Otoritas Perjanjian Lama
Untuk mempelajari kitab Perjanjian Lama kita tidak bisa
mempelajarinya dari perspektif sastra dan menghargainya
sebagai karya sastra. sebab Perjanjian Lama yaitu penyataan
diri Allah yang memiliki otoritas dari Allah. Kitab Perjanjian Lama
yaitu tulisan yang diilhamkan Allah yang memiliki otoritas
sebagai perkataan Allah (II Tim. 3:16). Keotoritasan Kitab
Perjanjian Lama ini diakui oleh Yesus dan murid-murid-Nya.
Dimana Kristus sering mengutip kitab-kitab Perjanjian Lama
sebagai dasar pengajaran-Nya (mis. Mat. 4:1-11). Paulus juga
sering mengutip kitab Perjanjian Lama dalam pengajarannya.
Dalam empat suratnya yang utama, yaitu Surat Roma, 1 dan 2
Korintus, Galatia tampak jelas bahwa Paulus berpegang pada
Perjanjian Lama. Ia engutip Perjanjian Lama lebih dari 90 kali
dan sebagian besar kutipan ini terdapat dalam surat-surat
itu.
Penulisan Kitab Perjanjian Lama
Penulisan Kitab Perjanjian Lama kemungkinan dimulai
pada zaman Musa, kira-kira tahun 1500 BC. Dan diakhiri pada
zaman sesudah pembuangan, yaitu kira-kira tahun 400 BC. Oleh
sebab itu, penulisan kitab Perjanjian Lama ditulis kira-kira 1000
2
tahun. Penulisannya pun berasal dari berbagai tempat dengan
latar belakang yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki
pekerjaan yang berbeda dan hidup dalam zaman yang berbeda.
Bahasa yang digunakan untuk menulis kitab Perjanjian Lama,
yaitu bahasa Ibrani dan Aram. Kedua bahasa ini merupakan
anggota rumpun bahasa yang disebut bahasa Semit. Suatu
nama yang berasal dari Sem, anak laki-laki Nuh. Orang Semit
aslinya berasal dari Jazirah Arab. Mereka migrasi ke
Mesopotamia, Siria, Palestina dan bagian-bagian Afrika.
LATAR BELAKANG KITAB PL
Untuk mengetahui latar belakang Kitab Perjanjian Lama
secara menyeluruh maka kita perlu memperhatikan beberapa
hal, di antaranya:
Sejarah Perjanjian Lama
Sejarah Perjanjian Lama ini sangat berkaitan dengan
keadaan pada zaman itu. Khususnya kerajaan-kerajaan atau
bangsa-bangsa yang berkuasa saat itu. Untuk dapat mengetahui
dengan lebih jelas maka perhatikanlah peta berikut ini:
Catatan: Peta pada zaman Abraham dalam kitab Kejadian.
Dimana pada waktu itu yang berkuasa di daerah Timur Tengah
yaitu Orang Het, Orang Babel dan Orang Mesir.
Catatan: Peta diatas menjelaskan tentang peristiwa Bangsa
Israel kembali ke Kanaan sesudah diperbudak di Mesir. Dalam
kitab Kejadian dijelaskan Yusuf di dijual dan akhirnya menjadi
penguasa di Mesir. Lalu orang Israel dibawa Yusuf ke Mesir,
Namun sesudah Yusuf mati, orang Israel diperbudak di Mesir.
Tuhan mengutus Musa membawa bangsa Israel kembali ke
tanah Kanaan. Tanah yang diberikan Tuhan kepada bangsa
Israel sesuai janji Tuhan kepada Abraham.
Catatan: Bangsa Israel dibawah kepemimpinan Musa kembali Ke
Tanah Kanaan, sesudah Musa mati. Musa digantikan Yosua.
Yosua yang membawa bangsa Israel menguasai tanah Kanaan,
dan membaginya kepada kedua belas suku Israel sehingga
bangsa Israel menetap di tanah Kanaan.
