kontradiksi alkitab 6

 


harton, Cromwell antara lain 

menulis sebagai berikut, "Aku berharap tuan tidak menjadikan istri 

tuan suatu penggodaan yang lebih besar dibandingkan  yang seharusnya. 

Perhatikanlah semua hubungan kemanusiaan; kasih sayang tidak 

boleh dijadikan godaan. Namun dalam kenyataannya kita sering kali 

melakukan hal itu." Telah sering terjadi juga adanya orang-orang yang 

menolak panggilan Tuhan, sebab  mereka terlalu memperhatikan 

kepentingan dirinya sendiri sehingga mereka tidak bisa melakukan 

hal-hal lain sama sekali. Dengan memberi  perhatian yang terlalu 

besar kepada diri sendiri, orang sebenarnya malah menjadikan dirinya 

sendiri makin tidak berdaya.  

Untuk ini ada sebuah syair yang pernah ditulis oleh seorang 

tentara muda kepada kekasihnya. Judul syair itu ialah "Going to 


Wars": "Sayangku, janganlah kau katakan aku tidak sayang padamu, 

sebab  dari keteduhan degup dadamu dan ketenangan hatimu Aku 

mengangkat senjata pergi ke medan perang. Benar, aku sedang 

memburu kekasih baru, Yaitu musuh di medan laga,  

Yang kukejar dengan iman teguh, pedang, kuda dan perisai.  Namun 

keadaan ini memang berubah cepat, Dan engkau pun pasti akan 

mengagumi, Bahwa aku tidak dapat mengasihi engkau, Seperti aku 

mengasihi kehormatan pahlawan."  

Memang tidak setiap orang akan diperhadapkan dengan 

kejadian atau kasus seperti ini  di atas. Mungkin banyak juga 

orang yang dalam hidupnya jarang sekali menghadapi pilihan-pilihan 

terbatas yang harus dipilihnya. namun  tak dapat disangkal pula, bahwa 

ada kemungkinan seseorang harus melakukan pilihan, di mana 

kekasihnya sendiri yang justru menjadi lawan atau penantangnya. 

Lebih-lebih jika  pikiran serta sikap sang kekasih itu tetap ingin 

mempertahankan, agar orang yang bersangkutan itu tidak melakukan 

kehendak Tuhan yang seharusnya dilakukannya.  

Ada istri atau suami, bahkan juga anak-anak, yang bersifat 

terlalu egois, sehingga suami atau istri atau orang tua ini  tidak 

bisa melakukan kehendak Tuhan yang sama-sama mereka ketahui. 

Suami tidak lagi dapat berkata kata  kasihnya kepada orang tua dan 

saudara-saudara kandungnya. Demikian juga istri tidak bisa 

berkata kata  kasih dan hubungannya dengan keluarga kandungnya 

sendiri. Di dalam rumah tangga itu terjadilah istri melawan suami, 

suami melawan istri, dan anak-anak melawan orang tua. Padahal 

mereka sama-sama tahu bahwa kasih harus dinyatakan dalam 


perbuatan nyata kepada sesama, termasuk kepada keluarga-keluarga 

yang menjadi asal-usul kedua belah pihak. 

 

23) Apa hukumnya bersunat ?  

a. Sunat itu wajib (Kejadian 17:10-14, 17:14, Kejadian 21:4). Yesus 

tidak membatalkan sunat, (Matius 5: 17-20, Lirkas 2:21). Yesus juga 

disunat (lukas 2: 21). Dan orang yang tidak disunat, tidak dapat 

diselamatkan (Kisah Para Rasul I5: 1-2).  

b. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting 

(Galatia 5:6, I Korintus 7:18-19).  

 

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis) 

 

Sunat itu wajib bagi bangsa Israel, Alkitab tidak menulis 

bahwa Yesus tidak membatalkan sunat melainkan Yesus tidak 

meniadakan Taurat. Meniadakan tidak sama artinya dengan 

membatalkan. Yesus memang disunat sebab  Dia yaitu  bangsa 

Yahudi secara daging, sedang  Kisah Para Rasul 15:1-2 bukanlah 

ajaran para rasul melainkan hasutan sebagian kalangan Yahudi agar 

orang Kristen non-Yahudi juga harus disunat.  

Praktek sunat yang sudah lebih dahulu ada  di antara 

bangsa-bangsa lain, dipakai untuk menandakan orang dimasukkan ke 

dalam perjanjian Abraham. Artinya yang berlangsung telah diketahui 

dari fungsinya pada waktu ditetapkan. Perjanjian-perjanjian itu 

diteguhkan dengan sumpah; kutuk sumpah itu ditunjukkan di dalam 

upacara-upacara simbolis. Suatu kutuk yang lazim ialah pemotongan 

(penyerahan) orang yang ditaklukkan untuk dibinasakan dan 


peniadaan nama dari benihnya. Yang menyertai tindakan ini yaitu  

suatu upacara dengan pisau yang melambangkan orang yang tidak 

memenuhi perjanjian akan dipotong-potong. Demikianlah sunat 

yaitu  suatu upacara pisau yang dengannya perjanjian Abraham 

dipotong.  

Upacara itu melambangkan kutuk pemotongan atau pemisahan 

dari persekutuan perjanjian. Lebih tepat lagi, pemotongan kulup 

kelamin lelaki melambangkan pemotongan para keturunan. Pada 

pihak lain, sebagai tanda sumpah mengakui ketuhanan Allah, maka 

sunat juga menandai pengudusan. Perjanjian dengan orang taklukan 

pada zaman purba meliputi; kecuali raja yang ditaklukkan itu, juga 

kerajaannya dan keturunannya. Demikian juga Tuhan memberi  

perjanjian-Nya kepada Abraham, bukan hanya sebagai seorang 

pengaku iman secara perorangan, melainkan sebagai kepala suatu 

masyarakat, dalam hal ini, rumah tangga keluarganya, termasuk anak-

anak dan hamba-hamba, dan hal itu diteruskan hingga keturunan-

keturunannya.  

Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah, 

dan agaknya diteruskan sepanjang zaman PL. Sunat menjadi ciri asasi 

Yudaisme dalam PB dan menimbulkan pertentangan pada zaman para 

rasul. Masyarakat Yahudi pada zaman PB mengaitkan sunat dengan 

Musa begitu rupa, sehingga mereka melupakan kaitannya yang lebih 

asasi dengan Abraham.  

 

Kisah Para Rasul 15:1,  

"Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan 

kepada saudara-saudara di situ: 'Jijika  kamu tidak disunat menurut 


adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat 

diselamatkan.'"  

Kisah Para Rasul 15:5,  

"namun  beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi 

percaya, datang dan berkata: 'Orang-orang bukan Yahudi harus 

disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.'"  

Yesus telah mengingatkan mereka bahwa sunat yaitu  lebih 

dahulu dari Musa. Paulus menekankan bahwa yang tak dapat diterima 

agama Kristen ialah pandangan umum yang menghubungkan sunat 

dengan Musa, dan senantiasa mengarahkan pembacanya kembali 

kepada Abraham.  

Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama 

mewujudkan tanda rohani; kedua, memiliki  arti kebangsaan. Bahwa 

sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa 

Israel, tidak dapat disangkal. Hal ini memang sama jelasnya dalam 

Kejadian 34 seperti juga sesudah  Musa. Tapi sifat kebangsaan itu 

sebenarnya hanyalah dampak sampingan, sebab  umat Israel pemilik 

sunat itu disamakan dengan bangsa Israel PL. Dalam Kejadian 17:10-

14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh Abraham. 

