  pekerjaan Roh

Kudus  dan  bukan  didasarkan  pada  keinginan  manusia  atau  rekayasa  manusia  semata

(2Ptr.1:21).

Pendekatan biblikal inilah yang menjadi solusi dan jawaban yang terpercaya untuk

menyelesaikan  masalah  yang  terjadi  dalam  Injil  Sinoptik  yang  dipertentangkan  dan

diperdebatkan di kalangan para teolog. Keempat teori di atas tidak mampu untuk menjawab

masalah yang ada  di dalam Injil Sinoptik sebab  keempat teori ini  menggunakan

pendekatan  ilmuwan  yang  bersifat  interpretasi  sehingga  teori-teori  ini   saling

bertentangan dan bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab  itu diperlukan

pendekatan  Biblikal  yang  mampu  mengungkapkan  dan  menyelesaikan  masalah  yang

ada  di dalam Injil Sinoptik secara tuntas, akurat dan terpercaya.

B. KRITIK TERHADAP INJIL SINOPTIK

Masih  ada  saja  ketidakpuasan  manusia  terhadap  suatu  kebenaran  sehingga  tidak

mampu menerima secara iman, sehingga pendekatan yang dilakukan ialah melihat kelemahan

dan  kekurangan  yang  ada   dalam  Alkitab  sebagai  langkah  awal  untuk  merendahkan

kewibawaan  Alkitab  sebagai  suatu  kebenaran  yang  absolut.  Pendekatan  melalui  intelektual

duniawi yang mengandalkan akal/rasio sebagai barometer dalam menerima dan mengukur suatu

kebenaran berdampak pada penolakan terhadap kebenaran Alkitab (yang memang seharusnya

tidak  diukur  melalui  akal  atau  rasio  tetapi  diukur  melalui  studi  biblikal)  apabila  menemukan

kendala apabila ada  sesuatu hal yang tidak mampu diukur dengan rasio manusia.

Penolakan yang berwujud pada timbulnya suatu kritikan yang tajam terhadap kebenaran

Alkitab terjadi sebab  manusia tidak mampu menemukan satu kebenaran yang dapat dipercayai,

6


sehingga  interpretasi  melalui  kritikan  diharapkan  dapat  memberikan  solusi  yang  diharapkan

banyak orang yang akhirnya dapat memberikan rasa kepuasan temporal.

Kritikus tingkat tinggi selalu melihat peristiwa dari sisi kemanusiaan saja dan melepaskan

segala sesuatu dari sisi keilahian, sehingga menjadikan Alkitab bukan Firman Allah tetapi sebagai

kumpulan  buku  yang  berisi  Firman  Allah,  yang  berarti  bahwa  Alkitab  mengandung  unsur

kesalahan  dan  dapat  berubah  sewaktu-waktu,  sehingga  kebenaran-kebenaran  dalam Alkitab

tidak dapat dijadikan sebagai pedoman mutlak bagi iman Kristen.

Kritikan terhadap Alkitab merupakan satu serangan keras yang merendahkan wibawa

Alkitab sebagai otoritas tertinggi dari Allah. Manusia kadang tidak puas dengan sesuatu yang

tidak dapat diukur dengan akalnya, sehingga selalu memandang Alkitab sebagai sesuatu yang

mengandung unsur-unsur kesalahan dan menjadi Firman Allah kalau Alkitab itu dapat mengubah

hidup manusia. Ada beberapa pandangan mengenai Alkitab berikut ini:

Pertama, pandangan Injili.  Pandangan Injili  mengatakan bahwa Alkitab adalah Firman

Allah  tanpa  salah  berdasarkan  pada naskah aslinya.  Artinya  semua kata-kata  yang  ada 

dalam Alkitab pada waktu kita membacanya (apakah kita mengerti atau tidak mengerti apakah

kata-kata Alkitab memberkati atau tidak memberkati apakah kata-kata dalam Alkitab menyentuh

hati  kita atau tidak menyentuh hati  kita),  adalah Firman Allah.  Kesimpulan:  Alkitab tidak bisa

berubah sedangkan manusia dapat berubah.

Kedua,  pandangan  Liberal.  Pandangan  ini  mengatakan  bahwa  Alkitab  hanya  berisi

Firman Allah. Artinya tidak semua kata-kata dalam Alkitab adalah Firman Allah, sebab  ditulis

oleh manusia yang berdosa yang banyak memiliki kelemahan, kekurangan ketidaksempurnaan

dan  tidak  luput  dari  kesalahan,  sehingga  dikatakan  bahwa  Alkitab  merupakan  buku  catatan

manusia biasa saja yang tidak mempunyai kelebihan dengan buku-buku yang lain. Kesimpulan:

Alkitab bisa berubah sedangkan manusia tidak bisa berubah.

Ketiga,  pandangan  Neo  Ortodoks.  Pandangan  ini  mengatakan  bahwa  Alkitab  hanya

menjadi Firman Allah jika kata-kata dalam Alkitab itu dapat menyentuh hati manusia, tetapi jika

kata-kata dalam Alkitab tidak menyentuh hati manusia maka itu bukanlah Firman Allah. Sehingga

menurut  Neo  Ortodoks  Alkitab  bisa  berubah-ubah  sewaktu-waktu.  Kesimpulan:  Alkitab  bisa

berubah sedangkan manusia tidak bisa berubah.

Manusia,  sampai  kapanpun tidak pernah puas dengan apa yang dia  pikirkan melalui

rasionya, sebab  akal manusia sangat terbatas sehingga tidak mungkin mampu untuk memikirkan

Allah  yang  adalah  Pribadi  yang  tidak  terbatas  dan  mengetahui  segala  sesuatu  yang  terjadi

maupun yang belum terjadi dalam dunia ini. Pikiran manusia begitu picik dan sempit, sehingga

tidak mampu untuk menyelami keMahatahuan Allah yang jauh melebihi pengetahuan manusia.

