Injil sinoptik 2

  


menggambarkan “Yang Lanjut Usianya” dalam beberapa 

ayat yang sangat penting yaitu:  

                                                                   

25 Donald Guthrie, New testament Theology (Downers 

Grove, III.: InterVarsity, 1981), p. 280-281. 

26 Ibid., p. 281. 

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, 

tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang 

seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut 

Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu 

diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan 

kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala 

bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. 

Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak 

akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak 

akan musnah.27 

 

Dari beberapa nats singkat di atas didapatkan 

beberapa hal untuk diperhatikan yaitu: pertama, “seorang 

seperti anak manusia” datang dari sorga.  Kedua, Ia 

dibawa ke hadapan “Yang Lanjut Usianya itu”.  Ketiga, 

semua orang mengabdi kepadanya.  Keempat, Ia diberi 

kuasa untuk memerintah atas semua bangsa untuk 

selama-lamanya.  Kelima, “Anak manusia” ditemukan 

dalam suatu konteks yang menegaskan bahwa “orang-

orang kudus” akan dimuliakan melalui penderitaan 

(7:15-27).  

Selain informasi yang ada  dalam Perjanjian 

Lama, istilah “anak manusia’ muncul di dalam beberapa 

nas dalam tulisan-tulisan Yahudi dan masa Perjanjian 

Baru (khususnya  Pseudepigrapha).  Yang paling penting 

ialah 1 Henokh 37-71.  Di situ sifat dan fungsi “anak 

manusia” digambarkan dengan cara yang jauh lebih 

lengkap dari pada dalam Perjanjian Lama. 

Apakah informasi ini  dapat digunakan untuk 

menjelaskan latar belakang pemakaian “anak manusia” 

oleh Yesus?  Para ahli PB berbeda pendapat, sebab  

mereka kurang yakin akan masa penulisan 1 Henokh 37-

71.  Ada banyak ahli PB yang berpendapat bahwa bagian 

ini  ditulis sesudah masa PB, sehingga tidak boleh 

dipakai untuk menjelaskan latar belakang PB.  

Sappington menerangkan bahwa ada beberapa argumen 

yang sering dikemukakan untuk mendukung pendapat 

ini  yaitu: pertama,  Naskah-naskah I Henokh yang 

tertua yang meliputi pasal 37-71 berasal dari abad 16.  

kedua, walaupun naskah-naskah bagian-bagian yang lain 

dan 1 Henoch telah ditemukan di Laut Mati (Qumran), di 

situ belum ada  satupun naskah yang meliputi pasal 

37-71.  Ketiga, ada beberapa ahli PB yang berpendapat 

bahwa sudah nyata ajaran mengenai “anak manusia” 

yang ada  dalam I Henokh 37-71 dipengaruhi oleh 

ajaran-ajaran Kristen mengenai Yesus.28 

Pada hal banyak ahli PB berpendapat bahwa 1 

Henokh ditulis sesudah masa PB, banyak juga ahli PB 

yang lain berbeda pendapat.  Mengapa? Ada dua macam 

argumen yang sering dikemukakan, yaitu: pertama, 

persamaan antara pasal-pasal ini  dengan bagian-

bagian yang lain dan 1 Henokh; dan kedua, persamaan 

antara pasal-pasal ini  dengan tulisan-tulisan Yahudi 

dari abad pertama S.M.29  

Jika pasal 37-71 memang ditulis sebelum masa 

PB, maka informasi mengenai arti “anak manusia” yang 

                                              

 

ada  di dalam pasal—pasal ini  banyak sekali: 

pertama, air muka “anak manusia” penuh keanggunan 

seperti di antara para malaikat kudus; kedua, jelas ia 

berasal dari sorga dan diutus oleh Allah ke dalam dunia; 

ketiga, fungsinya yaitu  untuk mengalahkan orang-orang 

jahat yang berkuasa dalam dunia sekarang ini; keempat,  

Ia akan menguduskan dan membimbing orang-orang 

kudus; dan kelima, Ia akan memerintah atas segala 

bangsa. 

Selain I Henokh 37-71 istilah “anak manusia” juga 

ada  dalam 4 Ezra 13 (bukan Kitab Ezra dalam PL; 4 

Ezra ialah salah satu tulisan Yahudi yang disebut 

“Pseudepigrapha”).  Jelas bukti ini tidak sebobot yang 

lain, sebab  ahli Pseudepigrapha setuju berpendapat 

bahwa 4 Ezra ditulis antara tahun 1OO-2OO, sehingga 

PB ditulis lebih dahulu.  Informasi yang ada  dalam 

sumber ini agak menarik: Allah menyebut ”ia yang 

seperti anak manusia” sebagai “anakKu”.   “Anak 

manusia” ini  akan mengalahkan dan membinasakan 

bangsa-bangsa yang melawan ia dengan kuasa kata-kata 

yang keluar dan mulutnya.  Ia akan membela orang-orang 

yang baik dan damai, dan ia akan mengajarkan kepada 

mereka banyak rahasia.30  

Kesimpulannya dari pembahasan mengenai 

penggunaan informasi dari I Henokh dan IV Ezra yaitu  

bahwa informasi dari I Henokh atau IV Ezra tidak dapat 

dipakai untuk menafsirkan istilàh “anak manusia” dalam 

PB.  Tinggal hanya informasi ada  dalam Daniel 7.  

Informasi dalam Daniel 7 sangat terbatas sehingga 

kemungkinan besar arti istilah “anak manusia” tidak 

terlalu jelas bagi kebanyakan orang Yahudi pada masa PB 

(bdg. Yohanes 12:34).  Namun istilah “anak manusia” 

sangat tepat bagi Yesus, sebab  jelas dari Daniel pasal 7 

bahwa “anak manusia” yaitu  figur dari sorga yang 

sangat tinggi.  Itu sebabnya Yesus sering memakai istilah 

ini  untuk diri-Nya, sebab  dengan demikian Ia dapat 

menjelaskan dengan persis hakekat, kehidupan dan 

pelayanan-Nya.  Strategi-Nya sangat menarik: Yesus 

memakai suatu istilah yang artinya kurang pas bagi para 

pendengar-Nya dengan arti tersendiri-Nya untuk 

menggambarkan diri-Nya.  