Artinya, sunat menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah 

menuju manusia, dan hanya secara sekunder saja dapat dikatakan 

menandai penyerahan manusia kepada Allah. saat  bangsa itu 

mengembara di padang gurun sebab  tidak diperkenankan Allah, 

perjanjian itu seolah-olah ditunda dan sunat tidak diberlakukan. Lagi, 

saat  Musa berbicara tentang seorang yang tidak petah lidahnya 

(harfiah tak bersunat), hanya karunia firman Allah yang dapat 

menyembuhkannya. Selanjutnya, PL berbicara tentang sunat sebagai 


meterai atau pemberian kebenaran dari Allah. sebab  itu sunat 

menjadi tanda dari kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai 

orang-orang milik-Nya.  

Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar 

anggota rumah tangga dan kepalanya. Perjanjian itu diadakan "antara 

Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun". Kejadian 17:26-

27 khususnya mengungkapkan kebenaran yang sama: "Abraham... 

Ismael... dan semua orang dari isi rumah Abraham... disunat bersama-

sama dengan dia." Demikianlah asal mula dan caranya sunat menjadi 

adat Israel, bukan diterima dan berasal dari Mesir atau negeri-negeri 

lain. Sunat Israel tegas berbeda dari sunat pada bangsa-bangsa lain 

yang terkait dengan berjenjang dewasa, dan melulu bersifat sosial. 

Sunat Israel yaitu  pertanda kedudukan di hadirat Allah, dan bahwa 

kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.  

Mereka yang dengan cara demikian menjadi anggota 

perjanjian diwajibkan berkata kata nya secara lahiriah dengan menaati 

hukum Allah, seperti dengan tegas dituntut kepada Abraham, 

"Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela". Hubungan antara 

sunat dan ketaatan ditekankan sepanjang Alkitab. Dalam hal ini sunat 

mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah, tapi bukan inilah 

intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau 

orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai perjanjian. Darah yang 

tumpah dalam sunat tidak berkata kata  batas penyerahan diri itu, tapi 

mengungkapkan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka 

yang dipanggil-Nya, dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.  

Tanggapan taat ini tidak senantiasa muncul. Dan sekalipun 

tanda dan caranya disamakan dalam Kejadian 17:10-14, namun 


Alkitab terus terang mengakui, bahwa bisa saja orang memiliki tanda 

sunat, tapi tidak lebih dari itu. Jika demikian, tanda itu tak berarti 

secara rohani, melainkan menjadi tanda hukuman. PL jelas 

mengajarkan hal itu, justru menuntut realitas penerapannya sesuai 

tanda itu, dan mengingatkan bahwa tanpa kenyataan itu maka tanda 

sunat sepi arti, dan menubuatkan sunat hati oleh Allah.  

 

PB tegas dan pasti: bahwa tanpa ketaatan, sunat yaitu  melulu omong 

kosong. Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan dengan 

menaati perintah-perintah, iman bekerja oleh kasih, dan suatu ciptaan 

baru. Namun orang Kristen tidak bebas memandang rendah tanda itu. 

Walaupun sejauh tanda itu mengungkapkan keselamatan sebab  

perbuatan-perbuatan hukum, orang Kristen harus menghindarinya, 

namun dalam arti batiniah orang Kristen memerlukannya. Justru ada 

sunat Kristus, berupa "penanggalan akan tubuh (dan bukan hanya 

sebagian) yang berdosa", suatu perbuatan rohani, yang tidak dilakukan 

oleh tangan manusia, suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian 

dan kebangkitan-Nya, dimeteraikan oleh peraturan penerimaan atas 

PB. Sebagai akibatnya, orang Kristen ialah orang bersunat.  

"sebab  kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, 

dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada 

hal-hal lahiriah." (Filipi 3:3) 

 

24) Bolehkah makan babi ?  

a. Babi haram dimakan (Ulangan 14:8, Imamat 11:7, Yesaya 66:17).  



b. Kata Paulus, semua daging binatang halal dimakan, tidak ada yang 

haram (I Korintus 6: 12, I Korintus 10:25, Kolose 2:16, I Timotius 4-

5, Roma 14:17).  

 

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis) 

"Demikian juga babi hutan, sebab  memang berkuku belah, yaitu 

kukunya bersela panjang, namun  tidak memamah biak; haram itu 

bagimu." (Imamat 11:7) 

Imamat 11:1-47 yaitu  tentang najis sebab  binatang. Pokok 

ini dibicarakan di bawah dua aspek: binatang hidup sebagai bahan 

makanan, dan hubungan dengan bangkai binatang, sedang  ayat 1-

23 membicarakan persoalannya ditinjau dari sudut makanan. Ayat-

ayat ini menentukan daging mana yang boleh dimakan dan tidak. 

Empat golongan di beda-bedakan.  

Di antara binatang berkaki empat, hanya binatang-binatang 

yang berkuku belah dan memamah biak yang boleh dimakan. 

Peraturan ini ditetapkan secara teliti, dan sesudah  itu disebutkan empat 

contoh dari binatang yang tidak memenuhi syarat: unta, pelanduk, 

kelinci dan babi hutan. Kelinci bukanlah binatang pemamah biak, 

demikian juga pelanduk. Keduanya yaitu  binatang pengerat atau 

pengerikit, tapi kenyataannya rahang binatang ini senantiasa bergerak 

sebagai memamah biak. Ini jelas menunjukkan bahwa penguraian itu 

bukan dimaksudkan sebagai pembatasan yang bersifat ilmiah, 

melainkan penguraian sederhana dan praktis. Binatang yang tidak 

haram tidak disebutkan di sini, tapi Ulangan 14:4 dalam mendaftarnya 

menambahkan kepada ketiga binatang piaraan (lembu, domba dan 

kambing), tujuh binatang buas yang termasuk rumpun pemamah biak. 

Bagi rata-rata orang Israel, peraturan ini membatasi makan daging 

terutama binatang piaraan yang dapat dipakai dalam korban.  

Yesus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai 

makanan dan praktek-praktek yang najis dalam Matius 15:1-20. 

Dalam terang, Petrus diperintahkan supaya berbuat (Kisah Para Rasul 

10:10-17; 11:4-18), dan Paulus mengumumkan dengan resmi 

peraturan tentang tingkah laku kristiani. Titik berat bahwa satu-

satunya kenajisan (haram) yang berarti penting secara agamawi ialah 

kenajisan hati nurani. Obatnya yaitu  korban Kristus, yang 

dipersembahkan dalam dunia kerohanian.  

"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang 

menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang 

menajiskan orang." (Matius 15:11) 

 

25) Tentang berlakunya Hukum Taurat  

LUKAS 16:16 VS MATIUS 5:19.  

Dalam Lukas, penulisnya berpendapat: "Hukum Taurat dan kitab para 

nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu 

Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berbuat 

memasukinya", namun  dalam Matius, Yesus berkata: "sebab  itu 

siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun 

paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada yang lain, ia akan 

menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; namun  

siapa yang melakukan dan mengajarkan segala hukum Taurat, ia akan 

menduduki tempat yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga." 

(bertentangan prinsip dan hukum).  

 

LUKAS 16:16 VS LUKAS 23:55-56 (didukung MATIUS 5:17-20).  

Lukas 23:55-56, "Dan wanita -wanita  yang datang bersama-

sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur 

itu dan bagaimana mayat-Nya (Yesus) dibaringkan. Dan sesudah  

pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan 

pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat". 

Pengudusan hari Sabat merupakan bagian pokok dari hukum Taurat. 

Ini berarti bahwa hukum Taurat tetap berlaku pada zaman Yesus, 

sebab  para pengikut Yesus sendiri tetap menguduskan hari Sabat 

justru sesudah  "Yesus" mati. Singkatnya, Yesus tetap memberlakukan 

hukum Taurat kepada umat-Nya sebagaimana pernyataan-Nya sendiri 

dalam Matius 5:17-20. 

