harton, Cromwell antara lain
menulis sebagai berikut, "Aku berharap tuan tidak menjadikan istri
tuan suatu penggodaan yang lebih besar dibandingkan yang seharusnya.
Perhatikanlah semua hubungan kemanusiaan; kasih sayang tidak
boleh dijadikan godaan. Namun dalam kenyataannya kita sering kali
melakukan hal itu." Telah sering terjadi juga adanya orang-orang yang
menolak panggilan Tuhan, sebab mereka terlalu memperhatikan
kepentingan dirinya sendiri sehingga mereka tidak bisa melakukan
hal-hal lain sama sekali. Dengan memberi perhatian yang terlalu
besar kepada diri sendiri, orang sebenarnya malah menjadikan dirinya
sendiri makin tidak berdaya.
Untuk ini ada sebuah syair yang pernah ditulis oleh seorang
tentara muda kepada kekasihnya. Judul syair itu ialah "Going to
Wars": "Sayangku, janganlah kau katakan aku tidak sayang padamu,
sebab dari keteduhan degup dadamu dan ketenangan hatimu Aku
mengangkat senjata pergi ke medan perang. Benar, aku sedang
memburu kekasih baru, Yaitu musuh di medan laga,
Yang kukejar dengan iman teguh, pedang, kuda dan perisai. Namun
keadaan ini memang berubah cepat, Dan engkau pun pasti akan
mengagumi, Bahwa aku tidak dapat mengasihi engkau, Seperti aku
mengasihi kehormatan pahlawan."
Memang tidak setiap orang akan diperhadapkan dengan
kejadian atau kasus seperti ini di atas. Mungkin banyak juga
orang yang dalam hidupnya jarang sekali menghadapi pilihan-pilihan
terbatas yang harus dipilihnya. namun tak dapat disangkal pula, bahwa
ada kemungkinan seseorang harus melakukan pilihan, di mana
kekasihnya sendiri yang justru menjadi lawan atau penantangnya.
Lebih-lebih jika pikiran serta sikap sang kekasih itu tetap ingin
mempertahankan, agar orang yang bersangkutan itu tidak melakukan
kehendak Tuhan yang seharusnya dilakukannya.
Ada istri atau suami, bahkan juga anak-anak, yang bersifat
terlalu egois, sehingga suami atau istri atau orang tua ini tidak
bisa melakukan kehendak Tuhan yang sama-sama mereka ketahui.
Suami tidak lagi dapat berkata kata kasihnya kepada orang tua dan
saudara-saudara kandungnya. Demikian juga istri tidak bisa
berkata kata kasih dan hubungannya dengan keluarga kandungnya
sendiri. Di dalam rumah tangga itu terjadilah istri melawan suami,
suami melawan istri, dan anak-anak melawan orang tua. Padahal
mereka sama-sama tahu bahwa kasih harus dinyatakan dalam
perbuatan nyata kepada sesama, termasuk kepada keluarga-keluarga
yang menjadi asal-usul kedua belah pihak.
23) Apa hukumnya bersunat ?
a. Sunat itu wajib (Kejadian 17:10-14, 17:14, Kejadian 21:4). Yesus
tidak membatalkan sunat, (Matius 5: 17-20, Lirkas 2:21). Yesus juga
disunat (lukas 2: 21). Dan orang yang tidak disunat, tidak dapat
diselamatkan (Kisah Para Rasul I5: 1-2).
b. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting
(Galatia 5:6, I Korintus 7:18-19).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
Sunat itu wajib bagi bangsa Israel, Alkitab tidak menulis
bahwa Yesus tidak membatalkan sunat melainkan Yesus tidak
meniadakan Taurat. Meniadakan tidak sama artinya dengan
membatalkan. Yesus memang disunat sebab Dia yaitu bangsa
Yahudi secara daging, sedang Kisah Para Rasul 15:1-2 bukanlah
ajaran para rasul melainkan hasutan sebagian kalangan Yahudi agar
orang Kristen non-Yahudi juga harus disunat.
Praktek sunat yang sudah lebih dahulu ada di antara
bangsa-bangsa lain, dipakai untuk menandakan orang dimasukkan ke
dalam perjanjian Abraham. Artinya yang berlangsung telah diketahui
dari fungsinya pada waktu ditetapkan. Perjanjian-perjanjian itu
diteguhkan dengan sumpah; kutuk sumpah itu ditunjukkan di dalam
upacara-upacara simbolis. Suatu kutuk yang lazim ialah pemotongan
(penyerahan) orang yang ditaklukkan untuk dibinasakan dan
peniadaan nama dari benihnya. Yang menyertai tindakan ini yaitu
suatu upacara dengan pisau yang melambangkan orang yang tidak
memenuhi perjanjian akan dipotong-potong. Demikianlah sunat
yaitu suatu upacara pisau yang dengannya perjanjian Abraham
dipotong.
Upacara itu melambangkan kutuk pemotongan atau pemisahan
dari persekutuan perjanjian. Lebih tepat lagi, pemotongan kulup
kelamin lelaki melambangkan pemotongan para keturunan. Pada
pihak lain, sebagai tanda sumpah mengakui ketuhanan Allah, maka
sunat juga menandai pengudusan. Perjanjian dengan orang taklukan
pada zaman purba meliputi; kecuali raja yang ditaklukkan itu, juga
kerajaannya dan keturunannya. Demikian juga Tuhan memberi
perjanjian-Nya kepada Abraham, bukan hanya sebagai seorang
pengaku iman secara perorangan, melainkan sebagai kepala suatu
masyarakat, dalam hal ini, rumah tangga keluarganya, termasuk anak-
anak dan hamba-hamba, dan hal itu diteruskan hingga keturunan-
keturunannya.
Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah,
dan agaknya diteruskan sepanjang zaman PL. Sunat menjadi ciri asasi
Yudaisme dalam PB dan menimbulkan pertentangan pada zaman para
rasul. Masyarakat Yahudi pada zaman PB mengaitkan sunat dengan
Musa begitu rupa, sehingga mereka melupakan kaitannya yang lebih
asasi dengan Abraham.
Kisah Para Rasul 15:1,
"Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan
kepada saudara-saudara di situ: 'Jijika kamu tidak disunat menurut
adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
diselamatkan.'"
Kisah Para Rasul 15:5,
"namun beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi
percaya, datang dan berkata: 'Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.'"
Yesus telah mengingatkan mereka bahwa sunat yaitu lebih
dahulu dari Musa. Paulus menekankan bahwa yang tak dapat diterima
agama Kristen ialah pandangan umum yang menghubungkan sunat
dengan Musa, dan senantiasa mengarahkan pembacanya kembali
kepada Abraham.
Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama
mewujudkan tanda rohani; kedua, memiliki arti kebangsaan. Bahwa
sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa
Israel, tidak dapat disangkal. Hal ini memang sama jelasnya dalam
Kejadian 34 seperti juga sesudah Musa. Tapi sifat kebangsaan itu
sebenarnya hanyalah dampak sampingan, sebab umat Israel pemilik
sunat itu disamakan dengan bangsa Israel PL. Dalam Kejadian 17:10-
14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh Abraham.