Manusia harus mencapai standard Allah maka manusia akan mengalami kepuasan dalam hidup

ini. Ada baiknya kita melihat gaya kritik teks terhadap Alkitab:

1. Kritik  Sejarah  (Historical  Criticism), yaitu  usaha  mencari  kesalahan  pada  narasi  dari

peristiwa paralel,  acapkali  bersifat  mencari  kesalahan atau berusaha untuk mendapatkan

kesalahan-kesalahan  dan  tidak  berusaha  untuk  mencari  kebenaran-kebenaran  yang  bisa

membangun  dan  memberkati  banyak  orang.  Dengan  mencari  kesalahan-kesalahan  yang

ada  dalam Alkitab sebagai tujuan untuk dijadikan sebgai baha acuan untuk menjatuhkan

dan mempermalukan wibawa Alkitab. Penekanan dalam kritik sejarah hanya berfokus kepada

peristiwa masa lampau yang sudah pernah terjadi, sehingga bila ada peristiwa-peristiwa yang

sekiranya tidak dapat dibuktikan dan dicermati melalui akal, maka hal itu akan menjadi bahan

kritikan yang tajam terhadap peristiwa ini . Salah satu contoh mengenau kisah kejatuhan

manusia dalam dosa (Kej.3:1-8). Kelemahan yang dimiliki teori Kritik Sejarah adalah bahwa

mereka lupa mengenai Pribadi Allah yang dikenal sebagai Pencipta alam semesta ini dan

yang telah membuat segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada, sehingga sekalipun Musa

tidak hidup pada zaman kejatuhan manusia ke dalam dosa, tetapi Allah sanggup memakai

Musa untuk menuliskan mengenai suatu peristiwa yang pernah terjadi sekalipun Musa tidak

hidup dalam zaman ini .  Allah melalui  pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami Musa

akan segala peristiwa masa lampau sehingga Musa dapat menuliskan dengan benar dan

akurat. Teori kritik sejarah hanya melihat dari sisi historisnya saja, tetapi tidak melihat dari sisi

keilahian Allah.

2. Kritik  Sumber  (Source  Criticism).  Usaha  mencari  sumber  utama  dengan  tidak

mempercayai akan tuntunan dan pekerjaan Roh Kudus yang telah membimbing, menguasai,

menjaga dan memampukan si penulis untuk menuliskan kebenaran-kebenaran tanpa harus

mengkopy  dari  sumber  yang  lain.  Sebagai  contoh  mengenai  kisah  pencobaan  Yesus  di

padang gurun yang ada  dalam Injil Matius 4:1-13, di mana sumber utamanya Markus

yang mengambilnya dari  sumber lain yakni dalam Injil  Lukas 4:1-13. Kesamaan kata-kata

juga  dinyatakan  sebagai  adanya  sumber  yang  sama,  dan  menolak  pernan  Allah  dalam

pewahyuan dan menganggap bahwa Alkitab ada salahnya sehingga memerlukan sumber-

sumber  lain  sebagai  bukti  yang  akurat  dan  absolut. Kelemahan  yang  dimiliki  teori  Kritik

Sumber adalah hanya menekankan mengenai sumber utama yang dapat digunakan sebagai

bahan untuk dipakai oleh orang lain sebagai sumber yang digunakan di dalam menulis Injil

mereka. Satu hal yang menjadi titik kelemahan dari Kritik Sumber adalah di mana mereka

menolak peranan Allah dalam pewahyuan melalui pekerjaan Roh Kudus yang mengilhamikan

kepada setiap penulis untuk menyatakan kebenaran-kebenaran Allah. Selain itu juga mereka

tidak mempercayai sepenuhnya otoritas Alkitab sebagai kebenaran yang absolut tanpa salah

dalam naskah aslinya, sehingga mereka sangat merendahkan kewibawaan Alkitab sebagai

sumber kebenaran yang dapat dipercayai. Alasan yang mendasar di mana teori Kritik Sumber

tidak memakai Alkitab sebagai dasar untuk berpijak, sebab  menganggap bahwa Alkitab ada

salahnya, sehingga teori Kritik Sumber harus mencari sumber-sumber yang lain selain Alkitab

sebagai bukti absolut.

3. Kritik Redaksi (Redaction Criticism).  Mencari kesalahan lebih mudah dan gampang dari

pada menemukan kebenaran yang  dapat  mengubah hidup manusia.  Teori  Kritik  Redaksi

lebih menekankan dan memfokuskan kepada kritik teks atau naskah di bandingkan dengan

mengkritik  mengenai  masalah  historikalnya  ataupun masalah  sumbernya.  Dalam teori  ini

dikatakan  bahwa  kisah  mengenai  para  gembala,  orang  majus,  palungan  Betlehem

merupakan  suatu  cerita  fiktif  dan  mitos.  Cerita  ini  sengaja  dibuat  oleh  si  penulis  untuk

mernarik simpatisan dan daya tarik pembaca akan cerita mengenai kisah kelahiran Yesus

dalam palungan yang dikunjungi  oleh para  gembala  dan  orang majus. Penulis  berusaha

untuk menciptakan suatu redaksi  cerita  yang mampu menarik  minat  banyak orang untuk

mengetahui sehingga akhirnya banyak orang harus membacanya. Bagi teori Kritik Redaksi

mengatakan  bahwa  sesungguhnya  cerita  mengenai  kisah  kelahiran  Yesus  itu  hanya

rekayasa si penulis dengan menambah beberapa adegan tambahan seperti para gembala

dan orang majus untuk membuat kisah ini semakin menarik untuk dibaca orang. Kelemahan

yang ada  di dalam teori Kritik Redaksi adalah mereka hanya mempersoalkan mengenai

redaksi yang dibaca yang mana ketika direnungkan maka hal ini tidak dapat diterima secara

akal  atau rasio yang berdampak pada kesimpulan bahwa kisah para gembala dan orang

majus  itu  hanya  mitos.  Teori  ini  lupa  bahwa  peristiwa  mengenai  kisah  kelahiran  Yesus

diceritakan dalam Alkitab sebagai otoritas kebenaran yang absolut.  Teori  ini  tidak melihat

kisah ini dari sisi keilahian Allah yang melalui pekerjaan Roh Kudus telah menggerakkan si

penulis untuk menulisnya dengan pengotrolan Roh Kudus, sehingga tidak ada satu kata yang

direkayasa atau dimanipulasi penulis.

Teori-teori di atas kebanyakan hanya bersifat kesimpulan-kesimpulan tak berdasar.

