panggilan yang terus-
menerus datang bagaikan
sebuah gema. Tampaknya
seperti suatu undangan dari
Tuhan baginya untuk menjadi
seorang imam. Pada akhirnya,
Fransiskus berusaha
menceritakan perjuangan
batinnya itu kepada keluarga.
Ayahnya amatlah kecewa. Ia
ingin agar Fransiskus menjadi
seorang yang tersohor di
seluruh dunia. Dengan pengaruh kuat keluarga
pastilah impian itu akan tercapai. namun , Fransiskus
bersikeras dan ditahbiskan imam pada tanggal 18
Desember 1593.
Pater Fransiskus de Sales hidup pada saat
umat Kristiani dilanda perpecahan. Ia menawarkan
diri untuk pergi ke daerah yang berbahaya di
Perancis untuk membawa kembali orang-orang
Katolik yang telah menjadi Protestan. Ayahnya
menentang dengan keras. Ayahnya mengatakan
bahwa sudah merupakan suatu hal yang buruk
baginya mengijinkan Fransiskus menjadi seorang
imam. Ia tidak akan mengijinkan Fransiskus pergi
dan wafat sebagai martir pula. namun , Fransiskus
percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Maka ia
dan sepupunya, Pater Louis de Sales, dengan
berjalan kaki menempuh perjalanan ke daerah
Chablais. Segera saja kedua imam ini
merasakan bagaimana menderitanya hidup penuh
hinaan serta aniaya fisik. Hidup mereka berdua
senantiasa ada dalam bahaya. Namun demikian,
sedikit demi sedikit, umat kembali ke pelukan
Gereja.
Santo Fransiskus kemudian diangkat menjadi
Uskup Geneva, Swiss. Bersama Santa Yohana
Fransiska de Chantal, pada tahun 1610 ia
membentuk suatu ordo religius bagi para biarawati
yang diberi nama Serikat Visitasi. Fransiskus menulis
artikel -artikel yang mengagumkan mengenai kehidupan
rohani dan cara untuk menjadi kudus. artikel -
artikel nya, Tulisan tentang Kasih Allah dan Pengantar
kepada Kehidupan Saleh, masih dicetak hingga
sekarang. artikel -artikel ini digolongkan sebagai
artikel -artikel rohani “klasik”. Uskup de Sales wafat
pada tanggal 28 Desember 1622 dalam usia
limapuluh enam tahun. Ia dinyatakan kudus oleh
Paus Inosensius X pada tahun 1665. Oleh sebab
pengabdiannya yang gagah berani bagi Gereja, ia
diberi gelar istimewa “Pujangga Gereja”. St.
Fransiskus dijadikan pelindung para wartawan.
Fransiskus de Sales (1567-1622), uskup dan
penulis artikel -artikel rohani. Paus Pius XI
mengangkatnya menjadi pelindung para
wartawan; P: 24 Januari
“Sama seperti kasih ilahi mempercantik jiwa, hal itu
disebut rahmat, yang menjadikan kita menyenangkan bagi
Allah yang Mahamulia. Demikanlah rahmat ini
memperkuat kita untuk melakukan kebajikan, hal itu
disebut belas kasih.” ~ Santo Fransiskus dari Sales
FRANSISKUS de GIROLAMO SJ (1642-
1716)
Selama hidup berkarya di sekitar Napoli Italia
sebagai pengkotbah. Ia mentobatkan banyak
pendosa besar, rajin mengunjungi penjara dan
mencari orang-orang di tempat pelacuran maupun di
gang-gang gelap. Pernah Fransiskus mentobatkan
seorang wanita yang membunuh ayahnya dan
kemudian melarikan diri ke luar negeri dan menjadi
tentara.
P: 2 Juli
FRANSISKUS de SANTA MARIA OFM (1587)
Dibunuh oleh orang Brunei yang beragama
Islam di Mohala (Kalimantan)
(Salah satu dari Orang-orang Kudus di
Indonesia)
FRANSISKUS REGIS CLET (1748-1820)
yaitu seorang imam Lazaris yang bekerja
keras selama 30 tahun sebagai misionaris di
Tiongkok. sesudah ditahan selama 8 tahun ia mati
dicekik.
P: 17 Februari
FRANSISKUS SOLANUS OFM (1549-1610)
Dikenal sebagai rasul orang Indian di
Argentina dan Peru. Ia mengerjakan banyak mujizat
dan beriman teguh; dalam derita pun ia senantiasa
bersukaria. saat berkotbah melawan korupsi di
Lima, seluruh penduduk kota panic dan takut akan
akibat perbuatan busuk mereka. Uskup terpaksa
turun tangan menenteramkan mereka.
P: 14 Juli
SANTO FRANSISKUS XAVERIUS (1506-
1552)
Misionaris besar ini dilahirkan di Kastil
Xaverius, Spanyol pada tahun 1506. Ia belajar di
Universitas Paris saat umurnya
delapanbelas tahun. Di sanalah
ia bertemu dengan Santo
Ignatius Loyola, yang pada
waktu itu akan membentuk
Serikat Yesus. Santo Ignatius
berusaha mengajak Fransiskus
untuk bergabung. Pada
mulanya, pemuda yang suka
bersenang-senang ini tidak
pernah memikirkannya.
Kemudian, Santo Ignatius
mengulangi kata-kata Yesus
dalam Kitab Suci kepadanya:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia
namun kehilangan nyawanya?” Akhirnya, Fransiskus
memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya
yaitu bersama dengan para Yesuit.
saat Fransiskus berusia tigapuluh empat
tahun, Santo Ignatius mengutusnya sebagai
misionaris ke Hindia Belanda. Raja Portugal hendak
memberinya hadiah-hadiah dan juga seorang
pelayan untuk menyertainya. namun , Fransiskus
dengan halus menolak pemberian raja dengan
mengatakan: “Cara terbaik bagi seseorang untuk
mendapatkan martabat sejati yaitu dengan
mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.”
Sepanjang karyanya yang gemilang di Goa, India,
Indonesia, Jepang serta pulau-pulau lain di timur,
Santo Fransiskus mempertobatkan banyak orang.
Sesungguhnya, ia membaptis begitu banyak orang
hingga ia menjadi terlalu lemah bahkan untuk
mengangkat tangannya sendiri. Ia mengumpulkan
anak-anak kecil di sekitarnya serta mengajarkan
iman Katolik kepada mereka.
Kemudian ia menjadikan mereka misionaris-
misionaris kecil. Ia mengajak mereka untuk
menyebarluaskan iman yang telah mereka peroleh.
Tidak ada yang tidak dilakukan St. Fransiskus untuk
membantu sesama. Suatu saat , ia berhadapan
dengan segerombolan perompak yang garang, ia
sendirian dan tanpa senjata kecuali salibnya.
Gerombolan perompak itu mundur kembali dan tidak
jadi menyerang penduduk Kristennya. St. Fransiskus
juga membawa kembali orang-orang Kristen yang
hidup tidak baik untuk bertobat. Satu-satunya
“alat”-nya yaitu kelemahlembutan, keramahan
serta doa-doanya.
Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya
yang melelahkan, Santo Fransiskus senantiasa
dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia
mendambakan untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah
di mana tak seorang asing pun diijinkan masuk.
Akhirnya, persiapan-persiapan dilakukan, namun
misionaris besar kita jatuh sakit. Ia wafat, hampir-
hampir tanpa ditemani siapa pun, pada tahun 1552
di sebuah pulau di pesisir Cina. Usianya baru
empatpuluh enam tahun. Fransiskus Xaverius
dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada
tahun 1622. Ia dikanonisasi bersama para kudus
yang hebat lainnya dalam suatu upacara kanonisasi
di Roma. Ignatius dari Loyola, Theresia dari Avila,
Filipus Neri dan Isidorus si Petani, dikanonisasi pada
hari yang sama.
Fransiskus Xaverius (1506-1552), lahir di
Kastil Xaverius Navarra Spanyol dan meninggal
di Sancian Tiongkok. Ia dinyatakan sebagai
Pelindung Gereja di Tanah Misi; termasuk salah
satu Orang-orang Kudus di Indonesia; L:
seorang imam yang berkotbah berapi-api
dengan membawa salib; P: 3 Desember.
FRANZESKA (1384-1440)
Ibu dari enam anak ini kerapkali membantu
orang miskin, korban perang dan wabah pes di
Roma. sesudah suaminya meninggal, ia mendirikan
semacam ‘biara’ bersama teman-temannya untuk
meningkatkan perbuatan amal. Franzeska sering
berdoa sampai jauh malam dan mengalami banyak
penglihatan serta rahmat khusus dalam doa.
P: 9 Maret
FRANSISKUS PACHECO
Ia bersama 32 Jesuit lain mati sebagai saksi
iman di Jepang, sebagian besar di Nagasaki antara
tahun 1617 – 1632.
P: 4 Februari
BEATO FREDERIK JANSSOONE (1838-4
Agustus 1916)
Beato Frederik Janssoone dilahirkan di
Flanders pada tahun 1838. Ada banyak perubahan
menarik dalam hidupnya, yang bukanlah cara hidup
biasa abad kesembilanbelas. Frederik dilahirkan
dalam sebuah keluarga petani yang kaya, sebagai
yang bungsu dari tigabelas saudara. Ia baru berusia
sembilan tahun saat ayahnya meninggal dunia,
sebab itu ia harus meninggalkan bangku sekolah
untuk membantu ibunya. Segera saja ia menyadari
bahwa ia memiliki “keahlian” dalam berjualan. Ia
suka bertemu dengan kenalan-kenalan baru dan ia
tahu bagaimana menjelaskan produknya.