Catatan: sesudah bangsa Israel menetap di Tanah Kanaan,
bangsa Israel masih dipimpin Yosua. Lalu Yosua mati digantikan
hakim-hakim, pada zaman Samuel bangsa Israel minta raja.
Raja pertama bernama Saul. Lalu Saul digantikan Daud dan
daud digantikan Salomo. sesudah Salomo mati, kerajaan Israel
pecah jadu dua yaitu Kerajaan Selatan atau Yehuda ibu kota
Yerusalem, dan kerajaan Utara atau kerajaan Israel ibu kota
Samaria. Pada zaman itu muncul banyak nabi. Dibawah peta
para nabi.
sebab kejahatannya, kerajaan Utara dengan ibu kota Samaria
dibuang ke Asyur.
sebab kejahatannya, kerajaan Yehuda dibuang ke Babel.
Dunia Perjanjian Lama
Dunia Perjanjian Lama sebenarnya berada pada daerah
Timur Dekat Kuno yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah.
Dimana kisah-kisah yang dicatat dalam kitab Perjanjian Lama
beraada di lingkungan Timur Tengah yang meliputi kawasan
Mesopotamia di Timur, Asia Kecil di Utara, Siro Palestina dan
Mesir di Barat dan Semenanjung Arabia di Selatan.
1. Kawasan sabit yang subur. Daerah ini meliputi lembah dan
delta sungai Nil, dataran sempit sepanjang pantai Laut
Tengah daerah Palestina dan lembah sungai Tigris dan Efrat.
Daerah ini merupakan daerah pertanian sebab dialiri aliran
air sungai.
Sabit yang subur
2. Mesopotamia. Nama Mesopotamia berarti 'negeri di antara
sungai-sungai', yaitu sungai Tigris dan sungai Efrat.
Mesopotamia merupakan negeri asal orang-orang Israel
sebab para leluhur Ibrani tinggal di daerah Haran di Padan-
Aram antara sungai Tigris dan Efrat.
3. Asia Kecil. Daerah Asia Kecil terletak di Barat Laut
kawasan sabit yang subur. Daerah ini terdiri dari
pegunungan dan perbukitan. Walaupun begitu, daerah
ini merupakan jembatan yang menghubungkan Asia
Tengah dengan Eropa.
4. Siro Palestina. Daerah ini merupakan daratan yang
menjadi jembatan antara benua Afrika dan Asia. Daerah
ini sangat subur khususnya di sepanjang pesisi Laut
Tengah. Bagian Utara Siro Palestina meliputi negara
Siria dan Libanon sekarang. Sedang bagian Selatan
meliputi bangsa Israel dan sebagian dan sebagian
Yordania.
5. Mesir. Mesir terletak di sebelah Barat Daya Palestina
daerah ini subur sebab dialiri sungai Nil. Kerajaan Mesir
ini memiliki hubungan yang erat dengan sejarah Israel
sebab bangsa Israel pernah dijajah selama 350 tahun.
Palestina
Pada awal abad ke-XII sM, bangsa-bangsa Laut yang
berasal dari sekitar pulau Kreta atau Yunani mencoba menyerbu
Mesir. sebab gagal sebagian dari mereka termasuk yang
dikenal sebagai orang Filistin mendarat di pantasi Palestina
bagian Selatan. Dalam abad ke-V sM, Herodotus (bapak sejarah)
menyebut daerah ini sebagai Siria Filistin (en te Palaistine Surie,
Herodotus 1105). Kemudian kata Yunani Palaistina muncul
dalam bahasa Latin sebagai Palestina. Tanah itu biasa disebut
juga sebagai tanah Kanaan, diambil dari penduduknya yang
utama. Tanah itu dikenal sebagai tanah Perjanjian, yaitu
perjanjian yang diadakan Allah dengan Abraham (Kej. 17:7-8).
sesudah pendudukan Israel, tanah itu disebut negeri Israel (I Sam.
13:19).
