di dalam alkitab 7

 


3 – setelah wahyu dari Allah Tritunggal, maka langkah berikutnya yaitu  

penciptaan-Nya. Penciptaan yang berhubungan dengan rencana penebusan-Nya yaitu  bumi, yang 

mengandung 4 elemen dasar: tanah, udara, api dan air; dengan keempat penjurunya: utara, selatan, 

barat dan timur, serta empat musimnya: semi, panas, gugur dan dingin. Bahkan, di takhta Allah juga 

dikeliling oleh empat makhluk hidup ciptaan-Nya, yang penuh dengan mata di sebelah muka dan 

belakangnya. Keempat makhluk itu serupa dengan singa, anak lembu, memiliki  muka seperti muka 

umat  dan seperti burung nasar yang sedang terbang (Wah.4:6-7). 

 Di atas Mezbah Dupa inilah dibakar ukupan, seperti perintah-Nya dalam Kel.30:7-8 “Di atasnya 

haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-

lampu, haruslah ia membakarnya. Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, 

haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-

temurun.” 

Seperti Mezbah Dupa yang terbuat dari kayu sittim disalut emas murni, berbentuk 

empat persegi dan diatasnya dibakar dupa yang harum, begitulah orang-orang 

pilihan-Nya harus bersedia dibentuk/diproses Firman dan Roh Kudus, sehingga 

diliputi sifat ilahi serta menjadi ciptaan yang mencapai tujuan Sang Pencipta, yaitu 

memuliakan/mengharumkan nama Tuhan! 

 Alkitab berkata kata , bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala 

memberitakan pekerjaan tangan-Nya” – Bila buatan tangan-Nya menceritakan kemuliaan Sang Pencipta, 

tidakkah sepatutnya umat  ciptaan-Nya, yang tertinggi, melakukan lebih? Sebab itu, sebagai umat 

pilihan-Nya harumkanlah nama Tuhan dengan hidup menurut aturan-Nya. Amin! 

UKURAN KEDEWASAAN ROHANI 

 Dalam Ruangan Suci ada dua perabot yang terbuat dari kayu sittim tersalut emas. Yang pertama 

yaitu  Meja Roti Pertunjukan, yang tingginya satu setengah hasta (Kel.25:23). Yang kedua yaitu  

Mezbah Dupa, yang tingginya dua hasta atau 104,8 cm. 

 

_________ 41 

Kel.30:1-2a “Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu penaga; 

sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, namun  haruslah dua hasta 

tingginya.” 

 Seperti telah dterangkan, bahwa angka-angka dalam Alkitab memiliki  maksud rohani, sebab 

Allah yaitu  Perencana yang rohani. Angka 2 menunjuk kepada pribadi kedua dari Allah Tritunggal, 

Sang Anak Allah. Hal ini berkata kata , bahwa Allah ingin agar jemaat Tuhan yang ingin masuk dalam 

persekutuan dengan Tuhan Yesus sebagai Mempelai-Nya harus memiliki ukuran yang serupa dengan 

Dia, yakni suka menyembah! 

 Hal itu jelas, pada saat Diri-Nya digoda Iblis untuk menyembahnya, agar seluruh kerajaan dunia 

dan kemegahannya diterima-Nya; maka inilah ucapan yang dikatakan Tuhan Yesus: "Enyahlah, Iblis! 

Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau 

berbakti!" (Mat.4:10) 

 Tuhan Yesus diberikan kepada umat  bukan hanya untuk membebaskan dari dosa, namun  juga 

untuk mendidik agar mereka yang percaya dan mengikuti jejak-Nya menjadi serupa dengan Dia. Dan 

salah satu kerinduan-Nya yaitu  supaya menjadi serupa Dia dalam penyembahan, seperti diajarkan dalam 

pengajaran doa Mat.6:9 “sebab  itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah 

nama-Mu.” 

 Mengapa penyembahan merupakan ukuran yang penting dalam kehidupan rohani? Sebab hal itu 

menunjukkan kelayakan untuk dapat disandingkan dengan Tuhan Yesus, Pengantin laki-laki! Proses 

kelayakan ini menjadi jelas, saat Firman Nubuat-Nya berkata kata  siapa saja yang akan dibebaskan dari 

aniaya besar oleh Antikristus, dan siapa yang harus mengalami. Marilah kita membaca ayat-ayat firman-

Nya ini. 

Wah.11:1-2 lalu  diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata 

yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah (proskuneo = 

sembahyang) di dalamnya. namun  kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau 

mengukurnya, sebab  ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota 

Suci empat puluh dua bulan lamanya." 

 “Tongkat pengukur” yang dipakai untuk mengukur disebutkan lebih rinci dalam Wah.21:15 “Dan 

ia, yang berkata-kata dengan aku, memiliki  suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota 

itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.” 

 Seperti telah diterangkan di depan, bahwa logam emas yaitu  lambang dari sifat ilahi atau 

kemuliaan ilahi. Jadi, ukuran yang dipakai dalam menilai “sembahyang” seseorang, apakah 

sembahyangnya dilakukan dalam kekudusan ilahi, bagi kemuliaan Allah? Hanya Allah yang dapat 

menghakimi kualitas sembahyang seseorang! 

 Yang jelas, mereka yang tidak masuk dalam ukuran ilahi akan “dibiarkan” dan mengalami masa 

aniaya, yang diistilahkan dengan kalimat “sebab  ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan 

mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya." Itulah mereka yang tidak 

berada dalam Ruangan Suci dari Bait Suci, namun  berada dalam “pelataran Bait Suci yang di sebelah 

luar” yakni di _________. Jelas, mereka yaitu  orang-orang percaya yang tidak mengikuti pimpinan Roh 

untuk lebih menguduskan dirinya atau menyempurnakan kekudusan, seperti dianjurkan dalam 2Kor.7:1. 

2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab  kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri 

kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita 

dalam takut akan Allah.” 

Biarlah setiap orang yang ingin luput dari aniaya besar yang akan datang 

mengusahakan dirinya untuk menjadi orang pilihan, yang disalut kemuliaan ilahi,  

dengan melatih beribadah dalam Roh kekudusan dan suka menyembah Allah, 

sehingga menyempurnakan kekudusan hidupnya.  

MEMBANGKITKAN KUASA ILAHI 

 Mezbah Dupa yang terbuat dari kayu sittim dan tersalut emas ini pada keempat ujungnya diberi 

tanduk, seperti yang kita baca ini: “Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah 

kaubuat itu dari kayu penaga; sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat 

persegi, namun  haruslah dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu.” 

 Tanduk melambangkan kekuatan. Dan tanduk pada Mezbah Dupa melambangkan Kuasa Ilahi 

oleh Penyembahan! Terjemahan King James kitab Habakuk 3:4 berbunyi: “And his brightness was as the 

 

_________ 42 

light; he had horns coming out of his hand: and there was the hiding of his power” – “Dan kilauan 

seperti cahaya; Ia memiliki  tanduk keluar dari tangan-Nya; dan di sanalah tersembunyi kekuatan-

Nya.” Dan bila anda perhatikan baik-baik, kata-kata ini justru diucapkan dalam perikop doanya nabi 

Habakuk. 

