Kedua pemimpin ini yaitu sama-sama murid dari Aghios Sergius dari Radonesh.
Akhirnya meskipun semangat kaum “bukan pemilik “ itu yang selalu tinggal dalam Orthodoxia di Rusia,
namun cara kaum “pemilik” itulah yang mendominasi kehidupan kegerejaan serta perkembangan
kebangsaan pada abad-abad berikutnya di Rusia.
Sementara itu di Gereja Barat pada abad kelima belas, penolakan pada kekuasaan Paus makin keras, dalam
wujud:
1. Gerakan Konsiliar dimana ada 3 Paus sekaligus pada saat yang sama.
2. Munculnya kesadaran nasional bangsa-bangsa Eropa Barat
3. Munculnya gerakan-gerakan agamawi yang menjadi awal Gerakan Reformasi Protestan.
4. Munculnya Gerakan Renaissance.
Gerakan Renaissance yaitu bangkitnya ketertarikan pada budaya klasik Romawi-Yunani.Tokoh-tokoh
gerakan ini yaitu : Erasmus, Lenardo da Vinci, Raphael. Juga harus disebut Yohanes Huss yang dibakar
hidup-hidup sebab perlawanannya terhadap Paus dan praktek-praktek Gereja Roma pada tahun 1415.
Demikian juga Savonarola-pun dibakar hidup-hidup oleh perintah paus pada tahun 1498 sebab
mengecam dan mengutuk kejahatan dan dosa-dosa dalam Gereja.
3. Gerakan Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Roma Katolik di Gereja Barat
Masuk ke dalam abad keenam belas di Gereja Barat kita menemukan Gerakan Reformasi Protestan dan
Kontra Reformasi Roma Katolik. Martin Luther, Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingli menyerang
penyimpangan-penyimpangan praktek Gerreja Roma serta pengajaran-pengajaran resminya. Pengaruh
reformasi di daratan Eropa ini dibawa ke Inggris sehingga Raja Henry VIIImendirikan Gereja Anglikan
pada tahun 1534, dan John Knox membawa ajaran Calvinisme ke Skotlandia.
Sebagai reaksinya Gereja Roma Katolik mengadakan Konsili di Trente ( 1561-1563) yang secara resmi
merumuskan doktrin khas Roma Katolik: Api Penyucian, Indulgensia, Transubstansiasi, dan posisi-posisi
lain yang diserang Protestantisme. Ajaran Protestan berkisar sekitar: Pembenaran oleh Iman saja,
Keselamatan oleh rahmat saja, serta dasar iman dan kehidupan hanya Kitab Suci saja. Sakramen hanya dua
saja: Baptisan dan Perjamuan Kudus, yang utamanya dimegerti hanya sebagai simbol atau kenangan saja.
Gereja Katolik Roma lebih menegaskan lagi Keunggulan Kekuasan Paus serta kekuasaan hierarkhi yang
juga sangat ditentang kelompok Protestan.
Gerakan Kontra-Reformasi Roma Katolik terutama dipimpin oleh Ignatius dari Loyola yang mendirikan
Ordo Yesuit, untuk membela Sri Paus dan doktrin-doktrin yang telah dirumuskan dalam Konsili Trente,
dengan membantah ajaran Protestantisme sekaligus menarik Ummat Orthodox untuk menyatu dengan
Roma.. Demikian juga Fransiscus Xaverius menyebarkan ajaran Katolik Roma itu sampai ke Asia (Timur
Jauh). Pada saat ini juga terjadi reformasi spiritual di dalam Gereja Roma Katolik yang dipimpim
oleh Teresa dari Avilla.
Sementara itu Luther ingin mengadakan hubungan dengan Patriarkh Konstantinopel: Yeremia II. sebab
permusuhan yang ada antara pemerintah Turki dan pemerintah Jerman, surat Luther dan terjemahan
Pengakuan Augsburg ke dalam bahasa Yunani, baru sampai kepada Patriarkh Yeremia di Konstantinopel
dua tahun kemudian, ketika Luther sudah meninggal. Namun korespondensi dilanjutkan antara Patriarkh
Yeremia II dengan pakar theologia Lutheran: Melanchton, Osiander dan beberapa orang yang lain
Korespondensi itu cukup lama dan panjang, namun akhirnya Patriarkh Yeremia meminta agar para pakar
theologia Lutheran itu menghentikan saja korespondensi itu, sebab ketika diingatkan oleh Patriarkh
Yeremia bahwa beberapa ide dari Lutheranisme itu bersifat bidaah dan tak sesuai dengan Iman Rasuliah
Orthodox yang Katolik yang tetap dipertahankan oleh Gereja Orthodox itu, mereka tetap mempertahankan
diri. Maka korespondensipun berhenti sampai disitu. ..
4. Masa Pemerintahan “Ivan Yang Mengerikan” di Rusia
Ivan Yang Mengerikan memerintah Rusia dengan tangan besi. Dia dengan kejam menyiksa siapa saja yang
berani mengecam atau mengkritik tindakannya, termasuk diantaranya banyak rohaniwan Gereja yang
menjadi korban kekejamannya. Dia ingin membuktikan bahwa Rusia yaitu sungguh Roma Ketiga dan
berada diatas negera-negara Orthodox yang lain. Bapak rohaninya sendiri Presbyter Sylvester dibuang
dalam tawanan olehnya. Ketika Ivan yang mengerikan ini turun takhta maka dia digantikan oleh
anaknya: Theodoros. Pada saat inilah Patriarkh dari Konstantinopel Yeremia II mengunjungi Rusia untuk
meminta bantuan sebab kondisi tekanan yang dialami Gereja Konstantinopel dibawah Turki. Pada saat
kedatangannya inilah Episkop Ayub dari Moskow Patriarkh segenap Rusia pada tahun 1589. Kedudukan
Rusia sebagai Gereja Patriarkhat diakui oleh Patriarkh Alexandria, Patriakh Antiokia dan Patriarkh
Yerusalem pada tahun 1593. Sementara itu di perbatasan sebelah barat Rusia Kerajaan Polandia-Lithuania
mulai berdiri dan mengambil banyak wilayah Rusia. Sehingga penduduk di daerah itu kebanyakan
beragama Kristen Orthodox. sedang pemerintahannya sendiri beragama Katolik Roma. Kaum Yesuit
datang ketempat itu dengan membawa ilmu-ilmu dari Barat sehingga akibatnya terjadilah apa yang disebut
sebagai Persatuan Brest-Litovsk dengan menggunakan persyaratan-persyaratan Konsili Florence
sebagai landasannya. Ummat Orthodox yang masuk dalam persatuan dengan Roma ini boleh menggunakan
cara ibadah dan tradisi Orthodox namun hierarkhinya dan ajarannya sama sekali harus tunduk pada Gereja
Latin di Roma. Mereka inilah yang akhirnya dikenal sebagai Gereja “Katolik Timur”, yaitu Gereja Roma
Katolik yang menggunakan Ritus dari Gereja Orthodox Timur, disamping itu mereka juga disebut sebagai
kaum “Uniat”. Gerakan uniatisme ini tentu saja mendapat perlawanan sengit dari banyak orang.
