menggambarkan “Yang Lanjut Usianya” dalam beberapa
ayat yang sangat penting yaitu:
25 Donald Guthrie, New testament Theology (Downers
Grove, III.: InterVarsity, 1981), p. 280-281.
26 Ibid., p. 281.
Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu,
tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang
seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut
Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu
diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan
kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala
bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.
Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak
akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak
akan musnah.27
Dari beberapa nats singkat di atas didapatkan
beberapa hal untuk diperhatikan yaitu: pertama, “seorang
seperti anak manusia” datang dari sorga. Kedua, Ia
dibawa ke hadapan “Yang Lanjut Usianya itu”. Ketiga,
semua orang mengabdi kepadanya. Keempat, Ia diberi
kuasa untuk memerintah atas semua bangsa untuk
selama-lamanya. Kelima, “Anak manusia” ditemukan
dalam suatu konteks yang menegaskan bahwa “orang-
orang kudus” akan dimuliakan melalui penderitaan
(7:15-27).
Selain informasi yang ada dalam Perjanjian
Lama, istilah “anak manusia’ muncul di dalam beberapa
nas dalam tulisan-tulisan Yahudi dan masa Perjanjian
Baru (khususnya Pseudepigrapha). Yang paling penting
ialah 1 Henokh 37-71. Di situ sifat dan fungsi “anak
manusia” digambarkan dengan cara yang jauh lebih
lengkap dari pada dalam Perjanjian Lama.
Apakah informasi ini dapat digunakan untuk
menjelaskan latar belakang pemakaian “anak manusia”
oleh Yesus? Para ahli PB berbeda pendapat, sebab
mereka kurang yakin akan masa penulisan 1 Henokh 37-
71. Ada banyak ahli PB yang berpendapat bahwa bagian
ini ditulis sesudah masa PB, sehingga tidak boleh
dipakai untuk menjelaskan latar belakang PB.
Sappington menerangkan bahwa ada beberapa argumen
yang sering dikemukakan untuk mendukung pendapat
ini yaitu: pertama, Naskah-naskah I Henokh yang
tertua yang meliputi pasal 37-71 berasal dari abad 16.
kedua, walaupun naskah-naskah bagian-bagian yang lain
dan 1 Henoch telah ditemukan di Laut Mati (Qumran), di
situ belum ada satupun naskah yang meliputi pasal
37-71. Ketiga, ada beberapa ahli PB yang berpendapat
bahwa sudah nyata ajaran mengenai “anak manusia”
yang ada dalam I Henokh 37-71 dipengaruhi oleh
ajaran-ajaran Kristen mengenai Yesus.28
Pada hal banyak ahli PB berpendapat bahwa 1
Henokh ditulis sesudah masa PB, banyak juga ahli PB
yang lain berbeda pendapat. Mengapa? Ada dua macam
argumen yang sering dikemukakan, yaitu: pertama,
persamaan antara pasal-pasal ini dengan bagian-
bagian yang lain dan 1 Henokh; dan kedua, persamaan
antara pasal-pasal ini dengan tulisan-tulisan Yahudi
dari abad pertama S.M.29
Jika pasal 37-71 memang ditulis sebelum masa
PB, maka informasi mengenai arti “anak manusia” yang
ada di dalam pasal—pasal ini banyak sekali:
pertama, air muka “anak manusia” penuh keanggunan
seperti di antara para malaikat kudus; kedua, jelas ia
berasal dari sorga dan diutus oleh Allah ke dalam dunia;
ketiga, fungsinya yaitu untuk mengalahkan orang-orang
jahat yang berkuasa dalam dunia sekarang ini; keempat,
Ia akan menguduskan dan membimbing orang-orang
kudus; dan kelima, Ia akan memerintah atas segala
bangsa.
Selain I Henokh 37-71 istilah “anak manusia” juga
ada dalam 4 Ezra 13 (bukan Kitab Ezra dalam PL; 4
Ezra ialah salah satu tulisan Yahudi yang disebut
“Pseudepigrapha”). Jelas bukti ini tidak sebobot yang
lain, sebab ahli Pseudepigrapha setuju berpendapat
bahwa 4 Ezra ditulis antara tahun 1OO-2OO, sehingga
PB ditulis lebih dahulu. Informasi yang ada dalam
sumber ini agak menarik: Allah menyebut ”ia yang
seperti anak manusia” sebagai “anakKu”. “Anak
manusia” ini akan mengalahkan dan membinasakan
bangsa-bangsa yang melawan ia dengan kuasa kata-kata
yang keluar dan mulutnya. Ia akan membela orang-orang
yang baik dan damai, dan ia akan mengajarkan kepada
mereka banyak rahasia.30
Kesimpulannya dari pembahasan mengenai
penggunaan informasi dari I Henokh dan IV Ezra yaitu
bahwa informasi dari I Henokh atau IV Ezra tidak dapat
dipakai untuk menafsirkan istilàh “anak manusia” dalam
PB. Tinggal hanya informasi ada dalam Daniel 7.
Informasi dalam Daniel 7 sangat terbatas sehingga
kemungkinan besar arti istilah “anak manusia” tidak
terlalu jelas bagi kebanyakan orang Yahudi pada masa PB
(bdg. Yohanes 12:34). Namun istilah “anak manusia”
sangat tepat bagi Yesus, sebab jelas dari Daniel pasal 7
bahwa “anak manusia” yaitu figur dari sorga yang
sangat tinggi. Itu sebabnya Yesus sering memakai istilah
ini untuk diri-Nya, sebab dengan demikian Ia dapat
menjelaskan dengan persis hakekat, kehidupan dan
pelayanan-Nya. Strategi-Nya sangat menarik: Yesus
memakai suatu istilah yang artinya kurang pas bagi para
pendengar-Nya dengan arti tersendiri-Nya untuk
menggambarkan diri-Nya.
