Sejarah Tritunggal

 


Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk menelisik pengertian tritunggal dan untuk menjawab 



pertanyaan apakah penggunaan kata tritunggal yaitu  alkitabiah karena secara literal tidak ada di 

Alkitab? Tulisan ini untuk mengklarifikasi pandangan yang salah seperti Arius, Sabelisme dan Saksi 

Yehovah. Melalui penggalian gramatikal terhadap Kejadian 1: 1-3, Yohanes 1: 1-3, 1 Yohanes 5: 7-

8, Shema Israel, theofani, pengertian Elohim, maka mampu menjawab pengertian tritunggal yang 

dapat dipertanggungjawabkan. Kajian ini dilakukan melalui tinjauan pustaka dengan 

mensintesakan beberapa penggalian ayat Alkitab, penggalian sastra dan sejarah untuk 

menemukan maksud dari arti yang sesungguhnya. Hasilnya berupa pemikiran konseptual bahwa 

tritunggal yaitu  tiga Pribadi dengan peran yang berbeda-beda. Tesis dari atikel ini yaitu  bahwa 

trinitas itu Esa dan ke Tiga-Nya yang Esa menyatakan diri sesuai peran-Nya masing-masing baik 

sebagai pencipta, penebus dan penghibur; dimana ke Tiga-Nya menyatu dalam kekekalan. 

Pemahaman bahwa Allah hanya satu saja, baik di teologi Yahudi dan Kristen sudah selesai.  

Kristen bukanlah agama yang berkembang dari ajaran dinamisme atau animisme 

kepada politheistik dan kemudian menjadi monoteis namun  pada Kejadian pasal satu saja 

sudah menjelaskan peran Pribadi tritunggal yang telah bersama sejak kekekalan dalam 

penciptaan dan ke Tiga Pribadi itu tidak pernah mengalami evolusi. Jadi doktrin Kristen 

tentang keesaan Allah sudah tercatat jelas di awal Akitab. Doktrin tritunggal banyak 

mengalami perdebatan maka perlu ditelisik. Kata menelisik berarti: 1. Menyingkap-nyingkap 

(rambut, bulu) untuk mencari kutu, mengutui. 2. Mencari (keterangan dsb.), mengusut 

dengan teliti, menyelidiki1. Masalah yang hendak ditelisik yaitu  analisa teologi dan sejarah 

perihal penyimpangan doktrin tritunggal, konsep tritunggal agama lain dan analisa literatur 

Alkitab.  

Kata Trinitas dari bahasa Latin trinus, artinya tiga. Trinitas pertama kali 

dikemukakan oleh Tertulianus. Tritunggal berarti adanya tiga Pribadi dalam satu 

ketritunggalan. Tritunggal berpengertian Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus dan Roh 

Kudus bukan Bapa. Namun Bapa yaitu  Allah, Anak yaitu  Allah dan Roh Kudus yaitu  

Allah. Tritunggal yaitu  peristiwa Allah menjelmah atau berinkarnasi menjadi manusia atau 

Allah mengambil rupa manusia dalam Pribadi Anak dan Roh kudus keluar dari Sang Anak. 

Jadi baik Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu  Allah.  

Lalu timbul pertanyaan, mengapa hanya tiga Pribadi bukan empat Pribadi, lima 

Pribadi dan seterusnya. Apakah logika kata Kita dalam Kejadian 1: 26 itu merujuk ke tiga 

Pribadi dan hanya tiga Pribadi saja yang kekal? Atau mungkin bisa ada empat atau lebih dari 

tiga Pribadi yang kekal? Sebelumnya perlu perhatikan beberapa ayat: "Sebab itu Aku berkata 

kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, namun  hujat terhadap Roh Kudus 

tidak akan diampuni. jika  seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia 

akan diampuni, namun  jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini 

tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak" (Matius 12: 31-32). Melalui ayat di atas, 

memberi batasan bahwa hanya ada tiga Pribadi kudus dan kekal yang mana tidak ada 

Pribadi lain yang dapat disebut Allah tritunggal. 

Sejarah mencatat bahwa perdebatan tentang tritungal tidak habis-habisnya. 

Kesalahpahaman tentang doktrin tritunggal ini nampak pada pemahaman Saksi Yehovah dan 

pandangan Arius bahkan ada kelompok tertentu yang tidak mau mengakui tritunggal karena 

secara literal kata ini tidak tercatat di dalam Alkitab. Di peradaban Mesir kuno dikenal 

konsep tritunggal yakni Osiris yaitu  Bapa, Isis yaitu  Maria dan Horus yaitu  Yesus. 

