3 – setelah wahyu dari Allah Tritunggal, maka langkah berikutnya yaitu
penciptaan-Nya. Penciptaan yang berhubungan dengan rencana penebusan-Nya yaitu bumi, yang
mengandung 4 elemen dasar: tanah, udara, api dan air; dengan keempat penjurunya: utara, selatan,
barat dan timur, serta empat musimnya: semi, panas, gugur dan dingin. Bahkan, di takhta Allah juga
dikeliling oleh empat makhluk hidup ciptaan-Nya, yang penuh dengan mata di sebelah muka dan
belakangnya. Keempat makhluk itu serupa dengan singa, anak lembu, memiliki muka seperti muka
umat dan seperti burung nasar yang sedang terbang (Wah.4:6-7).
Di atas Mezbah Dupa inilah dibakar ukupan, seperti perintah-Nya dalam Kel.30:7-8 “Di atasnya
haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-
lampu, haruslah ia membakarnya. Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja,
haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-
temurun.”
Seperti Mezbah Dupa yang terbuat dari kayu sittim disalut emas murni, berbentuk
empat persegi dan diatasnya dibakar dupa yang harum, begitulah orang-orang
pilihan-Nya harus bersedia dibentuk/diproses Firman dan Roh Kudus, sehingga
diliputi sifat ilahi serta menjadi ciptaan yang mencapai tujuan Sang Pencipta, yaitu
memuliakan/mengharumkan nama Tuhan!
Alkitab berkata kata , bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala
memberitakan pekerjaan tangan-Nya” – Bila buatan tangan-Nya menceritakan kemuliaan Sang Pencipta,
tidakkah sepatutnya umat ciptaan-Nya, yang tertinggi, melakukan lebih? Sebab itu, sebagai umat
pilihan-Nya harumkanlah nama Tuhan dengan hidup menurut aturan-Nya. Amin!
UKURAN KEDEWASAAN ROHANI
Dalam Ruangan Suci ada dua perabot yang terbuat dari kayu sittim tersalut emas. Yang pertama
yaitu Meja Roti Pertunjukan, yang tingginya satu setengah hasta (Kel.25:23). Yang kedua yaitu
Mezbah Dupa, yang tingginya dua hasta atau 104,8 cm.
_________ 41
Kel.30:1-2a “Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu penaga;
sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, namun haruslah dua hasta
tingginya.”
Seperti telah dterangkan, bahwa angka-angka dalam Alkitab memiliki maksud rohani, sebab
Allah yaitu Perencana yang rohani. Angka 2 menunjuk kepada pribadi kedua dari Allah Tritunggal,
Sang Anak Allah. Hal ini berkata kata , bahwa Allah ingin agar jemaat Tuhan yang ingin masuk dalam
persekutuan dengan Tuhan Yesus sebagai Mempelai-Nya harus memiliki ukuran yang serupa dengan
Dia, yakni suka menyembah!
Hal itu jelas, pada saat Diri-Nya digoda Iblis untuk menyembahnya, agar seluruh kerajaan dunia
dan kemegahannya diterima-Nya; maka inilah ucapan yang dikatakan Tuhan Yesus: "Enyahlah, Iblis!
Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau
berbakti!" (Mat.4:10)
Tuhan Yesus diberikan kepada umat bukan hanya untuk membebaskan dari dosa, namun juga
untuk mendidik agar mereka yang percaya dan mengikuti jejak-Nya menjadi serupa dengan Dia. Dan
salah satu kerinduan-Nya yaitu supaya menjadi serupa Dia dalam penyembahan, seperti diajarkan dalam
pengajaran doa Mat.6:9 “sebab itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah
nama-Mu.”
Mengapa penyembahan merupakan ukuran yang penting dalam kehidupan rohani? Sebab hal itu
menunjukkan kelayakan untuk dapat disandingkan dengan Tuhan Yesus, Pengantin laki-laki! Proses
kelayakan ini menjadi jelas, saat Firman Nubuat-Nya berkata kata siapa saja yang akan dibebaskan dari
aniaya besar oleh Antikristus, dan siapa yang harus mengalami. Marilah kita membaca ayat-ayat firman-
Nya ini.
Wah.11:1-2 lalu diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata
yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah (proskuneo =
sembahyang) di dalamnya. namun kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau
mengukurnya, sebab ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota
Suci empat puluh dua bulan lamanya."
“Tongkat pengukur” yang dipakai untuk mengukur disebutkan lebih rinci dalam Wah.21:15 “Dan
ia, yang berkata-kata dengan aku, memiliki suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota
itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.”
Seperti telah diterangkan di depan, bahwa logam emas yaitu lambang dari sifat ilahi atau
kemuliaan ilahi. Jadi, ukuran yang dipakai dalam menilai “sembahyang” seseorang, apakah
sembahyangnya dilakukan dalam kekudusan ilahi, bagi kemuliaan Allah? Hanya Allah yang dapat
menghakimi kualitas sembahyang seseorang!
Yang jelas, mereka yang tidak masuk dalam ukuran ilahi akan “dibiarkan” dan mengalami masa
aniaya, yang diistilahkan dengan kalimat “sebab ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan
mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya." Itulah mereka yang tidak
berada dalam Ruangan Suci dari Bait Suci, namun berada dalam “pelataran Bait Suci yang di sebelah
luar” yakni di _________. Jelas, mereka yaitu orang-orang percaya yang tidak mengikuti pimpinan Roh
untuk lebih menguduskan dirinya atau menyempurnakan kekudusan, seperti dianjurkan dalam 2Kor.7:1.
2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri
kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita
dalam takut akan Allah.”
Biarlah setiap orang yang ingin luput dari aniaya besar yang akan datang
mengusahakan dirinya untuk menjadi orang pilihan, yang disalut kemuliaan ilahi,
dengan melatih beribadah dalam Roh kekudusan dan suka menyembah Allah,
sehingga menyempurnakan kekudusan hidupnya.
MEMBANGKITKAN KUASA ILAHI
Mezbah Dupa yang terbuat dari kayu sittim dan tersalut emas ini pada keempat ujungnya diberi
tanduk, seperti yang kita baca ini: “Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah
kaubuat itu dari kayu penaga; sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat
persegi, namun haruslah dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu.”
Tanduk melambangkan kekuatan. Dan tanduk pada Mezbah Dupa melambangkan Kuasa Ilahi
oleh Penyembahan! Terjemahan King James kitab Habakuk 3:4 berbunyi: “And his brightness was as the
_________ 42
light; he had horns coming out of his hand: and there was the hiding of his power” – “Dan kilauan
seperti cahaya; Ia memiliki tanduk keluar dari tangan-Nya; dan di sanalah tersembunyi kekuatan-
Nya.” Dan bila anda perhatikan baik-baik, kata-kata ini justru diucapkan dalam perikop doanya nabi
Habakuk.