Artinya, sunat menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah
menuju manusia, dan hanya secara sekunder saja dapat dikatakan
menandai penyerahan manusia kepada Allah. saat bangsa itu
mengembara di padang gurun sebab tidak diperkenankan Allah,
perjanjian itu seolah-olah ditunda dan sunat tidak diberlakukan. Lagi,
saat Musa berbicara tentang seorang yang tidak petah lidahnya
(harfiah tak bersunat), hanya karunia firman Allah yang dapat
menyembuhkannya. Selanjutnya, PL berbicara tentang sunat sebagai
meterai atau pemberian kebenaran dari Allah. sebab itu sunat
menjadi tanda dari kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai
orang-orang milik-Nya.
Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar
anggota rumah tangga dan kepalanya. Perjanjian itu diadakan "antara
Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun". Kejadian 17:26-
27 khususnya mengungkapkan kebenaran yang sama: "Abraham...
Ismael... dan semua orang dari isi rumah Abraham... disunat bersama-
sama dengan dia." Demikianlah asal mula dan caranya sunat menjadi
adat Israel, bukan diterima dan berasal dari Mesir atau negeri-negeri
lain. Sunat Israel tegas berbeda dari sunat pada bangsa-bangsa lain
yang terkait dengan berjenjang dewasa, dan melulu bersifat sosial.
Sunat Israel yaitu pertanda kedudukan di hadirat Allah, dan bahwa
kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.
Mereka yang dengan cara demikian menjadi anggota
perjanjian diwajibkan berkata kata nya secara lahiriah dengan menaati
hukum Allah, seperti dengan tegas dituntut kepada Abraham,
"Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela". Hubungan antara
sunat dan ketaatan ditekankan sepanjang Alkitab. Dalam hal ini sunat
mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah, tapi bukan inilah
intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau
orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai perjanjian. Darah yang
tumpah dalam sunat tidak berkata kata batas penyerahan diri itu, tapi
mengungkapkan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka
yang dipanggil-Nya, dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.
Tanggapan taat ini tidak senantiasa muncul. Dan sekalipun
tanda dan caranya disamakan dalam Kejadian 17:10-14, namun
Alkitab terus terang mengakui, bahwa bisa saja orang memiliki tanda
sunat, tapi tidak lebih dari itu. Jika demikian, tanda itu tak berarti
secara rohani, melainkan menjadi tanda hukuman. PL jelas
mengajarkan hal itu, justru menuntut realitas penerapannya sesuai
tanda itu, dan mengingatkan bahwa tanpa kenyataan itu maka tanda
sunat sepi arti, dan menubuatkan sunat hati oleh Allah.
PB tegas dan pasti: bahwa tanpa ketaatan, sunat yaitu melulu omong
kosong. Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan dengan
menaati perintah-perintah, iman bekerja oleh kasih, dan suatu ciptaan
baru. Namun orang Kristen tidak bebas memandang rendah tanda itu.
Walaupun sejauh tanda itu mengungkapkan keselamatan sebab
perbuatan-perbuatan hukum, orang Kristen harus menghindarinya,
namun dalam arti batiniah orang Kristen memerlukannya. Justru ada
sunat Kristus, berupa "penanggalan akan tubuh (dan bukan hanya
sebagian) yang berdosa", suatu perbuatan rohani, yang tidak dilakukan
oleh tangan manusia, suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian
dan kebangkitan-Nya, dimeteraikan oleh peraturan penerimaan atas
PB. Sebagai akibatnya, orang Kristen ialah orang bersunat.
"sebab kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah,
dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah." (Filipi 3:3)
24) Bolehkah makan babi ?
a. Babi haram dimakan (Ulangan 14:8, Imamat 11:7, Yesaya 66:17).
b. Kata Paulus, semua daging binatang halal dimakan, tidak ada yang
haram (I Korintus 6: 12, I Korintus 10:25, Kolose 2:16, I Timotius 4-
5, Roma 14:17).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
"Demikian juga babi hutan, sebab memang berkuku belah, yaitu
kukunya bersela panjang, namun tidak memamah biak; haram itu
bagimu." (Imamat 11:7)
Imamat 11:1-47 yaitu tentang najis sebab binatang. Pokok
ini dibicarakan di bawah dua aspek: binatang hidup sebagai bahan
makanan, dan hubungan dengan bangkai binatang, sedang ayat 1-
23 membicarakan persoalannya ditinjau dari sudut makanan. Ayat-
ayat ini menentukan daging mana yang boleh dimakan dan tidak.
Empat golongan di beda-bedakan.
Di antara binatang berkaki empat, hanya binatang-binatang
yang berkuku belah dan memamah biak yang boleh dimakan.
Peraturan ini ditetapkan secara teliti, dan sesudah itu disebutkan empat
contoh dari binatang yang tidak memenuhi syarat: unta, pelanduk,
kelinci dan babi hutan. Kelinci bukanlah binatang pemamah biak,
demikian juga pelanduk. Keduanya yaitu binatang pengerat atau
pengerikit, tapi kenyataannya rahang binatang ini senantiasa bergerak
sebagai memamah biak. Ini jelas menunjukkan bahwa penguraian itu
bukan dimaksudkan sebagai pembatasan yang bersifat ilmiah,
melainkan penguraian sederhana dan praktis. Binatang yang tidak
haram tidak disebutkan di sini, tapi Ulangan 14:4 dalam mendaftarnya
menambahkan kepada ketiga binatang piaraan (lembu, domba dan
kambing), tujuh binatang buas yang termasuk rumpun pemamah biak.
Bagi rata-rata orang Israel, peraturan ini membatasi makan daging
terutama binatang piaraan yang dapat dipakai dalam korban.
Yesus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai
makanan dan praktek-praktek yang najis dalam Matius 15:1-20.
Dalam terang, Petrus diperintahkan supaya berbuat (Kisah Para Rasul
10:10-17; 11:4-18), dan Paulus mengumumkan dengan resmi
peraturan tentang tingkah laku kristiani. Titik berat bahwa satu-
satunya kenajisan (haram) yang berarti penting secara agamawi ialah
kenajisan hati nurani. Obatnya yaitu korban Kristus, yang
dipersembahkan dalam dunia kerohanian.
"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang
menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang
menajiskan orang." (Matius 15:11)
25) Tentang berlakunya Hukum Taurat
LUKAS 16:16 VS MATIUS 5:19.
Dalam Lukas, penulisnya berpendapat: "Hukum Taurat dan kitab para
nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu
Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berbuat
memasukinya", namun dalam Matius, Yesus berkata: "sebab itu
siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun
paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada yang lain, ia akan
menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; namun
siapa yang melakukan dan mengajarkan segala hukum Taurat, ia akan
menduduki tempat yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga."
(bertentangan prinsip dan hukum).
LUKAS 16:16 VS LUKAS 23:55-56 (didukung MATIUS 5:17-20).
Lukas 23:55-56, "Dan wanita -wanita yang datang bersama-
sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur
itu dan bagaimana mayat-Nya (Yesus) dibaringkan. Dan sesudah
pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan
pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat".
Pengudusan hari Sabat merupakan bagian pokok dari hukum Taurat.
Ini berarti bahwa hukum Taurat tetap berlaku pada zaman Yesus,
sebab para pengikut Yesus sendiri tetap menguduskan hari Sabat
justru sesudah "Yesus" mati. Singkatnya, Yesus tetap memberlakukan
hukum Taurat kepada umat-Nya sebagaimana pernyataan-Nya sendiri
dalam Matius 5:17-20.
JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks historis)
Tuhan Yesus menggenapi Hukum Taurat, jadi bukan
meniadakan : Bila Taurat dimengerti dalam kacamata PL / orang
Yahudi sebagai hukum-hukum mati, orang Kristen tidak lagi
menjalankannya, namun kita harus sadar bahwa Tuhan Yesus bukan
meniadakan Taurat namun menggenapinya (Mat.5:17).
Artinya dengan kita mengenal Injil anugerah tidak berarti
hukum Taurat kita tinggalkan, namun hukum Taurat itu sekarang
dimengerti bukan secara lahiriah namun secara batiniah. Allah
yang esa dimengerti sebagai Allah yang berkata kata diri dalam Yesus.
Zinah fisik sekarang dimengerti lebih dalam sebagai zinah batin, dan
soal Sabat bukan perayaan hari tertentu namun mengerti Yesus sebagai
sabat kita. Keselamatan bukan lagi diperoleh sebab menjalankan
hukum-hukum Musa melainkan sebab iman kepada Tuhan Yesus
Kristus (Kisah Para Rasul 15).
PL (yang berisi hukum Taurat) tetap diperlukan oleh umat
Kristen disamping PB (yang berisi Injil), sebab PB tidak akan kita
mengerti tanpa mengerti karya Allah sejak PL. Dalam surat-surat
kiriman kita melihat arti Torat dalam kacamata Injil dan dalam kitab
Ibrani jelas terlihat bahwa upacara-upacara Taurat telah digantikan
oleh persembahan tubuh Yesus sendiri.
26) Selain Yesus, adakah yang naik ke sorga ?
a. Tidak ada! Hanya Yesus saja yang pemah naik ke sorga (Yohanes
3: 13).
b. Henokh dan Elia telah naik ke sorga (Kejadian 5: 24, II Raja-raja 2:
11).
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia
yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia." (Yohanes 3:13)
TR Transliterasi: kai oudeis anabebêken eis ton ouranon ei mê ho ek
tou ouranou katabas ho huios tou anthrôpou ho ôn en tô ouranô
Catatan:
teks ho ôn en tô ouranô, yang ada di surga dijumpai dalam beberapa
manuskrip, ada pula manuskrip lain yang tidak memuat ungkapan ini.
Meskipun Henokh dan Elia sudah naik ke surga, namun bukan oleh
kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, dan Yesus Kristus jelas
tidak menghubungkan hal ini dengan kenaikan Henokh dan Elia.
Yesus senantiasa menghubungkan diri-Nya dengan kitab PL dan saat
itu Yesus Kristus sedang berbicara dengan Nikodemus, seorang Farisi,
seorang pemimpin agama Yahudi (Yohanes 3:1) yang tentu saja tahu
bahwa Henokh dan Elia sudah naik ke surga. Dia tidak membantah
sebab ia tahu apa yang dimaksud oleh Yesus Kristus jika kita baca
ayat-ayat sebelum dan sesudahnya terutama ayat ini:
"Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang
akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan
memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?"
(Ulangan 30:12)
"Siapakah yang naik ke surga lalu turun? Siapakah yang telah
mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah
membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan
segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau
tentu tahu!" (Amsal 30:4)
Tidak ada seorang pun yang sudah atau dapat naik ke surga,
membawa dari sana pengetahuan tentang keilahian dan hal-hal
surgawi selain dibandingkan Yesus Kristus yang telah turun dari surga.
Nikodemus mengetahui bahwa Yesus Kristus datang sebagai guru
yang diutus oleh Allah sehingga dia berkata, "kami tahu, bahwa
Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah" (Yohanes 3:2) oleh
sebab itulah Yesus Kristus memakai ungkapan ini. Nikodemus
pasti tahu bahwa Henokh dan Elia sudah naik ke surga, namun
dia pun tahu pula dengan pasti bahwa bukan hal itu yang
dimaksud oleh Yesus Kristus.
27) YOHANES 1:18 VS KEJADIAN 18:1 & 32:30.
Dalam Yohanes TERTULIS: "hanya Yesus yang melihat Allah",
namun dalam Kejadian 18 & 32: "Abraham dan Yakub pun pernah
melihat Allah". (bertentangan literatur).
(a) Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar ( Yohanes 1: 18, Yohanes 5:
37, I Timotius 1: 17, 6: 16, Keluaran 33: 20, I Yohanes 4: 12)
(b) Tuhan bisa dilihat oleh mata (Keluaran 33: 11, 33: 20, Kejadian18:
1, 26: 24, Yohanes 5: 37, ; I Timotius 6: 16, 1: 17, I Yohanes 4:12 )
(c) Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24: 9-10)
(d) Tuhan kelihatan sedang duduk (Yesaya 6: 1)
(e) Tuhan bisa dilihat dari jauh (Yeremia 31: 3)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Yohanes 1 : 18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; namun Anak Tunggal
Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang berkata kata -Nya.
"Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu
tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu
lihat," (Yohanes 5:37)
Perhatikan konteks ayat ini. Orang-orang Yahudi yang
berdialog dengan Yesus Kristus pada saat itu memang tidak pernah
mendengar suara Allah apalagi melihat wajah-Nya. Perkataan itu
ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan ayat di atas berkaitan
dengan ungkapan Yunani ―autoV memarturhken peri emou, autos
memarturêken peri emou,‖ Dia yang bersaksi tentang Aku.
Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan
yang ada di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan
menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah.
Bahkan pada saat Dasa Firman diberikan, "suara kata-kata kamu
dengar, namun suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara" (Ulangan
4:12).
Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa "Memang benar
Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, sebab
kesaksian-Nya itu yaitu jawaban yang keluar dari hati manusia
saat manusia itu berhadapan dengan Aku." Jika kita diperhadapkan
dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan
bijaksana; keyakinan seperti itu yaitu kesaksian Allah di dalam hati
kita.
"Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka
seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia
ke perkemahan. namun abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih
muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (Keluaran 33:11)
Ungkapan wajah kepada wajah yaitu ungkapan khas Ibrani yang
dimengerti dengan jelas dengan kata-kata berikutnya seperti seseorang
berbicara kepada temannya. Itulah persekutuan yang tidak berhingga,
di mana tidak ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak ada sesuatu
yang terselubung. Bandingkan dengan ayat-ayat berikut ini:
"Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: 'Aku telah melihat
Allah berhadapan muka, namun nyawaku tertolong!'"(Kejadian 32:30)
"jika Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan
berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di
sana." (Keluaran 33:9)
"'Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan
dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah
kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?'" (Bilangan 12:8)
"TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di
gunung dan di tengah-tengah api-" (Ulangan 5:4)
"Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak
ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel," (Ulangan 34:10)
Jadi, wajah Allah dalam Alkitab Ibrani yaitu ungkapan
khusus untuk kehadiran atau hadirat Allah. Melihat Allah hanya
mungkin melalui penyingkapan diri-Nya sendiri. Kehadiran Allah
tidak pernah merupakan perasaan belaka akan sesuatu yang
menakutkan, melainkan selalu merupakan kehadiran suatu Allah yang
dikenal, yang pribadi dan yang tersendiri.
Selanjutnya Keluaran 24:10, "Lalu mereka melihat Allah
Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai
dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah."
Ini dikenal dengan istilah theofani, kehadiran kemuliaan
Allah, penyataan secara kelihatan dan secara supra alamiah keagungan
Allah yang tertinggi dan yang tiada taranya. Penampakan Allah atau
theofani yang terjadi di era PL senantiasa terjadi dalam bentuk
manusiawi atau malaikat atau juga dalam wujud gejala-gejala
kosmis.
"Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas
takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi
Bait Suci." (Yesaya 6:1)
Nabi Yesaya mendapat penglihatan, bandingkan dengan
penglihatan Yohanes di pulau Patmos yang ditulis di dalam kitab
Wahyu. Demikian pula dengan Yeremia 31:3, "Dari jauh TUHAN
menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih
yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."
Jika kita membaca Yeremia 31:1-40 maka kita akan
mengetahui konteks ayat 3 yang mengandung makna alegoris di atas.
Israel Utara (Efraim) akan dibina kembali, dibangun kembali dan
digarap ulang. Diutarakan pula mengenai akhir dari perpecahan antara
utara dan selatan dalam pengakuan bersama akan TUHAN, Allah dari
seluruh bangsa itu.
"Beginilah firman TUHAN: Ia mendapat kasih karunia di padang
gurun, yaitu bangsa yang terluput dari pedang itu! Israel berjalan
mencari istirahat bagi dirinya!" (Yeremia 31:2)
Tuhan melepaskan Israel dari pedang Firaun dan memberi
kasih karunia kepada mereka pada hari-hari mereka di padang gurun.
Ini hanyalah selaku tanda dari kasih yang kekal (ayat 3) yang telah
diteruskan dalam kesetiaan ilahi hingga saat Yeremia menulis ayat di
atas. Sebenarnya ungkapan kepadanya dari "Dari jauh TUHAN
menampakkan diri kepadanya" yaitu kepadaku menurut naskah
Ibrani yaitu kepada nabi Yeremia, bandingkan dengan penglihatan
Yesaya di atas.
Dalam PL, TUHAN saat menampakkan diri-Nya mengambil
perwujudan tertentu. Misalkan dalam Kel 3:11 dimana menampakkan
dalam bentuk tiang awan atau Kej 32:30 dalam wujud manusia.
Penampakan inilah yang dapat dilihat oleh manusia. namun wujud
Allah yang sesungguhnya dalam ROH tidak pernah dilihat manusia.
Sebagai perbandingan Al-Qur‘an pun mencatat penampakan
TUHAN dalam perwujudan kayu:
Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari
(arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu,
yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya Aku yaitu Allah, Tuhan semesta
alam, (QS 28:30).
28) YOHANES 14:9 VS YOHANES 5:37.
Dalam Yohanes 14, TERTULIS: "Yesus berkata: Siapa yang melihat
Aku, dia telah melihat Bapa", namun dalam Yohanes 5: "Yesus
berkata: rupa-Nya (Bapa) pun tidak pernah kamu lihat". (bertentangan
prinsip).
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Yohanes 14:7-11
14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-
Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada
kami, itu sudah cukup bagi kami."
14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama
kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah
melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata:
Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa
di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan
dari diri-Ku sendiri, namun Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah
yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di
dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah sebab pekerjaan-
pekerjaan itu sendiri
Mungkin sekali bagi dunia kuno ini merupakan hal yang
paling membingungkan yang pernah diucapkan oleh Yesus. Bagi
orang-orang Yunani, Allah yaitu "Yang Tidak Terlihat". Orang
Yahudi juga berpaham bahwa tidak ada seorangpun yang pernah
melihat Allah. Kepada orang-orang yang berpikir secara demikian itu,
Yesus berkata, "Jika kamu telah mengenal Aku, kamu telah mengenal
Bapa-Ku juga." Kemudian Filipus menanyakan apa yang ia anggap
mustahil. Mungkin dia memikirkan kembali hari yang luar biasa
hebatnya saat Allah memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada Musa.
Akan namun bahkan pada hari yang besar itu Allah berkata kepada
Musa, "Engkau akan melihat belakang-Ku, namun wajah-Ku tidak akan
kelihatan."
Pada zaman Yesus orang merasa tertekan, tapi juga merasa
sangat tertarik terhadap apa yang disebut transendensi Allah
(kemahatinggian Allah) dan terhadap paham tentang perbedaan besar
dan jarak yang jauh antara Allah dan manusia. Mereka tidak pernah
berani untuk berpikir bahwa mereka akan melihat Allah. Kemudian
Yesus berkata dengan amat sederhana, "Barangsiapa yang telah
melihat Aku, telah melihat Bapa."
Yesus melanjutkan dengan membicarakan sesuatu yang lain.
Suatu hal yang orang Yahudi tidak dapat lepaskan ialah pegangan
bahwa Tuhan yaitu benar-benar sendirian (tunggal). Orang-orang
Yahudi memegang teguh monoteisme. Bahaya dari iman Kristen
yaitu bahwa umat Kristen mungkin menjadikan Yesus sebagai
semacam Allah yang sekunder. Akan namun Yesus sendiri menuntut
bahwa perkara-perkara yang Dia katakan dan lakukan tidaklah berasal
dari inisiatif-Nya atau kuasa-Nya sendiri atau pengetahuan-Nya
sendiri, melainkan dari Tuhan. Perkataan-perkataan-Nya yaitu suara
Tuhan kepada manusia; perbuatan-perbuatan-Nya yaitu kuasa Tuhan
yang mengalir melalui Dia kepada manusia. dia yaitu saluran yang
melaluinya Tuhan datang kepada manusia.
Yesus membawa nada suara Allah, pesan Allah, akal budi
Allah, dan hati Allah kepada manusia. Semuanya itu yaitu dari
Allah; bukan merupakan suatu ekspedisi ke dunia yang dibuat sendiri
oleh Yesus. Dia tidak melakukan hal itu untuk melemahkan hati
Allah. Dia telah datang sebab Allah telah mengutus-Nya sebab
demikianlah Allah mengasihi dunia ini.
Di belakang Yesus dan di dalam Dia, yaitu Allah.
Yesus melanjutkan dengan menuntut supaya ia diuji, berdasar dua
hal: perkataan dan perbuatan-Nya.
[1] Dia menuntut supaya Ia diuji berdasar apa yang telah Dia
"katakan". Seolah-olah Yesus hendak berkata, "Waktu kamu
mendengar Aku, apakah kamu tidak dapat menyadari bahwa apa yang
Aku katakan yaitu kebenaran Allah sendiri?" Kata-kata dari seorang
jenius selalu merupakan bukti pada dirinya. Jikalah kita membaca
sebuah puisi yang indah, sebenarnya kita tidak bisa mengatakan
mengapa puisi itu indah dan memikat hati kita. Kita mungkin dapat
menganalisa bunyi-bunyi vokalnya dan sebagainya, akan namun ada
sesuatu dalam puisi itu yang tidak dapat diterangkan, walaupun
demikian mudah dan segera dapat dikenali bahwa puisi itu indah.
Demikianlah juga dengan kata-kata Yesus. Bila manusia mendengar
kata-katanya, mereka tidak bisa lain dibandingkan mengatakan, "Jijika
dunia hidup atas prinsip-prinsip ini, betapa bedanya dunia ini akan
tampak! Jijika aku hanya hidup atas prinsip-prinsip ini, betapa lain
hidupku ini jadinya!"
[2] Dia menuntut supaya Ia diuji berdasar "perbuatan-perbuatan-
Nya". Dia berkata kepada Filipus, "jika engkau tidak bisa percaya
kepada-Ku sebab kata-kata-Ku, tentu kau akan memperkenankan
Aku untuk meyakinkan engkau melalui apa yang dapat Aku 'perbuat'".