Apakah konsep dan pandangan seperti ini alkitabiah? Ada lagu yang pernah populer berlirik: 

Katakan, Tuhan itu satu. Tuhan tempat menyembah dan tempat meminta. Katakan, Tuhan 

itu satu. Tuhan tidak beranak dan tak diperanakkan. Tiada Tuhan selain Allah. Apakah syair 

lagu ini bermakna tritunggal? Konsep di atas tidaklah mewakili pengertian makna tritunggal 

yang sesungguhnya meskipun nampak memberi arti tiga pribadi dan Tuhan itu satu. 

Alkitab menjelaskan pengertian tritunggal tidak seperti konsep lagu di atas bahkan 

seperti pandangan Arius, Sabelisme dan Saksi Yehovah. Tritunggal dalam hakekatnya bukan 

berarti bersatu namun  satu, bukan seperti suami istri yg dipersatukan dari berbeda latar 

belakang. Tritunggal itu satu dalam koeksistensi dan koeternal. Satu dalam koeksistensi 

berarti ketiga Pribadi itu satu sejak kekal dan bersatu dalam kekalan. Pemahaman tentang 

trinitas ini sangat penting untuk dikaji dan digali kebenarannya secara hakiki dan alkitabiah 

karena dalam kenyataannya doktrin ini banyak mengalami penyelewengan sepanjang 

sejarah, perdebatan di media sosial dan salah tafsir; sehingga perlu adanya suatu 

penggalian yang sistematis, literal, gramatikal dan komprehensif agar dapat menemukan 

pengertian yang benar dan alkitabiah tentang apa itu tritunggal.  


Pembahasan perihal tritunggal, maka dapat dianalisa dari beberapa sudut pandang 

antara lain:  

Analisa Sejarah  

Konsili Nicea 

Konsili Nicea (325) diadakan untuk menanggapi ajaran Arius, seorang pastor dari 

Gereja Alexandria, Mesir (319). Arius berupaya merasionalisasikan misteri Allah tritunggal. Ia 

tidak meyakini bahwa Kristus, Sang Putra Allah berasal dari Allah Bapa dan sehakekat 

dengan Bapa. Ia mengajarkan bahwa Yesus yaitu  ciptaan yang paling tinggi. Konsili Nicea 

bukan untuk mendefinisikan apa itu tritunggal atau Yesus yaitu  Tuhan namun  memberi 

jawaban atas pandangan Arius bahwa Kristus yaitu  Tuhan yang kekal seperti nyanyian 

para Malaikat: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kritsus, Tuhan, di kota Daud 

(Lukas 2: 11). Deklarasi ke-Tuhanan Yesus langsung oleh para penghuni sorga bukan hasil 

dari konsili para teolog. Arius membuat tafsirannya sendiri terhadap Yohanes 1: 14 (Firman 

itu menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu 

kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak Tunggal bapa, penuh kasih karunia dan 

kebenaran). Ia menyimpulkan bahwa Firman hanya menjelma menjadi daging, sementara 

jiwanya tidak. Arius meyakini bahwa Kristus yaitu  sungguh-sungguh ilahi, namun  bukan 

sungguh-sungguh manusia, karena jiwanya bukan jiwa manusia. Firman, pada pihak lain, 

yang dalam Yesus Kristus menjadi daging, yaitu  ciptaan Allah, diciptakan Allah dari 

ketiadaan sebelum permulaan waktu.2 Arius sepertinya memegang keunikan Allah namun  

dalam kenyataannya ia menjadikan Kristus semacam setengah-Allah (demigod); bukan 

sebagai manusia, juga bukan Allah.3 

Hal ini tak ubahnya dengan konsep Sabelisme bahwa Yesus dan Roh Kudus yaitu  

wakil. Ketiga Pribadi ini tidak bisa muncul bersamaan. Hal ini sangat kontra dengan peristiwa 

Yesus dibaptis dimana ketiga Pribadi kekal itu saling terkonfirmasi (Mat. 3: 16-17). 

Pandangan Sabelius (260) yang dapat disebut modalisme successif, menggambarkan Bapa, 

Anak dan Roh Kudus dengan topeng, yang dapat diganti.4 Sabelisme mengakui ketritunggal 

penyataan, namun tidak menerima ketritunggalan sifat. 5  Bagaimana Alkitab menjawab 

masalah ini? Yohanes menulis “Aku dan Bapa yaitu  satu” (Yoh. 10: 30). Selanjutnya Alkitab 

mencatat bahwa: “Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah 

Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang 

telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh. 1: 15). Kedua ayat tersebut 

memberi pengertian bahwa Anak dan Bapa yaitu  satu sejak kekekalan dan penyatuan itu 

sudah terjadi sebelum segala sesuatu ada.  

