doktrin masehi advent 1


 Penelitian ini membahas mengenai Sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

di desa Pinaling 1946-2012. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan awal 

masuknya GMAHK-7 di Pinaling dari tahun 1946-2012. Metode yang dipakai  dalam 

penelitian ini yaitu: Metode Heuristik, Kritik dan Analisa, Interpretasi, dan 

Historiografi. berdasar  analisis yang dilakukan, simpulan dari penelitian ini yakni: 

dari latar belakang awal masuknya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh atau disingkat 

GMAHK-7 di desa Pinaling pada tahun 1946, tentunya Jemaat Tumpaan memiliki  

peranan dan pengaruh penting dalam muncul Advent di desa Pinaling , karena Jemaat 

Tumpaan  yang memiliki inisiatif membuat peribadatan cabang di desa Pinaling dan 

karena mereka melihat ada simpatisan, maka mereka mengundang Pdt. Walean untuk 

membuat ceramah 60 malam dan menghasilkan 3 jiwa pertama. Dan pekabaran 

berlanjut dengan dibuat ceramah oleh Pdt. Manemba dan menghasilkan 9 jiwa dibaptis 

dan akhirnya di desa Pinaling memiliki 12 anggota Advent pertama. Perkembangan 

Jemaat yang mengalami pemekaran dari Jemaat Pondang pada tanggal 5 April 2012. 

Jemaat Pondang yang sebagian besar anggotanya dari Jemaat Pinaling yang dimekarkan 

di Jemaat Pondang, dan pada saat itu juga lewat komite Jemaat Pinaling mengusulkan 

ke daerah Konferen Minahasa untuk mengubah nama dari Jemaat Pinaling menjadi 

Pioner Pinaling. 


Sejarah gereja yaitu  kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-

perubahan yang dialami gereja selama di dunia. Sejarah memang tidak dapat diubah lagi, 

tapi dari sejarah itu bisa menjadi pembelajaran atau evaluasi diri untuk lebih baik lagi. 

Kenapa umat manusia memperdalam alkitab? Karna tidak hanya mempelajari masa lalu 

tapi mempelajari masa yang akan datang. 

Sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dimulai dari pembentukannya pada 

tanggal 21 Mei 1863, Gereja ini yang pada awal kelahirannya dipelopori oleh Hiram Edson, 

James S. White dan istrinya Ellen G. White, Joseph Bates dan J. N. Andrews. Gereja 

Masehi Advent Hari Ketujuh secara historis berasal dari pergerakan Miller yang bersifat 

antar denominasi pada tahun 1840-an. 

Gereja Advent pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1900. Seorang pendeta 

Metodis Amerika bernama R. W. Munson, yang telah bekerja di Birma dan Di Singapur, 

masuk menjadi seorang Adventis setelah sembuh penyakitnya di sebuah rumah sakit 

Advent di Amerika. Atas permintaanya dia menjadi Misionaris Advent di Asia Tenggara, 

lalu pada tahun 1900 dia menetap di Padang. Karena di Padang Muson mengalami 

perlawanan sengit, ia pindah ke Sumatera Utara pada tahun 1904 membuka pekerjaan 

penginjilan di kota Medan. Di pulau Jawa, Adventisme pertama kali disebarkan di 

Surabaya tahun 1906 oleh Sister Petra Tunheim, seorang misionaris dari Australia. Pada 

tahun 1912, gereja-gereja Advent yang pertama di Indonesia dibentuk di Sumberwekas, 

Jawa Timur dan di Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Sister Tunheim menjadi penginjil di Jawa 

Barat. Pada masa itu, pemerintahan Belanda masih melarang pengabar penginjil ganda, 

sehingga upaya membuka pusat misi di Sukabumi dan di Bandung gagal. Pada tahun 1910 

diterbitkan majalah bernama Oetoesan Kebenaran Melajoe atas usaha Sim Gee Nio, 

seorang penginjil dari Singapura. Majalah itu kemudian tahun 1917 berganti nama menjadi 