Tanah Palestina panjangnya kira-kira 242 km dan Dan ke
Bersyeba (Utara-Selatan) dan lebarnya 160 km dari Laut Tengah
ke sungai Yordan (Timur - Barat). Negeri Palestina terbagi dalam
empat daerah utama yang membujur dari Utara ke Selatan, yaitu
dataran pantai, daerah perbukitan tengah, cela Yordan dan
dataran tinggi trans Yordania. Wilayahnya terbagi atas: daerah
Galilea di Utara, Samaria di daerah Tengah - Utara Palestina,
Yehuda di bagian Selatan-Tengah Palestina, dataran Negev
(padang rumput kering) di Selatan, dan semenanjung Sinai yang
membentuk perintang besar antara Palestina dan Mesir.
KANONISASI KITAB PL
Sebenarnya kata "kanon" tidak ada dalam Alkitab, namun
akar kata kanon terdapat dalam I Raj. 14:15, Ayub 14:15, yaitu
dari kata "qaneh", artinya gelagah. Gelagah ini biasanya
digunakan sebagai alat pengukur. Sehingga Kanonisasi Kitab
Perjanjian Lama menunjuk pada kitab-kitab yang diilhamkan
Allah memiliki otoritas tertinggi untuk iman dan praktek
keagamaan bagi masyarakat Ibrani, selanjutnya menjadi ukuran
atau standar yang dipakai untuk menilai kitab-kitab sejarah,
tradisi dan ajaran agama yang ditulis belakangan.
Proses Pembentukan Kanon PL
Memang tidak ada informasi yang jelas tentang proses
pembentukan Kanon Kitab Perjanjian Lama, namun secara garis
besar, proses pembentukan kanon kitab Perjanjian Lama dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. "Ucapan yang berotoritas". Pada mulanya penyataan Allah
kepada umat Ibrani dalam kebanyakan kasus disampaikan
dengan lisan. Misalnya: perkataan "beginilah firman Tuhan
dan dengarlah firman Tuhan" (Ul. 5:1; Yeh. 5:5). Ucapan-
uacapan yang berwenang ini diteruskan kepada generasi-
generasi berikutnya sebagai "Firman Tuhan" dalam bentuk
tradisi lisan (bnd. Yes. 48:17).
2. Dokumen-dokumen tertulis yang resmi. Suatu perkataan,
ucapan yang berotoritas yang diilhamkan oleh Allah dicatat
dan dipelihara untuk masyarakat Ibrani dalam bentuk tulisan
(Kel. 34:3-4).
3. Mengumpulkan dokumen-dokumen. Proses pengumpulan
kitab Perjanjian Lama memerlukan waktu yang lama. Hal ini
disebabkan sebab proses penulisan kitab Perjanjian Lama
yang dilakukan kira-kira 1000 tahun dan ditulis diberbagai
tempat yang berbeda.
4. Menyortir dokumen-dokumen tertulis dan menetapkan kanon.
Kira-kira ada empat periode penting dalam sejarah Perjanjian
Lama ketika penyortiran dokumen-dokumen dan penetapan
sebuah kanon yaitu penting sekali bagi keagamaan
masyarakat Ibrani: a). Selama pengalaman di Sinai sesudah
peristiwa keluaran; b). Selama perlihan dari teokrasi ke
monarki di Israel; c). Pada masa keruntuhan Yerusalem dan
sesuadah itu pembuangan ke Babel, dan; d). Sebagai bagian
dari pembaharuan di bawah pimpinan Ezra (ahli kitab),
Nehemia (gubernur), pada masa pasca pembuangan di
Yerusalem.
Kriteria Penyaringan Kanon
Ada beberapa kriteria yang dipakai dalam proses
penyaringan guna menetapkan kanon Perjanijian Lama, yaitu:
1. Sifat ilham ilahi yang hakiki dan otoritas yang dapat dikenal
oleh para pemimpin keagamaan masyarakat Ibrani melalui
penerangan oleh Roh kudus. Misalnya, penyataan langsung
dari Roh Allah dalam kasus Musa dan ketujuh puluh nabi
dalam Bil. 11:16-30, dan penggenapan perkataan ilahi,
seperti dalam Yer. 28:9; 44:28).