 

Saksi Yehovah 

Yohanes 1: 1-2 berbunyi: “Pada mulanya yaitu  firman; firman itu bersama-sama 

dengan Allah dan firman itu yaitu  Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah”. 

Ayat ini dipahami oleh Saksi Yehovah bahwa firman itu bukan gelarnya Yesus, Yesus itu 

bergelar firman dan firman itu bukan gelar namun  Allah itu sendiri. Saksi Yehovah terjerat 

pada pengertian Anak Allah, yang berpengertian Yesus lebih rendah posisinya. 

Sesungguhnya ayat ini berpengertian bahwa segala sesuatu ada awalnya namun Yesus tidak 

berawal, Ia sudah ada pada mulanya. Penggunaaan kata “pada mulanya” (άρχή) bermakna 

Sabda itu sudah ada di masa lampau pada permulaan apapun.6 Manusia mempunyai awal 

dan akhir kehidupan. Awal hidup yakni tanggal lahir dan akhir hidup yaitu tanggal kematian, 

namun berbeda dengan logos yang yaitu  Alfa dan Omega (A–Ω), bermakna Dia yaitu  

Tuhan yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan dan Ia sudah ada mendahului 

segala sesuatu ada. Alkitab secara jelas memberi pengertian bahwa: Oleh firman TUHAN 

langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. Oleh firman TUHAN, 

langit dijadikan, dan oleh napas mulut-Nya, seluruh bala tentara-Nya. Dengan firman Tuhan 

telah jadi segala langit, dan segala tentara-Nya pun telah jadi dengan hawa mulut-Nya 

(Mazmur 33: 6). Yesus sendiri berkata: dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku 

itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, namun  Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku 

(Yoh. 8: 16). Roh Kudus yang keluar dari Pribadi kedua dikatakan bahwa: namun  Penghibur, 

yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan 

mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang 

telah Kukatakan kepadamu (Yoh. 14: 26). Selanjutnya tentang pekerjaan Pribadi kedua yang 

yaitu  penuh kuasa bahwa: tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia 

dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan 

menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia (KPR 10: 

38). Pribadi tritunggal yang kudus menyatakan keberadaan dan kerja kuasa-Nya di masa-

Nya masing-masing. 

Analisa Literatur 

Kejadian 1: 1-3  

ֶרץ ת ָהָאָֽ יִם וְא ֵ֥ ת  ַהָשַמַ֖ ים א ֵ֥ א ֱאֹלִהִ֑ ית ָבָרָ֣ אִשַ֖  1.ְבר 

1. In the beginning God created the earth and the heavens. 

יִם י ַהָמָֽ פֶ  ַעל ְפנ ֵ֥ תְמַרֶחַ֖ ים  ּוחַ  ֱאֹלִהִ֔ ֹום וְרָ֣ י ְתהִ֑ ֶשְך ַעל ְפנ ָ֣ ָ  וְח ַ֖ הּו ב ִ֔ ו הּו    ה ת ֹ֙ ֶרץ ָהיְָתֵ֥   2.וְָהָאָ֗

2. And the earth was without formand, and void darkness was the face 

 of the deep. And the Spirit of God moveed upon the face of the waters. 

יְהִ   ֱאֹלִהים  אֹור וַּיא ֶמר  וַיְִהי  אֹור  י  .3 

3. And God said, Let there be light: and there was light. 

ֱאֹלִהים    ַהח ֶשּךוָיְַרא  ּוב ין  ָהאֹור  ב ין  ֱאֹלִהים  ל  וָיְַבד  כִי־ט ב  ֶאת־ָהאֹור  .4 

4. And God saw the light, that it was good: and God divided the light from the darkness.  

אֱ וַיִקְ  נַיְִהיָרא  לָיְלָה  ָקָרא  וְלַח ֶשּך  י ם  לָאֹור  ֶאָחדֹלִהים  י ם  וַיְִהי־ב ֶקר  ־ֶעֶרב  .5  

5. And God called the light Day, and the darkness He called night. And the evening and the 

morning were the first day. 