2. Arti “Anak Manusia” Menurut Yesus Kristus
sebab Yesus sering memakai “anak manusia”
untuk diri-Nya sendiri, hakekat dan fungsi-Nya sangat
jelas. Ia mengisi istilah ini dengan banyak
pengajaran tentang diri-Nya. Pertama, keadaan “Anak
Manusia” di dalam dunia ini: sangat miskin. Matius 8:20
(bdg. Lukas 9:58) menuliskan: ”Yesus berkata
kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung
mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak
mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Kedua, hati “Anak Manusia” terbeban untuk orang-orang
yang masih tersesat. Lukas 19: 10 menuliskan: “Sebab
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan
yang hilang.” Ketiga, otoritas “Anak Manusia”
dinyatakan dalam Matius 12:8 (bdg. Markus 2:28)
sebagai berikut: “sebab Anak Manusia yaitu Tuhan
atas hari Sabat.” Keempat, “Anak Manusia” diutus ke
30 Tom Sappington, p. 32.
dalam dunia untuk menderita sampai mati; kemudian Ia
akan bangkit kembali. Matius 12:40: “Sebab seperti
Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam,
demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam
rahim tiga hari tiga malam.” Matius 20: 18-19
menuliskan
Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak
Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Ia hukuman
mati. Dan mereka akan menyerahkan Ia kepada bangsa-
bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-
olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia
akan dibangkitkan.31
Matius 20:28 menuliskan: “Sama seperti Anak
Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang.” Kelima, “Anak Manusia”
akan menghakimi bangsa-bangsa pada akhir zaman.
Matius 16:27 menyatakan: “Sebab Anak Manusia akan
datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-
malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap
orang menurut perbuatannya.” Keenam, “Anak
Manusia” akan mengumpulkan orang-orang kudus pada
akhir zaman. Matius 24:30-31 mencatat:
Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia
di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan
mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas
awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan
kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-
malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat
bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang
pilihan-Na dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit
yang satu ke ujung langit yang lain.
Matius 25:31-33 melanjutkan:
Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-
Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Ia, maka
ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu
semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia
akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang,
sama seperti gembala memisahkan domba dan kambing,
dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah
kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Leon menuliskan bahwa nampaknya Yesus
memakai ungkapan ”Anak Manusia” untuk
menunjukkan aspek-aspek tertentu dari karya yang untuk
melakukannya Ia datang ke dunia. Dari hasil penelitian
yang seksama disimpulkan ada empat alasan mengapa
istilah itu dipakai Yesus untuk diri-Nya sendiri.
Pertama, sebab istilah itu jarang dipakai orang dan tidak
mengacu pada suatu bangsa. Istilah ini tidak akan
menimbulkan kesulitan politis. ”Umum
akan...menafsirkannya sesuai dengan apa yang sudah
mereka pahami tentang Yesus, dan tidak lebih dari itu.”
Kedua, sebab istilah ini mengandung konotasi ilahi.
J. P. Hickinbotham bahkan berkata demikian: ”Anak
Manusia lebih merupakan gelar ilahi daripada
manusiawi.”33 Ketiga, sebab implikasi-implikasi
kemasyarakatannya. Anak Manusia secara tak langsung
berarti umat Allah yang ditebus. Keempat, sebab istilah
ini mengandung nuansa-nuansa manusiawi. Ia
menanggung kelemahan orang-orang percaya.
Sejauh mana gelar ini dipakai Markus, dapat
dibedakan dalam tiga kelompok ucapan. Pertama,
Markus menggunakan gelar ini ketika ia berbbicara
tentang kuasa Yesus sebagai Anak Manusia dalam
pelayanan-Nya di depan umum. Dalam ucapan-ucapan
ini, Yesus berbicara dengan penuh kuasa dalam bidang-
bidang di mana para pendengar-Nya tidak menduga
Yesus akan mengatakan demikian. Ia berkata kepada
orang lumpuh yang diturunkan di hadapan-Nya, ”Dosamu
sudah diampuni.” Ketika orang memandang hal ini
sebagai penghujatan, Yesus berkata, ”Di dunia ini, Anak
Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Lalu Ia membuat
mujizat untuk membuktikan fakta tersebbut (Mrk 2:5 10-
12). Anak Manusia melakukan suatu pekerjaan yang oleh
semua orang diketahui sebagai pekerjaan Allah, dan tentu
saja ini yang membuat orang tidak terima. Pada
kesempatan lain Yesus menyatakan bahwa ”Anak
Manusia yaitu juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk 2:28).
Sabat ditetapkan oleh Allah (Kej 2:3; Kel 20:8);
menyatakan diri berkuasa atas suatu penetapan Allah
sungguh merupakan pernyataan yang dinilai sombong.