2. Siapa penulisnya merupakan satu faktor penting dalam
menilai kitab-kitab untuk kanonitas. Pada umumnya, orang-
orang yang menulis kitab-kitab yang terhimpun dalam kanon
Ibrani menduduki jabatan kepemimpinan yang ditunjuk oleh
Allah seperti pemberian hukum, nabi, raja dan imam.
3. Isi tiap-tiap kitab diteliti sehubungan dengan konsistensi
internal dan pengajarannya dan kesatuan menyeluruh dari
tema dan berita dengan pengalaman perjanjian yang tersurat
dalam kitab-kitab lain yang diakui sebagai "firman Tuhan".
4. pemakaian dokumen-dokumen atau kitab-kitab tertentu oleh
masyarakat Ibrani tidak dapat diragukan lagi telah
mempengaruhi penyaringan kanon. Kitab-kitab yang dibaca,
dipelajari, disalin dan ditaati oleh umat Israel selanjutnya
diakui sebagai kanon.
Pada hakekatnya, kita harus menerima bahwa Roh Kudus
yang sama mengilhami penulis-penulis manusia untuk menulis
kitab-kitab itu, juga telah membimbing para pemimpin Ibrani
selama proses penyaringan kanon.
Pembagian Kitab Perjanjian Lama
Dalam Yudaisme, Alkitab Ibrani dikenal dengan sebutan
''tanakh", di dalamnya mencerminkan tiga bagian dari Perjanjian
Lama, yaitu: 'T' untuk Torah atau Taurat, 'N' untuk Nebiim atau
nabi-nabi, dan 'K' untuk ketubim atau tulisan-tulisan.
Pengelompokkan ini telah ada sejak abad ke-II sM. Hal ini
dijelaskan dalam prolog Ben Sirakh dan Talmud Babelonia (Baba
Bahtra 14b - 15a) serta tokokh-tokoh Yahudi dan Kristen selama
empat abad pertama sesudah Kristus, yaitu Philo, Yosefus,
Melito, Tertulianus, Origenes, Eusebius, Hieronimus dan
Agustinus.
Kitab Suci umat Ibrani hanya berjumlah 24 kitab bukan 39
kitab. Hal ini disebab kan dalam Kitab Suci umat Ibrani, kitab
Samuel, Raja-raja, Tawarikh, Ezra - Nehemia dianggap satu
kitab. sedang 12 kitab nabi kecil dipandang sebagai kitab
kedua belas Nabi yang menyatu. Di bawah ini akan dijelaskan
pembagian kanon Perjanjian Lama Yahudi dan Kristen:
TANAK KATOLIK ROMA
DAN ORTODOKS
PROTESTAN
Torah Pentateukh Pentateukh
1. Bereshith
(Kejadian)
2. Shemoth
(Keluaran)
3. Wayiqra
(Imamat)
4. Bemidbar
1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan
1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan
(Bilangan)
5. Debarim
(Ulangan)
Nevi'im (Nabi
Awal)
6. Yosua
7. Shofetim
(Hakim-hakim
8. Samuel
9. Melakim (Raj-
raja)
10. Yesaya
11. Yeremia
12. Yehezkiel
13. Tereasar (Dua
belas)
Hosea
Yoel
Amos
Obaja
Yunus
Mikha
Nahum
Habakuk
Zefanya
Hagai
Zakharia
Maleakhi
Sejarah
6. Yosua
7. Hakim-hakim
8. Rut
9 - 10. I & II
Samuel
11-12. I & II Raja-
raja
13-14. I & II
Tawarikh
15-16. Ezra dan
Nehemia
17. Tobit
18. Yudit
19. Ester,
termasuk
tambahan
pada kitab
Ester
Syair dan