Pertanda Zaman.1 

 Masuknya Advent di desa Pinaling pada tahun 1946, awal mulanya lewat lawatan 

dari jemaat Tumpaan,setelah mereka melihat ada simpatisan Advent maka mereka 

merencanakan untuk membuat ceramah di desa Pinaling dengan pembicara Pendeta 

Walean, pada bulan Juni tahun 1946 dibuatlah ceramah 60 malam yang menghasilkan tiga 

orang pertama, yaitu Ismael Kaligis, Eva Lintjewas, dan Itong Mewengkang (calon 

baptisan). Dengan masuknya Advent di desa Pinaling, maka mereka melakukan peribadatan 

tapi mereka masi beribada di Tumpaan. Dan akhirnya mereka meminjam rumah sekaligus 

peribadatan pertama didesa Pinaling di keluarga Ena Lintjewas untuk dijadikan tempat 

untuk beribadah sementara. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka mendapat 

penolakan dari keluarga dan akhirnya mereka membuat tempat ibadah yang dahulu 

dinamakan Pitate (sebuah anyaman yang terbuat dari bambu yang dijadikan sebagai 

dinding di sebuah rumah. Dan ketua jemaat pertama yaitu bapak Anton Lintjewas dengan 

12 anggota jemaat. Ketua jemaat bapak Anton Lintjewas menyumbangkan tanah untuk 

membangun gedung gereja. Pada 22 juli 1950 mereka melakukan peresmian jemaat di 

Camp Meeting Urongo. Tahun 1973, dibangunlah SD Advent semi permanen dengan 

kepala sekolah pertama bapak Ardi Sumual dan seorang guru ibu Deice Talumepa dan 

memiliki  48 murid secara keseluruhan setelah jemaat mulai berkembang. 

Pada tahun 1973 gereja semi permanen mulai dibangun dan pada tahun 1987 gereja 

tersebut diresmikan oleh Gubernur Evert Ernes Mangindaan. Dan jemaat Pinaling mencoba 

melakukan perkumpulan cabang pertama dilakukan di desa Kota Menara pada 1966-1970, 

kemudian ke desa Lopana dan desa Pondang dan hanya di desa Pondang cabang Advent 

bisa terus berkembang dan pada 5 April 2012 jemaat Pondang diorganisir. 

1.2 Rumusan Masalah 

 berdasar  uraian di atas yang sudah dikemukakan maka peneliti merumuskan 

permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut. 

1. Bagaimana awal masuknya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK-7) di 

Pinaling tahun 1946-1973? 

2. Bagaimana masuk dan berkembangnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

(GMAHK-7) di Pinaling tahun 1973-2012? 

1.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 

 Tujuan dalam rancangan penelitian ini, yaitu: 

1. Mendeskripsikan awal masuknya GMAHK-7 di Pinaling dari tahun 1946-1973 

2.  Mendeskripsikan perkembangan GMAHK-7 di Pinaling tahun 1973-2012. 

 

 Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengangkat suatu penulisan yang terbatas 

pada sejarah lokal,  yang artinya studi yang mengambil aspek sejarah di suatu tempat, suatu 

locality yang batasannya ditemukan oleh perjanjian yang diajukan oleh penulis sejarah2. 

Sehingga memudahkan peneliti memberi jawaban atas pertanyaan yang berhubungan 

dengan judul peneliti, dan dengan berdasar  literatur sebagai berikut.  

 Hadiwijono Dalam buku Iman Kristen (1979) menjelaskan tentang arti dari Gereja.

 Kamus Sejarah Gereja Dr. F. D . Wallem  (2006) membahas tentang Sabtu (Sabat) 

dan percaya bahwa Alkitab merupakan aturan yang tidak bercacat untuk iman dan praktik 

hidup Dalam buku Kamus Sejarah Gerejah membahas tentang peribadatan  pada hari 

kristen.  

Dalam buku  Pdt. Emil H. Tambunan, Ph.D (1999), Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh di Indonesia; Sejarah Perintisan dan Pengembangannya.  

 Buku Firman Hidup 46 (2003) membahas pengertian tentang Advent secara umum.  

 Jhon Seaman dalam buku Buku Umat Advent dan Imannya (2000). 

 Darmawijaya dalam bukunya Hari-hari Keluarga Kristiani (1994).  