Perlawanan ini datangnya dari kaum awam yang membentuk lembaga persaudaraan yang mendapat restu
dari Patriarkh Yeremia dari Konstantinopel untuk membela Iman Katolik yang Orthodox melawan
usaha Gereja Roma Katolik ini.
Disamping kesulitan yang dihadapi oleh Gereja Orthodox dari pihak Roma Katolik, ummat Orthodox juga
menghadapi kesulitan dari Islam, dimana banyak ummat Orthodox yang menjadi martyr bagi mereka yang
hidup di wilayah Islam.
5. Masa-Masa Sulit di Rusia
a. Skisma Kaum Percaya Lama
Memasuki abad ketujuh belas Tsar Polandia yang baru saja dinobatkan menyerbu Rusia ketika Rusia baru
saja kehilangan pemimpinnya sebab meninggal. Banyak pemimpin Rusia ditawan dan dibunuh oleh
pemerintah Polandia, termasuk Patriarkh Germogen.
Kesulitan ini diikuti dengan Skisma Kaum Percaya Lama di Rusia sebelah Utara. Patriarkh Nikon dari
Moskow ingin mengadakan keseragaman dalam praktek-praktek Liturgis Gereja Rusia agar seirama
dengan seluruh Gereja Orthodox yang lain, Dia ingin mengkoreksi ulang terjemahan-terjemahan buku-
buku Liturgis yang ada. Dia juga ingin mengkoreksi cara orang Orthodox Rusia selama ini membuat tanda
salib dengan dua jari: ibu jari dan telunjuk saja, harus dengan tiga jari: ibu jari, telunjuk dan jari tengah, dan
hal-hal serupa itu yang lain. Menurut ukuran kita saat ini, perubahan semacam itu hanya kecil saja artinya,
namun dalam mentalitas bangsa Rusia waktu itu, menyeragamkan praktek Rusia dengan praktek dari
wilayah-wilayah Patriarkh yang lain, berarti menyangkal kedudukan Rusia sebagai “Roma Ketiga” sebab
harus tunduk pada patriarkh-patriarkh lain yang hidup dalam jajahan Islam, sehingga pembaruan yang
sifatnya kecil itu menjadi ledakan besar. Usaha untuk mencari jalan tengah tidak berhasil, sehingga mereka
yang menentang pembaharuan Nikon ini memisahkan diri dari Gereja Resmi, dan tetap mempertahankan
praktek-praktek ritual lama Gereja Rusia, sehingga mereka disebut“Kaum Percaya Lama” atau “Kaum
Ritualis Lama” . Nikon sendiri dipecat dan dipenjara Kaisar sebab berani mengingatkan kesalahan Kaisar
di depan umum, sedang pemimpin “Kaum Percaya Lama” dihukum mati oleh Kaisar. Teori Moskow
sebagai Roma Ketiga, serta teori keunggulan Rusia atas Patriarkh-patriakh yang lainpun digugurkan. Pada
tahun 1682 Kaisar Petrus yang Agung sangat ingin menyeragamkan praktek-praktek Gereja Rusia dengan
Gereja Barat, namun untung ada Kaum Percaya Lama yang mempertahankan praktek-praktek Gereja
Orthodox Rusia secara murni, kalau tidak ada mereka, telah musnahlah ciri khas Gereja Rusia.
b. Gereja Orthodox Dalam Tawanan Pemikiran Barat (“Pseudomorphosis”)
Pada saat ini Seminari theologia di Kiev didirikan. Banyak pengaruh metode dan sistimatik skolastikisme
pemikiran Barat mempengaruhi Rusia pada saat ini akibat karya orang-orang Yesuit.. Sementara itu di
wilayah Islam, para pemimpin Orthodox tidak mempunyai kesempatan memperkembangkan pemikiran
theologisnya, sebab mereka tak diijinkan keluar dari daerah mereka ataupun membuat sekolah theologia
mereka sendiri. Sehingga masa ini Gereja Orhodox mengalami apa yang disebut “ Tawanan Pikiran Barat”
atau “Pseudomorphosis “ selama dua ratus tahun. Artinya Gereja Orthodox tidak dapat berpijak pada
theologia Orthodox yang otentik.
Untuk melawan Katolik mereka menggunakan argumentasi Protestan, misalnya : Patriarkh Kyrillos
Lukaris dari Konstantinopel yang sangat Calvinist, sehingga ajarannya ditolak Gereja sebelum dia
meninggal ditenggelamkan pemerintah Turki ke dalam laut, serta Petrus dari Moghila yang untuk
melawan Protestantisme menggunakan argumentasi Roma Katolik. Pada saat ini pemerintah Turki
menghapuskan kemandirian Gereja-Gereja Orthodox yang lain dan dipaksa tunduk kepada kepatriarkhan
Konstantinopel di Turki agar mudah pengawasannya.
Eropa baru saja pulih dari kekacauan agama akibat reformasi-kontra reformasi. Amerika sudah ditemukan
dan banyak pengikut aliran baru akibat Reformasi Protestan mulai bertempat tinggal disana: Baptis,
Quaker, Puritan, Konggregasionalis, dan lain-lain. Perpecahan dalam denominasi-denominasi terus terjadi
dalam tubuh Protestantisme.
