INJIL-INJIL SINOPTIK
1. Injil Matius
1.1. Waktu penulisan
Waktu penulisan Injil Matius tidak diketahui dengan pasti. Mayoritas ahli biblika
memperkirakan waktu penulisannya di antara tahun 70 – 100. Tulisan-tulisan Ignatius, yang
mengenal dengan baik tulisan-tulisan Paulus dan Injil Matius, memberi petunjuk bahwa Injil ini
ditulis sebelum 110. Penulis Didakhe (tahun 100) kemungkinan besar juga telah mengenal Injil
Matius. Lantaran Yesus menunjuk pada penghancuran Yerusalem (Mat. 22:7), maka ada pula
yang berpendapat bahwa Injil ini telah ditulis sebelum pengepungan dan penghancuran
Yerusalem oleh pasukan Romawi pada 70.
Para sarjana konservatif mendukung pendapat bahwa Injil ini ditulis sebelum 70 dan
menganggap bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Matius. Pada bulan Desember 1994, Carsten Peter
Thiede berdasar penelitian paleografis (ilmu yang mempelajari tulisan-tulisan
kuno) berpendapat bahwa papirus Magdalen, yang berbahasa Yunani dan memuat fragmen Injil
Matius, ditulis pada akhir abad pertama. Meskipun demikian, penanggalan ulang Thiede
ditanggapi dengan skeptis oleh para ahli biblika yang sudah mapan. John Wenham, pendukung
gigih hipotesis Agustinian, mempertahankan pendapat bahwa Injil Matius ditulis lebih awal.
1.2. Penulisnya
Tradisi Kristen awal menganggap Injil ini ditulis oleh rasul Matius, salah seorang murid
Yesus. Tradisi ini didasarkan pada tulisan Papias pada paruh pertama abad II Masehi. Namun,
sejak abad XVIII, para ahli biblika mulai meragukan bahwa Matius adalah penulisnya.
Kebanyakan ahli biblika mutakhir berpendapat bahwa penulisnya adalah seorang Kristen
anonim, yang menulis Injil ini menjelang akhir abad pertama. Menurut Howard Clark Kee,
rupanya ajaran-ajaran Yesus pertama-tama ditransmisikan secara lisan, hingga pada akhirnya
ditulis. Teori ini antara lain didasarkan pada kenyataan bahwa tulisan-tulisan Kristen lain di
kemudian hari memuat perkataan-perkataan yang dianggap berasal dari Yesus, yang mirip,
namun tidak tepat sama, dengan perkataan-perkataan Yesus yang terdapat dalam Injil-injil.
2. Injil Markus
2.1. Waktu penulisan
Ada perbedaan pendapat mengenai waktu penulisan Injil Markus. Kebanyakan ahli biblika
setuju dengan hipotesis dua-sumber yang berpendapat bahwa Markus merupakan salah satu
sumber dari kedua Injil Sinoptik yang lain. Menurut teori ini, waktu penulisan Markus
tergantung pada waktu penulisan Matius dan Lukas. Salah satu papirus yang ditemukan di
antara gulungan Laut Mati, yang ditulis sebelum 68, diidentifikasi sebagai fragmen dari Injil ini.
Namun, pendapat ini tidak diterima secara luas. Umumnya, para ahli biblika dewasa ini
meyakini bahwa Markus ditulis segera setelah kejatuhan Yerusalem dan keruntuhan Bait Allah
yang kedua pada 70.
Dua orang papirolog, Fr. Josep O’Callaghan dan Carsten Peter Thiede, mengemukakan
bahwa huruf-huruf pada fragmen papirus sebesar perangko yang ditemukan dalam sebuah gua
di Qumran (7Q5), adalah fragmen Inijil Markus (6:52-53). Karena itu mereka berpendapat
bahwa Markus telah ditulis dan beredar sebelum 68. Analisis komputer menunjukkan bahwa 20
huruf dalam lima baris pada fragmen papirus tersebut hanya cocok dengan fragmen Injil
Markus dalam manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani yang pernah ditemukan. Namun,
berdasar beberapa alasan, mayoritas papirolog meragukan kebenaran identifikasi Callaghan dan
Thiede. Alasan itu antara lain, manuskrip Injil-injil perdana lazimnya disalin dalam bentuk
lembaran. Salinan dalam bentuk gulungan belum digunakan dalam perpustakaan Qumran. Di
samping itu, tidak ada teks dalam bahasa Yunani yang lain, demikian pula fragmen Markus,
yang cocok dengan kata-kata dalam 7Q5, kecuali jika frasa ‘epi tēn gēn’ (secara harfiah dapat
diterjemahkan ‘ke daratan,’ LAI menerjemahkannya ‘di seberang’), yang terdapat dalam semua
manuskrip Markus yang masih ada, dihilangkan dari 6:52-53.
John Robinson dalam karyanya “Redating the New Testament” bahkan berpendapat bahwa
Injil ini ditulis lebih awal, yaitu tidak lebih dari tahun 62. Ia setuju dengan pendapat bahwa
Markus ditulis sebelum Lukas dan Kisah Para Rasul dan memperkirakan bahwa Injil ini ditulis
sekitar pertengahan 50-an.
Pendapat bahwa Injil ini ditulis dalam waktu dekat setelah tahun 70 didasarkan pada
petunjuk tentang penghancuran Bait Allah di Yerusalem. Jika Injil ini ditulis sebelum
keruntuhan Bait Allah, pasti para pembacanya tidak akan mengerti maksudnya.