1.5  Landasan Konsep  

Penulisan sejarah menjawab istilah-istilah yang berhubungan dengan judul sebagai 

konsep, seperti istilah Gereja. Tentang gereja atau dalam bahasa Inggrisnya church berasal 

dari kata Portugis, “igreja” atau dari kata Yunani “eklesia” Artinya mereka yang 

“dipanggil keluar” dengan maksud untuk keselamatan manusia. 

 Berkhof menambahkan arti ekklesia yaitu  “Jemaat “yang dipanggil keluar” dari 

dunia untuk menjadi milik Tuhan.”.Selain itu masih ada kata dalam bahasa Yunani 

menunjuk padakata gereja, yaitu “kuriakon” yang artinya “rumah Tuhan”. Septuagint, 

versi Yunani Perjanjian Lama Ibrani yang cukup populer pada zaman Kristus, 

menggunakan kata ekklesia untuk menerjemahkan kata Ibrani gahal, yang berarti 

“berhimpun,” “Perkumpulan,” atau “jemaat”. 3 

Berkhof menerapkan bahwa asal-usul istilah jemaat, dalam hal ini “Gereja” yaitu  

“Kerk” dan “Kriche”  yang esensinya tidaklah relevan dengan kata “Ekklesia”. Melainkan 

dari kata “Kuriake”, yang dalam bahasa Yunani mengandung arti “Milik Tuhan”. Yang 

ditekankan disini yaitu  gereja yaitu  milik Tuhan. Nama “To Kuriakon” atau “He 


Kuriake” semuanya menunjuk kepada tempat berkumpulnya jemaat. Tempat yang di 

anggap milik Tuhan, hingga disebut To Kuriakon4. 

1.6  Metode Penelitian 

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode yang lazim dipakai  dalam 

penelitian dan penulisan sejarah.  

Pengumpulan data untuk penelitian ini, penulis berusaha merekontruksikan masa 

lampau secara sistematis dan obyektif melalui tahap-tahap yang dikenal dengan istilah 

“empat langkah” dalam penelitian dan penulisan sejarah.5 Empat lagkah tersebut terdiri 

dari: 

1. Heuristik 

Metode heuristik yaitu  metode yang mencari, menemukan dan mendapatkan 

sumber lisan atau sumber tulisan. Sumber lisan yang dapat dipakai  yaitu 

wawancara langsung dengan masyarakat yang terlibat dalam pembangunan gereja, 

maupun yang tidak terlibat, sebutan ini biasanya disebut sebagai data primer dan 

data sekunder. Kedua sumber tulisan yaitu mengadakan penelitian kepustakaan dan 

mempelajari karya-karya tulisan yang berhubungan dengan objek penelitian, seperti 

dokumen-dokumen gereja atau arsip gereja, artikel-artikel, benda-benda dan semua 

yang berhubungan dengan penelitian Sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

(GMAHK-7) Pinaling 1946-2012. Sumber-sumber inilah yang nantinya akan 

dipakai untuk menuliskan sejarah. Selain dari itu dapat dipilah menjadi tiga kategori 

sumber-sumber yang dapat dipakai  untuk mendapatkan data sejarah, yaitu 

sumber benda, sumber tulisa, dan sumber lisan.  

2. Kritik dan Analisa   

Kritik dan analisa sumber merupakan tahap seleksi dalam penulisan untuk 

mendapatkan otentitsitas dan kredibilitas sumber, atau memberikan keaslian yang 

terpercaya dengan dua kritik, yaitu ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern yaitu  

jawaban dari hasil pengujian untuk mendapatkan otentisitasnya atau keasliannya. 

Kritik ekstern memberikan bukti untuk memperkuat penelitian sehingga tidak dapat 

melebihi atau mengurangi yang sebenarnya terjadi. Sedangkan kritik intern 

berhubungan dengan wawancara, dokumen-dokumen dan arsip-arsip kemudian 

diseleksi untuk mendapatkan otentisitas yang sebenarnya. 

3. Interpretasi 

Interpretasi atau tafsiran yaitu  hasil dari heuristik dan kritik atau sumber dan data 

yang telah diuji kebenarannya. Kemudian penulis berimajinasi untuk merangkai 

suatu fakta dengan menghubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang  

berhubungan dengan subjek penelitian sehingga dapat diperoleh kesatuan kisah 

yang utuh, kronologis dan logis. 