Alkitab secara jelas memaparkan peran ketiga Pribadi dalam penciptaan. Kalimat 

“pada mulanya” dalam bahasa Ibrani 'resit' atau 'in the beginning', menunjukkan bahwa 

sebelum adanya waktu, ketiga Pribadi sudah ada. Peran ketiga Pribadi sangat jelas yakni 

Bapa menciptakan langit dan bumi (Ibr. bara Elohim haarets wehasamayim), Roh Kudus 

melayang-layang atau mengerami bumi (Ibr. ruah merakepet) dan oleh Firman (Ibr. davar 

atau Yun. logos) segala sesuatu diciptakan. Ketiga Pribadi sama peran-Nya dalam 

penciptaan. Sebelum adanya hari-hari penciptaan, Pribadi tritunggal sudah ada dalam 

kekekalan. 

Oleh ilham Roh, Musa menulis bahwa peran tritunggal bukan hanya nyata saat 

penciptaan langit dan bumi namun  pada penciptaan manusia (Kej. 1: 26). Soedarmo 

menjelaskan bahwa ada pandangan yang keliru perihal kata Kita yang berpendapat bahwa 

kejamakan di sini yaitu  sisa dari polytheismus dalam bangsa Israel, kata Kita merujuk pada 

pengertian saya dan bermakna Allah berfirman pada para malaikat atau sidang dewan 

sorgawi. 7  Namun pandangan di atas ditolak karena segenap Perjanjian Lama selalu 

menekanankan keesaan Allah dan pada zaman itu, tidak ada kebiasaan dalam memakai 

“kami” untuk mengganti “saya”. Penggunaan kata Kita merujuk pada tiga Pribadi kekal yang 

sedang bermusyawarah untuk menciptakan manusia menurut rupa Allah. Jadi pada keesaan 

Allah ada kejamakan oknum. Oknum-oknum inilah yang “bermusyawarah" dalam 

menjadikan manusia.8  

Sejatinya kalimat “Baiklah, Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” 

sungguh indah dan unik. Ada ungkapan like father like son, berpengertian wajah dan sifat 

anak mengikuti ayahnya bukan sebaliknya. Anak yaitu  obyek, maka sifat anak akan seperti 

bapa yang yaitu  subyek, akan namun  frasa “menurut gambar dan rupa Kita” yaitu  obyek 

yang berpengertian bahwa wajah manusia mengikuti obyek (gambar dan rupa Kita) dan 

yang yaitu  juga subyek (Baiklah, Kita). Gambar dan rupa manusia seperti Pribadi kedua 

yakni Yesus yang yaitu  Adam kedua. Melalui ayat ini, selain bermakna musyawarah para 

tritunggal namun  juga berkonotasi bahwa akan ada inkarnasi sebab kesempurnaan wajah 

Adam mengikuti wajah Kristus dalam kekekalan (Ibr. 10: 10). Jadi Pribadi kekal yang 

disebutkan dalam penciptaan, telah berinkarnasi dan kini telah mengenakan tubuh kemulian 

di sorga, seperti yang dilihat Stefanus sebelum di rajam (KPR 7: 55), Paulus (KPR 9: 5, 22: 

8) dan rasul Yohanes di pulau Patmos (Wahyu 1: 8, 21: 6, 22: 13). 

Shema Israel 

נּו יהיָה ֶאָחד   ְשַמע ׅיְשָרא ל יהיָה ֱאֹלה 

Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD.  

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita. TUHAN itu esa (Ul. 6: 4).  

Shemah berbicara tentang keesaan Allah. Allah memerintahkan Israel untuk 

mengajarkannya berulang-ulang pada waktu duduk, diperjalanan, berbaring dan bangun 

(ay. 6-7). Shema ini sebagai petunjuk jelas tentang keesaan Allah yakni kebenaran-

kebenaran akbar yang harus dihayati oleh orang Israel dan yang harus mereka tanamkan 

pada anak-anak mereka.9 Makna syema ini diaktualisasi di Perjanjia Baru: Jawab Yesus: 

 


"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa 

(Markus 12: 29). Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu 

itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Markus 12: 32). Shema 

Israel mengajarkan keesaan Allah bukan menolak cara penyataan Allah dalam tiga Pribadi. 

Israel percaya bahwa Allah tidak diperanakan atau kelihatan (invisible). Yesus bukan Tuhan 

karena Ia dilahirkan atau Yahweh bukan berwujud manusia. Selain itu, perspertif yang 

terseleksi yaitu  bahwa jika Kristus yaitu  raja, maka Ia harus lahir di istana dan duduk di 

singgasana takhta raja Daud, bapa leluhurnya. Inilah yang menyebabkan mereka menolak 

dan menyalibkab Yesus.  