Markus 13:14-23, yang dikenal sebagai ‘wahyu kecil’ merupakan perikop kunci untuk
menentukan waktu penulisannya. Dengan menggunakan metode kritisisme untuk menganalisis
teks-teks alkitabiah dan menemukan kerangka historis penulisannya, para ahli biblika melihat
keterhubungan antara perikop ini dengan huru-hara pemberontakan Yahudi pertama pada 66-
70. Perikop ini meramalkan bahwa Bait Herodes akan diluluhlantakkan sama sekali. Hal ini
terjadi melalui tangan Titus, seorang jendral Romawi, pada 70. Para sarjana menunjukkan
bahwa ayat terakhir perumpamaan penggarap kebun anggur yang jahat (12:9) menyinggung
tentang pembantaian dan pembuangan orang-orang Yahudi dari Yerusalem oleh penguasa
Romawi setelah tahun 70. Menurut para sejarawan, pengusiran orang-orang Yahudi dari
Yerusalem baru terjadi setelah pemberontakan Bar Kokhba. Ada pula yang berpendapat bahwa
Markus 14:58-59 yang berkenaan dengan tuduhan palsu bahwa Yesus mengancam untuk
menghancurkan Bait Allah dan akan membangunnya kembali dalam tiga hari merupakan
petunjuk yang lain mengenai penghancuran Bait Allah pada 70.
b) Penulisnya
Injil Markus sendiri sebenarnya anonim. Namun, sejak zaman Papias pada abad kedua,
naskah ini dianggap ditulis oleh Markus, saudara sepupu Barnabas,[20]yang dikatakan telah
mencatat pidato rasul Tuhan. Papias mendasarkan otoritasnya pada Yohanes Tua-tua. Naskah
Papias itu tidak ada lagi, namun kita dapat membacanya dari kutipan Eusebius dari Kaesaria:
Inilah yang dikatakan Yohanes Tua-tua, “Markus, yang menjadi penerjemah Petrus itu,
dengan hati-hati telah menulis, sekalipun tidak urut, semua perkataan dan pekerjaan Tuhan
yang diingatnya. Ia sendiri belum pernah mendengar perkataan Tuhan atau menjadi pengikut-
Nya. Namun di kemudian hari, seperti aku katakan, ia menjadi pengikut Petrus. Petrus biasa
menyadur ajaran-ajaran Tuhan tanpa menyusun perkataan-perkataan Tuhan secara sistematis;
sehingga dapat dimengerti jika Markus hanya menulis hal-hal yang dapat diingatnya. Baginya
hanya ada satu tujuan – tidak melewatkan hal-hal yang didengarnya dan tidak salah dalam
menuturkannya.”[21]
Pendapat Irenaeus sejalan dengan tradisi ini,[22] demikian juga pendapat Origenes dan
Tertullianus.[23] Clemens Aleksandria, yang menulis pada akhir abad II, melaporkan tradisi
purba bahwa Markus didesak oleh para pendengar khotbah Petrus di Roma agar ia menulis apa
yang dikatakan oleh rasul Petrus itu.[24] Mengikuti tradisi ini, pada umumnya para sarjana
biblika berpendapat bahwa Injil ini ditulis di Roma.
Sebagaimana telah dibicarakan, dalam Injil ini ada nuansa penganiayaan. Hal ini memberi
petunjuk bahwa Injil ini ditulis dengan tujuan untuk memperkukuh iman persekutuan orang
beriman di tengah penganiayaan yang mereka alami. Penganiayaan berat atas umat Kristen di
Roma di bawah pemerintahan Nero dianggap sebagai petunjuk yang menguatkan pendapat
bahwa Injil ini ditulis di Roma.[25] Digunakannya banyak kosakata Latin dalam Injil Markus
juga menunjukkan bahwa Injil ini ditulis di Roma.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir ini, teori Roma-Petrus mulai diragukan. Beberapa
ahli biblika yakin bahwa dalam Injil Markus terdapat kesalahan letak geografis dan adat-istiadat
Galilea.[26] Hal ini menunjukkan bahwa penulis, atau paling tidak sumber yang digunakannya,
tidak akrab dengan letak geografis dan adat-istiadat Galilea, tidak seperti Petrus
historis.[27] Sementara ahli juga meragu-kan bahwa Injil ini berkaitan dengan penganiayaan
Nero, sebab penganiayaan terhadap umat Kristen pada waktu itu terjadi secara luas, bahkan
secara sporadis terjadi pula di luar kota Roma.[28]
Para ahli biblika mutakhir pada umumnya sepakat bahwa Injil Markus adalah Injil kanonik
yang ditulis pertama kali, sedangkan pandangan tradisional, yang populer di kalangan bapa-
bapa gereja (terutama Agustinus dari Hippo), menganggapnya sebagai Injil kanonik yang ditulis
pada urutan kedua, setelah Injil Matius. Pendapat bahwa Injil Markus ditulis lebih dulu
daripada Injil Matius didasarkan pada hipotesis dua sumber dan hipotesis sumber Q (hal ini
dibicarakan oleh para ahli biblika secara panjang lebar dalam problema sinoptik).
3) Injil Lukas
a) Penulisnya
Penulis Injil Lukas kemungkinan adalah seorang Kristen non-Yahudi.[29] Tradisi
menganggap bahwa penulisnya adalah Lukas, kawan sekerja Paulus. Namun pendapat
mutakhir tentang hal ini bermacam-macam.[30]
Tradisi awal, sebagaimana disaksikan oleh kanon Muratori (+200), Irenaeus (+170),
Clemens Aleksandria, Origenes, dan Tertullianus, berpegang pada pendapat bahwa Injil Lukas
dan Kisah Para Rasul keduanya ditulis oleh Lukas, kawan sekerja Paulus.[31] Manuskrip tertua
Injil ini (kira-kira tahun 200) telah berjudul “Injil Lukas.” Bahwa penulis Injil Lukas dan Kisah
Para Rasul adalah orang yang sama, tersirat dalam pendahuluan kedua kitab itu. Keduanya
ditujukan untuk Teofilus, dan dalam Kisah, penulis secara langsung mengatakan “dalam
bukuku yang pertama” tentang kehidupan Yesus. Di samping itu, dalam kedua kitab tersebut
terdapat kesamaan linguistik dan teologis, yang menunjukkan bahwa keduanya berasal dari
seorang penulis. Kedua kitab itu juga berisi pokok pembicaraan yang sama.[32] Namun, secara
internal, naskah Injil ini anonim.