6. Masa pemerintahan Petrus Yang Agung di Rusia
a. Di wilayah Turki
Ummat Orthodox yang ada di wilayah Islam pada abad kedelapan belas mengalami banyak sekali kesulitan.
Sehingga dalam waktu 73 tahun di abad ini tahta kepatriarkhan Konstantinopel digantikan oleh patriarkh-
patriarkh sebanyak 48 kali. Ini menunjukkan kondisi yang mengenaskan dari ummat Kristen yang hidup
dibawah pemerintahan Turki. Ini yaitu saat yang paling pekat bagi ummat Kristen Orthodox. Namun
ditengah situasi seperti ini tak berarti Gereja tak memiliki viatalitas dan kebenaranian untukl bersaksi.
Muncullah Aghios Kosmas Aitolos seorang misionari yang sangat berani ditengah situasi yang hampir
mustahil itu. Dia meninggalkan biaranya di Gunung Athos untuk mengajar Injil kepada ummat yang sedang
teraniaya itu. Dia yaitu pengkhotbah dan guru serta pelaku mukjizat. Akhirnya apa yang dilakukan itu
harus ditebus dengan nyawanya sendiri dengan dibunuh sebagai martyr di tangan orang-orang
Turki. Aghios Makarios dari Korintus yaitu pengkotbah dan missionari sekaligus, yang diangkat
menjadi Episkop di Korintus. Dia mentobatkan banyak orang yang sedang dalam tekanan pemerintah yang
memusuhi agama mereka itu. Aghios Nikodemas dari Gunung Athos, yaitu orang yang bertanggung-
jawab bagi kebangunan rohani diantara ummat Orthodox ditengah-tengah jajahan Turki itu.
b. Situasi di Rusia: Sinode Suci yang Memerintah
Masa dalam “Tawanan Pikiran Barat” yang sangat skolastis itu masih mendominasi Rusia, terutama dalam
diri Tsar Petrus yang Agung. Dia ingin membuat Gereja Orthodox Rusia itu menjadi seperti Gereja Lutheran
di Jerman, sehingga dia memecat Patriarkh serta membubarkan sistim kepatriarkhan dan
menggantikannya dengan sistim synode, yang disebutnya : Synode Suci yang memerintah[b], yang
dirancang oleh [b]Theophan Prokopovichyang sangat Pro-Protestan. Synode Suci ini terdiri dari dari
para Episkop,. Para Presbyter, serta orang-orang awam yang ditunjuk oleh Kaisar dan harus tunduk kepada
Kaisar sebagai pimpinan duniawinya. Ini yaitu masa yang paling sulit bagi Gereja Rusia. Sistim “Synode
Suci” yang sangat tidak Orthodox ini baru dibubarkan pada tahun 1918 (terlalu terlambat sebab Revolusi
Bolshevik sudah terjadi dan pemerintah Komunis sudah berkuasa) ketika seorang Patriarkh dipilih lagi
untuk Gereja Rusia. Orang yang ditunjuk oleh Petrus Yang Agung menjadi pemimpin pertama dari Synode
Suci ini yaitu Stefan Iavorskii, yang sangat Pro-Roma Katolik. Itulah sebabnya ummat Orthodox baik
yang dibawah Islam atau di Rusia terbagi menjadi Pro-Roma atau Pro-Protestan, dan harus membela salah
satu dari kedua posisi yang asing dari Tradisi Theologia Orthodox sendiri itu. Tradisi Gereja Orthodox yang
hidup hampir tak dikenal oleh situasi sejarah yang demikian ini. Orthodoxia betul-betul sedang dalam
“Tawanan Pikiran Barat” dan theologinya betul-betul sedang mengalami “Pseudomorphosis” (“Perubahan
Bentuk yang Palsu”). Namun suatu gerakan pembaharuan rohani yang otentik Orthodox sudah mulai juga
pada abad yang dekaden bagi Gereja Orthodox ini. Ini mulai dengan ditemukannya lagi untuk pertama kali
sumber tradisional Iman dan spiritualitas Orthodox diantara lingkungan kaum rahib. Paisii Velikovskii
(wafat 1794) , seorang rahib dari Moldavia, pergi ke Gunung Athos, dan pulang membawa
kitab “Philokalia” , yaitu kumpulan tulisan-tulisan spiritual dan theologis dari para Bapa Gereja Timur,
yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Rusia. Dari sinilah secara pelan-pelan pemikiran yang otentik
Orthodox mulai ditemukan kembali oleh Gereja. Pimpinan Gereja Rusia yang terkenal pada abad kedelapan
belas ini Platon dari Moskow , pengarang banyak buku theologia, pendukung studi kesejarahan, serta
perancang rencana yang membuat kembalinya Kaum Percaya Lama bersekutu dengan Gereja Orthodox.
Pada abad keselapan belas ini missionari Rusia mulai menyebarang Siberia ke Alaska, terutama Aghios
Herman yang mentobatkan suku-suku Eskimo di Kutub Utara kepada Iman Kristen Orthodox, yang tetap
menjadi iman mereka sampai kini.
c. Gereja Barat
Abad kedelapan belas yaitu abad kebangunan rohani dan perluasan misi bagi Gereja Barat. Yohanes
Wesley memulai Gerakan Methodisme di Inggris, dan dibawanya ke Amerika sampai mempengaruhi
“Kebangunan Besar” di Amerika, yang merobohkan tembok-tembok pemisah diantara kaum Protestan, dan
menjadi sumber theologia Evangelikal (Injili) nantinya. Jonathan Edwards (wafat 1758) dan George
Whitefield (wafat 1770) pemimpin dai Gerakan Kebangunan Rohani Protestan ini. Namun pada saat ini
juga semangat pencerahan dan romantisisme juga telah masuk ke dalam masyarakat Barat yang akan
menjadi sumber bagi theologia liberal dalam kalangan ummat Protestan dan juga Katolik Roma. David
Hume, Immanuel Kant, dan Frederich Schleimacher muncul pada saat ini pula Gereja Roma Katolik
pada abad kedelapan belas mengalami gerakan misioner yang amat besar namun juga konflik dengan
semangat pencerahan.