Hal ini berarti, saat umat-Nya bersembahyang, maka kuasa ilahi-Nya akan dinyatakan dalam
perbuatan tangan-Nya, seperti diungkapkan dalam firman nubuat di bawah ini.
Wah.8:1-5 “Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira
setengah jam lamanya. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka
diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan
sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-
sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap
kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.
Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke
bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.”
Pernyataan firman-Nya ini mengajarkan kepada kita, bagaimana kita harus bereaksi terhadap
kejahatan umat dalam dunia ini. Bukan dengan cara membalas yang jahat dengan kejahatan, namun
dengan lari di bawah kaki Tuhan dan melakukan penyembahan!
Doa penyembahan orang-orang kudus, yang dilambangkan oleh “asap kemenyan
bersama-sama dengan doa orang-orang kudus,” membuat tangan Tuhan terkedang
dan mengutus malaikat-malaikat-Nya melaksanakan penghakiman atas dunia yang
berdosa!
MEMBAWA KEDEKATAN
Dalam Ruangan Suci, Mezbah Dupa diletakkan di depan tirai Ruang Maha Kudus, dimana Tabut
Perjanjian berada. Inilah perintah Tuhan kepada Musa dalam Kel.30:6 “Haruslah kautaruh tempat
pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum,
di mana Aku akan bertemu dengan engkau.”
Arti dari tabir diterangkan dalam surat Ibrani 10:20 yang berbunyi: “Jadi, saudara-saudara, oleh
darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, sebab Ia telah
membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu daging-Nya sendiri, dan kita
memiliki seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah” (Ibr.10:19-21).
Tubuh Yesus yang diserahkan sebagai korban bagi perdamaian umat dengan Allah, telah
membuka jalan bagi umat berdosa namun yang percaya kepada Yesus sebagai Penebus dosanya,
sehingga mereka diperbolehkan bersekutu dengan Allah Yang Mahakudus, dalam penyembahan!
Seseorang yang menyembah Allah tentunya perlu berada dekat dengan pribadi yang disembah.
Sebab itu, Mezbah Dupa itu ditempatkan “di depan tabir penutup tabut hukum (the ark of the testimony =
Tabut Kesaksian), di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di mana Aku akan bertemu
dengan engkau.”
Secara spesifik dituliskan, bahwa Mezbah Dupa itu ditempatkan di depan tabir penutup “Tabut
Kesaksian” – itulah nama yang diberikan kepada Tabut Perjanjian, yang di dalamnya diletakkan dua loh
batu, yang tertulis hukum-hukum Allah yang harus dilakukan oleh umat-Nya. Disebut demikian sebab
“menjadi saksi” apakah penyembah mematuhi hukum-hukum-Nya!
Dalam praktek hidup, dua loh batu itu melambangkan Yesus, Firman Hidup, yang akan menjadi
saksi terhadap kehidupan orang percaya, apakah mereka benar-benar memiliki hati taat sebagai
penyembah! Sebab itu, setelah diterangkan bahwa daging-Nya menjadi pembuka jalan (Ibr.10:19-21),
maka pesan firman berikutnya yaitu : “sebab itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang
tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh sebab hati kita telah dibersihkan dari hati nurani
yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr.10:22).
Penyembah yang benar yaitu mereka yang tulus hatinya dan beriman teguh
sehingga mau mentaati hukum-hukum-Nya, dan sebab itu mereka dapat berada
dekat Allah, dan Allah mau bertemu dan bersabda kepadanya. Haleluyah!
XIII. EMPAT TIANG TIRAI
Dalam Bab-IX telah diterangkan tentang lima tiang Pintu Kemah, yang disalut emas dengan
alasnya dari tembaga, yang memisahkan Ruangan Suci dari _________ (Kel.26:36-37). Sebagaimana kita
_________ 43
ketahui, bahwa perabot di _________ Kemah Suci yaitu Mezbah Korban Bakaran dari kayu sittim yang
disalut tembaga dan Kolam Pembasuhan, yang terbuat dari tembaga seluruhnya.
Logam tembaga yaitu lambang dari Pehukuman Ilahi atas dosa. Korban-korban yang dibakar di
atas Mezbah Korban Bakaran yaitu lambang dari korban Tuhan Yesus. Dan pada keempat sudut atas
Mezbah ini ada empat tanduk, yang melambangkan Kuasa pengorbanan-Nya untuk mengampuni
semua orang berdosa di keempat penjuru bumi. Semuanya ini terjadi sebab kesediaan Yesus
menanggung pehukuman ilahi bagi mereka yang mau percaya dan bertobat.
Bagi orang percaya, yang yakin Yesus bukan hanya menjadi penanggung dosa kesalahannya,
namun juga percaya bahwa Dia bangkit dari kematian, maka mereka dibenarkan (Ro.4:25). lalu , bila
menjadikan Dia Tuhan dengan menuruti firman-Nya oleh pimpinan Roh Kudus untuk hidup kudus,
maka mereka dilambangkan oleh kelima tiang Pintu Kemah yang tersalut emas dan beralaskan tembaga.
Itulah hidup yang melarikan diri dari “daerah pehukuman Ilahi” ke suatu “daerah anugerah
Ilahi,” seperti yang dikatakan dalam Roma 8:1-2 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi
mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang tidak hidup menurut daging namun menurut Roh. sebab
hukum Roh dari kehidupan dalam Kristus Yesus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan hukum
maut.” (Terjemahan dari King James Version).
Namun Allah merindukan adanya orang-orang, yang bukan hanya meyakini Yesus sebagai
penanggung pehukuman ilahi, namun juga tertarik kepada kerelaan-Nya dalam melakukan penebusan
dirinya, sehingga merekapun bersedia menanggung kesalahan orang lain. Itulah orang-orang yang
merindukan hidupnya menjadi mediator seperti Kristus, sehingga orang lain dapat mengenal Kasih
Allah melalui dirinya!
Gal.6:1-2 “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani,
harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri,
supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah
kamu memenuhi hukum Kristus.”
Yang rela menanggung beban/kesalahan layak disebut “Pemimpin atau bapa,” sebab bersedia
memimpin yang salah ke jalan yang benar. Untuk tugas ini memang dibutuhkan roh kelemah-lembutan!
Dan inilah yang dilambangkan oleh keempat tiang Tirai!
2Tim.2:24-26 “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, namun harus ramah terhadap semua orang. Ia harus
cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab
mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga
mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, sebab terlepas dari
jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.”