 Hal ini berarti, saat umat-Nya bersembahyang, maka kuasa ilahi-Nya akan dinyatakan dalam 

perbuatan tangan-Nya, seperti diungkapkan dalam firman nubuat di bawah ini. 

Wah.8:1-5 “Dan saat  Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira 

setengah jam lamanya. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka 

diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan 

sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-

sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap 

kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. 

Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke 

bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.” 

 Pernyataan firman-Nya ini mengajarkan kepada kita, bagaimana kita harus bereaksi terhadap 

kejahatan umat  dalam dunia ini. Bukan dengan cara membalas yang jahat dengan kejahatan, namun 

dengan lari di bawah kaki Tuhan dan melakukan penyembahan!  

Doa penyembahan orang-orang kudus, yang dilambangkan oleh “asap kemenyan 

bersama-sama dengan doa orang-orang kudus,” membuat tangan Tuhan terkedang 

dan mengutus malaikat-malaikat-Nya melaksanakan penghakiman atas dunia yang 

berdosa! 

 

MEMBAWA KEDEKATAN 

 Dalam Ruangan Suci, Mezbah Dupa diletakkan di depan tirai Ruang Maha Kudus, dimana Tabut 

Perjanjian berada. Inilah perintah Tuhan kepada Musa dalam Kel.30:6 “Haruslah kautaruh tempat 

pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, 

di mana Aku akan bertemu dengan engkau.” 

 Arti dari tabir diterangkan dalam surat Ibrani 10:20 yang berbunyi: “Jadi, saudara-saudara, oleh 

darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, sebab  Ia telah 

membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu daging-Nya sendiri, dan kita 

memiliki  seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah” (Ibr.10:19-21). 

 Tubuh Yesus yang diserahkan sebagai korban bagi perdamaian umat  dengan Allah, telah 

membuka jalan bagi umat  berdosa namun yang percaya kepada Yesus sebagai Penebus dosanya, 

sehingga mereka diperbolehkan bersekutu dengan Allah Yang Mahakudus, dalam penyembahan! 

 Seseorang yang menyembah Allah tentunya perlu berada dekat dengan pribadi yang disembah. 

Sebab itu, Mezbah Dupa itu ditempatkan “di depan tabir penutup tabut hukum (the ark of the testimony = 

Tabut Kesaksian), di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di mana Aku akan bertemu 

dengan engkau.” 

 Secara spesifik dituliskan, bahwa Mezbah Dupa itu ditempatkan di depan tabir penutup “Tabut 

Kesaksian” – itulah nama yang diberikan kepada Tabut Perjanjian, yang di dalamnya diletakkan dua loh 

batu, yang tertulis hukum-hukum Allah yang harus dilakukan oleh umat-Nya. Disebut demikian sebab 

“menjadi saksi” apakah penyembah mematuhi hukum-hukum-Nya! 

 Dalam praktek hidup, dua loh batu itu melambangkan Yesus, Firman Hidup, yang akan menjadi 

saksi terhadap kehidupan orang percaya, apakah mereka benar-benar memiliki  hati taat sebagai 

penyembah! Sebab itu, setelah diterangkan bahwa daging-Nya menjadi pembuka jalan (Ibr.10:19-21), 

maka pesan firman berikutnya yaitu : “sebab  itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang 

tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh sebab  hati kita telah dibersihkan dari hati nurani 

yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr.10:22). 

Penyembah yang benar yaitu  mereka yang tulus hatinya dan beriman teguh 

sehingga mau mentaati hukum-hukum-Nya, dan sebab  itu mereka dapat berada 

dekat Allah, dan Allah mau bertemu dan bersabda kepadanya. Haleluyah!  

XIII. EMPAT TIANG TIRAI 

 Dalam Bab-IX telah diterangkan tentang lima tiang Pintu Kemah, yang disalut emas dengan 

alasnya dari tembaga, yang memisahkan Ruangan Suci dari _________ (Kel.26:36-37). Sebagaimana kita 

 

_________ 43 

ketahui, bahwa perabot di _________ Kemah Suci yaitu  Mezbah Korban Bakaran dari kayu sittim yang 

disalut tembaga dan Kolam Pembasuhan, yang terbuat dari tembaga seluruhnya.  

 Logam tembaga yaitu  lambang dari Pehukuman Ilahi atas dosa. Korban-korban yang dibakar di 

atas Mezbah Korban Bakaran yaitu  lambang dari korban Tuhan Yesus. Dan pada keempat sudut atas 

Mezbah ini ada empat tanduk, yang melambangkan Kuasa pengorbanan-Nya untuk mengampuni 

semua orang berdosa di keempat penjuru bumi. Semuanya ini terjadi sebab  kesediaan Yesus 

menanggung pehukuman ilahi bagi mereka yang mau percaya dan bertobat. 

 Bagi orang percaya, yang yakin Yesus bukan hanya menjadi penanggung dosa kesalahannya, 

namun  juga percaya bahwa Dia bangkit dari kematian, maka mereka dibenarkan (Ro.4:25). lalu , bila 

menjadikan Dia Tuhan dengan menuruti firman-Nya oleh pimpinan Roh Kudus untuk hidup kudus, 

maka mereka dilambangkan oleh kelima tiang Pintu Kemah yang tersalut emas dan beralaskan tembaga.  

 Itulah hidup yang melarikan diri dari “daerah pehukuman Ilahi” ke suatu “daerah anugerah 

Ilahi,” seperti yang dikatakan dalam Roma 8:1-2 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi 

mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang tidak hidup menurut daging namun  menurut Roh. sebab  

hukum Roh dari kehidupan dalam Kristus Yesus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan hukum 

maut.” (Terjemahan dari King James Version). 

 Namun Allah merindukan adanya orang-orang, yang bukan hanya meyakini Yesus sebagai 

penanggung pehukuman ilahi, namun  juga tertarik kepada kerelaan-Nya dalam melakukan penebusan 

dirinya, sehingga merekapun bersedia menanggung kesalahan orang lain. Itulah orang-orang yang 

merindukan hidupnya menjadi mediator seperti Kristus, sehingga orang lain dapat mengenal Kasih 

Allah melalui dirinya! 

Gal.6:1-2 “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, 

harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, 

supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah 

kamu memenuhi hukum Kristus.” 

 Yang rela menanggung beban/kesalahan layak disebut “Pemimpin atau bapa,” sebab  bersedia 

memimpin yang salah ke jalan yang benar. Untuk tugas ini memang dibutuhkan roh kelemah-lembutan! 

Dan inilah yang dilambangkan oleh keempat tiang Tirai! 