Penggunaan kedua dari ayat-ayat tentang ”Anak
Manusia” oleh Yesus mengacu pada akhir zaman dan
memandang Anak Manusia sebagai tokoh yang berkuasa
pada waktu ini . Mengenai orang yang malu sebab
Kristus dan sebab perkataan-Nya di tengah-tengah
angkatan ini, Yesus berkata, ”Anak Manusia pun akan
malu sebab orang itu apabila Ia datang kelak dalam
kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus”
(Mat 8:38). Yesus juga berbicara tentang Anak Manusia
sebagai ”datang dalam awan-awan dengan segala
kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mat 13:26) dan
menanggapi pertanyaan Imam Besar, Yesus menjawab,
”Kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah
kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah
awan-awan di langit” (Mat 14:62), suatu pandangan yang
oleh Imam Besar dipandang sebagai penghujatan dan
yang langsung membuat Yesus dijatuhi hukuman oleh
Mahkamah Agama (ay 63-64). Ayat-ayat ini
menunjukkan kepastian bahwa Yesus pada saatnya akan
dibenarkan dalam lingkungan surgawi, meskipun di dunia
ini Ia mungkin ditolak oleh para pemimpin.Injil Matius
mempunyai persamaan dengan hampir semua pemakaian
”Anak Manusia” dalam Injil Markus, dan ia
mempertahankan pembagian ungkapan ini menjadi
tiga kelompok oleh MarkusL dalam penyataan mengenai
pelayanan Yesus di dunia ini, dalam pernyataan yang
berbicara tentang penderitaan dalam pernyataan mengenai
kedatangan-Nya dalam kemuliaan.
Salah satu gelar Yesus Kristus yang paling sering
dipakai-Nya dan yang paling disukai oleh penulis-
penulis Injil-injil Sinoptik ialah “Anak Allah”. Yesus
yaitu Anak Allah dalam pengertian unik yang absolut.
”Yesus berbicara kepada Allah sebagai ’Bapa’, ’Bapa-
Ku’, ’Bapa Surgawi-Ku’, dan ’Bapamu di Surga’,
kesemuanya lima puluh satu kali.”34 Yesus
mengindikasikan kesadaran pada relasi unik itu (Mat.
11:27), sebagaimana Bapa (Mat. 3:17; Mrk. 1:11).
Seorang putra memiliki natur dan esensi sama dengan
Bapa; mengafirmasi Yesus sebagai Putra-Nya, Allah
Bapa mengatakan bahwa Yesus, Putra-Nya, yaitu ilahi
sebab Ia memiliki esensi yang sama dengan Bapa.35Di
bawah ini akan dibahas tentang arti gelar ini dalam
Injil-injil Sinoptik dan implikasinya dalam pelayanan
Yesus.
1. Latar Belakang dalam Perjanjian Lama
Istilah “Anak Allah” dalam Perjanjian Lama
dipakai untuk (1) malaikat-malaikat (Kejadian 6:2: Ayub
1:6; Daniel 3:25), (2) bangsa Israel (Keluaran 4:22-23;
Hosea 11:1; Maleakhi 2:10, dan (3) raja bangsa Israel (2
Raja-Raja 7:14; Mazmur 2:7; 89:26-27), khususnya
sebagai gelar untuk Raja Daud dan keturunannya dan
inilah yang paling relevan untuk mempelajari latar
belakang Perjanjian Baru. Memang nas-nas tertentu ada
rasa mesianis (2 Sam 7: 14; Mazmur 2:7; 89:27-29), dan
Mazmur 2:7 ditafsirkan sebagai nubuatan kedatangan
Yesus dalam beberapa ayat dalam PB (KPR 13:33;
Ibrani 1:5)Berhuhungan dengan Raja Daud dan
keturunannya, gelar “anak Allah” mempunyai dua arti.
Yang pertama, raja Israel memegang kuasa sebagai
“anak Allah”. Yang kedua, pemakaian gelar “anak
Allah” berarti ada hubungan khusus antara raja Israel
dengan Allah sebab pemerintahannya didasarkan atas
ketentuan dan perjanjian Allah.
2. Latar Belakang pada Masa Perjanjian Baru
berdasar atas latar belakang ini, tidak
mengherankan jika “anak allah” seringkali dipakai untuk
Mesias pada masa Perjanjian Baru. Tetapi justru gelar
ini jarang dipakai untuk Mesias dalam tulisan-
tulisan Yahudi dari periode ini. Gelar ini dipakai untuk
Mesias dalam 1 Henokh 105:2, tetapi sebab ayat itu
tidak ditemukan dalam naskah-naskah Bahasa Yunani
(hanya dalam naskah-naskah Bahasa Etiopia), tidak bisa
yakin bahwa ayat itu termasuk dalam yang sah. Mesias
juga disebut “anak Allah” dalam 4 Ezra pasal 7 dan pasal
13-14, dan dalam 2 Barukh 70:9 (kedua tulisan ini ditulis
pada akhir abad pertama atau awal abad kedua). Banyak
ahli Pseudepigrapha berpendapat bahwa yang ditekankan
dalam 4 Ezra dan 2 Barukh ialah Mesias sebagai hamba
Allah’ (berdasar atas istilah παις bukan υίος) jadi
kesimpulan ini tidak pasti.36
Selain bukti yang ditemukan dalam tulisan-tulisan
dan Pseudepigrapha, ada tiga tulisan yang sangat penting
dari Qumran. Yang pertama yaitu 4Q Florilegium. di
mana dikumpulkan beberapa ayat mesianis. Salah satu
ayat yang dikutip disana ialah 2 Sam 7: 14: “Aku akan
menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Jadi,
jelas bahwa masyarakat di Qumran telah menafsirkan
ayat itu mesianis, sehingga kemungkinan besar mereka
mempunyai konsep Mesias sebagai ‘‘anak Allah’’. Yang
kedua ialah I Q2: 11-12 yang menurut satu tafsiran,
mengajar bahwa Allah Sendiri yang menghasilkan
Mesias. Yang ketiga, menurut penafsir - penafsir tertentu
tertulis dalam 4QpsDan A (4Q246) bahwa “ia [yaitu
Mesias] akan disebut anak Allah, dan mereka akan
memanggilnya anak Allah yang Mahatinggi”37
berdasar atas bukti yang di atas, beberapa ahli
PB dan ahli Pseudepigrapha38 berpendapat bahwa “anak
Allah’ sudah mulai dipakai sebagai gelar mesianis pada
masa Perjanjian Baru. Kesimpulan ini konsisten dengan
pernyataan-pernyataan tertentu di dalam Perjanjian Baru,
termasuk pengakuan Petrus di dalam Matius 16: 16: “Lalu
Yesus bertanya kepada mereka: ‘tetapi apa katamu,
siapakah Aku ini?’ Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau
yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup!” (bdg. Matius
26:63; Markus 14:61; Ia’, 4:41; Yohanes 11:27; 20:31;
KPR 9:20-22).