4. Historiografi 

Historiografi yaitu  tahap akhir dari penelitian dan penulisan sejarah. Hasil dari  

heuristik, kritik, dan interpretasi atas fakta-fakta sejarah yang telah dirumuskan 

dalam beberapa keunikan, dirangkum menjadi satu kisah sejarah yang menarik 


untuk dipublikasikan. Dengan demikian, penulis harus menggunakan bahasa yang 

baik agar mudah dimengerti dan mengandung seni sehingga menarik bagi 

pembaca

  

 Desa menurut Zakaria (2000) dalam Fairus (2020: 47), yaitu  sekelompok manusia 

yang tinggal dan hidup bersama dalam suatu wilayah, memiliki organisasi pemerintahan 

yang dipimpin oleh seorang pimpinan desa yang dipilih dan ditetapkan sendiri, serta 

memiliki serangkaian regulasi yang ditetapkan sendiri. 

2.2 Keadaan Umum Desa Pinaling 

Desa Pinaling merupakan salah satu desa yang terletak di daerah Kabupaten 

Minahasa Selatan. Desa Pinaling terletak di suatu lembah yang memanjang dari Timur ke 

Barat yang diapit oleh dua bukit yang memanjang dari Utara ke Selatan, yaitu bukit Lamo 

dan Ranoimbalek. Di sebelah Timur desa Pinaling mengalir sungai Pentu yang hulunya dari 

lereng Gunung Soputan sebelah Barat.  

Keindahan desa Pinaling semakin terlihat dengan adanya perkembangan 

pembangunan-pembangunan. Rumah-rumah yang dulunya hanya terbuat dari anyaman 

bambu dan papang atau kayu, kini rumah-rumah sudah hampir merata rumah beton yang 

disebut rumah permanen. Udarah desa Pinaling sangat sejuk karena banyak bukit-bukit, 

sungai-sungi, pepohonan dan tanaman-tanaman disekitar warga  desa Pinaling. 

 Sejarah Desa Pinaling 

Berdirinya desa Pinaling secara resmi pada tahun 1890. Tokoh yang berperan atas 

pendirian desa Pinaling yaitu  Tonaas Johanis Mewengkang yang bekerjasama dengan 

Walian Walangitan. Pada waktu membangun desa Pinaling, mereka memakai tanda tunas 

kelapa. Lama kelamaan kelapa itu mati, dan masyarakat dan pemerinta mengganti Tugu 

peringatan desa Pinaling. Pada Tugu ditulis : “Watu pa tu’usan Tinanian in Ro’ong ta 

Pinaling asi ta’un, 6 September 1891”7 

Letak Geografis Desa Pinaling 

 Secara administratif desa Pinaling terletak di Kecamatan Amurang Timur, Kab. 

Minahasa Selatan. Dengan letak geografisnya sebagai berikut. 

• Sebelah Utara berbatasan dengan desa Maliku 

• Sebelah Timur berbatasan dengan desa Kotamenara 

• Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Pondang 

• Sebelah Barat berbatasan dengan desa Lopana 

Keadaan warga  dan Mata Pencarian di Desa Pinaling 

 warga  desa Pinaling merupakan kelompok masyarakat yang termasuk dalam 

suku Minahasa yaitu Tontemboan. Kehidupan warga  desa Pinaling pada umumya 

memiliki kehidupan yang sama dengan warga  desa lainnya. Kehidupan didasarkan pada 

norma-norma dan nilai-nilai luhur Pancasila, budaya serta adat istiadat juga tidak dapat 

dipisahkan, karena memiliki peranan penting dalam kehidupan warga  desa Pinaling. 

Selain berasal dari suku bangsa Minahasa yang merupakan warga  asli, juga ada  

orang-orang yang berasal dari Bolaang Mongondow, Sangir Talaud, dan lain sebagainnya. 

Mereka sebagai pendatang didesa Pinaling memiliki tujuan untuk mencari nafkah, karena 

melihat peluang usaha pertanian yang besar. berdasar  data sensu warga  desa 

Pinaling pada tahun 2012, jumlah warga  1.606 jiwa dengan kepalah keluarga berjumlah 

474 kk. 