7. Kebangunan Rohani dan Gerakan Misi Gereja Orthodox Rusia
a. Kebangunan Rohani
Masuk kedalam abad kesembilan belas, kita masih menjumpai Gereja Rusia tetap dibawah tekanan
pemerintah dengan Synode Suci yang dipaksakan ke dalam Gereja Orthodox itu. Inilah penyebab
kelumpuhan Gereja sehingga tak mampu menghadapi Komunisme ketika itu muncul di Rusia, serta salah
satu penyebab kejatuhan Rusia ke tangan Komunis nantinya. . Gereja sangat dikendalikan dan disensor
dengan ketat oleh pemerintah, dimana Patriarkh tak dimilikinya, konsili-konsili Gereja tak pernah
dilakukannya. Namun benih kebangunan rohani yang sudah mulai ditanamkan pada abad ke delapan belas
itu mulai menghasilkan buah pada abad kesembilan belas ini. Pada saat ini muncullah seorang tokoh luar
biasa Aghios Serafim dari Sarov ( wafat 1833). Dia yaitu seorang rahib yang selama 20 tahun tinggal
tersembunyi dalam hutan tenggelam dalam doa yang mendalam (terutama Doa Yesus), puasa, dan disiplin-
disiplin rohani. Pada tahun 1825 dia keluar dari pertapaannya, dan disitulah kebangunan rohani di mulai.
Ribuan orang datang untuk dijamah olehnya, dan ribuan orang disembuhkan. Dia mengetahui masalah
orang sebelum diberi tahu. Disaksikan oleh muridnya: Motovilov, badannya mengeluarkan sinar terang
yang menyilaukan seperti yang terjadi ketika Yesus dimuliakan diatas gunung. Ini meneguhkan kembali
apa yang telah dibela oleh Aghios Gregorius Palamas mengenai “Pengalaman Energi Ilahi” yang telah
dinyatakan sebagai bagian dari ajaran resmi Gereja Orthodox. Aghios Serafim mengajarkan bahwa tujuan
hidup Kristen yaitu untuk mendapatkan Roh Kudus dan tenggelam di dalamnya, dan kalau Tuhan
karuniakan sampai mengalami “Terang Tak Tercipta” seperti yang dialaminya itu. Disamping Aghios
Serafim dari Sarov, tokoh pembaharuan dan kebangunan rohani Orthodox di Rusia yaitu para tetua
rohani dari Pertapaan Kerahiban Optina.
Kebangunan rohani dalam Gereja Orthodox selalu terkait dengan kehidupan penyangkalan diri dan praketk
Doa Batin: Doa Yesus. Yang terkait dengan hal ini yaitu pengalaman-pengalaman energi ilahi dalam
mukjizat-mukjizat, kesembuhan-kesembuhan, karunia pembeda-bedaan roh, karunia pemberitahuan hal
sebelum terjadi dan terutama munculnya para “tetua rohani” yang memiliki karunia mengetahui isi hati
seseorang ( “staretz” “yeronda”) , serta pengudusan kehidupan. Tokoh lain dalam gerakan kebangunan
rohani Orthodox pada saat ini yaitu : Episkop-Rahib Ignatii Brianchaninoff (wafat 1867)
serta Theophan Sang Penyendiri (wafat 1867) yang menulis masalah-masalah rohani yang berjilid-jilid
banyaknya. Juga munculnya suatu buku populaer mengenai “Doa Yesus” oleh seorang penulis Rusia yang
tak dikenal namanya :“Jalan Si Pengembara” (Di Indonesia telah diterjemahkan oleh Gereja Roma Katolik
dari Yayasan Kanisius, dengan judul “Doa Tak Kunjung Putus”).
Tokoh lain dari masa kebangunan rohani abad kesembilan belas di Rusia ini yaitu seorang presbyter yang
menikah : Romo Yohanes Sergieff dari Kronstadt ( wafat.1908). Dengan isterinya sendiri dia membuat
rumahnya sebagai pertapaan, mereka berdua telah berjanji untuk hidup sebagai rahib dan rahibah dan
mengubah kehidupan rumah tangga mereka menjadi kehidupan untuk Kristus. Romo Yohanes ini sangat
terkenal sebagai seorang gembala Gereja. Dia berkhotbah.mengajar, dan menyembuhkan banyak orang
melalui doa-doanya. Dia menekankan perlunya ambil bagian dalam Perjamuan Kudus sesering mungkin,
serta mengikuti Sakramen Pengakuan Dosa sesering mungkin.Buku bimbingan rohaninya yang amat
terkenal yaitu : “Hidupku di dalam Kristus” .
Disamping di bidang rohani, di bidang theologipun Gereja Orthodox pada abad kesembilan belas ini
mengalami kebangunan. Tokoh-tokoh kebangunan theologia pada saat ini yaitu Metropolitan Filaret
dari Moskow ( wafat 1867), serta pakar theologia awam : Alexei Khomiakov(wafat 1860) yang karya-
karya tulisnya - misalnya buku yang terkenal “Gereja yaitu Satu” - aslinya tidak diterbitkan di Rusia
sebab sensor pemerintah. Dia yaitu salah satu dari tokoh-tokoh pemikir original yang menemukan
kembali sumber otentik theologia Orthodox dari Iman Konsiliar dan Para Bapa Gereja Purba, serta
Kehidupan Sakramental Gereja, dan melepaskan Theologia Orthodox dari “Tawanan Pemikiran Barat” yang
berlandaskan pada kategori theologia Agustinian dan metode Skolastikisme, baik yang Roma Katolik (
sebagaimana yang dijabarkan oleh Thomas Aquinas) maupun yang Protestan ( sebagaimana yang
dijabarkan oleh Luther dan Calvin, yang metode dan kategori pemikirannya menjadi pijakan semua bentuk
aliran dan theologia Protestan selanjutnya ). Sejak saat itu sampai kini Gereja Orthodox telah menemukan
kembali jati dirinya dan berpijak kembali kepada Ajaran Rasuliah yang Orthodox dan Katolik dari Gereja
Purba, dan lepas dari “Tawanan Pemikiran Barat” dan dari penampakan palsu “Pseudomorphosis” itu.