3. Pemakaian ”Anak Allah” bagi Yesus Menurut
Injil-injil Sinoptik Injil Markus, yang dimulai dengan
mengatakan secara langsung bahwa Yesus yaitu ”Anak
Allah” (Markus 1:1). Kemudian, sama seperti dalam Injil
Matius dan Lukas (Matius 3:17; Lukas 3:22), status
Yesus dinyatakan pada saat Ia dibaptis: Pada saat Ia
keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti
burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah
suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi,
kepada-Mulah Aku berkenan”39
berdasar pernyataan Allah dalam ayat 11, dua
kesimpulan dapat diambil, yaitu: pertama, Yesus layak
disebut “Anak Allah” sebab hubungan-Nya dengan
Allah unik. Allah sangat mengasihi-Nya sehingga Ia
mengatakan kepada Yesus, “kepada-Mulah Aku
berkenan”. Kedua, sebagai “Anak Allah” Yesus selalu
menaati Bapa-Nya di sorga dan melakukan hanya apa
yang berkenan kepadaNya. Dalam Kitab Injil dijelaskan
bahwa Yesus menaati BapaNya sampai mati, bahkan
sampai Ia mati pada kayu salib. Dalam Injil Markus
rahasia status Yesus sebagai “Anak Allah” dijaga dengan
baik-baik. Ketika roh-roh jahat berteriak-teriak sebab
mereka mengetahui bahwa Ia yaitu “Anak Allah”,
mereka diperintahkan untuk berdiam diri (Markus 3: I I
5:7: bdg. I :24, 34). Di dalam Markus pasal 9, ketika
Yesus dimuliakan di atas gunung. statusNya sebagai
”Anak Allah” dinyatakan kepada Petrus, Yakobus, dan
Yohanes. Kemudian, di dalam ayat 9, Yesus melarang
mereka membicarakan apa yang mereka lihat di atas
gunung: Pada waktu mereka turun dari gunung itu,
Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan
menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka
lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara
orang mati.40
Di dalam ayat 9 ada indikasi mengapa Yesus
menjaga status-Nya sebagai “Anak Allah”. Murid-murid-
Nya -Nya tidak diperbolehkan untuk bercerita kepada
orang lain “apa yang telah mereka lihat itu,” khususnya
pernyataan Allah tentang status Yesus sebagai Anak-Nya
yang dikasihi-Nya, “sebelum Anak Manusia bangkit dari
antara orang mati.”
Mengapa status Yesus sebagai “Anak Allah tidak
boleh dibicarakan sebelum Yesus mati dan bangkit,
sedangkan hal ini boleh diumumkan setelah
kebangkitan-Nya? Kemungkinan besar Yesus ingin
menghindari adanya salah pengertian di antara “orang
banyak itu” mengenai arti istilah “Anak Allah”. Jika
identitas Yesus sebagai “Anak Allah” diumumkan
sebelum Ia mati dan bangkit, maka mereka dapat
mengambil kesimpulan bahwa sebagai “Anak Allah” Ia
hanya melakukan mujizat-mujizat yang mengesankan
semua orang. Suatu kemungkinan yang lain ialah
mereka berpusat pada pengharapan mesianis mereka
sebagai orang-orang Yahudi, sehingga peran utama
Yesus sebagai “Anak Allah” yaitu untuk mengalahkan
musuh-musuh bangsa Yahudi. Namun setelah Ia mati
dan bangkit peranan-Nya sebagai “Anak Allah” sudah
jelas: Ia harus menderita dulu, baru Ia dapat dimuliakan
sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.
Selain Injil Markus, tema Yesus sebagai “Anak
Allah” juga penting dalam Injil Matius dan Lukas, dan
pada umumnya makna gelar ini sama. Namun ada
satu sub-tema dalam Injil Matius yang menarik. Matius
lebih sering menggunakan konsep ”Anak Allah”
daripada Markus. Seperti Markus, Matius memakai
istilah itu pada saat baptisan (3;17), transfigurasi (mat
17:5), dan kematian Yesus (Mat 27:54). Kalau Markus
memakai sebutan Anak Allah dalam pembukaan
Injilnya, Matius menyebut ”Yesus Kristus, Anak Daud,
Anak Abraham” (1:1).