2.  Arti “Anak Manusia” Menurut Yesus Kristus 

sebab  Yesus sering memakai “anak manusia” 

untuk diri-Nya sendiri, hakekat dan fungsi-Nya sangat 

jelas.  Ia mengisi istilah ini  dengan banyak 

pengajaran tentang diri-Nya.  Pertama, keadaan “Anak 

Manusia” di dalam dunia ini: sangat miskin.  Matius 8:20 

(bdg. Lukas 9:58) menuliskan: ”Yesus berkata 

kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung 

mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak 

mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”  

Kedua, hati “Anak Manusia” terbeban untuk orang-orang 

yang masih tersesat.  Lukas 19: 10 menuliskan: “Sebab 

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan 

yang hilang.”  Ketiga, otoritas “Anak Manusia” 

dinyatakan dalam Matius 12:8 (bdg. Markus 2:28) 

sebagai berikut: “sebab  Anak Manusia yaitu  Tuhan 

atas hari Sabat.”  Keempat, “Anak Manusia” diutus ke 

                                                                   

30 Tom Sappington, p. 32. 

dalam dunia untuk menderita sampai mati; kemudian Ia 

akan bangkit kembali.  Matius 12:40: “Sebab seperti 

Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, 

demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam 

rahim tiga hari tiga malam.”  Matius 20: 18-19 

menuliskan 

Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak 

Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan 

ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Ia hukuman 

mati.  Dan mereka akan menyerahkan Ia kepada bangsa-

bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-

olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari  ketiga Ia  

akan dibangkitkan.31 

 

Matius 20:28 menuliskan: “Sama seperti Anak 

Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk 

melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi 

tebusan bagi banyak orang.”   Kelima, “Anak Manusia” 

akan menghakimi bangsa-bangsa pada akhir zaman.  

Matius 16:27 menyatakan: “Sebab Anak Manusia akan 

datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-

malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap 

orang menurut perbuatannya.”  Keenam, “Anak 

Manusia” akan mengumpulkan orang-orang kudus pada 

akhir zaman.  Matius 24:30-31 mencatat: 

Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia 

di langit  dan semua bangsa di bumi akan meratap dan 

mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas 

awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan 

kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-

malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat 

bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang 

pilihan-Na dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit 

yang satu ke ujung langit yang lain. 

 

Matius 25:31-33 melanjutkan:  

Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-

Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Ia, maka 

ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu 

semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia 

akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, 

sama seperti gembala memisahkan domba dan kambing, 

dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah 

kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.  

 

Leon menuliskan bahwa nampaknya Yesus 

memakai ungkapan ”Anak Manusia” untuk 

menunjukkan aspek-aspek tertentu dari karya yang untuk 

melakukannya Ia datang ke dunia.  Dari hasil penelitian 

yang seksama disimpulkan ada empat alasan mengapa 

istilah itu dipakai Yesus untuk diri-Nya sendiri.  

Pertama, sebab  istilah itu jarang dipakai orang dan tidak 

mengacu  pada suatu bangsa.  Istilah ini  tidak akan 

menimbulkan kesulitan politis.  ”Umum 

akan...menafsirkannya sesuai dengan apa yang sudah 

mereka pahami tentang Yesus, dan tidak lebih dari itu.”

 

Kedua, sebab  istilah ini  mengandung konotasi ilahi.  

J. P. Hickinbotham bahkan berkata demikian: ”Anak 

Manusia lebih merupakan gelar ilahi daripada 

manusiawi.”33  Ketiga, sebab  implikasi-implikasi 

kemasyarakatannya.  Anak Manusia secara tak langsung 

berarti umat Allah yang ditebus.  Keempat, sebab  istilah 

ini  mengandung nuansa-nuansa manusiawi.  Ia 

menanggung kelemahan orang-orang percaya. 

 Sejauh mana gelar ini dipakai Markus, dapat 

dibedakan dalam tiga kelompok ucapan.  Pertama, 

Markus menggunakan gelar ini ketika ia berbbicara 

tentang kuasa Yesus sebagai Anak Manusia dalam 

pelayanan-Nya di depan umum.  Dalam ucapan-ucapan 

ini, Yesus berbicara dengan penuh kuasa dalam bidang-

bidang di mana para pendengar-Nya tidak menduga 

Yesus akan mengatakan demikian.  Ia berkata kepada 

orang lumpuh yang diturunkan di hadapan-Nya, ”Dosamu 

sudah diampuni.”  Ketika orang memandang hal ini 

sebagai penghujatan, Yesus berkata, ”Di dunia ini, Anak 

Manusia berkuasa mengampuni dosa.”  Lalu Ia membuat 

mujizat untuk membuktikan fakta tersebbut (Mrk 2:5 10-

12).  Anak Manusia melakukan suatu pekerjaan yang oleh 

semua orang diketahui sebagai pekerjaan Allah, dan tentu 

saja ini yang membuat orang tidak terima.  Pada 

kesempatan lain Yesus menyatakan bahwa ”Anak 

Manusia yaitu  juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk 2:28).  

Sabat ditetapkan oleh Allah (Kej 2:3; Kel 20:8); 

menyatakan diri berkuasa atas suatu penetapan Allah 

sungguh merupakan pernyataan yang dinilai sombong. 