 

JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks historis) 

Tuhan Yesus menggenapi Hukum Taurat, jadi bukan 

meniadakan : Bila Taurat dimengerti dalam kacamata PL / orang 

Yahudi sebagai hukum-hukum mati, orang Kristen tidak lagi 

menjalankannya, namun  kita harus sadar bahwa Tuhan Yesus bukan 

meniadakan Taurat namun  menggenapinya (Mat.5:17).  

Artinya dengan kita mengenal Injil anugerah tidak berarti 

hukum Taurat kita tinggalkan, namun  hukum Taurat itu sekarang 

dimengerti bukan secara lahiriah namun  secara batiniah. Allah 

yang esa dimengerti sebagai Allah yang berkata kata  diri dalam Yesus. 

Zinah fisik sekarang dimengerti lebih dalam sebagai zinah batin, dan 

soal Sabat bukan perayaan hari tertentu namun  mengerti Yesus sebagai 

sabat kita. Keselamatan bukan lagi diperoleh sebab  menjalankan 


hukum-hukum Musa melainkan sebab  iman kepada Tuhan Yesus 

Kristus (Kisah Para Rasul 15).  

PL (yang berisi hukum Taurat) tetap diperlukan oleh umat 

Kristen disamping PB (yang berisi Injil), sebab  PB tidak akan kita 

mengerti tanpa mengerti karya Allah sejak PL. Dalam surat-surat 

kiriman kita melihat arti Torat dalam kacamata Injil dan dalam kitab 

Ibrani jelas terlihat bahwa upacara-upacara Taurat telah digantikan 

oleh persembahan tubuh Yesus sendiri. 

 

26) Selain Yesus, adakah yang naik ke sorga ?  

a. Tidak ada! Hanya Yesus saja yang pemah naik ke sorga (Yohanes 

3: 13).  

b. Henokh dan Elia telah naik ke sorga (Kejadian 5: 24, II Raja-raja 2: 

11).  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)  

 "Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia 

yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia." (Yohanes 3:13) 

TR Transliterasi: kai oudeis anabebêken eis ton ouranon ei mê ho ek 

tou ouranou katabas ho huios tou anthrôpou ho ôn en tô ouranô  

Catatan:  

teks ho ôn en tô ouranô, yang ada di surga dijumpai dalam beberapa 

manuskrip, ada pula manuskrip lain yang tidak memuat ungkapan ini. 

Meskipun Henokh dan Elia sudah naik ke surga, namun bukan oleh 

kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, dan Yesus Kristus jelas 

tidak menghubungkan hal ini dengan kenaikan Henokh dan Elia. 

Yesus senantiasa menghubungkan diri-Nya dengan kitab PL dan saat 


itu Yesus Kristus sedang berbicara dengan Nikodemus, seorang Farisi, 

seorang pemimpin agama Yahudi (Yohanes 3:1) yang tentu saja tahu 

bahwa Henokh dan Elia sudah naik ke surga. Dia tidak membantah 

sebab  ia tahu apa yang dimaksud oleh Yesus Kristus jika kita baca 

ayat-ayat sebelum dan sesudahnya terutama ayat ini:  

"Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang 

akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan 

memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?" 

(Ulangan 30:12) 

 

"Siapakah yang naik ke surga lalu turun? Siapakah yang telah 

mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah 

membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan 

segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau 

tentu tahu!" (Amsal 30:4) 

Tidak ada seorang pun yang sudah atau dapat naik ke surga, 

membawa dari sana pengetahuan tentang keilahian dan hal-hal 

surgawi selain dibandingkan  Yesus Kristus yang telah turun dari surga. 

Nikodemus mengetahui bahwa Yesus Kristus datang sebagai guru 

yang diutus oleh Allah sehingga dia berkata, "kami tahu, bahwa 

Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah" (Yohanes 3:2) oleh 

sebab  itulah Yesus Kristus memakai  ungkapan ini. Nikodemus 

pasti tahu bahwa Henokh dan Elia sudah naik ke surga, namun 

dia pun tahu pula dengan pasti bahwa bukan hal itu yang 

dimaksud oleh Yesus Kristus. 

 

27) YOHANES 1:18 VS KEJADIAN 18:1 & 32:30.  


Dalam Yohanes TERTULIS: "hanya Yesus yang melihat Allah", 

namun  dalam Kejadian 18 & 32: "Abraham dan Yakub pun pernah 

melihat Allah". (bertentangan literatur).  

(a) Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar ( Yohanes 1: 18, Yohanes 5: 

37, I Timotius 1: 17, 6: 16, Keluaran 33: 20, I Yohanes 4: 12)  

(b) Tuhan bisa dilihat oleh mata (Keluaran 33: 11, 33: 20, Kejadian18: 

1, 26: 24, Yohanes 5: 37, ; I Timotius 6: 16, 1: 17, I Yohanes 4:12 )  

(c) Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24: 9-10)  

(d) Tuhan kelihatan sedang duduk (Yesaya 6: 1)  

(e) Tuhan bisa dilihat dari jauh (Yeremia 31: 3)  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)  

Yohanes 1 : 18  

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; namun  Anak Tunggal 

Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang berkata kata -Nya.  

"Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu 

tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu 

lihat," (Yohanes 5:37) 

Perhatikan konteks ayat ini. Orang-orang Yahudi yang 

berdialog dengan Yesus Kristus pada saat itu memang tidak pernah 

mendengar suara Allah apalagi melihat wajah-Nya. Perkataan itu 

ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan ayat di atas berkaitan 

dengan ungkapan Yunani ―autoV memarturhken peri emou, autos 

memarturêken peri emou,‖ Dia yang bersaksi tentang Aku.  

Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan 

yang ada  di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan 

menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. 


Bahkan pada saat Dasa Firman diberikan, "suara kata-kata kamu 

dengar, namun  suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara" (Ulangan 

4:12).  

Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa "Memang benar 

Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, sebab  

kesaksian-Nya itu yaitu  jawaban yang keluar dari hati manusia 

saat  manusia itu berhadapan dengan Aku." Jika kita diperhadapkan 

dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan 

bijaksana; keyakinan seperti itu yaitu  kesaksian Allah di dalam hati 

kita.  

"Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka 

seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia 

ke perkemahan. namun  abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih 

muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (Keluaran 33:11) 

Ungkapan wajah kepada wajah yaitu  ungkapan khas Ibrani yang 

dimengerti dengan jelas dengan kata-kata berikutnya seperti seseorang 

berbicara kepada temannya. Itulah persekutuan yang tidak berhingga, 

di mana tidak ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak ada sesuatu 

yang terselubung. Bandingkan dengan ayat-ayat berikut ini:  

 

"Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: 'Aku telah melihat 

Allah berhadapan muka, namun  nyawaku tertolong!'"(Kejadian 32:30) 

 

"jika  Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan 

berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di 

sana." (Keluaran 33:9) 

 

"'Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan 

dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah 

kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?'" (Bilangan 12:8) 

 

"TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di 

gunung dan di tengah-tengah api-" (Ulangan 5:4) 

 

"Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak 

ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel," (Ulangan 34:10) 

Jadi, wajah Allah dalam Alkitab Ibrani yaitu  ungkapan 

khusus untuk kehadiran atau hadirat Allah. Melihat Allah hanya 

mungkin melalui penyingkapan diri-Nya sendiri. Kehadiran Allah 

tidak pernah merupakan perasaan belaka akan sesuatu yang 

menakutkan, melainkan selalu merupakan kehadiran suatu Allah yang 

dikenal, yang pribadi dan yang tersendiri.  

Selanjutnya Keluaran 24:10, "Lalu mereka melihat Allah 

Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai 

dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah."  

Ini dikenal dengan istilah theofani, kehadiran kemuliaan 

Allah, penyataan secara kelihatan dan secara supra alamiah keagungan 

Allah yang tertinggi dan yang tiada taranya. Penampakan Allah atau 

theofani yang terjadi di era PL senantiasa terjadi dalam bentuk 

manusiawi atau malaikat atau juga dalam wujud gejala-gejala 

kosmis.  

"Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas 

takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi 

Bait Suci." (Yesaya 6:1) 

Nabi Yesaya mendapat penglihatan, bandingkan dengan 

penglihatan Yohanes di pulau Patmos yang ditulis di dalam kitab 

Wahyu. Demikian pula dengan Yeremia 31:3, "Dari jauh TUHAN 

menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih 

yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."  

Jika kita membaca Yeremia 31:1-40 maka kita akan 

mengetahui konteks ayat 3 yang mengandung makna alegoris di atas. 

Israel Utara (Efraim) akan dibina kembali, dibangun kembali dan 

digarap ulang. Diutarakan pula mengenai akhir dari perpecahan antara 

utara dan selatan dalam pengakuan bersama akan TUHAN, Allah dari 

seluruh bangsa itu.  

"Beginilah firman TUHAN: Ia mendapat kasih karunia di padang 

gurun, yaitu bangsa yang terluput dari pedang itu! Israel berjalan 

mencari istirahat bagi dirinya!" (Yeremia 31:2) 

Tuhan melepaskan Israel dari pedang Firaun dan memberi  

kasih karunia kepada mereka pada hari-hari mereka di padang gurun. 

Ini hanyalah selaku tanda dari kasih yang kekal (ayat 3) yang telah 

diteruskan dalam kesetiaan ilahi hingga saat Yeremia menulis ayat di 

atas. Sebenarnya ungkapan kepadanya dari "Dari jauh TUHAN 

menampakkan diri kepadanya" yaitu  kepadaku menurut naskah 

Ibrani yaitu kepada nabi Yeremia, bandingkan dengan penglihatan 

Yesaya di atas.  

Dalam PL, TUHAN saat menampakkan diri-Nya mengambil 

perwujudan tertentu. Misalkan dalam Kel 3:11 dimana menampakkan 

dalam bentuk tiang awan atau Kej 32:30 dalam wujud manusia. 

Penampakan inilah yang dapat dilihat oleh manusia. namun  wujud 

Allah yang sesungguhnya dalam ROH tidak pernah dilihat manusia.  

Sebagai perbandingan Al-Qur‘an pun mencatat penampakan 

TUHAN dalam perwujudan kayu:  

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari 

(arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, 

yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya Aku yaitu  Allah, Tuhan semesta 

alam, (QS 28:30). 

 

28) YOHANES 14:9 VS YOHANES 5:37.  

Dalam Yohanes 14, TERTULIS: "Yesus berkata: Siapa yang melihat 

Aku, dia telah melihat Bapa", namun  dalam Yohanes 5: "Yesus 

berkata: rupa-Nya (Bapa) pun tidak pernah kamu lihat". (bertentangan 

prinsip).  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)  

Yohanes 14:7-11  

14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-

Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."  

14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada 

kami, itu sudah cukup bagi kami."  

14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama 

kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah 

melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: 

Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.  

14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa 

di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan 

dari diri-Ku sendiri, namun  Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah 

yang melakukan pekerjaan-Nya.  

14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di 

dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah sebab  pekerjaan-

pekerjaan itu sendiri  

Mungkin sekali bagi dunia kuno ini merupakan hal yang 

paling membingungkan yang pernah diucapkan oleh Yesus. Bagi 

orang-orang Yunani, Allah yaitu  "Yang Tidak Terlihat". Orang 

Yahudi juga berpaham bahwa tidak ada seorangpun yang pernah 

melihat Allah. Kepada orang-orang yang berpikir secara demikian itu, 

Yesus berkata, "Jika kamu telah mengenal Aku, kamu telah mengenal 

Bapa-Ku juga." Kemudian Filipus menanyakan apa yang ia anggap 

mustahil. Mungkin dia memikirkan kembali hari yang luar biasa 

hebatnya saat  Allah memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada Musa. 

Akan namun  bahkan pada hari yang besar itu Allah berkata kepada 

Musa, "Engkau akan melihat belakang-Ku, namun  wajah-Ku tidak akan 

kelihatan."  

Pada zaman Yesus orang merasa tertekan, tapi juga merasa 

sangat tertarik terhadap apa yang disebut transendensi Allah 

(kemahatinggian Allah) dan terhadap paham tentang perbedaan besar 

dan jarak yang jauh antara Allah dan manusia. Mereka tidak pernah 

berani untuk berpikir bahwa mereka akan melihat Allah. Kemudian 

Yesus berkata dengan amat sederhana, "Barangsiapa yang telah 

melihat Aku, telah melihat Bapa."  

Yesus melanjutkan dengan membicarakan sesuatu yang lain. 

Suatu hal yang orang Yahudi tidak dapat lepaskan ialah pegangan 

bahwa Tuhan yaitu  benar-benar sendirian (tunggal). Orang-orang 

Yahudi memegang teguh monoteisme. Bahaya dari iman Kristen 

yaitu  bahwa umat Kristen mungkin menjadikan Yesus sebagai 

semacam Allah yang sekunder. Akan namun  Yesus sendiri menuntut 

bahwa perkara-perkara yang Dia katakan dan lakukan tidaklah berasal 

dari inisiatif-Nya atau kuasa-Nya sendiri atau pengetahuan-Nya 

sendiri, melainkan dari Tuhan. Perkataan-perkataan-Nya yaitu  suara 

Tuhan kepada manusia; perbuatan-perbuatan-Nya yaitu  kuasa Tuhan 

yang mengalir melalui Dia kepada manusia. dia yaitu  saluran yang 

melaluinya Tuhan datang kepada manusia.  

Yesus membawa nada suara Allah, pesan Allah, akal budi 

Allah, dan hati Allah kepada manusia. Semuanya itu yaitu  dari 

Allah; bukan merupakan suatu ekspedisi ke dunia yang dibuat sendiri 

oleh Yesus. Dia tidak melakukan hal itu untuk melemahkan hati 

Allah. Dia telah datang sebab  Allah telah mengutus-Nya sebab  

demikianlah Allah mengasihi dunia ini.  

Di belakang Yesus dan di dalam Dia, yaitu  Allah.  

Yesus melanjutkan dengan menuntut supaya ia diuji, berdasar  dua 

hal: perkataan dan perbuatan-Nya.  

[1] Dia menuntut supaya Ia diuji berdasar  apa yang telah Dia 

"katakan". Seolah-olah Yesus hendak berkata, "Waktu kamu 

mendengar Aku, apakah kamu tidak dapat menyadari bahwa apa yang 

Aku katakan yaitu  kebenaran Allah sendiri?" Kata-kata dari seorang 

jenius selalu merupakan bukti pada dirinya. Jikalah kita membaca 

sebuah puisi yang indah, sebenarnya kita tidak bisa mengatakan 

mengapa puisi itu indah dan memikat hati kita. Kita mungkin dapat 

menganalisa bunyi-bunyi vokalnya dan sebagainya, akan namun  ada 

sesuatu dalam puisi itu yang tidak dapat diterangkan, walaupun 

demikian mudah dan segera dapat dikenali bahwa puisi itu indah. 

Demikianlah juga dengan kata-kata Yesus. Bila manusia mendengar 

kata-katanya, mereka tidak bisa lain dibandingkan  mengatakan, "Jijika  

dunia hidup atas prinsip-prinsip ini, betapa bedanya dunia ini akan 

tampak! Jijika  aku hanya hidup atas prinsip-prinsip ini, betapa lain 

hidupku ini jadinya!"  

[2] Dia menuntut supaya Ia diuji berdasar  "perbuatan-perbuatan-

Nya". Dia berkata kepada Filipus, "jika  engkau tidak bisa percaya 

kepada-Ku sebab  kata-kata-Ku, tentu kau akan memperkenankan 

Aku untuk meyakinkan engkau melalui apa yang dapat Aku 'perbuat'". 