Ibu Frederik meninggal dunia pada tahun
1861. Itulah saat saat pemuda berusia duapuluh
tiga tahun ini sampai pada ketetapan hatinya dalam
mencari panggilan hidupnya. Ia sadar bahwa ia
merasakan suatu kerinduan yang kuat untuk
menggabungkan diri dalam Ordo Fransiskan. sesudah
masa belajarnya di seminari usai, Frederik
ditahbiskan sebagai seorang imam Fransiskan. Ia
menjadi pastor bagi pasukan militer untuk beberapa
waktu lamanya.
Kemudian pada
tahun 1876, ia diutus
ke Tanah Suci. Pater
Frederik mewartakan
Injil di tempat-tempat
yang dikuduskan oleh
Yesus Sendiri. Ia
mempergunakan bakat
dan talentanya untuk
membantu berbagai
kelompok Kristiani agar
saling bekerjasama
dalam merawat dua
gereja kudus. Ia
mendirikan sebuah gereja di Betlehem. Beato
Frederik juga dikenang sebab menghidupkan
kembali kebiasaan kuno melakukan ziarah Jalan
Salib menyusuri jalanan Yerusalem.
Pelayanan Pater Frederik di Kanada dimulai
saat ia ditugaskan ke sana pada tahun 1881. Ia
diutus dalam suatu perjalanan untuk mengumpulkan
dana. Bakatnya yang bermacam-macam amat
berguna dalam pelayanannya. Semangat sukacita
dalam memberikan dirinya segera menjadikannya
dicintai orang banyak. Khotbah dan ceramahnya
penuh dengan fakta-fakta menarik mengenai Tanah
Suci. Ia melihat ke dalam wajah dan hati umat dan
berdoa agar mereka bertumbuh dalam kekayaan
rahmat Tuhan. Pada tahun 1888, ia kembali ke
Kanada untuk menetap dan menghabiskan sisa
hidupnya di sana.
Pater Frederik Janssoone yaitu seorang
pribadi yang menarik dan seorang penulis yang
piawai. Ia menulis beberapa artikel dan riwayat
hidup para kudus. Tulisan-tulisan itu mengingatkan
orang akan antusiasme yang memenuhi jiwanya
sendiri. Karya-karyanya merefleksikan sukacita
Yesus yang dengan sangat sukahati ia bagikan
kepada yang lain. Pater Frederik wafat pada tanggal
4 Agustus 1916. Ia dimaklumkan sebagai “beato”
pada tahun 1988 oleh Paus Yohanes Paulus II.
SANTO FREDERIKUS († 18 Juli 838)
Frederikus hidup pada abad kesembilan di
Utrecht, di bagian tengah Belanda. sesudah
ditahbiskan menjadi imam, Uskup Ricfried
menyerahinya tanggung jawab atas biara-biara.
Sekitar tahun 825, ia dipilih untuk menggantikan
Ricfried sebagai Uskup Utrecht. Uskup Frederikus
menaruh perhatian besar pada umat dalam
keuskupannya. Ia juga memberikan prioritas utama
pada karya misi. Ia mengutus St. Odulf dan imam-
imam lainnya yang gagah berani ke daerah-daerah
di mana penduduknya masih kafir. Ia menghendaki
mereka mendengar warta Kabar Gembira.
sebab kedudukannya sebagai uskup,
Frederikus mendapatkan musuh-musuh juga.
Putera-putera raja sangat menentang cara hidup
amoral ibu angkat mereka. Mereka meminta Uskup
Frederikus untuk berbicara kepada Ratu Yudit. Uskup
mendekatinya dengan lembut namun tegas. Ratu
tidak senang dinasehati. Ia malahan marah dan
merasa terhina. Tantangan yang lain yaitu orang-
orang yang tinggal di bagian utara keuskupan
Frederikus yang disebut kaum Walcheren. St
Frederikus mengutus imam-iman untuk menghantar
orang-orang di sana pada iman akan Yesus.
Frederikus tahu daerah itu berbahaya dan tidak
bersahabat. Ia terus memantau imam-imam yang ia
utus. Ia menyemangati mereka dan berusaha
membantu agar warga menerima kekristenan.
Meski begitu, mereka tidak siap untuk
mendengarkan dengan cara apapun. Mereka
membalas perhatian uskup kepada mereka dengan
kedengkian.
St Frederikus terus menggembalakan
keuskupannya dengan giat dalam kasih. Pada
tanggal 18 Juli 838 terjadilah suatu tragedi. Uskup
baru saja merayakan Misa. Dengan khusuk ia
mengucap syukur saat dua orang menikamnya
dengan pisau. Sebuah ayat dari Mazmur 116
terlintas di benaknya. Perlahan-lahan, uskup yang di
ambang ajal itu berdoa, “Aku boleh berjalan di
hadapan TUHAN di negeri orang-orang hidup.”
Beberapa menit kemudian ia pun wafat. Sebagian
orang mengatakan Ratu Yuditlah yang mengutus
pembunuh-pembunuh bayaran sebab murkanya
kepada uskup. Sebagian orang beranggapan bahwa
pihak yang bertanggung jawab yaitu orang-orang
Walcheren. Para pembunuh tidak pernah tertangkap
dan dihukum. Uskup Frederikus dihormati sebagai
seorang martir dan santo.
B: Friederich, Fritz; P: 18 Juli
FRIDA atau ELFRIDA († 714)
saat berumur satu tahun ia dibawa oleh
ayahnya Raja Oswin (Inggeris) ke suatu biara,
sebagai tanda terimakasihnya atas kemenangannya
dalam medan perang. Frida begitu pandai dan saleh,
sehingga dipilih menjadi abbas. Ia suka berdoa
berjam-jam, rendah hati dan menolong orang
miskin. ♀
P: 8 Februari
FRIDOLIN († 540)
yaitu biarawan dan misionaris Irlandia yang
berkarya di Perancis, Jerman Selatan dan Swiss.♂
P: 6 Maret
FRUKTUOSUS († 259)
yaitu uskup Tarragona Spanyol yang
dibakar hidup-hidup bersama diakon Augurius dan
Eulogius.
A: subur (L); P: 21 Januari
FULGENTIUS (467-532)
Ingin tetap hidup sebagai rahib, namun
terpaksa menerima jabatan uskup Ruspe Turki yang
dipercayakan kepadanya. Ilmuwan ini diasingkan
selama lima tahun, sebab terlalu banyak
mentobatkan penganut bidaah Arianisme. Ia menulis
banyak artikel keagamaan yang sampai ratusan tahun
tetap dipelajari.
A: berkilat, bersinar (L); P: 3 Januari
G
SANTO GABRIEL, SANTO MICHAEL dan
SANTO RAFAEL, MALAIKAT AGUNG
Mikhael, Gabriel dan Rafael disebut
“santo” sebab mereka kudus. Namun demikian,
mereka berbeda dari para kudus lainnya sebab
mereka bukanlah manusia. Mereka yaitu malaikat,
mereka melindungi manusia. Kita dapat mengetahui
sedikit tentang masing-masing dari mereka dari
Kitab Suci.
Nama Mikhael artinya “Siapa dapat
menyamai Tuhan?” Tiga kitab
dalam Kitab Suci bercerita tentang
St. Mikhael, yaitu: Daniel, Wahyu
dan Surat Yudas. Dalam Kitab
Wahyu bab
12:7-9, kita
membaca
tentang
suatu
pertempuran
besar yang
terjadi di
surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang
melawan Satan. Mikhael menjadi pemenang sebab
setia kepada Tuhan. Kita dapat mohon bantuan St.
Mikhael untuk menjadikan kita teguh dalam kasih
kepada Yesus dan dalam mempraktekan iman
Katolik kita.
Nama Gabriel berarti “Tuhan
kemenanganku”. Ia juga disebutkan dalam kitab
Daniel. Gabriel kita kenal dengan baik sebab ia
termasuk salah satu tokoh penting dalam Injil Lukas.
Malaikat Agung ini menyampaikan kepada Maria
bahwa ia akan menjadi Bunda Juruselamat kita.
Gabriel menyampaikan kepada Zakharia bahwa ia
dan Elisabet akan dikarunia seorang putera yang
akan dinamai Yohanes. Gabriel yaitu pembawa
warta, utusan Tuhan untuk menyampaikan Kabar
Sukacita. Kita dapat mohon bantuan St. Gabriel
untuk menjadikan kita pembawa warta, seorang
utusan Tuhan seperti dirinya.
Nama Rafael artinya
“Tuhan menyembuhkan”.
Kita membaca kisah yang
menyentuh tentang tugas
Rafael dalam kitab Tobit
dalam Kitab Suci. Ia
memberikan perlindungan
serta penyembuhan bagi
mata Tobit yang buta. Pada
akhir perjalanan, saat
segala sesuatunya telah
berakhir, Rafael menyatakan
jati dirinya yang sebenarnya. Ia menyebut dirinya
sebagai salah satu dari ketujuh malaikat yang
melayani di hadapan tahta Allah. Kita dapat mohon
bantuan St Rafael untuk melindungi kita dalam
perjalanan, bahkan dalam perjalanan yang amat
dekat sekali pun, seperti misalnya pergi ke sekolah.