Dalam Injil Matius sangat ditekankan bahwa
Yesus sebagai “Anak Allah” menaati dengan sempurna
kehendak Bapa-Nya di sorga, khususnya ketika Ia
menderita sampai mati. Memang Yesus digoda oleh
setan (Matius 4: 1 -11) dan oleh Petrus sebagai agennya
(Matius 16:22-23), serta oleh “orang-orang yang lewat di
sana” pada waktu Ia disalibkan (Matius 27:39-40), untuk
menyatakan status-Nya sebagai “Anak Allah” melalui
mujizat-mujizat yang mengesankan. Namun Ia memilih
jalan yang lain, yaitu untuk menyatakan status-Nya
melalui ketundukan kepada kehendak Bapa-Nya di
sorga. Di taman Getsemani Ia sangat bergumul dengan
penderitaan-penderitaan yang harus dialami-Nya, tetapi Ia
tunduk sampai akhirnya kepada kehendak Bapa-Nya:
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: “Ya
Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini
lalu dari padaku, tetapi jangan lah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau
kehendaki.Oleh sebab ketaatan AnakNya, Allah
membuktikan kebenaran pengakuan Yesus melalui tanda-
tanda (Matius 27:51-53) sehingga “kepala pasukan dan
prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat
takut lalu berkata: “sungguh Ia ini yaitu Anak Allah”
(Matis 27:54).
Lukas menggunakan sejumlah gelar bagi Yesus
yang juga digunakan dalam Injil Matius dan Markus.
Kadang-kadang ia menyebut Yesus sebagai ”Anak
Allah.” gelar ini sudah ada sejak awal Injilnya. Malaikat
bagirel menjumpai Maria dan mengatakan kepadanya
bahwa ia akanmelahirkan seorang anak, yang harus ia
beri nama ”Yesus.” kemudian Gabrriel berkata, ”Ia akan
menjadi besar dan akan disebut ’Anak Allah Yang
Mahatinggi.” Lalu ucapan ini disusul dengan informasi
mengenai keagungan rajawi-Nya, suatu hal yang
membuat Maria bertanya, ”Bagaimana hal itu mungkin
terjadi...sebab aku belum bersuami?” Jawab Gabriel,
”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang
Mahatinggi akan menanungi engkau; sebab itu anak yang
akan kaulahirkan itu akan disebut ’Kudus, Anak Allah’”
(1:31-35). Selama ini banyak dibicarakan tentang
konsepsi perawan, suatu pandangan yang ditolak oleh
banyak pakar modern.41 Namun jelas Lukas menerima
hal itu, yang dianggap penting olehnya. Hal itu
menentukan pemahamannya mengenai istilah ”Anak
Allah” dan menjelaskan bahwa ia tidak menggunakan
istilah ini dengan arti yang minimal. Bagi Lukas
hubungan Yesus dengan Bapa-Nya itu unik. Kadang-
kadang murid-murid yesus disebut ”anak-anak Allah
Yang Mahatinggi” (6:35) oleh Lukas, tetapi ia tidak
memandang Yesus hanya sebagai salah satu dari antara
anak-anak ini . Dari ucapan malaikat Gabriel itu jelas
sekali bahwa Yesus yaitu Anak Allah dalam arti belum
dan tidak pernah ada orang lain dapat mempunyai
kedudukan ini .
Dengan cara yang mirip sekali dengan Matius,
Lukas memakai gelar ini dalam kisah mengenai
pencobaan (4:3, 9; bdg Mat 4:3,6); hal yang sama bisa
dikatakan mengenai beberapa nas lainnya. Akan tetapi
mungkin perlu diperhatikan juga bahwa ketika peristiwa
Tuhan Yesus dipermuliakan di atas gunung, suara yang
datang dari awan-awan berkata, ”Inilah Anak-Ku yang
Kupilih” (9:35; sedangkan menurut Matius dan Markus
”Inilah Anak yang Kukasihi”). Dan masih ada dua nas
41 Ada banyak sekali tulisan mengenai kelahiran dari
seorang perawan itu. Beberapa buku yang bisa disebutkan: J.
Gresham Machen, The Virgin Birth of Christ (London: 1958);
Thomas Boslooper, The Virgin Birth (London, 1962); Hans
von Campenhausen, The Virgin Birth in the Theology of the
Ancient Church, (London, 1964); Raymond E. Brown, The
Virgin Conception and Bodily Resurrection of Jesus, (London,
1973).
lain, dimana hanya Lukas yang memakai ungkapan itu.
Salah satunya yaitu ketika keluarnya setan-setan dari
banyak orang, sambil berteriak, ”Engkau yaitu Anak
Allah” (4:42). Di mata Lukas, setan-setan itu benar-
benar mengetahui hal ini lama sebelum para murid
menyadari siapakah Yesus itu. Peristiwa lainnya yaitu
dalam arena pengadilan di mana penginjil ini mencatat
pertanyaan para anggota Mahkamah Agama kepada
yesus, ”Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (22:70)
Dalam Injilnya, Lukas mencatat pemakaian istilah
”Anak Allah” oleh Yesus sendiri bagi dirinya sendiri
dapat dipahami dalam tiga aspek: yaitu yang mengacu
pada Yesus (1) yang sedang menjalankan pelayanan di
depan piblik, (2) dalam penderitaan-Nya, dan (3) pada
saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.42
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapatlah
disimpulkan bahwa arti gelar “Anak Allah dalam
pengajaran Yesus meliputi dua hal: pertama, istilah
“Anak Allah” menekankan hubungan Yesus dengan
Allah, bukan hakekat-Nya sebagai seseorang yang layak
menyamakan diri-Nya dengan Allah. Doktrin ini
jelas-jelas diajar dalam Perjanjian Baru, tetapi bukan
dalam pemakaian gelar “Anak Allah” untuk Yesus dalam
Injil-Injil Sinoptik. Kedua, hubungan antara gelar
‘Mesias” dengan gelar “Anak Allah” dalam pengajaran
Yesus tentang diri-Nya. Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik
Yesus tidak disebut “Anak Allah” sebab Dia yaitu
Mesias, tetapi sebab hubunganNya dengan Allah yang
unik sehagai Anak-Nya. Hubungan-Nya dengan Allah
yaitu dasar kemesiasan-Nya, bukan sebaliknya.43
Yesus sebagai Tuhan
Gereja Tuhan masa kini seringkali memakai gelar
“Tuhan” untuk Yesus, misalnya pada waktu berdoa
kepada “Tuhan Yesus”, dan arti gelar ini sangat
tinggi bagi orang-orang percaya, bahkan di beberapa
denominasi gereja di Indonesia, ketika mereka membaca
ayat-ayat Alkitab, mereka menambahkan kata ”Tuhan”
setiapkali bertemu dengan nama ”Yesus”. Dan
kenyataannya memang pemakaian ”Tuhan” dalam
pengajaran Yesus yaitu sangat nyata penting. Namun
selain mengerti latar belakang istilah “Tuhan” pada masa
Perjanjian Baru, harus juga memperhatikan konteks ayat-
ayatnya, supaya penafsiran istilah ini dapat
dilakukan dengan tepat.
