Kisah santa santo 8

 


panggilan yang terus-

menerus datang bagaikan 

sebuah gema. Tampaknya 

seperti suatu undangan dari 

Tuhan baginya untuk menjadi 

seorang imam. Pada akhirnya, 

Fransiskus berusaha 

menceritakan perjuangan 

batinnya itu kepada keluarga. 

Ayahnya amatlah kecewa. Ia 

ingin agar Fransiskus menjadi 

seorang yang tersohor di 

seluruh dunia. Dengan pengaruh kuat keluarga 

pastilah impian itu akan tercapai. namun , Fransiskus 

bersikeras dan ditahbiskan imam pada tanggal 18 

Desember 1593.

Pater Fransiskus de Sales hidup pada saat 

umat Kristiani dilanda perpecahan. Ia menawarkan 

diri untuk pergi ke daerah yang berbahaya di 

Perancis untuk membawa kembali orang-orang 

Katolik yang telah menjadi Protestan. Ayahnya 

menentang dengan keras. Ayahnya mengatakan 

bahwa sudah merupakan suatu hal yang buruk 

baginya mengijinkan Fransiskus menjadi seorang 

imam. Ia tidak akan mengijinkan Fransiskus pergi 

dan wafat sebagai martir pula. namun , Fransiskus 

percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Maka ia 

dan sepupunya, Pater Louis de Sales, dengan 

berjalan kaki menempuh perjalanan ke daerah 

Chablais. Segera saja kedua imam ini  

merasakan bagaimana menderitanya hidup penuh 

hinaan serta aniaya fisik. Hidup mereka berdua 

senantiasa ada dalam bahaya. Namun demikian, 

sedikit demi sedikit, umat kembali ke pelukan 

Gereja.

Santo Fransiskus kemudian diangkat menjadi 

Uskup Geneva, Swiss. Bersama Santa Yohana 

Fransiska de Chantal, pada tahun 1610 ia 

membentuk suatu ordo religius bagi para biarawati 

yang diberi nama Serikat Visitasi. Fransiskus menulis 

artikel -artikel  yang mengagumkan mengenai kehidupan 

rohani dan cara untuk menjadi kudus. artikel -

artikel nya, Tulisan tentang Kasih Allah dan Pengantar 

kepada Kehidupan Saleh, masih dicetak hingga 

sekarang. artikel -artikel  ini  digolongkan sebagai 

artikel -artikel  rohani “klasik”. Uskup de Sales wafat 

pada tanggal 28 Desember 1622 dalam usia 

limapuluh enam tahun. Ia dinyatakan kudus oleh 

Paus Inosensius X pada tahun 1665. Oleh sebab  

pengabdiannya yang gagah berani bagi Gereja, ia 

diberi gelar istimewa “Pujangga Gereja”. St. 

Fransiskus dijadikan pelindung para wartawan.

Fransiskus de Sales (1567-1622), uskup dan 

penulis artikel -artikel  rohani. Paus Pius XI 

mengangkatnya menjadi pelindung para 

wartawan; P: 24 Januari

“Sama  seperti  kasih  ilahi  mempercantik  jiwa,  hal  itu 

disebut rahmat, yang menjadikan kita menyenangkan bagi 

Allah  yang  Mahamulia.  Demikanlah  rahmat  ini  

memperkuat  kita  untuk  melakukan  kebajikan,  hal  itu 

disebut belas kasih.” ~ Santo Fransiskus dari Sales

FRANSISKUS de GIROLAMO SJ (1642-

1716)

Selama hidup berkarya di sekitar Napoli Italia 

sebagai pengkotbah. Ia mentobatkan banyak 

pendosa besar, rajin mengunjungi penjara dan 

mencari orang-orang di tempat pelacuran maupun di 

gang-gang gelap. Pernah Fransiskus mentobatkan 

seorang wanita yang membunuh ayahnya dan 

kemudian melarikan diri ke luar negeri dan menjadi 

tentara.

P: 2 Juli

FRANSISKUS de SANTA MARIA OFM (1587)

Dibunuh oleh orang Brunei yang beragama 

Islam di Mohala (Kalimantan)

(Salah satu dari Orang-orang Kudus di 

Indonesia)

FRANSISKUS REGIS CLET (1748-1820)

yaitu  seorang imam Lazaris yang bekerja 

keras selama 30 tahun sebagai misionaris di 

Tiongkok. sesudah  ditahan selama 8 tahun ia mati 

dicekik.

P: 17 Februari

FRANSISKUS SOLANUS OFM (1549-1610)

Dikenal sebagai rasul orang Indian di 

Argentina dan Peru. Ia mengerjakan banyak mujizat 

dan beriman teguh; dalam derita pun ia senantiasa 

bersukaria. saat  berkotbah melawan korupsi di 

Lima, seluruh penduduk kota panic dan takut akan 

akibat perbuatan busuk mereka. Uskup terpaksa 

turun tangan menenteramkan mereka.

P: 14 Juli

SANTO FRANSISKUS XAVERIUS (1506-

1552)

Misionaris besar ini dilahirkan di Kastil  

Xaverius, Spanyol pada tahun 1506. Ia belajar di 

Universitas Paris saat  umurnya 

delapanbelas tahun. Di sanalah 

ia bertemu dengan Santo 

Ignatius Loyola, yang pada 

waktu itu akan membentuk 

Serikat Yesus. Santo Ignatius 

berusaha mengajak Fransiskus 

untuk bergabung. Pada 

mulanya, pemuda yang suka 

bersenang-senang ini tidak 

pernah memikirkannya. 

Kemudian, Santo Ignatius 

mengulangi kata-kata Yesus 

dalam Kitab Suci kepadanya: 

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia 

namun  kehilangan nyawanya?” Akhirnya, Fransiskus 

memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya 

yaitu  bersama dengan para Yesuit. 

 saat  Fransiskus berusia tigapuluh empat 

tahun, Santo Ignatius mengutusnya sebagai 

misionaris ke Hindia Belanda. Raja Portugal hendak 

memberinya hadiah-hadiah dan juga seorang 

pelayan untuk menyertainya. namun , Fransiskus 

dengan halus menolak pemberian raja dengan 

mengatakan: “Cara terbaik bagi seseorang untuk 

mendapatkan martabat sejati yaitu  dengan 

mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.” 

Sepanjang karyanya yang gemilang di Goa, India, 

Indonesia, Jepang serta pulau-pulau lain di timur, 

Santo Fransiskus mempertobatkan banyak orang. 

Sesungguhnya, ia membaptis begitu banyak orang 

hingga ia menjadi terlalu lemah bahkan untuk 

mengangkat tangannya sendiri. Ia mengumpulkan 

anak-anak kecil di sekitarnya serta mengajarkan 

iman Katolik kepada mereka.

Kemudian ia menjadikan mereka misionaris-

misionaris kecil. Ia mengajak mereka untuk 

menyebarluaskan iman yang telah mereka peroleh. 

Tidak ada yang tidak dilakukan St. Fransiskus untuk 

membantu sesama. Suatu saat , ia berhadapan 

dengan segerombolan perompak yang garang, ia 

sendirian dan tanpa senjata kecuali salibnya. 

Gerombolan perompak itu mundur kembali dan tidak 

jadi menyerang penduduk Kristennya. St. Fransiskus 

juga membawa kembali orang-orang Kristen yang 

hidup tidak baik untuk bertobat. Satu-satunya 

“alat”-nya yaitu  kelemahlembutan, keramahan 

serta doa-doanya.

Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya 

yang melelahkan, Santo Fransiskus senantiasa 

dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia 

mendambakan untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah 

di mana tak seorang asing pun diijinkan masuk. 

Akhirnya, persiapan-persiapan dilakukan, namun  

misionaris besar kita jatuh sakit. Ia wafat, hampir-

hampir tanpa ditemani siapa pun, pada tahun 1552 

di sebuah pulau di pesisir Cina. Usianya baru 

empatpuluh enam tahun. Fransiskus Xaverius 

dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada 

tahun 1622. Ia dikanonisasi bersama para kudus 

yang hebat lainnya dalam suatu upacara kanonisasi 

di Roma. Ignatius dari Loyola, Theresia dari Avila,  

Filipus Neri dan Isidorus si Petani, dikanonisasi pada 

hari yang sama.

Fransiskus Xaverius (1506-1552), lahir di 

Kastil Xaverius Navarra Spanyol dan meninggal 

di Sancian Tiongkok. Ia dinyatakan sebagai 

Pelindung Gereja di Tanah Misi; termasuk salah 

satu Orang-orang Kudus di Indonesia; L: 

seorang imam yang berkotbah berapi-api 

dengan membawa salib; P: 3 Desember.

FRANZESKA (1384-1440)

Ibu dari enam anak ini kerapkali membantu 

orang miskin, korban perang dan wabah pes di 

Roma. sesudah  suaminya meninggal, ia mendirikan 

semacam ‘biara’ bersama teman-temannya untuk 

meningkatkan perbuatan amal. Franzeska sering 

berdoa sampai jauh malam dan mengalami banyak 

penglihatan serta rahmat khusus dalam doa.

P: 9 Maret

FRANSISKUS PACHECO

Ia bersama 32 Jesuit lain mati sebagai saksi 

iman di Jepang, sebagian besar di Nagasaki antara 

tahun 1617 – 1632.