Kita juga dapat mohon pertolongannya saat kita
atau seseorang yang kita kasihi diserang penyakit.
GABRA MIKAEL (1788-1855)
Biarawan Kopt di Etiopia ini berbalik menjadi
imam Katolik. Ia menyusun artikel tatabahasa serta
kamus bahasa Etiopia. Selain itu ia menyusun
sebuah katekismus dan mendirikan seminari untuk
membina calon-calon imam pribumi. Atas perintah
Abuna Kopt (=uskup), ia disiksa dan dibunuh.
P: 30 Agustus
SANTO GABRIEL dari BUNDA DUKACITA
(1838-27 Februari 1862)
Santo yang menarik ini dilahirkan di Asisi,
Italia pada tahun 1838. Ia diberi nama Fransiskus
pada saat dibaptis untuk
menghormati St. Fransiskus
dari Asisi. Ibunya
meninggal dunia saat
Fransiskus baru berusia
empat tahun. Ayahnya
mendatangkan seorang
pendidik untuk
mengasuhnya dan saudara-
saudaranya. Fransiskus
tumbuh menjadi seorang
pemuda yang amat tampan
sekaligus menyenangkan.
Seringkali ia menjadi orang
yang paling menarik perhatian dalam suatu pesta.
Fransiskus senang berpesta-pora, namun ia
memiliki sisi lain juga. Bahkan pada saat sedang
bersenang-senang, ia kadang-kadang merasa bosan.
Ia tidak dapat menjelaskan mengapa. Tampaknya, ia
merasakan dalam hatinya ada suatu dorongan kuat
kepada Tuhan dan kepada kehidupan rohani yang
lebih mendalam.
Dua kali Fransiskus sakit parah hingga
hampir kehilangan nyawanya. Setiap kali ia berjanji
kepada Bunda Maria bahwa jika Bunda Maria mau
mengusahakan kesembuhannya, ia akan menjadi
seorang yang religius. Sungguh, dua kali itu ia
sembuh dari penyakitnya, namun Fransiskus tidak
menepati janjinya.
Suatu hari, Fransiskus melihat lukisan Bunda
Dukacita sedang diarak dalam suatu prosesi.
Tampak olehnya, Bunda Maria menatap langsung
kepadanya. Pada saat yang sama, ia mendengar
suatu suara dalam hatinya yang mengatakan,
“Fransiskus, dunia ini bukan lagi untukmu.” Dan
begitulah. Fransiskus masuk biara Passionis. Usianya
delapanbelas tahun. Nama yang dipilihnya yaitu
Gabriel dari Bunda Dukacita.
Cinta Grabriel yang terdalam ditujukan
kepada Ekaristi Kudus dan Maria, Bunda Dukacita. Ia
suka menghabiskan waktu dengan merenungkan
sengsara Yesus dan betapa Yesus telah banyak
menderita untukya. Grabriel juga melatih diri dalam
dua keutamaan dengan cara yang istimewa, yaitu
kerendahan hati dan ketaatan. Yang menjadi ciri
khasnya yaitu sukacita. Ia selalu bergembira dan
menyebarkan kegembiraan itu kepada mereka yang
ada di sekitarnya. Hanya sesudah empat tahun
tinggal dalam biara Passionis, Gabriel wafat pada
tanggal 27 Februari 1862. Ia dinyatakan kudus pada
tahun 1920 oleh Paus Benediktus XV.
GALLUS (550-640)
Misionaris berkebangsaan Irlandia ini
bersama Santo Kolumban bekerja di Swiss dan
mendirikan pertapaan. Ia menolak menjadi abbas
maupun uskup.
A: ayam jago (L); P: 16 Oktober
GAUDENTIUS († 410)
Uskup Brescia ini ditugaskan oleh paus
susaha menghadap kaisar di Konstantinopel guna
membebaskan Santo Krisostomos. namun usahanya
gagal, malahan ia diperlakukan dengan kasar.
A: yang bergembira (L); P: 25 Oktober
SANTA GEMMA GALGANI (12 Maret 1878-
11 April 1903)
MASA KECILNYA
Gemma Galgani dilahirkan pada tanggal 12
Maret 1878 di Camigliano, sebuah desa dekat kota
Lucca, Italia. Gemma
yaitu kata Italia yang
berarti 'Mutiara'. Ayahnya
seorang ahli kimia yang
berhasil. Salah seorang
leluhurnya yaitu Beato
Yohanes Leonardi. Ibu
Gemma juga berasal dari
keluarga bangsawan.
Keluarga Galgani yaitu
keluarga Katolik yang saleh
yang dikaruniai delapan
putera-puteri.
Gemma yaitu anak
keempat, puteri pertama dalam keluarga. Ia seorang
gadis kecil yang pandai, ramah, periang serta
menyenangkan. Sejak masa kecilnya, Gemma amat
suka sekali berdoa. Ia memiliki kebijaksanaan dan
semangat doa yang tidak biasa dijumpai pada anak
kecil seusianya. Hal itu disebab kan ibunya yang
saleh mengajarkan kepada Gemma kebenaran-
kebenaran Iman Katolik. Signora (=Nyonya) Galgani
secara istimewa menanamkan dalam jiwa puteri
kecilnya itu, cinta kepada Kristus Tersalib.
Jika ibunya sibuk dengan pekerjaannya
sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, si kecil
Gemma akan menarik-narik gaun ibunya dan
merengek, “Mama, ayo ceritakan lagi tentang
Yesus.”
Sayang sekali ibu Gemma meninggal saat Gemma
baru berusia tujuh tahun. Pada hari Gemma
menerima Sakramen Penguatan, saat sedang
berdoa dengan khusuk dalam Misa bagi kesembuhan
ibunya yang sakit parah, Gemma dengan jelas
mendengar suara dalam hatinya yang berkata,
“Apakah kamu mau memberikan mama-mu
kepada-Ku?”
“Ya,” jawab Gemma, “namun bawalah aku
serta juga.”
“Tidak,” jawab suara itu, “berikanlah mama-
mu tanpa syarat kepada-Ku. Untuk
sementara waktu, kamu harus menunggu
bersama papamu. Aku akan membawamu ke
Surga kelak.”
“Ya,” jawab Gemma segera.
“Ya”, kata-kata itu akan selalu diulangi
Gemma di sepanjang hidupnya yang singkat
sebagai jawab atas undangan Kristus untuk
menderita bagi-Nya.
sesudah kematian ibunya, Gemma dikirim ayahnya
untuk tinggal di asrama Katolik di Lucca yang
dikelola oleh para Biarawati St. Zita.
Di kemudian hari, saat mengenang masa-masa di
sekolah, Gemma berkata, “Saat aku mulai
bersekolah di susteran, aku merasa seperti di
Surga.”
Di sekolah, Gemma dikasihi oleh para guru
dan teman-teman sekolahnya. Meskipun ia seorang
yang pendiam dan lebih suka menyendiri, ia selalu
tersenyum kepada siapa saja. Gemma menonjol
dalam pelajaran Bahasa Perancis, aritmetika dan
musik. Pada tahun 1893 Gemma memenangkan
Medali Emas untuk pengetahuan agama. Salah
seorang guru sekolahnya secara singkat dan tepat
mengatakan, “Gemma yaitu teladan bagi sekolah
kami.”
Gemma sangat merindukan Komuni
Kudusnya yang pertama. Seringkali ia memohon,
“Berikanlah Yesus kepadaku…. Anda akan melihat
betapa baiknya aku nanti. Aku sungguh akan
berubah. Aku tidak akan berbuat dosa lagi.
Berikanlah Yesus kepadaku. Aku sungguh sangat
merindukan Dia, aku tidak akan dapat hidup tanpa-
Nya.”
Akhirnya, pada usia sembilan tahun (lebih
awal dari kebiasaan), Gemma diperkenankan untuk
menerima Komuni Kudus-nya yang pertama. Seijin
ayahnya, Gemma tinggal selama sepuluh hari
lamanya di sebuah biara setempat guna
mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut
peristiwa agung ini.
Pada tanggal 20 Juni 1887, pada Pesta Hati
Kudus Yesus, saat yang telah lama dinanti-nantikan
Gemma itu pun tiba. Dengan kata-katanya sendiri ia
menggambarkan pertemuan pertamanya yang
mesra dengan Kristus dalam Sakramen Maha Kudus:
“Tidaklah mungkin menceritakan apa yang
terjadi saat itu antara Yesus dan aku. Ia
membuat Diri-Nya dapat kurasakan, oh
demikian kuat, dalam jiwaku.”
Pada tahun 1897 ayah Gemma meninggal
dunia. sebab terlalu murah hati dan kurang berhati-
hati dalam menjalankan usahanya, ayah Gemma
bangkrut. Ia tidak meninggalkan warisan apa pun
bagi putera-puterinya, bahkan tidak juga sarana
untuk menunjang hidup. Saat itu Gemma baru
berusia sembilan belas tahun, namun mulai terbiasa
memikul salib. Sejak ayahnya meninggal, Gemma
berperan sebagai ibu bagi ketujuh saudara dan
saudarinya.