Kebijaksanaan
20. Ayub
21. Mazmur
22. Amsal
23. Pengkhotbah
24. Kidung Agung
25. Kebijaksaan
Salomo
26. Eklesiastikus
(Kebijaksanaan
Sejarah
9. Yosua
10. Hakim-hakim
11. Rut
12. I & II Samuel
13. I & II Raja-
raja
14. I & II
Tawarikh
15 - 16. Ezra dan
Nehemia
17. Ester
Syair dan Hikmat
18. Ayub
19. Mazmur
20. Amsal
21. Pengkhotbah
22. Kidung Agung
Yesus bin
Sirakh)
Ketu'bim
14. Tehilim
(Mazmur)
15. Ayub
16. Mishle (Amsal)
17. Rut
18. Shir Hashirim
(Kidung Agung)
19. Kohelet
(Pengkhotbah)
20. Ekah
(Ratapan)
21. Ester
22. Daniel
23. Ezra-Nehemia
24. Dibre Hayamin
(Tawarikh)
Nabi-nabi
27. Yesaya
28. Yeremia
29. Ratapan
30. Barukh,
termasuk surat
nabi Yeremia
31. Yehezkiel
32. Daniel termasuk
tambahan pada
kitab Daniel,
Susana, Lagu
Pujian Ketiga
Pemuda, Dewa
Bel dan Naga.
33. Hosea
34. Yoel
35. Amos
36. Obaja
37. Yunus
38. Mikha
39. Nahum
40. Habakuk
41. Zefanya
42. Hagai
43. Zakharia
44. Maleakhi
45. I Makabe
46. II Makabe
Nabi-nabi
23. Yesaya
24. Yeremia
25. Ratapan
26. Yehezkiel
27. Daniel
28. Hosea
29. Yoel
30. Amos
31. Obaja
32. Yunus
33. Mikha
34. Nahum
35. Habakuk
36. Zefanya
37. Hagai
38. Zakharia
39. Maleakhi
Introduksi Kitab-Kitab Perjanjian Lama
(Kitab-kitab Pentateukh)
Para rabi Yahudi dalam Septuaginta menyebut lima kitab
pertama Perjanjian Lama dengan sebutan "Penta - Teuchos"
(Pentateukh) atau lima jilid kitab". sedang dalam frase Ibrani
"lima kitab" itu disebut "mashab chomeshi torah" artinya "lima
per-lima jilid Torah" yang terdiri atas lima bagian. Pemahaman ini
penting mengingat banyak pakar Alkitab yang tidak mengakui
kesatuan Pentateukh).
Pentateukh juga diindikasikan sebagai Torah sebab
berjanra hukum, perintah, peraturan dan petunjuk yang
diintruksikan Tuhan melalui Musa kepada umat Israel. Kata
Torah berasal dari akar kata 'yarah', artinya 'mengarah atau
membidik ke arah' yang tepat. Seluruh Pentateukh ditulis oleh
Musa. Kecuali mungkin bagian terakhir kitab Ulangan yang
mengisahkan kematian Musa.
Pentateukh merupakan basis seluruh penjelasan akan
kedatangan Mesias yang diurapi Allah dan diutus di kalangan
bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, Israel boleh dikatakan:
"Penjaga Perjanjian Lama, sebagai penerima perjanjian dan
sebagai kanal Mesias (The Channel of Messiah, Rm. 3:2; 9:1-5).
Intisari Kitab Pentateukh, yaitu:
KEJADIAN Permulaan Pemilihan Bangsa
KELUARAN Penebusan Penebusan
Bangsa
IMAMAT Kekudusan Pengudusan
Bangsa
BILANGAN Pengembaraan Pengarahan
Bangsa
ULANGAN Pengulangan Pengajaran
Bangsa
Kitab Kejadian
1. Judul Kitab
Ada beberapa judul yang biasa dipakai untuk menyebut kitab
Kejadian, di antaranya:
Tanakh menyebutnya b'eresyith "pada mulanya".