2Tim.2:24-26 “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, namun  harus ramah terhadap semua orang. Ia harus 

cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab 

mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga 

mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, sebab  terlepas dari 

jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” 

 

 

DISALUT EMAS, BERALASKAN PERAK 

 Berbeda dari lima tiang dari Pintu Kemah, yang menjadi jalan masuk dari _________ ke Ruangan 

Suci, maka keempat Tiang Tirai yaitu  jalan masuk dari Ruangan Suci ke Ruangan Maha Suci, dimana 

terletak Tabut Perjanjian.  

Kel.26:31-35 “Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang 

dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun. Haruslah engkau 

menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada 

kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak. Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan 

penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu 

menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus. Tutup pendamaian itu haruslah 

kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus. Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu, 

dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah 

kautempatkan pada sisi utara.” 

 Seperti telah diterangkan dalam pembahasan Tiang-tiang Pintu Kemah, bahwa Tiang dari kayu 

sittim/penaga yaitu  lambang dari Para Pelayan Tuhan, yang menjadi penopang dalam Jemaat. 

Mereka disebut dalam Alkitab “Tiang-tiang Jemaat” atau dalam Alkitab terjemahan bahasa negara kita  

“Sokoguru Jemaat.” 

 

_________ 44 

Gal.2:9 “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, 

yang dipandang sebagai sokoguru jemaat (KJV: who seemed to be pillars), berjabat tangan dengan aku dan 

dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat 

dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.” 

 Sebagai tiang-tiang dalam jemaat, tentu dibutuhkan hati bapa untuk melakukan tugas pembapaan 

terhadap “anak-anak rohani/didik,” agar mereka dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah, seperti yang 

dilakukan Paulus dalam pernyataannya ini: “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-

anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan 

sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan 

dan kemuliaan-Nya” (1Tes.2:11-12). 

 Untuk menasihati dan menguatkan hati orang yang belum mengalami pertobatan sepenuh tentu 

membutuhkan hati bapa, seperti dinyatakan dalam 2Tim.2:24-26 di atas: “Ia harus cakap mengajar, 

sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan.” Hanya bila seorang 

pelayan Tuhan memiliki sifat lemah-lembut barulah dapat bertahan menghadapi orang yang suka 

melawan. Mengapa? 

 Sebab “Kelemah-lembutan” dapat juga dikatakan “Kekuatan yang sempurna, namun dalam 

penguasaan diri” atau “Perfect strength under control.” Hal inil telah dilakukan oleh Tuhan kita, Yesus 

Kristus! Walaupun diri-Nya yaitu  Allah sepenuh, berarti memiliki sifat “Mahakuasa” namun, tatkala Ia 

menjelma menjadi umat , Yesus bersedia menaklukkan Diri-Nya untuk tetap berada dalam kontrol 

Bapa, yang telah merencanakan penebusan umat umat . 

 Dalam praktek, jika  seseorang semakin berkuasa, berkedudukan, serta kekayaannya 

melimpah, pada umumnya semakin sulit bila harus menuruti kehendak Allah yang bertentangan dengan 

jiwanya. Namun Yesus berhasil menaklukkan diri-Nya kepada kehendak Bapa! Dan hal ini bukannya 

dilakukan seperti banyak diistilahkan orang Kristen modern “hidup mengalir saja,” namun dengan 

perjuangan yang tidak ringan seperti dinyatakan dalam surat Ibrani 5:7-9 “Dalam hidup-Nya sebagai 

umat , Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, 

yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan sebab  kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan 

sekalipun Ia yaitu  Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah 

Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat 

kepada-Nya, 

Keempat Tiang Tirai melambangkan pribadi-pribadi, yang bersedia memikul tugas 

Allah dalam ketaatan sepenuh, walaupun hal itu “merobek dagingnya” atau 

“menyayat hati,” sebab bertentangan dengan kehendak pribadinya. Namun, sebab  

memiliki dasar “Rencana Penebusan Umat umat ,” maka mereka merelakan dirinya 

menderita derita salib! 

Bagi Yesus, Dia rela “Menderita di bawah Otoritas,” baik otoritas Bapa di sorga, maupun 

otoritas “ibu bapanya” secara daging. Sebab, Dia memiliki roh kelemah-lembutan, yang merupakan 

salah satu sifat Ilahi terpenting, yang dilambangkan oleh emas murni yang lembut! Begitu lembutnya 

emas murni, sehingga ukuran tebal satu millimeter dapat ditempa menjadi 10.000 lembar “ketas emas” 

tanpa robek! Begitu pula dengan hati yang memiliki roh kelemah-lembutan, sanggup bertahan dalam 

“penderitaan salib” tanpa luka hati, sebab  memiliki sifat ketundukan kepada otoritas, seperti dinyatakan 

dalam ayat ini. 

1Pet.2:18-19 “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada 

yang baik dan peramah, namun  juga kepada yang bengis. Sebab ini suatu anugerah, bila sebab  hati nurani 

terhadap Allah, seseorang menanggung kesedihan sebab  penderitaan perbuatan salah (orang lain)” (Ayat 19 

terjemahan MKJV).  

Biarlah hati nurani kita berbicara demikian: “sebab  Tuhan telah menebus saya 

dengan darah Yesus yang amat mahal, maka saya mau menderita demi Rencana 

Penebusan Tuhan dapat berlaku kepada mereka yang berbuat salah kepadaku.”  

Itulah roh lemah-lembut dari seorang Tiang Jemaat Tuhan! 

MERINDUKAN DEKAT TAKHTA ALLAH 

 Sebagaimana dengan keempat tiang Tirai, yang terbuat dari kayu sittim tersalut emas murni 

yaitu  kayu yang berada sangat dekat dengan Tabut Perjanjian, tempat Allah bertemu dan berbicara 

(Kel.25:22) atau takhta Allah, begitulah dengan "Keempat Tiang Tirai," yang melambangkan orang-orang  

yang menjadi penopang jemaat. Itulah bayangan dari orang-orang kudus yang kelak diijinkan berada 

dekat dengan Allah dalam kemuliaan Kerajaan-Nya.  

 Kerinduan seperti ini pernah diutarakan oleh ibu dari dua rasul Tuhan, Yohanes dan Yakobus, 

seperti tertulis dalam Injil Matius 20:20-21 “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-

anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: 

"Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di 

dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." 

 Inilah teladan seorang ibu/wanita yang sangat berohani, yang percaya Yesus pasti menjadi Raja, 

seperti telah diucapkan-Nya saat Petrus bertanya: “"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan 

mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Maka jawaban_Nya demikian: “Aku berkata 

kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak umat  bersemayam di takhta 

kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk 

menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat.19:27-28). 

 Hal ini berkata kata , bahwa ibu kedua rasul tsb sangat mempercayai Yesus sebagai Messias, sebab 

menempatkan Yesus dengan iman, bahwa Dialah Raja yang akan datang, yang berkuasa dan sanggup 

memberikan perintah! Berapa banyakkah ayah ibu yang memiliki  kerinduan iman, agar anak-anak 

mereka kelak memerintah bersama dengan Kristus?  