SECARA AJAIB SEMBUH BERKAT BANTUAN
DOA ST. GABRIEL
Gemma jatuh sakit. Ia menderita TBC tulang.
Juga penyakit meningitis menyerangnya dan
memicu nya untuk sementara waktu
kehilangan pendengarannya. Bisul besar bernanah
muncul di kepalanya, rambutnya rontok, dan
akhirnya tangan serta kakinya menjadi lumpuh.
Dokter dipanggil dan sekian banyak cara pengobatan
dilalui tanpa membuahkan hasil, malahan semakin
buruk keadaannya.
Gemma memohon bantuan doa Venerabilis
G abriel Possenti dari Bunda Dukacita (sekarang St.
Gabriel). Di pembaringannya, Gemma membaca
riwayat hidup St. Gabriel. Di kemudian hari, Gemma
menulis tentang Venerabilis Gabriel:
“…Aku semakin kagum akan teladan serta
sikap hidupnya. Devosiku kepadanya
bertambah. Malam hari, aku tidak akan tidur
sebelum meletakkan gambarnya di bawah
bantalku, dan sesudah itu aku mulai
melihatnya berada di dekatku. Aku tidak tahu
bagaimana harus menjelaskannya, namun aku
merasakan kehadirannya. Setiap saat dan
dalam setiap lakuku, Frater Gabriel ada
dalam benakku.”
Gemma, sekarang usianya 20 tahun, tampaknya
hanya tinggal menunggu saatnya saja. Tengah
malam pada tanggal 23 Februari 1899, Gemma
sayup-sayup mendengar seseorang mendaraskan
rosario dan ia sadar bahwa Venerabilis Gabriel
menampakkan diri kepadanya. Ia berkata kepada
Gemma:
“Apakah kamu ingin sembuh? Berdoalah
kepada Hati Kudus Yesus dengan penuh iman
setiap sore. Aku akan datang kepadamu
hingga Novena selesai, kita akan berdoa
bersama kepada Hati-Nya yang Terkudus.”
Pada hari Jumat pertama bulan Maret, Novena
selesai didaraskan. Permohonan mereka dikabulkan;
Gemma sembuh sama sekali dari sakitnya! saat
Gemma bangkit dari pembaringannya, mereka yang
ada di sekelilingnya bersorak gembira. Ya, telah
terjadi suatu mukjizat!
KARUNIA STIGMATA
Gemma yang sekarang sempurna
kesehatannya, amat rindu untuk menjadi seorang
Rubiah Pasionis, namun keinginannya itu tidak
pernah terkabul. Tuhan memiliki rencana lain
baginya.
Pada tanggal 8 Juni 1899, sesudah menerima
Komuni Kudus, Kristus menyatakan kepada
hambanya bahwa sore itu Ia akan
menganugerahkan kepadanya suatu rahmat yang
amat istimewa.
Gemma pulang ke rumah dan berdoa. Ia
mengalami ekstasi (= kerasukan Roh Kudus) dan
merasakan tobat yang mendalam atas dosa.
Kemudian, St. Perawan Maria, kepada siapa St.
Gemma berdevosi dengan setia dan tekun,
menampakkan diri kepadanya dan berkata:
“Puteraku Yesus, mengasihimu secara luar
biasa dan hendak memberimu suatu karunia.
Aku akan menjadi Bunda-mu. Maukah kamu
menjadi anak yang taat?”
Santa Perawan Maria kemudian membuka mantolnya
dan menaungi Gemma dengan mantolnya itu.
Beginilah ceritera St. Gemma di kemudian
hari saat mengenang bagaimana ia menerima
stigmata:
“Pada saat itu Yesus menampakkan diri
dengan semua luka-luka-Nya yang
menganga, namun dari luka-luka itu tidak
lagi memancar darah, melainkan nyala api.
Dalam sekejap nyala-nyala api itu menyentuh
kedua belah tanganku, kakiku dan
lambungku. Aku merasa seperti mau mati
rasanya, dan pastilah aku sudah roboh ke
tanah jika saja bundaku tidak menopang aku,
sementara semua itu terjadi aku tetap berada
dalam naungan mantolnya. Aku berada dalam
keadaan demikian selama beberapa jam.
Pada akhirnya, Bunda Maria mengecup
keningku, semuanya lenyap, dan aku
mendapati diriku sendiri sedang berlutut.
namun aku masih merasakan sakit yang luar
biasa di kedua tangan, kaki dan lambungku.
Aku bangkit berdiri untuk tidur, dan barulah
aku sadar bahwa darah mengalir dari bagian-
bagian tubuhku yang terasa sakit itu. Aku
menutupi luka-lukaku sedapat mungkin, dan
kemudian dengan ditolong oleh Malaikatku,
barulah aku dapat pergi tidur …”
Sejak saat itu, setiap Kamis petang, Gemma akan
mengalami ekstasi dan tanda-tanda Kristus akan
muncul. Stigmata ini terus ada padanya hingga
Jumat siang atau Sabtu pagi, yaitu saat darah
berhenti mengalir, luka-luka menutup kembali, dan
tanda-tanda putih muncul di tempat bekas luka.
Stigmata Gemma terus-menerus muncul di
sepanjang sisa hidupnya hingga tiga tahun
menjelang wafatnya, sebab Bapa Pembimbing
Rohaninya melarang Gemma untuk menerimanya.
Melalui doa, stigmata tidak muncul kembali, namun
tanda-tanda putih tetap muncul di kulitnya hingga
wafatnya.
Beberapa orang, termasuk para rohaniwan
Gereja yang disegani, menjadi saksi atas mukjizat
stigmata ini. Seorang saksi mata mengatakan:
“Darah mengalir dari luka-luka Gemma
dengan begitu hebat. Jika ia berdiri, darah
mengalir membanjiri lantai, dan jika ia tidur,
darah tidak saja membasahi seprei, namun
membasahi kasur seluruhnya. Saya
mengukur aliran atau genangan darahnya,
panjangnya kurang lebih dua puluh hingga
dua puluh lima inci dan lebarnya kurang lebih
dua inci.”
Sama seperti St. Fransiskus dari Asisi dan baru-baru
ini St. Padre Pio, Gemma dapat berkata juga: Nemo
mihi molestus sit. Ego enim stigmata Domini Jesu in
corpore meo porto: Biarlah tiada seorangpun
menyakiti aku, sebab aku mengenakan tanda-tanda
Tuhan Yesus di tubuhku.
KEHIDUPAN DOA MISTIKNYA
Sepanjang hidupnya, Gemma dikaruniai
banyak pengalaman mistik dan rahmat istimewa.
Karunia-karunia ini sering disalah mengerti
oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga Gemma
sering menjadi bahan ejekan. Gemma dengan tabah
menerima semuanya itu sebagai silih dosa,
mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri juga telah
disalah mengerti dan diejek.
Pada usia 21 tahun, Gemma diangkat anak
oleh sebuah keluarga Italia yang murah mati, yaitu
keluarga Giannini. Keluarga ini telah memiliki
sebelas orang putera puteri, namun gembira
menerima gadis yatim piatu yang saleh ini dalam
rumah mereka. Nyonya rumah: Signora Cecilia
Giannini, kelak mengenang Gemma sebagai berikut:
“Saya bersedia memberi kesaksian di bawah
sumpah bahwa selama tiga tahun delapan
bulan Gemma tinggal bersama kami, saya
tidak pernah mendapatkan masalah,
walaupun sepele sekali pun, dalam keluarga
kami yang timbul sebab dia, dan saya juga
tidak pernah mendapati cacat celanya yang
terkecil sekali pun. Saya ulangi, bahkan
masalah sepele sekali pun atau cacat cela
terkecil sekali pun.”
St. Gemma dengan rajin melakukan tugas-tugas
rumah tangga dalam keluarga besar Giannini.
Gemma juga meluangkan waktu untuk berdoa, yang
yaitu kegiatan yang paling disukainya. Melalui
Penyelenggaraan Ilahi, Gemma mendapatkan
seorang Bapa Pembimbing Rohani Pasionis yang
kudus, Rm Germanus, CP (sekarang Venerabilis
Germanus) yang ditaatinya sepenuh hati.
Rm Germanus, seorang teolog yang ahli
dalam hal doa mistik, memperhatikan bahwa
Gemma memiliki kehidupan doa yang amat
mendalam sebab persatuannya yang demikian erat
dengan Tuhan. Rm Germanus yakin bahwa “Mutiara
Kristus” ini telah melewati keseluruhan dari
kesembilan tahap klasik kehidupan batin.
Gemma seringkali mengalami ekstasi. Segala
perkataan yang diucapkannya selama esktasi
direkam oleh Bapa Pembimbing Rohaninya dengan
dibantu seorang sanak keluarga Giannini. Pada akhir
ekstasi, Gemma akan kembali normal dan
menjalankan kehidupannya dalam keluarga seperti
biasa.
Gemma mengikuti Perayaan Misa dua kali
sehari sementara ia menerima komuni satu kali saja
dalam sehari. Dengan setia Gemma mendaraskan
doa rosarionya, dan sore hari bersama Signora
Giannini, ia mengikuti Ibadat Sore. Dalam
melakukan semua kegiatan rohaninya, tidak pernah
sekali pun Gemma melalaikan tugas dan
kewajibannya setiap hari di rumah keluarga Giannini.