P: 4 Februari

BEATO FREDERIK JANSSOONE (1838-4 

Agustus 1916)

Beato Frederik Janssoone dilahirkan di 

Flanders pada tahun 1838. Ada banyak perubahan 

menarik dalam hidupnya, yang bukanlah cara hidup 

biasa abad kesembilanbelas. Frederik dilahirkan 

dalam sebuah keluarga petani yang kaya, sebagai 

yang bungsu dari tigabelas saudara. Ia baru berusia 

sembilan tahun saat  ayahnya meninggal dunia, 

sebab itu ia harus meninggalkan bangku sekolah 

untuk membantu ibunya. Segera saja ia menyadari 

bahwa ia memiliki  “keahlian” dalam berjualan. Ia 

suka bertemu dengan kenalan-kenalan baru dan ia 

tahu bagaimana menjelaskan produknya.

Ibu Frederik meninggal dunia pada tahun 

1861. Itulah saat saat  pemuda berusia duapuluh 

tiga tahun ini sampai pada ketetapan hatinya dalam 

mencari panggilan hidupnya. Ia sadar bahwa ia 

merasakan suatu kerinduan yang kuat untuk 

menggabungkan diri dalam Ordo Fransiskan. sesudah  

masa belajarnya di seminari usai, Frederik 

ditahbiskan sebagai seorang imam Fransiskan. Ia 

menjadi pastor bagi pasukan militer untuk beberapa 

waktu lamanya.

Kemudian pada 

tahun 1876, ia diutus 

ke Tanah Suci. Pater 

Frederik mewartakan 

Injil di tempat-tempat 

yang dikuduskan oleh 

Yesus Sendiri. Ia 

mempergunakan bakat 

dan talentanya untuk 

membantu berbagai 

kelompok Kristiani agar 

saling bekerjasama 

dalam merawat dua 

gereja kudus. Ia 

mendirikan sebuah gereja di Betlehem. Beato 

Frederik juga dikenang sebab  menghidupkan 

kembali kebiasaan kuno melakukan ziarah Jalan 

Salib menyusuri jalanan Yerusalem.

Pelayanan Pater Frederik di Kanada dimulai 

saat  ia ditugaskan ke sana pada tahun 1881. Ia 

diutus dalam suatu perjalanan untuk mengumpulkan 

dana. Bakatnya yang bermacam-macam amat 

berguna dalam pelayanannya. Semangat sukacita 

dalam memberikan dirinya segera menjadikannya 

dicintai orang banyak. Khotbah dan ceramahnya 

penuh dengan fakta-fakta menarik mengenai Tanah 

Suci. Ia melihat ke dalam wajah dan hati umat dan 

berdoa agar mereka bertumbuh dalam kekayaan 

rahmat Tuhan. Pada tahun 1888, ia kembali ke 

Kanada untuk menetap dan menghabiskan sisa 

hidupnya di sana.

Pater Frederik Janssoone yaitu  seorang 

pribadi yang menarik dan seorang penulis yang 

piawai. Ia menulis beberapa artikel dan riwayat 

hidup para kudus. Tulisan-tulisan itu mengingatkan 

orang akan antusiasme yang memenuhi jiwanya 

sendiri. Karya-karyanya merefleksikan sukacita 

Yesus yang dengan sangat sukahati ia bagikan 

kepada yang lain. Pater Frederik wafat pada tanggal 

4 Agustus 1916. Ia dimaklumkan sebagai “beato” 

pada tahun 1988 oleh Paus Yohanes Paulus II.

SANTO FREDERIKUS († 18 Juli 838)

Frederikus hidup pada abad kesembilan di 

Utrecht, di bagian tengah Belanda. sesudah  

ditahbiskan menjadi imam, Uskup Ricfried 

menyerahinya tanggung jawab atas biara-biara. 

Sekitar tahun 825, ia dipilih untuk menggantikan 

Ricfried sebagai Uskup Utrecht. Uskup Frederikus 

menaruh perhatian besar pada umat dalam 

keuskupannya. Ia juga memberikan prioritas utama 

pada karya misi. Ia mengutus St. Odulf dan imam-

imam lainnya yang gagah berani ke daerah-daerah 

di mana penduduknya masih kafir. Ia menghendaki 

mereka mendengar warta Kabar Gembira.

sebab  kedudukannya sebagai uskup, 

Frederikus mendapatkan musuh-musuh juga. 

Putera-putera raja sangat menentang cara hidup 

amoral ibu angkat mereka. Mereka meminta Uskup 

Frederikus untuk berbicara kepada Ratu Yudit. Uskup 

mendekatinya dengan lembut namun tegas. Ratu 

tidak senang dinasehati. Ia malahan marah dan 

merasa terhina. Tantangan yang lain yaitu  orang-

orang yang tinggal di bagian utara keuskupan 

Frederikus yang disebut kaum Walcheren. St 

Frederikus mengutus imam-iman untuk menghantar 

orang-orang di sana pada iman akan Yesus. 

Frederikus tahu daerah itu berbahaya dan tidak 

bersahabat. Ia terus memantau imam-imam yang ia 

utus. Ia menyemangati mereka dan berusaha 

membantu agar warga  menerima kekristenan. 

Meski begitu, mereka tidak siap untuk 

mendengarkan dengan cara apapun. Mereka 

membalas perhatian uskup kepada mereka dengan 

kedengkian. 

St Frederikus terus menggembalakan 

keuskupannya dengan giat dalam kasih. Pada 

tanggal 18 Juli 838 terjadilah suatu tragedi. Uskup 

baru saja merayakan Misa. Dengan khusuk ia 

mengucap syukur saat  dua orang menikamnya 

dengan pisau. Sebuah ayat dari Mazmur 116 

terlintas di benaknya. Perlahan-lahan, uskup yang di 

ambang ajal itu berdoa, “Aku boleh berjalan di 

hadapan TUHAN di negeri orang-orang hidup.” 

Beberapa menit kemudian ia pun wafat. Sebagian 

orang mengatakan Ratu Yuditlah yang mengutus 

pembunuh-pembunuh bayaran sebab  murkanya 

kepada uskup. Sebagian orang beranggapan bahwa 

pihak yang bertanggung jawab yaitu  orang-orang 

Walcheren. Para pembunuh tidak pernah tertangkap 

dan dihukum. Uskup Frederikus dihormati sebagai 

seorang martir dan santo.

B: Friederich, Fritz; P: 18 Juli

FRIDA atau ELFRIDA († 714)

saat  berumur satu tahun ia dibawa oleh 

ayahnya Raja Oswin (Inggeris) ke suatu biara, 

sebagai tanda terimakasihnya atas kemenangannya 

dalam medan perang. Frida begitu pandai dan saleh, 

sehingga dipilih menjadi abbas. Ia suka berdoa 

berjam-jam, rendah hati dan menolong orang 

miskin. ♀

P: 8 Februari

FRIDOLIN († 540)

yaitu  biarawan dan misionaris Irlandia yang 

berkarya di Perancis, Jerman Selatan dan Swiss.♂

P: 6 Maret

FRUKTUOSUS († 259)

yaitu  uskup Tarragona Spanyol yang 

dibakar hidup-hidup bersama diakon Augurius dan 

Eulogius. 

A: subur (L); P: 21 Januari

FULGENTIUS (467-532)

Ingin tetap hidup sebagai rahib, namun  

terpaksa menerima jabatan uskup Ruspe Turki yang 

dipercayakan kepadanya. Ilmuwan ini diasingkan 

selama lima tahun, sebab  terlalu banyak 

mentobatkan penganut bidaah Arianisme. Ia menulis 

banyak artikel  keagamaan yang sampai ratusan tahun 

tetap dipelajari.

A: berkilat, bersinar (L); P: 3 Januari

G

SANTO GABRIEL, SANTO MICHAEL dan 

SANTO RAFAEL, MALAIKAT AGUNG

Mikhael, Gabriel dan Rafael disebut 

“santo” sebab  mereka kudus. Namun demikian, 

mereka berbeda dari para kudus lainnya sebab  

mereka bukanlah manusia. Mereka yaitu  malaikat, 

mereka melindungi manusia. Kita dapat mengetahui 

sedikit tentang masing-masing dari mereka dari 

Kitab Suci.

Nama Mikhael artinya “Siapa dapat 

menyamai Tuhan?” Tiga kitab 

dalam Kitab Suci bercerita tentang 

St. Mikhael, yaitu: Daniel, Wahyu 

dan Surat Yudas. Dalam Kitab 

Wahyu bab 

12:7-9, kita 

membaca 

tentang 

suatu 

pertempuran 

besar yang 

terjadi di 

surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang 

melawan Satan. Mikhael menjadi pemenang sebab  

setia kepada Tuhan. Kita dapat mohon bantuan St. 

Mikhael untuk menjadikan kita teguh dalam kasih 

kepada Yesus dan dalam mempraktekan iman 

Katolik kita.

Nama Gabriel berarti “Tuhan 

kemenanganku”. Ia juga disebutkan dalam kitab 

Daniel. Gabriel kita kenal dengan baik sebab  ia 

termasuk salah satu tokoh penting dalam Injil Lukas. 

Malaikat Agung ini menyampaikan kepada Maria 

bahwa ia akan menjadi Bunda Juruselamat kita. 

Gabriel menyampaikan kepada Zakharia bahwa ia 

dan Elisabet akan dikarunia seorang putera yang 

akan dinamai Yohanes. Gabriel yaitu  pembawa 

warta, utusan Tuhan untuk menyampaikan Kabar 

Sukacita. Kita dapat mohon bantuan St. Gabriel 

untuk menjadikan kita pembawa warta, seorang 

utusan Tuhan seperti dirinya.

Nama Rafael artinya 

“Tuhan menyembuhkan”. 