Itulah jawaban yang sama yang diberikan Yohanes Pembaptis saat  

dia mengirim para utusannya untuk menanyakan apakah benar Yesus 

itu Mesias, ataukah masih harus menantikan yang lain. "Pergilah," 

kata-Nya, "dan katakanlah kepada Yohanes apa yang terjadi - dan hal 

itu akan meyakinkan dia." Bukti Yesus yaitu  bahwa tidak ada orang 

lain selain dari Dia yang pernah menjadikan orang jahat menjadi baik. 

Yesus sebenarnya mengatakan kepada Filipus, "Dengarlah 

Aku! Lihatlah Aku! Dan percayalah!" Jelaslah bahwa cara untuk 

beriman kepada Yesus bukanlah berdebat mengenai Yesus, tapi 

mendengar dan melihat kepada-Nya. Jijika  manusia berbuat 

demikian, maka pengaruh pribadi Yesus itu mau tak mau akan 

membuat mereka percaya.  

Mengenai Yohanes 5:37, ayat ini berkata kata  bahwa :  

"Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu 

tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu 

lihat,"  

Penulis kontradiksi ini tidak memperhatikan konteks ayat ini. 

Orang-orang Yahudi yang berdialog dengan Yesus Kristus pada saat 

itu memang tidak pernah mendengar suara Allah apalagi melihat 

wajah-Nya. Perkataan itu ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan 

ayat di atas berkaitan dengan ungkapan Yunani autoV memarturhken 

peri emou, autos memarturêken peri emou, Dia yang bersaksi tentang 

Aku.  

Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan 

yang ada  di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan 

menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. 

Bahkan pada saat Dasa Firman diberikan, "suara kata-kata kamu 

dengar, namun  suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara" (Ulangan 

4:12).  

Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa "Memang benar 

Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, sebab  

kesaksian-Nya itu yaitu  jawaban yang keluar dari hati manusia 

saat  manusia itu berhadapan dengan Aku." Jika kita diperhadapkan 

dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan 

bijaksana; keyakinan seperti itu yaitu  kesaksian Allah di dalam hati 

kita. 

 

29) Bapa lebih besar dibandingkan  Aku  

YOHANES 10:38 & 14:11 VS YOHANES 14:28.  


 66 

Dalam Yohanes 10:38 & 14:11, perkataan Yesus TERTULIS: "Bapa 

di dalam aku dan aku di dalam Bapa (sebab  itu Yesus = Tuhan)", 

namun  dalam Yohanes 14:28 Yesus berkata: "..Bapa LEBIH 

BESAR dari aku". (bertentangan prinsip).  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)  

 

Yesus berkata dalam Yohanes 14:28, 'Bapa lebih besar 

dibandingkan  Aku' . Apakah ini berarti Yesus kurang dibandingkan  Tuhan?  

Murid-murid meratap sebab  Yesus berkata bahwa Ia akan pergi. 

Dalam Yohanes 14:28 Yesus berkata 'Sekiranya kamu mengasihi Aku, 

kamu tentu akan bersukacita sebab  Aku pergi kepada Bapa-Ku, 

sebab Bapa lebih besar dari pada Aku'. Ini artinya Yesus akan 

kembali ke kemuliaan yang yaitu  milik-Nya.  

Dalam Yohanes 17:5 Yesus berkata 'Oleh sebab itu, ya Bapa, 

permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang 

Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada', yang artinya 'Bapa lebih 

besar dari Aku'.  

saat  Yesus datang ke dunia dalam wujud manusia, Yesus 

berada dalam batasan-batasan inkarnasi sehingga posisi Bapa saat 

itu yaitu  lebih besar.  

Yesus dalam status inkarnasi di dunia ini memang lebih 

rendah. Namun saat  Yesus naik ke surga maka Yesus yang yaitu  

Allah itu sendiri kembali dalam eksistensi-Nya yang hakiki :  

Ibrani 2:9  

namun  Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah 

dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh sebab  

penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya 

oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.  

 

Filipi 2:5-11  

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan 

perasaan yang ada  juga dalam Kristus Yesus,  

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan 

dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil 

rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan 

diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.  

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan 

mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di 

langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,  

2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus yaitu  Tuhan," bagi 

kemuliaan Allah, Bapa!  

saat  saya berkata 'Presiden Indonesia' lebih besar dari saya, 

tidak berarti dia punya sifat/esensi lebih besar dari saya. Ia lebih besar 

dalam kapasitas politik dan sambutan publik, namun  ia tidak lebih 

dibandingkan  saya sebagai manusia.  

Andaikata saya naik ke mimbar dan berkhotbah dan berkata 

'Dengan sungguh-sungguh saya berkata kata  kepada Anda sekalian 

bahwa Bapa lebih besar dibandingkan  saya', itu yaitu  suatu perkataan 

yang agak konyol sebab  semua orang tahu dengan jelas. Pernyataan 

ini akan menjadi bermakna jika yang dibandingkan yaitu  2 pribadi 

yang setara, dalam hal ini Yesus dan Bapa. Dalam hal ini justru jelas 

bahwa Yesus yaitu  setara dengan Bapa. 

 

30) Yesus menyatu dengan Bapa atau murid-murid-Nya?  

YOHANES 10:30 VS YOHANES 17:11,21,22,23.  

Dalam Yohanes 10, TERTULIS: "Yesus menyatu dengan Bapa 

(sebab  itu Yesus = Tuhan)", namun  dalam Yohanes 17: "Yesus 

menyatu dengan murid-muridnya". (salah persepsi).  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami makna kata dalam bahasa asli) 

 

Konteks "satu", Yunani, "hen" dalam pernyataan "satu 

hakikat" ke-Allah-an :  Yohanes 10:30 ‖Aku dan Bapa yaitu  satu ‖ 

TR Interlinear, egô {Aku} ka i{dan} ho patêr {Bapa itu} hen {satu} 

esmen {kami yaitu }  

Yohanes 10:30 dari segi kaidah bahasa Yunani, berkata kata  

bahwa Yesus dan Bapa memiliki satu Dzat, satu Hakekat yaitu Allah. 

Kata satu "hen" diatas menunjukkan pernyataan Yesus yaitu  Allah, 

yang "satu" sama hakekat dengan Bapa. Ayat diatas lebih lanjut 

dipertegas dalam ayat-ayat : "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah 

melihat Bapa" (Yohanes 14:9), dan "Akulah jalan dan kebenaran, dan 

hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jika  tidak 

melalui Aku." (Yohanes 14:6).  

Lalu bagaimana dengan Doa Yesus yang mengatakan bahwa 

Yesus menyatu "hen" dengan murid-muridnya? Mari kita tinjau bukan 

dari kata "hen" saja, namun  juga meneliti tata-bahasa Yunani :  

Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, namun  mereka masih ada di 

dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, 

peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah 

Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti 

Kita. (Yohanes 17:11) 

TR, θαη νπθ εηη εηκη ελ ηω θνζκω θαη νπηνη ελ ηω θνζκω εηζηλ θαη εγω 

πξνο ζε εξρνκαη παηεξ αγηε ηεξεζνλ απηνπο ελ ηω νλνκαηη ζνπ νπο 

δεδωθαο κνη ηλα ωζηλ ελ θαζωο εκεηο  

TR Interlinear, kai {adapun} ouk {tidak} eti {lama} eimi {Akiu ada} 

hen {di dalam} tô kosmô {dunia} kai {namun } outoi {mereka} hen 

{didalam} tô kosmô {dunia} eisin {masih ada} kai {dan} egô {Aku} 

pros {kepada} se {Engkau} erchomai {pergi} pater {ya Bapa} agie 

{Yang Kudus} têrêson {peliharakanlah} autous {mereka} hen 

{dengan} tô onomati {Nama} sou {Mu} ous {yang} dedôkas {Engkau 

telah memberi } moi {kepada-Ku} hina {supaya} ôsin {mereka} 

hen {satu} kathôs {sama} hêmeis {seperti kita}  

 