Yohanes 1: 1-3  

1. Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος. 2. Οὗτος 

ἦν ἐν ἀρχῇ πρὸς τὸν Θεόν. 3. Πάντα δι’ αὐτοῦ ἐγένετο, καὶ χωρὶς αὐτοῦ ἐγένετο οὐδὲ ἕν ὃ 

γέγονεν.  

1. In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God.  

2. The sama was in the beginning with God. 3. All things were made by Him; and without 

him was not any thing made that was made. 

Kata sandang “ho logos” (ὁ Λόγος) pada Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος (en arkhe en ho logos) 

menunjukkan kesetaraan logos dengan God (Θεὸς). Logos yang telah ada pada mulanya itu 

yaitu  logos yang sama “ho logo en pros ton theon” (ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν) dan logos 

itu telah ada bersama-sama dengan Allah dalam kekekalan yang kini telah menyatakan diri 

melalui inkarnasi. Jadi kata logos pada ayat 1 ini, menunjukkan bahwa kedua kata logos 

yang dipakai itu sama-sama subyek. Jika kata logos berikutnya tidak memakai kata sandang 

ho (ὁ) namun  ton logon (τον λόγον), dimana kalimat itu berdeklensi akusatif atau obyek, 

maka kata logos yang kedua berpengertian bahwa Yesus tidak setara atau kekal seperti 

theos. Logos tidak berawal atau ada penyebabnya. Yohanes menulis: Dialah yang kumaksud 

ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, 

sebab Dia telah ada sebelum aku (Yoh. 1: 30), pada ayat lain dikatakan: Kata Yesus kepada 

mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (Yoh. 

8: 58). Kata “jadi” atau γενέσθαι (genesthai) yang besal dari kata ginomai (VANM-Verb 

Active Noun Middle), bermakna logos ada dengan sendirinya dan sudah ada sebelum 

Abraham. Calvin berpendapat bahwa adanya kalimat “Firman itu yaitu  Allah”, maka 

berpengertian tidak mungkin Firman itu bersama–sama dengan Allah kalau tidak berdiam di 

dalam Bapa, yang sama substensi.10  

Allos (ς) dan Heteros (‘ς)  

Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang 

Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14: 16). 

Ini yaitu  doa Yesus bahwa akan datang Parakletos yang akan menyertai orang 

percaya selamanya. Di sini terlihat jelas bahwa Perjanjian Baru menyatakan konsep Bapa 

dilihat dari hubungan dengan Yesus Kristus selaku Anak, yang analoginya menunjukkan 

kepada Trinitas. Bapa dan Kristus tidak ada perbedaan namun  hanya sebutan, suatu analogi 

untuk mengerti trinitas. Namun terminologi penyebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus, 

memiliki pengertian yang berbeda pada konsep penyelamatan dan penciptaan. Untuk itu, 

Yesus berdoa “Aku akan mengirim seorang Penghibur yang lain” (Parakletos). Kata 

Parakletos (Penolong yang lain) dalam bahasa Yunani ada dua, yaitu heteros (‘ς) 

berarti beda benda, beda kualitas dan allos (ς) berarti beda benda, sama kualitas. Roh 

Kudus dan Kristus berbeda Pribadi atau cara penyataan namun  sama kualitas, sama-sama 

maha tahu. Another Comforter yang dimaksudkan Yesus yaitu  allos, yakni Pribadi Roh 

Kudus yang beda benda, sama kualitas, sama-sama abadi dan berkuasa. 

1 Yohanes 5: 7-8 (Yohanen koma) 

Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan 

Roh Kudus; dan ketiganya yaitu  satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di 

bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya yaitu  satu (TB).  

‛οτι τρεις εισιν ‛οι μαρτυρουντες εν τω ουρανω ο πατηρ ο λογος και το αγιον πνευμα 

και ουτοι οι τρεις εν εισιν. 8. και τρεις εισιν οι μαρτυρουντες εν τη γη το πνευμα και το ‛υδωρ 

και το ‛αιμα και ‛οι τρεις εις το ‛εν εισιν. 

For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy 

Spirit: and these three are one. 8. And there are three that bear witness in earth, the spirit, 

and the water, and the blood: and these three agree in one (KJV). 