Hai ibu-ibu dan bapak-bapak, milikilah kerinduan bernilai kekekalan, khususnya agar 

anak-anakmu mencapai hidup kekal yang disertai kemuliaan kekal! Ingat, seperti 

halnya dengan ibu seorang Raja pasti mulia, begitulah mereka yang sekarang berdoa 

untuk anak-anak mereka menjadi pengikut Yesus yang setia! 

 Namun, bila kita membandingkan dengan Injil Markus, ternyata ada perbedaan dalam jalannya 

cerita ini. Coba kita membaca perikop ini dalam Markus 10:35-37 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak 

Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya 

mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku 

perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang 

seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 

 Kesimpulannya, mereka bertiga datang kepada Yesus. lalu  ibu mereka lebih dahulu 

mengutarakan keinginannya (sebab  ibu sebenarnya yaitu  Salome, saudara dari Yusuf, “bapa pengasuh” 

Yesus). Setelah itu, kedua rasul itu memberanikan diri untuk mengutarakan permohonan mereka. Dan 

yang sangat jelas, merekapun percaya Yesus yaitu  Messias! 

Kerinduan yang benar dan terbesar yaitu  masuk ke dalam Kerajaan Tuhan dan 

duduk dekat dalam kemuliaan-Nya! Yang sangat indah, kerinduan ini ada dalam 

setiap anggota keluarga! Suatu permohonan yang bernilai sangat tinggi dan mulia! 

 

A. MILIKI MATA IMAN YANG TAJAM 

 Dalam pengalaman rasul Yohanes tatkala diijinkan Tuhan naik ke alam sorga, maka dilihatnya 

pemandangan ini: Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta 

itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah 

belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti 

anak lembu, dan makhluk yang ketiga memiliki  muka seperti muka umat , dan makhluk yang 

keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Dan keempat makhluk itu masing-masing 

bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-

hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, 

yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang" (Wah.4:6-8). 

 Keempat makhluk hidup dekat Allah ditulis demikian: di tengah-tengah takhta itu dan di 

sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata." Mereka yang berada sangat dekat dengan takhta 

Allah yaitu  yang memiliki “banyak mata” dalam dirinya. Dan itulah bayangan dari mereka yang penuh 

iman, seperti yang dikatakan Alkitab bagi Stefanus: “Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh 

Kudus” (Kis.6:5). 

 Sebab itu, Paulus berdoa bagi jemaat Efesus yang sudah memiliki iman dan kasih (Efs.1:15), 

namun  dalam ukuran yang belum penuh! Dan inilah doanya: "Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu 

terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa 

kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus" (Efs.1:18). Bahkan lebih jelas 

lagi tulisannya dalam Efs.3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus 

dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat  

mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di 

dalam seluruh kepenuhan Allah.” 

Hanya orang-orang percaya, yang penuh iman dan hatinya tertuju kepada kemuliaan-

Nya yang kekal, akan memiliki dorongan kuat untuk melakukan perintah-perintah-

Nya atau perbuatan iman dengan penuh ketundukan kepada Tuhan sebagai Raja 

Kemuliaan, walaupun harus menderita dalam banyak hal. 

 

 Saat ibu Zebedeus meminta agar kedua anaknya boleh duduk di sebelah kanan dari kiri-Nya 

dalam kemuliaan-Nya, maka inilah jawaban-Nya kepada mereka bertiga: "Kamu tidak tahu, apa yang 

kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami 

dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, namun  hal duduk di 

sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada 

orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya" (Mat.20:22-23). 

 Ingat bukan hanya Yakobus dan Yohanes yang akan mengalami penderita jiwa, namun ibunya 

juga! Hal inipun telah berlaku bagi Maria, “ibu” Yesus, tatkala melihat Dia menderita siksaan dan salib, 

seperti yang telah dinubuatkan Simeon kepada Maria: “dan suatu pedang akan menembus jiwamu 

sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk.2:35). Tentunya jiwa Maria seperti 

tertikam saat menyaksikan Yesus menderita! 

 Begitu juga dengan Yesus, dalam keadaan-Nya sebagai umat , jiwa-Nya menderita bukan main, 

sehingga terucap kata-kata ini: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat.26:38). Namun, 

Dia sungguh-sungguh berdoa agar dapat menaklukkan jiwa-Nya kepada kehendak Bapa. Dengarkanlah 

doa-Nya ini: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh 

memang penurut, namun  daging lemah." Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya 

Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-

Mu!" (Mat.26:41-42). 

 Dan apa faktanya? Yesus mau memikul derita salib sebab  ketaatan-Nya sebagai Hamba! 

Mengapa? Sebab tahu firman nubuat, saat Dia memberi nasihat tentang kedatangan-Nya kelak dengan 

berbagai perumpamaan, bahwa ada kemuliaan dibelakang salib, dengan mengucapkan nubuat dalam 

Mat.25:31-46 “Apabila Anak umat  datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama 

dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya………” Petruspun dalam khotbah 

perdananya di hadapan ribuan orang mengatakan bahwa “Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” 

(Kis.2:32-33)! 

 Sebagai Kepala, Ia sudah berada di sorga. Namun, Tubuh-Nya, yakni Gereja-Nya atau Jemaat-

Nya masih berada di bumi. Menyadari hal ini, Paulus dengan ilham Roh menuliskan Firman ini: 

"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita sebab  kamu, dan menggenapkan dalam 

dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat" (Kol.1:24). 

 Perhatikan kalimat "menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus 

untuk Tubuh-Nya!" Mengapa disebut "kurang"? Tentunya ini berbeda dengan sekelompok para ahli 

theolog yang mengatakan "semuanya telah diselesaikan Yesus di atas kayu salib"! Memang, untuk 

penebusan dosa, semuanya telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus sendiri! Namun, untuk proses penyatuan 

Tubuh-Nya masih belum, sebab Kepala tanpa Tubuh jelas kurang! sebab  itu, siapa yang ingin masuk 

kedalam Tubuh-Nya, harus rela menderita!  

Kerinduan berkedudukan dekat Tuhan dalam Kerajaan-Nya dialami mereka yang 

bersedia mematikan dagingnya. Khususnya dalam tugas penyatuan Gereja-Nya!  

Mereka yang sanggup melakukan tugas ini berpedoman: "Hidup yaitu  Kristus dan 

mati yaitu  keuntungan". Pahalanya, mereka diijinkan berada di sekeliling takhta 

Allah seperti halnya keempat makhluk hidup dalam Wah.4:6-8. 

 Dan orang-orang semacam demikian dilambangkan oleh keempat makhluk, yang rela menderita 

sebab : (1).Kebenaran – seperti singa (Ams.28:1b) (2).Melayani Tuhan dengan setia sampai mati – 

seperti Lembu  (3).Sadar sebagai umat  bertubuh dosa – seperti muka umat  (Ro.7:24) (4).Hidup 

suci – seperti burung nazar yang sedang terbang. Haleluyah! 