b. Gerakan Misi
Banyak orang Kristen Non-Orthodox menuduh Gereja Orthodox tidak pernah mengadakan misi keluar, dan
hanya terkungkung dalam faham “mistik” dalam lingkup dirinya sendiri saja. Entah apa pula yang dimaksud
mereka dengan “mistik” Gereja Orthodox ini. Namun mengenai tuduhan Gereja Orthodox tak pernah
melakukan misi itu hanyalah sebab ketidak-tahuan sejarah Gereja Orthodox sejak zaman Purba, zaman
Konsili pertama oleh Ulfilas, pertobatan Eropa Timur dan Rusia, bahkan ditengah-tengah tekanan Islam,
serta karya Gereja Rusia yang sedang kita bahas ini. Sebagaimana di Gereja Barat, abad kesembilan belas
di Rusia yaitu juga abad kegiatan misioner. Presbyter Makarii Glukharev (wafat 1847) mendedikasikan
dirinya bagi penginjilan suku-suku di Siberia. Dosen awam, Nikolai Ilminskii ( wafat 1891)
menterjemahkan Alkitab dan buku-buku Gereja ke dalam bahasa suku-suku ini. Akademi Theologia yang
didirikan di Kazan menjadi pusat kegiatan misioner dari Gereja Rusia. Pada saat ini, Episkop Nikolas
Kasatkin dari Tokyo (wafat 1912) mentobatkan beribu-ribu orang Jepang kepada Iman Orthodox, dan
pada saat meninggalnya, dia telah meninggalkan suatu gereja lokal yang mandiri ( sekarang Katedralnya
“Nikolai-Do” ada di Tokyo), dengan Kitab Suci dan buku-buku Gereja dalam bahasa setempat dengan
presbyter-presbyter orang-orang setempat. Aghios Herman yang telah kita sebutkan besama
Romo Yohanes Veniaminoff juga mengabarkan Injil kepada suku Eskimo: Aleut dan meinggalkan orang-
orang Eskimo mayoritasnya yaitu pemeluk Iman Orthodox sampai kini. Pada saat ini pula banyak ummat
Orthodox yang pindah dari tanah asli mereka untuk tinggal di negara-negara yang lebih bebas, terutama
Amerika Serikat, Australia, Eropa Barat, Amerika Latin dan New Zealand. Mereka inilah yang akan menjadi
penggerak misi Gereja Orthodox pada abad kedua puluh nanti.
c. Masa Turkokratia Berakhir
Secara theologia selama dua ratus tahun Gereja Orthodox dalam “Tawanan Pikiran Barat” dan akhirnya
dapat melepaskan diri pada abad kesembilan belas. Demikian pula masa Turkokratia selama empat ratus
tahun itu berakhir pula pada abad kesembilan belas ini. Pada abad ini sejumlah besar ummat Orthodox
dapat merebut kemerdekaan mereka dari jajahan Turki Muslim. Perjuangan kemerdekaan Yunani pada
tahun 1821 menyebabkan Patriarkh Gregorius dari Konstantinopel mati digantung pemerintah Turki.
Sesudah Yunani merdeka menjadi negara mandiri, maka status mandiri dari Gereja Yunani
diproklamasikan pada tahun 1833, dan diteguhkan oleh Konstantinopel pada tahun 1850. Sekolah
theologia Halki di Konstantinopel didirikan, yang darinya, Theologia Otentik Orthodox disebarkan dan
diajarkan kembali, seta banyak para pemimpin Orthodox dihasilkan oleh sekolah ini. Namun pada tahun
1970an ditutup lagi oleh pemerintah Turki sampai sekarang belum boleh dibuka. Gereja umania dan Srrbia
serta Bulgariapun memperoleh status mendiri pada saat ini.
d. Gereja Barat
Pada abad kesembilan belas kita menemukan Protestantisme sedang mengalami konflik antara aliran
theologia liberal dan Neo-Orthodoxy dengan kaum Konservatif, Evangelikal dan Fundamentalis. sedang
dalam Gereja Roma Katolik, pada awal abad ini dicanangkan Dogma Roma Katolik “Maria Terkandung
Tanpa Dosa Asal” oleh Paus Pius IX, tahun 1854. sedang pada tahun 1870, Konsili Vatikan I,
menegaskan doktrin “Paus Tak dapat Salah” , suatu doktrin yang makin menjauhkan Gereja Roma Katolik
dari Gereja Orthodox. Pada tahun 1848 menanggapi sindiran-sindiran Paus Pius IX yang ditujukan kepada
Gereja Orthodox termasuk kedua doktrin baru yang dicanangkan oleh Gereja Roma Katolik, namun yang
tak dapat diterima oleh Gereja Orthodox itu, maka para Patriarkh dari Timur mengeluarkan Surat Edaran
yang menegaskan Sifat Konsiliar dari Gereja Orthodox.
G. Zaman Modern ( Abad 20-21)
Gereja Orthodox Masakini
a. Situasi Gereja Orthodox dalam Diaspora
Ada banyak hal terjadi selama abad kedua puluh dalam Gereja Orthodox. Terutama perpindahan ummat
Orthodox dari negera asli masing-masing ke daerah-daerah yang telah kita sebutkan diatas. Sehingga
terbentuk kelompok-kelompok ummat Orthodox yang berkumpul atas dasar kebangsaan. Dan mereka ini
loyal kepada patriarkhat asal mereka masing-masing, sehingga terbnentuklah yurisdiksi-yurisdiksi yang
bermacam-macam sesuai dengan asal negara mereka. Situasi ini sangat tidak sesuai dengan hukum Kanon.
Namun di Amerika untuk mengatasi kekacauan yuridiksi ini diadakan persekutuan para Episkop Orthodox
yang disebut “SCOBA” untuk pada akhirnya nanti membentuk satu Gereja Othodox Amerika. Keepiskopan
Orthodox Yunani, membentuk suatu “ Pusat Misi Orthodox” yang sekarang telah menjadi milik bersama
dari semua Gereja Orthodox yang ada di Amerika. Gereja di Yunani juga telah memiliki beberapa badan
misi, dan yang terutama yaitu “Apotosliki Diakonia” ( Pelayanan Apostolik) yang juga merupakan badan
misi Gereja Orthodox.