Itulah jawaban yang sama yang diberikan Yohanes Pembaptis saat
dia mengirim para utusannya untuk menanyakan apakah benar Yesus
itu Mesias, ataukah masih harus menantikan yang lain. "Pergilah,"
kata-Nya, "dan katakanlah kepada Yohanes apa yang terjadi - dan hal
itu akan meyakinkan dia." Bukti Yesus yaitu bahwa tidak ada orang
lain selain dari Dia yang pernah menjadikan orang jahat menjadi baik.
Yesus sebenarnya mengatakan kepada Filipus, "Dengarlah
Aku! Lihatlah Aku! Dan percayalah!" Jelaslah bahwa cara untuk
beriman kepada Yesus bukanlah berdebat mengenai Yesus, tapi
mendengar dan melihat kepada-Nya. Jijika manusia berbuat
demikian, maka pengaruh pribadi Yesus itu mau tak mau akan
membuat mereka percaya.
Mengenai Yohanes 5:37, ayat ini berkata kata bahwa :
"Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu
tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu
lihat,"
Penulis kontradiksi ini tidak memperhatikan konteks ayat ini.
Orang-orang Yahudi yang berdialog dengan Yesus Kristus pada saat
itu memang tidak pernah mendengar suara Allah apalagi melihat
wajah-Nya. Perkataan itu ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan
ayat di atas berkaitan dengan ungkapan Yunani autoV memarturhken
peri emou, autos memarturêken peri emou, Dia yang bersaksi tentang
Aku.
Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan
yang ada di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan
menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah.
Bahkan pada saat Dasa Firman diberikan, "suara kata-kata kamu
dengar, namun suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara" (Ulangan
4:12).
Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa "Memang benar
Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, sebab
kesaksian-Nya itu yaitu jawaban yang keluar dari hati manusia
saat manusia itu berhadapan dengan Aku." Jika kita diperhadapkan
dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan
bijaksana; keyakinan seperti itu yaitu kesaksian Allah di dalam hati
kita.
29) Bapa lebih besar dibandingkan Aku
YOHANES 10:38 & 14:11 VS YOHANES 14:28.
66
Dalam Yohanes 10:38 & 14:11, perkataan Yesus TERTULIS: "Bapa
di dalam aku dan aku di dalam Bapa (sebab itu Yesus = Tuhan)",
namun dalam Yohanes 14:28 Yesus berkata: "..Bapa LEBIH
BESAR dari aku". (bertentangan prinsip).
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Yesus berkata dalam Yohanes 14:28, 'Bapa lebih besar
dibandingkan Aku' . Apakah ini berarti Yesus kurang dibandingkan Tuhan?
Murid-murid meratap sebab Yesus berkata bahwa Ia akan pergi.
Dalam Yohanes 14:28 Yesus berkata 'Sekiranya kamu mengasihi Aku,
kamu tentu akan bersukacita sebab Aku pergi kepada Bapa-Ku,
sebab Bapa lebih besar dari pada Aku'. Ini artinya Yesus akan
kembali ke kemuliaan yang yaitu milik-Nya.
Dalam Yohanes 17:5 Yesus berkata 'Oleh sebab itu, ya Bapa,
permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang
Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada', yang artinya 'Bapa lebih
besar dari Aku'.
saat Yesus datang ke dunia dalam wujud manusia, Yesus
berada dalam batasan-batasan inkarnasi sehingga posisi Bapa saat
itu yaitu lebih besar.
Yesus dalam status inkarnasi di dunia ini memang lebih
rendah. Namun saat Yesus naik ke surga maka Yesus yang yaitu
Allah itu sendiri kembali dalam eksistensi-Nya yang hakiki :
Ibrani 2:9
namun Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah
dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh sebab
penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya
oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
Filipi 2:5-11
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang ada juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan
mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di
langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus yaitu Tuhan," bagi
kemuliaan Allah, Bapa!
saat saya berkata 'Presiden Indonesia' lebih besar dari saya,
tidak berarti dia punya sifat/esensi lebih besar dari saya. Ia lebih besar
dalam kapasitas politik dan sambutan publik, namun ia tidak lebih
dibandingkan saya sebagai manusia.
Andaikata saya naik ke mimbar dan berkhotbah dan berkata
'Dengan sungguh-sungguh saya berkata kata kepada Anda sekalian
bahwa Bapa lebih besar dibandingkan saya', itu yaitu suatu perkataan
yang agak konyol sebab semua orang tahu dengan jelas. Pernyataan
ini akan menjadi bermakna jika yang dibandingkan yaitu 2 pribadi
yang setara, dalam hal ini Yesus dan Bapa. Dalam hal ini justru jelas
bahwa Yesus yaitu setara dengan Bapa.
30) Yesus menyatu dengan Bapa atau murid-murid-Nya?
YOHANES 10:30 VS YOHANES 17:11,21,22,23.
Dalam Yohanes 10, TERTULIS: "Yesus menyatu dengan Bapa
(sebab itu Yesus = Tuhan)", namun dalam Yohanes 17: "Yesus
menyatu dengan murid-muridnya". (salah persepsi).
JAWAB : (Kategori : salah memahami makna kata dalam bahasa asli)
Konteks "satu", Yunani, "hen" dalam pernyataan "satu
hakikat" ke-Allah-an : Yohanes 10:30 ‖Aku dan Bapa yaitu satu ‖
TR Interlinear, egô {Aku} ka i{dan} ho patêr {Bapa itu} hen {satu}
esmen {kami yaitu }
Yohanes 10:30 dari segi kaidah bahasa Yunani, berkata kata
bahwa Yesus dan Bapa memiliki satu Dzat, satu Hakekat yaitu Allah.
Kata satu "hen" diatas menunjukkan pernyataan Yesus yaitu Allah,
yang "satu" sama hakekat dengan Bapa. Ayat diatas lebih lanjut
dipertegas dalam ayat-ayat : "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah
melihat Bapa" (Yohanes 14:9), dan "Akulah jalan dan kebenaran, dan
hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jika tidak
melalui Aku." (Yohanes 14:6).
