Kitab Injil merupakan kitab yang terdiri dari Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes.
Keempat kitab Injil ini secara khusus menceriterakan mengenai kisah kehidupan Tuhan Yesus Kristus
dari kelahiran sampai kepada kenaikan ke sorga. Namun dari keempat kitab Injil ini ada
kitab yang digolongkan atau dinamakan dengan kitab Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas).
Kata Sinoptik berasal dari dua kata istilah dalam bahasa Yunani yakni “sin” yang berarti bersama
dan “optanomai” yang berarti melihat.” Dari pengertian ini maka dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa yang dimaksud dengan istilah Injil Sinoptik adalah, penulis menceriterakan mengenai kisah
kehidupan Yesus Kristus dari sudut pandang cerita yang sama. Dalam hal ini Injil yang
dimaksudkan ialah Matius, Markus dan Lukas, sebagai suatu kemiripan yang harus dilihat secara
bersama-sama. Ketiga kitab ini diakui bahwa pada waktu menulis ini mereka tidak duduk bersama-
sama untuk menuliskan kitabnya masing-masing, juga dilihat dari waktu penulisan tidaklah mungkin
mereka duduk bersama lalu menulis kitab masing-masing. Jika ada kesamaan di dalam
penulisan ini , itu tidak berarti bahwa penulisnya hebat, bukan pula sebab ada kerjasama, dan
bukan pula saling copy dan kutip satu dengan yang lainnya, tetapi semuanya terjadi atas dorongan
dan tuntunan daripada Roh Kudus melalui pengilhamanNya kepada penulis masing-masing, sehingga
tidak ada suatu kesalahan di dalam penulisannya. Problematika ini sering diperdebatkan banyak
pakar teologi, sehingga beberapa tidak dapat menerima kebenaran dari sisi akal dan logika manusia.
Bahkan muncul berbagai pandangan mengenai pendapat atau teori-teori yang ingin menjelaskan
mengenai keakuratan dari ketiga Injil ini . Sebagai contoh yang dapat kita lihat dalam Alkitab
yakni mengenai peristiwa Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang lain yang diceritakan
dalam ketiga Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas (Mat.8:14-17; Mrk.1:29-34; Luk.4:38-41). Cerita
ini kalau diperhatikan baik-baik menceritakan mengenai suatu peristiwa yang sama yang dilakukan
Yesus terhadap ibu mertua dari Simon Petrus. Pertanyaannya adalah: apakah ketiga-tiganya saling
mengcopy satu dengan yang lain? Jawabannya: peristiwa ini diceritakan dari tempat yang terpisah
namun bila ada suatu kesamaan cerita ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi semuanya terjadi
oleh sebab pekerjaan Roh Kudus memakai ketiga penulis ini untuk menceritakan suatu peristiwa
yang sama.
Banyak sisi manusia tidak dapat memahami dan mengerti mengenai cara berpikir Allah dalam
dunia ini, sehingga problematika yang terjadi dalam kitab Injil sinoptik bukanlah suatu pekerjaan yang
sulit bagi Allah untuk memakai ketiga penulis yakin Matius (salah satu dari 12 murid yesus), Markus
(teman sekerja Paulus & Barnabas) dan Lukas (seorang dokter, rekan Paulus) untuk menuliskan
mengenai suatu kebenaran dari tempat yang berbeda, dalam situasi yang berbeda dan dari tingkat
kehidupan yang berbeda, namun isinya banyak ditemukan unsur kesamaan dalam setiap cerita yang
ditulis oleh ketiga penulis ini . Setiap kita harus ingat bahwa Allah menciptakan alam semesta ini
dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan itu dilakukanNya dengan cara bersabda dan berfirman.
Dalam mengembangkan teologi Injil Sinoptik, sudut pandang penulis perlu diperhatikan.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat menjadi penuntun:
1. Kepada siapakah Injil-Injil itu ditujukan?
2. Mengapa para penginjil itu menulis Injil mereka?
3. Apa motivasi mereka menulis Injil mereka?
4. Dari manakah latar belakang di penulis?
5. Apakah tekanan spesifik dan ciri khas setiap penulis?
6. Apakah tema khusus setiap buku?
7. Dari manakah mereka mendapatkan sumber-sumber ini ?
8. Kapankah penulis ini menulis kitabnya masing-masing?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini dalam studi Teologi Alkitab atau Hermeneutik dalam
menentukan suatu pemahaman dari aspek teologi yang diprioritaskan masing-masing penulis. Jadi
Teologi Alkitab tergantung pada pikiran yang diperlihatkan penulis tanpa penulis secara benar dan
akurat tanpa salah sedikitpun dalam teks asli. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembimbing ke
dalam buku-buku ini diperhatikan lebih dalam seperti penulis, para pembaca, tahun, gaya, sifat,
isi dan tujuan.
A. PROBLEMATIKA INJIL SINOPTIK
Masalah yang ada dalam Injil-injil Sinoptik adalah berkaitan dengan masalah
perbedaan dan kesamaan dari beberapa cerita yang ada dalam ketiga Injil ini yang
masih banyak orang belum dapat menerimanya berdasarkan sudut pandang logika dan rasio.
Memang harus diakui bahwa hal ini bukanlah suatu hal yang mudah dan gampang untuk
menerima semua hal yang dibaca dan diketahui dalam Alkitab. Kita seringkali tidak mengerti
mengapa semua ini bisa terjadi tanpa memiliki suatu hubungan dan kerjasama yang baik dalam
mencari data, menyusun dan mengolah sampai kepada menghasilkan suatu cerita yang memiliki
kemiripannya yang akurat dan benar.
Masalah dalam injil Sinoptik jangan dipandang sebagai suatu masalah yang akhirnya
membuat ketidakpercayaan terhadap semua cerita yang ada dalam Injil Sinoptik ini .
Kita bisa menggunakan berbagai pendekatan yang dapat menolong kita untuk tidak menjadikan
masalah sebagai akhir dari segala kepercayaan yang kita miliki sehingga membuat kita berhenti
sampai disitu. Pendekatan-pendekatan yang dapat kita lakukan ada dua hal yakni pendekatan
ilmuwan dan pendekatan biblikal. Dalam pendekatan ilmuwan ada 4 teori yang dapat kita pakai
sebagai bahan pendekatan untuk mendapat informasi yang diperlukan untuk menemukan dan
memecahkan problematika yang ada dalam Injil Sinoptik dan 1 teori yang dapat kita pakai
sebagai pendekatan akurat untuk meyakini manusia mengenai masalah dalam Injil Sinoptik.
1. Pendekatan Ilmuwan
Masalah dalam Injil Sinoptik di mana kita dapat melihat dan mempelajarinya melalui
pendekatan ilmuwan. Artinya bahwa semua problematika Injil Sinoptik ini dilihat dan
didasarkan dari sudut pandang keilmuwan yang dijelaskan oleh pakar teolog, yang memang
sampai saat ini pendekatan ilmuwan belum dapat diterima secara utuh yang mampu
memberikan kepuasan bagi banyak orang. Kita harus akui bahwa sekalipun problematika Injil
Sinoptik dicari titik persoalannya melalui pendekatan ilmuwan namun tidak berarti bahwa
kesemuanya itu dapat dibuktikan secara benar berdasarkan pembuktian yang akurat, namun
pendekatan ilmuwan hanya bersifat interpretasi untuk menolong banyak orang untuk
memahami mengenai problematika yang terjadi dalam ketiga Injil Sinoptik.
Dalam pendekatan ilmuwan yang terdiri dari 4 teori pendekatan menunjukkan bahwa
keempat teori ini masing-masing mempunyai nilai kelebihan atau keunggulan dan juga
memiliki nilai kekurangan atau kelemahan yang dipandang dari sudut biblikalnya. Nilai
keunggulan dari keempat teori ini menunjukkan kepada kita bahwa teori ini dapat diterima
secara akalia dan rasio manusia dengan menggunakan pendekatan ilmuwan yang bersifat
interpretasi, sedangkan nilai kelemahan adalah bahwa mereka tidak dapat membuktikan
secara akurat dan terpercaya sebagaimana yang mampu diukur melalui pendekatan biblikal
atau imanen.
a. Teori Tradisi Lisan
1) Matius : Matius mencatat ajaran Tuhan Yesus dalam bahasa Aram dengan
menggunakan dialek bahasa Ibrani
2) Markus : Markus merupakan ahli penerjemah Petrus dan mencatat apa yang
diingatnya tetapi tidak berututan
3) Lukas : Lukas sebagai suatu reproduksi dari kotbah-kotbah Paulus dan kemudian
dibukukan
Teori “Tradisi Lisan” menjelaskan bahwa ketiga Injil ini mendapat informasi dan
data dari berbagai sumber yang berbeda dan para penulis menjelaskan berdasarkan
pada kapabilitas yang mereka miliki. Mereka tidak berani menuliskan sesuatu yang
dijadikan sebagai kebenaran dengan cara merekayasa atau memanipulasi data sebab
itu akan membahayakan banyak orang dan reputasi mereka sebagai seorang penulis.