Kita membaca kisah yang 

menyentuh tentang tugas 

Rafael dalam kitab Tobit 

dalam Kitab Suci. Ia 

memberikan perlindungan 

serta penyembuhan bagi 

mata Tobit yang buta. Pada 

akhir perjalanan, saat  

segala sesuatunya telah 

berakhir, Rafael menyatakan 

jati dirinya yang sebenarnya. Ia menyebut dirinya 

sebagai salah satu dari ketujuh malaikat yang 

melayani di hadapan tahta Allah. Kita dapat mohon 

bantuan St Rafael untuk melindungi kita dalam 

perjalanan, bahkan dalam perjalanan yang amat 

dekat sekali pun, seperti misalnya pergi ke sekolah. 

Kita juga dapat mohon pertolongannya saat  kita 

atau seseorang yang kita kasihi diserang penyakit.

GABRA MIKAEL (1788-1855)

Biarawan Kopt di Etiopia ini berbalik menjadi 

imam Katolik. Ia menyusun artikel  tatabahasa serta 

kamus bahasa Etiopia. Selain itu ia menyusun 

sebuah katekismus dan mendirikan seminari untuk 

membina calon-calon imam pribumi. Atas perintah 

Abuna Kopt (=uskup), ia disiksa dan dibunuh.

P: 30 Agustus

SANTO GABRIEL dari BUNDA DUKACITA 

(1838-27 Februari 1862)

Santo yang menarik ini dilahirkan di Asisi,  

Italia pada tahun 1838. Ia diberi nama Fransiskus 

pada saat dibaptis untuk 

menghormati St. Fransiskus 

dari Asisi. Ibunya 

meninggal dunia saat  

Fransiskus baru berusia 

empat tahun. Ayahnya 

mendatangkan seorang 

pendidik untuk 

mengasuhnya dan saudara-

saudaranya. Fransiskus 

tumbuh menjadi seorang 

pemuda yang amat tampan 

sekaligus menyenangkan. 

Seringkali ia menjadi orang 

yang paling menarik perhatian dalam suatu pesta. 

Fransiskus senang berpesta-pora, namun  ia 

memiliki  sisi lain juga. Bahkan pada saat sedang 

bersenang-senang, ia kadang-kadang merasa bosan. 

Ia tidak dapat menjelaskan mengapa. Tampaknya, ia 

merasakan dalam hatinya ada suatu dorongan kuat 

kepada Tuhan dan kepada kehidupan rohani yang 

lebih mendalam. 

Dua kali Fransiskus sakit parah hingga 

hampir kehilangan nyawanya. Setiap kali ia berjanji 

kepada Bunda Maria bahwa jika Bunda Maria mau 

mengusahakan kesembuhannya, ia akan menjadi 

seorang yang religius. Sungguh, dua kali itu ia 

sembuh dari penyakitnya, namun  Fransiskus tidak 

menepati janjinya.

Suatu hari, Fransiskus melihat lukisan Bunda 

Dukacita sedang diarak dalam suatu prosesi. 

Tampak olehnya, Bunda Maria menatap langsung 

kepadanya. Pada saat yang sama, ia mendengar 

suatu suara dalam hatinya yang mengatakan, 

“Fransiskus, dunia ini bukan lagi untukmu.” Dan 

begitulah. Fransiskus masuk biara Passionis. Usianya 

delapanbelas tahun. Nama yang dipilihnya yaitu  

Gabriel dari Bunda Dukacita.

Cinta Grabriel yang terdalam ditujukan 

kepada Ekaristi Kudus dan Maria, Bunda Dukacita. Ia 

suka menghabiskan waktu dengan merenungkan 

sengsara Yesus dan betapa Yesus telah banyak 

menderita untukya. Grabriel juga melatih diri dalam 

dua keutamaan dengan cara yang istimewa, yaitu 

kerendahan hati dan ketaatan. Yang menjadi ciri 

khasnya yaitu  sukacita. Ia selalu bergembira dan 

menyebarkan kegembiraan itu kepada mereka yang 

ada di sekitarnya. Hanya sesudah  empat tahun 

tinggal dalam biara Passionis, Gabriel wafat pada 

tanggal 27 Februari 1862. Ia dinyatakan kudus pada 

tahun 1920 oleh Paus Benediktus XV.


GALLUS (550-640)

Misionaris berkebangsaan Irlandia ini 

bersama Santo Kolumban bekerja di Swiss dan 

mendirikan pertapaan. Ia menolak menjadi abbas 

maupun uskup.

A: ayam jago (L); P: 16 Oktober

GAUDENTIUS († 410)

Uskup Brescia ini ditugaskan oleh paus 

susaha  menghadap kaisar di Konstantinopel guna 

membebaskan Santo Krisostomos. namun  usahanya 

gagal, malahan ia diperlakukan dengan kasar.

A: yang bergembira (L); P: 25 Oktober

SANTA GEMMA GALGANI (12 Maret 1878-

11 April 1903)

   MASA KECILNYA

Gemma Galgani dilahirkan pada tanggal 12 

Maret 1878 di Camigliano, sebuah desa dekat kota 

Lucca, Italia. Gemma 

yaitu  kata Italia yang 

berarti 'Mutiara'. Ayahnya 

seorang ahli kimia yang 

berhasil. Salah seorang 

leluhurnya yaitu  Beato 

Yohanes Leonardi. Ibu 

Gemma juga berasal dari 

keluarga bangsawan. 

Keluarga Galgani yaitu  

keluarga Katolik yang saleh 

yang dikaruniai delapan 

putera-puteri. 

Gemma yaitu  anak 

keempat, puteri pertama dalam keluarga. Ia seorang 

gadis kecil yang pandai, ramah, periang serta 

menyenangkan. Sejak masa kecilnya, Gemma amat 

suka sekali berdoa. Ia memiliki kebijaksanaan dan 

semangat doa yang tidak biasa dijumpai pada anak 

kecil seusianya. Hal itu disebab kan ibunya yang 

saleh mengajarkan kepada Gemma kebenaran-

kebenaran Iman Katolik. Signora (=Nyonya) Galgani 

secara istimewa menanamkan dalam jiwa puteri 

kecilnya itu, cinta kepada Kristus Tersalib. 

Jika ibunya sibuk dengan pekerjaannya 

sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, si kecil 

Gemma akan menarik-narik gaun ibunya dan 

merengek, “Mama, ayo ceritakan lagi tentang 

Yesus.” 

Sayang sekali ibu Gemma meninggal saat Gemma 

baru berusia tujuh tahun. Pada hari Gemma 

menerima Sakramen Penguatan, saat  sedang 

berdoa dengan khusuk dalam Misa bagi kesembuhan 

ibunya yang sakit parah, Gemma dengan jelas 

mendengar suara dalam hatinya yang berkata, 

“Apakah kamu mau memberikan mama-mu 

kepada-Ku?”

“Ya,” jawab Gemma, “namun  bawalah aku 

serta juga.”

“Tidak,” jawab suara itu, “berikanlah mama-

mu tanpa syarat kepada-Ku. Untuk 

sementara waktu, kamu harus menunggu 

bersama papamu. Aku akan membawamu ke 

Surga kelak.”

“Ya,” jawab Gemma segera. 

“Ya”, kata-kata itu akan selalu diulangi 

Gemma di sepanjang hidupnya yang singkat 

sebagai jawab atas undangan Kristus untuk 

menderita bagi-Nya.

sesudah  kematian ibunya, Gemma dikirim ayahnya 

untuk tinggal di asrama Katolik di Lucca yang 

dikelola oleh para Biarawati St. Zita. 

Di kemudian hari, saat mengenang masa-masa di 

sekolah, Gemma berkata,  “Saat aku mulai 

bersekolah di susteran, aku merasa seperti di 

Surga.” 

Di sekolah, Gemma dikasihi oleh para guru 

dan teman-teman sekolahnya. Meskipun ia seorang 

yang pendiam dan lebih suka menyendiri, ia selalu 

tersenyum kepada siapa saja. Gemma menonjol 

dalam pelajaran Bahasa Perancis, aritmetika dan 

musik. Pada tahun 1893 Gemma memenangkan 

Medali Emas untuk pengetahuan agama. Salah 

seorang guru sekolahnya secara singkat dan tepat 

mengatakan, “Gemma yaitu  teladan bagi sekolah 

kami.” 

Gemma sangat merindukan Komuni 

Kudusnya yang pertama. Seringkali ia memohon, 

“Berikanlah Yesus kepadaku…. Anda akan melihat 

betapa baiknya aku nanti. Aku sungguh akan 

berubah. Aku tidak akan berbuat dosa lagi. 

Berikanlah Yesus kepadaku. Aku sungguh sangat 

merindukan Dia, aku tidak akan dapat hidup tanpa-

Nya.” 

Akhirnya, pada usia sembilan tahun (lebih 

awal dari kebiasaan), Gemma diperkenankan untuk 

menerima Komuni Kudus-nya yang pertama. Seijin 

ayahnya, Gemma tinggal selama sepuluh hari 

lamanya di sebuah biara setempat guna 

mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut 

peristiwa agung ini.

Pada tanggal 20 Juni 1887, pada Pesta Hati 

Kudus Yesus, saat yang telah lama dinanti-nantikan 

Gemma itu pun tiba. Dengan kata-katanya sendiri ia 

menggambarkan pertemuan pertamanya yang 

mesra dengan Kristus dalam Sakramen Maha Kudus:

“Tidaklah mungkin menceritakan apa yang 

terjadi saat itu antara Yesus dan aku. Ia 

membuat Diri-Nya dapat kurasakan, oh 

demikian kuat, dalam jiwaku.”

Pada tahun 1897 ayah Gemma meninggal 

dunia. sebab  terlalu murah hati dan kurang berhati-

hati dalam menjalankan usahanya, ayah Gemma 

bangkrut. Ia tidak meninggalkan warisan apa pun 

bagi putera-puterinya, bahkan tidak juga sarana 

untuk menunjang hidup. Saat itu Gemma baru 

berusia sembilan belas tahun, namun  mulai terbiasa 

memikul salib. Sejak ayahnya meninggal, Gemma 

berperan sebagai ibu bagi ketujuh saudara dan 

saudarinya. 