 

 Hidup yaitu  perjalanan – Life is a journey! Ya, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan 

perjalanan iman orang percaya. Bagi bapa Abraham, bapa orang percaya, perjalanan imannya dilakukan 

dari Ur-Kasdim, atau kota Ur di tanah Kasdim yakni Babel, menuju ke Tanah Perjanjian dan berakhir  

dengan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Hebron (Kej.13:18), serta mengakhiri hidupnya juga 

di sana (Kej.25:9). 

 Secara rohani, perjalanan iman ini tentunya mengandung arti rohani yang berkata kata , bahwa 

setiap orang percaya yang mengikuti tapak iman “bapa orang percaya,” Abraham, haruslah keluar dari 

kekacauan hidup (Babel berarti kekacauan) dan menuju kepada suatu hidup persekutuan dengan Tuhan 

(Hebron berarti perhimpunan, persatuan, perkumpulan). 

 Begitu juga telah terjadi dengan Israel, umat tebusan-Nya. Bersama Musa pemimpinnya, mereka 

dikeluarkan Tuhan dari “rumah perbudakan” (Kel.13:3, 14) ke Kanaan, “Tanah Perjanjian” (Ul.7:13; 

11:9, 21; 28:11), yang sebenarnya sama dengan tempat di mana Abraham tinggal: “sebab  iman ia 

(Abraham) diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di 

kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-

nantikan kota yang memiliki  dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr.11:9-10). 

Semua orang percaya yang dipanggil hendak dilepaskan Tuhan dari perbudakan 

dosa, yang menyebabkan kekacauan hidup, dan lalu  melalui perjalanan iman 

dibawa kepada persekutuan dengan Yesus, Sang Penebus; supaya akhirnya mereka 

masuk ke Kota Allah, yang telah direncanakan dan dibangun oleh Allah! 

 

BAYANGAN ORANG-ORANG KUDUS 

 Orang-orang Lewi yang bertugas mengangkut perabot-perabot Kemah Suci yaitu  bani Gerson, 

bani Merari dan bani Kehat. Kepada bani Gerson diberikan dua kereta dan bani Merari empat kereta 

untuk keperluan pekerjaan mereka; namun khusus untuk bani Kehat kita membaca aturan ini: “namun  

kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, sebab  pekerjaan mereka ialah mengurus barang-

barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya” (Bil.7:9). Seperti diterangkan juga dalam Bil.4:15 

“Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat 

kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk 

mengangkat barang-barang itu; namun  janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti 

mereka mati. Jadi itulah barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani Kehat.” 

 Untuk maksud mengangkat Mezbah Korban Bakaran dibuatlah kayu-kayu pengusung dari kayu 

sittim atau penaga, yang disalut tembaga; dan disalut dengan emas untuk mengangkut perabot-perabot 

dalam Ruangan Suci dan Ruang Mahasuci. Tentunya kayu pengusung dipergunakan dengan maksud 

mempermudah bani Kehat mengusung, agar dalam kebersamaan memikul perabot-perabot Kemah Suci, 

mereka  semuanya dapat memandang ke depan dengan derap kedepan pula! Dan seperti halnya dengan 

perjalanan Kemah Suci, yang bergerak dari padang gurun dan akhirnya menetap di Yerusalem, demikian 

juga Gereja Tuhan harus memandang ke depan dan bertujuan untuk bersekutu dengan Tuhan Yesus 

sebagai Raja Damai, Raja Salem. 

1Kor.1:9 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, yaitu  

setia.” Inilah tujuan Allah memanggil anda dan saya menjadi orang percaya! 

 Dengan hikmat-Nya, Tuhan memilih kata yang tepat untuk “Kayu Pengusung” yang ditulis 

dengan kata “bad” (bahasa Ibrani), yang berarti: “pemisahan.” Kata ini mengandung makna tindakan 

untuk pengudusan, seperti diperintah Tuhan terhadap Israel: “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, 

TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-

Ku” (Im.20:26). 

Perjalanan iman yang kudus dari Gereja Tuhan hanya mungkin dilaksanakan sebab  

adanya orang-orang pilihan-Nya yang kudus, yang senantiasa membawa atmosfir 

kekudusan dalam jemaat sebab penuh Roh Kudus, Roh Penghibur, sehingga para 

pelayan Tuhan dapat tahan memikul beban mengikuti jalan-Nya! 

 Atmosfir kekudusan itu dapat terwujud oleh pujian, penyembahan yang dilakukan oleh para 

pemuji, pemusik, pendoa, bahkan jemaat-Nya saat mempermuliakan Tuhan! Mereka ini bagaikan kayu-

kayu pengusung, yang menyebabkan para pejabat Gereja dapat melakukan tanggung jawabnya dengan 

baik, seperti kayu pengusung yang diletakkan di atas bahu bani Kehat. Sejujurnya, inilah kekuatan saya 

dan para pelayan Tuhan di gereja ini, sehingga sampai sekarang dapat tetap melayani dengan kekuatan  

Roh Kudus untuk membawa umat-Nya dalam perjalanan iman mencapai hari pernikahan Anak Domba. 

Haleluyah! 

 

KAYU PENGUSUNG BAGI BANI KEHAT 

 Menarik bila Allah memilih bani Kehat dari suku Lewi untuk maksud mengangkat atau memikul 

barang-barang kudus Kemah Suci. Pilihan-Nya terkait dengan pemberian nama oleh Lewi kepada anak-

anaknya, yang tentunya diilhamkan Roh Kudus kepadanya. Seperti kita ketahui, orang-orang Ibrani yang 

dipimpin Roh memberikan nama kepada anak-anak mereka dibawah pimpinan “Roh Nubuat.” 

 Nama “Lewi” diberikan oleh Lea kepada anaknya ketiga dengan ucapan nubuat ini: Mengandung 

pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat 

kepadaku, sebab  aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak 

itu Lewi. 

 Lewi (lêvıŷ dalam bahasa Ibrani), berarti: dilekatkan, attached. Nama ini timbul dari kerinduan 

Lea agar lebih lekat dengan suaminya, Yakub! Hal yang sejajar harus dilakukan oleh orang percaya. 

Mereka yang merindukan dirinya lebih lekat atau dekat dengan Tuhan, seharusnya menyediakan 

tubuhnya untuk melayani Dia!  

 Bukankah hal inipun terjadi dalam kehidupan secara jasmaniah? Seorang yang ingin mendekat 

kepada orang besar dan terhormat, maka jalan termudah mencapai keinginan tsb yaitu  dengan menjadi 

pelayannya, entah sebagai pembantu rumah tangganya, tukang potong rambutnya atau tukang pijatnya! 

Dan hal ini dilakukan oleh satu suku, saat umat Israel jatuh kedalam dosa penyembahan berhala, 

sehingga muncul tantangan Musa ini: “Siapa yang memihak kepada Tuhan datanglah kepadaku!” 