Pertama, Matius jelas mendapat data dan informasi secara langsung sebab
Matius merupakan saksi hidup dan saksi mata mengenai kisah perjalanan dan pelayanan
Tuhan Yesus sejak dipanggil sampai kepada kenaikan Tuhan Yesus ke sorga sebab
Matius adalah salah satu dari 12 murid yang dipanggil oleh Yesus (Mat.9:9-13; 10:1-3)
Kedua, Markus bukanlah salah satu dari murid Tuhan Yesus namun Markus
adalah seorang petobat Kristen yang dibesarkan di Yerusalem (Kis.12:12). Sekalipun
Markus bukan salah satu dari murid Tuhan Yesus, tetapi Markus merupakan murid dari
Paulus, Barnabas dan Petrus, sebab Markus banyak belajar dari ketiga orang ini.
Markus mendapat data dari berbagai informasi di antaranya dari Paulus (Kis.13:1-13;
Kol.4:10; Fil.1:24), Barnabas (Kis.15:39) dan Petrus (1Ptr.5:13). Namun kemungkinan
besar data yang akurat didapatkan dari Petrus yang juga adalah salah satu dari 12 murid
Tuhan Yesus dan Markus juga dikenal sebagai juru bahasanya Petrus.
Ketiga, Lukas bukan salah satu dari murid Yesus dan juga bukan salah satu dari
murid para rasul, tetapi pekerjaan Lukas dikenal sebagai seorang dokter. Lukas
terpanggil untuk menuliskan suatu kebenaran Allah yang berkaitan dengan kisah
perjalanan kehidupan Yesus sampai kenaikan Yesus ke sorga, dengan cara mencari dan
menemukan sebanyak mungkin data dan informasi, kemudian diteliti dengan seksama
dan setelah itu menuliskannya sebagai suatu kebenaran yang absolut (Luk.1:1-4).
b. Teori Hipotesis Dua Dokumen
Teori “Hipotesis Dua Dokumen” menjelaskan bahwa data yang diperoleh dalam
Injil Matius dan Ijil Lukas bersumber dari Injil Markus, artinya bahwa sumber-sumber yang
diperoleh bukan didasarkan dari hasil pencarian sendiri, namun kedua Injil ini
mengambil data yang sudah dijelaskan dalam Injil Markus. Injil Markus dikatakan sebagai
salah satu sumber utama yang dijadikan oleh Matius dan Lukas untuk mendapatkan
sebanyak mungkin data yang mereka perlukan.
Di samping itu juga dikatakan bahwa kelengkapan data yang ada dalam Injil
Matius maupun Injil Lukas tidak semuanya diperoleh dari Injil Markus, namun ada satu
sumber yang dipakai Matius dan Lukas sebagai sumber untuk memperoleh informasi
yang perlukan yang dinamakan dengan sumber Q. Kata “Q” berasal dari bahasa Jerman
“Quelle” yang mengandung pengertian sumber1.
Studi masalah dari teori hipotesis dua dokument yang berkaitan dengan sumber
“Q” yang paling menyolok adalah berkaitan dengan peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus
oleh Yohanes Pembaptis dan peristiwa mengenai pencobaan Tuhan Yesus di Padang
Gurun. Jadi kesimpulannya bahwa Matius menggabungkan sumber-sumbernya,
sedangkan Lukas menyatukan sumber-sumbernya.
c. Teori Sumber Matius
Teori “Sumber Matius” atau dengan kata lain dikenal dengan sebutan “Teori
Prioritas Injil markus.” Teori ini sudah muncul pada abad pertama dan kemudian hilang,
namun beberapa waktu kemudian muncul kembali lagi pada abad pertengahan yaitu
abad ke-17 sampai abad ke-18. Teori ini jelas lebih menekankan dan menonjolkan
keakuratan dari Injil Matius sebagai sumber utama dan yang pertama kali ditulis
dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas. Teori ini menekankan bahwa Markus
dan Lukas menggunakan Injil Matius sebagai sumber utama dalam penulisan Injil
mereka. Dari gambar yang dapat kita lihat bahwa ketiga Injil Sinoptik ini masing-masing
mendapatkan data dari beberapa sumber yang diperlukan antara lain.
Injil Matius. Matius mendapatkan dua sumber yang berbeda, yaitu: pertama,
sumber utamanya yang tidak lain dari pengalamannya bersama Tuhan Yesus sebagai
saksi mata dan saksi hidup di mana Matius melihat secara langsung, sehingga tidak
diragukan lagi mengenai sumber yang diperolehnya. Kedua, Matius mendapat sumber
dari para saksi mata yang juga tidak luput menyaksikan mengenai kisah kehidupan
Tuhan Yesus yang dimulai dari peristiwa kelahiran sampai kepada kenaikan Tuhan
Yesus ke sorga. Kedua sumber ini bagi Matius sudah sangat cukup untuk menjadikan
sebagai sumber utamanya di dalam penulisan Matius.
Injil Lukas. Dalam hal ini Lukas juga mendapatkan data dari dua sumber yang
berbeda, yaitu: pertama, Lukas mendapatkannya dari para saksi mata yang hidup pada
zaman Tuhan Yesus dan yang turut mengambil bagian secara langsung dalam
kehidupan pelayanan Tuhan Yesus. Kedua, Lukas juga mendapat sumber yang akurat
dan terpercaya dari salah satu orang saksi mata dan saksi hidup yakni Matius yang
adalah salah satu dari 12 murid Tuhan Yesus yang tidak meungkin menginformasikan
data yang salah dan keliru kepada Lukas.
Injil Markus. Dalam Injil Markus di mana Markus mendapatkan data dari tiga
sumber yang berbeda dan dapat dipercaya antara lain: pertama, Markus mendapat
sumber dari Matius sebagai salah satu dari saksi mata yang melihat secara langsung
peristiwa mengenai kisah kehidupan Tuhan Yesus sejak dipanggil sampai kepada
kenaikan ke sorga. Kedua, Markus mendapat informasi data dari Lukas yang dianggap
lebih dahulu mendapatkan informasi dari Matius. Ketiga, Markus mendapat informasi
data yang akurat juga dari salah satu dari 12 murid Tuhan Yesus yakni Simon Petrus
yang mana dalam hal ini Markus banyak belajar dari Petrus dan mendapatkan banyak
sumber indormasi yang dibutuhkan untuk menuliskan Injil Markus atau dengan kata lain
bahwa Markus adalah anak rohani dari Simon Petrus.
d. Teori Ketergantungan Timbal Balik
1
4
Dalam teori “Ketergantungan Timbal Balik” berpendapat bahwa Injil Matius dan
Injil Lukas meminjam atau menggunakan Injil Markus sebagai sumber utama di dalam
menulis kedua Injil ini . Data yang diperoleh dari Matius dan Lukas kemudian
diseleksi dan diteliti dengan baik kemudian dibukukan sebagai suatu kebenaran yang
ditujukan kepada orang Yahudi dan juga kepada orang Yunani dan orang Romawi
Kristen. Bagi teori ketergantungan timbal balik ini mengatakan bahwa Injil Markus
merupakan sumber utama yang kemudian dijadikan sebagai dasar kitab Injil Matius dan
Injil Lukas.
Untuk melengkapi data dan informasi yang diperlukan baik dalam Injil Matius
maupun Injil Lukas, maka menurut teori ketergantungan timbal balik mengatakan bahwa
penulis Matius dan penulis Lukas saling meminjamkan data dan informasi mereka
mengingat bahwa pada zaman dahulu tidak ada undang-undang yang mengatur
mengenai hak cipta, sehingga Matius maupun Lukas memanfaatkan dokument yang ada
secara tertulis dengan bebas dan sukarela. Dengan dasar inilah maka data yang dimiliki
oleh Matius pemungut cukai dengan dokter Lukas mengalami pertukaran yang
menyebabkan terjadinya beberapa unsur kesamaan di dalam berbagai cerita yang
ada dalam Injil Matius maupun Injil Lukas.
Sekalipun Injil Matius dan Injil Lukas dikatakan saling meminjam data dan
informasi, namun di sisi lain masih banyak ditemukan beberapa peristiwa yang ditulis
berdasarkan sudut pandang masing-masing, yaitu:
Pertama, kisah mengenai silsilah Yesus. Ada ada perbedaan mengenai
silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Dalam Matius 1:1-17, silsilah Yesus
dimulai dari Abraham sampai kepada Daud ada empatbelas keturunan, generasi kedua
dari Daud sampau kepada pembuangan ke Babel ada empatbelas keturunan, dan
generasi ketiga dari pembuangan Babel sampai Tuhan Yesus Kristus ada empat belas
keturunan. Jadi total semuanya ada empat puluh dua keturunan. Sementara dalam Lukas
(3:23-38), silsilah Yesus Kristus dimulai dari Tuhan Kristus mundur sampai kepada Adam
yang semuanya berjumlah lima puluh dua keturunan. Kedua cerita silsilah ini telah
menunjukkan satu perbedaan yang cukup tajam.