1. Latar belakang dalam Bahasa Yunani
Pemakaian istilah “Tuhan” (κύριος) dalam bahasa
Yunani di luar Alkitab memiliki dua arti yang penting
sebagai latar belakang pemakaian istilah ini dalam
Injil-Injil Sinoptik. Pertama, baik agama nasional
maupun permujaan misteri (‘‘mystery religions”)
memakai κύριος (atau κύρια ) untuk dewa-dewa dan
dewi-dewi (seperti Isis atau Serapis) yang dapat
menolong manusia dan layak menerima pengucapan
syukur atas pertolongan mereka. Kedua, pada masa PB
κύριος seringkali dipakai untuk Kaisar Roma (misalnya
Kaisar Nero), yang dianggap sebagai dewa sekaligus
manusia.
Dalam konteks-konteks di atas κύριος jelas-jelas
dipakai untuk tokoh-tokoh yang dianggap lebih daripada
manusia. Namun istilah ini tidak selalu berarti
demikian, sebab dapat dipakai juga (khususnya dalam
bentuk vokatic κύριε) untuk sesama manusia. Istilah ini
seringkali dipakai sebagai sambutan untuk menghormati
orang yang disambut, sehingga dapat dibandingkan
dcngan “tuan” dalam Bahasa Indonesia atau “sir” dalam
Bahasa Inggris.
2. Latar belakang dalam Perjanjian Lama
(Septuaginta)
Dalam Perjanjian Lama versi Bahasa Yunani yang
disebut Septuaginta (LXX) istilah κύριος dipakai lebih
dari 9.000 kali. Dari jumlah ini istilah ini dipakai
6156 kali sebagai kata ganti nama Allah Israel, yaitu
Yahweh. Dalam ayat-ayat ini kata κύριος dipakai bukan
sebagai terjemahan Yahweh tetapi untuk menghindari
pemakaian nama Allah. Kenyataan ini konsisten dengan
kecenderungan banyak orang Yahudi pada masa
Perjanjian Baru untuk berbicara dan menulis secara tidak
langsung agar menghindari pemakaian nama Allah yang
dianggap terlalu Suci untuk dibicarakan.
Selain pemakaian κύριος dalam Septuaginta, κύριος juga
seringkali dipakai untuk Yahweh dalam tulisan-tulisan
Josephus dan Philo, dan dalam Hikmat Salomo.
3. Pemakaian κύριος dalam Injil – injil Sinoptik
Jika kita mempelajari pemakaian istilah κύριος
dalam Injil—Injil Sinoptik, maka kita akan
memperhatikan bahwa arti istilah ini sangat
tergantung pada konteksnya. Sama seperti dalam
Perjanjian Lama versi Bahasa Yunani (Septuaginta),
κύριος seringkali dipakai untuk Allah Sendiri (yaitu Allah
bangsa Israel; bdg. misalnya Mãtius 1:20, 22, 24; 2:13,
15, 19; 4:7. 10; 5:33), dan dalam dua ayat kurio" dipakai
untuk Allah Bapa (Matius 11:25; Lukas 10:21).
Pemakaian di atas ada dalam satu nas di mana
para penulis Injil-Injil Sinoptik mengutip Yesia 40:3
(Matius 3:3; Markus 1:3; Lukas 3:4; bdg. Lukas 1:76) di
mana κύριος dipakai untuk menterjemahkan “Yahweh”.
Namun dalam Injil- injil Sinoptik, κύριος menyebutkan
Yesus Kristus, bukan Yahweh. Memang beberapa
penulis Perjanjian Baru merasa bebas untuk menerapkan
ayat-ayat dari Perjanjian Lama yang menyebutkan
‘Yahweh’ kepada Yesus. Kecenderungan ini berarti
posisi Yesus dalam pikiran pra penulis lnjil-injil Sinoptik
sangat tinggi, sehingga mereka berani
mengidentifikasikan Yesus dengan Yahweh.
Namun arti istilah ini tidak selalu
menunjukkan seorang figur yang melebihi manusia.