Tantangan tsb langsung direspons oleh suku Lewi, yang melaksanakan perintah Musa untuk membunuh 

para penyembah berhala, sehingga terpilih menjadi pelayan Kemah Suci (Bacalah ceritanya dalam 

Kel.32:25-29). Sejak saat itu, suku Lewi saja yang diperkenankan mendekat kepada Tuhan. 

jika  orang-orang Israel yang dihitung dan dicatat yaitu  semua laki-laki Israel yang berumur 

dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang (Bil.1:1-3), maka suku Lewi justru sudah tercatat 

tatkala mereka berusia satu bulan ke atas (Bil.3:15)! 

Dalam pemandangan Tuhan, orang-orang yang baru lahir baru namun ingin 

membalas kasih-Nya dengan memberikan dirinya untuk melayani, sebab  

kerinduannya mendekat kepada Tuhan, maka mereka lebih cepat masuk hitungan 

Tuhan dari pada orang percaya pada umumnya! 

 Nama “Kehat” diberikan bapa Lewi kepada anaknya, seperti tertulis dalam Kej.46:11 “Anak-anak 

Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari.” Yang menarik, anak kedua dari Lewilah yang justru terpilih menjadi 

pengusung perabot-perabot kudus dan mahakudus! Fakta ini menunjukkan, bahwa yaitu  hak Tuhan dalam 

menentukan jabatan apakah yang akan disandang pelayan-Nya, sebab Ia mengetahui hati umat !  

Dan dari pemberian nama, lagi-lagi kita diberi iluminasi tentang adanya “Roh Nubuat” yang bekerja 

dalam diri Lewi, saat ia menamakan anaknya “Kehat,” yang memiliki arti disatukan, sekutu, 

menggabungkan diri. Ini yaitu  bayangan dari orang-orang pilihan-Nya, yang memiliki kerinduan untuk 

menggabungkan diri dalam persekutuan raya dengan Tuhan. 

Hati orang-orang kudus, yang merindukan suatu persekutuan raya dengan Tuhan 

(Kelompok “Kehat rohani”), umumnya lahir dari persekutuan orang-orang yang 

hidupnya ingin melekat dengan Tuhan secara pribadi (Kelompok “Lewi rohani”).  

 

XV. KAYU SITTIM UNTUK TABUT PERJANJIAN 

Perabot terakhir dan terpenting, yang dibuat dari kayu sittim/penaga dan disalut dengan emas 

murni yaitu  Tabut Perjanjian, yang diletakkan dalam Ruangan Maha Kudus dari Kemah Suci. 

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa oleh kuasa penebusan-Nya umat Israel yang dikeluarkan dari  

Mesir diminta untuk membuat tempat kudus bagi Tuhan dengan memberikan persembahan-persembahan 

khusus yang diperintahkan Tuhan.  

Bahan-bahan persembahan khusus tersebut sudah mereka miliki pada saat mereka keluar dari 

Mesir; namun  untuk kayu sittim baru diperoleh saat umat-Nya dalam perjalanan menuju tanah yang 

dijanjikan Allah kepada bapak Abraham (Kej.12:1; Ibr.11:9; Ul.7:13). 

Dalam kiasan rohani, hal ini berkata kata  bahwa orang-orang percaya “sebagai kayu 

sittim,” yang mau bertindak dalam perbuatan iman meninggalkan umat  

duniawinya, barulah dipilih Tuhan – yang mengenal hati umat  – untuk menjadi 

alat-Nya yang mulia, sebab mereka merindu menjadi umat  sorgawi!    

Keterangan tentang Tabut Perjanjian dapat dibaca dalam dua ayat di bawah ini. 

Kel.25:10-11 “Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah 

hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari 

dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya.” 

 Kata “tabut” dalam bahasa Inggris ditulis “ark” – diterjemahkan dari bahasa Ibrani: 'ârôn, yang 

berarti kotak, peti – dalam arti “pengumpulan.”  Dari kata dasar 'ârâh, yang berarti “memetik” atau 

“mengumpulkan.” Dan itulah cara Tuhan memetik orang percaya dari antara bangsa-bangsa di dunia ini 

dan dijadikan orang-orang pilihan-Nya, untuk dikumpulkan bersama dengan Tuhan, seperti dinyatakan 

dalam 1Tes.4:14 “sebab  jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita 

percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama 

dengan Dia.” 

 

DIPILIH UNTUK BERSEKUTU 

 Yang dapat menjadi orang-orang pilihan-Nya yaitu  mereka yang lebih dahulu menanggapi 

panggilan-Nya. Dan maksud panggilan-Nya dinyatakan dalam 1Pet.1:15-16, yang berunyi: “namun  

hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah 

memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 

 Mengapa umat  dipanggil untuk hidup kudus? Jawaban dari ayat diatas yaitu  “sebab Aku 

kudus!” Dan dibalik dari permintaan Allah ini, ada tujuan dari panggilan-Nya, yang dinyatakan dalam 

1Kor.1:9 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan 

kita, yaitu  setia.” 

Jadi, tujuan Allah memanggil umat  yang berdosa yaitu  supaya mereka dapat 

bersekutu dengan Tuhan Yesus! Untuk mencapai tujuan ini, maka umat  harus 

mengalami proses pengudusan atau pemisahan – yang dilambangkan oleh kayu 

sittim, yang ditebang dari pohon sittim dan diproses/dibentuk menurut ukuran yang 

ditetapkan, lalu  disalut dengan logam yang ditetapkan juga. 

 Pada saat Tuhan Yesus mulai memanggil murid-murid-Nya, maka prioritas utama yang 

dikehendaki-Nya yaitu  persekutuan, lalu  barulah pelayanan. Sayangnya, banyak pelayan Tuhan 

justru mengutamakan pekerjaan pelayanan lebih dari pada persekutuan dengan Yesus. Marilah kita 

memperhatikan urutan yang diinginkan Tuhan melalui firman-Nya ini.  

Mark.3:13-15 “lalu  naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka 

pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (berarti sama dengan: memilih) dua belas orang untuk menyertai 

Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.” 

 Dengan memperhatikan urutan tersebut diatas, benarlah bahwa tujuan utama orang pilihan-Nya 

haruslah “menyertai Dia.” Dan tentunya ada peringkat kedudukan dalam hal menyertai Dia. 

 

        YESUS DIAKUI SEBAGAI      TINGKAT HUBUNGAN       AYAT PENDUKUNG 

 

  

   Penolong yang baik               Pengikut                            Mat.4:25; 8:1 

 

      Tuan Penebus     Hamba       Flp.1:1 

 

           Guru      Murid      Yoh.13:13; Mat.5:1 

 

     Penasihat Ajaib               Sahabat      Yoh.15:14; Yak.2:23 

 

           Bapa       Anak             1Yoh.5:1 

 

            Mempelai laki-laki          Mempelai wanita    Mat.25:1-13; Wah.19:7 

 

 Peringkat tertinggi dalam hubungan yaitu  “Hubungan suami isteri.” Dan itulah yang diinginkan 

Bapa dalam rencana penebusan-Nya; supaya kita sebagai anggota Jemaat Tuhan terus meningkatkan 

persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, sehingga menjadi mempelai-Nya!  