Kedua, kisah mengenai pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di
sungai Yordan. Dalam Injil Matius (3:13-17) menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi
ketika Tuhan Yesus baru saja datang dari Galilea ke sungai Yordan dan meminta agar
Yohanes Pembaptis membaptis Yesus. Ketika Yesus selsai dibaptis dikatakan Yesus
segera keluar dari air dan pada saat itulah langit terbuka dan Roh Kudus turun dalam
bentuk burung merpati ke atas Yesus. Sedangkan dalam Injil Lukas (3:21-22)
menjelaskan bahwa banyak orang yang dibaptis pada saat Yesus dibaptis dan setelah
Yesus dibaptis Ia langsung berdoa dan sedang dalam doa itu terbukalah langit dan Roh
Kudus dalam rupa burung merpati turun ke atas Yesus.
Ketiga, kisah mengenai pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun. Dalam
Matius (4:1-11) menjelaskan bahwa ada 3 bentuk pencobaan yang dilakukan Iblis
terhadap Yesus, antara lain: (a) membuat batu jadi roti (ay.3,4); (b) membawa Yesus ke
bubungan Bait Allah dan memerintahkan Yesus untuk menjatuhkan diriNya ke bawah
(ay.5-7); (c) memperlihatkan semua kerajaan dunia kepada Tuhan Yesus (ay.8-10).
Tetapi dalam Injil Lukas (4:1-13) menjelaskan bahwa ada 3 bentuk pencobaan yang
dilakukan iblis terhadap Yesus, antara lain: (a) membuat batu mejadi roti (ay.3-4); (b)
memperlihatkan semua kerajaan dunia kepada Tuhan Yesus (ay.5-8); (c) membawa
Yesus ke bubungan Bait Allah dan menyuruh Yesus untuk menjatuhkan diriNya ke
bawah (ay.9-11).
Dari ketiga contoh masalah Matius dan Lukas di atas, maka tidak mungkin
kedua-duanya saling menukarkan atau saling meminjamkan data dan informasi yang
sama sebab ada gaya berpikir yang tolak belakang dari keduanya. Hal ini seirng
menimbulkan suatu problematika yang cukup tajam mengenai siapa yang benar dan dari
manakah sesungguhnya data yang mereka peroleh, apakah data ini didapatkan
dari satu sumber atau diperoleh dari hasil saling meminjamkan. Oleh sebab itu teori
ketergantungan timbal balik perlu dikaji ulang untuk menemukan dan mendapatkan data
yang akurat dan terpercaya yang dapat menjadi berkat bagi semua orang.
2. Pendekatan Biblikal
Untuk menyelesaikan problematika yang ada dalam Injil Sinoptik, yakni Matius,
Markus dan Lukas, maka pendekatan yang dilakukan dengan cara studi biblikal. sebab bagi
kita pendekatan studi biblikal inilah yang dapat menyelesaikan dan menuntaskan masalah
yang selama ini diperdebatkan para teolog yang berkaitan dengan masalah Sinoptik.
Pendekatan melalui studi biblikal ini diharapkan mampu memberikan kepuasan bagi
semua orang untuk mendapatkan satu jawaban mengenai problematika yang terjadi dalam
ketiga Injil ini . Memang untuk menuntaskan masalah Sinoptik tidaklah mudah, namun
tidak berarti bahwa masalah ini tidak dapat ditemukan solusinya. Solusi yang paling
tepat, akurat dan terpercaya dapat ditemukan jika kita memulainya dengan menggunakan
pendekatan studi biblikal.
Studi Biblikal merupakan solusi yang tepat sebab prinsip-prinsipnya berdasarkan
Alkitab yang isinya tanpa salah dalam teks asli. Alkitab adalah isi hati Allah yang dituangkan
secara tertulis kepada manusia dengan tujuan agar manusia dapat memahami dan mengerti
secara benar mengenai kepedulian dankasih sayang Allah yang tidak pernah berkesudahan
di dalam kehidupan manusia.
Pemahaman biblikal selalu mendasarkan prinsip pengilhaman Roh Kudus yang
berkuasa atas penulis kitab suci, sehingga isi dari semua Injil Sinoptik adalah dari Allah.
Dalam hal kemiripan teks dapat menunjukkan bahwa mereka semua diilhami oleh Roh Kudus
yang sama, yang memberikan wahyu kepada masing-masing sesuai tujuan Allah dalam kitab
mereka.
PENDEKATAN Biblikal merupakan satu pendekatan yang akurat dan terpercaya
sebab Allah telah mempercayakan si penulis yang telah dipilihNya di bawah pengontrolan
Roh Kudus yang memimpin, menjaga, menguasai dan menggerakkan hati si penulis secara
sadar untuk menyatakan kehendak Allah kepada manusia tanpa salah dan keliru sesuai yang
tertulis dalam naskah asli. Hal ini menunjukkan bahwa dari ketiga penulis Injil Sinoptik tidak
ada yang saling menyontek, tidak ada yang saling meminjamkan data dan tidak ada yang
saling menukar data mereka, namun ketiga penulis ini dalam menulis Injilnya masing-masing
semata-mata didasarkan sebab pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami setiap penulis untuk
menuliskan tanpa salah dan keliru sesuai naskah aslinya.
Matius, Markus dan Lukas adalah ketiga penulis kitab Injil Sinoptik yang dipakai oleh
Allah secara langsung untuk menuliskan semua kebenaran yang ingin Allah tuangkan kepada
manusia secara tertulis. Perlu dimengerti bahwa sekalipun ketiga tulisan ini ditulis dari tempat
yang berbeda, dalam jangka waktu yang berbeda, latarbelakang yang berbeda, tetapi
ditemukan ada beberapa bagian peristiwa yang mengandung unsur kesamaan dalam cerita
mereka bukanlah sesuatu yang aneh, sebab kita tahu bahwa ketiga penulis ini langsung
dipimpin dan dikontrol oleh Roh Kudus yang adalah Pribadi Allah Ketiga dari Allah Tritunggal,
sehingga jika ada kesamaan cerita itu semata-mata disebabkan sebab pekerjaan Roh
Kudus dan bukan didasarkan pada keinginan manusia atau rekayasa manusia semata
(2Ptr.1:21).
Pendekatan biblikal inilah yang menjadi solusi dan jawaban yang terpercaya untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi dalam Injil Sinoptik yang dipertentangkan dan
diperdebatkan di kalangan para teolog. Keempat teori di atas tidak mampu untuk menjawab
masalah yang ada di dalam Injil Sinoptik sebab keempat teori ini menggunakan
pendekatan ilmuwan yang bersifat interpretasi sehingga teori-teori ini saling
bertentangan dan bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu diperlukan
pendekatan Biblikal yang mampu mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang
ada di dalam Injil Sinoptik secara tuntas, akurat dan terpercaya.
B. KRITIK TERHADAP INJIL SINOPTIK
Masih ada saja ketidakpuasan manusia terhadap suatu kebenaran sehingga tidak
mampu menerima secara iman, sehingga pendekatan yang dilakukan ialah melihat kelemahan
dan kekurangan yang ada dalam Alkitab sebagai langkah awal untuk merendahkan
kewibawaan Alkitab sebagai suatu kebenaran yang absolut. Pendekatan melalui intelektual
duniawi yang mengandalkan akal/rasio sebagai barometer dalam menerima dan mengukur suatu
kebenaran berdampak pada penolakan terhadap kebenaran Alkitab (yang memang seharusnya
tidak diukur melalui akal atau rasio tetapi diukur melalui studi biblikal) apabila menemukan
kendala apabila ada sesuatu hal yang tidak mampu diukur dengan rasio manusia.
Penolakan yang berwujud pada timbulnya suatu kritikan yang tajam terhadap kebenaran
Alkitab terjadi sebab manusia tidak mampu menemukan satu kebenaran yang dapat dipercayai,
6
sehingga interpretasi melalui kritikan diharapkan dapat memberikan solusi yang diharapkan
banyak orang yang akhirnya dapat memberikan rasa kepuasan temporal.
Kritikus tingkat tinggi selalu melihat peristiwa dari sisi kemanusiaan saja dan melepaskan
segala sesuatu dari sisi keilahian, sehingga menjadikan Alkitab bukan Firman Allah tetapi sebagai
kumpulan buku yang berisi Firman Allah, yang berarti bahwa Alkitab mengandung unsur
kesalahan dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga kebenaran-kebenaran dalam Alkitab
tidak dapat dijadikan sebagai pedoman mutlak bagi iman Kristen.