Pada tahun 1917 Rusia jatuh ke tangan Komunis, dan beribu-ribu pemimpin Orthodox yang dibunuh,
dipenjarakan atau dibuang. Berjuta-juta ummat Orthodox mati dianiaya oleh propaganda atheisme di Rusia
dan Eropa Timur. Namun pada tahun 1988 ketika Presiden Mikhael Gorbachev mencanangkan glasnots
dan peretroiska, komunisme runtuh dan Gereja mengalami kebangkitan dan vitalitas kembali di Rusia.
Pada tahun 1920 Patriarkh Ekumenis mengeluarkan Surat Edaran untuk segenap ummat Kristen
mengadakan kerjasama. Dari situlah Gereja Orthodox akhirnya bersama Gereja-Gereja Protestan
membentuk Dewan Gereja –Gereja seDunia.
b. Misi Gereja Orthodox
1. Di Benua Afrika
Pada tahun 1960 ada sekelompok orang Kristen kulit hitam Afrika yang membentuk suatu denominasi baru
yang disebut “Gereja Orthodox Afrika.” Dengan berlalunya waktu mereka mengetahui bahwa Gereja
Orthodox yang sebenarnya itu masih ada di Alexandria. Lalu mereka menemui Patriarkh Alexandria
Kalsedon ( bukan Koptik ) dan menginginkan untuk menggabung dengan Gereja Orthodox. Dari permulaan
awal inilah, sampai sekarang misi Gereja Orthodox mengalami kemajuan pesat di Uganda, Kenya, Tanzania,
Kameroon, dan banyak daerah Afrika lainnya termasuk Afrika Selatan. Dua orang Episkop Orthodox Kulit
Hitam telah ditahbiskan sejak saat itu, dan presbyter-presbyter yaitu orang lokal dengan liturgi dalam
bahasa lokal.
2. Amerika, Eropa dan Inggris
Perkembangan Gereja Orthodox di wilayah barat ini, tak lepas dari kehadiran ummat Orthodox Diaspora
yang ada di negara-negara itu. Namun baru mulai mengalami kemajuan pesat ketika 2000 orang mantan
pendeta Injili beserta ummatnya menemukan kembali Iman Orthodox itu, sehingga banyak orang-orang
Barat non-etnik Orthodox dari segala macam latar-belakang yang sekarang mencari Gereja Orthodox dan
dengan giat menyebarkan Iman Orthodox disitu. Tokoh-tokoh terkenal Gerakan ini yaitu Peter Gilquist,
Gordon Walker dan lain-lain di Amerika, sedang di Eropa dan Inggris tokoh terkenal terutama yaitu
:Michael Harper, seorang mantan Imam Gereja Anglikan dan tokoh Kharismatik Internasional.
3. Asia
Gereja Orthodox Jepang sudah kita singgung sejarahnya. Gereja Orthodox Korea, pada mulanya yaitu misi
Gereja Rusia juga, namun ketika Rusia berperang dengan Jeang dan Jepang dikuasai Korea, semua milik
Gereja Orthodox disita pemerintah Jepang. Ketika Korea merdeka milik Jepang jadi milik pemerintah Korea.
Banyak ummat Orthodox yang meninggalkan Gereja, namun masih ada sedikit yang bertahan. Ketika
Perang Korea Utara dan Selatan tahun 1950an, tentara perdamaian PBB dikirim ke Korea. Diantara mereka
yaitu tentara Yunani. Ummat Orthodox Korea yang masih sisa itu mendekati pasukan Yunani
inimenceritakan keadaan mereka. Hal itu dilaporkan ke Yunani, dan sejak saat itu Gereja Orthodox Korea
berada dalam wilayah Patriarkh Konstantinopel sampai sekarang. India disamping memiliki Gereja Syria
Monofisit (Oriental Orthodox) di sebelah Barat pantai India, juga memiliki Misi yang dilakukan oleh Gereja
Orthodox Kalsedonia di daerah Kalkuta. Ini juga berada di bawah Konstantinopel Demikian juga Gereja
Orthodox Filipina. Untuk tujuan perkembangan misi di Asia, Patriarkh Konstantinopel`membagi
Keepiskopan Agung Australia menjadi dua: Keepiskopan Agung New Zealand untuk Asia Pasifik dan
Keepiskopan Agung Australia sendiri untuk benua Australia.
4. Indonesia
a. Masa Sebelum GOI
Sudah kita sebutkan bahwa Gereja Timur dari Persia telah hadir di Indonesia pada abad ketujuh di Pancur
dan Barus, bahkan di Majapahit. Kisah mereka itu tidak ada kelanjutannya. Sejak zaman Belanda dan
terutama pada tahun 1950an terdapat pula Gereja Timur, meskipun itu yaitu Gereja Orthodox Oriental
Armenia di Jakarta, namun dari anggota-anggotanya di dalamnya terdapat juga orang-orang Yunani.
Mereka memiliki Gereja di Jalan Thamrin sekarang dan telah dibongkar menjadi Bank Indonesia pada
tahun 1960an ketika zaman penerintahan Orde Lama., dan di Surabaya di Jalan Pacar 6, yang telah dibeli
oleh komunitas Kristen Protestan, etnis Tionghoa.. Namun ketika terjadi pemberontakan G-30-S banyak
mereka ini yang meninggalkan Indonesia pindah ke negara lain, dan sejak saat itu komunitas Armenia ini
tak ada lagi di Indonesia.