GEMMA & MALAIKAT PELINDUNGNYA
Malaikat Pelindungnya seringkali
menampakkan diri kepada Gemma. Mereka
berbicara seperti layaknya seseorang bercakap-
cakap dengan sahabatnya. Kemurnian serta
kekudusan Gemma tentu telah mengundang
Malaikat Kudus dari Surga itu berada di sampingnya.
Gemma dan malaikatnya dengan sayapnya
terentang atau berlutut di sampingnya,
mendaraskan doa-doa lisan atau Mazmur pujian.
saat melakukan Meditasi Sengsara Yesus,
malaikatnya membawa Gemma masuk dalam
meditasi yang mendalam dengan pengertian-
pengertian yang luhur dan agung tentang Misteri
Sengsara Yesus. Suatu saat Malaikat Pelindungnya
berbicara kepada Gemma tentang Sengsara Kristus:
“Lihatlah betapaYesus telah menderita bagi
manusia. Pikirkanlah satu demi satu Luka-
Luka itu. Cinta-lah yang telah mencabik-
cabiknya. Lihatlah betapa mengerikannya
dosa, oleh sebab nya untuk menebusnya,
begitu banyak sengsara serta begitu besar
cinta yang dibutuhkan.”
Gemma biasa meminta bantuan malaikat
pelindungnya untuk menyampaikan surat atau
menyampaikan pesan kepada Bapa Pembimbing
Rohaninya di Roma.
WAFATNYA
Pada tahun 1902 Gemma yang kesehatannya
prima sejak penyembuhannya yang ajaib,
mempersembahkan dirinya kepada Tuhan sebagai
kurban silih bagi keselamatan jiwa-jiwa. Yesus
menerima persembahan dirinya.
Gemma kemudian sakit parah. Ia tidak dapat
menelan makanan apa pun. Walaupun untuk
sementara waktu kesehatannya mulai membaik
berkat Penyelenggaraan Ilahi, Gemma segera jatuh
sakit kembali. Pada tanggal 21 September 1902,
Gemma mulai muntah darah disertai dengan denyut
jantung yang berdebar amat kencang. Gemma
dinyatakan mengidap TBC. Sementara itu Gemma
juga mengalami kemartiran rohani sebab
kekeringan rohani dan tidak adanya penghiburan
dalam kehidupan rohaninya. Menambah beban
deritanya, si iblis melipatgandakan serangannya atas
“Perawan dari Lucca” ini sebab iblis tahu bahwa
saatnya hampir tiba.
Iblis berusaha keras membujuk Gemma
dengan mengatakan bahwa ia telah sama sekali
ditinggalkan oleh Tuhan. Iblis memperlihatkan
penampakan-penampakan yang mengerikan dan
bahkan melakukan serangan-serangan fisik atas
tubuh Gemma yang rapuh. Seorang saksi mata yang
merawat Gemma mengatakan:
“Iblis yang menjijikkan itu akan menghabisi
Gemma kita tersayang - angin ribut yang
memekakkan telinga, wujud binatang-
binatang yang ganas, dan sebagainya - Saya
meninggalkan Gemma dengan bercucuran air
mata, sebab si iblis sedang
menghancurbinasakannya.”
Gemma tak henti-hentinya menyerukan Nama Kudus
Yesus dan Maria, namun pertempuran masih saja
tetap berlangsung. Tentang perjuangan akhir
Gemma ini, Venerabilis Germanus, Bapa
Pembimbing Rohaninya, mengatakan:
“Penderita yang malang itu melewatkan hari-
hari, minggu-minggu dan bahkan bulan-
bulannya dalam keadaan demikian,
meninggalkan teladan bagi kita akan
ketabahan yang luar biasa.”
Mengalami segala macam pencobaan itu Gemma
tidak pernah mengeluh, ia hanya berdoa. Saat
Gemma sudah tiba. Ia hampir-hampir tampak
seperti kerangka hidup saja, namun masih kelihatan
cantik meskipun tubuhnya habis dikoyak
penyakitnya. Viaticum diterimakan kepadanya.
Dalam percakapannya yang terakhir, Gemma
mengatakan:
“Aku tidak minta apa-apa lagi; Aku telah
menyerahkan segala sesuatunya kepada
Tuhan; sekarang aku siap untuk mati.”
Napasnya terengah-engah, “Sekarang
sungguh benar bahwa tidak ada lagi yang
tersisa padaku, Yesus. Aku menyerahkan
jiwaku yang malang kepada-Mu…Yesus!”
Gemma kemudian tersenyum dengan senyuman
surgawi, kepalanya terkulai ke samping, dan
napasnyapun terhenti.
Romo Paroki yang menemaninya di saat-saat
akhir hidupnya mengatakan, “Ia meninggal dengan
senyuman yang tetap menghiasi bibirnya, sehingga
saya tidak dapat percaya bahwa ia sungguh-sungguh
sudah meninggal.”
Salah seorang dari para biarawati yang
berada di sana saat kematiannya menyelimuti tubuh
Gemma dengan jubah Pasionis, jubah yang amat
dirindukan Gemma untuk dikenakannya sebagai
seorang biarawati.
Gemma Galgani wafat pada Hari Sabtu Suci,
tanggal 11 April 1903 dalam usia 25 tahun.
Pada tahun1917 Gereja mulai mempelajari
keteladanan hidup Gemma. Pada tahun 1923
jenasah Gemma dipindahkan ke Biara Passionis di
Lucca hingga sekarang. Pada tanggal 14 Mei 1933
Gemma dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dan pada
tanggal 2 Mei 1940, hanya tiga puluh tujuh tahun
sesudah kematiannya, ia dikanonisasi oleh Paus yang
sama. Pesta St. Gemma Galgani dirayakan setiap
tanggal 16 Mei.
CATATAN ST. GEMMA GALGANI
"Jika aku melihat pintu gerbang neraka terbuka
dan aku berdiri di tepi jurang, aku tidak akan
putus asa, aku tidak akan kehilangan harapan
akan belas kasih, sebab aku mengandalkan
Engkau, ya Tuhan-ku"
"Wahai jiwaku, berkatilah Yesus. Janganlah
engkau lupa akan demikian banyak rahmat yang
telah Ia limpahkan kepadamu. Cintailah Tuhan-
mu yang begitu mengasihimu. Angkatlah dirimu
ke hadirat-Nya, yang telah merendahkan Diri-
Nya bagimu; nyatakanlah dirimu seperti Ia
menyatakan Diri-Nya kepadamu; jadikan bersih
hatimu, jadikan kudus. Cintailah Yesus-mu, yang
telah mengangkatmu dari begitu banyak
penderitaan. Cintailah Tuhan-mu, berkatilah
Tuhan-mu."
Gemma Galgani (1878-1903), perawan, hidup
di Lucca Italia; B: Emma, Hemma; P: 11 April.
GENESIUS († 250)
yaitu seorang magang baptis yang menjadi
sekretaris negeri di Arles Perancis. saat disuruh
menulis dekrit yang isinya melawan agama Kristen,
ia membuang alat-alat tulisnya dan melarikan diri.
Namun ia tertangkap dan dipenggal, sehingga
dipermandikan oleh darahnya sendiri.
A: asal mula (Y); P: 25 Agustus
SANTA GENOVEVA (422-502)
Genoveva dilahirkan sekitar tahun 422 di
Nanterre, sebuah desa kecil, empat mil jauhnya dari
Paris. saat masih sangat
muda, ia rindu untuk
membaktikan hidupnya
kepada Yesus. sesudah kedua
orangtuanya meninggal
dunia, Genoveva tinggal
bersama neneknya. Ia
menghabiskan waktunya
dengan berdoa setiap hari. Ia
menjadi sangat akrab
dengan Yesus dan ingin membagikan kebaikan-Nya
kepada orang-orang lain juga.
Genoveva yaitu seorang gadis yang lemah lembut
dan murah hati. Dengan caranya sendiri, ia
melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan
bagi sesama.
Penduduk Paris bersiap-siap hendak
melarikan diri dari suatu balatentara ganas yang
datang untuk menyerang mereka. Genoveva tampil.
Ia membangkitkan semangat warga kota agar
mengandalkan Tuhan. Ia mengatakan bahwa jika
mereka melakukan matiraga, maka mereka akan
dibebaskan. Orang-orang percaya dan melakukan
apa yang dikatakannya, dan balatentara Hun yang
ganas sekonyong-konyong berbalik kembali. Mereka
tidak menyerang kota sama sekali.
St. Genoveva mengamalkan belas kasihan
dan ketaatan pada kehendak Allah setiap hari
sepanjang hidupnya, bukan hanya pada waktu
kesesakan. Tak pernah ia menyerah dalam
melakukan sebanyak mungkin kebajikan. Kesetiaan
kepada Yesus dan keberanian yaitu karunia-
karunia istimewa yang menjadi kesaksian hidup
yang ditinggalkan Genoveva bagi kita.
Salah satu cara terbaik yang dapat kita
lakukan bagi negara kita yaitu berdoa bagi para
pemimpin negara. Kita mohon pada Tuhan untuk
membimbing mereka demi kebaikan kita semua.