Kritikan terhadap Alkitab merupakan satu serangan keras yang merendahkan wibawa
Alkitab sebagai otoritas tertinggi dari Allah. Manusia kadang tidak puas dengan sesuatu yang
tidak dapat diukur dengan akalnya, sehingga selalu memandang Alkitab sebagai sesuatu yang
mengandung unsur-unsur kesalahan dan menjadi Firman Allah kalau Alkitab itu dapat mengubah
hidup manusia. Ada beberapa pandangan mengenai Alkitab berikut ini:
Pertama, pandangan Injili. Pandangan Injili mengatakan bahwa Alkitab adalah Firman
Allah tanpa salah berdasarkan pada naskah aslinya. Artinya semua kata-kata yang ada
dalam Alkitab pada waktu kita membacanya (apakah kita mengerti atau tidak mengerti apakah
kata-kata Alkitab memberkati atau tidak memberkati apakah kata-kata dalam Alkitab menyentuh
hati kita atau tidak menyentuh hati kita), adalah Firman Allah. Kesimpulan: Alkitab tidak bisa
berubah sedangkan manusia dapat berubah.
Kedua, pandangan Liberal. Pandangan ini mengatakan bahwa Alkitab hanya berisi
Firman Allah. Artinya tidak semua kata-kata dalam Alkitab adalah Firman Allah, sebab ditulis
oleh manusia yang berdosa yang banyak memiliki kelemahan, kekurangan ketidaksempurnaan
dan tidak luput dari kesalahan, sehingga dikatakan bahwa Alkitab merupakan buku catatan
manusia biasa saja yang tidak mempunyai kelebihan dengan buku-buku yang lain. Kesimpulan:
Alkitab bisa berubah sedangkan manusia tidak bisa berubah.
Ketiga, pandangan Neo Ortodoks. Pandangan ini mengatakan bahwa Alkitab hanya
menjadi Firman Allah jika kata-kata dalam Alkitab itu dapat menyentuh hati manusia, tetapi jika
kata-kata dalam Alkitab tidak menyentuh hati manusia maka itu bukanlah Firman Allah. Sehingga
menurut Neo Ortodoks Alkitab bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. Kesimpulan: Alkitab bisa
berubah sedangkan manusia tidak bisa berubah.
Manusia, sampai kapanpun tidak pernah puas dengan apa yang dia pikirkan melalui
rasionya, sebab akal manusia sangat terbatas sehingga tidak mungkin mampu untuk memikirkan
Allah yang adalah Pribadi yang tidak terbatas dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi
maupun yang belum terjadi dalam dunia ini. Pikiran manusia begitu picik dan sempit, sehingga
tidak mampu untuk menyelami keMahatahuan Allah yang jauh melebihi pengetahuan manusia.
Manusia harus mencapai standard Allah maka manusia akan mengalami kepuasan dalam hidup
ini. Ada baiknya kita melihat gaya kritik teks terhadap Alkitab:
1. Kritik Sejarah (Historical Criticism), yaitu usaha mencari kesalahan pada narasi dari
peristiwa paralel, acapkali bersifat mencari kesalahan atau berusaha untuk mendapatkan
kesalahan-kesalahan dan tidak berusaha untuk mencari kebenaran-kebenaran yang bisa
membangun dan memberkati banyak orang. Dengan mencari kesalahan-kesalahan yang
ada dalam Alkitab sebagai tujuan untuk dijadikan sebgai baha acuan untuk menjatuhkan
dan mempermalukan wibawa Alkitab. Penekanan dalam kritik sejarah hanya berfokus kepada
peristiwa masa lampau yang sudah pernah terjadi, sehingga bila ada peristiwa-peristiwa yang
sekiranya tidak dapat dibuktikan dan dicermati melalui akal, maka hal itu akan menjadi bahan
kritikan yang tajam terhadap peristiwa ini . Salah satu contoh mengenau kisah kejatuhan
manusia dalam dosa (Kej.3:1-8). Kelemahan yang dimiliki teori Kritik Sejarah adalah bahwa
mereka lupa mengenai Pribadi Allah yang dikenal sebagai Pencipta alam semesta ini dan
yang telah membuat segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada, sehingga sekalipun Musa
tidak hidup pada zaman kejatuhan manusia ke dalam dosa, tetapi Allah sanggup memakai
Musa untuk menuliskan mengenai suatu peristiwa yang pernah terjadi sekalipun Musa tidak
hidup dalam zaman ini . Allah melalui pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami Musa
akan segala peristiwa masa lampau sehingga Musa dapat menuliskan dengan benar dan
akurat. Teori kritik sejarah hanya melihat dari sisi historisnya saja, tetapi tidak melihat dari sisi
keilahian Allah.
2. Kritik Sumber (Source Criticism). Usaha mencari sumber utama dengan tidak
mempercayai akan tuntunan dan pekerjaan Roh Kudus yang telah membimbing, menguasai,
menjaga dan memampukan si penulis untuk menuliskan kebenaran-kebenaran tanpa harus
mengkopy dari sumber yang lain. Sebagai contoh mengenai kisah pencobaan Yesus di
padang gurun yang ada dalam Injil Matius 4:1-13, di mana sumber utamanya Markus
yang mengambilnya dari sumber lain yakni dalam Injil Lukas 4:1-13. Kesamaan kata-kata
juga dinyatakan sebagai adanya sumber yang sama, dan menolak pernan Allah dalam
pewahyuan dan menganggap bahwa Alkitab ada salahnya sehingga memerlukan sumber-
sumber lain sebagai bukti yang akurat dan absolut. Kelemahan yang dimiliki teori Kritik
Sumber adalah hanya menekankan mengenai sumber utama yang dapat digunakan sebagai
bahan untuk dipakai oleh orang lain sebagai sumber yang digunakan di dalam menulis Injil
mereka. Satu hal yang menjadi titik kelemahan dari Kritik Sumber adalah di mana mereka
menolak peranan Allah dalam pewahyuan melalui pekerjaan Roh Kudus yang mengilhamikan
kepada setiap penulis untuk menyatakan kebenaran-kebenaran Allah. Selain itu juga mereka
tidak mempercayai sepenuhnya otoritas Alkitab sebagai kebenaran yang absolut tanpa salah
dalam naskah aslinya, sehingga mereka sangat merendahkan kewibawaan Alkitab sebagai
sumber kebenaran yang dapat dipercayai. Alasan yang mendasar di mana teori Kritik Sumber
tidak memakai Alkitab sebagai dasar untuk berpijak, sebab menganggap bahwa Alkitab ada
salahnya, sehingga teori Kritik Sumber harus mencari sumber-sumber yang lain selain Alkitab
sebagai bukti absolut.
3. Kritik Redaksi (Redaction Criticism). Mencari kesalahan lebih mudah dan gampang dari
pada menemukan kebenaran yang dapat mengubah hidup manusia. Teori Kritik Redaksi
lebih menekankan dan memfokuskan kepada kritik teks atau naskah di bandingkan dengan
mengkritik mengenai masalah historikalnya ataupun masalah sumbernya. Dalam teori ini
dikatakan bahwa kisah mengenai para gembala, orang majus, palungan Betlehem
merupakan suatu cerita fiktif dan mitos. Cerita ini sengaja dibuat oleh si penulis untuk
mernarik simpatisan dan daya tarik pembaca akan cerita mengenai kisah kelahiran Yesus
dalam palungan yang dikunjungi oleh para gembala dan orang majus. Penulis berusaha
untuk menciptakan suatu redaksi cerita yang mampu menarik minat banyak orang untuk
mengetahui sehingga akhirnya banyak orang harus membacanya. Bagi teori Kritik Redaksi
mengatakan bahwa sesungguhnya cerita mengenai kisah kelahiran Yesus itu hanya
rekayasa si penulis dengan menambah beberapa adegan tambahan seperti para gembala
dan orang majus untuk membuat kisah ini semakin menarik untuk dibaca orang. Kelemahan
yang ada di dalam teori Kritik Redaksi adalah mereka hanya mempersoalkan mengenai
redaksi yang dibaca yang mana ketika direnungkan maka hal ini tidak dapat diterima secara
akal atau rasio yang berdampak pada kesimpulan bahwa kisah para gembala dan orang
majus itu hanya mitos. Teori ini lupa bahwa peristiwa mengenai kisah kelahiran Yesus
diceritakan dalam Alkitab sebagai otoritas kebenaran yang absolut. Teori ini tidak melihat
kisah ini dari sisi keilahian Allah yang melalui pekerjaan Roh Kudus telah menggerakkan si
penulis untuk menulisnya dengan pengotrolan Roh Kudus, sehingga tidak ada satu kata yang
direkayasa atau dimanipulasi penulis.