Dalam Yohanes 17:11, menjadi satu ditulis hina ôsin hen 

kathôs hêmeis. Kata ôsin yaitu  "to be" dalam modus subjunktif, 

modus probabilitas, kemungkinan, dapat saja terjadi seperti yang 

diharapkan, dapat pula tidak, sedang  esmen dalam Yohanes 10:30 

yaitu  "to be" dalam modus indikatif, pernyataan fakta. Hanya ada 

dua ayat yang menulis tentang "hen esmen" yaitu Yohanes 10:30 dan 

Yohanes 17:22 di bawah ini:  

Dan Aku telah memberi  kepada mereka kemuliaan, yang Engkau 

berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita 

yaitu  satu:  

TR, θαη εγω ηελ δνμαλ ελ δεδωθαο κνη δεδωθα απηνηο ηλα ωζηλ ελ 

θαζωο εκεηο ελ εζκελ  

TR Interlinear, kai {dan} egô {Aku} tên doxan {kemuliaan} hên 

{yang} dedôkas {Engkau telah memberi } moi {kepadaKu} dedôka 

{telah memberi } autois {kepada mereka} hina {supaya} ôsin 

{mereka menjadi} hen {satu} kathôs {sama seperti} hêmeis {kita} 

hen {satu} esmen {kita yaitu }  

Perhatikan perbedaan antara "hina ôsin hen", harfiah : "supaya 

– mereka (barangkali) yaitu , menjadi –satu", dengan "hêmeis hen 

esmen : "kita - satu - kita yaitu  (fakta)."  

to be indikatif (fakta)  

εηκη – eimi : aku yaitu   

εη – ei : engkau yaitu   

εζηηλ – estin : ia yaitu   

εζκελ – esmen : kami/kita yaitu   

εζηε – este : kalian yaitu   

εηζηλ – eisin : mereka yaitu   

 

to be subjunktif (probabilitas, kemungkinan) :  

ω – ô : aku (barangkali) menjadi  

εο – ês : engkau (barangkali) menjadi  

ε – ê : ia (barangkali) menjadi  

ωκελ – ômen : kami/kita (barangkali) menjadi  

εηε – ête : kalian (barangkali) menjadi  

ωζηλ – ôsin : mereka (barangkali) menjadi  

Kemudian, silahkan cek ayat-ayat dibawah ini :  

Yohanes 17:21,23  

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya 

Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di 

dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah 

mengutus Aku.  

TR, ηλα παληεο ελ ωζηλ θαζωο ζπ παηεξ ελ εκνη θαγω ελ ζνη ηλα θαη 

απηνη ελ εκηλ ελ ωζηλ ηλα ν θνζκνο πηζηεπζε νηη ζπ κε απεζηεηιαο  

TR Interlinear, ina {supaya} pantes {semua} hen {satu} ôsin 

{menjadi} kathôs {sama seperti} su {Engkau} pater {ya Bapa} hen 

{didalam} emoi {Aku} kagô {dan Aku} hen {didalam} soi {Engkau} 

ina {supaya} kai {juga} autoi {mereka} hen {didalam} êmin {kita} 

hen {satu} ôsin {berada} ina {supaya} ho kosmos {dunia} pisteusê 

{percaya} hoti {bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah 

mengutus}  

 

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka 

sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah 

mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti 

Engkau mengasihi Aku.  

TR, εγω ελ απηνηο θαη ζπ ελ εκνη ηλα ωζηλ ηεηειεηωκελνη εηο ελ θαη ηλα 

γηλωζθε ν θνζκνο νηη ζπ κε απεζηεηιαο θαη εγαπεζαο απηνπο θαζωο 

εκε εγαπεζαο  

TR Interlinear, egô {Aku} hen {didalam} autois {mereka} kai {dan} 

su {Engkau} hen {didalam} emoi {Aku} ina {supaya} ôsin 

teteleiômenoi {mereka (boleh) dengan sempurna} eis {menjadi} hen 

{satu} kai {dan} ina {supaya} ginôskê {tahu} ho kosmos {dunia} hoti 

{bahwa} su {Engkau} me {Aku} apesteilas {telah mengutus} kai 

{dan} êgapêsas {Engkau telah mengasihi} autous {mereka} kathôs 

{sama seperti} eme {Aku} êgapêsas {Engkau telah mengasihi}  

YESUS MENYATU DENGAN MURID-MURIDNYA :  

Murid-murid Yesus akan menjadi bagian dari Yesus; Yesus 

dan Bapa yaitu  satu. Pernyataan Yesus yang mengatakan ia menyatu 

dengan murid-muridnya yaitu  pernyataan yang ajaib dimana orang-

orang percaya "dimuliakan" menjadi bagian dari Yesus. Dan ini jelas 

tidak bermakna bahwa murid-murid Yesus akan "sama hakikat 

dengan-Nya", namun makna pernyataan Yesus dalam doa-Nya itu 

yaitu  murid-murid-Nya menjadi bagian dari diri-Nya.  

 

Perhatikan ayat di bawah ini yang berkata kata  jemaat/gereja Tuhan 

yaitu  terdiri dari orang-orang percaya dan Yesus sebagai kepala 

jemaat/gereja itu.  

 

Efesus 1:22-23  

1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus 

dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala 

yang ada.  

TR Interlinear, kai {lalu} panta {segala (sesuatu)} upetaxen {ia 

menundukkan} upo {dibawah} tous podas {kaki-kaki} autou {Nya} 

kai {dan} auton {Dia} edôken {Ia mengangkat} kephalên {(menjadi) 

Kepala} uper {atas} panta {segala (sesuatu)} tê ekklêsia {bagi 

jemaat}  

1:23 Jemaat yang yaitu  tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang 

memenuhi semua dan segala sesuatu.  

TR Interlinear, êtis {yaitu} estin to sôma {tubuh} autou {NYA} to 

plêrôma {pelengkap/ Dia yang dipenuhi} tou {(dari Dia/ oleh Dia)}

panta {segala} en {didalam} pasin {segala} plêroumenou { (yang) 

dipenuhi/ (yang) memenuhi}  

Inilah yang dimaksud dengan kesatuan antara Kristus dengan 

murid-murid-Nya yang menjadi jemaat Tuhan. Dimana diibaratkan 

bahwa Yesus Kristus menjadi kepala dari jemaat dan jemaat yaitu  

Tubuhnya. 

Maka pengertian tentang Yohanes 17, perikop ini harus dibaca 

secara lengkap mulai ayat 6 sampai dengan 26; Anda tidak akan 

menemukan pertentangan dalam pernyataan Yesus bahwa "Yesus 

dan Bapa yaitu  satu" (satu hakikat). 

 

31) MATIUS 3:17 VS MATIUS 5:9; KELUARAN 4:22 & YEREMIA 

31:9. Dalam Matius 3, TERTULIS: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, 

kepada-Nyalah Aku berkenan (sebab  itu Yesus = Anak Allah)", 

namun  dalam Matius 5: "Yesus berkata: Berbahagialah orang yang 

membawa damai, sebab  mereka akan disebut anak-anak Allah", 

dalam Keluaran: "Israel yaitu  anak sulung Allah", dan dalam 

Yeremia: "Efraim yaitu  anak sulung Allah". (salah persepsi).  

 

JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam 

sejarah) 

 

Sebenarnya telah terjadi kesalah-pahaman dari orang yang 

bukan Kristen tentang sebutan "Anak Allah" dan ―anak-anak Allah.‖ 

Tidak pernah ada seorang nabi yang disebut sebagai "Anak Allah", 

bahkan tidak ada gelar "Anak Allah" dalam bentuk tunggal buat 

manusia.  