St. Genoveva memberikan teladan kesetiaan
dan keberanian dalam mengandalkan Tuhan,
teristimewa dalam masa-masa sulit di negaranya.
Berdoa bagi para pemimpin negara merupakan salah
satu cara yang dapat kita lakukan bagi negara kita,
memohon Tuhan agar membimbing mereka dalam
membuat keputusan-keputusan yang tepat bagi
kebaikan semua orang.
Genoveva (422-502), pelindung kota Paris; L:
gembala dengan dua kunci; P: 3 Januari
GEORGE GERVASE OSB († 1608)
Sewaktu muda menjadi anggota pembajak
laut pimpinan Francis Drake, namun ia bertobat dan
menjadi imam. Ia dihukum sebab melayani umat di
Inggeris. P: 11 April
SANTO GEORGIUS
Santo Georgius biasa digambarkan sedang
membunuh seekor naga untuk menyelamatkan
seorang wanita cantik.
Naga melambangkan
kejahatan. wanita
melambangkan kebenaran
Allah yang kudus. St.
Georgius membunuh sang
naga sebab ia telah
memenangkan pertarungan
melawan iblis.
Tidak banyak yang
diketahui mengenai St.
Georgius kecuali bahwa ia
seorang martir. Ia yaitu
seorang prajurit dalam bala
tentara Diocletian, seorang kaisar kafir. Diocletian
amat benci pada umat Kristiani. Ia membunuh setiap
orang Kristen yang dijumpainya.
Dikisahkan bahwa St. Georgius yaitu salah
seorang prajurit kesayangan Diocletian. saat
Georgius menjadi seorang Kristen, ia menghadap
kaisar dan mengecamnya sebab tindakannya yang
amat kejam. Kemudian, Georgius melepaskan
jabatannya dalam dinas tentara Romawi. St.
Georgius membayar keberaniannya itu dengan harga
yang amat mahal. Ia disiksa dengan kejam lalu
dipenggal kepalanya.
Begitu gagah berani dan begitu penuh
sukacita St. Georgius menyatakan imannya hingga
orang merasa tergugah semangatnya jika
mendengarkan kisah hidupnya. Banyak lagu dan
puisi ditulis untuk mengenang kemartirannya. Para
tentara, terutama, selalu berdevosi kepadanya. St.
Georgius diangkat sebagai santo pelindung Inggris
pada tahun 1222.
Georgius (abad ke-3), martir di Palestina; A:
petani; L: seorang berkuda membunuh naga
ganas, dalam tangannya ada bendera
dengan salib merah; P: 23 April
SANTO GERARDUS dari BROGNE († 3
Oktober 959)
Gerardus dilahirkan di akhir abad kesembilan
di Perancis. Keluarganya kaya raya, namun Geradus
bukanlah seorang yang sombong. Sesungguhnya, ia
dikenal sebagai seorang yang baik hati dan
bersahabat. Sepulang dari pergi berburu, ia dan
kawan-kawannya kembali ke rumah dalam keadaan
capai dan lapar. sesudah mengundang teman-
temannya masuk untuk makan minum dan
beristirahat, ia sendiri pergi. Gerardus pergi
menyelinap menuju sebuah kapel kecil yang berada
dalam wilayah tanah miliknya. Ia berdoa untuk
jangka waktu yang lama di sana. Tubuhnya yang
lelah pun beristirahat dan ia lupa sama sekali
mengenai rasa laparnya.
Gagasan muncul di benak Gerardus, andai
saja orang banyak menyadari sukacita doa, maka
pastilah mereka akan dengan lebih suka hati berdoa.
Kemudian pikirannya pun melayang kepada para
biarawan yang melewatkan sepanjang hidup mereka
menyampaikan puji-pujian kepada Tuhan.
Bayangkan betapa mereka beroleh hak istimewa,
pikirnya. Maka berdoalah ia memohon kesempatan
untuk mendapatkan panggilan religius dan akhirnya
ia dapat bergabung dalam biara St Denis.
Gerards mencintai kehidupan yang telah
dipilihnya dan sesudah menamatkan pendidikan ia
ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia telah
melewatkan sebelastahun sebagai seorang biarawan
saat kepadanya diberikan ijin untuk mendirikan
suatu biara baru di tanah miliknya di Brogne. Biara
berkembang, namun Gerardus merasa terlalu banyak
aktivitas dan kesenangan di sana. Sebab itu ia
membangun bagi dirinya sendiri sebuah gubug
pertapaan di samping gereja. Ia tinggal di sana
dengan tenang seorang diri.
namun , ia tidak dibiarkan tinggal dalam damai
untuk waktu yang lama. Para superior meminta
Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders
dan Normandy. Para biarawan membutuhkan
bimbingan dan pertolongan agar dapat lebih
bertekun. Tugas ini menghantar Gerardus dalam
banyak perjalanan selama duapuluh tahun.
Sepanjang hidupnya Gerardus hidup dengan cara
hidup yang ketat penuh matiraga. Ia melakukannya
sebab ia ingin membuktikan kepada Yesus bahwa ia
mengasihi-Nya. Ia menunjukkan kasihnya itu
dengan suka hati mempersembahkan tindakan-
tindakan kecil penyangkalan diri. saat tahu bahwa
masa hidupnya di dunia akan segra berakhir, ia
minta agar diijinkan kembali pulang ke gubug
pertapaannya di Brogne. Ijin diberikan. Gerardus
wafat dalam damai pada tanggal 3 Oktober 959.
P: 13 Oktober
SANTO GERARDUS MAJELLA
(6April 1726-15 Oktober 1755)
Meski tidak secara resmi digelari demikian
oleh Gereja, Santo Gerardus Majella secara luas
dikenal oleh umat Katolik sebagai “pelindung para
ibu yang sedang mengandung.” Pada masa ini,
tampaknya Tuhan memilih teladan baik Santo
Gerardus guna melawan abad kematian yang telah
kehilangan kepercayaan pada penyelenggaraan
Tuhan dan memiliki cara berpikir yang merendahkan
kehidupan. namun , mengapa Santo Gerardus
Majella? Bukankah aneh jika seorang laki-laki,
seorang broeder religius pula, dijadikan pelindung
bagi para ibu yang sedang mengandung?
MASA KECIL
Gerardus, bungsu dari kelima anak pasangan
Dominic dan Benedetta Galella Majella, dilahirkan
pada tanggal 6 April 1726, di sebuah kota kecil
bernama Muro, beberapa
mil jauhnya dari Naples di
Italia selatan.
Kesehatannya amat rapuh
sejak lahir dan segeralah
ia dibawa ke katedral
untuk dibaptis.
Bahkan masa
kecilnya telah ditandai
dengan rahmat-rahmat
istimewa dari Tuhan.
saat usianya baru lima
tahun, Gerardus biasa
pergi ke sebuah kapel
kecil dekat rumahnya untuk berdoa. Seringkali ia
pulang dari sana dengan seketul roti. jika ibunya
bertanya darimana ia mendapatkan roti, ia akan
mengatakan bahwa “seorang anak laki-laki yang
amat tampan” memberikan kepadanya. Akhirnya,
Elizabeth - saudari wanita Gerardus -
diperintahkan untuk mengikutinya diam-diam ke
kapel guna mencari tahu. Saudarinya itu mengintip
ke dalam kapel dan melihat Gerardus berlutut dalam
doa di hadapan patung SP Maria yang menggendong
Kanak-kanak Yesus. Lalu, Elizabeth melihat sesuatu
yang ajaib. Kanak-kanak Yesus turun dari dekapan
BundaNya untuk bermain-main dengan Gerardus
kecil. sesudah beberapa waktu berselang, Kanak-
kanak Yesus memberikan seketul roti kepada
Gerardus dan kembali ke pelukan BundaNya!
Dalam perayaan Misa, Gerardus juga
seringkali melihat Kanak-kanak Yesus yang sungguh
hadir dalam Ekaristi Kudus. Ia dapat melihat Yesus
sesudah konsekrasi hingga Komuni Kudus berakhir.
Gerardus kecil yang kala itu berusia tujuh tahun
begitu rindu menyambut Yesus dalam Komuni
Kudus, sebab nya ia ikut dalam barisan mereka
yang hendak menyambut Komuni. Pada masa itu,
anak-anak tidak diperkenankan menyambut Komuni
Kudus hingga mereka berusia 14 tahun. namun ,
Gerardus beranggapan bahwa sebab Yesus sangat
mengasihinya dan ia juga sangat mengasihi Yesus,
pastilah boleh ia menyambut-Nya. Imam tahu bahwa
Gerardus belum cukup umur untuk menyambut
Yesus, jadi ia tidak memberinya Komuni Kudus dan
Gerardus kecil harus kembali ke bangkunya dengan
berlinangan airmata. Sepanjang hari itu, Gerardus
terus menangis sebab tidak diperbolehkan
menyambut Yesus. saat masuk kamar malam itu,
ia tak dapat tidur. Sekonyong-konyong, suatu terang
yang amat menakjubkan memenuhi kamar tidurnya
dan Malaikat Agung Santo Mikhael menampakkan
diri untuk memberinya Komuni Kudus!
MASA BEKERJA
saat Gerardus berusia duabelas tahun,
kematian ayahnya yang tiba-tiba mengharuskannya
meninggalkan bangku sekolah dan mulai bekerja.