Teori-teori di atas kebanyakan hanya bersifat kesimpulan-kesimpulan tak berdasar.
Terlalu banyak spekulasi dalam proses pengambilan keputusan. Hanya spekulasi untuk
menyelesaikan masalah sesaat. Juga agak sulit diterima bahwa Markus ditulis dahulu sebab
hal itu bertentangan dengan keyakinan bapak-bapak gereja mula-mula dan tokoh-tokoh abad
ke-18. Beberapa faktor penting yang harus diwaspadai ialah:
a. Teori-teori di atas hanya menekankan aspek manusia saja dari Firman Allah dan aspek
ilahi diabaikan secara total. Lihat Yohanes 14:26: janji Tuhan di ruang atas bahwa Ia
akan mengingatkan mereka mengenai rincian-rincian ajaran-ajaran itu.
b. Ada banyak saksi mata yang melihat dan mendengar pengajaran Yesus dan
menyediakan informasi-informasi yang jelas dan dapat dipercaya (Luk.1:2-3).
c. Para penulis memiliki pengetahuan orisinil dan sebagai saksi mata yang menyaksikan
langsung segala peristiwa-peristiwa yang pernah dibuat oleh Yesus ketika Ia masih di
bumi (Luk.1:3; 1Yohanes 1:1-3)
d. Ada pula yang menulis sebagai peristiwa wahyu itu sendiri langsung dari Tuhan Yesus
(Gal.1:11-12; Ef.3:3)
C. PERSAMAAN INJIL SINOPTIK
Injil Matius, Markus dan Lukas disebut sebagai Injil Sinoptik sebab dikenal akan
unsur kesamaan di dalam cerita-cerita yang dituliskan dalam ketiga Injil ini . Beberapa
hal yang menonjol dalam kitab Injil Sinoptik adalah:
Pertama,ketiga penulis mengkisahkan mengenai kisah kehidupan Yesus dari
kelahiran sampai pada kenaikan ke sorga, di mana selalu menceritakan Yesus lebih unggul
dari pada manusia mana pun dan dijadikan tolak ukur bagi manusia yang lainnya. Selain itu
Tuhan Yesus juga ditegaskan sebagai manusia yang kudus, tidak bercela dan tidak ada
benih dosa di dalam tubuh Yesus. Yesus Kristus dikenal sebagai Pribadi yang memiliki sifat
8
keAllahan dan juga memiliki sifat kemanusiaan. Dalam sisi kemanusiaan Yesus sekalipun
lahir seperti layaknya manusia lain, namun Dia tidak memiliki benih dosa di dalam diriNya
meskipun di kandung di rahim Maria yang adalah manusia berdosa.
Kedua, kisah mengenai pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun setelah berpuasa
40 hari 40 malam dikisahkan dalam Injil Sinoptik. Setelah melewatimasa berpuasa Yesus
merasa lapar dan saat itulah Iblis mencobai Tuhan Yesus. Memang ada perbedaan cara
penceritaan khususnya dalam Injil Matius dan Injil Lukas.
Ketiga, dalam Injil Sinoptik banyak menyorot dari sisi misi Tuhan Yesus. Misi Yesus
sebagai perhatian puncak dari para penulis Sinoptik. Ini menyangkut kehidupan, pekerjaan
dan pelayanan Yesus selama di bumi sampai di salib. Salib merupakan titik utama
pembicaraan Sinoptik yang menjelaskan mengenai karya penebusan yang dilakukan Kristus
dengan sempurna dan karya ini mempengaruhi seluruh tulisan lain dalam Perjanjian Baru.
Selib merupakan lambang kepahitan bagi kesempurnaan karya penebusan Yesus Kristus
demi keselamatan umat manusia.
D. RINGKASAN INJIL SINOPTIK
Hanya ada tiga Injil yang disebut Injil Sinoptik, yaitu: Matius, Markus dan Lukas,
sedangkan Injil Yohanes tidak termasuk. Meski Yohanes tidak termasuk Sinoptik, tetapi peristiwa-
peristiwa yang dicatat oleh Yohanes adalah sama sekalipun ada unsur yang berbeda dengan
Sinoptik, namun kisah kehidupan Tuhan Yesus dicatat dalam Yohanes maupun Sinoptik. Catatan
tentang kehidupan Yesus agak sedikit dalam Yohanes sedangkan dalam Sinoptik hampir seluruh
isinya bercerita tentang kehidupan Tuhan Yesus dari kelahiran sampai pada kenaikan Tuhan
Yesus ke sorga. Yohanes lebih menekan pada pokok-pokok pengajaran yang disampaikan
Tuhan Yesus. Unsur teologis lebih banyak dalam Yohanes, sedangkan dalam Sinoptik unsur
biografis lebih diutamakan.
E. PERBANDINGAN KE-4 INJIL (MATIUS, MARKUS, DAN LUKAS)
Dalam Kitab Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sekalipun
dalam keempat kitab Injil itu ada banyak cerita yang sama, tetapi sebetulnya keempat penulis
Injil itu mempunyai penekanan dan tujuan yang berbeda. Dan kalau kita membaca keempat kitab
Injil itu maka akan terlihat bahwa mereka saling melengkapi satu dengan yang lain. Illustrasi:
Kalau kita mau membangun rumah, sedikitnya dibutuhkan 3 buah gambar dari rumah yang akan
dibangun (dari atas, dari depan, dari samping). 3 buah gambar itu menggambarkan rumah yang
sama, tetapi menggambarkannya dari sudut yang berbeda, sehingga mereka saling melengkapi
satu dengan yang lain.
1. Matius
a. Matius menekankan Yesus sebagai Raja.
Ini tidak berarti bahwa Matius tidak menyatakan Yesus sebagai manusia
(penekanan Lukas), sebagai Allah (penekanan Yohanes), sebagai hamba (penekanan
Markus), dsb. Tentu ia juga melakukan hal-hal itu, tetapi penekanan dari Matius adalah
penggambaran Yesus sebagai Raja. Hal-hal yang menunjukkan bahwa Matius
menekankan Yesus sebagai Raja:
1) Mat 1:1 menunjukkan bahwa Yesus disebut sebagai ‘anak Daud’ (raja terbesar
bangsa Israel).
2) Mat 2:1-12 menunjukkan orang-orang Majus mencari Raja yang baru dilahirkan, dan
menyembah dan memberi persembahan kepadaNya.
3) Mat 28:18 – “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan
segala kuasa di sorga dan di bumi”. Ini betul-betul merupakan ucapan yang cocok
bagi seorang Raja.
b. Matius menunjukan tulisannya untuk orang Yahudi.
Ini lagi-lagi tidak berarti bahwa Injil Matius ini bukanlah Firman Tuhan untuk
orang-orang non Yahudi. Tentu Injil Matius ini juga merupakan Firman Tuhan bagi kita
yang bukan Yahudi. Tetapi bagaimanapun tujuan orisinil penulisan Injil Matius ini adalah
untuk orang Yahudi. Hal ini perlu diketahui sebab kadang-kadang bisa berguna dalam
penafsiran. Bahwa Matius memang menulis untuk orang Yahudi, bisa terlihat dari:
1) Yesus disebut sebagai ‘anak Abraham’ (Mat 1:1), kepada siapa janji tentang bangsa
pilihan Allah itu pertama-tama diberikan.
2) ada 11 x kalimat ‘supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi’ (1:22
2:15,17,23 4:14 8:17 12:17 13:35 21:4 26:56 27:9).
Dari sini terlihat bahwa Matius selalu berusaha menghubungkan Yesus dengan
Perjanjian Lama. Matius bermaksud untuk menunjukkan kepada orang Yahudi bahwa
Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Hal ini penting untuk orang
Yahudi yang mempercayai Perjanjian Lama sebagai Firman Tuhan. Mujizat pertama
yang dicatat oleh Matius adalah penyembuhan orang yang sakit kusta (Mat 8:1-4),
sebab kusta merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh orang Yahudi. Dengan
demikian Matius berkata kepada orang-orang Yahudi itu: Yesus berkuasa untuk
menyembuhkan orang dari penyakit yang paling kamu takuti itu!
Catatan: Memang dalam Mat 4:23-25 sudah ada mujijat penyembuhan, tetapi disana
hanya diceritakan secara umum, tidak secara specific / khusus. Mat 8:1-4 adalah mujijat
penyembuhan pertama dimana Matius menceritakannya secara specific.
2. Markus
a. Markus menggambarkan / menekankan Tuhan Yesus sebagai hamba.
Hal-hal yang menunjukkan bahwa Markus memang menekankan Yesus sebagai seorang
hamba:
1) Dalam Injil Markus tidak ada silsilah Yesus, sebab tidak ada orang yang
mempersoalkan silsilah seorang hamba.