Bukti internal dalam Kisah, terutama dari penggunaan kata ganti orang pertama jamak
dalam narasinya, menunjukkan bahwa penulisnya adalah kawan sekerja Paulus.[33] Bukti lain
kita temukan dalam surat-surat Paulus, di mana Paulus menyebut Lukas sebagai ‘tabib
terkasih.’ Sementara ahli PB memang melihat penggunaan terminologi-terminologi medis
dalam kedua kitab itu.[34]
Pandangan tradisional bahwa Lukas adalah penulis Injil ketiga diterima secara luas di
kalangan ahli-ahli PB.[35] Namun, di antara ahli-ahli biblika mutakhir tidak ada kesepakatan
mengenai siapakah penulis Injil Lukas yang sebenarnya.[36]
b) Waktu penulisan
Beberapa ahli PB berpendapat bahwa Injil ini ditulis di antara 80-90.[37]Menurut Donald
Guthrie, Injil ini telah dikenal sebelum akhir abad pertama dan diakui sejak awal abad
kedua.[38] Sedangkan Helmut Koester menyatakan bahwa kecuali dari Marcion, tidak ada
bukti yang pasti bahwa Injil ini telah dikenal sebelum 150.[39]
Banyak ahli biblika dewasa ini berpendapat bahwa Lukas menggunakan Markus sebagai
salah satu sumbernya.[40] Jika benar bahwa Markus ditulis di sekitar keruntuhan Bait Allah di
Yerusalem, maka Lukas pasti tidak mungkin ditulis sebelum 70. Pandangan ini juga meyakini
bahwa prediksi Lukas mengenai keruntuhan Bait Allah bukanlah akibat ramalan ajaib Yesus
tentang apa yang akan terjadi di masa depan, melainkan ditulis berdasar pengetahuan setelah
fakta itu terjadi. Mereka meyakini bahwa pembicaraan dalam Lukas 21:5-30 hanya mungkin
terjadi jika Injil ini ditulis setelah 70.[41] Para ahli yang mendukung pendapat ini mengusulkan
bahwa waktu penulisan Injil Lukas adalah di antara 75–100. Marcion (144) telah menggunakan
Injil ini, namun ia menyebutnya sebagai “Injil Tuhan.”[42]
Beberapa ahli PB mengusulkan waktu penulisan yang lebih awal, yaitu sekitar 37-
61.[43] Hal ini didasarkan pada alasan bahwa Injil ini ditujukan untuk ‘Teofilus yang mulia,’
yang rupanya menunjuk pada Teofilus ben Ananus, Imam Besar Israel pilihan pemerintah
Romawi antara tahun 37–41. Seandainya pendapat ini benar, maka Injil ini ditulis sekitar 4-8
tahun setelah kematian Yesus.
Beberapa ahli PB yang lain berpendapat bahwa Lukas mengumpulkan bahan-bahan
tulisannya yang unik selama pemenjaraan Paulus di Kaesaria, ketika Lukas
mengunjunginya.[44] Paulus mengatakan bahwa Lukas beberapa kali mengadakan perjalanan
bersamanya. Namun, Guthrie memberi catatan, bahwa kebanyakan bukti-bukti untuk
menentukan waktu penulisan Injil ini hanyalah didasarkan pada perkiraan.
b. Kesamaan-kesamaan di antara Injil-injil Sinoptik
Injil-injil Sinoptik semua menceritakan sosok Yesus dan memproklamasikan Dia sebagai
Anak Allah, Anak Manusia, Mesias dan hakim akhir zaman. Penceritaannya bermula entah
dari kelahiran Yesus atau dari peristiwa pembaptisan-Nya dan berakhir dengan cerita tentang
kubur yang kosong serta penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (meskipun teks
Markus hanya berakhir dengan cerita kubur yang kosong saja; lht. Mk. 16). Dalam Injil-injil ini
diceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, mengampuni dosa,
dan menunjukkan kuasa-Nya atas alam. Selintas, ketiga Injil ini seakan-akan menunjukkan
kemahatahuan dan kemahahadiran Yesus, sehingga Yesus digambarkan sebagai inkarnasi Allah
di bumi, yang mengetahui rahasia pikiran Allah, serta berbicara dengan kuasa Allah. Yesus
menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dan mengatakan bahwa segala sesuatu telah diserahkan oleh
Bapa kepada-Nya.
Di samping itu, tema utama yang diberitakan dalam ketiga Injil ini sama, yaitu kedatangan
Kerajaan Allah. Dalam hal ini, Matius lebih suka menggunakan istilah ‘Kerajaan Surga’
(Matius menggunakan istilah ini 35 kali) daripada ‘Kerajaan Allah’ (yang hanya digunakan 6
kali); sedangkan Markus dan Lukas lebih suka menggunakan istilah ‘Kerajaan Allah,’ dan tidak
menggunakan istilah ‘Kerajaan Surga.’ Namun dalam Injil-injil Sinoptik, kedua istilah tersebut
digunakan dengan makna yang sama.