   SECARA AJAIB SEMBUH BERKAT BANTUAN 

DOA ST. GABRIEL

Gemma jatuh sakit. Ia menderita TBC tulang. 

Juga penyakit meningitis menyerangnya dan 

memicu nya untuk sementara waktu 

kehilangan pendengarannya. Bisul besar bernanah 

muncul di kepalanya, rambutnya rontok, dan 

akhirnya tangan serta kakinya menjadi lumpuh. 

Dokter dipanggil dan sekian banyak cara pengobatan 

dilalui tanpa membuahkan hasil, malahan semakin 

buruk keadaannya.   

Gemma memohon bantuan doa Venerabilis 

G  abriel Possenti dari Bunda Dukacita   (sekarang St. 

Gabriel). Di pembaringannya, Gemma membaca 

riwayat hidup St. Gabriel. Di kemudian hari, Gemma 

menulis tentang Venerabilis Gabriel:

“…Aku semakin kagum akan teladan serta 

sikap hidupnya. Devosiku kepadanya 

bertambah. Malam hari, aku tidak akan tidur 

sebelum meletakkan gambarnya di bawah 

bantalku, dan sesudah itu aku mulai 

melihatnya berada di dekatku. Aku tidak tahu 

bagaimana harus menjelaskannya, namun  aku 

merasakan kehadirannya. Setiap saat dan 

dalam setiap lakuku, Frater Gabriel ada 

dalam benakku.” 

Gemma, sekarang usianya 20 tahun, tampaknya 

hanya tinggal menunggu saatnya saja. Tengah 

malam pada tanggal 23 Februari 1899, Gemma 

sayup-sayup mendengar seseorang mendaraskan 

rosario dan ia sadar bahwa Venerabilis Gabriel 

menampakkan diri kepadanya. Ia berkata kepada 

Gemma: 

“Apakah kamu ingin sembuh? Berdoalah 

kepada Hati Kudus Yesus dengan penuh iman 

setiap sore. Aku akan datang kepadamu 

hingga Novena selesai, kita akan berdoa 

bersama kepada Hati-Nya yang Terkudus.”

Pada hari Jumat pertama bulan Maret, Novena 

selesai didaraskan. Permohonan mereka dikabulkan; 

Gemma sembuh sama sekali dari sakitnya! saat  

Gemma bangkit dari pembaringannya, mereka yang 

ada di sekelilingnya bersorak gembira. Ya, telah 

terjadi suatu mukjizat!

   KARUNIA STIGMATA

Gemma yang sekarang sempurna 

kesehatannya, amat rindu untuk menjadi seorang 

Rubiah Pasionis, namun keinginannya itu tidak 

pernah terkabul. Tuhan memiliki  rencana lain 

baginya. 

Pada tanggal 8 Juni 1899, sesudah  menerima 

Komuni Kudus, Kristus menyatakan kepada 

hambanya bahwa sore itu Ia akan 

menganugerahkan kepadanya suatu rahmat yang 

amat istimewa.

Gemma pulang ke rumah dan berdoa. Ia 

mengalami ekstasi (= kerasukan Roh Kudus) dan 

merasakan tobat yang mendalam atas dosa. 

Kemudian, St. Perawan Maria, kepada siapa St. 

Gemma berdevosi dengan setia dan tekun, 

menampakkan diri kepadanya dan berkata:

“Puteraku Yesus, mengasihimu secara luar 

biasa dan hendak memberimu suatu karunia. 

Aku akan menjadi Bunda-mu. Maukah kamu 

menjadi anak yang taat?” 

Santa Perawan Maria kemudian membuka mantolnya 

dan menaungi Gemma dengan mantolnya itu. 

Beginilah ceritera St. Gemma di kemudian 

hari saat mengenang bagaimana ia menerima 

stigmata:

“Pada saat itu Yesus menampakkan diri 

dengan semua luka-luka-Nya yang 

menganga, namun dari luka-luka itu tidak 

lagi memancar darah, melainkan nyala api. 

Dalam sekejap nyala-nyala api itu menyentuh 

kedua belah tanganku, kakiku dan 

lambungku. Aku merasa seperti mau mati 

rasanya, dan pastilah aku sudah roboh ke 

tanah jika saja bundaku tidak menopang aku, 

sementara semua itu terjadi aku tetap berada 

dalam naungan mantolnya. Aku berada dalam 

keadaan demikian selama beberapa jam. 

Pada akhirnya, Bunda Maria mengecup 

keningku, semuanya lenyap, dan aku 

mendapati diriku sendiri sedang berlutut. 

namun  aku masih merasakan sakit yang luar 

biasa di kedua tangan, kaki dan lambungku. 

Aku bangkit berdiri untuk tidur, dan barulah 

aku sadar bahwa darah mengalir dari bagian-

bagian tubuhku yang terasa sakit itu. Aku 

menutupi luka-lukaku sedapat mungkin, dan 

kemudian dengan ditolong oleh Malaikatku, 

barulah aku dapat pergi tidur …”

Sejak saat itu, setiap Kamis petang, Gemma akan 

mengalami ekstasi dan tanda-tanda Kristus akan 

muncul. Stigmata ini  terus ada padanya hingga 

Jumat siang atau Sabtu pagi, yaitu saat  darah 

berhenti mengalir, luka-luka menutup kembali, dan 

tanda-tanda putih muncul di tempat bekas luka. 

Stigmata Gemma terus-menerus muncul di 

sepanjang sisa hidupnya hingga tiga tahun 

menjelang wafatnya, sebab  Bapa Pembimbing 

Rohaninya melarang Gemma untuk menerimanya. 

Melalui doa, stigmata tidak muncul kembali, namun  

tanda-tanda putih tetap muncul di kulitnya hingga 

wafatnya.

Beberapa orang, termasuk para rohaniwan 

Gereja yang disegani, menjadi saksi atas mukjizat 

stigmata ini. Seorang saksi mata mengatakan:

“Darah mengalir dari luka-luka Gemma 

dengan begitu hebat. Jika ia berdiri, darah 

mengalir membanjiri lantai, dan jika ia tidur, 

darah tidak saja membasahi seprei, namun  

membasahi kasur seluruhnya. Saya 

mengukur aliran atau genangan darahnya, 

panjangnya kurang lebih dua puluh hingga 

dua puluh lima inci dan lebarnya kurang lebih 

dua inci.”

Sama seperti St. Fransiskus dari Asisi dan baru-baru 

ini St. Padre Pio, Gemma dapat berkata juga: Nemo 

mihi molestus sit. Ego enim stigmata Domini Jesu in 

corpore meo porto: Biarlah tiada seorangpun 

menyakiti aku, sebab  aku mengenakan tanda-tanda 

Tuhan Yesus di tubuhku.

   KEHIDUPAN DOA MISTIKNYA

Sepanjang hidupnya, Gemma dikaruniai 

banyak pengalaman mistik dan rahmat istimewa. 

Karunia-karunia ini  sering disalah mengerti 

oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga Gemma 

sering menjadi bahan ejekan. Gemma dengan tabah 

menerima semuanya itu sebagai silih dosa, 

mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri juga telah 

disalah mengerti dan diejek.

Pada usia 21 tahun, Gemma diangkat anak 

oleh sebuah keluarga Italia yang murah mati, yaitu 

keluarga Giannini. Keluarga ini  telah memiliki 

sebelas orang putera puteri, namun gembira 

menerima gadis yatim piatu yang saleh ini dalam 

rumah mereka. Nyonya rumah: Signora Cecilia 

Giannini, kelak mengenang Gemma sebagai berikut:

“Saya bersedia memberi kesaksian di bawah 

sumpah bahwa selama tiga tahun delapan 

bulan Gemma tinggal bersama kami, saya 

tidak pernah mendapatkan masalah, 

walaupun sepele sekali pun, dalam keluarga 

kami yang timbul sebab  dia, dan saya juga 

tidak pernah mendapati cacat celanya yang 

terkecil sekali pun. Saya ulangi, bahkan 

masalah sepele sekali pun atau cacat cela 

terkecil sekali pun.”

St. Gemma dengan rajin melakukan tugas-tugas 

rumah tangga dalam keluarga besar Giannini. 

Gemma juga meluangkan waktu untuk berdoa, yang 

yaitu  kegiatan yang paling disukainya. Melalui 

Penyelenggaraan Ilahi, Gemma mendapatkan 

seorang Bapa Pembimbing Rohani Pasionis yang 

kudus, Rm Germanus, CP (sekarang Venerabilis 

Germanus) yang ditaatinya sepenuh hati.

Rm Germanus, seorang teolog yang ahli 

dalam hal doa mistik, memperhatikan bahwa 

Gemma memiliki kehidupan doa yang amat 

mendalam sebab  persatuannya yang demikian erat 

dengan Tuhan. Rm Germanus yakin bahwa “Mutiara 

Kristus” ini telah melewati keseluruhan dari 

kesembilan tahap klasik kehidupan batin.

Gemma seringkali mengalami ekstasi. Segala 

perkataan yang diucapkannya selama esktasi 

direkam oleh Bapa Pembimbing Rohaninya dengan 

dibantu seorang sanak keluarga Giannini. Pada akhir 

ekstasi, Gemma akan kembali normal dan 

menjalankan kehidupannya dalam keluarga seperti 

biasa.  

Gemma mengikuti Perayaan Misa dua kali 

sehari sementara ia menerima komuni satu kali saja 

dalam sehari. Dengan setia Gemma mendaraskan 

doa rosarionya, dan sore hari bersama Signora 

Giannini, ia mengikuti Ibadat Sore. Dalam 

melakukan semua kegiatan rohaninya, tidak pernah 

sekali pun Gemma melalaikan tugas dan 

kewajibannya setiap hari di rumah keluarga Giannini.