Terlalu  banyak  spekulasi  dalam  proses  pengambilan  keputusan.  Hanya  spekulasi  untuk

menyelesaikan masalah sesaat. Juga agak sulit diterima bahwa Markus ditulis dahulu sebab 

hal itu bertentangan dengan keyakinan bapak-bapak gereja mula-mula dan tokoh-tokoh abad

ke-18. Beberapa faktor penting yang harus diwaspadai ialah:

a. Teori-teori di atas hanya menekankan aspek manusia saja dari Firman Allah dan aspek

ilahi diabaikan secara total.  Lihat Yohanes 14:26: janji  Tuhan di ruang atas bahwa Ia

akan mengingatkan mereka mengenai rincian-rincian ajaran-ajaran itu.

b. Ada  banyak  saksi  mata  yang  melihat  dan  mendengar  pengajaran  Yesus  dan

menyediakan informasi-informasi yang jelas dan dapat dipercaya (Luk.1:2-3).

c. Para penulis memiliki  pengetahuan orisinil  dan sebagai saksi mata yang menyaksikan

langsung segala peristiwa-peristiwa yang pernah dibuat oleh Yesus ketika Ia masih di

bumi (Luk.1:3; 1Yohanes 1:1-3)

d. Ada pula yang menulis sebagai peristiwa wahyu itu sendiri langsung dari Tuhan Yesus

(Gal.1:11-12; Ef.3:3)

C. PERSAMAAN INJIL SINOPTIK

Injil  Matius,  Markus dan Lukas disebut  sebagai  Injil  Sinoptik  sebab  dikenal  akan

unsur kesamaan di dalam cerita-cerita yang dituliskan dalam ketiga Injil ini . Beberapa

hal yang menonjol dalam kitab Injil Sinoptik adalah:

Pertama,ketiga  penulis  mengkisahkan  mengenai  kisah  kehidupan  Yesus  dari

kelahiran sampai pada kenaikan ke sorga, di mana selalu menceritakan Yesus lebih unggul

dari pada manusia mana pun dan dijadikan tolak ukur bagi manusia yang lainnya. Selain itu

Tuhan Yesus juga ditegaskan sebagai  manusia  yang kudus,  tidak bercela  dan tidak ada

benih dosa di dalam tubuh Yesus. Yesus Kristus dikenal sebagai Pribadi yang memiliki sifat

8


keAllahan dan juga memiliki  sifat  kemanusiaan. Dalam sisi  kemanusiaan Yesus sekalipun

lahir seperti layaknya manusia lain, namun Dia tidak memiliki benih dosa di dalam diriNya

meskipun di kandung di rahim Maria yang adalah manusia berdosa.

Kedua, kisah mengenai pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun setelah berpuasa

40 hari  40 malam dikisahkan dalam Injil  Sinoptik.  Setelah melewatimasa berpuasa Yesus

merasa lapar  dan saat itulah Iblis mencobai Tuhan Yesus.  Memang ada perbedaan cara

penceritaan khususnya dalam Injil Matius dan Injil Lukas.

Ketiga, dalam Injil Sinoptik banyak menyorot dari sisi misi Tuhan Yesus. Misi Yesus

sebagai perhatian puncak dari para penulis Sinoptik. Ini menyangkut kehidupan, pekerjaan

dan  pelayanan  Yesus  selama  di  bumi  sampai  di  salib.  Salib  merupakan  titik  utama

pembicaraan Sinoptik yang menjelaskan mengenai karya penebusan yang dilakukan Kristus

dengan sempurna dan karya ini mempengaruhi seluruh tulisan lain dalam Perjanjian Baru.

Selib  merupakan lambang kepahitan bagi  kesempurnaan karya penebusan Yesus Kristus

demi keselamatan umat manusia.

D. RINGKASAN INJIL SINOPTIK

Hanya  ada  tiga  Injil  yang  disebut  Injil  Sinoptik,  yaitu:  Matius,  Markus  dan  Lukas,

sedangkan Injil Yohanes tidak termasuk. Meski Yohanes tidak termasuk Sinoptik, tetapi peristiwa-

peristiwa yang dicatat oleh Yohanes adalah sama sekalipun ada  unsur yang berbeda dengan

Sinoptik, namun kisah kehidupan Tuhan Yesus dicatat dalam Yohanes maupun Sinoptik. Catatan

tentang kehidupan Yesus agak sedikit dalam Yohanes sedangkan dalam Sinoptik hampir seluruh

isinya bercerita tentang kehidupan Tuhan Yesus dari  kelahiran sampai pada kenaikan Tuhan

Yesus  ke  sorga.  Yohanes  lebih  menekan  pada  pokok-pokok  pengajaran  yang  disampaikan

Tuhan Yesus.  Unsur teologis lebih banyak dalam Yohanes,  sedangkan dalam Sinoptik  unsur

biografis lebih diutamakan.

E. PERBANDINGAN KE-4 INJIL (MATIUS, MARKUS, DAN LUKAS)

Dalam Kitab Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sekalipun

dalam keempat kitab Injil itu ada banyak cerita yang sama, tetapi sebetulnya keempat penulis

Injil itu mempunyai penekanan dan tujuan yang berbeda. Dan kalau kita membaca keempat kitab

Injil itu maka akan terlihat bahwa mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.  Illustrasi:

Kalau kita mau membangun rumah, sedikitnya dibutuhkan 3 buah gambar dari rumah yang akan

dibangun (dari atas, dari depan, dari samping). 3 buah gambar itu menggambarkan rumah yang

sama, tetapi menggambarkannya dari sudut yang berbeda, sehingga mereka saling melengkapi

satu dengan yang lain.

1. Matius 

a. Matius menekankan Yesus sebagai Raja. 

Ini  tidak  berarti  bahwa  Matius  tidak  menyatakan  Yesus  sebagai  manusia

(penekanan Lukas), sebagai Allah (penekanan Yohanes),  sebagai hamba (penekanan

Markus), dsb. Tentu ia juga melakukan hal-hal itu, tetapi  penekanan dari Matius adalah

penggambaran  Yesus  sebagai  Raja.  Hal-hal  yang  menunjukkan  bahwa  Matius

menekankan Yesus sebagai Raja:

1) Mat 1:1  menunjukkan  bahwa  Yesus  disebut  sebagai  ‘anak  Daud’ (raja  terbesar

bangsa Israel).