2.2.4  Keadaan Pemerintah di Desa Pinaling 

 Dalam menjalankan pemerintahan, desa Pinaling memiliki 9 jaga, dipimpin oleh 

seorang Hukum tua. Hukum tua dipilih langsung oleh masyarakat desa yang memenuhi 

persyaratan. Masa jabatan Hukum tua yang terpilih yaitu 5 tahun. Hukum tua memiliki  

tugas menyelenggarakan urusan pemerintah, pembangunan, dan kemasyarakatan. 

2.2.5  Sarana dan Prasarana di Desa Pinaling 

No. Tingkat Pendidikan Unit 

1. TK Ester GMIM 1 

2 SD GMIM Pinaling 1 

3. SD Advent Pinaling 1 

4.  SD Inpres Pinaling 1 

5. SMP N. 3 Amurang Timur 1 

 Total 5 


2.2.6  Jumlah Gedung dan Golongan Gereja di desa Pinaling 

No. Golongan Gereja Unit 

1. GMIM Kanaan Pinaling 1 

2. GMAHK Pioner Pinaling 1 

3. Pantekosta 2 

4. GMAHK-7 Pembaharuan 1 

Total  5 

 

III. AWAL MASUKNYA GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH DI DESA 

PINALING 1946-2012 

3.1  Masuknya  Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Desa Pinaling 1946-1973 

Masuknya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di desa Pinaling mumpunyai 

peranan penting dari  jemaat Tumpaan lewat lawatan dan kunjungan dari penginjil-

penginjil literatur Advent, dikarenakan ada simpatisan dari desa Pinaling dan akhirnya 

mereka merencana membuat ceramah di desa Pinaling dengan pendeta Walean sebagai 

pembicara. Pada Juni 1946, ceramah 60 malam dan menghasilkan tiga orang pertama antara 

lain Ismail Kaligis, Eva Lintjewas, dan Itong (calon baptis). Karena belum ada bangunan 

dan anggota yang masi sedikit mereka melakukan peribadatan pertama di Tumpaan. Di 

tahun 1946 dibuatlah ceramah oleh pendeta Manembu dan menghasilkan 9 jiwa bertobat. 

Akhirnya mereka menjadi 12 anggota dan peribadatan pertama di saudari Ena Lintjewas 

yang diketuai oleh Anthony Lintjewas sebagai ketua pertama. Dan anggota-anggota jemaat  

menyumbangkan sebagian dari harta-harta mereka. Bapak Andi Kaligis menjual tanah, 

saudara Itong Mewengkang menjual tanah dan bapak Tonny memberikan tanah untuk 

dibangun gereja dan mereka membangun gereja pertama yang terbuat dari anyaman bambu 

(Pitate) dengan atap (Rumbia).  Di pimpin oleh pendeta Walean tanggal 22 Juli 1950 

jemaat Advent di Pinaling di Organisir di Camp Meeting Urongo dengan 17 anggota yaitu : 

1. Helena Eva Lintjewas    9. Josis U. Lintjewas 

2. Ismail Kaligis      10. Jafet Ontolay 

3. Jacob Mewengkang    11. Paulina Mewengkang 

4. Anthony Lintjewas    12. A. Liu Lumoindong 

5. H. Aseng Lintjewas    13. George A. Egeten 

6. Yan Mewengkang    14. Justus Repi 

7. Barnabas H. Lintjewas   15. Yulin Paendong 

8. Welmina E. Lintjewas   16. An Mewengkang 

9. Josis U. Lintjewas    17. Helena Mewengkang (masi hidup) 

3.2. Perkembangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Desa Pinaling 1973-2012 

3.2.1. Keadaan Gedung Gereja 

  Pada tahun 1960 yang di pimpin oleh pendeta Zakharias keadaan gedung GMAHK 

di Pinaling masih terbuat dari anyaman bambu (pitate) dan atap (rumbia). Tahun 1973 

GMAHK Pinaling dibangun semi permanen,dan tahun 1987 mulai direnovasi menjadi lebih 

baik dan diresmikan pada 25 Januari1998 oleh Gubernur Sulawesi Utara E.E. Mangindaan 

dan ditabiskan oleh Ketua Daerah konfrens J.E.Legoh. 