1. Gagasan-gagasan teologisnya
a. Tentang Kerajaan Allah
1) Kedatangan Kerajaan Allah
Tema utama pemberitaan Injil-injil Sinoptik adalah kedatangan Kerajaan Allah, yang
dibicarakan dalam hubungannya dengan pribadi Yesus dan seluruh peristiwa yang
menyekitarinya; mulai dari kelahiran, pembaptisan, pelayanan, mujizat-mujizat yang dilakukan,
pengajaran, sampai dengan kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (dalam Injil
Matius, Yesus lebih banyak berbicara mengenai Kerajaan Surga ketimbang tentang diri-Nya
sendiri).[45]
Dalam Injil-injil Sinoptik disaksikan bagaimana Allah melakukan intervensi dalam sejarah
manusia melalui dan di dalam pribadi Kristus Yesus. Di mata para murid Yesus dan orang-
orang sezaman-Nya, Yesus adalah seorang nabi, seorang guru yang berkelana untuk
memberitakan Kerajaan Allah, namun ditolak oleh para pemuka agama dan kemudian
dibunuh. Kalaupun ada perbedaan dengan nabi-nabi PL, maka perbedaannya adalah: nabi-nabi
PL menubuatkan kedatangan Kerajaan Allah dengan segala kemuliaannya, sedangkan Yesus
menggenapi nubuat itu. Dengan kata lain, di dalam dan melalui diri Yesus, Kerajaan Allah itu
sesungguhnya telah hadir. Hal ini antara lain dapat kita lihat dari kesaksian Injil-injil Sinoptik
berikut ini:
1) Menurut kesaksian Injil Markus, peristiwa pembaptisan Yesus (Mk. 1:9-11) disertai
dengan turunnya Roh Allah dan adanya suara dari langit, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-
Nya Aku berkenan.” Ungkapan ini merupakan kutipan dari Mazmur 2:7 yang digabungkan
dengan Yesaya 42:1. Dengan rumusan ini, penulis Injil bermaksud menunjukkan bahwa
pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah dengan segala kemuliaannya telah digenapi
dalam diri Yesus, yang melalui peristiwa pembaptisan itu telah diteguhkan menjadi Raja
Mesias, Hamba TUHAN. Mazmur 2:7 termasuk dalam Mazmur Raja, yang formulasinya
selalu digunakan oleh umat Israel ketika mereka meneguhkan seorang raja, karena raja diyakini
sebagai orang yang dikenan Allah untuk melaksanakan pemerintahan atas nama Allah. Pada
saat peneguhan seorang raja, Imam Besar akan mengucapkan, “Anak-Ku engkau! Engkau telah
Kuperanakkan pada hari ini.” Kini rumusan tersebut dikenakan kepada Yesus, dan
ditambahkan dengan kutipan Yesaya 42:1, “Kepada-Nya Aku berkenan.” Kejadian luar biasa
yang lain dalam peristiwa pembaptisan Yesus adalah turunnya Roh Kudus. Hal ini menggenapi
apa yang diutarakan dalam ayat tersebut selanjutnya, “Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya.”
Hal ini mencerminkan keyakinan penginjil bahwa Yesus telah diurapi dan dilantik sebagai Raja
Mesias dan hamba TUHAN (bdk. Luk. 4:18, yang mengutip Yes. 61:1).[46]
2) Setelah melewati pencobaan di padang gurun, Yesus mengawali pelayanan-Nya di
Galilea dengan suatu proklamasi, “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat,
bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mk. 1:15). Kairos (‘waktu’ atau ‘saat’) merupakan
konsep teologis yang akrab bagi umat Yahudi, yaitu sebagai datangnya zaman rahmat, yang di
dalamnya Allah menampakkan kemuliaan-Nya, sekaligus merupakan zaman pembebasan dan
pemulihan kejayaan Israel. Waktu atau saat yang mereka tunggu itu, kini telah dekat (di dalam
Kristus). Kata Yunani enggizōyang diterjemahkan mendekat dapat berarti mendekat secara
waktuwi, atau mendekat secara spasial (dalam arti tempat). Secara waktuwi, Yesus
memproklamasikan bahwa Kerajaan Allah sudah hampir tiba, yaitu melalui seluruh pelayanan-
Nya yang berpuncak pada kematian-Nya di kayu salib. Itulah sebabnya penulis Injil Markus
menamai seluruh karangannya sebagai ‘Injil.’ Sedangkan secara spasial, proklamasi Yesus itu
menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah menjadi realitas, sudah dan sedang hadir di tengah-
tengah kehidupan manusia, sudah dan sedang mewujudnyatakan keberadaannya di tengah-
tengah sejarah, melalui kehadiran Yesus dengan seluruh pelayanan-Nya. Proklamasi Yesus
tentang kehadiran Kerajaan Allah adalah untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang-
orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, memberi penglihatan
kepada orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan memberitakan tahun
rahmat Tuhan” (Luk. 4:18-19). Awal pekerjaan Yesus di Galilea sekaligus merupakan
maklumat peperangan melawan kuasa Iblis. Karena itu, setiap orang kini terpanggil untuk
mengambil keputusan: berpihak kepada Kristus, atau berpihak kepada Iblis (bdk. Luk. 11:14-
22). Seruan untuk bertobat merupakan panggilan untuk berbalik arah dan berpihak kepada
Allah, yang telah berkarya di dalam dan melalui diri Yesus. Hal ini merupakan kabar baik yang
harus diterima dengan iman.