2) Mat 2:1-12 menunjukkan orang-orang Majus mencari Raja yang baru dilahirkan, dan

menyembah dan memberi persembahan kepadaNya.

3) Mat 28:18 – “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan

segala kuasa di sorga dan di bumi”. Ini betul-betul merupakan ucapan yang cocok

bagi seorang Raja.

b. Matius menunjukan tulisannya untuk orang Yahudi.

Ini  lagi-lagi  tidak  berarti  bahwa Injil  Matius  ini  bukanlah  Firman  Tuhan  untuk

orang-orang non Yahudi. Tentu Injil Matius ini juga merupakan Firman Tuhan bagi kita

yang bukan Yahudi. Tetapi bagaimanapun tujuan orisinil penulisan Injil Matius ini adalah

untuk orang Yahudi. Hal ini perlu diketahui sebab  kadang-kadang bisa berguna dalam

penafsiran. Bahwa Matius memang menulis untuk orang Yahudi, bisa terlihat dari:

1) Yesus disebut sebagai ‘anak Abraham’ (Mat 1:1), kepada siapa janji tentang bangsa

pilihan Allah itu pertama-tama diberikan.


2) ada 11 x kalimat  ‘supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi’ (1:22 

2:15,17,23  4:14  8:17  12:17  13:35  21:4  26:56  27:9).

Dari sini terlihat bahwa Matius selalu berusaha menghubungkan Yesus dengan

Perjanjian Lama. Matius bermaksud untuk menunjukkan kepada orang Yahudi bahwa

Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Hal ini penting untuk orang

Yahudi  yang  mempercayai  Perjanjian  Lama  sebagai  Firman  Tuhan. Mujizat  pertama

yang  dicatat  oleh  Matius  adalah  penyembuhan  orang  yang  sakit  kusta  (Mat 8:1-4),

sebab   kusta  merupakan  penyakit  yang  paling  ditakuti  oleh  orang  Yahudi.  Dengan

demikian  Matius  berkata  kepada  orang-orang  Yahudi  itu:  Yesus  berkuasa  untuk

menyembuhkan orang dari penyakit yang paling kamu takuti itu!

Catatan: Memang dalam Mat 4:23-25 sudah ada mujijat penyembuhan, tetapi disana

hanya diceritakan secara umum,  tidak secara  specific  /  khusus.  Mat 8:1-4 adalah  mujijat

penyembuhan pertama dimana Matius menceritakannya secara specific. 

2. Markus

a. Markus menggambarkan / menekankan Tuhan Yesus sebagai hamba.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Markus memang menekankan Yesus sebagai seorang

hamba:

1) Dalam  Injil  Markus  tidak  ada  silsilah  Yesus,  sebab   tidak  ada  orang  yang

mempersoalkan silsilah seorang hamba.

2) Yesus sudah mulai melayani pada Mark 1:14. Bandingkan dengan Injil Matius dan

Lukas, dimana Yesus baru mulai melayani pada pasal 4.

b. Markus menujukan tulisannya untuk orang Roma.

Ini terlihat dari fakta yang menunjukkan bahwa dalam seluruh Injil Markus, ia hanya 2x

menunjukkan  suatu  peristiwa  sebagai  penggenapan  dari  nubuat  Perjanjian  Lama

(Mark 1:2  Mark 15:28). Dan dalam Kitab Suci Indonesia, Mark 15:28 itu ada dalam tanda

kurung  tegak,  yang  menunjukkan  bahwa  itu  merupakan  ayat  yang  diragukan  /

diperdebatkan keasliannya.  Jadi  mungkin  sebetulnya hanya 1 x Markus menunjukkan

suatu peristiwa sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa

Markus mulai meninggalkan alam Yahudi.

3. Lukas

a. Lukas menggambarkan Yesus sebagai manusia.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Lukas menekankan Yesus sebagai manusia:

1) Dalam  Injil  Lukas  ada  silsilah  Yesus  (Luk 3:23-38),  sebab   orang  Yahudi

mementingkan silsilah (bdk. Bil 1:18). Tetapi berbeda dengan silsilah Yesus dalam

Injil  Matius yang hanya sampai  kepada Abraham, maka dalam Injil  Lukas silsilah

Yesus ‘ditarik’  terus sampai  kepada Adam, yang adalah manusia  pertama.  Kalau

Yesus betul-betul adalah manusia, maka Ia haruslah merupakan keturunan Adam.

2) Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menceritakan pertumbuhan Yesus sebagai

manusia  (Luk 2:40,52),  dan peristiwa yang dialami  Yesus pada waktu berusia  12

tahun (Luk 2:41-51).

b. Lukas menujukan tulisannya untuk orang Yunani.

sebab   itu  berbeda  dengan  Matius  yang  mencatat  mujijat  penyembuhan  orang  sakit

kusta sebagai mujijat yang pertama, maka Lukas mencatat penyembuhan orang yang

dirasuk setan sebagai mujijat pertama (Luk 4:31-37). Mengapa? sebab  orang Yunani

paling takut kepada roh-roh jahat. Dengan demikian, Lukas berkata kepada orang-orang

Yunani itu: roh-roh jahat yang paling kamu takuti itu, tidak ada apa-apanya dibanding

dengan Yesus! Mereka terpaksa tunduk kepada Yesus!

F. TAFSIRAN KE-4 INJIL (MATIUS, MARKUS, DAN LUKAS)

1. Persiapan-Persiapan Kedatangan Mesias dan Kekristenan 

a. Persiapan melalui orang Yahudi. 

Allah mempersiapkan dengan bijaksana peristiwa ini dengan berbagai hal dan berbagai

pihak, baik Yahudi maupun kafir. 

1) Sejarah bangsa Yahudi. 

10


Dalam kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, orang-orang Yahudi tersebar

diberbagai  belahan dunia  dan hidup ditengah-tengah bangsa non Yahudi  di  luar

Palestina.  Hal  ini  disebut  “diaspora.”  Peristiwa  ini  terjadi  sebab  dosa-dosa yang

mendatangkan hukuman Allah (Ul. 28:5; Yer. 8:3; Ezr. 4:13; Ams. 7:17b). Mereka

mulai tersebar, pertama: Sargon menawan orang Israel ke Assiria (722BC). Kedua:

Nebukadnezar  menawan  Yehuda  ke  Babel  (606-586BC).  Sedangkan  sisa  Israel

pergi ke Mesir dalam jumlah yang tidak jelas, namun menurut catatan pada zaman

Alexander Agung (kaisar Yunani), mereka sudah berkembang di Mesir, dan kira-kira

tahun 20-40 AD jumlahnya sudang mencapai sejuta orang. Belum termasuk yang

menyebar ke Negara-negara lain. 