Lalu bagaimana dengan Doa Yesus yang mengatakan bahwa
Yesus menyatu "hen" dengan murid-muridnya? Mari kita tinjau bukan
dari kata "hen" saja, namun juga meneliti tata-bahasa Yunani :
Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, namun mereka masih ada di
dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus,
peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah
Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti
Kita. (Yohanes 17:11)
TR, θαη νπθ εηη εηκη ελ ηω θνζκω θαη νπηνη ελ ηω θνζκω εηζηλ θαη εγω
πξνο ζε εξρνκαη παηεξ αγηε ηεξεζνλ απηνπο ελ ηω νλνκαηη ζνπ νπο
δεδωθαο κνη ηλα ωζηλ ελ θαζωο εκεηο
TR Interlinear, kai {adapun} ouk {tidak} eti {lama} eimi {Akiu ada}
hen {di dalam} tô kosmô {dunia} kai {namun } outoi {mereka} hen
{didalam} tô kosmô {dunia} eisin {masih ada} kai {dan} egô {Aku}
pros {kepada} se {Engkau} erchomai {pergi} pater {ya Bapa} agie
{Yang Kudus} têrêson {peliharakanlah} autous {mereka} hen
{dengan} tô onomati {Nama} sou {Mu} ous {yang} dedôkas {Engkau
telah memberi } moi {kepada-Ku} hina {supaya} ôsin {mereka}
hen {satu} kathôs {sama} hêmeis {seperti kita}
Dalam Yohanes 17:11, menjadi satu ditulis hina ôsin hen
kathôs hêmeis. Kata ôsin yaitu "to be" dalam modus subjunktif,
modus probabilitas, kemungkinan, dapat saja terjadi seperti yang
diharapkan, dapat pula tidak, sedang esmen dalam Yohanes 10:30
yaitu "to be" dalam modus indikatif, pernyataan fakta. Hanya ada
dua ayat yang menulis tentang "hen esmen" yaitu Yohanes 10:30 dan
Yohanes 17:22 di bawah ini:
Dan Aku telah memberi kepada mereka kemuliaan, yang Engkau
berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita
yaitu satu:
TR, θαη εγω ηελ δνμαλ ελ δεδωθαο κνη δεδωθα απηνηο ηλα ωζηλ ελ
θαζωο εκεηο ελ εζκελ
TR Interlinear, kai {dan} egô {Aku} tên doxan {kemuliaan} hên
{yang} dedôkas {Engkau telah memberi } moi {kepadaKu} dedôka
{telah memberi } autois {kepada mereka} hina {supaya} ôsin
{mereka menjadi} hen {satu} kathôs {sama seperti} hêmeis {kita}
hen {satu} esmen {kita yaitu }
Perhatikan perbedaan antara "hina ôsin hen", harfiah : "supaya
– mereka (barangkali) yaitu , menjadi –satu", dengan "hêmeis hen
esmen : "kita - satu - kita yaitu (fakta)."
to be indikatif (fakta)
εηκη – eimi : aku yaitu
εη – ei : engkau yaitu
εζηηλ – estin : ia yaitu
εζκελ – esmen : kami/kita yaitu
εζηε – este : kalian yaitu
εηζηλ – eisin : mereka yaitu
to be subjunktif (probabilitas, kemungkinan) :
ω – ô : aku (barangkali) menjadi
εο – ês : engkau (barangkali) menjadi
ε – ê : ia (barangkali) menjadi
ωκελ – ômen : kami/kita (barangkali) menjadi
εηε – ête : kalian (barangkali) menjadi
ωζηλ – ôsin : mereka (barangkali) menjadi
Kemudian, silahkan cek ayat-ayat dibawah ini :
Yohanes 17:21,23
17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya
Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di
dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah
mengutus Aku.
TR, ηλα παληεο ελ ωζηλ θαζωο ζπ παηεξ ελ εκνη θαγω ελ ζνη ηλα θαη
απηνη ελ εκηλ ελ ωζηλ ηλα ν θνζκνο πηζηεπζε νηη ζπ κε απεζηεηιαο
TR Interlinear, ina {supaya} pantes {semua} hen {satu} ôsin
{menjadi} kathôs {sama seperti} su {Engkau} pater {ya Bapa} hen
{didalam} emoi {Aku} kagô {dan Aku} hen {didalam} soi {Engkau}
ina {supaya} kai {juga} autoi {mereka} hen {didalam} êmin {kita}
hen {satu} ôsin {berada} ina {supaya} ho kosmos {dunia} pisteusê
{percaya} hoti {bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah
mengutus}
17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka
sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah
mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti
Engkau mengasihi Aku.
TR, εγω ελ απηνηο θαη ζπ ελ εκνη ηλα ωζηλ ηεηειεηωκελνη εηο ελ θαη ηλα
γηλωζθε ν θνζκνο νηη ζπ κε απεζηεηιαο θαη εγαπεζαο απηνπο θαζωο
εκε εγαπεζαο
TR Interlinear, egô {Aku} hen {didalam} autois {mereka} kai {dan}
su {Engkau} hen {didalam} emoi {Aku} ina {supaya} ôsin
teteleiômenoi {mereka (boleh) dengan sempurna} eis {menjadi} hen
{satu} kai {dan} ina {supaya} ginôskê {tahu} ho kosmos {dunia} hoti
{bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah mengutus} kai
{dan} êgapêsas {Engkau telah mengasihi} autous {mereka} kathôs
{sama seperti} eme {Aku} êgapêsas {Engkau telah mengasihi}
YESUS MENYATU DENGAN MURID-MURIDNYA :
Murid-murid Yesus akan menjadi bagian dari Yesus; Yesus
dan Bapa yaitu satu. Pernyataan Yesus yang mengatakan ia menyatu
dengan murid-muridnya yaitu pernyataan yang ajaib dimana orang-
orang percaya "dimuliakan" menjadi bagian dari Yesus. Dan ini jelas
tidak bermakna bahwa murid-murid Yesus akan "sama hakikat
dengan-Nya", namun makna pernyataan Yesus dalam doa-Nya itu
yaitu murid-murid-Nya menjadi bagian dari diri-Nya.
Perhatikan ayat di bawah ini yang berkata kata jemaat/gereja Tuhan
yaitu terdiri dari orang-orang percaya dan Yesus sebagai kepala
jemaat/gereja itu.
Efesus 1:22-23
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus
dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala
yang ada.
TR Interlinear, kai {lalu} panta {segala (sesuatu)} upetaxen {ia
menundukkan} upo {dibawah} tous podas {kaki-kaki} autou {Nya}
kai {dan} auton {Dia} edôken {Ia mengangkat} kephalên {(menjadi)
Kepala} uper {atas} panta {segala (sesuatu)} tê ekklêsia {bagi
jemaat}
1:23 Jemaat yang yaitu tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang
memenuhi semua dan segala sesuatu.
TR Interlinear, êtis {yaitu} estin to sôma {tubuh} autou {NYA} to
plêrôma {pelengkap/ Dia yang dipenuhi} tou {(dari Dia/ oleh Dia)}
panta {segala} en {didalam} pasin {segala} plêroumenou { (yang)
dipenuhi/ (yang) memenuhi}
Inilah yang dimaksud dengan kesatuan antara Kristus dengan
murid-murid-Nya yang menjadi jemaat Tuhan. Dimana diibaratkan
bahwa Yesus Kristus menjadi kepala dari jemaat dan jemaat yaitu
Tubuhnya.
Maka pengertian tentang Yohanes 17, perikop ini harus dibaca
secara lengkap mulai ayat 6 sampai dengan 26; Anda tidak akan
menemukan pertentangan dalam pernyataan Yesus bahwa "Yesus
dan Bapa yaitu satu" (satu hakikat).
31) MATIUS 3:17 VS MATIUS 5:9; KELUARAN 4:22 & YEREMIA
31:9. Dalam Matius 3, TERTULIS: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku berkenan (sebab itu Yesus = Anak Allah)",
namun dalam Matius 5: "Yesus berkata: Berbahagialah orang yang
membawa damai, sebab mereka akan disebut anak-anak Allah",
dalam Keluaran: "Israel yaitu anak sulung Allah", dan dalam
Yeremia: "Efraim yaitu anak sulung Allah". (salah persepsi).
JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Sebenarnya telah terjadi kesalah-pahaman dari orang yang
bukan Kristen tentang sebutan "Anak Allah" dan ―anak-anak Allah.‖
Tidak pernah ada seorang nabi yang disebut sebagai "Anak Allah",
bahkan tidak ada gelar "Anak Allah" dalam bentuk tunggal buat
manusia.