3) Di Kaesaria Filipi, sesudah Yesus memberi makan 5000 orang, orang banyak ingin
menjadikan Dia raja. Tetapi Yesus mengundurkan diri dari mereka. Kemudian Ia bertanya
kepada murid-murid-Nya, “Menurut kamu,siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Mesias dari
Allah” (Mk. 8:29; Luk. 9:20). Dalam konsepsi Yahudi, Mesias selalu dihubungkan dengan
Kerajaan Allah dengan segala kemuliaannya. Namun Yesus menjawab, bahwa Anak Manusia
harus menderita sengsara (Mk. 8:31; Luk. 9:22). Yesus tidak menyangkal pengakuan Petrus,
namun Ia menambahkan unsur baru, karena Ia mengidentikkan diri-Nya dengan ‘Anak
Manusia’ (Luk. 9:22), sebagai penggenapan Daniel 7:13-14. Meskipun demikian, tidak seperti
gambaran dalam kitab Daniel, Anak Manusia dalam Injil-injil Sinoptik tidak hadir dengan
segala kemuliaan-Nya, melainkan dengan penderitaan yang harus dialami-Nya. Jadi, melalui
jawaban-Nya itu, secara tidak langsung Yesus menggabungkan gagasan tentang Raja Mesias
dengan gagasan tentang Hamba TUHAN yang menderita. Setelah peristiwa itu, enam hari
kemudian Petrus dibawa ke puncak bukit untuk menyaksikan peristiwa transfigurasi. Rangkaian
ini menunjukkan bahwa puncak kehadiran Kerajaan Allah harus dicapai melalui penderitaan
Mesias, Hamba TUHAN.
Dari beberapa fakta di atas, para penginjil ingin menunjukkan bahwa Kerajaan Allah, yang
dinantikan oleh umat Yahudi, sesungguhnya sudah hadir di dalam dan melalui diri Yesus.
Sementara orang berpendapat bahwa Kerajaan Allah adalah Firdaus, yang akan dibangun oleh
manusia di atas bumi, dengan bertumpu pada pekerjaan Yesus yang bersifat etis. Pendapat lain
mengatakan bahwa Kerajaan Allah merupakan puncak proses evolusi dalam dunia ini.
Kesadaran etis manusia makin lama menjadi semakin tinggi, sehingga tingkah-lakunya menjadi
semakin baik. Pada saatnya nanti, manusia akan dapat hidup tenang dalam kebersamaan
dengan sesamanya. Ada pula yang berpendapat bahwa Kerajaan Allah identik dengan
pertumbuhan gereja; atau dengan kata lain, gereja adalah wujud nyata dari Kerajaan Allah.
Itulah sebabnya Allah disebut sebagai Raja Gereja. Benarkah Kerajaan Allah di bumi itu sama
dengan gereja? Pendapat ini perlu ditinjau ulang dengan seksama.
Agaknya, lebih dapat dipertanggungjawabkan jika Kerajaan Allah dipahami bertolak dari
pewartaan Injil-injil Sinoptik sendiri. Dalam terang pewartaan Injil-injil Sinoptik, Kerajaan
Allah dapat dipahami sebagai berlakunya pemerintahan Allah yang dinamis dan eskhatologis di
tengah sejarah manusia. Dinamis karena tindakan Allah itu terwujud secara nyata dalam
sejarah manusia. Eskhatologis karena Kerajaan Allah berhubungan dengan tindakan Allah di
akhir zaman (eskhaton), yaitu zaman rahmat. Dalam gagasan Yahudi,eskhaton memiliki
kesamaan arti dengan zaman Mesias; karena Mesiaslah yang menghadirkan Kerajaan Allah.
Dalam pengertian ini, wibawa Allah selaku Raja bukan saja diakui, melainkan juga
diberkakukan, dan kehendak-Nya ditaati dalam kehidupan manusia. Dengan demikian,
Kerajaan Allah bukan kerajaan dalam arti kewilayahan, melainkan pemerintahan Allah selaku
raja. Dalam diri Yesus dan pelayanan-Nya, pengharapan eskhatologis itu sudah terealisasi.
Karena itu, pada saat ini, setiap orang yang menerima Dia sudah berada dalam zaman
eskhatologi. Hal ini sesuai dengan pendapat Charles Harold Dodd yang mengartikan
kata ēnggiken (bentuk aorist aktif untuk orang ketiga tunggal dari kata enggizō) sebagai ‘sudah
datang.’
Beberapa pernyataan yang mendukung pendapat bahwa, menurut Injil-injil Sinoptik,
Kerajaan Allah sudah datang:
· Tidak ada gunanya Yesus mengatakan ‘waktunya sudah genap’ jika Kerajaan Allah
tidak hadir dalam diri-Nya.
· Pengusiran setan yang dilakukan Yesus merupakan tanda mulai berlakunya Kerajaan
Allah (Luk. 11:20).
· Lukas 17:21, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, sebab Kerajaan
Allah ada di antara kamu.”
· Pernyataan dalam Matius 21:31, “Sebenarnya para pemungut cukai dan perempuan-
perempuan sundal lebih dahulu masuk Kerajaan Allah ...” menunjukkan bahwa Kerajaan Allah
telah hadir dalam diri Yesus, yang memberitakan pengampunan Allah kepada mereka.
· Secara tidak langsung, mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan tanda-
tanda kedatangan Kerajaan Allah.
· Dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan, Yesus memberitakan bahwa
Kerajaan Allah sudah hadir di dunia ini (misalnya, Mk. 4:20-24 tentang biji sesawi; Mat. 13:23,
tentang Kerajaan Allah seperti ragi; Mk. 4:26-29, tentang benih yang tumbuh). Perumpamaan-
perumpamaan tersebut menggambarkan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang telah ada, hidup
dan bergerak secara dinamis menuju puncak kesempurnaannya kelak.
2) Hubungan Kerajaan Allah dengan Allah sebagai Bapa
Dalam Lukas 11:2; 12:22 dan 32, Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa-Nya. Hal ini
merupakan pengajaran dasar yang menjelaskan hubungan antara orang percaya dengan Allah,
yang dimungkinkan oleh karya Allah sendiri melalui diri Yesus. Sebelum itu tidak ada orang
Yahudi yang berani menggunakan sebutan ‘Abba’ bagi Yahwe. Apa yang diungkapkan Yesus
tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang boleh menyebut Allah sebagai Bapa,
melainkan hanya orang-orang percaya yang telah menerima segala karya Allah dengan iman.