Ungkapan "anak-anak Allah" dalam bentuk jamak ditujukan 

pertama kali kepada keturunan Set (Kejadian 6:2); kedua kepada 

malaikat-malaikat (Ayub 1:6); ketiga, kepada bangsa Israel; dan 

keempat, kepada raja-raja Israel tempo dulu. Gelar/Sebutan ―Anak 

Allah‖ dalam bentuk tunggal huruf Kapital hanya dimiliki oleh Yesus 

Kristus.  

Kata Malaikat : "Ia akan menjadi besar, dan akan disebut Anak 

Allah yang Maha Tinggi". (Lukas 1:32) 

Perhatikan kata yang disebut, jadi Anak Allah bagi Yesus 

yaitu  sebutan. Predikat Anak Allah bagi Yesus bukan pada waktu 

ia dilahirkan melalui Maria di Betlehem, Yesus disebut Anak Allah 

sesudah  Dia menjadi besar, dan dibaptis di sungai Yordan, kemudian 

Roh Allah turun kepada-Nya, barulah Dia disebut Anak Allah:  

Matius 3:16-17  

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga 

langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun 

keatas-Nya, Lalu terdengarlah suara dari Sorga yang mengatakan: 

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.  

Jadi jelaslah bukan manusia Yesus yang turun dari Sorga ke Bumi, 

melainkan Roh Allah yang menyatu dengan Yesus, dan Dia mendapat 

sebutan Anak Allah.  

Yesus disebut Anak Allah sebab Roh Allah tinggal di dalam 

Dia. Roh Allah tinggal di dalam Yesus. Yesus disebut Anak Allah, 

lengkapnya Anak Tunggal Allah, sebab  Dia tidak hanya dipimpin 

Roh Allah, melainkan Roh Allah diam di dalam Dia dan melakukan 

pekerjaan Allah. (Yohanes 1: 14, Yohanes 14:10). Umat Kristen dan 

orang-orang percaya juga disebut anak-anak Allah (anak=huruf kecil 

dan jamak).  

Alkitab berkata kata  : Roma 8:14  

Semua orang yang dipimpin Roh Allah (Roh Kudus) yaitu  anak 

Allah.  

Apakah tanda-tanda anak Allah itu?  

• anak Allah dapat menyebut Allah, Bapa kami (Roma 8:15) 

• anak Allah dapat menyebut Yesus Tuhan (1 Korintus 12:3)  

• anak Allah dapat membawa damai (Matius 5:9)  

• anak Allah dapat mengasihi musuhnya (Lukas 6:35)  

Orang-orang Kristen dan orang-orang percaya yang dipimpin 

Roh Allah (Roh Kudus), disebut anak-anak Allah. Yesus Kristus juga 

disebut Anak Allah. Apakah perbedaan antara sebutan Anak Allah 

bagi Yesus dan bagi orang Kristen?  

Dari semua umat Kristen yang berhak disebut ANAK 

TUNGGAL ALLAH yaitu  Yesus Kristus sendiri. sedang  

orang Kristen disebut anak Allah sebab  mereka dipimpin Roh 

Allah.  

Dan benar Yesus Kristus yaitu  Anak Allah. Siapa yang 

menyangkal Bapa maupun Anak yaitu  pendusta, antikristus (1 

Yohanes 2:22). 

Mengenai Israel dan Efraim sebagai anak sulung Allah, penjelasannya 

sebagai berikut:  

KELUARAN 4:22 

Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: 

Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung. 



YEREMIA 31:9 

Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan 

membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di 

jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku 

telah menjadi bapa Israel, Efraim yaitu  anak sulung-Ku. 

Kita baca dulu pada Kejadian 48:14,  

namun  Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di 

atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di 

atas kepala Manasye -- jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye 

yang sulung.  

 

Bahwa Efraim yaitu  anak (keturunan langsung) dari Yakub 

(Israel) yang menerima hak kesulungan. Kita tahu dari Alkitab 

bahwa Efraim yaitu  anak Yusuf, dan Yusuf anak Yakub. Jadi 

Efraim, cucu Yakub. Alkitab mengatakan Yesus, anak Abraham dan 

Anak Daud, janganlah kita mengerti dengan arti bahwa Ayah Yesus 

yaitu  Abraham dan juga Daud. Hendaklah kita mengikuti 

pengertian bangsa Israel atau orang-orang Yahudi yaitu Yesus 

yaitu  keturunan langsung dari Abraham dan Daud yang merupakan 

bapa-bapa leluhur Yesus.  

Kejadian ini mengulang kisah Yakub (Israel) dengan Esau. 

Dikisahkan bahwa Israel menerima Hak Kesulungan dan kemudian 

pada saat Israel uzur, Hak Kesulungannya dilimpahkan atau 

diturunkan kepada Efraim, salah satu anak Yusuf dan bukan kepada 

Manasye. (Baca juga Kejadian 48:14-22).  

Jadi kedua ayat itu sama-sama benar dan tidak kontradiksi, 

Efraim yang merupakan cucu Israel, dan Israel yaitu  anak sulung 

dihadapan Tuhan. Jadi Efraim pun yaitu  anak sulung dihadapan 

Tuhan. Efraim sebagai sebuah suku dari 12 suku Israel yaitu  tentu 

bagian dari bangsa Israel, dan bagi Tuhan, bangsa Israel dan atau suku 

Efraim yaitu  anak Sulung-Nya. 

 

32) 1 KORINTUS 8:6 VS ULANGAN 4:35 & MARKUS 12:29.  

Dalam 1 Korintus, TERTULIS: "Paulus berkata: hanya ada satu Allah 

saja yaitu Bapa dan hanya ada satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus", 

namun  dalam Ulangan: "TUHAN itulah Allah, dan kecuali Dia tiada 

yang lain lagi", dan dalam Markus: "Yesus berkata: Hai Israel, adapun 

Allah, Tuhan kita, Tuhan yang Esa". (bertentangan prinsip).  

 

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis) 

 

IMAN KRISTEN MENGIMANI KE-ESA-AN ALLAH :  

Ajaran Kitab Suci bahwa hanya ada satu Allah sangatlah 

penting untuk diperhatikan, terutama sebab  banyak yang tidak 

mempercayai ajaran ini. Ajaran ini sangat jelas sekali dalam PL dan 

PB.  

 

Akulah TUHAN  ( YAHWEH) dan tidak ada yang lain; kecuali Aku 

tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau 

tidak mengenal Aku, (Yesaya 45:5) 

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa TUHANlah 

Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35) 

Rasul Paulus menulis kepada Timotius, ―sebab  Allah itu esa (satu) 

dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, 

yaitu manusia Kristus Yesus‖ (1 Timotius 2:5); demikian juga tertulis 

pada ayat-ayat lain :  

Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari 

pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan 

satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu 

telah dijadikan dan yang sebab  Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6) 

Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh 

semua dan di dalam semua. (Efesus 4:6) 

Yesus sendiri menekankan pentingnya ajaran Kitab Suci ini 

tentan ke-Esa-an Allah; saat  ia berkata:  

Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai 

orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29) 

 

BAGAIMANA DENGAN AJARAN TRINITAS ?  

TRINITAS yaitu  ajaran Kristen yang dianggap paling 

kontroversial, sebab  ajaran ini bukan saja sukar untuk dimengerti, 

namun banyak menimbulkan kesalahpahaman dengan timbulnya 

anggapan miring bahwa ‗Allah Kristen‘ itu tiga, jadi tidak dapat 

dikatakan sebagai termasuk monoteisme namun lebih tepat termasuk 

politeisme atau percaya akan banyak ilah. Sebaliknya sebab  Alkitab 

secara jelas membicarakan mengenai masalah ini, tentu ajaran 

Trinitas itu tidak akan pupus hanya sebab  adanya mereka yang 

tidak mempercayainya.  