Talmud menyebutnya Book of Creation of the World
"Kejadian" diambil dari Genesos dari Septuaginta
menunjuk pada "awal terjadinya segala sesuatu di langit
dan di bumi".
2. Tahun Penulisan
Kitab ini ditulis oleh Musa dalam perjalanan bangsa Israel dari
tanah Mesir ke tanah perjanjian, yaitu antara th. 1450 - 1410
sM.
3. Tema
Tema kitab Kejadian yaitu berkat dan kutuk. Artinya setiap
orang Israel yang taat akan menerima berkat dari Allah, namun
bagi mereka yang tidak taat akan menerima hukuman dari
Allah. Hal ini nyata dalam kehidupan Adam dan Hawa,
bahkan Nuh.
4. Tujuan
Tujuan penulisan kitab Kejadian yaitu untuk memberi
survei hostoris singkat tentang wahyu Allah sejak awal
penciptaan hingga orang Israel dibawa ke Mesir untuk
dibentuk menjadi bangsa yang Theokrasi.
5. Tokoh Penting
Adam dan Hawa, Nuh, Abraham dan Sara, Ishak, Yakub
yang kemudian disebut Israel dan Musa sebagai mediator
umat-Nya.
6. Ide Kunci
Pada mulanya: Kejadian bukan hanya sekedar asal mula,
(beginning) namun juga merupakan kitab "semua asal mula
atau asal usul segala sesuatu". Dimana dalam kitab ini
diceritakan asal usul semua yang ada: penciptaan alam
semesta, penciptaan manusia, kejatuhan manusia dalam
dosa, janji penyelamatan Allah, dll.
7. Garis Besar
a. Riwayat manusia dan keturunannya (psl 1-11).
Penciptaan manusia pertama: Adam
Kejatuhan manusia pertama: Hawa
26
Kematian manusia pertama: Habel
Hukuman manusia pertama: Air bah
Penyebaran manusia pertama: Menara Babel
b. Riwayat manusia dan kovanan-Nya (psl. 12-36).
Bapak leluhur: Abraham, Ishak dan Yakub.
Berkat kovenan: Tanah, bangsa, nama
c. Riwayat Manusia dan kekuasaannya (psl. 37-50).
Kerajaan Mesir di bawah pemerintahan Firaun
Keselamatan Mesir di bawah pemerintahan Yusuf
8. Pasal dan Ayat Mas
Pasal penting dalam ayat ini, yaitu:
Pasal 12, sedang ayat penting dalam kitab Kejadian
yaitu 3:15; 12:3.
Kitab Keluaran
1. Judul
Ada beberapa sebutan untuk menyebut kitab Keluaran, di
antaranya:
Tanakh menyebutnya me'elleh shemoth, artinya inilah
nama-nama", diambil dari kata pertama kitab Keluaran.
Septuaginta menyebutnya exodus, artinya "keluar" (exit)
atau "keluaran" atau "berangkat pergi" (departure).
2. Tujuan
memberi penjelasan mengenai kehidupan bangsa
Israel di Mesir dan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari
tanah Mesir.
memberi penjelasan mengenai pertolongan Tuhan
kepada bangsa Israel.
3. Tema
Tema kitab Keluaran, yaitu Penebusan. Penebusan ini
nyata pada saat: pertama: tulah kesepuluh. Dimana
malaikat maut melewati rumah orang Ibrani sebab
adanya percikan darah domba di ambang pintu, sehigga
semua anak sulung orang Ibrani tidak mati. Kedua,
pembebasan dari perudakan di Mesir. Dimana sesudah
hampir 400 tahun bangsa Israel diperbudak di Mesir,
mereka dibebaskan untuk kembali, dibawa ke tanah
perjanjian.