DISALUT EMAS, BERALASKAN PERAK
Berbeda dari lima tiang dari Pintu Kemah, yang menjadi jalan masuk dari _________ ke Ruangan
Suci, maka keempat Tiang Tirai yaitu jalan masuk dari Ruangan Suci ke Ruangan Maha Suci, dimana
terletak Tabut Perjanjian.
Kel.26:31-35 “Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang
dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun. Haruslah engkau
menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada
kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak. Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan
penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu
menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus. Tutup pendamaian itu haruslah
kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus. Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu,
dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah
kautempatkan pada sisi utara.”
Seperti telah diterangkan dalam pembahasan Tiang-tiang Pintu Kemah, bahwa Tiang dari kayu
sittim/penaga yaitu lambang dari Para Pelayan Tuhan, yang menjadi penopang dalam Jemaat.
Mereka disebut dalam Alkitab “Tiang-tiang Jemaat” atau dalam Alkitab terjemahan bahasa negara kita
“Sokoguru Jemaat.”
_________ 44
Gal.2:9 “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes,
yang dipandang sebagai sokoguru jemaat (KJV: who seemed to be pillars), berjabat tangan dengan aku dan
dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat
dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.”
Sebagai tiang-tiang dalam jemaat, tentu dibutuhkan hati bapa untuk melakukan tugas pembapaan
terhadap “anak-anak rohani/didik,” agar mereka dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah, seperti yang
dilakukan Paulus dalam pernyataannya ini: “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-
anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan
sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan
dan kemuliaan-Nya” (1Tes.2:11-12).
Untuk menasihati dan menguatkan hati orang yang belum mengalami pertobatan sepenuh tentu
membutuhkan hati bapa, seperti dinyatakan dalam 2Tim.2:24-26 di atas: “Ia harus cakap mengajar,
sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan.” Hanya bila seorang
pelayan Tuhan memiliki sifat lemah-lembut barulah dapat bertahan menghadapi orang yang suka
melawan. Mengapa?
Sebab “Kelemah-lembutan” dapat juga dikatakan “Kekuatan yang sempurna, namun dalam
penguasaan diri” atau “Perfect strength under control.” Hal inil telah dilakukan oleh Tuhan kita, Yesus
Kristus! Walaupun diri-Nya yaitu Allah sepenuh, berarti memiliki sifat “Mahakuasa” namun, tatkala Ia
menjelma menjadi umat , Yesus bersedia menaklukkan Diri-Nya untuk tetap berada dalam kontrol
Bapa, yang telah merencanakan penebusan umat umat .
Dalam praktek, jika seseorang semakin berkuasa, berkedudukan, serta kekayaannya
melimpah, pada umumnya semakin sulit bila harus menuruti kehendak Allah yang bertentangan dengan
jiwanya. Namun Yesus berhasil menaklukkan diri-Nya kepada kehendak Bapa! Dan hal ini bukannya
dilakukan seperti banyak diistilahkan orang Kristen modern “hidup mengalir saja,” namun dengan
perjuangan yang tidak ringan seperti dinyatakan dalam surat Ibrani 5:7-9 “Dalam hidup-Nya sebagai
umat , Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia,
yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan sebab kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan
sekalipun Ia yaitu Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah
Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat
kepada-Nya,
Keempat Tiang Tirai melambangkan pribadi-pribadi, yang bersedia memikul tugas
Allah dalam ketaatan sepenuh, walaupun hal itu “merobek dagingnya” atau
“menyayat hati,” sebab bertentangan dengan kehendak pribadinya. Namun, sebab
memiliki dasar “Rencana Penebusan Umat umat ,” maka mereka merelakan dirinya
menderita derita salib!
Bagi Yesus, Dia rela “Menderita di bawah Otoritas,” baik otoritas Bapa di sorga, maupun
otoritas “ibu bapanya” secara daging. Sebab, Dia memiliki roh kelemah-lembutan, yang merupakan
salah satu sifat Ilahi terpenting, yang dilambangkan oleh emas murni yang lembut! Begitu lembutnya
emas murni, sehingga ukuran tebal satu millimeter dapat ditempa menjadi 10.000 lembar “ketas emas”
tanpa robek! Begitu pula dengan hati yang memiliki roh kelemah-lembutan, sanggup bertahan dalam
“penderitaan salib” tanpa luka hati, sebab memiliki sifat ketundukan kepada otoritas, seperti dinyatakan
dalam ayat ini.
1Pet.2:18-19 “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada
yang baik dan peramah, namun juga kepada yang bengis. Sebab ini suatu anugerah, bila sebab hati nurani
terhadap Allah, seseorang menanggung kesedihan sebab penderitaan perbuatan salah (orang lain)” (Ayat 19
terjemahan MKJV).
Biarlah hati nurani kita berbicara demikian: “sebab Tuhan telah menebus saya
dengan darah Yesus yang amat mahal, maka saya mau menderita demi Rencana
Penebusan Tuhan dapat berlaku kepada mereka yang berbuat salah kepadaku.”
Itulah roh lemah-lembut dari seorang Tiang Jemaat Tuhan!
MERINDUKAN DEKAT TAKHTA ALLAH
Sebagaimana dengan keempat tiang Tirai, yang terbuat dari kayu sittim tersalut emas murni
yaitu kayu yang berada sangat dekat dengan Tabut Perjanjian, tempat Allah bertemu dan berbicara
(Kel.25:22) atau takhta Allah, begitulah dengan "Keempat Tiang Tirai," yang melambangkan orang-orang
yang menjadi penopang jemaat. Itulah bayangan dari orang-orang kudus yang kelak diijinkan berada
dekat dengan Allah dalam kemuliaan Kerajaan-Nya.
Kerinduan seperti ini pernah diutarakan oleh ibu dari dua rasul Tuhan, Yohanes dan Yakobus,
seperti tertulis dalam Injil Matius 20:20-21 “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-
anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus:
"Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di
dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."
Inilah teladan seorang ibu/wanita yang sangat berohani, yang percaya Yesus pasti menjadi Raja,
seperti telah diucapkan-Nya saat Petrus bertanya: “"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan
mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Maka jawaban_Nya demikian: “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak umat bersemayam di takhta
kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk
menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat.19:27-28).
Hal ini berkata kata , bahwa ibu kedua rasul tsb sangat mempercayai Yesus sebagai Messias, sebab
menempatkan Yesus dengan iman, bahwa Dialah Raja yang akan datang, yang berkuasa dan sanggup
memberikan perintah! Berapa banyakkah ayah ibu yang memiliki kerinduan iman, agar anak-anak
mereka kelak memerintah bersama dengan Kristus?