2) Berkat Allah. 

Dalam  perjalanan  bangsa  Yahudi  tersimpan  rencana  Allah  yang  indah,

bahwa mereka yang masih tinggal akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (Mi.

5:6). Sejarawan Yahudi mengungkapkan, “tidak ada suatu bangsa di dunia ini yang

dinyatakan dalam PB secara berkali-kali,…untuk menjadi  berkat  (Yoh. 7:35;  Yak.

1:1; 1Pet. 1;1 sumber: Yosephus). Jalan untuk menuju tujuan itu adalah diaspora.

Allah mengerjakan suatu persiapan jalan berkat bagi bangsa lain melalui datangnya

Mesias dan juga jalan bagi kekristenan. Dengan tersebarnya orang-orang Yahudi,

paham  keyahudian  yang  agamais  pun  tersebar  pula.  Mereka  memang  dibuang

sebab   pelanggaran  terhadap  hokum  Taurat,  namun  keyahudian  mereka  tidak

hancur.  Inilah  yang  diserap  oleh  kekristenan.  Dengan  kata  lain  hal  yang  terjadi

bersamaan dengan diaspora Yahudi itu adalah persiapan kekristenan. 

3) Pembentukan Sinagoge (rumah sembahyang Yahudi diperantauan). 

Sinagoge  adalah  tempat  pertemuan  rohani  bagi  orang-orang  Yahudi.

Dimana  ada  sedikitnya  10  orang  dewasa,  mereka  pasti  membangun  sinagoge.

Yakobus membicarakan sinagoge disetiap kota (Kis. 15:21). Penyebaran Injil yang

efektif pada abad pertama melalui sinagoge sebelum penyebaran ke orang-orang

kafir (Luk. 4:16-30; Kis. 13:13-49). 

4) Pemilikan dan Penggunaan Septuaginta (terjemahan PL dalam bahasa Yunani). 

Kitab  ini  dipergunakan oleh  orang-orang  Yahudi  yang  berbahasa  Yunani

(Gerika),  atau  non  Yahudi  berbahasa  Gerika.  Dengan  demikian  mereka

berkesempatan  mendengar  Injil  keselamatan.  Diesman,  berkata  “agama  Yahudi

dengan Septuagintanya telah mencangkul tanah-tanah yang keras untuk bibit Injil di

dunia Barat.”disamping itu perlu dicatat bahwa Tuhan Yesus dan para rasul sering

mengutifnya.  Sejarah  gereja  mengatakan  bahwa  para  misionaris  Kristen

menggunakan Septuaginta sebelum ada tulisan-tulisan Kristen. 

5) Standar Kepercayaan Monotheisme Yahudi dan Moralitasnya. 

Monotheisme artinya percaya pada hanya satu Allah dan moralitas rohani

hanya diserap oleh kekristenan.  Sebab tantangan zaman ini  adalah skeptisisme,

stoaisme, fatalisme, formalism, destituisme, pesimisme, dan ekskhustionisme yaitu:

suatu  keadaan  tanpa  semangat  rohani  mewarnai  zaman  itu.  Tata  cara  Ibadah

Yahudi  (dalam hal  penebusan,  dan  pengampunan  merupakan pintu  masuk  bagi

pemberitaan  khabar  pengampunan  dan  penebusan  oleh  Kristus).  Orang-orang

Yahudi yang peka terhadap firman Allah bertobat dan menjadi tokoh-tokoh gereja

pada masa pemberitaan Paulus. 

6) Sekolah-Sekolah dan Perpustakaan. 

Sinagoge,  selain  menjadi  tempat  sembahyang  orang  Yahudi,  juga

dipergunakan sebagai  sekolah dan perpustakaan.  Disinilah Paulus memberitakan

Injil dan mengajar mereka. 

7) Utusan Injil. 

Pemberitaan Injil tidak lepas dari buah kegiatan mereka menyelidiki firman

Allah pada Septuaginta. 

b. Persiapkan Melalui Orang Non-Yahudi.

Firman  Tuhan  berkata,  “…apabila  waktunya  sudah  genap.”  (Gal.  4:4)

berhubungan dengan aplikasinya yaitu “penyebaran Injil atau penginjilan.” 

1) Ciri Persiapannya: 

Adanya perbudakan yang merajalela. Pada zaman Yunani diperkirakan ada

60 juta budak yang sangat memprihatinkan. Mereka kehilangan hak,  perlidungan,

dan diperlakukan secara tidak manusiawi.  Kedudukan wanita  pun sangat  rendah.

Pengangguran terjadi dimana-mana, kejahatan meningkat, ketidaksetiaan terhadap

11


perkawinan sudah membudaya, kepercayaan kafir tidak member pengaruh terhadap

moral, tidak ada gairah hidup, kecemasan melanda masyarakat diberbagai tempat.

Dalam  keadaan  yang  seperti  itu,  timbul  suara  yang  menentang  dimana-mana

perjuangan moral dan rohani yang menghendaki perubahan dan perbaikan hidup dan

kesatuan serta kemurnian kepercayaan. Keadaan ini jelas merupakan persiapan bagi

kedatangan Mesias. 

2) Bahasa Yunani. 

Pada  masa  pemerintahan  Alexander  Agung,  bahasa  Yunani  sangat  erat

hubungan  dengan  datangnya  kekristenan  dengan  mempersatukan  dunia  dalam

bahasa dan kebudayaan. Yaitu Gerika kebudayaan Helenisme (kebudayaan orang-

orang Yahudi yang berbahasa Yunani) berkembang. Penghapusan perbedaan ras,

mempersatukan bangsa. 

3) Bangsa Romawi. 

Dari segi politik Roma berambisi mempersatukan dunia dalam satu kerajaan

yang besar yang terbentang dari Efrat, hingga Atlantik, yang menguasai 100 juta jiwa.