4. Tokoh Penting
Tokoh penting dalam kitab Keluaran, yaitu Musa. Musa
(Mosheh) artinya "diangkat dari air". Musa merupakan anak
laki-laki orang Ibrani. sebab takut dibunuh orang Mesir,
ibunya menghanyutkannya ke sungai Nil. Akhirnya ia
ditemukan oleh putri Firaun dan diangkat sebagai anak.
sesudah dewasa ia dipanggil untuk membawa bangsa Israel
keluar dari tanah Mesir ke tanah Kanaan. Panggilah itu nyata
dari penglihatan akan semak yang menyala-nyala. Kemusian
28
jadilah Musa pemimpin bangsa Israel dan membawa mereka
keluar dari tanah Mesir.
5. Peristiwa penting
Ada beberapa peristiwa penting terjadi pada saat bangsa
Israel keluar dari Mesir. Salah satunya: peristiwa musa
menerima hukum-hukum Taurat di gunung Sinai (Kel. 19:4-7).
Penerimaan hukum Taurat ini penting sebab hukum Taurat
merupakan pedoman bagi kehidupan bangsa Israel pada
zaman itu. Baik itu dalam ibadah, kehidupan sehari-hari
maupun dalam peradilan.
6. Pasal dan Ayat Mas
Pasal penting dalam kitab ini, yaitu psl 12 - 14 yang mencatat
penebusan Israel dari perbudakan dalam penggenapan janji
Allah. Ayat-ayat pentingnya, yaitu 6:6; 19:5-6.
7. Garis Besar
a. Penebusan dari Mesir (psl. 1 - 18)
Dalam perbudakan / perhambaan (psl. 1 - 11)
Keluar dari perbudakan / penebusan (psl. 12 - 14)
Perjalanan ke Sinai / peribadahan (psl. 15-18)
b. Penyataan Allah (psl. 19 - 40)
Pemberian hukum (psl. 19 - 40)
Pendirian tabernakel (psl. 25 - 31)
Palanggaran hukum (psl. 32-34)
Pembangunan tabernakel (psl. 35 - 40)
Kitab Imamat
1. Judul
Ada beberapa sebutan untuk kitab Imamat, yaitu:
Tanakh menamainya we'yiqra, artinya 'and he called' atau
dan ia telah memanggil'.
Talmud menyebutnya torat kohanim (Law of the Priest)
artinya 'hukum dan imam'.
Septuaginta memberi judul Levitikon dari ungkapan
Levitical Biblion, diterjemahkan: "Kitab Imamat Orang
Lewi" atau singkatnya: 'Kitab Imamat'.
2. Tujuan
Kitab Imamat ditulis dengan tujuan untuk mendidik bangsa
Israel:
Bagaimana menyembah dan berjalan bersama Allah.
Bagaimana bangsa Israel telah memenuhi panggilan
Allah sebagai suatu banga para imam.
3. Tema
Tema utama kitab Imamat yaitu Kekudusan. Hal ini nyata
dalam pasal 11:45 yang berisi perintah supaya bangsa Israel
hidup dalam kekudusan sebab Allah yaitu kudus. Hal ini
penting sebab Allah yang kudus hanya dapat dihampiri
dalam kekudusan.
4. Pasal dan ayat mas
Pasal penting dalam kitab ini, yaitu pasal 16 yang berkaitan
dengan "Hari Pendamaian" (yom kippur / the day of
30
Atonement) yang menjadi hari terpenting dalam kalender
Ibrani sebab hari itu merupakan satu-satunya hari dimana
imam besar diperbolehkan masuk di dalam ruang mahakudus
untuk mempersembahkan korban penebusan bagi umat.
"sebab pada hari itu harus diadakan pendamaian bagi kalian
untuk mentahirkan kalian. Kalian akan ditahirkan dari segala
dosa kalian di hadapan Tuhan" (Ibr. 16:30).