Dalam banyak ayat κύριος dapat diterjemahkan dengan
tepat sebagai “tuan” bukan “tuhan”. Istilah ini berarti
”tuan seorang hamba” (Matius 10:24-25; 13:27; 18:25,
27,31,32, 34; 24:45, 46, 48, 50; 25:18, 19,20, 21, 22, 23,
24, 26; Mankus 13:35; Lukas 12:35, 36, 37, 42, 43, 45,
47; 14:2 1, 22. 23; 16:3, 5, 8, 13; 19: 16, 18, 20, 25),
“tuan kebun anggur” (Matius 20:8, 40; Markus 12:9;
Lukas 13:8; 20:13, 15), “bapa seorang anak yang bekerja
untuknya“ (Matius 2 1:30), ”seorang mempelai” (Matius
25:11), dan “seorang tuan rumah” (Lukas 13:25). Istilah
ini juga dipakai dengan arti “tuan” (bahasa Inggris
“sir” ) untuk menghormati Pontius Pilatus (Matius
27:63).
Istilah κύριος juga dipakai dalam Matius 12:8
(par. Markus 2:28; Lukas 6:5) untuk menegaskan
kuasanya sebagai seorang penafsir Hukum Taurat:
”sebab manusia yaitu Tuhan atas hari Sabat.” Selain
pemakaian di atas, istilah κύριος seringkali dipakai untuk
Yesus sendiri dalam Injil-Injil Sinoptik, tetapi artinya
dalam banyak ayat kurang jelas.
Penggunaan istilah κύριος bagi Yesus, apakah
istilah ini dipakai untuk menghormati Yesus
sebagai seorang guru agama Yahudi (yaitu dengan arti
‘tuan”) atau sebagai suatu indikasi bahwa posisinya
melebihi manusia (yaitu dengan arti “tuhan”; bdg.
Matius 8:2, 6, 8, 21, 25, l4:28,30; 16.22; 17:4, 15;
18:21;26:22: Markus 7:28; Lukas 5:8, 12; ;9:54, 61; 10:
17, 40; Ii: 1; 12:41 )?” Jawabannya tidak pasti, walaupun
dalam beberapa ayat istilah κύριος dikaitkan dengan
gelar “anak Daud” sehingga artinya jelas-jelas mesianis.
Namun harus diingat bahwa Mesias bagi orang-orang
Yahudi yaitu tokoh manusiawi yang sangat diurapi
Allah, bukan seorang figur yang layak menyamakan diri
dengan Allah.
Meskipun arti dalam beberapa ayat kurang jelas,
harus disadari beberapa hal: Yang pertama, pengertian
orang-orang terhadap Yesus, khususnya pengertian
murid Yesus, tidak statis. Memang pengertian mereka
dapat disebut dinamis sebab berkembang terus,
meskipun mereka tidak dapat memahami banyak hal
sebelum Yesus mati dan bangkit. Jadi, tidak
mengherankan jika istilah κύριος dipakai dengan arti
yang lebih dalam dan lebih tinggi dalam pasal-pasal
terakhir Injil-Injil Sinoptik dari pada dalam pasal-pasal
pertama, tetapi perkembangan ini sulit dibuktikan.
Yang kedua, istilah κύριος tidak hanya dipakai
oleh Yesus dan orang-orang lain yang berbicara dengan-
Nya, tetapi juga oleh penulis injil Lukas yang selalu
menyebutkan Yesus sebagai κύριος (Lukas 7:13, 19;
10:1, 39; 11:39; 12:42; 13:15: 18:6; 19:8; 22:6 1). Gelar
ini yang paling sering dipakai Lukas untuk Yesus (103
kali dalam Injilnya dan 107 kali dalam Kisah Para
Rasul). Tentu saja gelar ini memiliki macam-macam
arti. Tidak diketahui dengan persis pengertian Lukas
terhadap istilah ini , tetapi pengertiannya jelas-jelas menulis
dan pandangan pos-kebangkitan.
Yang ketiga, dalam Injil Matius, dan pada
umumnya Injil Markus dan Lukas ikut prinsip ini juga,
para musuh Yesus dan Yudas Iskariot selalu menyambut
Yesus dengan didaskale atau rabbi (“guru”), sedangkan
para murid-Nya dan orang-orang yang datang kepada-
Nya dengan Iman menyambut-Nya dengan κύριε. Jadi,
meskipun pengertian mereka terhadap ke-Tuhanan Yesus
belum berkembang, orang-orang yang beriman ingin
menghormati dan memuliakan nama-Nya.
Selain pengamatan-pengamatan di atas, ada
beberapa nas yang perlu kita perhatikan sebab di dalam
nas-nas ini kita melihat ke-Tuhanan Yesus dengan
lebih jelas. Nas yang pertama ialah Matius 22:42-45, di
mana Yesus mengutip dari Mazmur 110:
Apakah pendapatmu tentang Mesias ?Anak
siapakah Dia?’ Kata mereka kepadaNva: ‘Anak Datid. ‘
KataNya kepada mereka: ‘Jika demikian, bagaimanakah
Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya
(κύριον), ketika ía berkata: Tuhan (κύριος ) telah
berfirman kepada Tuanku (του κύριου μου): duduklah di
sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di
bawah kakiMu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya,
bagaimana mungkin Ia anaknya pula?
Asumsi Yesus dalam ayat-ayat ini yaitu dua: (1)
bahwa Mazmur 110 ditulis Daud sendiri, dan (2) bahwa
ayat-ayat yang dikutip yaitu mesianis. Asumsi-Nya yang
pertama didukung oleh superscription Mazmur 110, yaitu
kata-kata yang ditulis di atas Mazmur 110 dalam Alkitab
kita (“Mazmur Daud”), sedangkan asumsi-Nya yang
kedua konsisten dengan tafsiran Mazmur 110 oleh orang-
orang Yahudi pada masa PB 44
Menurut Yesus Sang Mesias, yang seringkali
disebut “Anak Daud” oleh orang-orang Yahudi, layak
disebut κύριος oleh Raja Daud sendiri, sehingga Mesias
lebih tinggi dari pada posisi Raja Daud. Memang Allah
mengatakan kepada Sang Mesias, “Duduklah di sebelah
kananKu, sampai Kutaruh di bawah kakiMu.” Orang-
orang percaya mengetahui bahwa posisi ini yaitu
posisi kuasa dan kemuliaan, sehingga Sang Mesias jelas-
jelas melebihi keterbatasan manusiawi.