   GEMMA & MALAIKAT PELINDUNGNYA

Malaikat Pelindungnya seringkali 

menampakkan diri kepada Gemma. Mereka 

berbicara seperti layaknya seseorang bercakap-

cakap dengan sahabatnya. Kemurnian serta 

kekudusan Gemma tentu telah mengundang 

Malaikat Kudus dari Surga itu berada di sampingnya. 

Gemma dan malaikatnya dengan sayapnya 

terentang atau berlutut di sampingnya, 

mendaraskan doa-doa lisan atau Mazmur pujian. 

saat  melakukan Meditasi Sengsara Yesus, 

malaikatnya membawa Gemma masuk dalam 

meditasi yang mendalam dengan pengertian-

pengertian yang luhur dan agung tentang Misteri 

Sengsara Yesus. Suatu saat  Malaikat Pelindungnya 

berbicara kepada Gemma tentang Sengsara Kristus: 

“Lihatlah betapaYesus telah menderita bagi 

manusia. Pikirkanlah satu demi satu Luka-

Luka itu. Cinta-lah yang telah mencabik-

cabiknya. Lihatlah betapa mengerikannya 

dosa, oleh sebab nya untuk menebusnya, 

begitu banyak sengsara serta begitu besar 

cinta yang dibutuhkan.” 

Gemma biasa meminta bantuan malaikat 

pelindungnya untuk menyampaikan surat atau 

menyampaikan pesan kepada Bapa Pembimbing 

Rohaninya di Roma. 

  WAFATNYA

Pada tahun 1902 Gemma yang kesehatannya 

prima sejak penyembuhannya yang ajaib, 

mempersembahkan dirinya kepada Tuhan sebagai 

kurban silih bagi keselamatan jiwa-jiwa. Yesus 

menerima persembahan dirinya. 

Gemma kemudian sakit parah. Ia tidak dapat 

menelan makanan apa pun. Walaupun untuk 

sementara waktu kesehatannya mulai membaik 

berkat Penyelenggaraan Ilahi, Gemma segera jatuh 

sakit kembali. Pada tanggal 21 September 1902, 

Gemma mulai muntah darah disertai dengan denyut 

jantung yang berdebar amat kencang. Gemma 

dinyatakan mengidap TBC. Sementara itu Gemma 

juga mengalami kemartiran rohani sebab  

kekeringan rohani dan tidak adanya penghiburan 

dalam kehidupan rohaninya. Menambah beban 

deritanya, si iblis melipatgandakan serangannya atas 

“Perawan dari Lucca” ini sebab  iblis tahu bahwa 

saatnya hampir tiba.

Iblis berusaha keras membujuk Gemma 

dengan mengatakan bahwa ia telah sama sekali 

ditinggalkan oleh Tuhan. Iblis memperlihatkan 

penampakan-penampakan yang mengerikan dan 

bahkan melakukan serangan-serangan fisik atas 

tubuh Gemma yang rapuh. Seorang saksi mata yang 

merawat Gemma mengatakan:

“Iblis yang menjijikkan itu akan menghabisi 

Gemma kita tersayang - angin ribut yang 

memekakkan telinga, wujud binatang-

binatang yang ganas, dan sebagainya - Saya 

meninggalkan Gemma dengan bercucuran air 

mata, sebab si iblis sedang 

menghancurbinasakannya.”

Gemma tak henti-hentinya menyerukan Nama Kudus 

Yesus dan Maria, namun pertempuran masih saja 

tetap berlangsung. Tentang perjuangan akhir 

Gemma ini, Venerabilis Germanus, Bapa 

Pembimbing Rohaninya, mengatakan:

“Penderita yang malang itu melewatkan hari-

hari, minggu-minggu dan bahkan bulan-

bulannya dalam keadaan demikian, 

meninggalkan teladan bagi kita akan 

ketabahan yang luar biasa.” 

Mengalami segala macam pencobaan itu Gemma 

tidak pernah mengeluh, ia hanya berdoa. Saat 

Gemma sudah tiba. Ia hampir-hampir tampak 

seperti kerangka hidup saja, namun masih kelihatan 

cantik meskipun tubuhnya habis dikoyak 

penyakitnya. Viaticum diterimakan kepadanya. 

Dalam percakapannya yang terakhir, Gemma 

mengatakan:

“Aku tidak minta apa-apa lagi; Aku telah 

menyerahkan segala sesuatunya kepada 

Tuhan; sekarang aku siap untuk mati.” 

Napasnya terengah-engah, “Sekarang 

sungguh benar bahwa tidak ada lagi yang 

tersisa padaku, Yesus. Aku menyerahkan 

jiwaku yang malang kepada-Mu…Yesus!”

Gemma kemudian tersenyum dengan senyuman 

surgawi, kepalanya terkulai ke samping, dan 

napasnyapun terhenti.

Romo Paroki yang menemaninya di saat-saat 

akhir hidupnya mengatakan, “Ia meninggal dengan 

senyuman yang tetap menghiasi bibirnya, sehingga 

saya tidak dapat percaya bahwa ia sungguh-sungguh 

sudah meninggal.”

Salah seorang dari para biarawati yang 

berada di sana saat kematiannya menyelimuti tubuh 

Gemma dengan jubah Pasionis, jubah yang amat 

dirindukan Gemma untuk dikenakannya sebagai 

seorang biarawati.

Gemma Galgani wafat pada Hari Sabtu Suci, 

tanggal 11 April 1903 dalam usia 25 tahun. 

Pada tahun1917 Gereja mulai mempelajari 

keteladanan hidup Gemma. Pada tahun 1923 

jenasah Gemma dipindahkan ke Biara Passionis di 

Lucca hingga sekarang. Pada tanggal 14 Mei 1933 

Gemma dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dan pada 

tanggal 2 Mei 1940, hanya tiga puluh tujuh tahun 

sesudah  kematiannya, ia dikanonisasi oleh Paus yang 

sama. Pesta St. Gemma Galgani dirayakan setiap 

tanggal 16 Mei.

  CATATAN ST. GEMMA GALGANI

"Jika aku melihat pintu gerbang neraka terbuka 

dan aku berdiri di tepi jurang, aku tidak akan 

putus asa, aku tidak akan kehilangan harapan 

akan belas kasih, sebab  aku mengandalkan 

Engkau, ya Tuhan-ku" 

"Wahai jiwaku, berkatilah Yesus. Janganlah 

engkau lupa akan demikian banyak rahmat yang 

telah Ia limpahkan kepadamu. Cintailah Tuhan-

mu yang begitu mengasihimu. Angkatlah dirimu 

ke hadirat-Nya, yang telah merendahkan Diri-

Nya bagimu; nyatakanlah dirimu seperti Ia 

menyatakan Diri-Nya kepadamu; jadikan bersih 

hatimu, jadikan kudus. Cintailah Yesus-mu, yang 

telah mengangkatmu dari begitu banyak 

penderitaan. Cintailah Tuhan-mu, berkatilah 

Tuhan-mu." 

Gemma Galgani (1878-1903), perawan, hidup 

di Lucca Italia; B: Emma, Hemma; P: 11 April.

GENESIUS († 250)

yaitu  seorang magang baptis yang menjadi 

sekretaris negeri di Arles Perancis. saat  disuruh 

menulis dekrit yang isinya melawan agama Kristen, 

ia membuang alat-alat tulisnya dan melarikan diri. 

Namun ia tertangkap dan dipenggal, sehingga 

dipermandikan oleh darahnya sendiri.

A: asal mula (Y); P: 25 Agustus

SANTA GENOVEVA (422-502)

Genoveva dilahirkan sekitar tahun 422 di 

Nanterre, sebuah desa kecil, empat mil jauhnya dari 

Paris. saat  masih sangat 

muda, ia rindu untuk 

membaktikan hidupnya 

kepada Yesus. sesudah  kedua 

orangtuanya meninggal 

dunia, Genoveva tinggal 

bersama neneknya. Ia 

menghabiskan waktunya 

dengan berdoa setiap hari. Ia 

menjadi sangat akrab 

dengan Yesus dan ingin membagikan kebaikan-Nya 

kepada orang-orang lain juga. 

Genoveva yaitu  seorang gadis yang lemah lembut 

dan murah hati. Dengan caranya sendiri, ia 

melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan 

bagi sesama.

Penduduk Paris bersiap-siap hendak 

melarikan diri dari suatu balatentara ganas yang 

datang untuk menyerang mereka. Genoveva tampil. 

Ia membangkitkan semangat warga kota agar 

mengandalkan Tuhan. Ia mengatakan bahwa jika 

mereka melakukan matiraga, maka mereka akan 

dibebaskan. Orang-orang percaya dan melakukan 

apa yang dikatakannya, dan balatentara Hun yang 

ganas sekonyong-konyong berbalik kembali. Mereka 

tidak menyerang kota sama sekali.

St. Genoveva mengamalkan belas kasihan 

dan ketaatan pada kehendak Allah setiap hari 

sepanjang hidupnya, bukan hanya pada waktu 

kesesakan. Tak pernah ia menyerah dalam 

melakukan sebanyak mungkin kebajikan. Kesetiaan 

kepada Yesus dan keberanian yaitu  karunia-

karunia istimewa yang menjadi kesaksian hidup 

yang ditinggalkan Genoveva bagi kita.

Salah satu cara terbaik yang dapat kita 

lakukan bagi negara kita yaitu  berdoa bagi para 

pemimpin negara. Kita mohon pada Tuhan untuk 

membimbing mereka demi kebaikan kita semua.