Ungkapan "anak-anak Allah" dalam bentuk jamak ditujukan
pertama kali kepada keturunan Set (Kejadian 6:2); kedua kepada
malaikat-malaikat (Ayub 1:6); ketiga, kepada bangsa Israel; dan
keempat, kepada raja-raja Israel tempo dulu. Gelar/Sebutan ―Anak
Allah‖ dalam bentuk tunggal huruf Kapital hanya dimiliki oleh Yesus
Kristus.
Kata Malaikat : "Ia akan menjadi besar, dan akan disebut Anak
Allah yang Maha Tinggi". (Lukas 1:32)
Perhatikan kata yang disebut, jadi Anak Allah bagi Yesus
yaitu sebutan. Predikat Anak Allah bagi Yesus bukan pada waktu
ia dilahirkan melalui Maria di Betlehem, Yesus disebut Anak Allah
sesudah Dia menjadi besar, dan dibaptis di sungai Yordan, kemudian
Roh Allah turun kepada-Nya, barulah Dia disebut Anak Allah:
Matius 3:16-17
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga
langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun
keatas-Nya, Lalu terdengarlah suara dari Sorga yang mengatakan:
"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.
Jadi jelaslah bukan manusia Yesus yang turun dari Sorga ke Bumi,
melainkan Roh Allah yang menyatu dengan Yesus, dan Dia mendapat
sebutan Anak Allah.
Yesus disebut Anak Allah sebab Roh Allah tinggal di dalam
Dia. Roh Allah tinggal di dalam Yesus. Yesus disebut Anak Allah,
lengkapnya Anak Tunggal Allah, sebab Dia tidak hanya dipimpin
Roh Allah, melainkan Roh Allah diam di dalam Dia dan melakukan
pekerjaan Allah. (Yohanes 1: 14, Yohanes 14:10). Umat Kristen dan
orang-orang percaya juga disebut anak-anak Allah (anak=huruf kecil
dan jamak).
Alkitab berkata kata : Roma 8:14
Semua orang yang dipimpin Roh Allah (Roh Kudus) yaitu anak
Allah.
Apakah tanda-tanda anak Allah itu?
• anak Allah dapat menyebut Allah, Bapa kami (Roma 8:15)
• anak Allah dapat menyebut Yesus Tuhan (1 Korintus 12:3)
• anak Allah dapat membawa damai (Matius 5:9)
• anak Allah dapat mengasihi musuhnya (Lukas 6:35)
Orang-orang Kristen dan orang-orang percaya yang dipimpin
Roh Allah (Roh Kudus), disebut anak-anak Allah. Yesus Kristus juga
disebut Anak Allah. Apakah perbedaan antara sebutan Anak Allah
bagi Yesus dan bagi orang Kristen?
Dari semua umat Kristen yang berhak disebut ANAK
TUNGGAL ALLAH yaitu Yesus Kristus sendiri. sedang
orang Kristen disebut anak Allah sebab mereka dipimpin Roh
Allah.
Dan benar Yesus Kristus yaitu Anak Allah. Siapa yang
menyangkal Bapa maupun Anak yaitu pendusta, antikristus (1
Yohanes 2:22).
Mengenai Israel dan Efraim sebagai anak sulung Allah, penjelasannya
sebagai berikut:
KELUARAN 4:22
Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN:
Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.
YEREMIA 31:9
Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan
membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di
jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku
telah menjadi bapa Israel, Efraim yaitu anak sulung-Ku.
Kita baca dulu pada Kejadian 48:14,
namun Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di
atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di
atas kepala Manasye -- jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye
yang sulung.
Bahwa Efraim yaitu anak (keturunan langsung) dari Yakub
(Israel) yang menerima hak kesulungan. Kita tahu dari Alkitab
bahwa Efraim yaitu anak Yusuf, dan Yusuf anak Yakub. Jadi
Efraim, cucu Yakub. Alkitab mengatakan Yesus, anak Abraham dan
Anak Daud, janganlah kita mengerti dengan arti bahwa Ayah Yesus
yaitu Abraham dan juga Daud. Hendaklah kita mengikuti
pengertian bangsa Israel atau orang-orang Yahudi yaitu Yesus
yaitu keturunan langsung dari Abraham dan Daud yang merupakan
bapa-bapa leluhur Yesus.
Kejadian ini mengulang kisah Yakub (Israel) dengan Esau.
Dikisahkan bahwa Israel menerima Hak Kesulungan dan kemudian
pada saat Israel uzur, Hak Kesulungannya dilimpahkan atau
diturunkan kepada Efraim, salah satu anak Yusuf dan bukan kepada
Manasye. (Baca juga Kejadian 48:14-22).
Jadi kedua ayat itu sama-sama benar dan tidak kontradiksi,
Efraim yang merupakan cucu Israel, dan Israel yaitu anak sulung
dihadapan Tuhan. Jadi Efraim pun yaitu anak sulung dihadapan
Tuhan. Efraim sebagai sebuah suku dari 12 suku Israel yaitu tentu
bagian dari bangsa Israel, dan bagi Tuhan, bangsa Israel dan atau suku
Efraim yaitu anak Sulung-Nya.
32) 1 KORINTUS 8:6 VS ULANGAN 4:35 & MARKUS 12:29.
Dalam 1 Korintus, TERTULIS: "Paulus berkata: hanya ada satu Allah
saja yaitu Bapa dan hanya ada satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus",
namun dalam Ulangan: "TUHAN itulah Allah, dan kecuali Dia tiada
yang lain lagi", dan dalam Markus: "Yesus berkata: Hai Israel, adapun
Allah, Tuhan kita, Tuhan yang Esa". (bertentangan prinsip).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
IMAN KRISTEN MENGIMANI KE-ESA-AN ALLAH :
Ajaran Kitab Suci bahwa hanya ada satu Allah sangatlah
penting untuk diperhatikan, terutama sebab banyak yang tidak
mempercayai ajaran ini. Ajaran ini sangat jelas sekali dalam PL dan
PB.
Akulah TUHAN ( YAHWEH) dan tidak ada yang lain; kecuali Aku
tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau
tidak mengenal Aku, (Yesaya 45:5)
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa TUHANlah
Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35)
Rasul Paulus menulis kepada Timotius, ―sebab Allah itu esa (satu)
dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia,
yaitu manusia Kristus Yesus‖ (1 Timotius 2:5); demikian juga tertulis
pada ayat-ayat lain :
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari
pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan
satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu
telah dijadikan dan yang sebab Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6)
Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh
semua dan di dalam semua. (Efesus 4:6)
Yesus sendiri menekankan pentingnya ajaran Kitab Suci ini
tentan ke-Esa-an Allah; saat ia berkata:
Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai
orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29)
BAGAIMANA DENGAN AJARAN TRINITAS ?
TRINITAS yaitu ajaran Kristen yang dianggap paling
kontroversial, sebab ajaran ini bukan saja sukar untuk dimengerti,
namun banyak menimbulkan kesalahpahaman dengan timbulnya
anggapan miring bahwa ‗Allah Kristen‘ itu tiga, jadi tidak dapat
dikatakan sebagai termasuk monoteisme namun lebih tepat termasuk
politeisme atau percaya akan banyak ilah. Sebaliknya sebab Alkitab
secara jelas membicarakan mengenai masalah ini, tentu ajaran
Trinitas itu tidak akan pupus hanya sebab adanya mereka yang
tidak mempercayainya.