Hai ibu-ibu dan bapak-bapak, milikilah kerinduan bernilai kekekalan, khususnya agar
anak-anakmu mencapai hidup kekal yang disertai kemuliaan kekal! Ingat, seperti
halnya dengan ibu seorang Raja pasti mulia, begitulah mereka yang sekarang berdoa
untuk anak-anak mereka menjadi pengikut Yesus yang setia!
Namun, bila kita membandingkan dengan Injil Markus, ternyata ada perbedaan dalam jalannya
cerita ini. Coba kita membaca perikop ini dalam Markus 10:35-37 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak
Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya
mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku
perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang
seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."
Kesimpulannya, mereka bertiga datang kepada Yesus. lalu ibu mereka lebih dahulu
mengutarakan keinginannya (sebab ibu sebenarnya yaitu Salome, saudara dari Yusuf, “bapa pengasuh”
Yesus). Setelah itu, kedua rasul itu memberanikan diri untuk mengutarakan permohonan mereka. Dan
yang sangat jelas, merekapun percaya Yesus yaitu Messias!
Kerinduan yang benar dan terbesar yaitu masuk ke dalam Kerajaan Tuhan dan
duduk dekat dalam kemuliaan-Nya! Yang sangat indah, kerinduan ini ada dalam
setiap anggota keluarga! Suatu permohonan yang bernilai sangat tinggi dan mulia!
A. MILIKI MATA IMAN YANG TAJAM
Dalam pengalaman rasul Yohanes tatkala diijinkan Tuhan naik ke alam sorga, maka dilihatnya
pemandangan ini: Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta
itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah
belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti
anak lembu, dan makhluk yang ketiga memiliki muka seperti muka umat , dan makhluk yang
keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Dan keempat makhluk itu masing-masing
bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-
hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa,
yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang" (Wah.4:6-8).
Keempat makhluk hidup dekat Allah ditulis demikian: di tengah-tengah takhta itu dan di
sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata." Mereka yang berada sangat dekat dengan takhta
Allah yaitu yang memiliki “banyak mata” dalam dirinya. Dan itulah bayangan dari mereka yang penuh
iman, seperti yang dikatakan Alkitab bagi Stefanus: “Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh
Kudus” (Kis.6:5).
Sebab itu, Paulus berdoa bagi jemaat Efesus yang sudah memiliki iman dan kasih (Efs.1:15),
namun dalam ukuran yang belum penuh! Dan inilah doanya: "Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu
terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa
kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus" (Efs.1:18). Bahkan lebih jelas
lagi tulisannya dalam Efs.3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus
dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat
mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di
dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Hanya orang-orang percaya, yang penuh iman dan hatinya tertuju kepada kemuliaan-
Nya yang kekal, akan memiliki dorongan kuat untuk melakukan perintah-perintah-
Nya atau perbuatan iman dengan penuh ketundukan kepada Tuhan sebagai Raja
Kemuliaan, walaupun harus menderita dalam banyak hal.
Saat ibu Zebedeus meminta agar kedua anaknya boleh duduk di sebelah kanan dari kiri-Nya
dalam kemuliaan-Nya, maka inilah jawaban-Nya kepada mereka bertiga: "Kamu tidak tahu, apa yang
kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami
dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, namun hal duduk di
sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada
orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya" (Mat.20:22-23).
Ingat bukan hanya Yakobus dan Yohanes yang akan mengalami penderita jiwa, namun ibunya
juga! Hal inipun telah berlaku bagi Maria, “ibu” Yesus, tatkala melihat Dia menderita siksaan dan salib,
seperti yang telah dinubuatkan Simeon kepada Maria: “dan suatu pedang akan menembus jiwamu
sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk.2:35). Tentunya jiwa Maria seperti
tertikam saat menyaksikan Yesus menderita!
Begitu juga dengan Yesus, dalam keadaan-Nya sebagai umat , jiwa-Nya menderita bukan main,
sehingga terucap kata-kata ini: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat.26:38). Namun,
Dia sungguh-sungguh berdoa agar dapat menaklukkan jiwa-Nya kepada kehendak Bapa. Dengarkanlah
doa-Nya ini: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh
memang penurut, namun daging lemah." Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-
Mu!" (Mat.26:41-42).
Dan apa faktanya? Yesus mau memikul derita salib sebab ketaatan-Nya sebagai Hamba!
Mengapa? Sebab tahu firman nubuat, saat Dia memberi nasihat tentang kedatangan-Nya kelak dengan
berbagai perumpamaan, bahwa ada kemuliaan dibelakang salib, dengan mengucapkan nubuat dalam
Mat.25:31-46 “Apabila Anak umat datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama
dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya………” Petruspun dalam khotbah
perdananya di hadapan ribuan orang mengatakan bahwa “Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah”
(Kis.2:32-33)!
Sebagai Kepala, Ia sudah berada di sorga. Namun, Tubuh-Nya, yakni Gereja-Nya atau Jemaat-
Nya masih berada di bumi. Menyadari hal ini, Paulus dengan ilham Roh menuliskan Firman ini:
"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita sebab kamu, dan menggenapkan dalam
dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat" (Kol.1:24).
Perhatikan kalimat "menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus
untuk Tubuh-Nya!" Mengapa disebut "kurang"? Tentunya ini berbeda dengan sekelompok para ahli
theolog yang mengatakan "semuanya telah diselesaikan Yesus di atas kayu salib"! Memang, untuk
penebusan dosa, semuanya telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus sendiri! Namun, untuk proses penyatuan
Tubuh-Nya masih belum, sebab Kepala tanpa Tubuh jelas kurang! sebab itu, siapa yang ingin masuk
kedalam Tubuh-Nya, harus rela menderita!
Kerinduan berkedudukan dekat Tuhan dalam Kerajaan-Nya dialami mereka yang
bersedia mematikan dagingnya. Khususnya dalam tugas penyatuan Gereja-Nya!
Mereka yang sanggup melakukan tugas ini berpedoman: "Hidup yaitu Kristus dan
mati yaitu keuntungan". Pahalanya, mereka diijinkan berada di sekeliling takhta
Allah seperti halnya keempat makhluk hidup dalam Wah.4:6-8.
Dan orang-orang semacam demikian dilambangkan oleh keempat makhluk, yang rela menderita
sebab : (1).Kebenaran – seperti singa (Ams.28:1b) (2).Melayani Tuhan dengan setia sampai mati –
seperti Lembu (3).Sadar sebagai umat bertubuh dosa – seperti muka umat (Ro.7:24) (4).Hidup
suci – seperti burung nazar yang sedang terbang. Haleluyah!