b. Munculnya GOI (Gereja Orthodox Indonesia)
Gereja Orthodox Indonesia bermula dengan perjumpaan seorang pemuda yang masih duduk di bangku
SMA dengan Kristus pada hampir pertengahan tahun 1970an. Pada saat pertobatannya dia belum begitu
banyak tahu tentang perbedaan macam-macam aliran Gereja. Pada pertengahan tahun 1970an dia
berkecimpung aktif dalam gerakan kharismatik. Namun dia mulai menyadari perbedaan-perbedaan yang
ada antara mereka yang non-kharismatis dan yang kharismatis. Demikian juga perbedaan yang ada antara
beberapa macam aliran Gereja, terutama perbedaan menyolok antara Katolik dan Protestan. Dia mulai
meragukan pilihannya sendiri, disamping mulai rindu akan cara-cara ibadah yang teratur. Dia ketemukan
dalam Alkitab ada puasa, sembahyang dengan sujud dan lain-lain. Dia ingin mencari Gereja seperti
diceritakan dalam Alkitab itu. Dia ingin tahu asal mula Gereja, dan keberadaan Gereja Purba. Pada tahun
1978 dia pergi ke Korea untuk belajar theologia. Disana selama kuliah pergumulannya belum selesai,
namun pada awal tahun 1982 dia membaca buku tentang “Gereja Orthodox” dan menemukan jawaban
pergumulannya. Dia mengunjungi Gereja Orthodox Korea. Singkat cerita pada tanggal 6 September 1983
dia telah diterima menjadi anggota Gereja Orthodox satu-satunya dan yang pertama dari Indonesia, dengan
restu langsung dari Patriarkh Konstantinopel. Dari Korea pergi ke Yunani terutama banyak di Gunung
Athos.
Disitu mulai mengadakan korespondensi dengan saudara-saudara di Indonesia. Sehingga beberapa orang
tertarik akan Iman Orthodox. Dari Yunani pergi ke Amerika melanjutkan kuliah di Holy Cross Greek
Orthodox School of Theology. Dari situ ia melanjutkan kuliah di Ohio State University mengambil bidang
study Anthropology Budaya namun juga pada saat yang bersamaan mengambil doktorat untuk bidang
Religious Study di “Bethany Theological Seminary”, Dothan, Alabama. sesudah ditahbiskan di Amerika oleh
Episkop Maximos dari Pittsburgh, PA, dia kembali ke Indonesia sebagai Presbyter Daniel Bambang Dwi
Byantoro (penulis buku ini)pada tanggal 8 Juni 1988. Ia mulai pelayanannya di Mojokerto, namun
kemudian pindah ke Solo. Di Solo ia mendirikan Yayasan “Suara Dharma Tuhu” sebagai wadhah
pelayannanya, kemudian diubah menjadi “Yayasan Orthodox Injili.’ sedang ketika di Amerika melalui
korespendensi tadi, orang-orang yang tertarik kepada Iman Kristen Orthodox itu diundang ke Amerika dan
diterima sebagai anggota Gereja Orthodox disana melalui Sakramen Krisma, serta melanjutkan kuliah
theologia dan akhirnya mereka semua ditahbis sebagai presbyter dan sekarang sudah melayani di
Indonesia: Presbyter Yohanes melayani di Surabaya dan Krian, Presbyter Lazarus melayani daerah Jogya
dan Cilacap, Presbyter Matius membantu Romo Daniel di Jakarta. Disamping itu ada presbyter yang dididik
di Korea: prebyter Methodios melayani daerah Boyolali, Presbyter Alexios melayani daerah Solo, Diaken
Panteleimon melayani daerah Mojokerto. Yayasan Dharma Tuhu, yang kemudian diubah menjadi Yayasan
Orthodox Injili Indonesia di Solo sebagai awal Presbyter Daniel memulai karya misinya itu,.tugas utamanya
yaitu menterjemahkan semua buku-buku liturgis Gereja ke dalam bahasa Indonesia disamping tugas
penginjilan. Di Solo Presbyter Daniel dibantu oleh beberapa orang termasuk yang sekarang menjadi
Presbyter Chrysostomos (Manalu), yang sesudah selesai kuliah di Yunani, dan melayani selama dua tahun
di New Zealand, kini melayani untuk daerah Medan dan Tarutung. sedang di Singaraja dan Denpasar ,
Bali, dilayani oleh Romo Stefanus yang juga telah menyelesaikan pendidikannya di Amerika.
Tahun 1989 yaitu pembaptisan pertama kepada Iman Orthodox dari orang-orang yang tertarik kepada
iman Orthodox ini. Mulai dari saat itulah Gereja berkembang secara pelan-pelan di Solo, sampai kini telah
memiliki Gedung Gereja yang permanen. Sejak semula usaha untuk mendaftarkan ke Departemen Agama
dilakukan. Pada tahun 1991 secara resmi Gereja Orthodox Indonesia yang berpusat di Solo telah di daftar
di Departemen Agama Pusat,.dengan Keputusan No: 189/th.1991, dan diperbarui lagi dengan nomor :
F/Dep.Kep./ Hk 005/ 19/637/ 1996 Tanggal 12 Maret 1996. Dari tahun 1989 s/d 1996 Gereja Orthodox
Indonesia berada dalam wilayah Keepiskopan Agung New Zealand. Namun pada bulan Agustus 1996
Patriarkh Bartholomeus I pengganti ke 269 dari Rasul Andreas, berkunjung ke Hong Kong, dan
Keepiskopan New Zealand dibagi dua. New Zealand hanya untuk Korea, Jepang dan Pasifik, sedang
Hong Kong untuk China Raya dan Asia Tenggara dan bertanggung jawab untuk Indonesia atas nama
Konstantinopel.. Episkop Agung Hong Kong yang sekarang yaitu Metropolitan Nikitas Lulias. Gereja
Orthodox Indonesia sekarang (tahun 2000) memiliki 7 presbyter Indonesia asli, dua orang diaken, seperti
yang telah kita sebut diatas.