 

  Pemekaran Jemaat Advent di Pinaling  

 Dari tahun 1966 jemaat Pinaling selalu membuat ibadah cabang di berbagai desa 

yaitu desa Kotamenara, desa Lopana dan desa pondang. Jemaat Pinaling selalu melakukan 

perkunjungan, perlawatan, dan peribadatan cabang, dan hanya di desa pondang Advent 

berkembang. Di koordinator oleh saudara Fine Mewengkang  dan di pimpin oleh Pdt. 

Italilpesi sebagai pendeta wilayah dan dibantu Pdt. Hendrikus Tumonggor sebagai pendeta 

 

muda, mereka melakukan peribadatan di rumah keluarga Wiliam Egeten di perumahan 

Pondang. Karna dilihat pertumbuhan jemaat Pinaling sudah banyak anggota dan desa 

Pondang  tidak terlalu jauh dari desa Pinaling akhirnya jemaat mereka melakukan komite 

untuk melakukan pemekaran ke wilaya Pondang. 

Dilakukanlah perundingan yang cukup lama dan pada tanggal 5 april 2012 jemaat 

pondang diorganisir oleh Pdt. Senewe sebagai Ketua Daerah Konferens Minahasa. Dan 

anggota-anggota jemaat Pinaling sebagian berpindah di jemaat Pondang. Dan jemaat 

Pondang memiliki 84 anggota jemaat pertama. Dan  pendeta Hendrikus Tumonggor 

dipindah tugaskan ke jemaat Pondang sebagai pendeta pertama di jemaat Pondang. Dan 

peribadatan pertama jemaat pondang setelah diorganisir di keluarga Egeten Wongkar yang 

letak rumahnya hanya di ujung kampung desa Pinaling.dan keadaan gereja pertama jemaat 

Pondang yaitu bangunan sederhana yang bangunannya terbuat dari kayu. Dan saat itu lewat 

Komite Jemaat mereka mengusulkan ke Daerah Konferens Minahasa untuk merubah nama 

dari Jemaat Advent Pinaling menjadi jemaat Advent Pionir Pinaling

Dari latar belakang awal masuknya Gereja Masehi Advent Hari Ke Tujuh atau disingkat 

GMAHK-7 di desa Pinaling pada tahun 1946, tentunya jemaat Tumpaan memiliki  

peranan dan pengaru penting dalam muncul Advent di desa Pinaling karena jemaat 

Tumpaan yang memiliki inisiatif membuat peribadatan cabang di desa Pinaling dan karna 

mereka melihat ada simpatisan maka mereka mengundang Pdt. Walean untuk membuat 

ceramah 60 malam dan menghasilkan 3 jiwa pertama. Dan pekabaran berlanjut dengan 

dibuat ceramah oleh Pdt. Manembu dan menghasilkan 9 jiwa dibabtis dan akhirnya di desa 

Pinaling memiliki 12 anggota Advent pertama. 

 Pendidikan di desa Pinaling masi terbilang kurang dan bapak George Egeten 

memiliki inisiatif untuk mengumpulkan anak-anak yang mau belajar. Satu persatupun anak-

anak berdatangan untuk belajar, dan pada saat itu mereka melakukan belajar mengajar di 

rumah dari bapak George Egeten. Pada tahun 1963 dibuatlah sekolah semi permanen untuk 

dijadikan sekolah. Pada tahun 1973 jemaat Advent Pinaling membangun gereja semi 

permanen dan gereja pertama yang terbuat dari anyaman bambu dijadikan persekolahan 

dengan kepalah sekolah pertama bapak Andi Sumual dan seorang guru ibu Deice Talumepa 

dengan keseluruan murud 48. 

 Perkembangan jemaat yang mengalami pemekaran dari peribadatan cabang yang di 

buat jemaat pinaling dan menghasilkan jemaat Pondang pada tanggal 5 april 2012 Jemaat 

pondang yang sebagian besar anggotanya dari jemaat Pinaling  yang dimekarkan di jemaat 

pondang dan pada saat itu juga lewat komite jemaat Pinaling mengusulkan ke Daerah 

Konferen Minahasa untuk merubah nama dari jemaat Pinaling menjadi jemaat Pionir 

Pinaling.