Hidup yaitu perjalanan – Life is a journey! Ya, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan
perjalanan iman orang percaya. Bagi bapa Abraham, bapa orang percaya, perjalanan imannya dilakukan
dari Ur-Kasdim, atau kota Ur di tanah Kasdim yakni Babel, menuju ke Tanah Perjanjian dan berakhir
dengan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Hebron (Kej.13:18), serta mengakhiri hidupnya juga
di sana (Kej.25:9).
Secara rohani, perjalanan iman ini tentunya mengandung arti rohani yang berkata kata , bahwa
setiap orang percaya yang mengikuti tapak iman “bapa orang percaya,” Abraham, haruslah keluar dari
kekacauan hidup (Babel berarti kekacauan) dan menuju kepada suatu hidup persekutuan dengan Tuhan
(Hebron berarti perhimpunan, persatuan, perkumpulan).
Begitu juga telah terjadi dengan Israel, umat tebusan-Nya. Bersama Musa pemimpinnya, mereka
dikeluarkan Tuhan dari “rumah perbudakan” (Kel.13:3, 14) ke Kanaan, “Tanah Perjanjian” (Ul.7:13;
11:9, 21; 28:11), yang sebenarnya sama dengan tempat di mana Abraham tinggal: “sebab iman ia
(Abraham) diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di
kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-
nantikan kota yang memiliki dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr.11:9-10).
Semua orang percaya yang dipanggil hendak dilepaskan Tuhan dari perbudakan
dosa, yang menyebabkan kekacauan hidup, dan lalu melalui perjalanan iman
dibawa kepada persekutuan dengan Yesus, Sang Penebus; supaya akhirnya mereka
masuk ke Kota Allah, yang telah direncanakan dan dibangun oleh Allah!
BAYANGAN ORANG-ORANG KUDUS
Orang-orang Lewi yang bertugas mengangkut perabot-perabot Kemah Suci yaitu bani Gerson,
bani Merari dan bani Kehat. Kepada bani Gerson diberikan dua kereta dan bani Merari empat kereta
untuk keperluan pekerjaan mereka; namun khusus untuk bani Kehat kita membaca aturan ini: “namun
kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, sebab pekerjaan mereka ialah mengurus barang-
barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya” (Bil.7:9). Seperti diterangkan juga dalam Bil.4:15
“Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat
kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk
mengangkat barang-barang itu; namun janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti
mereka mati. Jadi itulah barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani Kehat.”
Untuk maksud mengangkat Mezbah Korban Bakaran dibuatlah kayu-kayu pengusung dari kayu
sittim atau penaga, yang disalut tembaga; dan disalut dengan emas untuk mengangkut perabot-perabot
dalam Ruangan Suci dan Ruang Mahasuci. Tentunya kayu pengusung dipergunakan dengan maksud
mempermudah bani Kehat mengusung, agar dalam kebersamaan memikul perabot-perabot Kemah Suci,
mereka semuanya dapat memandang ke depan dengan derap kedepan pula! Dan seperti halnya dengan
perjalanan Kemah Suci, yang bergerak dari padang gurun dan akhirnya menetap di Yerusalem, demikian
juga Gereja Tuhan harus memandang ke depan dan bertujuan untuk bersekutu dengan Tuhan Yesus
sebagai Raja Damai, Raja Salem.
1Kor.1:9 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, yaitu
setia.” Inilah tujuan Allah memanggil anda dan saya menjadi orang percaya!
Dengan hikmat-Nya, Tuhan memilih kata yang tepat untuk “Kayu Pengusung” yang ditulis
dengan kata “bad” (bahasa Ibrani), yang berarti: “pemisahan.” Kata ini mengandung makna tindakan
untuk pengudusan, seperti diperintah Tuhan terhadap Israel: “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini,
TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-
Ku” (Im.20:26).
Perjalanan iman yang kudus dari Gereja Tuhan hanya mungkin dilaksanakan sebab
adanya orang-orang pilihan-Nya yang kudus, yang senantiasa membawa atmosfir
kekudusan dalam jemaat sebab penuh Roh Kudus, Roh Penghibur, sehingga para
pelayan Tuhan dapat tahan memikul beban mengikuti jalan-Nya!
Atmosfir kekudusan itu dapat terwujud oleh pujian, penyembahan yang dilakukan oleh para
pemuji, pemusik, pendoa, bahkan jemaat-Nya saat mempermuliakan Tuhan! Mereka ini bagaikan kayu-
kayu pengusung, yang menyebabkan para pejabat Gereja dapat melakukan tanggung jawabnya dengan
baik, seperti kayu pengusung yang diletakkan di atas bahu bani Kehat. Sejujurnya, inilah kekuatan saya
dan para pelayan Tuhan di gereja ini, sehingga sampai sekarang dapat tetap melayani dengan kekuatan
Roh Kudus untuk membawa umat-Nya dalam perjalanan iman mencapai hari pernikahan Anak Domba.
Haleluyah!
KAYU PENGUSUNG BAGI BANI KEHAT
Menarik bila Allah memilih bani Kehat dari suku Lewi untuk maksud mengangkat atau memikul
barang-barang kudus Kemah Suci. Pilihan-Nya terkait dengan pemberian nama oleh Lewi kepada anak-
anaknya, yang tentunya diilhamkan Roh Kudus kepadanya. Seperti kita ketahui, orang-orang Ibrani yang
dipimpin Roh memberikan nama kepada anak-anak mereka dibawah pimpinan “Roh Nubuat.”
Nama “Lewi” diberikan oleh Lea kepada anaknya ketiga dengan ucapan nubuat ini: Mengandung
pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat
kepadaku, sebab aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak
itu Lewi.
Lewi (lêvıŷ dalam bahasa Ibrani), berarti: dilekatkan, attached. Nama ini timbul dari kerinduan
Lea agar lebih lekat dengan suaminya, Yakub! Hal yang sejajar harus dilakukan oleh orang percaya.
Mereka yang merindukan dirinya lebih lekat atau dekat dengan Tuhan, seharusnya menyediakan
tubuhnya untuk melayani Dia!
Bukankah hal inipun terjadi dalam kehidupan secara jasmaniah? Seorang yang ingin mendekat
kepada orang besar dan terhormat, maka jalan termudah mencapai keinginan tsb yaitu dengan menjadi
pelayannya, entah sebagai pembantu rumah tangganya, tukang potong rambutnya atau tukang pijatnya!
Dan hal ini dilakukan oleh satu suku, saat umat Israel jatuh kedalam dosa penyembahan berhala,
sehingga muncul tantangan Musa ini: “Siapa yang memihak kepada Tuhan datanglah kepadaku!”