Ibunya menitipkannya untuk magang pada seorang
penjahit agar ia dapat meneruskan usaha ayahnya.
Majikannya ini memiliki rasa tidak senang yang
aneh kepada Gerardus dan seringkali menghujaninya
dengan pukulan dan umpatan. Gerardus menerima
aniaya ini sebagai diperkenankan oleh Allah demi
kebaikan rohaninya. Suatu kali ia bahkan tampak
tersenyum sementara sedang dihajar, dan saat
orang bertanya, ia menjawab, “Aku tersenyum
sebab aku melihat tangan Tuhan menderaku.” Upah
yang didapatkannya dibaginya rata untuk memenuhi
keperluan keluarga, fakir miskin dan stipendium
Misa demi membebaskan jiwa-jiwa di api penyucian.
sesudah masa magangnya sebagai seorang
penjahit, Gerardus untuk beberapa waktu lamanya
bekerja sebagai pelayan Uskup Lacedonia yang
sedang memulihkan kesehatannya di Muro. Lagi, ia
melatih keutamaan kesabaran dengan diam dalam
menghadapi temperamen majikannya yang
pemarah. Pada masa ini terjadi salah satu dari
mukjizat-mukjizat pertamanya. Suatu hari, tanpa
sengaja ia menjatuhkan kunci rumah ke dalam
sumur. Dengan kepolosan seorang kudus ia
menurunkan sebuah patung kecil Bayi Yesus ke
dalam sumur. Sungguh ajaib, saat Gerardus
mengangkat patung kembali, kunci yang hilang
tampak tergantung di tangan patung.
PANGGILAN RELIGIUS
Sementara bertumbuh sebagai seorang
pemuda, jika orang bertanya kepadanya
mengenai perkawinan, Gerardus akan menjawab,
“Madonna telah memikat hatiku, dan aku telah
memberikan hatiku sebagai persembahan baginya.”
dibandingkan hidup perkawinan, segera saja pemuda
yang saleh ini terpikat pada panggilan religius.
Namun demikian, tiga kali ia ditolak masuk ke dalam
suatu ordo religius oleh sebab kesehatannya yang
rapuh. Walau begitu ia tetap bertekad untuk menjadi
seorang biarawan. Suatu misi para imam
Redemptoris yang diadakan di Muro memberinya
pengharapan baru. Ia mohon diperkenankan masuk
ke dalam ordo mereka, namun lagi-lagi ia ditolak
sebab mereka merasa bahwa kesehatannya tidak
akan cocok dengan kerasnya kehidupan biara.
namun , orang muda ini begitu gigih dan bulat
tekadnya hingga Pater Paul Cafaro, superior para
misionaris, menasehati ibunya untuk mengurung
Gerardus di kamar pada malam para misionaris
meninggalkan Muro, khawatir kalau-kalau ia
berusaha mengikuti mereka. Ibunda Gerardus
melaksanakan nasehat sang imam, namun keesokan
paginya saat ia membuka pintu kamar, ia mendapati
tempat pembaringan yang kosong, sebuah jendela
yang terbuka di mana tergantung selembar kertas,
dan sebuah catatan di meja yang berbunyi, “Aku
pergi untuk menjadi seorang Santo.”
Gerardus berhasil menyusul para misionaris
sementara mereka meninggalkan kota. sesudah
banyak permohonan dan penolakan, P Cafaro
akhirnya menyerah dan mengutusnya pergi ke
kediaman rektor Redemptoris di Iliceto dengan
catatan rekomendasi ini, “Saya mengirim kepada
Pater seorang broder yang tak berguna.”
Demikianlah, akhirnya, pada tahun 1749, pada usia
23 tahun, Gerardus diterima dalam Kongregasi
Redemptoris yang baru dibentuk beberapa tahun
sebelumnya oleh Santo Alfonsus Liguori. Broeder
“yang tak berguna” ini membuktikan diri sebagai
teladan berbagai-bagai keutamaan dan ia melakukan
pekerjaan empat orang sekaligus! Ia akan
mengatakan kepada rekan-rekannya, “Biar aku yang
mengerjakannya, bukankah aku lebih muda. Engkau
beristirahatlah.”
Dengan gagah berani Gerardus berikrar untuk
senantiasa memilih apa yang tampaknya paling
sempurna, yang paling berkenan bagi Allah. Ia taat
secara sempurna kepada kehendak superiornya,
bahkan meski kehendak itu tidak diungkapkan dalam
kata. Suatu hari, guna menunjukkan hal ini kepada
seorang otoritas yang datang berkunjung, Superior
menyuruh Gerardus pergi, sementara ia berkata
kepada otoritas yang menuntut bukti itu, “Aku akan
memerintahkannya secara batin untuk kembali; dan
ia tidak akan membutuhkan lebih dari perintah ini.”
Maka, segera saja sang Broeder kembali, mengetuk
pintu dan bertanya, “Adakah Pater menyuruh saya
kembali?”
Suatu kali, ia memimpin sekelompok murid
dalam suatu perjalanan selama sembilan hari ke
Pegunungan Gargani, di mana Malaikat Agung Santo
Mikhael menampakkan diri. Hanya ada sedikit saja
uang pada mereka untuk perjalanan itu, dan saat
mereka tiba di tujuan, nyaris tak ada yang tersisa.
Gerardus mempergunakan keping uangnya yang
terakhir untuk membeli bunga bagi altar Tuhan.
Sementara menempatkan bunga-bunga di altar ia
berkata, “Tuhan, aku telah memperhatikan Engkau.
Sekarang, Engkau yang memperhatikan murid-
muridku dan aku.” Seorang religius yang melihatnya
di gereja mengundang orang kudus kita beserta
seluruh rombongan untuk menumpang di rumahnya.
Dan saat rombongan siap untuk berangkat pulang
kembali, Gerardus sekali lagi berdoa, dan segera
seseorang muncul dan memberinya beberapa ketul
roti.
Salah satu dari mukjizat Santo Gerardus yang
paling terkenal terjadi saat seorang tukang batu
jatuh dari perancah pada waktu pembangunan
sebuah bangunan. Apa daya? Gerardus telah
dilarang oleh superiornya untuk tidak lagi
mengadakan mukjizat tanpa ijin. Maka, broeder
yang kudus ini menghentikan sang tukang batu di
angkasa, memintanya untuk menunggu hingga ia
mendapatkan ijin untuk menyelamatkannya! Dan ia
memang mendapatkan ijin, sehingga tukang batu itu
dapat jatuh dan mendarat dengan lembut di atas
tanah.
Para biarawan menganggap Gerardus sebagai
rekan yang tak ternilai sebab ia berhasil dengan
begitu gemilang dalam menghantar orang-orang
berdosa untuk menyambut sakramen-sakramen dan
mengilhami banyak orang untuk memperbaiki
Sakramen Tobat mereka yang buruk. Orang banyak
mengikutinya di mana-mana, dan telah
menyebutnya “il santo” - sang Santo.
PENCOBAAN BERAT
Kekudusan sejati harus senantiasa diuji
dengan salib, dan pada tahun 1754 Gerardus harus
mengalami suatu pencobaan besar, yang
memperolehkan baginya ganjaran berupa kuasa
istimewa untuk menolong para ibu dan anak-anak.
Salah satu dari semangat Gerardus yang bernyala-
nyala yaitu mendorong serta membantu para gadis
yang ingin masuk biara. Seringkali ia juga bahkan
menyediakan mas kawin yang diperlukan bagi gadis-
gadis-gadis miskin yang tidak dapat diterima dalam
suatu ordo religius.
Neria Caggiano yaitu salah seorang dari
para gadis yang mendapatkan bantuan Gerardus.
Namun demikian, ia mendapati bahwa kehidupan
biara ternyata tak menyenangkan baginya dan
dalam waktu tiga minggu ia telah pulang kembali ke
rumah. Guna membenarkan tindakannya, Neria
mulai menyebarkan gosip-gosip bohong mengenai
kehidupan para biarawati, dan saat orang-orang di
Muro menolak untuk percaya pada cerita-cerita
demikian mengenai suatu biara yang
direkomendasikan oleh Gerardus, maka Neria
bertekad untuk menyelamatkan reputasinya dengan
menghancurkan nama baik orang yang telah
menolongnya. Dalam sepucuk surat kepada Santo
Alfonsus, ia menuduh Gerardus melakukan dosa
melanggar kemurnian terhadap seorang gadis muda
dari sebuah keluarga di mana Gerardus sering
menumpang dalam perjalanan-perjalanan misinya.
Gerardus dipanggil menghadap oleh Santo
Alfonsus untuk menjawab dakwaan terhadapnya.
Bukannya membela diri, Gerardus malahan tinggal
diam, seturut teladan Guru Illahi-nya. Menanggapi
permohonan dari teman-temannya untuk membela
diri, Gerardus menjawab, “Tuhan akan
mengurusnya.” Dengan kebisuannya itu, Santo
Alfonsus tak dapat berbuat suatupun selain dari
menjatuhkan hukuman berat atas diri pemuda ini.
Gerardus dilarang menyambut Komuni Kudus, dan
dilarang melakukan segala kontak dengan orang
luar.