Ayat yang dikurung tebal bermakna kalimat ini tidak ada diterjemahan NIV, tapi ada 

di manuskrip lain yakni KJV. Konteks ayat ini memberikan beberapa argumen:  

- Argumen Patristik. Maksudnya yaitu  bahwa Alkitab selalu menyebut tiga bapa 

leluhur yaitu Abraham, Ishak dan Yakub. Ketiga nama patriakh ini selalu disebutkan 

untuk mengingatkan kita bahwa karya keselamatan Allah mula-mula bekerja melalui 

perjanjian dengan mereka. Jadi konsep tiga, sudah menjadi terbiasa terdengar bahwa 

sebagaimana diakui tiga patriakh di bumi maka ada pula tiga Pribadi kekal di sorga.  

- Argumen Linguistik. Manusia selalu terpola dengan hitungan, baik itu dipertandingan 

olahraga atau peringatan terhadap kesalahan. Misalkan pada pertandingan lari, pada 

hitungan ketiga maka para peserta lomba akan lari secepat-cepatnya.  

- Argumen Theologikal. Penyebutan angka dua, lima, enam, tujuh dan tiga sering 

ditemukan di Alkitab. Kata tiga diyakini bermakna ilahi sehingga melalui kata inilah 

dimaknakan dengan tiga Pribadi kekal di sorga.  

 Kesaksian nyanyian para malaikat di sorga oleh Yesaya dikonsepkan sebagai 

tritunggal bahwa: Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, 

kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya! (Yesaya 6: 3). 

Pengertian Triple Holy (kudus, kudus, kudus) menunjukkan kepada tiga Pribadi kekal, Sang 

Pencipta. Bapa kekal, Anak kekal dan Roh Kudus kekal; ketiganya kudus, kekal dan sama 

hakekat-Nya. Konsep trinitas jelas pada janji amanat agung (Great Commission) bahwa ada 

penyertaan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam pemberitaan Injil kerajaan Sorga (Matius 28: 

19). Trinitas terkonfirmasi juga saat baptisan (Mat. 3: 16-17; Lukas 3: 21-23; Yoh. 1: 26-

28), dan penyebutan trinitas pada ucapan berkat (2 Kor. 13: 13).  

 

Analisa Teologis  

Theofani 

Dalam Perjanjian Lama, peristiwa theofani dapat dilihat dalam tiga wujud yakni 

Malaikat yang mengunjungi Abraham (Kej. 18: 1-3; 32: 28-30), Wujud “manusia” Panglima 

Balatentara (Hakim-hakim 13: 28) dan dalam wujud benda “semak” terbakar (Kel. 3). 

Theofani yaitu  istilah dalam ilmu teologi dari bahasa Yunani τεοφάνια (teophania), berasal 

dari dua kata, kata benda theos atau Allah (θεός) dan kata kerja phanero (φονεροω) yang 

bermakna menampakkan, mewujudkan diri. Theofani yaitu  penampakan Allah (appearance 

of God, a manifestation of God to the world). Istilah theofani yaitu  peristiwa penampakan 

Allah dalam bentuk yang kelihatan, berbeda dengan inkarnasi. Dalam inkarnasi, terdapat 

kesatuan yang tetap antara kemanusiaan dan keilahian. Inkarnasi merupakan theofani yang 

riil, sebab Allah datang sebagai manusia; bisa dilihat, bisa diraba, bisa didengar, dirasakan 

oleh semua indera manusia dan tinggal bersama-sama dengan manusia. Jadi jika tidak ada 

theofani, maka tidak mungkin bisa mengerti tritunggal atau theofani memungkinkan adanya 

inkarnasi dan pencurahan Roh Kudus, Pribadi ketiga. 

Tritunggal Atau Trinitas  

Cardinal number yaitu  angka yang digunakan untuk menerangkan 

jumlah dalam bilangan bulat. Ordinal number yaitu  angka yang digunakan untuk 

menjelaskan posisi atau urutan. Cardinal number seperti 0 (zero), 1 (one), 2 (two), 3 

(three), 4 (four), 5 (five) dan seterusnya sedangkan Ordinal number seperti pertama (first), 

kedua (second), ketiga (third), keempat (fourth), kelima (fifth) dan seterusnya. Ke Tiga yang 

Esa atau tritunggal yaitu  Cardinal number. Tritunggal yaitu  Cardinal number karena 

bermakna ada tiga Pribadi kekal yakni Pribadi Bapa yaitu  pencipta, Pribadi kedua yaitu  

Kristus penebus dan Pribadi ketiga yaitu  Roh Kudus penyempurna. Cardinal number 

berpengertian bahwa ada tiga Pribadi yang menyatakan diri berbeda dalam ruang dan 

waktu. Jika tritunggal yaitu  ordinal number, maka berpengertian Allah ada di posisi 

pertama, Yesus ada di posisi kedua dan Roh Kudus ada di posisi ketiga. Jika berbeda posisi, 

maka ke tiga Pribadi itu tidak sederajat. 

Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-

tiganya yaitu  Allah. Doktrin tritunggal berbeda pula dengan ajaran Deisme dan Pantheisme 

yang mengajarkan bahwa Allah yaitu  yang transeden yang jauh dari manusia. Ia berada 

dimana-mana. 11  Trinitas meskipun bukan istilah alkitabiah namun menandakan bahwa 

Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam satu esensi ketuhanan yang bukan bermakna tiga dewa, 

namun  Tuhan yang setara dan seabadi. 12  Trinitas berbicara tantang Allah Bapa yang 

merencanakan penyelamatan, Allah Anak yang melaksanakannya dan Allah Roh Kudus yang 

mengenakannya kepada manusia. 13  Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk 

menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal 

keragaman-Nya.  

 

Elohim (ים  (ֱאֹלִהִ֑

Nama bukan semata-mata mempunyai arti sebagai nama diri seseorang saja 

melainkan juga berpengertian panggilan umum, gelar dan sebutan yang diberikan. Nama diri 

Allah yaitu  YHWH (tetragramaton) sedangkan Elohim yaitu  nama sebutan atau 

berkenaan dengan status. Yahweh yaitu  proper name dan Elohim yaitu  generic name. 

Penyebutan nama Yahweh merujuk pada Pribadi yang esa sedangkan penyebutan Elohim 

berpengertian pada apa yang dilakukan Yahweh sesuai sifat maha kuasa-Nya.  

Penyebutan El Shadai berarti Allah maha kuasa (Kej. 17: 1), El Roi yang berarti Allah 

melihat saya (Kej 16: 13) dan El Olam berarti Allah kekal (Kej. 21: 33); menunjukkan cara 

Allah menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya sesuai peristiwa yang terjadi. Penyebutan 

generic name banyak variannya, sesuai perjumpaan dan pengalaman manusia dengan 

Tuhan. Hal ini sama maknanya dengan Elohim (Kej. 1: 1) yang berasal dari kata El yaitu  

Tuhan dan im yaitu  jamak maskulin. Pengertian im (ׅאם) menunjuk pada sifat Allah yang 

maha hadir (omnipresent) bukan Pribadi-Nya yang jamak. Elohim bukan berarti jamak 

Pribadi-Nya namun  jamak sifat kehadiran-Nya. Jadi, Elohim bukan berarti banyak Allah namun  

jamak sifat kehadiran-Nya dan julukan kepada nama Allah yang berbeda-beda itu (generic 

name), bertalian dengan perjumpaan manusia dengan Dia.  

Mengapa bukan 4, 5 atau 6 Pribadi? 

Bagian Alkitab yang secara jelas memberi batasan bahwa hanya ada tiga Pribadi 

kekal bukan ada lebih dari tiga Pribadi kekal seperti “namun  jika  seorang menghujat Roh 

Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa 

kekal" (Markus 3: 29) dan seperti di Lukas bahwa: Setiap orang yang mengatakan sesuatu 

melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; namun  barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia 

tidak akan diampuni (Lukas 12: 10) Hanya ada tiga Pribadi kekal yg disebut Allah. Jadi yang 

memberi penjelasan teologis bahwa hanya ada tiga Pribadi kekal yaitu  Alkitab itu sendiri. 

Selanjutnya ada beberapa ayat yang menyatakan bahwa hanya ada tiga Pribadi 

kekal yang berkarya dalam sejarah manusia atau Roh Kudus yaitu  Pribadi kekal terakhir 

seperti: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam 

bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk 

mengatakannya (KPR 2: 4), Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan 

menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan 

dengar di sini (KPR 2: 33), Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke 

atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu (KPR 10: 44), Dan janganlah kamu 

mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan 

(Ef. 4: 30). Roh Kudus yaitu  Pribadi kekal terakhir dan tidak ada Pribadi keempat lagi 

setelah Roh Kudus, yang dapat menyadarkan seseorang untuk bertobat atau menerima 

Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Selain itu, tidak ada lagi peristiwa spektakuler perihal 

turunya pribadi keempat seperti peristiwa pencurahan Roh Kudus (KPR 1: 8; 2: 1-40; 8; 10 

dan 19: 1-12). 

Logika berpikir manusia mencoba menganalogikan trinitas dengan Matahari yakni 

matahari memiliki cahaya, panas dan api. Tritunggal dianalogikan juga dengan seorang bapa 

dengan tiga peran, yakni bisa menjadi ayah di rumah, dosen saat mengajar dan menjadi 

Pendeta saat berkhotbah. Tritunggal yaitu  tiga Pribadi dengan peran yang berbeda-beda. 