Orang-orang percaya boleh menyebut Allah sebagai Bapa hanya oleh karya penyelamatan-Nya
yang dikerjakan dalam diri Yesus. Sebutan Bapa melukiskan relasi yang akrab, bukan
mengandaikan nisbah genealogis-biologis. Sebagaimana gagasan Aramik, Bapa mempunyai
makna asal-usul dari segala keberadaan, sekaligus menjadi sumber pertolongan, pengharapan
dan pemeliharaan. Kerajaan Allah sudah hadir di tengah kehidupan manusia, dan melalui
Yesus, Allah telah menyatakan diri sebagai pemelihara umat-Nya dengan sifat kebapaan-Nya.
3) Hubungan Kerajaan Allah dengan gereja
Kebanyakan ahli biblika berpendapat bahwa kedatangan Yesus tidak bermaksud
mendirikan gereja atau agama baru, sebagaimana pelayanan yang dilakukan-Nya pun tetap
dalam lingkup kehidupan keagamaan umat Israel. Yesus datang untuk memberitakan Kerajaan
Allah agar dapat diterima secara pribadi oleh umat manusia. Namun tidak berarti bahwa
Kerajaan Allah bersifat individual dan tidak memiliki aspek persekutuan. Hal ini terdukung oleh
fakta:
· Dalam pengertian tentang Kerajaan Allah terkandung pula gagasan keumatan,
karena Raja pasti memiliki umat yang dirajai. Persekutuan umat yang menerima dan
memberlakukan wibawa Allah selaku rajanya itulah umat Kerajaan Allah. Mereka
dipersekutukan dalam satu ikatan ketaatan kepada Allah selaku rajanya.
· Jika Yesus menyetujui jawaban Petrus bahwa Dia adalah Mesias, maka secara tidak
langsung, di dalamnya terkandung pula gagasan keumatan, sebab, dalam PL, gelar Hamba
Allah dan Anak Manusia digunakan dalam konteks fungsionalnya di tengah umat Allah. Anak
Manusia dalam Daniel 7 mewakili orang-orang suci yang menjadi milik Yang Mahatinggi.
Hamba TUHAN dalam Yesaya 53 memberikan nyawanya untuk umatnya. Jadi dalam kedua
gelar tersebut secara implisit terkandung pula gagasan keumatan. Perkataan Yesus, “Akulah
gembala yang baik ...” itu pun mengungkapkan bahwa kehadiran-Nya adalah demi umat yang
digembalakan-Nya.
7
· Jika kita melihat pelayanan Yesus, sekalipun Ia tidak bermaksud membentuk gereja,
namun dengan pemanggilan para murid, yang kemudian diikuti oleh banyak orang yang
menjadi percaya, maka wajar jika sebagai akibatnya terbentuk suatu persekutuan umat.
Sekalipun gereja tidak identik dengan Kerajaan Allah itu sendiri, namun tidak dapat diingkari
bahwa gereja berada dalam lingkup Kerajaan Allah itu. Seharusnya gereja mampu
menunjukkan kehadiran Allah di tengahnya melalui segenap kehidupannya.
4) Hubungan antara etika Kristen dengan Kerajaan Allah
Albert Schweitzer keberatan jika Yesus disamakan dengan Raja Mesias yang menghadirkan
Kerajaan Allah. Ia lebih menekankan aspek eskhatologis Kerajaan Allah. Menurutnya, Yesus
adalah seperti nabi biasa yang mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah dalam waktu dekat.
Sehubungan dengan itu, etika Kristen dinilai sebagai “an ethic for the interim” (etika untuk
sementara). Namun A.M. Hunter menyanggahnya. Menurut Hunter, sampai saat ini etika
Kristen merupakan etika yang paling tinggi tuntutannya. Karena itu, mustahil jika etika Kristen
hanya menjadi etika sementara. Etika yang dibawa oleh Yesus bukan hanya sebagai Taurat baru
yang memiliki kedudukan sama dengan Taurat yang diberikan kepada Musa, karena etika
Yesus itu memenuhi pengharapan orang-orang yang mengambil bagian dalam Kerajaan Allah.
Hidup dalam lingkup Kerajaan Allah ditandai dengan pola hidup yang beralas pengajaran
Kristus, yang ukurannya berbeda dengan ukuran dunia.[47]
Khotbah di Bukit menunjukkan bahwa eskhatologi bergandeng tangan dengan moralitas
dan etika. Khotbah Yesus itu sekaligus bersifat eskhatologis dan mesianis. Melaluinya nubuat
nabi-nabi digenapi dan kaidah Kerajaan Allah dinyatakan. Seluruh pengajaran etis dalam
khotbah tersebut didasarkan pada karunia Bapa yang telah menyatakan kerajaan-Nya. Karena
itu, dapat dikatakan bahwa etika Khotbah di Bukit adalah ‘etika anugerah,’ yang sangat antitetis
terhadap hukum Taurat, yang selama ini ditekankan oleh para pemimpin agama Israel secara
harfiah. Setelah delapan ucapan bahagia (Mat. 5:3-12), Yesus mengajarkan penerapan hukum
Taurat yang benar sebagai etika anugerah:
§ Kamu telah mendengar firman: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus
dihukum. Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah kepada saudaranya harus
dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah
Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala
(Mat. 5:21-22).
§ Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap
orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di
dalam hatinya (Mat. 5:27-28).
§ Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai
kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali
karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang
diceraikan, ia berbuat zinah (Mat. 5:31-32).
§ Kamu telah mendengar firman: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah
sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah,
baik demi langit, karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah
tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
janganlah engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau
menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah
kamu katakan: tidak (Mat. 5:33-37).
§ Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata
kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa
pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang
yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkan juga jubahmu. Dan
siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua
mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau
meminjam dari padamu (Mat. 5:38-42).
§ Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang
menganiaya kamu (Mat. 5:43-44).
8
Itulah moral ideal manusia Kerajaan Allah, yang seharusnya menjadi pola kehidupan bagi
setiap orang beriman. Tuntutan ini tentu saja merupakan panggilan, atau lebih tepatnya,
konsekuensi logis, yang tidak ringan bagi manusia Kerajaan Allah. Apakah moral ideal itu
merupakan syarat keselamatan? Tentu saja bukan, melainkan sebagai konsekuensi logis hidup
dalam keselamatan. Seakan-akan hal ini merupakan ideal utopis, namun itulah rancang-bangun
Kerajaan Allah yang harus menjadi arah pandang etis bagi setiap orang beriman. Jika etika itu
diringkaskan, maka intinya adalah kasih. Kasih merupakan kunci utama moralitas Kerajaan
Allah.
Ketaatan terhadap moralitas ideal ini jauh melampaui ketaatan legalistik terhadap hukum
Taurat. Pendorong untuk melakukannya bukanlah ketaatan lahiriah, melainkan kesadaran diri
atau suara hati, yang ditimbulkan oleh adanya relasi kasih, baik dengan Allah maupun dengan
sesama. Ketaatan tersebut dilakukan dengan kerelaan dan bukan dengan keterpaksaan, sehingga
tuntutan moral ideal tersebut tidak dianggap sebagai beban, melainkan kewajaran semestinya.
Tidak seperti ketaatan legalistik yang menitikberatkan sisi lahiriah suatu perbuatan,
ketaatan terhadap moralitas ideal yang didasarkan pada suara hati mencakup pula motif
terdalam dari suatu perbuatan. Dengan demikian rancangan dan pikiran pun tercakup dalam
ranah penilaiannya. Oleh sebab itu, moralitas ideal manusia Kerajaan Allah sesungguhnya
mencakup totalitas kemanusiaan kita.
b. Kristologinya
1) Kristologi Injil Markus
Dalam Injil Markus, kristologi merupakan unsur penting – kalau tidak terpenting. Markus
menunjukkan hal ini dalam pembukaan Injilnya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus,
Anak Allah” (Mk. 1:1). Yesus Kristus sendirilah Injil (Kabar Baik) itu. Penulis Injil ini
bermaksud mempertemukan para pembaca atau pendengarnya dengan Yesus, sehingga mereka
dapat memahami misteri tentang siapakah diri-Nya.
Studi kritis, terutama analisis redaksional, menunjukkan bahwa Injil Markus disusun secara
cermat sebagai tulisan teologis dalam bentuk narasi sastrawi. Injil ini bukan semata-mata karya
historis dan biografis dalam pengertian modern, tetapi lebih merupakan proklamasi teologis
yang dimaksudkan untuk membawa pembacanya ke dalam relasi dengan Kristus secara real.
Sebagaimana dikatakan Martin Kelber, Markus 1:1 bukanlah permulaan Injil yang ditulis secara
kebetulan, melainkan benar-benar dimaksudkan sebagai pengantar kepada Yesus Kristus.
Melalui proklamasi Markus itu pembaca dipertemukan dengan Yesus dan berelasi dengan-Nya.
Memang, relasi tersebut harus diperdalam dengan cara menapakkan kaki di jalan-Nya, yaitu
jalan penderitaan dan jalan salib. Mengikut Yesus berarti meneladan kesediaan-Nya menderita
karena ketaatan-Nya kepada Bapa. Mengikut Yesus berarti meneladan kebenaran-Nya.
Sehubungan dengan itu, Markus bukan saja menunjukkan identitas Yesus, melainkan juga
identitas kemuridan yang sesungguhnya.[48]
Markus mengawali dan mengakhiri cerita pelayanan duniawi Yesus dengan gelar kristologis
yang dilekatkan kepada Yesus, yaitu ‘Anak Allah.’ Isi gelar kristologis tersebut dijelaskan dalam
1:1 hingga 15:39. Perrin berpendapat bahwa Markus berusaha mengajar umat Kristen waktu itu
mengenai kristologi yang benar.[49] Pada prinsipnya, Kelber sepakat dengan gurunya (Perrin),
demikian pula Weeden,[50] bahwa kristologi sesat agaknya telah berkembang pada masa hidup
penulis Injil Markus. Menurut Kelber, kristologi jemaat perdana di Yerusalem sudah
berkembang, namun kemudian dihancurkan oleh kekuasaan Romawi pada 70. Sedangkan yang
dimaksud kristologi sesat adalah kristologi Hellenistis, yang berpendapat bahwa Kristus adalah
‘manusia-ilahi.’ Ajaran sesat ini kemungkinan sama dengan ajaran sesat yang dihadapi oleh
Paulus di Korintus. Mereka melihat Yesus sebagai Juruselamat adikodrati, yang diberkati
dengan kuasa untuk berbuat mujizat serta pengetahuan supranatural, yang kemudian diajarkan
kepada para pengikut-Nya. Jadi, kelompok yang dilawan oleh penulis Markus adalah salah satu
bentuk kekristenan elitis, yang membanggakan pengetahuan esoteris, kuasa untuk membuat
mujizat, dan bersikap sombong karena merasa sebagai orang-orang yang terpilih.
Bagi penulis Injil Markus, gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus harus dimengerti dalam terang
gelar yang lain, yaitu ‘Anak Manusia.’ Sekalipun Yesus sendiri kemungkinan tidak pernah
menyebut diri-Nya ‘Anak Manusia,’ namun dalam Injil Markus seakan-akan gelar tersebut
dikatakan oleh Yesus. Lebih dari itu, Yesus menurut Injil Markus menggunakan gelar ini secara
9
khusus sebagai koreksi atas pemahaman umum terhadap gelar ‘Anak Allah.’ Misalnya, dalam
8:27-38, Yesus menanggapi pengakuan Petrus bahwa Dia adalah Mesias dengan mengatakan
bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-
imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Sama halnya,
ketika Imam Besar bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
(14:61), maka Yesus menjawab, “Akulah Dia,” namun segera disusul dengan penjelasan “dan
kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di
tengah-tengah awan-awan di langit” (14:62).