Tidaklah mudah bagi Broeder Gerardus untuk
melepaskan karyanya demi menyelamatkan jiwa-
jiwa, namun hal ini sungguh tak berarti
dibandingkan hukuman dijauhkan dari Komuni
Kudus. Ia merasa hukuman ini sungguh dahsyat
baginya hingga ia bahkan mohon dibebaskan juga
dari melayani Misa, sebab khawatir kalau-kalau
kerinduannya yang berkobar-kobar untuk
menyambut komuni akan membuatnya merampas
Hosti yang telah dikonsekrasikan dari tangan imam
di altar.
Beberapa waktu lamanya berselang hingga
Neria sakit parah dan ia menulis sepucuk surat
kepada Santo Alfonsus mengakui bahwa
dakwaannya terhadap Gerardus yaitu dusta dan
fitnah belaka. Santo Alfonsus dipenuhi sukacita demi
mendengar kabar ketakbersalahan puteranya. namun
Gerardus, yang tak bermuram durja dalam masa
pencobaannya, juga tidak terlalu bergembira atas
pemulihan nama baiknya ini. Dalam kedua perkara
ini ia merasa bahwa kehendak Tuhan telah digenapi,
dan bahwa itu sudah cukup baginya.
PEKERJA AJAIB
Santo Gerardus Majella dikenal sebagai
Thaumaturge, yaitu seorang kudus yang
mengadakan mukjizat-mukjizat, tidak saja sekali-
sekali, melainkan kerapkali. Sedikit saja orang kudus
yang memiliki begitu banyak catatan mengenai
perkara-perkara ajaib seperti Gerardus. Proses
beatifikasi dan kanonisasi mengungkapkan bahwa
mukjizat-mukjizat yang diadakannya begitu banyak
dan bermacam ragamnya. Kerapkali ia masuk dalam
ekstasi sementara bermeditasi mengenai Tuhan atau
kehendak-Nya yang kudus, dan di saat-saat
demikian, tubuhnya tampak terangkat beberapa kaki
di atas permukaan tanah.
Sebagian besar mukjizat diadakannya demi
melayani orang-orang lain. Kejadian-kejadian luar
biasa seperti disebutkan di bawah ini akan tampak
sebagai suatu hal yang biasa sementara orang
membaca riwayat hidupnya. Ia menghidupkan
kembali seorang anak laki-laki yang terjatuh dari
sebuah karang yang terjal; ia memberkati
perbekalan gandum yang tinggal sedikit milik sebuah
keluarga miskin dan perbekalan itu tidak habis-
habisnya hingga panen berikutnya; beberapa kali ia
menggandakan roti yang ia bagi-bagikan kepada
orang-orang miskin. Suatu hari ia berjalan di atas air
demi menghantar ke tempat pelabuhan yang aman
sebuah kapal penuh para nelayan yang terancam
nyawanya oleh gelombang sakal. Gerardus
dianugerahi kemampuan untuk “membaca jiwa”.
Kerapkali ia menyingkapkan secara pribadi kepada
orang dosa-dosa rahasia dalam jiwa mereka yang
malu mereka akukan, dan kemudian menghantar
mereka ke penitensi dan pengampunan.
saat terjadi serangan wabah penyakit,
Gerardus terlihat di lebih dari satu rumah pada saat
yang bersamaan demi menolong mereka yang sakit.
Tak selembar pun dari riwayat hidupnya yang tak
ditandai dengan keajaiban, semuanya demi
kemuliaan Tuhan dan digerakkan oleh kasih yang
tulus kepada sesama. Sepanjang hidupnya, Santo
Gerardus menghabiskan berjam-jam lamanya setiap
hari dalam sembah sujud di hadapan Sakramen
Mahakudus demi memuliakan Tuhan dan mengucap
syukur atas segala rahmat dan berkat-Nya. Ibunda
Gerardus, Benedetta, mengatakan bahwa puteranya
“terlahir bagi surga,” dan mengisahkan bagaimana
Gerardus melewatkan berjam-jam lamanya di
hadapan Sakramen Mahakudus “hingga ia lupa
bahwa saat makan malam telah tiba.”
WAFATNYA
Senantiasa rapuh kesehatannya, merupakan
pertanda bahwa Geardus tidak akan hidup lama.
Pada tahun 1755, ia terserang pendarahan hebat
dan disentri, maut dapat sewaktu-waktu merenggut
nyawanya. namun , ia masih hendak mengajarkan
suatu pelajaran berharga mengenai kuasa ketaatan.
Direkturnya memerintahkan Gerardus untuk segera
sembuh, jika memang sesuai kehendak Tuhan;
maka, sekonyong-konyong penyakitnya tampak
lenyap dan ia segera meninggalkan pembaringannya
untuk menggabungkan diri dengan komunitas.
Namun demikian, ia tahu bahwa kesembuhannya
hanyalah untuk sementara waktu saja dan bahwa
jangka hidupnya hanya tinggal sebulan saja.
Tak lama berselang ia memang kembali ke
pembaringannya sebab tuberculosis, dan ia mulai
mempersiapkan diri menyongsong kematiannya.
Sepenuhnya ia berserah diri pada kehendak Tuhan
dan ia menempatkan tanda ini pada pintu kamarnya,
“Kehendak Tuhan dilaksanakan di sini, seperti yang
Tuhan kehendaki dan selama Ia menghendakinya.”
Seringkali orang mendengarnya mendaraskan doa
berikut, “Ya Tuhan-ku, aku rindu untuk mati demi
melakukan kehendak-Mu yang terkudus.” Antara
tengah malam pada tanggal 15 Oktober 1755, dini
hari dari hari berikutnya, jiwanya yang tak berdosa
pulang kembali kepada Tuhan. Usianya baru 29
tahun.
Saat kematian Gerardus, broeder yang
bertugas di sakristi, dalam kegugupannya,
membunyikan lonceng seolah hendak dirayakan
suatu pesta, dan bukan membunyikannya sebagai
tanda kematian. Beribu-ribu orang datang untuk
menyaksikan tubuh “Santo” mereka dan berusaha
mendapatkan kenang-kenangan terakhir dari dia
yang telah begitu banyak kali menolong mereka.
sesudah wafatnya, mulailah dilaporkan terjadinya
berbagai mukjizat dari hampir segenap penjuru Italia
dengan perantaraan St Gerardus. Pada tanggal 29
Januari 1893, Paus Leo XIII memaklumkannya
sebagai Beato, dan pada tanggal 11 Desember
1904, Paus Pius X memaklumkannya sebagai
“Santo”. Pesta St Gerardus Majella dirayakan pada
tanggal 16 Oktober.
SAPUTANGAN SANG SANTO
Perantaraan ajaib St Gerardus bagi para ibu
dimulai sejak dari masa hidupnya. Suatu saat ,
sementara ia meninggalkan rumah sahabatnya,
keluarga Pirofalo, saputangannya terjatuh di kursi.
Salah seorang anak wanita dari keluarga
Pirofalo memungutnya dan menyerahkannya kembali
kepada Gerardus. namun , dalam suatu nubuat
penglihatan Gerardus mengatakan, “Simpanlah.
Saputangan itu akan berguna bagimu suatu hari
kelak.” Sang gadis menyimpan saputangan itu
sebagai kenang-kenangan berharga dari Gerardus.
Beberapa tahun kemudian, wanita itu yang kini
telah menikah, berada dalam bahaya maut saat
hendak melahirkan bayi pertamanya. Dalam
keadaan sakit beranak, ia teringat akan saputangan
misterius dan janji Gerardus; ia meminta agar
saputangan segera dibawa kepadanya. Kemudian,
diusapkannya saputangan ke kandungannya dan
sesaat itu juga bahaya berlalu dan ia melahirkan
seorang bayi yang normal dan sehat.
Saputangan ajaib diwariskan dari satu ibu ke
ibu yang lain sementara mereka hendak besalin di
kota Olive hingga Citra. Ibu yang pertama
mewariskan reliqui yang berharga kepada
kemenakannya dan dari sana turun-temurun ke
generasi berikutnya. Beberapa keluarga mengambil
sepotong kecil dari saputangan itu hingga hanya
secarik kecil saja yang tersisa saat Gerardus
dikanonisasi. Walau demikian, secarik itupun
sudahlah cukup untuk meneruskan rahmat-rahmat
istimewa kepada saputangan-saputangan lain yang
disentuhkan padanya.
Sekarang, saputangan-saputangan serupa
saputangan St Gerardus, yang telah disentuhkan
pada reliquinya, dapat diperoleh para peziarah yang
mengunjungi tempat ziarah internasional St Gerard
Majella di Materdomini, Italia. Saputangan St
Gerardus Majella telah menjadi suatu simbol populer
aklamasi Gerardus sebagai pelindung para ibu dan
anak-anak, bayi-bayi yang belum dilahirkan dan
gerakan pencinta kehidupan.
Pada masa di mana keberadaan keluarga dan
kesakralan hidup manusia menghadapi ancaman dari
aborsi, kontrasepsi, dan berbagai teknik biomedis,
dan dengan berkembangnya “budaya kematian,”
santo kecil dengan saputangannya mungkin yaitu
yang kita butuhkan bagi para ibu yang sedang
mengandung, keluarga-keluarga dan seluruh dunia.
Gerardus Majella (1726-1755), bruder dan
tukang jahit; Santo Pelindung Para Ib
.jpg)