Penggunaan kedua dari ayat-ayat tentang ”Anak 

Manusia” oleh Yesus mengacu pada akhir zaman dan 

memandang Anak Manusia sebagai tokoh yang berkuasa 

pada waktu ini .  Mengenai orang yang malu sebab  

Kristus dan sebab  perkataan-Nya di tengah-tengah 

angkatan ini, Yesus berkata, ”Anak Manusia pun akan 

malu sebab  orang itu apabila Ia datang kelak dalam 

kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus” 

(Mat 8:38).  Yesus juga berbicara tentang Anak Manusia 

sebagai ”datang dalam awan-awan dengan segala 

kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mat 13:26) dan 

menanggapi pertanyaan Imam Besar, Yesus menjawab, 

”Kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah 

kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah 

awan-awan di langit” (Mat 14:62), suatu pandangan yang 

oleh Imam Besar dipandang sebagai penghujatan dan 

yang langsung membuat Yesus dijatuhi hukuman oleh 

Mahkamah Agama (ay 63-64).  Ayat-ayat ini  

menunjukkan kepastian bahwa Yesus pada saatnya akan 

dibenarkan dalam lingkungan surgawi, meskipun di dunia 

ini Ia mungkin ditolak oleh para pemimpin.Injil Matius 

mempunyai persamaan dengan hampir semua pemakaian 

”Anak Manusia” dalam Injil Markus, dan ia 

mempertahankan pembagian ungkapan ini  menjadi 

tiga kelompok oleh MarkusL dalam penyataan mengenai 

pelayanan Yesus di dunia ini, dalam pernyataan yang 

berbicara tentang penderitaan dalam pernyataan mengenai 

kedatangan-Nya dalam kemuliaan.  

 

 

Salah satu gelar Yesus Kristus yang paling sering 

dipakai-Nya dan yang paling disukai oleh penulis-

penulis Injil-injil Sinoptik ialah “Anak Allah”.   Yesus 

yaitu  Anak Allah dalam pengertian unik yang absolut.  

”Yesus berbicara kepada Allah sebagai ’Bapa’, ’Bapa-

Ku’, ’Bapa Surgawi-Ku’, dan ’Bapamu di Surga’, 

kesemuanya lima puluh satu kali.”34  Yesus 

mengindikasikan kesadaran pada relasi unik itu (Mat. 

11:27), sebagaimana Bapa (Mat. 3:17; Mrk. 1:11).  

Seorang putra memiliki natur dan esensi sama dengan 

Bapa; mengafirmasi Yesus sebagai Putra-Nya, Allah 

Bapa mengatakan bahwa Yesus, Putra-Nya, yaitu  ilahi 

sebab  Ia memiliki esensi yang sama dengan Bapa.35Di 

bawah ini akan dibahas tentang arti gelar ini  dalam 

Injil-injil Sinoptik dan implikasinya dalam pelayanan 

Yesus. 

 

1. Latar Belakang dalam Perjanjian Lama 

 

Istilah “Anak Allah” dalam Perjanjian Lama 

dipakai untuk (1) malaikat-malaikat (Kejadian 6:2: Ayub 

1:6; Daniel 3:25), (2) bangsa Israel (Keluaran 4:22-23; 

Hosea 11:1; Maleakhi 2:10, dan (3) raja bangsa Israel (2 

Raja-Raja 7:14; Mazmur 2:7; 89:26-27), khususnya 

sebagai gelar untuk Raja Daud dan keturunannya dan 

inilah yang paling relevan untuk mempelajari latar 

belakang Perjanjian Baru.  Memang nas-nas tertentu ada 

rasa mesianis (2 Sam 7: 14; Mazmur 2:7; 89:27-29), dan 

Mazmur 2:7 ditafsirkan sebagai nubuatan kedatangan 

Yesus dalam beberapa ayat dalam PB (KPR 13:33; 

Ibrani 1:5)Berhuhungan dengan Raja Daud dan 

keturunannya, gelar “anak Allah” mempunyai dua arti.  

Yang pertama, raja Israel memegang kuasa sebagai 

“anak Allah”.  Yang kedua, pemakaian gelar “anak 

Allah” berarti ada hubungan khusus antara raja Israel 

dengan Allah sebab  pemerintahannya didasarkan atas 

ketentuan dan perjanjian Allah. 

 

2. Latar Belakang pada Masa Perjanjian Baru 

 

berdasar  atas latar belakang ini, tidak 

mengherankan jika “anak allah” seringkali dipakai untuk 

Mesias pada masa Perjanjian Baru.  Tetapi justru gelar 

ini  jarang dipakai untuk Mesias dalam tulisan-

tulisan Yahudi dari periode ini.  Gelar ini dipakai untuk 

Mesias dalam 1 Henokh 105:2, tetapi sebab  ayat itu 

tidak ditemukan dalam naskah-naskah Bahasa Yunani 

(hanya dalam naskah-naskah Bahasa Etiopia), tidak bisa 

yakin bahwa ayat itu termasuk dalam yang sah.  Mesias 

juga disebut “anak Allah” dalam 4 Ezra pasal 7 dan pasal 

13-14, dan dalam 2 Barukh 70:9 (kedua tulisan ini ditulis 

pada akhir abad pertama atau awal abad kedua).  Banyak 

ahli Pseudepigrapha berpendapat bahwa yang ditekankan 

                                                                   