Ambisi  itu  disebut:  Pax  Romana  dunia  damai  oleh  Roma.  Mereka  yakin  bahwa

merekalah  yang  membangun  pemerintah  dunia  ini.  Itulah  sebabnya  mereka

membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan baru. 

2. Masyarakat Zaman Tuhan Yesus 

a. Golongan  Ahli  Taurat. (bhs.  Ibrani  Sopherim  dari  akar  kata  sophar  artinya  menulis,

menyusun, mengatur. Bhs. Yunani Grammateus artinya ahli Taurat). 

Mereka  adalah  golongan  professional  dalam  pengetahuan  dan  penafsiran

Hukum Taurat, dan Kitab para Nabi. Mereka sangat terpandang dan memiliki wewenang

yang besar dalam agama Yahudi. Ahli Taurat zaman Yesus berbeda dengan ahli Taurat

zaman  PL.  Pada  masa  pembuangan  orang-orang  Yahudi  yang  bertobat  sangat

membutuhkan guru;  adanya kitab septuaginta,  tersebarnya sinagoge, vakumnya nabi

mengakhibatkan setiap orang Yahudi bertanggung jawab atas penataan segenap syariat

Taurat, maka atauran atau hukum tertentu harus disarikan dari Hukum Taurat. Namun

pada  zaman  Tuhan  Yesus,  kemurnian  Hukum  Taurat  sudah  tidak  dapat

dipertanggungjawabkan sebab  penafsiran-penafsiran mereka sering menyimpang dari

kebenaran yang dimaksud Hukum Taurat. Bahkan tuntutan Hukum Taurat sering diganti

dengan adat istiadat mereka 

b. Golongan Orang Farisi (separatis, mengasingkan diri). 

Penyebabnya adalah separatis berdasarkan Taurat. Sisa Yahudi yang kembali

dari pembuangan bertujuan “membangun kembali masyarakat Yahudi yang terpisah dari

semua  bangsa,  dengan  jalan  memelihara  Taurat  sedetail  mungkin,  kendati  banyak

halangan  untuk  mewujudkan  keinginan  itu,  semangat  mereka  tidak  pudar,  hingga

akhirnya mereka dapat mulai  pada zaman Ezra tahun 458-445BC. Dan dalam masa

pemerintahan Persia,  kekuasaan imam besar terus meningkat.  Oleh sebab  itu,  raja

Persia  merasa  tidak  perlu  mengangkat  Gubernur  di  Yehuda,  maka  ia  menyerahkan

kepada  mereka  pemerintahan  (politik).  akhibatnya  jabatan  politik  menimbulkan

kebobrokan, kemerosotan nilai jabatan ini. Keadaan ini semakin berbahaya yang pada

ujungnya menimbulkan banyak reaksi. Pertentangan ini tampak pada awal masa “antar

perjanjian,” para imam besar berpijak pada jabatannya yang resmi, dan para ahli Taurat

berpijak pada wibawa Taurat.  Golongan imam tidak dijiwai  semangat “theokrasi”  dan

paling mudah kena pengaruh asing. Sebaliknya ahli Taurat dengan sungguh-sungguh

membela kemurnian dan keutuhan azas, dan terpisah dari bangsa asing. Keadaan ini

sukar dijembatani sehingga timbul perpecahan yang melahirkan golongan saduki dan

Farisi.  Kecendrungan  negatif  orang  Farisi  adalah  keangkuhan,  kemunafikan  yang

melahirkan dosa. 

c. Golongan Saduki. 

Kemungkinan besar mereka adalah imam-imam keturunan Zadok (2Sam. 8:17;

Yeh.  40:46;  43:19;  44:15;  48:11).  Mereka  ingin  mempertahankan  jabatannya,  sebab

pada zaman Makabe, jabatan imam berpindah ketangan Wangsa Asmones. Para imam

golongan Zadok mengutamakan segi duniawi dari jabatan imam itu. sebab  jabatan ini

menguntungkan  baik  bidang  agama  maupun  politik,  sedangkan  orang  Farisi

menekankan gagasan datangnya Mesias. Golongan Saduki bersifat lunak, pada zaman

Alexander Agung, mereka kompromi dengannya. Pandangan teologi mereka ialah tidak

12


percaya kepada kebangkitan orang mati secara badani dan juga tidak percaya malaikat

(Mat. 22:23) 

d. Golongan Essenes (Keyahudian Batin). 

Mereka hidup menurut jiwa Hukum Taurat, mengasingkan diri dari masyarakat

luas dan menjalani hidup sederhana. Mereka tidak suka perang dan bekerja sebagai

petani. Tidak punya pengaruh besar di masyarakat. 

e. Golongan Herodian. 

Tujuan  golongan  ini  adalah  membela  pemerintah  Herodes.  sebab   untuk

mencapai  puncak  harapan  Yahudi,  mereka  mencoba  menggabungkan  kebudayaan

Roma dan Yahudi dan bahkan dengan berhala-berhala kafir. 

f. Golongan Zelot. 

Orang Zelot disebut juga Kanani (Mrk. 10:4; Luk. 6:15). Mereka adalah golongan

partai  yang radikal,  yang ingin  membangun Israel  damai  dengan kekerasan.  sebab 

tindakan  inilah,  Yerusalem dihancurkan  oleh  Jenderal  Titus  pada  tahun  70AD.  Dan

setelah  penghancuran  itu,  mereka  mati-matian  membela  Taurat  terhadap  pengaruh

Roma dan kebudayaan Yunani. 

g. Golongan Sanhedrin (Makamah Agama). 

Menurut  tradisi  Yahudi,  Sanhedrin  sudah  ada  sejak  masa  70  tua-tua  dan

berlangsung terus. Mereka bertugas dalam bidang peradilan dan pemerintahan bangsa

Israel.  Golongan Sanhedrin  dalam PB berbeda dengan mereka.  Golongan ini  berdiri

pada  masa  Yunani  berkuasa  di  Yerusalem  (333BC)  dengan  nama  “Majelis

Berbicara/sinode” yakni suatu badan pemerintahan yang beranggotakan para tua-tua,

dan kemudian lembaga ini menjadi “Sanhedrin.”susunan anggota 71 orang terdiri dari

satu orang imam besar, orang imam kepada yang mewakili kaum awam jasmani dan

rohani. 24 tua-tuan mewakili kaum awam dan orang biasa. 22 orang ahli Taurat. Sarat

keanggotaan:  tidak cacat  rohani  dan jasmani;  paru baya, kaya,  tampan; bepengaruh

Hukum, dan pengetahuan lainnya. 