Tekanan Markus adalah bahwa kita tidak dapat memahami Yesus, karena itu harus
menjadi murid-murid-Nya, hingga kita menyadari bahwa hal yang paling penting adalah
penderitaan Yesus karena pelayanan-Nya dan bahwa hal itu harus terjadi pada diri kita. Yesus
bukanlah Mesias dengan kemuliaan duniawi, tetapi Mesias yang menderita karena kasih-Nya
kepada Allah dan manusia. Dalam paruh pertama Injilnya, dengan cara lembut penulis Markus
mempersiapkan pembacanya akan kenyataan ini. Bagian ini hampir seluruhnya merupakan
kisah tentang ‘manusia-ilahi,’ yang terpusat pada ‘pekerjaan-pekerjaan Yesus yang besar’ dan
penanaman informasi esoteris kepada para murid-Nya. Hardikan Yesus atas Petrus dalam 8:33,
menunjukkan bahwa pandangan Petrus terhadap diri-Nya sebagai Mesias dengan segala
kemuliaannya, bukan saja tidak tepat, melainkan juga demonis. Jelas bahwa penulis Markus
ingin meluruskan pengertian para pembacanya. Jika selama ini mereka merasa bahwa
pengertian mereka terhadap Yesus sudah benar, maka sekarang penulis Markus justru
menyatakan bahwa Yesus sendiri mempersalahkan mereka.
Jika kita cermati, penulis Injil Markus bukannya tidak mempersiapkan para pembacanya
untuk sampai pada pengertian sebagaimana dikehendaki Yesus dalam 8:33. Dalam seluruh
paruh pertama Injil Markus, Yesus mengidentifikasi diri dengan mereka yang menderita:
mereka yang miskin, sakit dan lapar, orang-orang berdosa dan orang-orang yang terbuang. Ia
menjembatani jurang pemisah antara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi. Dalam bab 4
dipaparkan ketidakmampuan para murid, sama seperti orang-orang banyak yang lain,
memahami pengajaran Yesus tentang ‘rahasia Kerajaan Allah’ yang disampaikan dengan
berbagai perumpamaan. Dengan cara lembut dan kreatif, penulis Injil ini memulai Injilnya
dengan menunjukkan kekeliruan orang-orang non-Kristen yang bersikap elitis dan triumfalis.
Dari 8:33 dan seterusnya, kesalahan-kesalahan itu dikritik dan dikoreksi oleh Yesus.
Orang sering menganggap pengakuan Petrus sebagai puncak Injil ini. Namun
sesungguhnya, klimaks pemberitaan Markus adalah pengakuan kepala pasukan Romawi di kaki
salib Yesus, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (15:39). Di sini, kristologi Markus dan
implikasinya diejawantahkan dalam gaya naratif penulis yang sangat dramatis dalam
menyampikan pemikiran teologisnya. Disalahmengerti dan akhirnya ditinggalkan oleh para
murid-Nya, bahkan rupanya juga ditinggalkan oleh Allah, Yesus mati dalam penderitaan yang
mendalam, baik secara fisik maupun rohani. Dari atas salib, Ia mengucapkan kata-kata sedih. Ia
hanya dapat berseru kepada Allah dengan suara lantang atas penderitaan-Nya yang berat,
seruan yang tak terucapkan. Dan karena itulah seorang manusia, yang dibenci oleh para
penindas kafir dan para penyembah berhala, dapat disebut ‘Anak Allah.’
Jadi, inti kristologi Injil Markus adalah: ‘Anak Allah’ = ‘Anak Manusia yang menderita.’
Konsepsi Markus tentang Yesus pasti termasuk pula kuasa dan otoritas-Nya yang tersirat dalam
gelar ‘Anak Allah’ (seperti kuasa untuk melakukan mujizat dan mengusir setan, kuasa untuk
mengesampingkan hari Sabat dan kuasa untuk menghakimi). Namun bagi Markus, kuasa dan
otoritas itu tetap tersembunyi dalam diri Yesus hingga dinyatakan nanti pada saat parousia,
ketika Yesus kembali dengan kemuliaan-Nya. Dalam masa selang ini, kita belum berada dalam
kemuliaan masa depan Yesus, sebaliknya, kita dipanggil untuk mengikuti jalan salib-
Nya. Gnōsis yang ditinggalkan bagi kita bukanlahgnōsis esoteris, bukan pengetahuan yang
dianugerahkan kepada orang-orang yang terpilih untuk diselamatkan, melainkan rahasia
Kerajaan yang tersembunyi, yang terlahir dalam kelemahan; Kerajaan yang harus bertumbuh
melalui penderitaan dan perlawanan, hingga kehendak Allah digenapi. Bukan orang-orang yang
memegahkan keselamatannya atau mereka yang melakukan banyak mujizat akan diselamatkan,
melainkan mereka “yang bertahan sampai akhir” dengan “melakukan kehendak Bapa-Ku,”
kehendak seperti yang diterima Yesus di taman Getsemani. Yesus, “hamba Allah yang
menderita,” bukan hanya Juruselamat kita, melainkan juga harus menjadi model kita. Kita
tidak dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya, jika tidak ikut ambil bagian dalam
10
pelayanan kasih-Nya yang rela menderita. Inilah pesan Markus kepada umat Kristen pada
zamannya, yang hingga hari ini masih harus ki