dalam 4 Ezra dan 2 Barukh ialah Mesias sebagai hamba 

Allah’ (berdasar  atas istilah παις bukan  υίος) jadi 

kesimpulan ini tidak pasti.36 

Selain bukti yang ditemukan dalam tulisan-tulisan 

dan Pseudepigrapha, ada tiga tulisan yang sangat penting 

dari Qumran.  Yang pertama yaitu  4Q Florilegium. di 

mana dikumpulkan beberapa ayat mesianis.  Salah satu 

ayat yang dikutip disana ialah 2 Sam 7: 14: “Aku akan 

menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Jadi, 

jelas bahwa masyarakat di Qumran telah menafsirkan 

ayat itu mesianis, sehingga kemungkinan besar mereka 

mempunyai konsep Mesias sebagai ‘‘anak Allah’’.  Yang 

kedua ialah I Q2: 11-12 yang menurut satu tafsiran, 

mengajar bahwa Allah Sendiri yang menghasilkan 

Mesias. Yang ketiga, menurut penafsir - penafsir tertentu 

tertulis dalam 4QpsDan A (4Q246) bahwa “ia [yaitu 

Mesias] akan disebut anak Allah, dan mereka akan 

memanggilnya anak Allah yang Mahatinggi”37  

berdasar  atas bukti yang di atas, beberapa ahli 

PB dan ahli Pseudepigrapha38  berpendapat bahwa “anak 

Allah’ sudah mulai dipakai sebagai gelar mesianis pada 

masa Perjanjian Baru.  Kesimpulan ini konsisten dengan 

pernyataan-pernyataan tertentu di dalam Perjanjian Baru, 

termasuk pengakuan Petrus di dalam Matius 16: 16: “Lalu 

Yesus bertanya kepada mereka: ‘tetapi apa katamu, 

siapakah Aku ini?’ Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau 

yaitu  Mesias, Anak Allah yang hidup!” (bdg. Matius 

26:63; Markus 14:61; Ia’, 4:41; Yohanes 11:27; 20:31; 

KPR 9:20-22).  

3.  Pemakaian ”Anak Allah” bagi Yesus Menurut 

Injil-injil Sinoptik Injil Markus, yang dimulai dengan 

mengatakan secara langsung bahwa Yesus yaitu  ”Anak 

Allah” (Markus 1:1).  Kemudian, sama seperti dalam Injil 

Matius dan Lukas (Matius 3:17; Lukas 3:22), status 

Yesus dinyatakan pada saat Ia dibaptis: Pada saat Ia 

keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti 

burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu  terdengarlah 

suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, 

kepada-Mulah Aku berkenan”39   

berdasar  pernyataan Allah dalam ayat 11, dua 

kesimpulan dapat diambil, yaitu: pertama, Yesus layak 

disebut “Anak Allah” sebab  hubungan-Nya dengan 

Allah unik.  Allah sangat mengasihi-Nya sehingga Ia 

mengatakan kepada Yesus, “kepada-Mulah Aku 

berkenan”.  Kedua, sebagai “Anak Allah” Yesus selalu 

menaati Bapa-Nya di sorga dan melakukan hanya apa 

yang berkenan kepadaNya.  Dalam Kitab Injil dijelaskan 

bahwa Yesus menaati BapaNya sampai mati, bahkan 

sampai Ia mati pada kayu salib. Dalam Injil Markus 

rahasia status Yesus sebagai “Anak Allah” dijaga dengan 

baik-baik. Ketika roh-roh jahat berteriak-teriak sebab  

mereka mengetahui bahwa Ia yaitu  “Anak Allah”, 

                                                                   

mereka diperintahkan untuk berdiam diri (Markus 3: I I 

5:7: bdg. I :24, 34). Di dalam Markus pasal 9, ketika 

Yesus dimuliakan di atas gunung. statusNya sebagai 

”Anak Allah” dinyatakan kepada Petrus,  Yakobus, dan 

Yohanes.  Kemudian, di dalam ayat 9, Yesus melarang 

mereka membicarakan apa yang mereka lihat di atas 

gunung: Pada waktu mereka turun dari gunung itu, 

Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan 

menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka 

lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara 

orang mati.40 

Di dalam ayat 9 ada indikasi mengapa Yesus 

menjaga status-Nya sebagai “Anak Allah”. Murid-murid-

Nya -Nya tidak diperbolehkan untuk bercerita kepada 

orang lain “apa yang telah mereka lihat itu,” khususnya 

pernyataan Allah tentang status Yesus sebagai Anak-Nya 

yang dikasihi-Nya, “sebelum Anak Manusia bangkit dari 

antara orang mati.”  

Mengapa status Yesus sebagai “Anak Allah tidak 

boleh dibicarakan sebelum Yesus mati dan bangkit, 

sedangkan hal ini  boleh diumumkan setelah 

kebangkitan-Nya?  Kemungkinan besar Yesus ingin 

menghindari adanya salah pengertian di antara “orang 

banyak itu” mengenai arti istilah “Anak Allah”.  Jika 

identitas Yesus sebagai “Anak Allah” diumumkan 

sebelum Ia mati dan bangkit, maka mereka dapat 

mengambil kesimpulan bahwa sebagai “Anak Allah” Ia 

hanya melakukan mujizat-mujizat yang mengesankan 

semua orang.  Suatu kemungkinan yang lain ialah 

mereka berpusat pada pengharapan mesianis mereka 

sebagai orang-orang Yahudi, sehingga peran utama 

Yesus sebagai “Anak Allah” yaitu  untuk mengalahkan 

musuh-musuh bangsa Yahudi.  Namun setelah Ia mati 

dan bangkit peranan-Nya sebagai “Anak Allah” sudah 

jelas: Ia harus menderita dulu, baru Ia dapat dimuliakan 

sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.  

Selain Injil Markus, tema Yesus sebagai “Anak 

Allah” juga penting dalam Injil Matius dan Lukas, dan 

pada umumnya makna gelar ini  sama.  Namun ada 

satu sub-tema dalam Injil Matius yang menarik.  Matius 

lebih sering menggunakan konsep ”Anak Allah” 

daripada Markus.  Seperti Markus, Matius memakai 

istilah itu pada saat baptisan (3;17), transfigurasi (mat 

17:5), dan kematian Yesus (Mat 27:54).  Kalau Markus 

memakai sebutan Anak Allah dalam pembukaan 

Injilnya, Matius menyebut ”Yesus Kristus, Anak Daud, 

Anak Abraham” (1:1).   