Tantangan tsb langsung direspons oleh suku Lewi, yang melaksanakan perintah Musa untuk membunuh
para penyembah berhala, sehingga terpilih menjadi pelayan Kemah Suci (Bacalah ceritanya dalam
Kel.32:25-29). Sejak saat itu, suku Lewi saja yang diperkenankan mendekat kepada Tuhan.
jika orang-orang Israel yang dihitung dan dicatat yaitu semua laki-laki Israel yang berumur
dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang (Bil.1:1-3), maka suku Lewi justru sudah tercatat
tatkala mereka berusia satu bulan ke atas (Bil.3:15)!
Dalam pemandangan Tuhan, orang-orang yang baru lahir baru namun ingin
membalas kasih-Nya dengan memberikan dirinya untuk melayani, sebab
kerinduannya mendekat kepada Tuhan, maka mereka lebih cepat masuk hitungan
Tuhan dari pada orang percaya pada umumnya!
Nama “Kehat” diberikan bapa Lewi kepada anaknya, seperti tertulis dalam Kej.46:11 “Anak-anak
Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari.” Yang menarik, anak kedua dari Lewilah yang justru terpilih menjadi
pengusung perabot-perabot kudus dan mahakudus! Fakta ini menunjukkan, bahwa yaitu hak Tuhan dalam
menentukan jabatan apakah yang akan disandang pelayan-Nya, sebab Ia mengetahui hati umat !
Dan dari pemberian nama, lagi-lagi kita diberi iluminasi tentang adanya “Roh Nubuat” yang bekerja
dalam diri Lewi, saat ia menamakan anaknya “Kehat,” yang memiliki arti disatukan, sekutu,
menggabungkan diri. Ini yaitu bayangan dari orang-orang pilihan-Nya, yang memiliki kerinduan untuk
menggabungkan diri dalam persekutuan raya dengan Tuhan.
Hati orang-orang kudus, yang merindukan suatu persekutuan raya dengan Tuhan
(Kelompok “Kehat rohani”), umumnya lahir dari persekutuan orang-orang yang
hidupnya ingin melekat dengan Tuhan secara pribadi (Kelompok “Lewi rohani”).
XV. KAYU SITTIM UNTUK TABUT PERJANJIAN
Perabot terakhir dan terpenting, yang dibuat dari kayu sittim/penaga dan disalut dengan emas
murni yaitu Tabut Perjanjian, yang diletakkan dalam Ruangan Maha Kudus dari Kemah Suci.
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa oleh kuasa penebusan-Nya umat Israel yang dikeluarkan dari
Mesir diminta untuk membuat tempat kudus bagi Tuhan dengan memberikan persembahan-persembahan
khusus yang diperintahkan Tuhan.
Bahan-bahan persembahan khusus tersebut sudah mereka miliki pada saat mereka keluar dari
Mesir; namun untuk kayu sittim baru diperoleh saat umat-Nya dalam perjalanan menuju tanah yang
dijanjikan Allah kepada bapak Abraham (Kej.12:1; Ibr.11:9; Ul.7:13).
Dalam kiasan rohani, hal ini berkata kata bahwa orang-orang percaya “sebagai kayu
sittim,” yang mau bertindak dalam perbuatan iman meninggalkan umat
duniawinya, barulah dipilih Tuhan – yang mengenal hati umat – untuk menjadi
alat-Nya yang mulia, sebab mereka merindu menjadi umat sorgawi!
Keterangan tentang Tabut Perjanjian dapat dibaca dalam dua ayat di bawah ini.
Kel.25:10-11 “Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah
hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari
dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya.”
Kata “tabut” dalam bahasa Inggris ditulis “ark” – diterjemahkan dari bahasa Ibrani: 'ârôn, yang
berarti kotak, peti – dalam arti “pengumpulan.” Dari kata dasar 'ârâh, yang berarti “memetik” atau
“mengumpulkan.” Dan itulah cara Tuhan memetik orang percaya dari antara bangsa-bangsa di dunia ini
dan dijadikan orang-orang pilihan-Nya, untuk dikumpulkan bersama dengan Tuhan, seperti dinyatakan
dalam 1Tes.4:14 “sebab jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita
percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama
dengan Dia.”
DIPILIH UNTUK BERSEKUTU
Yang dapat menjadi orang-orang pilihan-Nya yaitu mereka yang lebih dahulu menanggapi
panggilan-Nya. Dan maksud panggilan-Nya dinyatakan dalam 1Pet.1:15-16, yang berunyi: “namun
hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah
memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Mengapa umat dipanggil untuk hidup kudus? Jawaban dari ayat diatas yaitu “sebab Aku
kudus!” Dan dibalik dari permintaan Allah ini, ada tujuan dari panggilan-Nya, yang dinyatakan dalam
1Kor.1:9 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan
kita, yaitu setia.”
Jadi, tujuan Allah memanggil umat yang berdosa yaitu supaya mereka dapat
bersekutu dengan Tuhan Yesus! Untuk mencapai tujuan ini, maka umat harus
mengalami proses pengudusan atau pemisahan – yang dilambangkan oleh kayu
sittim, yang ditebang dari pohon sittim dan diproses/dibentuk menurut ukuran yang
ditetapkan, lalu disalut dengan logam yang ditetapkan juga.
Pada saat Tuhan Yesus mulai memanggil murid-murid-Nya, maka prioritas utama yang
dikehendaki-Nya yaitu persekutuan, lalu barulah pelayanan. Sayangnya, banyak pelayan Tuhan
justru mengutamakan pekerjaan pelayanan lebih dari pada persekutuan dengan Yesus. Marilah kita
memperhatikan urutan yang diinginkan Tuhan melalui firman-Nya ini.
Mark.3:13-15 “lalu naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka
pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (berarti sama dengan: memilih) dua belas orang untuk menyertai
Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.”
Dengan memperhatikan urutan tersebut diatas, benarlah bahwa tujuan utama orang pilihan-Nya
haruslah “menyertai Dia.” Dan tentunya ada peringkat kedudukan dalam hal menyertai Dia.
YESUS DIAKUI SEBAGAI TINGKAT HUBUNGAN AYAT PENDUKUNG
Penolong yang baik Pengikut Mat.4:25; 8:1
Tuan Penebus Hamba Flp.1:1
Guru Murid Yoh.13:13; Mat.5:1
Penasihat Ajaib Sahabat Yoh.15:14; Yak.2:23
Bapa Anak 1Yoh.5:1
Mempelai laki-laki Mempelai wanita Mat.25:1-13; Wah.19:7
Peringkat tertinggi dalam hubungan yaitu “Hubungan suami isteri.” Dan itulah yang diinginkan
Bapa dalam rencana penebusan-Nya; supaya kita sebagai anggota Jemaat Tuhan terus meningkatkan
persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, sehingga menjadi mempelai-Nya!