Selain Matius 22:42-45 ada nas-nas yang lain yang
sangat penting untuk topik ini. Dalam dua ayat, yaitu
Markus 16: 19 dan dalam Lukas 24:3, Yesus disebut
“Tuhan Yesus” (κύριος Іήσους). Yang menarik ialah
bahwa kedua ayat ini ada pada akhir Injil-Injil
ini , sehingga menjadi jelas bagi si pembaca bahwa
setelah Yesus bangkit para murid-Nya baru mulai
mengerti implikasi-implikasi keTuhanan-Nya.
Hanya satu kali dalam Injil Markus Yesus
menyatakan status-Nya sebagai Anak Allah di hadapan
umum, yaitu dalam 12:6. Namun penyataan ini tidak
langsung, sebab dalam konteks perumpamaan tentang
penggarap-penggarap kebun anggur.
Gelar ”Tuhan” yaitu gelar yang paling sering
dipakai Lukas untuk Yesus (103 kali dalam Injilnya dan
1107 kali dalam Kisah Para Rasul). Tentu saja gelar itu
memiliki bermacam-macam arti. Gelar itu (The Lord)
dipakai untuk pemilik dari sesuatu misalnya keledai
(Luk. 19:33) atau kebun anggur (Luk. 20:13). Gelar itu
sering dipakai sebagai bentuk sapaan yang sopan seperti
jika seorang pelayan menyapa manjikannya (Luk. 13:8;
14:22). Penggunaan-penggunaan ini dapat dengan
cepat membuat gelar itu menjadi cara biasa untuk nyapa
atau berbicara tentang seseorang yang lebih mulia, dan
dengan demikian gelar itu lalu dipakai untuk orang-
ornag yang berkedudukan tinggi. Tidak hanya mereka
yang berkedudukan tinggi disebut ”tuan”. Tetapi istilah
itu digunakan juga untuk para dewa. Ini tidak berarti
bahwa gelar itu tidak dipakai untuk manusia meskipun
begitu hampir tidak ada masalah dengan pemakaian gelar
ini, kecuali penafsiran yang tepat atas teks-teks tertentu.
Membedakan ”tuan” manusiawi dari tuan illahi tidak
pernah sampai merupakan kesulitan yang tak teratasi.
Dalam septuaginta, yakni terjemahan Perjanjian
Lama ke dalam Bahasa Yunani, kata ini yaitu cara
untuk menyebut kata illahi ”Yahweh”. Lukas
mempertahankan pemakaian ini: dapat ditemukan paling
sedikit 25 kali pada kedua pasal pembukaan dari
Injilnya: ia berbicara tentang ”segala perintah dan
ketetapan Tuhan” (Luk.1:6) ”perbuatan Tuhan” (Luk.
1:25), dan sebagainya. Ia memakainya juga dalam Kisah
Para rasul, khususnya dalam kaitannya dengan ”malaikat
Tuhan” (Kisah 5:19; 8:26). Jadi, berbicara tentang
Yesus sebagai ”Tuhan” berarti memberikan kepada-Nya
sesuatu gelar yang sangat berarti. Fitmyer menulis:
”dengan memakai kurios baik untuk yahweh maupun
untuk Yesus dalam tulisan-tulisannya, Lukas
melestarikan makna gelar itu yang sudah dipakai di
kalangan jemaat Kristen mula-mula yang dalam hal
tertentu memandang Yesus sebagai setara dengan
Yahweh.”45
Para penulis Injil-injil Sinoptik sangat
menghormati dan mengagungkan pribadi Yesus. Pribadi
Yesus di mata mereka yaitu suatu pribadi yang luar
biasa dan dihormati. Mereka percaya tanpa keraguan
sedikitpun akan kemanusiaan Yesus dan keberadaan-Nya
sebagai manusia yang tanpa dosa. Dimulai dari
kelahiran Yesus sebagai manusia pada umumnya,
dilanjutkan dengan kehidupan-Nya sebagai manusia
biasa. Segala yang dilakukan manusia juga dilakukan
Yesus kecuali berbuat dosa. Pencobaan-pencobaan yang
dialami Yesus dicatat bukan untuk membuktikan bahwa
Ia berdosa, melainkan untuk membuktikan keberadaan-
Nya yang tanpa dosa. Tidak ada keinginan dalam diri-
Nya untuk berdosa. Ketaatan-Nya dibuktikan ketika Ia
mati di kayu salib.
Para penulis Injil-injil Sinoptik juga meyakini
bahwa Yesus yaitu Allah sejati sementara Ia di dunia
ini mengemban tugas-tugas keselamatan yang ditaruh di
atas pundak-Nya. Kenyataan akan keilahian Yesus
terlihat dari penggunaan gelar-gelar bagi Yesus baik oleh
diri-Nya sendiri maupun oleh orang-orang di sekeliling-
Nya. Gelar-gelar ini yaitu Yesus sebagai Mesias,
Yesus sebagai Anak Manusia, Yesus sebagai Anak Allah,
dan Yesus sebagai Tuhan. Semua gelar ini menyatakan
keilahian Yesus dan tugas-tugas-Nya dalam karya
penyelamatan manusia.