Dalam Injil Matius sangat ditekankan bahwa 

Yesus sebagai “Anak Allah” menaati dengan sempurna 

kehendak Bapa-Nya di sorga, khususnya ketika Ia 

menderita sampai mati.  Memang Yesus digoda oleh 

setan (Matius 4: 1 -11) dan oleh Petrus sebagai agennya 

(Matius 16:22-23), serta oleh “orang-orang yang lewat di 

sana” pada waktu Ia disalibkan (Matius 27:39-40), untuk 

menyatakan status-Nya sebagai “Anak Allah” melalui 

mujizat-mujizat yang mengesankan.  Namun Ia memilih 

jalan yang lain, yaitu untuk menyatakan status-Nya 

melalui ketundukan kepada kehendak Bapa-Nya di 

 

sorga.  Di taman Getsemani Ia sangat bergumul dengan 

penderitaan-penderitaan yang harus dialami-Nya, tetapi Ia 

tunduk sampai akhirnya kepada kehendak Bapa-Nya:  

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: “Ya 

Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini 

lalu dari padaku, tetapi jangan lah seperti yang 

Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau 

kehendaki.Oleh sebab  ketaatan AnakNya, Allah 

membuktikan kebenaran pengakuan Yesus melalui tanda-

tanda (Matius 27:51-53) sehingga “kepala pasukan dan 

prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat 

takut lalu berkata: “sungguh Ia ini yaitu  Anak Allah” 

(Matis 27:54).  

Lukas menggunakan sejumlah gelar bagi Yesus 

yang juga digunakan dalam Injil Matius dan Markus.  

Kadang-kadang ia menyebut Yesus sebagai ”Anak 

Allah.”  gelar ini sudah ada sejak awal Injilnya.  Malaikat 

bagirel menjumpai Maria dan mengatakan kepadanya 

bahwa ia akanmelahirkan seorang anak, yang harus ia 

beri nama ”Yesus.”  kemudian Gabrriel berkata, ”Ia akan 

menjadi besar dan akan disebut ’Anak Allah Yang 

Mahatinggi.”  Lalu ucapan ini disusul dengan informasi 

mengenai keagungan rajawi-Nya, suatu hal yang 

membuat Maria bertanya, ”Bagaimana hal itu mungkin 

terjadi...sebab  aku belum bersuami?”  Jawab Gabriel, 

”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang 

Mahatinggi akan menanungi engkau; sebab itu anak yang 

akan kaulahirkan itu akan disebut ’Kudus, Anak Allah’” 

(1:31-35).  Selama ini banyak dibicarakan tentang 

konsepsi perawan, suatu pandangan yang ditolak oleh 

banyak pakar modern.41  Namun jelas Lukas menerima 

hal itu, yang dianggap penting olehnya.  Hal itu 

menentukan pemahamannya mengenai istilah ”Anak 

Allah” dan menjelaskan bahwa ia tidak menggunakan 

istilah ini  dengan arti yang minimal.  Bagi Lukas 

hubungan Yesus dengan Bapa-Nya itu unik.  Kadang-

kadang murid-murid yesus disebut ”anak-anak Allah 

Yang Mahatinggi” (6:35) oleh Lukas, tetapi ia tidak 

memandang Yesus hanya sebagai salah satu dari antara 

anak-anak ini . Dari ucapan malaikat Gabriel itu jelas 

sekali bahwa Yesus yaitu  Anak Allah dalam arti belum 

dan tidak pernah ada orang lain dapat mempunyai 

kedudukan ini . 

Dengan cara yang mirip sekali dengan Matius, 

Lukas memakai gelar ini  dalam kisah mengenai 

pencobaan (4:3, 9; bdg Mat 4:3,6); hal yang sama bisa 

dikatakan mengenai beberapa nas lainnya.  Akan tetapi 

mungkin perlu diperhatikan juga bahwa ketika peristiwa 

Tuhan Yesus dipermuliakan di atas gunung, suara yang 

datang dari awan-awan berkata, ”Inilah Anak-Ku yang 

Kupilih” (9:35; sedangkan menurut Matius dan Markus 

”Inilah Anak yang Kukasihi”).  Dan masih ada dua nas 

                                                                   

41 Ada banyak sekali tulisan mengenai kelahiran dari 

seorang perawan itu. Beberapa buku yang bisa disebutkan: J. 

Gresham Machen, The Virgin Birth of Christ  (London: 1958); 

Thomas Boslooper, The Virgin Birth  (London, 1962); Hans 

von Campenhausen, The Virgin Birth in the Theology of the 

Ancient Church, (London, 1964); Raymond E. Brown, The 

Virgin Conception and Bodily Resurrection of Jesus, (London, 

1973). 

lain, dimana hanya Lukas yang memakai ungkapan itu.  

Salah satunya yaitu  ketika keluarnya setan-setan dari 

banyak orang, sambil berteriak, ”Engkau yaitu  Anak 

Allah” (4:42).  Di mata Lukas, setan-setan itu benar-

benar mengetahui hal ini lama sebelum para murid 

menyadari siapakah Yesus itu.  Peristiwa lainnya yaitu  

dalam arena pengadilan di mana penginjil ini mencatat 

pertanyaan para anggota Mahkamah Agama kepada 

yesus, ”Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (22:70) 

Dalam Injilnya, Lukas mencatat pemakaian istilah 

”Anak Allah” oleh Yesus sendiri bagi dirinya sendiri 

dapat dipahami dalam tiga aspek: yaitu yang mengacu 

pada Yesus (1) yang sedang menjalankan pelayanan di 

depan piblik, (2) dalam penderitaan-Nya, dan (3) pada 

saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.42 

Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapatlah 

disimpulkan bahwa arti gelar “Anak Allah dalam 

pengajaran Yesus meliputi dua hal: pertama, istilah 

“Anak Allah” menekankan hubungan Yesus dengan 

Allah, bukan hakekat-Nya sebagai seseorang yang layak 

menyamakan diri-Nya dengan Allah.  Doktrin ini  

jelas-jelas diajar dalam Perjanjian Baru, tetapi bukan 

dalam pemakaian gelar “Anak Allah” untuk Yesus dalam 

Injil-Injil Sinoptik.  Kedua, hubungan antara gelar 

‘Mesias” dengan gelar “Anak Allah” dalam pengajaran 

Yesus tentang diri-Nya.  Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik 

Yesus tidak disebut “Anak Allah” sebab  Dia yaitu  

Mesias, tetapi sebab  hubunganNya dengan Allah yang 

unik sehagai Anak-Nya.  Hubungan-Nya dengan Allah 

yaitu  dasar kemesiasan-Nya, bukan sebaliknya.43  

 