Persekutuan paling puncak yaitu persekutuan sebagai mempelai – Tuhan Yesus
sebagai Mempelai laki-laki dan Jemaat-Nya sebagai Mempelai wanita . Dan hal
inilah yang direncanakan Allah sebelum dunia dijadikan, yang dilambangkan oleh
Tabut Perjanjian dalam Ruangan Maha Kudus. Haleluyah!
DALAM DAN LUAR DISALUT EMAS
“Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus
menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya” (Kel.25:11). Itulah perintah
Tuhan kepada Musa mengenai Tabut Perjanjian. Telah diterangkan, bahwa kata “Tabut” dari bahasa
Ibrani: 'ârôn, yang berarti kotak, peti – dalam arti “pengumpulan.” Itulah kiasan dari Jemaat Tuhan atau
Gereja-Nya, yang dipanggil untuk hidup kudus dan bersekutu dengan Yesus sebagai Mempelai laki-laki.
Telah diterangkan, bahwa emas murni sifatnya begitu lembut, lunak, sehingga emas dengan tebal
1 mm dapat ditempa menjadi 10.000 lembar kertas emas! Logam emas dalam arti rohani yaitu
lambang dari sifat ilahi yang mulia, yaitu kelemah-lembutan ilahi. Dan itulah yang seharusnya
dipunyai oleh setiap anggota Jemaat-Nya, yang ingin masuk dalam persekutuan dengan Kristus sebagai
mempelai-Nya. Mengapa? sebab sifat dominan Tuhan juga lemah-lembut dan rendah hati (Mat.11:29)!
Sifat umat pada umumnya dapat dibagi dalam empat bagian, bila melihat dalam (hati) dan
luarnya (perbuatan). Pertama, hatinya keras dan perbuatannya juga keras. Ini yaitu tipe orang yang
bersifat otoriter, bebal. Dicontohkan oleh kehidupan Nabal (Baca 1Sam.25). Kedua, hatinya keras namun
perbuatannya terlihat lembut. Ini yaitu tipe orang yang berpura-pura. Ketiga, hatinya lembut namun
perbuatannya keras. Ini yaitu tipe pendidik keras, khususnya untuk menghadapi orang-orang keras yang
belum bertobat. Keempat, hatinya lembut dan perbuatannya juga lembut. Ini yaitu tipe teladan hidup,
yang ingin masuk dalam persekutuan yang setara!
jika kita ingin bersekutu dengan Tuhan Yesus sebagai Mempelai Kristus, maka
seharusnya kita seperti Tabut yang terbuat kayu sittim dan disalut dari dalam dan
dari luar – Suatu kehidupan yang memiliki roh lemah-lembut namun juga kelakuan
yang lemah lembut.
TABUT DIISI TIGA KESAKSIAN
Alasan Tabut atau Peti Perjanjian yang dibuat dari kayu sittim perlu disalut emas murni dari
dalam dan luar, sebab Allah mau menempatkan tiga hal kudus yang akan menjadi kesaksian. Itulah
sebabnya Tabut tsb disebut “Tabut dari Kesaksian.” Kehidupan orang-orang pilihan-Nya, yakni Gereja
Tuhan, harus disalut dengan sifat ilahi yang mulia dalam dan luar, sebab mereka sebagai Tubuh-Nya dan
juga sebagai Pengantin wanita Tuhan, akan dijadikan kesaksian bagi dunia!
Dalam terjemahan bahasa Inggris, Tabut Perjanjian atau “The Ark of the Covenant” juga disebut
“The ark of the Testimony,” sedangkan dalam Alkitab terjemahan bahasa negara kita “Tabut Hukum”
(Kata “The ark of the testimony” dapat dibaca dalam ayat-ayat ini Kel.25:22; 26:33, 34; 30:6, 26; 31:7;
39:35; 40:3,5, 21; Bil.4:5; 7:89; Yos.4:16. Atau disebut “The Testimony” dalam Kel.16:34; 27:21; 30:36:
Im.24:3; Bil.17:4, 10).
Ketiga “Alat Kesaksian” yang diletakkan dalam Tabut itu yaitu (1).buli-buli emas berisi manna,
(2).tongkat Harun yang pernah bertunas dan (3).loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, seperti yang
tertulis dalam Ibr.9:3-4 “Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat
yang Maha Kudus. Di situ terdapat pedupaan emas (golden censer; bukan seperti yang diterjemahkan
dalam terjemahan LAI: mezbah pembakaran ukupan dari emas), dan Tabut Perjanjian, yang seluruhnya
disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun
yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.”
1. Buli-buli emas berisi manna.
Inilah alat kesaksian pertama yang harus dimiliki oleh orang-orang pilihan-Nya. Untuk mengerti
tentang hal ini, marilah kita membaca keterangannya yang tertulis dalam Alkitab.
Kel.16:32-35 Musa berkata: "Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun,
supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, saat Aku membawa
kamu keluar dari tanah Mesir." Sebab itu Musa berkata kepada Harun: "Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah
manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun."
Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan
tabut hukum Allah untuk disimpan. Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka
tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.
Perintah yang disampaikan Musa ini tentunya sebelum Kemah Suci dibuat, sebab itu dituliskan
“buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan.” namun setelah dibuat,
maka maksud dari kata “ditempatkan di hadapan tabut hukum Tuhan” itu ternyata disimpan di dalam
Tabut Perjanjian, seperti yang diterangkan dalam Ibr.9:3-4 di atas.
Dan maksud penempatannya yaitu “supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu
makan di padang gurun selama empat puluh tahun sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.” Jelas
sudah, bahwa maksud penempatan buli-buli emas berisi manna untuk tujuan “keturunan orang pilihan”
atau untuk generasi berikutnya, yang ingin mengalami persekutuan yang erat dengan Allah.
Orang-orang pilihan-Nya yang bersifat ilahi yaitu mereka, yang menempatkan
manna rohani, Firman, dalam kehidupan persekutuannya dengan Yesus sebagai
Tuhan dan Kepala Gereja dalam ketaatan sepenuh, sehingga menjadi kesaksian
bahwa Tuhan mampu memelihara hidup rohani selama berada dalam dunia, yang
penuh derita sampai masuk dalam Kerajaan yang dijanjikan-Nya.
2. Tongkat Harun yang pernah bertunas.
Tongkat ini ditaruh dalam Tabut Perjanjian untuk meredakan perselisihan yang timbul sebab
pemberontakan Korah dkk, yang tidak puas dengan kedudukan mereka. Saat bumi terbelah sebab murka
Allah, maka 250 orang kelompoknya mati terkubur hidup-hidup. Namun rasa tidak puas justru meluas
sebab kematian para pemimpin pemberontak itu. Akibat sungut-sunggut mereka, murka Tuhan menyala
lagi sehingga 14.700 orang mati kena tulah. Jadi, masalah iri hati yang merupakan sumber ketidak-
puasan telah merengut 14.950 orang!