sedang Diaken Gabriel Raul masih sedang belajar di Amerika. Masih ada empat orang lagi pemuda
Orthodox yang sedang belajar di luar negeri: Timotheos dan Margaretha di Athena, Yunani, Gregorios Eko
di Tesalonika serta Yosua Waluyo Utamo di Amerika Serikat. Gereja Orthodox di Jakarta tadinya
mengadakan pertemuannya sekali sebulan di Kedutaan Yunani. Kemudian ada perkembangan baru dimana
pada tanggal 18 April 1997 diadakan baptisan yang menandai terbentuknya jemaat Gereja Orthodox di
Jakarta. Pada tanggal 5 Oktober 1997 secara resmi Jemaat lokal (paroikia) Gereja Orthodox ini diberi nama
“Aghia Epiphania” suatu nama yang diberikan oleh Episkop sendiri. Sambil menunggu dibangunnya
“Orthodox Christian Center” di tanah milik Gereja di Cinere, saat ini Gereja Orthodox beribadah tiap
minggunya di rumah Bapak Roy Martin. Pada tahun 1994 Presbyter Daniel diangkat
sebagai “Arkhimandrit” ( gelar jenjang tertinggi untuk presbyter yang tidak menikah) oleh Metropolitan
Dionysios dari New Zealand, serta ditetapkan sebagai Vikaris (Wakil) Episkop Agung untuk Indonesia,
dan bertanggung jawab kepadanya. sebab perkembangan yang ada di Asia dan karya yang makin meluas
dari Gereja Orthodox di Asia, maka Patriarkh Konstantinopel, Bartholomeus I, memutuskan untuk
mendirikan suatu Ke-Episkopan Agung yang baru untuk Asia. Itulah sebabnya pada bulan Agustus tahun
1997, maka telah diciptakan suatu wilayah Ke-Metropolitan-an Hong Kong dan Asia Tenggara yang
berkantor pusat di Hong Kong. Wilayah Gerejawi yang baru ini bertanggung-jawab atas semua Gereja-
Gereja Orthodox di Asia: India, Singapura, Thailand, Filipina, China, Taiwan dan Hong Kong. Jepang dan
Korea termasuk dalam wilayah New Zealand. Episkop Agung yang menjabat pada saat ini yaitu
Metropolitan Nikitas Lulias berkedudukan di Hong Kong.
Dengan demikian Gereja Orthodox Indonesia ini dibawah penggembalaan rohani dari Metropolitan Nikitas
Lulias tersebut.Perkembangan selanjutnya yang terjadi pada tahun 2000 ini yaitu , untuk pertama kalinya
wakil-wakil rohaniwan dan wakil-wakil pengurus dari Gereja Orthodox Indonesia secara resmi
bersilaturahmi dengan Presiden Republik Indonesia: Bapak K.H. Abdurrahman Wahid di gedung Bina
Graha, Jakarta pada tanggal 13 Maret 2000. Serta diikut-sertakannya Gereja Orthodox Indonesia secara
resmi dalam dialog interaktif dengan Presiden bersama-sama dengan tokoh-tokoh agama lain serta tokoh-
tokoh masyarakat di Gedung Pola, pada tanggal 20 Maret 2000. Dan yang tak kalah pentingnya yaitu
keikut-sertaan Gereja Orthodox Indonesia dalam Sidang Raya XIII PGI di Palangka Raya, Kalimantan
Tengah pada tanggal 20-31 Maret 2000, yang dengan demikian makin mengokohkan tempat Gereja
Orthodox dalam hubungan kemasyrakatan maupun ke-Gereja-an di bumi Indonesia ini. Ini penting bagi
Gereja Orthodox Indonesia sebab PGI itu terkait dengan WCC atau DGD (Dewan Gereja-Gereja seDunia)
yang berpusat di Geneva Swiss. sedang berdirinya WCC itu awal-mulanya berasal dari inisiaytif dari
Patriarkh Athenagoras dari Konstantinopel, yiatu Patriarkh dari Gereja Orthodox melalui Surat Edarannya
yang dikeluarkan pada tahun 1920an. Padahal Gereja Orthodox Indonesia yaitu bagian dari wilayah
Patriarkh Ekumenis Konstantinopel ini. Dan di WCC Geneva, Gereja Orthodox yaitu merupakan bagian
yang integral dari lembaga persekutuan Gereja-Gereja secara internasional itu.
Demikianlah sejarah Gereja Orthodox Indonesia, yang merupakan bagian resmi dari seluruh Gereja
Orthodox di dunia ini.
Kesimpulan
Dari bukti-bukti sejarah yang kita bahas diatas terbuktilah bahwa Gereja Orthodox mempunyai sejarah
yang tak terputus dengan Gereja Purba dan bahkan Gereja Perjanjian Baru itu sendiri. Gereja Orthodox
tetap memelihara ajaran Rasuliah Gereja Purba itu tanpa tambahan ataupun pengurangan, serta
mempraktekkan ibadah yang sama dengan Gereja Purba, dan tetap memiliki pusat-pusat dimana asal mula
Kekristenan itu berada. Bahkan para patriarkh dan episkop serta presbyternya memiliki mata-rantai
pentahbisan yang dapat dilacak ke belakang langsung kepada para rasul itu sendiri. Gereja Orthodox tak
pernah mengalami dan tak memerlukan Reformasi ataupun Kontra-Reformasi, sebab ajarannya tak ada
satupun yang asing dari Injil itu sendiri. Pandangan theologinya bukanlah pandangan perorangan,
misalnya:Agustinus atau yang lain, para sarjana Skolastik dalam Gereja Roma Katolik, ataupun pandangan
perorangan seperti Luther atau Calvin dalam pihak Protestan, namun pandangannya bersifat konsiliar dari
segenap Gereja. Iman Orthodox tidak tunduk pada negosiasi atau perubahan-perubahan keinginan filsafat
manusia. Singkat kata Gereja Orthodox bukanlah hanya ingin meniru-niru Gereja Perjanjian Baru namun
yaitu Gereja Perjanjian Baru itu sendiri yang tetap hadir sepanjang dua puluh abad ini. Biarpun
sejarahnya mengalami jatuh bangun dan derita, namun imannya, ajarannya, ibadahnya, dan ethosnya tak
mengalami perubahan serambutpun. Ini tak berarti Gereja Orthodox tak pernah berkembang, namun
perkembangan Gereja Orthodox selalu berlandaskan dan mengacu kepada Iman Rasuliah yang satu dan
yang sama yang memangtak pernah berubah dalam hakekat isinya itu. Dengan kata lain dapat dikatakan
Gereja Orthodox tetap setia memelihara kepenuhan dan keutuhan kehidupan dan Iman Perjanjian Baru itu
tak terkoyakkan ataupun tergeserkan. Seutuh-utuhnya dan sepenuh-penuhnya Injil itu dipelihara tak
berubah tanpa pengurangan ataupun penambahan selama 2000 tahun ini oleh Gereja Orthodox.