Yesus sebagai Tuhan 

 

Gereja Tuhan masa kini seringkali memakai gelar 

“Tuhan” untuk Yesus, misalnya pada waktu berdoa 

kepada “Tuhan Yesus”, dan arti gelar ini  sangat 

tinggi bagi orang-orang percaya, bahkan di beberapa 

denominasi gereja di Indonesia, ketika mereka membaca 

ayat-ayat Alkitab, mereka menambahkan kata ”Tuhan” 

setiapkali bertemu dengan nama ”Yesus”.  Dan 

kenyataannya memang pemakaian ”Tuhan” dalam 

pengajaran Yesus yaitu  sangat nyata penting.  Namun 

selain mengerti latar belakang istilah “Tuhan” pada masa 

Perjanjian Baru, harus juga memperhatikan konteks ayat-

ayatnya, supaya penafsiran istilah ini  dapat 

dilakukan dengan tepat.  

 

1. Latar belakang dalam Bahasa Yunani 

 

                                                                   

Pemakaian istilah “Tuhan” (κύριος) dalam bahasa 

Yunani di luar Alkitab memiliki dua arti yang penting 

sebagai latar belakang pemakaian istilah ini  dalam 

Injil-Injil Sinoptik.  Pertama, baik agama nasional 

maupun permujaan misteri (‘‘mystery religions”) 

memakai  κύριος  (atau κύρια ) untuk dewa-dewa dan 

dewi-dewi (seperti Isis atau Serapis) yang dapat 

menolong manusia dan layak menerima pengucapan 

syukur atas pertolongan mereka.  Kedua, pada masa PB 

κύριος seringkali dipakai untuk Kaisar Roma (misalnya 

Kaisar Nero), yang dianggap sebagai dewa sekaligus 

manusia.  

Dalam konteks-konteks di atas κύριος  jelas-jelas 

dipakai untuk tokoh-tokoh yang dianggap lebih daripada 

manusia.  Namun istilah ini  tidak selalu berarti 

demikian, sebab  dapat dipakai juga (khususnya dalam 

bentuk vokatic κύριε) untuk sesama manusia.  Istilah ini 

seringkali dipakai sebagai sambutan untuk menghormati 

orang yang disambut, sehingga dapat dibandingkan 

dcngan “tuan” dalam Bahasa Indonesia atau “sir” dalam 

Bahasa Inggris. 

 

2. Latar belakang dalam Perjanjian Lama 

(Septuaginta)  

 

Dalam Perjanjian Lama versi Bahasa Yunani yang 

disebut Septuaginta (LXX) istilah κύριος dipakai lebih 

dari 9.000 kali.  Dari jumlah ini istilah ini  dipakai 

6156 kali sebagai kata ganti nama Allah Israel, yaitu 

Yahweh.  Dalam ayat-ayat ini kata κύριος  dipakai bukan 

sebagai terjemahan Yahweh tetapi untuk menghindari 

pemakaian nama Allah.  Kenyataan ini konsisten dengan 

kecenderungan banyak orang Yahudi pada masa 

Perjanjian Baru untuk berbicara dan menulis secara tidak 

langsung agar menghindari pemakaian nama Allah yang 

dianggap terlalu Suci untuk dibicarakan.  

Selain pemakaian κύριος dalam Septuaginta, κύριος  juga 

seringkali dipakai untuk Yahweh dalam tulisan-tulisan 

Josephus dan Philo, dan dalam Hikmat Salomo.  

 

3. Pemakaian κύριος dalam Injil – injil Sinoptik 

 

Jika kita mempelajari pemakaian istilah κύριος 

dalam Injil—Injil Sinoptik, maka kita akan 

memperhatikan bahwa arti istilah ini  sangat 

tergantung pada konteksnya. Sama seperti dalam 

Perjanjian Lama versi Bahasa Yunani (Septuaginta), 

κύριος seringkali dipakai untuk Allah Sendiri (yaitu Allah 

bangsa Israel; bdg. misalnya Mãtius 1:20, 22, 24; 2:13, 

15, 19; 4:7. 10; 5:33), dan dalam dua ayat kurio" dipakai 

untuk Allah Bapa (Matius 11:25; Lukas 10:21).  

Pemakaian di atas ada  dalam satu nas di mana 

para penulis Injil-Injil Sinoptik mengutip Yesia 40:3 

(Matius 3:3; Markus 1:3; Lukas 3:4; bdg. Lukas 1:76) di 

mana κύριος dipakai untuk menterjemahkan “Yahweh”.  

Namun dalam Injil- injil Sinoptik, κύριος menyebutkan 

Yesus Kristus, bukan Yahweh.  Memang beberapa 

penulis Perjanjian Baru merasa bebas untuk menerapkan 

ayat-ayat dari Perjanjian Lama yang menyebutkan 

‘Yahweh’ kepada Yesus.  Kecenderungan ini  berarti 

posisi Yesus dalam pikiran pra penulis lnjil-injil Sinoptik 

sangat tinggi, sehingga mereka berani 

mengidentifikasikan Yesus dengan Yahweh. 

Namun arti istilah ini  tidak selalu 

menunjukkan seorang figur yang melebihi manusia.  