Tongkat Harun yang sebenarnya hanya kayu yang mati, namun setelah diletakkan ke dalam Tabut
Perjanjian, ternyata keesokan harinya hidup, seperti dicatat dalam Bil.17:8 “saat Musa keesokan
harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah
bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” Mujizat ini
dilakukan Tuhan dengan alasan ini: “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas;
demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga
tidak usah Kudengar lagi."
Tongkat yaitu lambang otoritas (Kel.4:17, 20; Yes.14:5). Orang-orang terpilih yang
bersifat ilahi, seperti halnya dengan kayu sittim yang dibuat Tabut dan disalut emas,
hidupnya akan dikaruniai otoritas-Nya, yakni kuasa Roh Kudus, sehingga ditangannya
pekerjaan Tuhan berkembang dan berbuah menjadi kesaksian bagi banyak orang,
bahwa dirinya dipilih Tuhan!
Hal ini merupakan suatu peringatan keras dari Tuhan sebagai Kepala Gereja, terhadap setiap
orang yang merindu menjadi Mempelai-Nya, agar menghormati Dia yang tidak berkenan terjadi
perselisihan dan sungut-sungut dalam jemaat seperti yang diucapkan dalam pesan-Nya: “tidak usah
Kudengar lagi!" Bukankah merupakan fakta yang menyedihkan, bahwa mereka yang menanggap dirinya
berohani seringkali terlibat dalam perselisihan yang tajam, sehingga pudarlah kesaksian Gereja terhadap
dunia!
3. Loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.
Sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya, maka Tuhan
memerintahkan Musa untuk naik ke atas gunung untuk menerima perjanjian itu. Kel.24:12 menuliskan
kalimat ini: TUHAN berfirman kepada Musa: "Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah
di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah
Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka."
Di atas gunung Musa berada selama 40 hari 40 malam, khususnya untuk menerima petunjuk yang
sangat penting tentang pembangunan Kemah Suci. Hal ini dituliskan oleh Musa dalam kitab Keluaran
dari pasal 25 sampai pasal 31. lalu diulangi lagi dalam Keluaran pasal 36 sampai 40! Setelah
selesai menerima segala petunjuk Tuhan, maka Alkitab menuliskan demikian.
Kel.31:18 “Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua
loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.”
Namun sayang, bangsa Israel yang seharusnya menantikan Musa turun dari gunung ternyata tidak
sabar menunggu, mereka meminta Harun untuk membuat patung emas yang mereka sembah. Itulah
sebabnya, tatkala Musa turun dari gunung dengan kedua loh batu ditangannya, amarahnya timbul
sehingga dilemparkannyalah kedua loh batu dan dipecahkannya pada kaki gunung (Kel.32:19).
Sebab itu, Tuhan memerintahkan Musa untuk naik kembali ke atas gunung, namun kali ini dicatat
demikian: Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula,
maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah
kaupecahkan.” Jadi dua loh batu yang lalu ditaruh di dalam Tabut Perjanjian itu yaitu loh batu
yang dipahat dibawah, namun ditulis oleh jari Allah di atas gunung.
Bila loh batu pertama yang diberikan kepada Musa itu langsung dari Allah, maka loh batu kedua
dipahat Musa dan dibawa naik ke gunung untuk ditulis oleh jari Allah. Dua loh batu pertama yaitu
bayangan dari Yesus, Sang Firman, yang dihancurkan oleh sebab dosa umat umat . Sedangkan loh
batu kedua yaitu bayangan dari orang-orang pilihan-Nya, yang rela dibentuk (dipahat!) dan berdoa
(naik ke gunung) untuk ditulis Roh hukum-hukum Tuhan, seperti dinyatakan dalam surat Ibrani ini.
Ibr.8:10 “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan.
"Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka
Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”
Orang-orang pilihan-Nya akan menjadi kesaksian bagi dunia, bila mereka menyadari,
bahwa dirinya perlu dibentuk, dipisahkan dari “benjolan-benjolan hidup yang kasar,”
dan bersedia untuk berdiam diri mempersembahkan tubuhnya yang hidup, kudus dan
berkenan sampai Firman-Nya menjelma menjadi daging oleh pekerjaan Roh Kudus,
sehingga dunia melihat Allah hidup dalam dirinya!
XVI. TABUT PENERIMA TUTUP GRAFIRAT
Telah diterangkan di depan bahwa Tabut Perjanjian, yang terbuat dari kayu sittim namun disalut
emas murni, yaitu lambang dari Gereja-Nya, yang terdiri dari orang-orang percaya yang terpilih –
seperti halnya dengan kayu sittim yang terpilih untuk dijadikan perabot Kemah Suci – sebab rela
dipimpin oleh Roh dalam mengikuti jalan kebenaran-Nya, dengan tujuan panggilan sorgawi, yaitu
dipermuliakan bersama Allah, sebagai Mempelai-Nya!
Sebagai orang percaya yang bertujuan menjadi “umat Sorgawi,” Gereja-Nya harus bersedia
melepaskan “umat Duniawi,” agar mengalami proses transformasi atau metamorphosa, seperti dialami
oleh ulat yang harus “melepaskan ke-ulat-annya” dan masuk ke dalam kepompong untuk menjadi seekor
kupu-kupu, yang sifatnya berbeda secara total. Demikian juga dengan kayu sittim yang dipotong dari akar
pohon di padang gurun, dikerjakan oleh ahli-ahli yang diurapi Roh dengan ukuran yang ditetapkan Tuhan
(Kel.31:1-11), lalu disalut emas dijadikan kotak atau Tabut. Itulah sebabnya, Rasul Paulus dengan
ilham Roh menuliskan kebenaran ini kepada jemaat di Roma.
Rom 8:12-17 Jadi, saudara-saudara, kita yaitu orang berhutang, namun bukan kepada daging, supaya hidup
menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; namun jika oleh Roh kamu
mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. sebab seberapa banyak orang, yang dipimpin
Roh Allah, yaitu anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi
takut lagi, namun kamu telah menerima Roh adopsi (the Spirit of adoption. TB: Roh yang menjadikan kamu
anak Allah). Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita,
bahwa kita yaitu anak-anak Allah. Dan jika kita yaitu anak, maka kita juga yaitu ahli waris, maksudnya
orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama
dengan Dia.
Pimpinan Roh sangat penting dalam proses mengubah umat duniawi menjadi sorgawi, seperti
dituliskan Paulus kepada jemaat di Korintus: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan
muka yang tidak berselubung. Dan sebab kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang yaitu Roh, maka
kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (from glory to
glory = dari kemulia