Persekutuan paling puncak yaitu  persekutuan sebagai mempelai – Tuhan Yesus 

sebagai Mempelai laki-laki dan Jemaat-Nya sebagai Mempelai wanita . Dan hal 

inilah yang direncanakan Allah sebelum dunia dijadikan, yang dilambangkan oleh 

Tabut Perjanjian dalam Ruangan Maha Kudus. Haleluyah! 

 

DALAM DAN LUAR DISALUT EMAS 

 “Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus 

menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya” (Kel.25:11). Itulah perintah 

Tuhan kepada Musa mengenai Tabut Perjanjian. Telah diterangkan, bahwa kata “Tabut” dari bahasa 

Ibrani: 'ârôn, yang berarti kotak, peti – dalam arti “pengumpulan.” Itulah kiasan dari Jemaat Tuhan atau 

Gereja-Nya, yang dipanggil untuk hidup kudus dan bersekutu dengan Yesus sebagai Mempelai laki-laki. 

 Telah diterangkan, bahwa emas murni sifatnya begitu lembut, lunak, sehingga emas dengan tebal 

1 mm dapat ditempa menjadi 10.000 lembar kertas emas! Logam emas dalam arti rohani yaitu  

lambang dari sifat ilahi yang mulia, yaitu kelemah-lembutan ilahi. Dan itulah yang seharusnya 

dipunyai oleh setiap anggota Jemaat-Nya, yang ingin masuk dalam persekutuan dengan Kristus sebagai 

mempelai-Nya. Mengapa? sebab  sifat dominan Tuhan juga lemah-lembut dan rendah hati (Mat.11:29)! 

 Sifat umat  pada umumnya dapat dibagi dalam empat bagian, bila melihat dalam (hati) dan 

luarnya (perbuatan). Pertama, hatinya keras dan perbuatannya juga keras. Ini yaitu  tipe orang yang 

bersifat otoriter, bebal. Dicontohkan oleh kehidupan Nabal (Baca 1Sam.25). Kedua, hatinya keras namun  

perbuatannya terlihat lembut. Ini yaitu  tipe orang yang berpura-pura. Ketiga, hatinya lembut namun  

perbuatannya keras. Ini yaitu  tipe pendidik keras, khususnya untuk menghadapi orang-orang keras yang 

belum bertobat. Keempat, hatinya lembut dan perbuatannya juga lembut. Ini yaitu  tipe teladan hidup, 

yang ingin masuk dalam persekutuan yang setara! 

jika  kita ingin bersekutu dengan Tuhan Yesus sebagai Mempelai Kristus, maka 

seharusnya kita seperti Tabut yang terbuat kayu sittim dan disalut dari dalam dan 

dari luar – Suatu kehidupan yang memiliki roh lemah-lembut namun juga kelakuan 

yang lemah lembut. 

 TABUT DIISI TIGA KESAKSIAN 

 Alasan Tabut atau Peti Perjanjian yang dibuat dari kayu sittim perlu disalut emas murni dari 

dalam dan luar, sebab Allah mau menempatkan tiga hal kudus yang akan menjadi kesaksian. Itulah 

sebabnya Tabut tsb disebut “Tabut dari Kesaksian.” Kehidupan orang-orang pilihan-Nya, yakni Gereja 

Tuhan, harus disalut dengan sifat ilahi yang mulia dalam dan luar, sebab mereka sebagai Tubuh-Nya dan 

juga sebagai Pengantin wanita  Tuhan, akan dijadikan kesaksian bagi dunia!  

  

 Dalam terjemahan bahasa Inggris, Tabut Perjanjian atau “The Ark of the Covenant” juga disebut 

“The ark of the Testimony,” sedangkan dalam Alkitab terjemahan bahasa negara kita  “Tabut Hukum” 

(Kata “The ark of the testimony” dapat dibaca dalam ayat-ayat ini Kel.25:22; 26:33, 34; 30:6, 26; 31:7; 

39:35; 40:3,5, 21; Bil.4:5; 7:89; Yos.4:16. Atau disebut “The Testimony” dalam Kel.16:34; 27:21; 30:36: 

Im.24:3; Bil.17:4, 10). 

 Ketiga “Alat Kesaksian” yang diletakkan dalam Tabut itu yaitu  (1).buli-buli emas berisi manna, 

(2).tongkat Harun yang pernah bertunas dan (3).loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, seperti yang 

tertulis dalam Ibr.9:3-4 “Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat 

yang Maha Kudus. Di situ terdapat pedupaan emas (golden censer; bukan seperti yang diterjemahkan 

dalam terjemahan LAI: mezbah pembakaran ukupan dari emas), dan Tabut Perjanjian, yang seluruhnya 

disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun 

yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.” 

1. Buli-buli emas berisi manna. 

 Inilah alat kesaksian pertama yang harus dimiliki oleh orang-orang pilihan-Nya. Untuk mengerti 

tentang hal ini, marilah kita membaca keterangannya yang tertulis dalam Alkitab. 

Kel.16:32-35 Musa berkata: "Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, 

supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, saat  Aku membawa 

kamu keluar dari tanah Mesir." Sebab itu Musa berkata kepada Harun: "Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah 

manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun." 

Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan 

tabut hukum Allah untuk disimpan. Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka 

tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. 

 Perintah yang disampaikan Musa ini tentunya sebelum Kemah Suci dibuat, sebab itu dituliskan 

“buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan.” namun  setelah dibuat, 

maka maksud dari kata “ditempatkan di hadapan tabut hukum Tuhan” itu ternyata disimpan di dalam 

Tabut Perjanjian, seperti yang diterangkan dalam Ibr.9:3-4 di atas. 

 Dan maksud penempatannya yaitu  “supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu 

makan di padang gurun selama empat puluh tahun sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.” Jelas 

sudah, bahwa maksud penempatan buli-buli emas berisi manna untuk tujuan “keturunan orang pilihan” 

atau untuk generasi berikutnya, yang ingin mengalami persekutuan yang erat dengan Allah. 

Orang-orang pilihan-Nya yang bersifat ilahi yaitu  mereka, yang menempatkan 

manna rohani, Firman, dalam kehidupan persekutuannya dengan Yesus sebagai 

Tuhan dan Kepala Gereja dalam ketaatan sepenuh, sehingga menjadi kesaksian 

bahwa Tuhan mampu memelihara hidup rohani selama berada dalam dunia, yang 

penuh derita sampai masuk dalam Kerajaan yang dijanjikan-Nya. 

2. Tongkat Harun yang pernah bertunas. 

 Tongkat ini ditaruh dalam Tabut Perjanjian untuk meredakan perselisihan yang timbul sebab  

pemberontakan Korah dkk, yang tidak puas dengan kedudukan mereka. Saat bumi terbelah sebab  murka 

Allah, maka 250 orang kelompoknya mati terkubur hidup-hidup. Namun rasa tidak puas justru meluas 

sebab  kematian para pemimpin pemberontak itu. Akibat sungut-sunggut mereka, murka Tuhan menyala 

lagi sehingga 14.700 orang mati kena tulah. Jadi, masalah iri hati yang merupakan sumber ketidak-

puasan telah merengut 14.950 orang! 