Semua gambaran di atas tidak bisa menganalogikan tritunggal secara sempurna karena 

seorang bapa jika  tidak menjadi dosen pun bisa, atau hanya menjadi Pendeta saja bisa; 

ia tetap seorang bapa. namun  jika Allah tidak menjadi Anak (Pribadi kedua) untuk menebus 

dan menjadi Roh Kudus (Pribadi ketiga) yang menghibur atau menyempurnakan, maka itu 

bukan Allah orang Kristen. Mencipta, menebus dan menyempurnakan yaitu  satu paket 

kerja Allah dalam keputusan-Nya (decree) dan kedaulatan-Nya (sovereignty) untuk 

menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya bagi kemuliaan nama-Nya. Sifat dari 

hubungan kekal antara Bapa dengan Anak disebut “generation” yakni sifat diperanakkan dan 

hubungan antara Bapa dan Anak dengan Roh Kudus disebut “procession” yakni hal berasal 

dari atau Roh Kudus “keluar” atau berasal dari baik Bapa maupun Anak (Yoh. 14: 26; KPR 2: 

33; Ibrani 9: 14. 14  Jika tidak ada trinitas maka takkan ada penjelmaan, tidak ada 

penebusan sebab tidak ada penyelamatan. Mengapa? Karena tidak ada Pribadi yang mampu 

bertindak sebagai Pengantara antara Allah dan manusia.15 Tanpa Trinitas, maka Allah tetap 

sebagai Yang Ada, tidak berhubungan dengan manusia.16 Tritunggal yaitu  Pribadi yang 

telah ada sajak kekal, Pribadi yang telah menebus manusia dan kini menyertai manusia 

hingga kesudahan zaman bahkan orang percaya akan bersama ke Tiga-Nya yang esa di 

sorga yang abadi. 

 

Untuk dapat mengerti tritunggal dengan benar, maka sesorang harus menjadi anak 

Allah (Yoh. 1: 12). Orang yang bukan anak Bapa sorgawi, maka tidak mungkin mengerti 

Bapa dalam kesatuan. Orang yang mengerti tritunggal yaitu  orang yang telah lahir Baru 

(born again). Alkitab mengkisahkan bahwa Nikodemus tidak bisa mengerti kebenaran yang 

sejati karena ia belum born again (Yoh. 3: 10). Kata born again atau anothen dalam bahasa 

Yunani berpengertian “lahir dari atas” bukan berpengertian lahir secara biologis. Trinitas 

hanya bisa dimengerti dengan iman bukan sekedar logika (1 Yoh. 4: 2-3). Trinitas yaitu  

kesimpulan seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan bukan masalah Allah 

dimengerti dengan akal atau Allah yang kelihatan (deus revelatus) namun  Allah diterima 

dengan iman atau Allah yang tidak kelihatan (deus absconditus). Koeksistensi dan koeternal 

ketiga-Nya menjadi satu dalam kekekalan (transenden) dan juga tatkala Allah menjelma 

(immanen) menjadi manusia (Yoh. 1: 14). Konsep agama primitif sekalipun tidak 

berpersepsi bahwa Allah itu tiga apalagi konsep agama semawi seperti Kristen.  

Lirik NJ 119: Hormat bagi Allah Bapa, hormat bagi anak-Nya. Hormat bagi Roh 

Penghibur, ke Tiga-Nya yang Esa. Haleluya, haleluya ke Tiga-Nya yang Esa; memberi 

pengertian bahwa tidak ada dua Allah atau tiga Allah namun  Allah itu Esa. Ketiga-Nya telah 

menyatu dalam kekekalan namun menyatakan diri dengan tiga cara. Tritunggal bermakna ke 

Tiga-Nya Esa, bukan ada tiga Allah”.  

Jadi, pemahaman bahwa Allah hanya satu saja, baik di teologi Yahudi dan Kristen 

sudah selesai (fished). Alkitab menggambarkan kesatuan Allah bahwa: "Engkau percaya, 

bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! namun  setan-setan pun juga percaya akan hal itu 

dan mereka gemetar" (Yakobus 2: 19). Paulus pun menulis: "Hanya ada satu Allah saja, 

yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan 

satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang 

karena Dia kita hidup” (1 Kor. 8: 6). Trinitas itu abadi dan ke Tiga-Nya esa bukan ke Tiga-

Nya tiga.