3. Injil 

a. Kabar Baik. 

Yunani Euaggelion, artinya kabar baik atau aslinya pahala tentang berita baik.

Bahasa  inggris  Godspel  dari  bahasa  Anglo-Saxon,  Godspell,  kisah  tentang  Allah,

kehidupan  Kristus.  Dinamai  demikian  sebab   kitab-kitab  ini  melaporkan  kabar

keselamatan bagi semua orang melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Mark.

1:1; 1Kor. 15:3-4). Riwayat hidup Yesus tidak akan diketahui jika Injil tidak ditulis. Injil

ditulis agar semua orang mengenal Dia (Yoh. 20:31).

b. Kepentingan. 

sebab   perkembangan  kekristenan  begitu  cepat,  maka  sangan  diperlukan

dokumen tertulis tentang kehidupan Yesus Kristus. Disamping itu, saksi mata tentang

Dia sudah banyak yang meninggal  dunia.  Sehingga keperluan berita  tertulis  tentang

Yesus  begitu  mendesak.  Injil  ini   sangat  berguna  bagi  para  penginjil  untuk

memberitakan,  mengajar  petobat  baru,  dan  menjadi  bagian  ibadah  dalam kebaktian

orang Kristen. 

c. Empat Injil. 

Sekalipun ada banyak Injil yang ditulis, namun hanya empat yang diakui sah dan

layak masuk dalam Perjanjian Baru. Injil-injil ini  mungkin ada informasi yang sama

dengan Injil  kanon,  tetapi  ada  tambahan yang bersifat  dongeng dan lucu  (misalnya:

kisah Yesus mengutuk  seorang  anak sampai  mati,  sebab   anak itu  memukul  Yesus

sampai jatuh dalam Apokripa gnostik yang berjudul Bayi). Juga, Injil semacam itu sering

mencoba mendukung kekafiran dan sekte-sekte. Satu alas an mengapa hanya empat

Injil yang diterima adalah sebab  penulisnya para rasul dan orang yang dekat dengan

mereka. Kemudian gereja menetapkan keautektikan kitab-kitab itu dan dimasukan dalam

kanon. Injil Matius untuk orang Yahudi, Markus untuk orang Romawi, Lukas untuk orang

kafir dan Yohanes untk semua orang Kristen. Injil Sinoptik Sinoptik berasal dari bahasa

yunani synoptikos, terdiri dari dua kata yaitu συν (sun) dan οπεσται (opesthai), berarti

melihat dengan atau bersama. Demikian Matius, Markus dan Lukas mempunyai tujuan

yang berbeda tetapi  memandang kehidupan Yesus Kristus dengan cara yang sama.

Teologia Bultmann, mengatakan bahwa: “kitab Injil-injil  merupakan suara Yesus yang

diperdengarkan kepada para murid secara sayup-sayup.

13


4. Injil Matius 

a. Pasal 1 (Matius 1:1-25). Silsilah dan Kelahiran Yesus Kristus.

Dalam memaparkan silsilah, Matius 1:1-15 dalam penggunaan kata ganti orang

ialah  “maskulin.”  Namun  ketika  menerangkan  tentang  kelahiran  Yesus  1:16,

menggunakan kata “feminine.” Artinya bahwa Yesus benar lahir dari benih perempuan

dan cocok dengan Kejadian 3:15. Dalam deretan silsilah ini  ada  nama-nama

wanita seperti Rahab (wanita pelacur), Rut dari Moab, Bethseba, dan Maria Ibu Yesus.

Biasanya dalam daftar sissilah asal-usul orang Yahudi, sama sekali tidak ada  nama-

nama wanita.  Wanita tidak mempunyai  hak hukum. Wanita dianggap bukan seorang

pribadi tetapi hanya sebagai sesuatu. Ia adalah milik bapaknya atau milik suaminya; dan

didalam posisi seperti itu suami atau bapaknya dapat meminta melakukan apa saja yang

dikehendaki mereka. Didalam doa pagi setiap orang Yahudi kaum laki-laki mengucapkan

terima kasih kepada Allah, bahwa Allah telah menciptakannya bukan sebagai orang non

Yahudi,  bukan  hamba,  atau  bukan wanita.  Jadi  munculnya  wanita  dalam silsilah  ini

merupakan gejalah luar biasa dan mendapat perhatian. 

Dalam  tradisi  Yahudi,  ada  tiga  tahap  hubungan  laki-laki  dan  wanita  yang

menjurus pernikahan: 1. Saling berjanji. Ketika masih kecil, biasanya orang tua/wali yang

lain melakukan ikatan tanpa harus bertemu yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan

2. Pertunangan.  Boleh juga disebut peresmian hubungan. Pada tahap ini,  hubungan

boleh  diketahui  umum.  Tahap  ini  berlangsung  1  tahun  dan  keduanya  dapat  dikenal

sebagai suami – istri, meskipun mereka belum mempunyai hak sebagai suami-istri. Pada

posisi ini, tidak bias putus kecuali perceraian. 3.Pernikahan. Upacara keagamaan yaitu

pemberkatan  di  bait  Allah  akan  dikumandang  bahwa  keduanya  berhak  melakukan

tanggung jawab suami-istri dalam perkawinan Kudus. Yesus adalah nama Yunani untuk

nama pribadi Yusak. Yusak berarti Tuhan adalah keselamatan. 

b. Pasal 2:1-2. Betlehem kota kecil, kira-kira 9 km disebelah selatan Yerusalem. Zaman

dahulu Betlehem juga disebut Efrat/Efrata (Mi. 5:1). Bet berarti “rumah” dan lehem “roti”

jadi Betlehem berarti rumah roti.. sampai sekarang sejarah membuktikan bahwa kota ini

tetap subur. Tiga kelompok yang muncul setelah kelahiran Yesus. Kelompok ini selalu

muncul apabila orang berhubungan dengan Yesus Kristus. Kelompok ini  adalah: 

1) Kelompok yang diwakili oleh Herodes yaitu kelompok yang membenci serta ganas

terhadap  Yesus.  Didalam  kebencian  ada  ketakutan  bahwa  posisinya  terancam

sebagai raja orang Yahudi 

2) Kelompok dari Imam kepala dan ahli Taurat yaitu reaksi yang acuh tak acuh. Merasa

mereka tidak melihat perbedaan apapun dengan kelahiran bayi kecil itu. Mereka telah

terbelenggu dengan upacara-upacara keagamaan. Yesus tidak punya makna bagi

mereka. 