 Tongkat Harun yang sebenarnya hanya kayu yang mati, namun setelah diletakkan ke dalam Tabut 

Perjanjian, ternyata keesokan harinya hidup, seperti dicatat dalam Bil.17:8 “saat  Musa keesokan 

harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah 

bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” Mujizat ini 

dilakukan Tuhan dengan alasan ini: “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; 

demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga 

tidak usah Kudengar lagi." 

Tongkat yaitu  lambang otoritas (Kel.4:17, 20; Yes.14:5). Orang-orang terpilih yang 

bersifat ilahi, seperti halnya dengan kayu sittim yang dibuat Tabut dan disalut emas,  

hidupnya akan dikaruniai otoritas-Nya, yakni kuasa Roh Kudus, sehingga ditangannya 

pekerjaan Tuhan berkembang dan berbuah menjadi kesaksian bagi banyak orang, 

bahwa dirinya dipilih Tuhan! 

 Hal ini merupakan suatu peringatan keras dari Tuhan sebagai Kepala Gereja, terhadap setiap 

orang yang merindu menjadi Mempelai-Nya, agar menghormati Dia yang tidak berkenan terjadi 

perselisihan dan sungut-sungut dalam jemaat seperti yang diucapkan dalam pesan-Nya: “tidak usah 

Kudengar lagi!" Bukankah merupakan fakta yang menyedihkan, bahwa mereka yang menanggap dirinya 

berohani seringkali terlibat dalam perselisihan yang tajam, sehingga pudarlah kesaksian Gereja terhadap 

dunia! 

3. Loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian. 

 Sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya, maka Tuhan 

memerintahkan Musa untuk naik ke atas gunung untuk menerima perjanjian itu. Kel.24:12 menuliskan 

kalimat ini: TUHAN berfirman kepada Musa: "Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah 

di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah 

Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka." 

 Di atas gunung Musa berada selama 40 hari 40 malam, khususnya untuk menerima petunjuk yang 

sangat penting tentang pembangunan Kemah Suci. Hal ini dituliskan oleh Musa dalam kitab Keluaran 

dari pasal 25 sampai pasal 31. lalu  diulangi lagi dalam Keluaran pasal 36 sampai 40! Setelah 

selesai menerima segala petunjuk Tuhan, maka Alkitab menuliskan demikian. 

Kel.31:18 “Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua 

loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.” 

 Namun sayang, bangsa Israel yang seharusnya menantikan Musa turun dari gunung ternyata tidak 

sabar menunggu, mereka meminta Harun untuk membuat patung emas yang mereka sembah. Itulah 

sebabnya, tatkala Musa turun dari gunung dengan kedua loh batu ditangannya, amarahnya timbul 

sehingga dilemparkannyalah kedua loh batu dan dipecahkannya pada kaki gunung (Kel.32:19). 

 Sebab itu, Tuhan memerintahkan Musa untuk naik kembali ke atas gunung, namun  kali ini dicatat 

demikian: Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, 

maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah 

kaupecahkan.” Jadi dua loh batu yang lalu  ditaruh di dalam Tabut Perjanjian itu yaitu  loh batu 

yang dipahat dibawah, namun ditulis oleh jari Allah di atas gunung. 

 Bila loh batu pertama yang diberikan kepada Musa itu langsung dari Allah, maka loh batu kedua 

dipahat Musa dan dibawa naik ke gunung untuk ditulis oleh jari Allah. Dua loh batu pertama yaitu  

bayangan dari Yesus, Sang Firman, yang dihancurkan oleh sebab  dosa umat umat . Sedangkan loh 

batu kedua yaitu  bayangan dari orang-orang pilihan-Nya, yang rela dibentuk (dipahat!) dan berdoa 

(naik ke gunung) untuk ditulis Roh hukum-hukum Tuhan, seperti dinyatakan dalam surat Ibrani ini. 

Ibr.8:10 “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. 

"Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka 

Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” 

Orang-orang pilihan-Nya akan menjadi kesaksian bagi dunia, bila mereka menyadari, 

bahwa dirinya perlu dibentuk, dipisahkan dari “benjolan-benjolan hidup yang kasar,”  

dan bersedia untuk berdiam diri mempersembahkan tubuhnya yang hidup, kudus dan 

berkenan sampai Firman-Nya menjelma menjadi daging oleh pekerjaan Roh Kudus, 

sehingga dunia melihat Allah hidup dalam dirinya! 

XVI. TABUT PENERIMA TUTUP GRAFIRAT 

 Telah diterangkan di depan bahwa Tabut Perjanjian, yang terbuat dari kayu sittim namun disalut 

emas murni, yaitu  lambang dari Gereja-Nya, yang terdiri dari orang-orang percaya yang terpilih – 

seperti halnya dengan kayu sittim yang terpilih untuk dijadikan perabot Kemah Suci – sebab rela 

dipimpin oleh Roh dalam mengikuti jalan kebenaran-Nya, dengan tujuan panggilan sorgawi, yaitu 

dipermuliakan bersama Allah, sebagai Mempelai-Nya! 

 Sebagai orang percaya yang bertujuan menjadi “umat  Sorgawi,” Gereja-Nya harus bersedia 

melepaskan “umat  Duniawi,” agar mengalami proses transformasi atau metamorphosa, seperti dialami 

oleh ulat yang harus “melepaskan ke-ulat-annya” dan masuk ke dalam kepompong untuk menjadi seekor 

kupu-kupu, yang sifatnya berbeda secara total. Demikian juga dengan kayu sittim yang dipotong dari akar 

pohon di padang gurun, dikerjakan oleh ahli-ahli yang diurapi Roh dengan ukuran yang ditetapkan Tuhan 

(Kel.31:1-11), lalu  disalut emas dijadikan kotak atau Tabut. Itulah sebabnya, Rasul Paulus dengan 

ilham Roh menuliskan kebenaran ini kepada jemaat di Roma. 

Rom 8:12-17 Jadi, saudara-saudara, kita yaitu  orang berhutang, namun  bukan kepada daging, supaya hidup 

menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; namun  jika oleh Roh kamu 

mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. sebab  seberapa banyak orang, yang dipimpin 

Roh Allah, yaitu  anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi 

takut lagi, namun  kamu telah menerima Roh adopsi (the Spirit of adoption. TB: Roh yang menjadikan kamu 

anak Allah). Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, 

bahwa kita yaitu  anak-anak Allah. Dan jika kita yaitu  anak, maka kita juga yaitu  ahli waris, maksudnya 

orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, 

yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama 

dengan Dia. 

 Pimpinan Roh sangat penting dalam proses mengubah umat  duniawi menjadi sorgawi, seperti 

dituliskan Paulus kepada jemaat di Korintus: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan 

muka yang tidak berselubung. Dan sebab  kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang yaitu  Roh, maka 

kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (from glory to 

glory = dari kemulia