2) Yesus sudah mulai melayani pada Mark 1:14. Bandingkan dengan Injil Matius dan
Lukas, dimana Yesus baru mulai melayani pada pasal 4.
b. Markus menujukan tulisannya untuk orang Roma.
Ini terlihat dari fakta yang menunjukkan bahwa dalam seluruh Injil Markus, ia hanya 2x
menunjukkan suatu peristiwa sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama
(Mark 1:2 Mark 15:28). Dan dalam Kitab Suci Indonesia, Mark 15:28 itu ada dalam tanda
kurung tegak, yang menunjukkan bahwa itu merupakan ayat yang diragukan /
diperdebatkan keasliannya. Jadi mungkin sebetulnya hanya 1 x Markus menunjukkan
suatu peristiwa sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa
Markus mulai meninggalkan alam Yahudi.
3. Lukas
a. Lukas menggambarkan Yesus sebagai manusia.
Hal-hal yang menunjukkan bahwa Lukas menekankan Yesus sebagai manusia:
1) Dalam Injil Lukas ada silsilah Yesus (Luk 3:23-38), sebab orang Yahudi
mementingkan silsilah (bdk. Bil 1:18). Tetapi berbeda dengan silsilah Yesus dalam
Injil Matius yang hanya sampai kepada Abraham, maka dalam Injil Lukas silsilah
Yesus ‘ditarik’ terus sampai kepada Adam, yang adalah manusia pertama. Kalau
Yesus betul-betul adalah manusia, maka Ia haruslah merupakan keturunan Adam.
2) Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menceritakan pertumbuhan Yesus sebagai
manusia (Luk 2:40,52), dan peristiwa yang dialami Yesus pada waktu berusia 12
tahun (Luk 2:41-51).
b. Lukas menujukan tulisannya untuk orang Yunani.
sebab itu berbeda dengan Matius yang mencatat mujijat penyembuhan orang sakit
kusta sebagai mujijat yang pertama, maka Lukas mencatat penyembuhan orang yang
dirasuk setan sebagai mujijat pertama (Luk 4:31-37). Mengapa? sebab orang Yunani
paling takut kepada roh-roh jahat. Dengan demikian, Lukas berkata kepada orang-orang
Yunani itu: roh-roh jahat yang paling kamu takuti itu, tidak ada apa-apanya dibanding
dengan Yesus! Mereka terpaksa tunduk kepada Yesus!
F. TAFSIRAN KE-4 INJIL (MATIUS, MARKUS, DAN LUKAS)
1. Persiapan-Persiapan Kedatangan Mesias dan Kekristenan
a. Persiapan melalui orang Yahudi.
Allah mempersiapkan dengan bijaksana peristiwa ini dengan berbagai hal dan berbagai
pihak, baik Yahudi maupun kafir.
1) Sejarah bangsa Yahudi.
10
Dalam kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, orang-orang Yahudi tersebar
diberbagai belahan dunia dan hidup ditengah-tengah bangsa non Yahudi di luar
Palestina. Hal ini disebut “diaspora.” Peristiwa ini terjadi sebab dosa-dosa yang
mendatangkan hukuman Allah (Ul. 28:5; Yer. 8:3; Ezr. 4:13; Ams. 7:17b). Mereka
mulai tersebar, pertama: Sargon menawan orang Israel ke Assiria (722BC). Kedua:
Nebukadnezar menawan Yehuda ke Babel (606-586BC). Sedangkan sisa Israel
pergi ke Mesir dalam jumlah yang tidak jelas, namun menurut catatan pada zaman
Alexander Agung (kaisar Yunani), mereka sudah berkembang di Mesir, dan kira-kira
tahun 20-40 AD jumlahnya sudang mencapai sejuta orang. Belum termasuk yang
menyebar ke Negara-negara lain.
2) Berkat Allah.
Dalam perjalanan bangsa Yahudi tersimpan rencana Allah yang indah,
bahwa mereka yang masih tinggal akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (Mi.
5:6). Sejarawan Yahudi mengungkapkan, “tidak ada suatu bangsa di dunia ini yang
dinyatakan dalam PB secara berkali-kali,…untuk menjadi berkat (Yoh. 7:35; Yak.
1:1; 1Pet. 1;1 sumber: Yosephus). Jalan untuk menuju tujuan itu adalah diaspora.
Allah mengerjakan suatu persiapan jalan berkat bagi bangsa lain melalui datangnya
Mesias dan juga jalan bagi kekristenan. Dengan tersebarnya orang-orang Yahudi,
paham keyahudian yang agamais pun tersebar pula. Mereka memang dibuang
sebab pelanggaran terhadap hokum Taurat, namun keyahudian mereka tidak
hancur. Inilah yang diserap oleh kekristenan. Dengan kata lain hal yang terjadi
bersamaan dengan diaspora Yahudi itu adalah persiapan kekristenan.
3) Pembentukan Sinagoge (rumah sembahyang Yahudi diperantauan).
Sinagoge adalah tempat pertemuan rohani bagi orang-orang Yahudi.
Dimana ada sedikitnya 10 orang dewasa, mereka pasti membangun sinagoge.
Yakobus membicarakan sinagoge disetiap kota (Kis. 15:21). Penyebaran Injil yang
efektif pada abad pertama melalui sinagoge sebelum penyebaran ke orang-orang
kafir (Luk. 4:16-30; Kis. 13:13-49).
4) Pemilikan dan Penggunaan Septuaginta (terjemahan PL dalam bahasa Yunani).
Kitab ini dipergunakan oleh orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani
(Gerika), atau non Yahudi berbahasa Gerika. Dengan demikian mereka
berkesempatan mendengar Injil keselamatan. Diesman, berkata “agama Yahudi
dengan Septuagintanya telah mencangkul tanah-tanah yang keras untuk bibit Injil di
dunia Barat.”disamping itu perlu dicatat bahwa Tuhan Yesus dan para rasul sering
mengutifnya. Sejarah gereja mengatakan bahwa para misionaris Kristen
menggunakan Septuaginta sebelum ada tulisan-tulisan Kristen.
5) Standar Kepercayaan Monotheisme Yahudi dan Moralitasnya.
Monotheisme artinya percaya pada hanya satu Allah dan moralitas rohani
hanya diserap oleh kekristenan. Sebab tantangan zaman ini adalah skeptisisme,
stoaisme, fatalisme, formalism, destituisme, pesimisme, dan ekskhustionisme yaitu:
suatu keadaan tanpa semangat rohani mewarnai zaman itu. Tata cara Ibadah
Yahudi (dalam hal penebusan, dan pengampunan merupakan pintu masuk bagi
pemberitaan khabar pengampunan dan penebusan oleh Kristus). Orang-orang
Yahudi yang peka terhadap firman Allah bertobat dan menjadi tokoh-tokoh gereja
pada masa pemberitaan Paulus.
6) Sekolah-Sekolah dan Perpustakaan.
Sinagoge, selain menjadi tempat sembahyang orang Yahudi, juga
dipergunakan sebagai sekolah dan perpustakaan. Disinilah Paulus memberitakan
Injil dan mengajar mereka.
7) Utusan Injil.
Pemberitaan Injil tidak lepas dari buah kegiatan mereka menyelidiki firman
Allah pada Septuaginta.
b. Persiapkan Melalui Orang Non-Yahudi.
Firman Tuhan berkata, “…apabila waktunya sudah genap.” (Gal. 4:4)
berhubungan dengan aplikasinya yaitu “penyebaran Injil atau penginjilan.”
1) Ciri Persiapannya:
Adanya perbudakan yang merajalela. Pada zaman Yunani diperkirakan ada
60 juta budak yang sangat memprihatinkan. Mereka kehilangan hak, perlidungan,
dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Kedudukan wanita pun sangat rendah.
Pengangguran terjadi dimana-mana, kejahatan meningkat, ketidaksetiaan terhadap
11
perkawinan sudah membudaya, kepercayaan kafir tidak member pengaruh terhadap
moral, tidak ada gairah hidup, kecemasan melanda masyarakat diberbagai tempat.
Dalam keadaan yang seperti itu, timbul suara yang menentang dimana-mana
perjuangan moral dan rohani yang menghendaki perubahan dan perbaikan hidup dan
kesatuan serta kemurnian kepercayaan. Keadaan ini jelas merupakan persiapan bagi
kedatangan Mesias.
2) Bahasa Yunani.
Pada masa pemerintahan Alexander Agung, bahasa Yunani sangat erat
hubungan dengan datangnya kekristenan dengan mempersatukan dunia dalam
bahasa dan kebudayaan. Yaitu Gerika kebudayaan Helenisme (kebudayaan orang-
orang Yahudi yang berbahasa Yunani) berkembang. Penghapusan perbedaan ras,
mempersatukan bangsa.
3) Bangsa Romawi.