Dalam banyak ayat κύριος dapat diterjemahkan dengan 

tepat sebagai “tuan” bukan “tuhan”.  Istilah ini berarti 

”tuan seorang hamba” (Matius 10:24-25; 13:27; 18:25, 

27,31,32, 34; 24:45, 46, 48, 50; 25:18, 19,20, 21, 22, 23, 

24, 26; Mankus 13:35; Lukas 12:35, 36, 37, 42, 43, 45, 

47; 14:2 1, 22. 23; 16:3, 5, 8, 13; 19: 16, 18, 20, 25), 

“tuan kebun anggur” (Matius 20:8, 40; Markus 12:9; 

Lukas 13:8; 20:13, 15), “bapa seorang anak yang bekerja 

untuknya“ (Matius 2 1:30), ”seorang mempelai” (Matius 

25:11), dan “seorang tuan rumah” (Lukas 13:25).  Istilah 

ini  juga dipakai dengan arti “tuan” (bahasa Inggris 

“sir” ) untuk menghormati Pontius Pilatus (Matius 

27:63).  

Istilah κύριος juga dipakai dalam Matius 12:8 

(par. Markus 2:28; Lukas 6:5) untuk menegaskan 

kuasanya sebagai seorang penafsir Hukum Taurat: 

”sebab  manusia yaitu  Tuhan atas hari Sabat.”  Selain 

pemakaian di atas, istilah κύριος seringkali dipakai untuk 

Yesus sendiri dalam Injil-Injil Sinoptik, tetapi artinya 

dalam banyak ayat kurang jelas.   

Penggunaan istilah κύριος bagi Yesus, apakah 

istilah ini  dipakai untuk menghormati Yesus 

sebagai seorang guru agama  Yahudi (yaitu dengan arti 

‘tuan”) atau sebagai suatu indikasi bahwa posisinya 

melebihi manusia (yaitu dengan arti “tuhan”; bdg. 

Matius 8:2, 6, 8, 21, 25, l4:28,30; 16.22; 17:4, 15; 

18:21;26:22: Markus 7:28; Lukas 5:8, 12; ;9:54, 61; 10: 

17, 40; Ii: 1; 12:41 )?” Jawabannya tidak pasti, walaupun 

dalam beberapa ayat istilah κύριος dikaitkan dengan 

gelar “anak Daud” sehingga artinya jelas-jelas mesianis.  

Namun harus diingat bahwa Mesias bagi orang-orang 

Yahudi yaitu  tokoh manusiawi yang sangat diurapi 

Allah, bukan seorang figur yang layak menyamakan diri 

dengan Allah. 

Meskipun arti dalam beberapa ayat kurang jelas, 

harus disadari beberapa hal: Yang pertama, pengertian 

orang-orang terhadap Yesus, khususnya pengertian 

murid Yesus, tidak statis.  Memang pengertian mereka 

dapat disebut dinamis sebab  berkembang terus, 

meskipun mereka tidak dapat memahami banyak hal 

sebelum Yesus mati dan bangkit.  Jadi, tidak 

mengherankan jika istilah κύριος dipakai dengan arti 

yang lebih dalam dan lebih tinggi dalam pasal-pasal 

terakhir Injil-Injil Sinoptik dari pada dalam pasal-pasal 

pertama, tetapi perkembangan ini sulit dibuktikan.  

Yang kedua, istilah κύριος tidak hanya dipakai 

oleh Yesus dan orang-orang lain yang berbicara dengan-

Nya, tetapi juga oleh penulis injil Lukas yang selalu 

menyebutkan Yesus sebagai  κύριος (Lukas 7:13, 19; 

10:1, 39; 11:39; 12:42; 13:15: 18:6; 19:8; 22:6 1). Gelar 

ini yang paling sering dipakai Lukas untuk Yesus (103 

kali dalam Injilnya dan 107 kali dalam Kisah Para 

Rasul).  Tentu saja gelar ini memiliki macam-macam 

arti.  Tidak diketahui dengan persis pengertian Lukas 

terhadap istilah ini , tetapi pengertiannya jelas-jelas  menulis 

dan pandangan pos-kebangkitan.  

Yang ketiga, dalam Injil Matius, dan pada 

umumnya Injil Markus dan Lukas ikut prinsip ini juga, 

para musuh Yesus dan Yudas Iskariot selalu menyambut 

Yesus dengan didaskale  atau rabbi (“guru”), sedangkan 

para murid-Nya dan orang-orang yang datang kepada-

Nya dengan Iman menyambut-Nya dengan κύριε.  Jadi, 

meskipun pengertian mereka terhadap ke-Tuhanan Yesus 

belum berkembang, orang-orang yang beriman ingin 

menghormati dan memuliakan nama-Nya.  

Selain pengamatan-pengamatan di atas, ada 

beberapa nas yang perlu kita perhatikan sebab  di dalam 

nas-nas ini  kita melihat ke-Tuhanan Yesus dengan 

lebih jelas.  Nas yang pertama ialah Matius 22:42-45, di 

mana Yesus mengutip dari Mazmur 110:  

Apakah pendapatmu  tentang Mesias ?Anak 

siapakah Dia?’ Kata mereka kepadaNva: ‘Anak Datid. ‘ 

KataNya kepada mereka: ‘Jika demikian, bagaimanakah 

Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya 

(κύριον), ketika ía berkata: Tuhan (κύριος ) telah 

berfirman kepada Tuanku (του κύριου μου): duduklah di 

sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di 

bawah kakiMu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, 

bagaimana mungkin Ia anaknya pula? 

  

Asumsi Yesus dalam ayat-ayat ini yaitu  dua: (1) 

bahwa Mazmur 110 ditulis  Daud sendiri, dan (2) bahwa 

ayat-ayat yang dikutip yaitu  mesianis. Asumsi-Nya yang 

pertama didukung oleh superscription Mazmur 110, yaitu 

kata-kata yang ditulis di atas Mazmur 110 dalam Alkitab 

kita (“Mazmur Daud”), sedangkan asumsi-Nya yang 

kedua konsisten dengan tafsiran Mazmur 110 oleh orang-

orang Yahudi pada masa PB 44 

Menurut Yesus Sang Mesias, yang seringkali 

disebut “Anak Daud” oleh orang-orang Yahudi, layak 

disebut κύριος oleh Raja Daud sendiri, sehingga Mesias 

lebih tinggi dari pada posisi Raja Daud.  Memang Allah 

mengatakan kepada Sang Mesias, “Duduklah di sebelah 

kananKu, sampai Kutaruh di bawah kakiMu.”  Orang-

orang percaya mengetahui bahwa posisi ini  yaitu  

posisi kuasa dan kemuliaan, sehingga Sang Mesias jelas-

jelas melebihi keterbatasan manusiawi.  