3) Kelompok orang-orang bijak yaitu pujian dan ibadah yang menggerakkan hati dan

hidup mereka untuk memberi yang berharga di kaki Yesus. Sungguh, kalau orang

mengetahui  kasih  Allah  yang  besar  maka  segala  sesuatu  menjadi  sukacita  dan

damai sejahtera. 

Orang-orang majus, memberi persembahan: 

1) Emas melambangkan:  persembahan terbaik.  Dalam konteks  Yahudi  yang  berhak

adalah Raja

2) Kemenyan  melambangkan:  sering  digunakan  oleh  para  imam  dalam  beribadah

kepada  Yahwe  dan  melayani  dalam upacara  seremonial  di  Bait  Allah.  Tugas  ini

dilakukan imam untuk membuka jalan bagi manusia untuk bertemu dengan Allah.

Bahasa  Latin  untuk  imam ialah  pontifek  yang berarti  membangun jembatan.  Jadi

imam menghubungkan manusia dengan Allah. 

3) Mur melambangkan: minyak yang khusus diberikan kepada orang yang meninggal,

dan pengharum. Yesus datang ke dunia ini  untuk hidup bagi  manusia,  dan pada

akhirnya  untuk  mati  juga  bagi  manusia.  Melalui  pemberian  ini ,  mereka

menunjukan pengakuan kepada-Nya sebagai Tuhan. 

c. Pasal  3. Dalam penggunaan kata  “Kerajaan  Allah,”  tidak  disebutkan  oleh  Matius,  ia

sering menggunakan kataan: YOHANES PEMBAPTIS Munculnya Yohanes yang tiba-

tiba itu adalah seperti munculnya suara yang memperdengarkan suara Tuhan.selama

14


400  tahun  tidak  ada  nabi  yang  berkuasa.  Dalam  diri  Yohanes,  suara  kenabian  itu

muncul. Apakah yang menjadi cirri khas suara atau berita Yohanes itu? 

1) Tanpa gentar  Yohenes mengutuk kejahatan yang dilihatnya.  Ia  mencela  Herodes

yang kawin dengan jalan tidak sah dan dirinya penuh kejahatan.  Ia  tidak segan-

segan  mencela  para  pemimpin  Yahudi.  Para  Saduki,  Farisi,  dan  tokoh-tokoh

rohaniah  lainnya  yang  tenggelam di  dalam formalitas  ritual.  Upacara  keagamaan

hanya formalitas saja. Ia juga mencela masyarakat yang tanpa ingat Tuhan. Yohanes

laksana sebuah terang yang bersinar ditempat yang gelap. Ia adalah seperti angin

Tuhan yang bertiup ke segala penjuru negeri. Diogenes, berkata “kebenaran adalah

seperti  terang  yang  menyinari  mata  yang  sakit.”  Lebih  lanjut  ia  mengatakan:

“barangsiapa yang tidak pernah menyakiti  sesamanya,  maka ia  pun tidak pernah

berbuat baik kepada siapapun.” Mungkin di dalam pengalaman hidup kita ada waktu

atau saat-saat kita sangat berhati-hati didalam tindakan dan kata-kata, sebab  kita

tidak ingin menyakiti hati orang lain. Tetapi akan tiba waktunya ketika hal seperti itu

tidak bias diberlakukan lagi. Akan tiba waktunya Gereja mengeluarkan putusan dan

kata-kata  yang  tajam  dank  eras,  yang  menyakiti  hati  banyak  orang.  Akan  tiba

waktunya  pula  Gereja  menyatakan  kebenaran  sejati,  yang  menyakiti  hati  banyak

orang. 

2) Yohanes mengundang orang-orang untuk melakukan kebenaran. Ia membawa berita

posetif yang membangkitkan semangat kehidupan yang benar di hadapan Tuhan. Ia

memanggil setiap orang untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ia bukan hanya

mencela  dan  mengutuk  kejahatan,  tetapi  juga  memperhadapkan  kebaikan  dan

kebenaran kepada setiap orang. 

3) Yohanes  datang  dari  Tuhan.  Ia  datang  dari  Padang  Gurun.  Ia  muncul  setelah

mengalami masa panjang yang penuh dengan kesepian dan kesunyian hidup.  Ia

dating dengan pemikiran Tuhan, bukan pikirannya sendiri. Pengkhotbah, guru, dan

siapapun yang hendak menyuarakan suara kenabian,  haruslah tampil  di  hadapan

manusia  pemikiran  Allah.  Ia  harus  menghdapkan  manusia  dengan  Tuhan  bukan

dengan dirinya. 

4) Yohanes menunjuk kepada sesuatu yang di luar dirinya sendiri.  Ia adalah sebuah

tanda yang menunjuk kepada Tuhan Allah. 

d. Pasal  4:1-11.  Satu  hal  yang  harus  kita  catat  secara  hati-hati  dan  benar  dalam

mempelajari pencobaan yang diterima Yesus. Dalam hal ini arti yang sebenarnya dari

kata kerja “mencoba.” Dalam bahasa Yunani peirazein. Dalam bahasa Indonesia kata

kerja “mencoba,” mempunyai arti  yang kurang menyenangkan. Kata itu selalu berarti

“menggoda, atau “mencobai  orang” untuk melakukan hal yang salah,  seperti  merayu

untuk melakukan dosa atau membujuk seseorang menempuh jalan yang salah. Tetapi

arti  Yunani mengandung unsure yang berbeda. Lebih berbobot jika berarti  “menguji”.

Contoh:  Abraham dalam PL yang nyaris  mempersembahkan anaknya Ishak sebagai

korban (Kej. 22:1). Pencobaan ada dua macam yaitu: 

1) Dari dalam diri seseorang yang dikuasai kejahatan, nafsu jahat.

2) Dari luar diri seseorang. Contoh: Ayub, Yesus, dll. Ada satu kebenaran besar yang

menarik