Dari segi politik Roma berambisi mempersatukan dunia dalam satu kerajaan
yang besar yang terbentang dari Efrat, hingga Atlantik, yang menguasai 100 juta jiwa.
Ambisi itu disebut: Pax Romana dunia damai oleh Roma. Mereka yakin bahwa
merekalah yang membangun pemerintah dunia ini. Itulah sebabnya mereka
membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan baru.
2. Masyarakat Zaman Tuhan Yesus
a. Golongan Ahli Taurat. (bhs. Ibrani Sopherim dari akar kata sophar artinya menulis,
menyusun, mengatur. Bhs. Yunani Grammateus artinya ahli Taurat).
Mereka adalah golongan professional dalam pengetahuan dan penafsiran
Hukum Taurat, dan Kitab para Nabi. Mereka sangat terpandang dan memiliki wewenang
yang besar dalam agama Yahudi. Ahli Taurat zaman Yesus berbeda dengan ahli Taurat
zaman PL. Pada masa pembuangan orang-orang Yahudi yang bertobat sangat
membutuhkan guru; adanya kitab septuaginta, tersebarnya sinagoge, vakumnya nabi
mengakhibatkan setiap orang Yahudi bertanggung jawab atas penataan segenap syariat
Taurat, maka atauran atau hukum tertentu harus disarikan dari Hukum Taurat. Namun
pada zaman Tuhan Yesus, kemurnian Hukum Taurat sudah tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebab penafsiran-penafsiran mereka sering menyimpang dari
kebenaran yang dimaksud Hukum Taurat. Bahkan tuntutan Hukum Taurat sering diganti
dengan adat istiadat mereka
b. Golongan Orang Farisi (separatis, mengasingkan diri).
Penyebabnya adalah separatis berdasarkan Taurat. Sisa Yahudi yang kembali
dari pembuangan bertujuan “membangun kembali masyarakat Yahudi yang terpisah dari
semua bangsa, dengan jalan memelihara Taurat sedetail mungkin, kendati banyak
halangan untuk mewujudkan keinginan itu, semangat mereka tidak pudar, hingga
akhirnya mereka dapat mulai pada zaman Ezra tahun 458-445BC. Dan dalam masa
pemerintahan Persia, kekuasaan imam besar terus meningkat. Oleh sebab itu, raja
Persia merasa tidak perlu mengangkat Gubernur di Yehuda, maka ia menyerahkan
kepada mereka pemerintahan (politik). akhibatnya jabatan politik menimbulkan
kebobrokan, kemerosotan nilai jabatan ini. Keadaan ini semakin berbahaya yang pada
ujungnya menimbulkan banyak reaksi. Pertentangan ini tampak pada awal masa “antar
perjanjian,” para imam besar berpijak pada jabatannya yang resmi, dan para ahli Taurat
berpijak pada wibawa Taurat. Golongan imam tidak dijiwai semangat “theokrasi” dan
paling mudah kena pengaruh asing. Sebaliknya ahli Taurat dengan sungguh-sungguh
membela kemurnian dan keutuhan azas, dan terpisah dari bangsa asing. Keadaan ini
sukar dijembatani sehingga timbul perpecahan yang melahirkan golongan saduki dan
Farisi. Kecendrungan negatif orang Farisi adalah keangkuhan, kemunafikan yang
melahirkan dosa.
c. Golongan Saduki.
Kemungkinan besar mereka adalah imam-imam keturunan Zadok (2Sam. 8:17;
Yeh. 40:46; 43:19; 44:15; 48:11). Mereka ingin mempertahankan jabatannya, sebab
pada zaman Makabe, jabatan imam berpindah ketangan Wangsa Asmones. Para imam
golongan Zadok mengutamakan segi duniawi dari jabatan imam itu. sebab jabatan ini
menguntungkan baik bidang agama maupun politik, sedangkan orang Farisi
menekankan gagasan datangnya Mesias. Golongan Saduki bersifat lunak, pada zaman
Alexander Agung, mereka kompromi dengannya. Pandangan teologi mereka ialah tidak
12
percaya kepada kebangkitan orang mati secara badani dan juga tidak percaya malaikat
(Mat. 22:23)
d. Golongan Essenes (Keyahudian Batin).
Mereka hidup menurut jiwa Hukum Taurat, mengasingkan diri dari masyarakat
luas dan menjalani hidup sederhana. Mereka tidak suka perang dan bekerja sebagai
petani. Tidak punya pengaruh besar di masyarakat.
e. Golongan Herodian.
Tujuan golongan ini adalah membela pemerintah Herodes. sebab untuk
mencapai puncak harapan Yahudi, mereka mencoba menggabungkan kebudayaan
Roma dan Yahudi dan bahkan dengan berhala-berhala kafir.
f. Golongan Zelot.
Orang Zelot disebut juga Kanani (Mrk. 10:4; Luk. 6:15). Mereka adalah golongan
partai yang radikal, yang ingin membangun Israel damai dengan kekerasan. sebab
tindakan inilah, Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus pada tahun 70AD. Dan
setelah penghancuran itu, mereka mati-matian membela Taurat terhadap pengaruh
Roma dan kebudayaan Yunani.
g. Golongan Sanhedrin (Makamah Agama).
Menurut tradisi Yahudi, Sanhedrin sudah ada sejak masa 70 tua-tua dan
berlangsung terus. Mereka bertugas dalam bidang peradilan dan pemerintahan bangsa
Israel. Golongan Sanhedrin dalam PB berbeda dengan mereka. Golongan ini berdiri
pada masa Yunani berkuasa di Yerusalem (333BC) dengan nama “Majelis
Berbicara/sinode” yakni suatu badan pemerintahan yang beranggotakan para tua-tua,
dan kemudian lembaga ini menjadi “Sanhedrin.”susunan anggota 71 orang terdiri dari
satu orang imam besar, orang imam kepada yang mewakili kaum awam jasmani dan
rohani. 24 tua-tuan mewakili kaum awam dan orang biasa. 22 orang ahli Taurat. Sarat
keanggotaan: tidak cacat rohani dan jasmani; paru baya, kaya, tampan; bepengaruh
Hukum, dan pengetahuan lainnya.
3. Injil
a. Kabar Baik.
Yunani Euaggelion, artinya kabar baik atau aslinya pahala tentang berita baik.
Bahasa inggris Godspel dari bahasa Anglo-Saxon, Godspell, kisah tentang Allah,
kehidupan Kristus. Dinamai demikian sebab kitab-kitab ini melaporkan kabar
keselamatan bagi semua orang melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Mark.
1:1; 1Kor. 15:3-4). Riwayat hidup Yesus tidak akan diketahui jika Injil tidak ditulis. Injil
ditulis agar semua orang mengenal Dia (Yoh. 20:31).
b. Kepentingan.
sebab perkembangan kekristenan begitu cepat, maka sangan diperlukan
dokumen tertulis tentang kehidupan Yesus Kristus. Disamping itu, saksi mata tentang
Dia sudah banyak yang meninggal dunia. Sehingga keperluan berita tertulis tentang
Yesus begitu mendesak. Injil ini sangat berguna bagi para penginjil untuk
memberitakan, mengajar petobat baru, dan menjadi bagian ibadah dalam kebaktian
orang Kristen.
c. Empat Injil.
Sekalipun ada banyak Injil yang ditulis, namun hanya empat yang diakui sah dan
layak masuk dalam Perjanjian Baru. Injil-injil ini mungkin ada informasi yang sama
dengan Injil kanon, tetapi ada tambahan yang bersifat dongeng dan lucu (misalnya:
kisah Yesus mengutuk seorang anak sampai mati, sebab anak itu memukul Yesus
sampai jatuh dalam Apokripa gnostik yang berjudul Bayi). Juga, Injil semacam itu sering
mencoba mendukung kekafiran dan sekte-sekte. Satu alas an mengapa hanya empat
Injil yang diterima adalah sebab penulisnya para rasul dan orang yang dekat dengan
mereka. Kemudian gereja menetapkan keautektikan kitab-kitab itu dan dimasukan dalam
kanon. Injil Matius untuk orang Yahudi, Markus untuk orang Romawi, Lukas untuk orang
kafir dan Yohanes untk semua orang Kristen. Injil Sinoptik Sinoptik berasal dari bahasa
yunani synoptikos, terdiri dari dua kata yaitu συν (sun) dan οπεσται (opesthai), berarti
melihat dengan atau bersama. Demikian Matius, Markus dan Lukas mempunyai tujuan
yang berbeda tetapi memandang kehidupan Yesus Kristus dengan cara yang sama.
Teologia Bultmann, mengatakan bahwa: “kitab Injil-injil merupakan suara Yesus yang
diperdengarkan kepada para murid secara sayup-sayup.