Selain Matius 22:42-45 ada nas-nas yang lain yang 

sangat penting untuk topik ini. Dalam dua ayat, yaitu 

Markus 16: 19 dan dalam Lukas 24:3, Yesus disebut 

“Tuhan Yesus” (κύριος  Іήσους).  Yang menarik ialah 

bahwa kedua ayat ini ada  pada akhir Injil-Injil 

ini , sehingga menjadi jelas bagi si pembaca bahwa 

setelah Yesus bangkit para murid-Nya baru mulai 

mengerti implikasi-implikasi keTuhanan-Nya.  

Hanya satu kali dalam Injil Markus Yesus 

menyatakan status-Nya sebagai Anak Allah di hadapan 

umum, yaitu dalam 12:6. Namun penyataan ini tidak 

langsung, sebab  dalam konteks perumpamaan tentang 

penggarap-penggarap kebun anggur.  

                                                                   

 Gelar ”Tuhan” yaitu  gelar yang paling sering 

dipakai Lukas untuk Yesus (103 kali dalam Injilnya dan 

1107 kali dalam Kisah Para Rasul).  Tentu saja gelar itu 

memiliki bermacam-macam arti.  Gelar itu (The Lord) 

dipakai untuk pemilik dari sesuatu misalnya keledai 

(Luk. 19:33) atau kebun anggur (Luk. 20:13).  Gelar itu 

sering dipakai sebagai bentuk sapaan yang sopan seperti 

jika seorang pelayan menyapa manjikannya (Luk. 13:8; 

14:22).  Penggunaan-penggunaan ini  dapat dengan 

cepat membuat gelar itu menjadi cara biasa untuk nyapa 

atau berbicara tentang seseorang yang lebih mulia, dan 

dengan demikian gelar itu lalu dipakai untuk orang-

ornag yang berkedudukan tinggi.   Tidak hanya mereka 

yang berkedudukan tinggi disebut ”tuan”.  Tetapi istilah 

itu digunakan juga untuk para dewa.  Ini tidak berarti 

bahwa gelar itu tidak dipakai untuk manusia meskipun 

begitu hampir tidak ada masalah dengan pemakaian gelar 

ini, kecuali penafsiran yang tepat atas teks-teks tertentu.  

Membedakan ”tuan” manusiawi dari tuan illahi tidak 

pernah sampai merupakan kesulitan yang tak teratasi. 

Dalam septuaginta, yakni terjemahan Perjanjian 

Lama ke dalam Bahasa Yunani, kata ini  yaitu  cara 

untuk menyebut kata illahi ”Yahweh”.  Lukas 

mempertahankan pemakaian ini: dapat ditemukan paling 

sedikit 25 kali pada kedua pasal pembukaan dari 

Injilnya: ia berbicara tentang ”segala perintah dan 

ketetapan Tuhan” (Luk.1:6) ”perbuatan Tuhan” (Luk. 

1:25), dan sebagainya.  Ia memakainya juga dalam Kisah 

Para rasul, khususnya dalam kaitannya dengan ”malaikat 

Tuhan” (Kisah 5:19; 8:26).  Jadi, berbicara tentang 

Yesus sebagai ”Tuhan” berarti memberikan kepada-Nya 

sesuatu gelar yang sangat berarti. Fitmyer menulis: 

”dengan memakai kurios baik untuk yahweh maupun 

untuk Yesus dalam tulisan-tulisannya, Lukas 

melestarikan makna gelar itu yang sudah dipakai di 

kalangan jemaat Kristen mula-mula yang dalam hal 

tertentu memandang Yesus sebagai setara dengan 

Yahweh.”45 

 

 

 

Para penulis Injil-injil Sinoptik sangat 

menghormati dan mengagungkan pribadi Yesus.  Pribadi 

Yesus di mata mereka yaitu  suatu pribadi yang luar 

biasa dan dihormati.  Mereka percaya tanpa keraguan 

sedikitpun akan kemanusiaan Yesus dan keberadaan-Nya 

sebagai manusia yang tanpa dosa.  Dimulai dari 

kelahiran Yesus sebagai manusia pada umumnya, 

dilanjutkan dengan kehidupan-Nya sebagai manusia 

biasa.  Segala yang dilakukan manusia juga dilakukan 

Yesus kecuali berbuat dosa.  Pencobaan-pencobaan yang 

dialami Yesus dicatat bukan untuk membuktikan bahwa 

Ia berdosa, melainkan untuk membuktikan keberadaan-

Nya yang tanpa dosa.  Tidak ada keinginan dalam diri-

Nya untuk berdosa.  Ketaatan-Nya dibuktikan ketika Ia 

mati di kayu salib. 

 Para penulis Injil-injil Sinoptik juga meyakini 

bahwa Yesus yaitu  Allah sejati sementara Ia di dunia 

                                                                 

ini mengemban tugas-tugas keselamatan yang ditaruh di 

atas pundak-Nya.  Kenyataan akan keilahian Yesus 

terlihat dari penggunaan gelar-gelar bagi Yesus baik oleh 

diri-Nya sendiri maupun oleh orang-orang di sekeliling-

Nya.  Gelar-gelar ini  yaitu  Yesus sebagai Mesias, 

Yesus sebagai Anak Manusia, Yesus sebagai Anak Allah, 

dan Yesus sebagai Tuhan.  Semua gelar ini menyatakan 

keilahian Yesus dan tugas-tugas-Nya dalam karya 

penyelamatan manusia.