St. Genoveva memberikan teladan kesetiaan 

dan keberanian dalam mengandalkan Tuhan, 

teristimewa dalam masa-masa sulit di negaranya. 

Berdoa bagi para pemimpin negara merupakan salah 

satu cara yang dapat kita lakukan bagi negara kita, 

memohon Tuhan agar membimbing mereka dalam 

membuat keputusan-keputusan yang tepat bagi 

kebaikan semua orang.

Genoveva (422-502), pelindung kota Paris; L: 

gembala dengan dua kunci; P: 3 Januari

GEORGE GERVASE OSB († 1608)

Sewaktu muda menjadi anggota pembajak 

laut pimpinan Francis Drake,  namun ia bertobat dan 

menjadi imam. Ia dihukum sebab  melayani umat di 

Inggeris. P: 11 April

SANTO GEORGIUS

Santo Georgius biasa digambarkan sedang 

membunuh seekor naga untuk menyelamatkan 

seorang wanita  cantik. 

Naga melambangkan 

kejahatan. wanita  

melambangkan kebenaran 

Allah yang kudus. St. 

Georgius membunuh sang 

naga sebab ia telah 

memenangkan pertarungan 

melawan iblis.

Tidak banyak yang 

diketahui mengenai St. 

Georgius kecuali bahwa ia 

seorang martir. Ia yaitu  

seorang prajurit dalam bala 

tentara Diocletian, seorang kaisar kafir. Diocletian 

amat benci pada umat Kristiani. Ia membunuh setiap 

orang Kristen yang dijumpainya.

Dikisahkan bahwa St. Georgius yaitu  salah 

seorang prajurit kesayangan Diocletian. saat  

Georgius menjadi seorang Kristen, ia menghadap 

kaisar dan mengecamnya sebab  tindakannya yang 

amat kejam. Kemudian, Georgius melepaskan 

jabatannya dalam dinas tentara Romawi. St. 

Georgius membayar keberaniannya itu dengan harga 

yang amat mahal. Ia disiksa dengan kejam lalu 

dipenggal kepalanya.

Begitu gagah berani dan begitu penuh 

sukacita St. Georgius menyatakan imannya hingga 

orang merasa tergugah semangatnya jika  

mendengarkan kisah hidupnya. Banyak lagu dan 

puisi ditulis untuk mengenang kemartirannya. Para 

tentara, terutama, selalu berdevosi kepadanya. St. 

Georgius diangkat sebagai santo pelindung Inggris 

pada tahun 1222. 

Georgius (abad ke-3), martir di Palestina; A: 

petani; L: seorang berkuda membunuh naga 

ganas, dalam tangannya ada  bendera 

dengan salib merah; P: 23 April

SANTO GERARDUS dari BROGNE († 3 

Oktober 959)

Gerardus dilahirkan di akhir abad kesembilan 

di Perancis. Keluarganya kaya raya, namun  Geradus 

bukanlah seorang yang sombong. Sesungguhnya, ia 

dikenal sebagai seorang yang baik hati dan 

bersahabat. Sepulang dari pergi berburu, ia dan 

kawan-kawannya kembali ke rumah dalam keadaan 

capai dan lapar. sesudah  mengundang teman-

temannya masuk untuk makan minum dan 

beristirahat, ia sendiri pergi. Gerardus pergi 

menyelinap menuju sebuah kapel kecil yang berada 

dalam wilayah tanah miliknya. Ia berdoa untuk 

jangka waktu yang lama di sana. Tubuhnya yang 

lelah pun beristirahat dan ia lupa sama sekali 

mengenai rasa laparnya.

Gagasan muncul di benak Gerardus, andai 

saja orang banyak menyadari sukacita doa, maka 

pastilah mereka akan dengan lebih suka hati berdoa. 

Kemudian pikirannya pun melayang kepada para 

biarawan yang melewatkan sepanjang hidup mereka 

menyampaikan puji-pujian kepada Tuhan. 

Bayangkan betapa mereka beroleh hak istimewa, 

pikirnya. Maka berdoalah ia memohon kesempatan 

untuk mendapatkan panggilan religius dan akhirnya 

ia dapat bergabung dalam biara St Denis.

Gerards mencintai kehidupan yang telah 

dipilihnya dan sesudah  menamatkan pendidikan ia 

ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia telah 

melewatkan sebelastahun sebagai seorang biarawan 

saat  kepadanya diberikan ijin untuk mendirikan 

suatu biara baru di tanah miliknya di Brogne. Biara 

berkembang, namun  Gerardus merasa terlalu banyak 

aktivitas dan kesenangan di sana. Sebab itu ia 

membangun bagi dirinya sendiri sebuah gubug 

pertapaan di samping gereja. Ia tinggal di sana 

dengan tenang seorang diri. 

namun , ia tidak dibiarkan tinggal dalam damai 

untuk waktu yang lama. Para superior meminta 

Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders 

dan Normandy. Para biarawan membutuhkan 

bimbingan dan pertolongan agar dapat lebih 

bertekun. Tugas ini menghantar Gerardus dalam 

banyak perjalanan selama duapuluh tahun. 

Sepanjang hidupnya Gerardus hidup dengan cara 

hidup yang ketat penuh matiraga. Ia melakukannya 

sebab ia ingin membuktikan kepada Yesus bahwa ia 

mengasihi-Nya. Ia menunjukkan kasihnya itu 

dengan suka hati mempersembahkan tindakan-

tindakan kecil penyangkalan diri. saat  tahu bahwa 

masa hidupnya di dunia akan segra berakhir, ia 

minta agar diijinkan kembali pulang ke gubug 

pertapaannya di Brogne. Ijin diberikan. Gerardus 

wafat dalam damai pada tanggal 3 Oktober 959.

P: 13 Oktober

SANTO GERARDUS MAJELLA 

(6April 1726-15 Oktober 1755)

Meski tidak secara resmi digelari demikian 

oleh Gereja, Santo Gerardus Majella secara luas 

dikenal oleh umat Katolik sebagai “pelindung para 

ibu yang sedang mengandung.” Pada masa ini, 

tampaknya Tuhan memilih teladan baik Santo 

Gerardus guna melawan abad kematian yang telah 

kehilangan kepercayaan pada penyelenggaraan 

Tuhan dan memiliki cara berpikir yang merendahkan 

kehidupan. namun , mengapa Santo Gerardus 

Majella? Bukankah aneh jika  seorang laki-laki, 

seorang broeder religius pula, dijadikan pelindung 

bagi para ibu yang sedang mengandung?

   MASA KECIL

Gerardus, bungsu dari kelima anak pasangan 

Dominic dan Benedetta Galella Majella, dilahirkan 

pada tanggal 6 April 1726, di sebuah kota kecil  

bernama Muro, beberapa 

mil jauhnya dari Naples di 

Italia selatan. 

Kesehatannya amat rapuh 

sejak lahir dan segeralah 

ia dibawa ke katedral 

untuk dibaptis.

Bahkan masa 

kecilnya telah ditandai 

dengan rahmat-rahmat 

istimewa dari Tuhan. 

saat  usianya baru lima 

tahun, Gerardus biasa 

pergi ke sebuah kapel 

kecil dekat rumahnya untuk berdoa. Seringkali ia 

pulang dari sana dengan seketul roti. jika  ibunya 

bertanya darimana ia mendapatkan roti, ia akan

mengatakan bahwa “seorang anak laki-laki yang 

amat tampan” memberikan kepadanya. Akhirnya, 

Elizabeth - saudari wanita  Gerardus - 

diperintahkan untuk mengikutinya diam-diam ke 

kapel guna mencari tahu. Saudarinya itu mengintip 

ke dalam kapel dan melihat Gerardus berlutut dalam 

doa di hadapan patung SP Maria yang menggendong 

Kanak-kanak Yesus. Lalu, Elizabeth melihat sesuatu 

yang ajaib. Kanak-kanak Yesus turun dari dekapan 

BundaNya untuk bermain-main dengan Gerardus 

kecil. sesudah  beberapa waktu berselang, Kanak-

kanak Yesus memberikan seketul roti kepada 

Gerardus dan kembali ke pelukan BundaNya! 

Dalam perayaan Misa, Gerardus juga 

seringkali melihat Kanak-kanak Yesus yang sungguh 

hadir dalam Ekaristi Kudus. Ia dapat melihat Yesus 

sesudah  konsekrasi hingga Komuni Kudus berakhir. 

Gerardus kecil yang kala itu berusia tujuh tahun 

begitu rindu menyambut Yesus dalam Komuni 

Kudus, sebab nya ia ikut dalam barisan mereka 

yang hendak menyambut Komuni. Pada masa itu, 

anak-anak tidak diperkenankan menyambut Komuni 

Kudus hingga mereka berusia 14 tahun. namun , 

Gerardus beranggapan bahwa sebab  Yesus sangat 

mengasihinya dan ia juga sangat mengasihi Yesus, 

pastilah boleh ia menyambut-Nya. Imam tahu bahwa 

Gerardus belum cukup umur untuk menyambut 

Yesus, jadi ia tidak memberinya Komuni Kudus dan 

Gerardus kecil harus kembali ke bangkunya dengan 

berlinangan airmata. Sepanjang hari itu, Gerardus 

terus menangis sebab  tidak diperbolehkan 

menyambut Yesus. saat  masuk kamar malam itu, 

ia tak dapat tidur. Sekonyong-konyong, suatu terang 

yang amat menakjubkan memenuhi kamar tidurnya 

dan Malaikat Agung Santo Mikhael menampakkan 

diri untuk memberinya Komuni Kudus!

   MASA BEKERJA

saat  Gerardus berusia duabelas tahun, 

kematian ayahnya yang tiba-tiba mengharuskannya 

meninggalkan bangku sekolah dan mulai bekerja. 