Sebenarnya, pengertian Trinitas/Tritunggal mengungkapkan
bahwa Allah Itu Esa : (Ulangan 6:4; Gal.3:20), namun dalam
keesaan-Nya itu berkata kata diri dalam Tiga Pribadi. Sekalipun
demikian ke-tiga pribadi itu sehakekat dalam kesatuan pemeliharaan
Allah.
Dalam Kejadian 1:26; 3:22; 11:7, kita melihat Tuhan
menyebut diri-Nya dalam bentuk jamak (Kita). Kejadian 1:1-2
menunjuk Allah Bapa dengan Roh Kudus terlibat dalam penciptaan
sedang Yohanes 1:1 menunjukkan Allah Bapa dan
Logos/Firman/Yesus terlibat pada peristiwa yang sama. Jadi baik Roh
Kudus maupun Yesus sudah ada sejak awal sama halnya dengan
Bapa, dan ketiganya bersatu dalam penciptaan langit dan bumi (1
Yohanes 5:7-8).
1 John 5:7-8 KJV dengan Naskah Yunani Textus
Receptus:
For there are three that bear record in
heaven , the Father , the Word , and the
Holy Ghost : and these three are
one .
And there are three that bear witness in
earth , the Spirit , and the water , and the
blood : and these three agree in one .
Terjemahannya menurut KS-ILT sebagai berikut:
Sebab ada tiga yang bersaksi di surga: Bapa, Firman, dan
Roh Kudus; dan ketiganya ini yaitu satu. Dan ada tiga yang
bersaksi di bumi: Roh, dan air, dan darah; dan ketiganya itu menjadi
satu. (Ayat ini ada dalam Naskah Yunani Textus Receptus)
Kejadian 1 menunjukkan bahwa Elohim atau Allah Bapa
itulah pencipta, namun kita melihat Mazmur 33:6 menyebut bahwa
―oleh firman TUHAN (Ibrani: Dabar Yehovah) langit telah
dijadikan‖ sedang Yesus disebut sebagai firman yang
menciptakan segala sesuatu (Yohanes 1:1-18), jadi kedua
pernyataan itu identik menunjuk pada yang Esa.
ALPHA DAN OMEGA
Yesus juga disamakan dengan ALLAH sebagai Alpha dan
Omega (Wahyu 22:13; bandingkan dengan 1:8;21:6) dan Awal dan
Akhir (Wahyu 1:17; 2:8; bandingkan 21:6; Yesaya 44:6;48:12). Ini
menunjukkan bahwa Yesus sudah ada sejak awal sama dengan Bapa,
jadi Yesus bukannya ciptaaan yang pernah tidak ada sebelum
penciptaan melainkan sudah ada sebelum adanya ciptaan.
Sekalipun disebutkan bahwa tidak seorangpun melihat Allah,
TUHAN berkata kata diri sebagai Malaikat TUHAN yaitu tiga orang
yang bertemu Abraham (Kejadian 18:1-22). Ini tentunya menunjukkan
oknum Yesus yang menjelma menjadi manusia, sebab Ialah yang
berfungsi berkata kata kehadiran Allah kepada manusia.
Yesus juga mengatakan bahwa Ia ada sebelum Abraham ada
(Yohanes 8:58 ). Ayat terakhir ini sebenarnya berkata bahwa sebelum
Abraham lahir Yesus itu ‗Ada‘ (‗ego eimi‘ yang artinya sama dengan
‗Aku yaitu Aku‘ dalam Keluaran 3:14). Dalam kitab Hakim-Hakim
kita melihat ke tiga oknum TUHAN, Malaekat Allah dan Roh Tuhan
bekerja bersama atas diri Samson.
Yesaya menyebut mengenai keesaan Allah (Yesaya
44:6;45:5,22; 46:9), namun dalam surat yang sama kita melihat
ketritunggalan itu hadir bersama pula (Yesaya 40; 48:16-17).
YESUS DIPERMULIAKAN
Juga difirmankan bahwa ALLAH tidak akan memberi
kemuliaan kepada yang lain (Yes 42:8; 48:11), namun dalam
inkarnasinya Yesus minta Bapa agar mempermuliakan Anak
(Yohanes 17:1,5; Wahyu 14:7; 15:4) ini menunjukkan bahwa
keduanya sama-sama dipermuliakan.
Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah (Mat.
16:16). Thomas memanggil Yesus Tuhan dan Allah (Yohanes 20:28)
suatu pengakuan yang kelihatannya sudah menjadi pengakuan jemaat
awal mengacu pada pengakuan pemazmur (35:32). Paulus dalam
salamnya menyebut dua oknum Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus
sebagai kesatuan terkait (1 Korintus 1:3). Demikian juga Yohanes 14-
16 menyebutkan oknum Roh Kudus sebagai pribadi yang menyatu
dalam ke‘Allah‘an, justru sebab pribadi, Roh Kudus disetarakan
dengan pribadi Bapa dan Anak dalam rumus baptisan (Matius 28:19).
YESUS yaitu ALLAH
Sebagai contoh ayat Yesaya 9:5 jelas menunjukkan bahwa
―Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai‖ ditujukan
kepada Yesus. Disebutkan bahwa Bapa mengatakan Anak sebagai
‗Allah‘ yang diurapi ‗Allah‘ (Ibrani 1:8,9) dan bukan hanya Bapa
namun Anak pun disembah oleh malaikat dan dimuliakan (Ibrani 1:6;
bandingkan Wahyu 1:17;4:10-11;14:7;15:4; dan 19:10;22:8-9). Yesus
juga disebut ―Imanuel‖ yaitu ‗Allah menyertai kita‘ (Yesaya 7:14;
Matius 1:23).
ROH KUDUS yaitu ALLAH
Ayat-ayat di atas cukup jelas mengenai ke‘Allah‘an Yesus,
dan bila kepribadian ‗Roh Kudus‘ juga banyak dibuktikan dalam
Alkitab, bagaimana kita bisa diyakinkan bahwa ‗Roh Kudus yaitu
Allah‘?
Sekalipun tidak secara eksplisit disebutkan, kehadiran Roh Kudus
selalu dikaitkan dengan Allah (Roh Allah & Roh TUHAN=Roh
YAHWEH). Roh Kudus juga terlibat dalam penciptaan sejak awalnya
(Kejadian 1: 1-2).
Juga disebut agar ‗Jangan Mendukakan Roh Kudus‘ dan ‗yang
menghujat tidak akan diampuni‘ (Matius 12:31). Menghujat Allah
yaitu sifat si Dajal (Wahyu 13:5,6) dan ‗neraka yaitu tempat
hukuman mereka yang menghujat Allah‘ dan tidak bertobat (Wahyu
16:9).
TRINITAS DALAM ALKITAB
Sekalipun dalam PB istilah Tritunggal/Trinitas tidak ada.
Namun petunjuk ke arah ke‘tri‘tunggalan ini sangat jelas, seperti
dalam peristiwa pembaptisan Yesus (Matius 3: 16-17) dimana ketiga
oknum itu berkata kata diri, demikian juga Amanat Agung penginjilan
(Matius 28:19) yang diucapkan Yesus dengan jelas menyebutkan ke
tiga oknum Allah dalam kesatuannya. Ketritunggalan itu juga
tercermin dalam peristiwa pengurapan ‗Yesus yang berinkarnasi‘
(Lukas 4: 18-19;Yesaya 61: 1,2).
Salam Berkat Paulus mengungkapkan keesaan tiga oknum (2
Korintus 13:13). Petrus m
.jpeg)