13
4. Injil Matius
a. Pasal 1 (Matius 1:1-25). Silsilah dan Kelahiran Yesus Kristus.
Dalam memaparkan silsilah, Matius 1:1-15 dalam penggunaan kata ganti orang
ialah “maskulin.” Namun ketika menerangkan tentang kelahiran Yesus 1:16,
menggunakan kata “feminine.” Artinya bahwa Yesus benar lahir dari benih perempuan
dan cocok dengan Kejadian 3:15. Dalam deretan silsilah ini ada nama-nama
wanita seperti Rahab (wanita pelacur), Rut dari Moab, Bethseba, dan Maria Ibu Yesus.
Biasanya dalam daftar sissilah asal-usul orang Yahudi, sama sekali tidak ada nama-
nama wanita. Wanita tidak mempunyai hak hukum. Wanita dianggap bukan seorang
pribadi tetapi hanya sebagai sesuatu. Ia adalah milik bapaknya atau milik suaminya; dan
didalam posisi seperti itu suami atau bapaknya dapat meminta melakukan apa saja yang
dikehendaki mereka. Didalam doa pagi setiap orang Yahudi kaum laki-laki mengucapkan
terima kasih kepada Allah, bahwa Allah telah menciptakannya bukan sebagai orang non
Yahudi, bukan hamba, atau bukan wanita. Jadi munculnya wanita dalam silsilah ini
merupakan gejalah luar biasa dan mendapat perhatian.
Dalam tradisi Yahudi, ada tiga tahap hubungan laki-laki dan wanita yang
menjurus pernikahan: 1. Saling berjanji. Ketika masih kecil, biasanya orang tua/wali yang
lain melakukan ikatan tanpa harus bertemu yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan
2. Pertunangan. Boleh juga disebut peresmian hubungan. Pada tahap ini, hubungan
boleh diketahui umum. Tahap ini berlangsung 1 tahun dan keduanya dapat dikenal
sebagai suami – istri, meskipun mereka belum mempunyai hak sebagai suami-istri. Pada
posisi ini, tidak bias putus kecuali perceraian. 3.Pernikahan. Upacara keagamaan yaitu
pemberkatan di bait Allah akan dikumandang bahwa keduanya berhak melakukan
tanggung jawab suami-istri dalam perkawinan Kudus. Yesus adalah nama Yunani untuk
nama pribadi Yusak. Yusak berarti Tuhan adalah keselamatan.
b. Pasal 2:1-2. Betlehem kota kecil, kira-kira 9 km disebelah selatan Yerusalem. Zaman
dahulu Betlehem juga disebut Efrat/Efrata (Mi. 5:1). Bet berarti “rumah” dan lehem “roti”
jadi Betlehem berarti rumah roti.. sampai sekarang sejarah membuktikan bahwa kota ini
tetap subur. Tiga kelompok yang muncul setelah kelahiran Yesus. Kelompok ini selalu
muncul apabila orang berhubungan dengan Yesus Kristus. Kelompok ini adalah:
1) Kelompok yang diwakili oleh Herodes yaitu kelompok yang membenci serta ganas
terhadap Yesus. Didalam kebencian ada ketakutan bahwa posisinya terancam
sebagai raja orang Yahudi
2) Kelompok dari Imam kepala dan ahli Taurat yaitu reaksi yang acuh tak acuh. Merasa
mereka tidak melihat perbedaan apapun dengan kelahiran bayi kecil itu. Mereka telah
terbelenggu dengan upacara-upacara keagamaan. Yesus tidak punya makna bagi
mereka.
3) Kelompok orang-orang bijak yaitu pujian dan ibadah yang menggerakkan hati dan
hidup mereka untuk memberi yang berharga di kaki Yesus. Sungguh, kalau orang
mengetahui kasih Allah yang besar maka segala sesuatu menjadi sukacita dan
damai sejahtera.
Orang-orang majus, memberi persembahan:
1) Emas melambangkan: persembahan terbaik. Dalam konteks Yahudi yang berhak
adalah Raja
2) Kemenyan melambangkan: sering digunakan oleh para imam dalam beribadah
kepada Yahwe dan melayani dalam upacara seremonial di Bait Allah. Tugas ini
dilakukan imam untuk membuka jalan bagi manusia untuk bertemu dengan Allah.
Bahasa Latin untuk imam ialah pontifek yang berarti membangun jembatan. Jadi
imam menghubungkan manusia dengan Allah.
3) Mur melambangkan: minyak yang khusus diberikan kepada orang yang meninggal,
dan pengharum. Yesus datang ke dunia ini untuk hidup bagi manusia, dan pada
akhirnya untuk mati juga bagi manusia. Melalui pemberian ini , mereka
menunjukan pengakuan kepada-Nya sebagai Tuhan.
c. Pasal 3. Dalam penggunaan kata “Kerajaan Allah,” tidak disebutkan oleh Matius, ia
sering menggunakan kataan: YOHANES PEMBAPTIS Munculnya Yohanes yang tiba-
tiba itu adalah seperti munculnya suara yang memperdengarkan suara Tuhan.selama
14
400 tahun tidak ada nabi yang berkuasa. Dalam diri Yohanes, suara kenabian itu
muncul. Apakah yang menjadi cirri khas suara atau berita Yohanes itu?
1) Tanpa gentar Yohenes mengutuk kejahatan yang dilihatnya. Ia mencela Herodes
yang kawin dengan jalan tidak sah dan dirinya penuh kejahatan. Ia tidak segan-
segan mencela para pemimpin Yahudi. Para Saduki, Farisi, dan tokoh-tokoh
rohaniah lainnya yang tenggelam di dalam formalitas ritual. Upacara keagamaan
hanya formalitas saja. Ia juga mencela masyarakat yang tanpa ingat Tuhan. Yohanes
laksana sebuah terang yang bersinar ditempat yang gelap. Ia adalah seperti angin
Tuhan yang bertiup ke segala penjuru negeri. Diogenes, berkata “kebenaran adalah
seperti terang yang menyinari mata yang sakit.” Lebih lanjut ia mengatakan:
“barangsiapa yang tidak pernah menyakiti sesamanya, maka ia pun tidak pernah
berbuat baik kepada siapapun.” Mungkin di dalam pengalaman hidup kita ada waktu
atau saat-saat kita sangat berhati-hati didalam tindakan dan kata-kata, sebab kita
tidak ingin menyakiti hati orang lain. Tetapi akan tiba waktunya ketika hal seperti itu
tidak bias diberlakukan lagi. Akan tiba waktunya Gereja mengeluarkan putusan dan
kata-kata yang tajam dank eras, yang menyakiti hati banyak orang. Akan tiba
waktunya pula Gereja menyatakan kebenaran sejati, yang menyakiti hati banyak
orang.
2) Yohanes mengundang orang-orang untuk melakukan kebenaran. Ia membawa berita
posetif yang membangkitkan semangat kehidupan yang benar di hadapan Tuhan. Ia
memanggil setiap orang untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ia bukan hanya
mencela dan mengutuk kejahatan, tetapi juga memperhadapkan kebaikan dan
kebenaran kepada setiap orang.
3) Yohanes datang dari Tuhan. Ia datang dari Padang Gurun. Ia muncul setelah
mengalami masa panjang yang penuh dengan kesepian dan kesunyian hidup. Ia
dating dengan pemikiran Tuhan, bukan pikirannya sendiri. Pengkhotbah, guru, dan
siapapun yang hendak menyuarakan suara kenabian, haruslah tampil di hadapan
manusia pemikiran Allah. Ia harus menghdapkan manusia dengan Tuhan bukan
dengan dirinya.
4) Yohanes menunjuk kepada sesuatu yang di luar dirinya sendiri. Ia adalah sebuah
tanda yang menunjuk kepada Tuhan Allah.
d. Pasal 4:1-11. Satu hal yang harus kita catat secara hati-hati dan benar dalam
mempelajari pencobaan yang diterima Yesus. Dalam hal ini arti yang sebenarnya dari
kata kerja “mencoba.” Dalam bahasa Yunani peirazein. Dalam bahasa Indonesia kata
kerja “mencoba,” mempunyai arti yang kurang menyenangkan. Kata itu selalu berarti
“menggoda, atau “mencobai orang” untuk melakukan hal yang salah, seperti merayu
untuk melakukan dosa atau membujuk seseorang menempuh jalan yang salah. Tetapi
arti Yunani mengandung unsure yang berbeda. Lebih berbobot jika berarti “menguji”.
Contoh: Abraham dalam PL yang nyaris mempersembahkan anaknya Ishak sebagai
korban (Kej. 22:1). Pencobaan ada dua macam yaitu:
1) Dari dalam diri seseorang yang dikuasai kejahatan, nafsu jahat.
2) Dari luar diri seseorang. Contoh: Ayub, Yesus, dll. Ada satu kebenaran besar yang
menarik