Ibunya menitipkannya untuk magang pada seorang 

penjahit agar ia dapat meneruskan usaha ayahnya. 

Majikannya ini memiliki  rasa tidak senang yang 

aneh kepada Gerardus dan seringkali menghujaninya 

dengan pukulan dan umpatan. Gerardus menerima 

aniaya ini sebagai diperkenankan oleh Allah demi 

kebaikan rohaninya. Suatu kali ia bahkan tampak 

tersenyum sementara sedang dihajar, dan saat  

orang bertanya, ia menjawab, “Aku tersenyum 

sebab aku melihat tangan Tuhan menderaku.” Upah 

yang didapatkannya dibaginya rata untuk memenuhi 

keperluan keluarga, fakir miskin dan stipendium 

Misa demi membebaskan jiwa-jiwa di api penyucian. 

sesudah  masa magangnya sebagai seorang 

penjahit, Gerardus untuk beberapa waktu lamanya 

bekerja sebagai pelayan Uskup Lacedonia yang 

sedang memulihkan kesehatannya di Muro. Lagi, ia 

melatih keutamaan kesabaran dengan diam dalam 

menghadapi temperamen majikannya yang 

pemarah. Pada masa ini terjadi salah satu dari 

mukjizat-mukjizat pertamanya. Suatu hari, tanpa 

sengaja ia menjatuhkan kunci rumah ke dalam 

sumur. Dengan kepolosan seorang kudus ia 

menurunkan sebuah patung kecil Bayi Yesus ke 

dalam sumur. Sungguh ajaib, saat  Gerardus 

mengangkat patung kembali, kunci yang hilang 

tampak tergantung di tangan patung.

   PANGGILAN RELIGIUS 

Sementara bertumbuh sebagai seorang 

pemuda, jika  orang bertanya kepadanya 

mengenai perkawinan, Gerardus akan menjawab, 

“Madonna telah memikat hatiku, dan aku telah 

memberikan hatiku sebagai persembahan baginya.” 

dibandingkan  hidup perkawinan, segera saja pemuda 

yang saleh ini terpikat pada panggilan religius. 

Namun demikian, tiga kali ia ditolak masuk ke dalam 

suatu ordo religius oleh sebab kesehatannya yang 

rapuh. Walau begitu ia tetap bertekad untuk menjadi 

seorang biarawan. Suatu misi para imam 

Redemptoris yang diadakan di Muro memberinya 

pengharapan baru. Ia mohon diperkenankan masuk 

ke dalam ordo mereka, namun  lagi-lagi ia ditolak 

sebab  mereka merasa bahwa kesehatannya tidak 

akan cocok dengan kerasnya kehidupan biara. 

namun , orang muda ini begitu gigih dan bulat 

tekadnya hingga Pater Paul Cafaro, superior para 

misionaris, menasehati ibunya untuk mengurung 

Gerardus di kamar pada malam para misionaris 

meninggalkan Muro, khawatir kalau-kalau ia 

berusaha mengikuti mereka. Ibunda Gerardus 

melaksanakan nasehat sang imam, namun  keesokan 

paginya saat ia membuka pintu kamar, ia mendapati 

tempat pembaringan yang kosong, sebuah jendela 

yang terbuka di mana tergantung selembar kertas, 

dan sebuah catatan di meja yang berbunyi, “Aku 

pergi untuk menjadi seorang Santo.”

Gerardus berhasil menyusul para misionaris 

sementara mereka meninggalkan kota. sesudah  

banyak permohonan dan penolakan, P Cafaro 

akhirnya menyerah dan mengutusnya pergi ke 

kediaman rektor Redemptoris di Iliceto dengan 

catatan rekomendasi ini, “Saya mengirim kepada 

Pater seorang broder yang tak berguna.” 

Demikianlah, akhirnya, pada tahun 1749, pada usia 

23 tahun, Gerardus diterima dalam Kongregasi 

Redemptoris yang baru dibentuk beberapa tahun 

sebelumnya oleh Santo Alfonsus Liguori. Broeder 

“yang tak berguna” ini membuktikan diri sebagai 

teladan berbagai-bagai keutamaan dan ia melakukan 

pekerjaan empat orang sekaligus! Ia akan 

mengatakan kepada rekan-rekannya, “Biar aku yang 

mengerjakannya, bukankah aku lebih muda. Engkau 

beristirahatlah.”  

Dengan gagah berani Gerardus berikrar untuk 

senantiasa memilih apa yang tampaknya paling 

sempurna, yang paling berkenan bagi Allah. Ia taat 

secara sempurna kepada kehendak superiornya, 

bahkan meski kehendak itu tidak diungkapkan dalam 

kata. Suatu hari, guna menunjukkan hal ini kepada 

seorang otoritas yang datang berkunjung, Superior 

menyuruh Gerardus pergi, sementara ia berkata 

kepada otoritas yang menuntut bukti itu, “Aku akan 

memerintahkannya secara batin untuk kembali; dan 

ia tidak akan membutuhkan lebih dari perintah ini.” 

Maka, segera saja sang Broeder kembali, mengetuk 

pintu dan bertanya, “Adakah Pater menyuruh saya 

kembali?”

Suatu kali, ia memimpin sekelompok murid 

dalam suatu perjalanan selama sembilan hari ke 

Pegunungan Gargani, di mana Malaikat Agung Santo 

Mikhael menampakkan diri. Hanya ada sedikit saja 

uang pada mereka untuk perjalanan itu, dan saat  

mereka tiba di tujuan, nyaris tak ada yang tersisa. 

Gerardus mempergunakan keping uangnya yang 

terakhir untuk membeli bunga bagi altar Tuhan. 

Sementara menempatkan bunga-bunga di altar ia 

berkata, “Tuhan, aku telah memperhatikan Engkau. 

Sekarang, Engkau yang memperhatikan murid-

muridku dan aku.” Seorang religius yang melihatnya 

di gereja mengundang orang kudus kita beserta 

seluruh rombongan untuk menumpang di rumahnya. 

Dan saat  rombongan siap untuk berangkat pulang 

kembali, Gerardus sekali lagi berdoa, dan segera 

seseorang muncul dan memberinya beberapa ketul 

roti.

Salah satu dari mukjizat Santo Gerardus yang 

paling terkenal terjadi saat  seorang tukang batu 

jatuh dari perancah pada waktu pembangunan 

sebuah bangunan. Apa daya? Gerardus telah 

dilarang oleh superiornya untuk tidak lagi 

mengadakan mukjizat tanpa ijin. Maka, broeder 

yang kudus ini menghentikan sang tukang batu di 

angkasa, memintanya untuk menunggu hingga ia 

mendapatkan ijin untuk menyelamatkannya! Dan ia 

memang mendapatkan ijin, sehingga tukang batu itu 

dapat jatuh dan mendarat dengan lembut di atas 

tanah.

Para biarawan menganggap Gerardus sebagai 

rekan yang tak ternilai sebab ia berhasil dengan 

begitu gemilang dalam menghantar orang-orang 

berdosa untuk menyambut sakramen-sakramen dan 

mengilhami banyak orang untuk memperbaiki 

Sakramen Tobat mereka yang buruk. Orang banyak 

mengikutinya di mana-mana, dan telah 

menyebutnya “il santo” - sang Santo.

   PENCOBAAN BERAT 

Kekudusan sejati harus senantiasa diuji 

dengan salib, dan pada tahun 1754 Gerardus harus 

mengalami suatu pencobaan besar, yang 

memperolehkan baginya ganjaran berupa kuasa 

istimewa untuk menolong para ibu dan anak-anak. 

Salah satu dari semangat Gerardus yang bernyala-

nyala yaitu  mendorong serta membantu para gadis 

yang ingin masuk biara. Seringkali ia juga bahkan 

menyediakan mas kawin yang diperlukan bagi gadis-

gadis-gadis miskin yang tidak dapat diterima dalam 

suatu ordo religius.

Neria Caggiano yaitu  salah seorang dari 

para gadis yang mendapatkan bantuan Gerardus. 

Namun demikian, ia mendapati bahwa kehidupan 

biara ternyata tak menyenangkan baginya dan 

dalam waktu tiga minggu ia telah pulang kembali ke 

rumah. Guna membenarkan tindakannya, Neria 

mulai menyebarkan gosip-gosip bohong mengenai 

kehidupan para biarawati, dan saat  orang-orang di 

Muro menolak untuk percaya pada cerita-cerita 

demikian mengenai suatu biara yang 

direkomendasikan oleh Gerardus, maka Neria 

bertekad untuk menyelamatkan reputasinya dengan 

menghancurkan nama baik orang yang telah 

menolongnya. Dalam sepucuk surat kepada Santo 

Alfonsus, ia menuduh Gerardus melakukan dosa 

melanggar kemurnian terhadap seorang gadis muda 

dari sebuah keluarga di mana Gerardus sering 

menumpang dalam perjalanan-perjalanan misinya.

Gerardus dipanggil menghadap oleh Santo 

Alfonsus untuk menjawab dakwaan terhadapnya. 

Bukannya membela diri, Gerardus malahan tinggal 

diam, seturut teladan Guru Illahi-nya. Menanggapi 

permohonan dari teman-temannya untuk membela 

diri, Gerardus menjawab, “Tuhan akan 

mengurusnya.” Dengan kebisuannya itu, Santo 

Alfonsus tak dapat berbuat suatupun selain dari 

menjatuhkan hukuman berat atas diri pemuda ini. 

Gerardus dilarang menyambut Komuni Kudus, dan 

dilarang melakukan segala kontak dengan orang 

luar.