Sebenarnya, pengertian Trinitas/Tritunggal mengungkapkan 

bahwa Allah Itu Esa : (Ulangan 6:4; Gal.3:20), namun dalam 

keesaan-Nya itu berkata kata  diri dalam Tiga Pribadi. Sekalipun 

demikian ke-tiga pribadi itu sehakekat dalam kesatuan pemeliharaan 

Allah.  

Dalam Kejadian 1:26; 3:22; 11:7, kita melihat Tuhan 

menyebut diri-Nya dalam bentuk jamak (Kita). Kejadian 1:1-2 

menunjuk Allah Bapa dengan Roh Kudus terlibat dalam penciptaan 

sedang  Yohanes 1:1 menunjukkan Allah Bapa dan 

Logos/Firman/Yesus terlibat pada peristiwa yang sama. Jadi baik Roh 

Kudus maupun Yesus sudah ada sejak awal sama halnya dengan 

Bapa, dan ketiganya bersatu dalam penciptaan langit dan bumi (1 

Yohanes 5:7-8).  

1 John 5:7-8 KJV dengan Naskah Yunani Textus 

Receptus:  

For  there are  three  that bear record  in  

heaven , the Father , the Word , and  the 

Holy  Ghost : and  these  three  are  

one . 

And  there are  three  that bear witness  in  

earth , the Spirit , and  the water , and  the 

blood : and  these three  agree  in  one . 

 

Terjemahannya menurut KS-ILT sebagai berikut:  

Sebab ada tiga yang bersaksi di surga: Bapa, Firman, dan 

Roh Kudus; dan ketiganya ini yaitu  satu. Dan ada tiga yang 

bersaksi di bumi: Roh, dan air, dan darah; dan ketiganya itu menjadi 

satu. (Ayat ini ada dalam Naskah Yunani Textus Receptus) 

Kejadian 1 menunjukkan bahwa Elohim atau Allah Bapa 

itulah pencipta, namun kita melihat Mazmur 33:6 menyebut bahwa 

―oleh firman TUHAN (Ibrani: Dabar Yehovah) langit telah 

dijadikan‖ sedang  Yesus disebut sebagai firman yang 

menciptakan segala sesuatu (Yohanes 1:1-18), jadi kedua 

pernyataan itu identik menunjuk pada yang Esa.  

 

ALPHA DAN OMEGA  

Yesus juga disamakan dengan ALLAH sebagai Alpha dan 

Omega (Wahyu 22:13; bandingkan dengan 1:8;21:6) dan Awal dan 

Akhir (Wahyu 1:17; 2:8; bandingkan 21:6; Yesaya 44:6;48:12). Ini 

menunjukkan bahwa Yesus sudah ada sejak awal sama dengan Bapa, 

jadi Yesus bukannya ciptaaan yang pernah tidak ada sebelum 

penciptaan melainkan sudah ada sebelum adanya ciptaan.  

Sekalipun disebutkan bahwa tidak seorangpun melihat Allah, 

TUHAN berkata kata  diri sebagai Malaikat TUHAN yaitu tiga orang 

yang bertemu Abraham (Kejadian 18:1-22). Ini tentunya menunjukkan 

oknum Yesus yang menjelma menjadi manusia, sebab  Ialah yang 

berfungsi berkata kata  kehadiran Allah kepada manusia.  

Yesus juga mengatakan bahwa Ia ada sebelum Abraham ada 

(Yohanes 8:58 ). Ayat terakhir ini sebenarnya berkata bahwa sebelum 

Abraham lahir Yesus itu ‗Ada‘ (‗ego eimi‘ yang artinya sama dengan 

‗Aku yaitu  Aku‘ dalam Keluaran 3:14). Dalam kitab Hakim-Hakim 

kita melihat ke tiga oknum TUHAN, Malaekat Allah dan Roh Tuhan 

bekerja bersama atas diri Samson.  

Yesaya menyebut mengenai keesaan Allah (Yesaya 

44:6;45:5,22; 46:9), namun dalam surat yang sama kita melihat 

ketritunggalan itu hadir bersama pula (Yesaya 40; 48:16-17).  


YESUS DIPERMULIAKAN  

Juga difirmankan bahwa ALLAH tidak akan memberi  

kemuliaan kepada yang lain (Yes 42:8; 48:11), namun  dalam 

inkarnasinya Yesus minta Bapa agar mempermuliakan Anak 

(Yohanes 17:1,5; Wahyu 14:7; 15:4) ini menunjukkan bahwa 

keduanya sama-sama dipermuliakan.  

Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah (Mat. 

16:16). Thomas memanggil Yesus Tuhan dan Allah (Yohanes 20:28) 

suatu pengakuan yang kelihatannya sudah menjadi pengakuan jemaat 

awal mengacu pada pengakuan pemazmur (35:32). Paulus dalam 

salamnya menyebut dua oknum Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus 

sebagai kesatuan terkait (1 Korintus 1:3). Demikian juga Yohanes 14-

16 menyebutkan oknum Roh Kudus sebagai pribadi yang menyatu 

dalam ke‘Allah‘an, justru sebab  pribadi, Roh Kudus disetarakan 

dengan pribadi Bapa dan Anak dalam rumus baptisan (Matius 28:19).  

 

YESUS yaitu  ALLAH  

Sebagai contoh ayat Yesaya 9:5 jelas menunjukkan bahwa 

―Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai‖ ditujukan 

kepada Yesus. Disebutkan bahwa Bapa mengatakan Anak sebagai 

‗Allah‘ yang diurapi ‗Allah‘ (Ibrani 1:8,9) dan bukan hanya Bapa 

namun  Anak pun disembah oleh malaikat dan dimuliakan (Ibrani 1:6; 

bandingkan Wahyu 1:17;4:10-11;14:7;15:4; dan 19:10;22:8-9). Yesus 

juga disebut ―Imanuel‖ yaitu ‗Allah menyertai kita‘ (Yesaya 7:14; 

Matius 1:23).  

 

ROH KUDUS yaitu  ALLAH  

Ayat-ayat di atas cukup jelas mengenai ke‘Allah‘an Yesus, 

dan bila kepribadian ‗Roh Kudus‘ juga banyak dibuktikan dalam 

Alkitab, bagaimana kita bisa diyakinkan bahwa ‗Roh Kudus yaitu  

Allah‘?  

 

Sekalipun tidak secara eksplisit disebutkan, kehadiran Roh Kudus 

selalu dikaitkan dengan Allah (Roh Allah & Roh TUHAN=Roh 

YAHWEH). Roh Kudus juga terlibat dalam penciptaan sejak awalnya 

(Kejadian 1: 1-2).  

Juga disebut agar ‗Jangan Mendukakan Roh Kudus‘ dan ‗yang 

menghujat tidak akan diampuni‘ (Matius 12:31). Menghujat Allah 

yaitu  sifat si Dajal (Wahyu 13:5,6) dan ‗neraka yaitu  tempat 

hukuman mereka yang menghujat Allah‘ dan tidak bertobat (Wahyu 

16:9).  

 

TRINITAS DALAM ALKITAB  

Sekalipun dalam PB istilah Tritunggal/Trinitas tidak ada. 

Namun petunjuk ke arah ke‘tri‘tunggalan ini sangat jelas, seperti 

dalam peristiwa pembaptisan Yesus (Matius 3: 16-17) dimana ketiga 

oknum itu berkata kata  diri, demikian juga Amanat Agung penginjilan 

(Matius 28:19) yang diucapkan Yesus dengan jelas menyebutkan ke 

tiga oknum Allah dalam kesatuannya. Ketritunggalan itu juga 

tercermin dalam peristiwa pengurapan ‗Yesus yang berinkarnasi‘ 

(Lukas 4: 18-19;Yesaya 61: 1,2). 

Salam Berkat Paulus mengungkapkan keesaan tiga oknum (2 

Korintus 13:13). Petrus m