Tidaklah mudah bagi Broeder Gerardus untuk 

melepaskan karyanya demi menyelamatkan jiwa-

jiwa, namun hal ini sungguh tak berarti 

dibandingkan hukuman dijauhkan dari Komuni 

Kudus. Ia merasa hukuman ini sungguh dahsyat 

baginya hingga ia bahkan mohon dibebaskan juga 

dari melayani Misa, sebab khawatir kalau-kalau 

kerinduannya yang berkobar-kobar untuk 

menyambut komuni akan membuatnya merampas 

Hosti yang telah dikonsekrasikan dari tangan imam 

di altar.

Beberapa waktu lamanya berselang hingga 

Neria sakit parah dan ia menulis sepucuk surat 

kepada Santo Alfonsus mengakui bahwa 

dakwaannya terhadap Gerardus yaitu  dusta dan 

fitnah belaka. Santo Alfonsus dipenuhi sukacita demi 

mendengar kabar ketakbersalahan puteranya. namun  

Gerardus, yang tak bermuram durja dalam masa 

pencobaannya, juga tidak terlalu bergembira atas 

pemulihan nama baiknya ini. Dalam kedua perkara 

ini ia merasa bahwa kehendak Tuhan telah digenapi, 

dan bahwa itu sudah cukup baginya.

   PEKERJA AJAIB

Santo Gerardus Majella dikenal sebagai 

Thaumaturge, yaitu seorang kudus yang 

mengadakan mukjizat-mukjizat, tidak saja sekali-

sekali, melainkan kerapkali. Sedikit saja orang kudus 

yang memiliki  begitu banyak catatan mengenai 

perkara-perkara ajaib seperti Gerardus. Proses 

beatifikasi dan kanonisasi mengungkapkan bahwa 

mukjizat-mukjizat yang diadakannya begitu banyak 

dan bermacam ragamnya. Kerapkali ia masuk dalam 

ekstasi sementara bermeditasi mengenai Tuhan atau 

kehendak-Nya yang kudus, dan di saat-saat 

demikian, tubuhnya tampak terangkat beberapa kaki 

di atas permukaan tanah. 

Sebagian besar mukjizat diadakannya demi 

melayani orang-orang lain. Kejadian-kejadian luar 

biasa seperti disebutkan di bawah ini akan tampak 

sebagai suatu hal yang biasa sementara orang 

membaca riwayat hidupnya. Ia menghidupkan 

kembali seorang anak laki-laki yang terjatuh dari 

sebuah karang yang terjal; ia memberkati 

perbekalan gandum yang tinggal sedikit milik sebuah 

keluarga miskin dan perbekalan itu tidak habis-

habisnya hingga panen berikutnya; beberapa kali ia 

menggandakan roti yang ia bagi-bagikan kepada 

orang-orang miskin. Suatu hari ia berjalan di atas air 

demi menghantar ke tempat pelabuhan yang aman 

sebuah kapal penuh para nelayan yang terancam 

nyawanya oleh gelombang sakal. Gerardus 

dianugerahi kemampuan untuk “membaca jiwa”. 

Kerapkali ia menyingkapkan secara pribadi kepada 

orang dosa-dosa rahasia dalam jiwa mereka yang 

malu mereka akukan, dan kemudian menghantar 

mereka ke penitensi dan pengampunan. 

saat  terjadi serangan wabah penyakit, 

Gerardus terlihat di lebih dari satu rumah pada saat 

yang bersamaan demi menolong mereka yang sakit. 

Tak selembar pun dari riwayat hidupnya yang tak 

ditandai dengan keajaiban, semuanya demi 

kemuliaan Tuhan dan digerakkan oleh kasih yang 

tulus kepada sesama. Sepanjang hidupnya, Santo 

Gerardus menghabiskan berjam-jam lamanya setiap 

hari dalam sembah sujud di hadapan Sakramen 

Mahakudus demi memuliakan Tuhan dan mengucap 

syukur atas segala rahmat dan berkat-Nya. Ibunda 

Gerardus, Benedetta, mengatakan bahwa puteranya 

“terlahir bagi surga,” dan mengisahkan bagaimana 

Gerardus melewatkan berjam-jam lamanya di 

hadapan Sakramen Mahakudus “hingga ia lupa 

bahwa saat makan malam telah tiba.”

   WAFATNYA

Senantiasa rapuh kesehatannya, merupakan 

pertanda bahwa Geardus tidak akan hidup lama. 

Pada tahun 1755, ia terserang pendarahan hebat 

dan disentri, maut dapat sewaktu-waktu merenggut 

nyawanya. namun , ia masih hendak mengajarkan 

suatu pelajaran berharga mengenai kuasa ketaatan. 

Direkturnya memerintahkan Gerardus untuk segera 

sembuh, jika memang sesuai kehendak Tuhan; 

maka, sekonyong-konyong penyakitnya tampak 

lenyap dan ia segera meninggalkan pembaringannya 

untuk menggabungkan diri dengan komunitas. 

Namun demikian, ia tahu bahwa kesembuhannya 

hanyalah untuk sementara waktu saja dan bahwa 

jangka hidupnya hanya tinggal sebulan saja.

Tak lama berselang ia memang kembali ke 

pembaringannya sebab  tuberculosis, dan ia mulai 

mempersiapkan diri menyongsong kematiannya. 

Sepenuhnya ia berserah diri pada kehendak Tuhan 

dan ia menempatkan tanda ini pada pintu kamarnya, 

“Kehendak Tuhan dilaksanakan di sini, seperti yang 

Tuhan kehendaki dan selama Ia menghendakinya.” 

Seringkali orang mendengarnya mendaraskan doa 

berikut, “Ya Tuhan-ku, aku rindu untuk mati demi 

melakukan kehendak-Mu yang terkudus.” Antara 

tengah malam pada tanggal 15 Oktober 1755, dini 

hari dari hari berikutnya, jiwanya yang tak berdosa 

pulang kembali kepada Tuhan. Usianya baru 29 

tahun.

Saat kematian Gerardus, broeder yang 

bertugas di sakristi, dalam kegugupannya, 

membunyikan lonceng seolah hendak dirayakan 

suatu pesta, dan bukan membunyikannya sebagai 

tanda kematian. Beribu-ribu orang datang untuk 

menyaksikan tubuh “Santo” mereka dan berusaha 

mendapatkan kenang-kenangan terakhir dari dia 

yang telah begitu banyak kali menolong mereka. 

sesudah  wafatnya, mulailah dilaporkan terjadinya 

berbagai mukjizat dari hampir segenap penjuru Italia 

dengan perantaraan St Gerardus. Pada tanggal 29 

Januari 1893, Paus Leo XIII memaklumkannya 

sebagai Beato, dan pada tanggal 11 Desember 

1904, Paus Pius X memaklumkannya sebagai 

“Santo”. Pesta St Gerardus Majella dirayakan pada 

tanggal 16 Oktober.

   SAPUTANGAN SANG SANTO

Perantaraan ajaib St Gerardus bagi para ibu 

dimulai sejak dari masa hidupnya. Suatu saat , 

sementara ia meninggalkan rumah sahabatnya, 

keluarga Pirofalo, saputangannya terjatuh di kursi. 

Salah seorang anak wanita  dari keluarga 

Pirofalo memungutnya dan menyerahkannya kembali 

kepada Gerardus. namun , dalam suatu nubuat 

penglihatan Gerardus mengatakan, “Simpanlah. 

Saputangan itu akan berguna bagimu suatu hari 

kelak.” Sang gadis menyimpan saputangan itu 

sebagai kenang-kenangan berharga dari Gerardus. 

Beberapa tahun kemudian, wanita  itu yang kini 

telah menikah, berada dalam bahaya maut saat 

hendak melahirkan bayi pertamanya. Dalam 

keadaan sakit beranak, ia teringat akan saputangan 

misterius dan janji Gerardus; ia meminta agar 

saputangan segera dibawa kepadanya. Kemudian, 

diusapkannya saputangan ke kandungannya dan 

sesaat  itu juga bahaya berlalu dan ia melahirkan 

seorang bayi yang normal dan sehat. 

Saputangan ajaib diwariskan dari satu ibu ke 

ibu yang lain sementara mereka hendak besalin di 

kota Olive hingga Citra. Ibu yang pertama 

mewariskan reliqui yang berharga kepada 

kemenakannya dan dari sana turun-temurun ke 

generasi berikutnya. Beberapa keluarga mengambil 

sepotong kecil dari saputangan itu hingga hanya 

secarik kecil saja yang tersisa saat  Gerardus 

dikanonisasi. Walau demikian, secarik itupun 

sudahlah cukup untuk meneruskan rahmat-rahmat 

istimewa kepada saputangan-saputangan lain yang 

disentuhkan padanya. 

Sekarang, saputangan-saputangan serupa 

saputangan St Gerardus, yang telah disentuhkan 

pada reliquinya, dapat diperoleh para peziarah yang 

mengunjungi tempat ziarah internasional St Gerard 

Majella di Materdomini, Italia. Saputangan St 

Gerardus Majella telah menjadi suatu simbol populer 

aklamasi Gerardus sebagai pelindung para ibu dan 

anak-anak, bayi-bayi yang belum dilahirkan dan 

gerakan pencinta kehidupan.

Pada masa di mana keberadaan keluarga dan 

kesakralan hidup manusia menghadapi ancaman dari 

aborsi, kontrasepsi, dan berbagai teknik biomedis, 

dan dengan berkembangnya “budaya kematian,” 

santo kecil dengan saputangannya mungkin yaitu  

yang kita butuhkan bagi para ibu yang sedang 

mengandung, keluarga-keluarga dan seluruh dunia.

Gerardus Majella (1726-1755), bruder dan 

tukang jahit; Santo Pelindung Para  Ib