5. Garis Besar
a. Hukum persembahan (psl. 1 - 17)
Hukum pengorbanan (1 - 7)
Hukum para imam (psl. 8 - 10)
Hukum pentahiran (psl. 11 - 15)
Hukum pendamaian (psl. 16-17)
b. Hukum Pengudusan (psl. 18 - 27)
Pengudusan bagi umat Allah (psl. 18-20)
Pengudusan bagi kaum Lewi (psl. 21 - 22)
Pengudusan bagi tata ibadah (psl. 23 - 24)
Pengudusan dalam tanah Kanaan (psl. 25 - 26)
Pengudusan melalui nazar (psl. 27
Kitab Bilangan
1. Judul
Ada beberapa sebutan untuk kitab Bilangan, yaitu:
Tanakh menamainya bemidvar, in the wilderness, artinya
(di gurun) atau 'wayedaver, and 'he spoke' (dan ia
berkata).
Septuaginta menyebutnya arithmoi, numbers yang oleh
Vulgata diterjemahkan Numeri atau bilangan.
2. Periode penulisan
Kitab Bilangan ini ditulis antara tahun 1450 - 1410 sM.
3. Tujuan
Tujuan kitab Bilangan, yaitu:
Untuk mengajar kita bahwa Tuhan tidak pernah
membiarkan dan meninggalkan umat-Nya walau umat-
Nya sering memberontak kepada-Nya.
Peringatan bagi kita bahwa saat menghadapi pencobaan
dan persoalan iman dapat menjadi lemah.
4. Tema
Tema utama kitab Bilangan yaitu : Pemeliharaan Allah yang
tak putus-putusnya terhadap umat-Nya. Memang judul kitab
ini diambil dari menghitung bilangan orang Israel, namun
sebenarnya kitab ini lebih menjelaskan tentang
pengemabaraan bangsa Israel di padang gurun selama
hampir 40 tahun. Dimana Allah terus memenuhi kebutuhan
mereka, sekalipun umat terus menerus memberontak dan
melanggar hukum-hukum-Nya. Allah menyediakan mereka
air, manna dan makanan permintaan ketika mereka
32
bersungut-sungut dan memberontak melawan Allah, dengan
sabar Ia menangani masalah mereka.
5. Pasal dan Ayat Mas
Pasal penting dalam kitab ini, yaitu pasal 14. Pasal ini
menjelaskan tentang titik balik bangsa yang sedang krisis,
dimana mereka telah menerima laporan buruk dari kedua-
belas mata-mata, kecuali Yosua dan Kaleb, bangsa Israel
menolak masuk untuk menaklukkan tanah Kanaan, tanah
perjanjian.
6. Tokoh Kunci
Tokoh-tokoh penting dalam kitab Bilangan, yaitu: Musa,
Harun, Yosua, Kaleb dan Balak.
7. Garis Besar
a. Persiapan generasi lama di Sinai ((psl. 1 - 10)
Posisi dan sensus umat (psl. 1 - 4)
Perintah Allah dan pengudusan umat (psl. 5 - 9)
`Perjalanan ziarah ke tanah perjanjian (9 - 10)
b. Kegagalan Generasi Lama di Moab (psl. 11 - 25)
Ketidak-puasan di sepanjang perjanan (11 - 12)
Ketidak-percayaan di Kadesy-Barnea (psl. 13 - 14)
Kedisiplinan dari Tuhan (psl. 15 25).
c. Persiapan generasi baru (psl. 26 - 36)
Pengaturan ulang bangsa Israel (psl. 26 - 27)
Peraturan persembahan dan nazar (psl. 28 - 30)
Pembagian wilayah tanah perjanjian (psl. 31 - 36)
Kitab Ulangan
1. Judul
Ada beberapa sebutan untuk kitab Ulangan ini, yaitu:
Tanakh menamainya: elleb baddevarim atau devarim,
artinya "inilah preambul pidato... ". Kaum Yahudi juga
menyebut mishnebat torah, repetition / copy of the law,
artinya "pengulangan atau salinan hukum".
Septuaginta memberi judul: to deuteronomion touto, pada
versi Inggris, deuteronomy disalah-artikan sebagai
'pemberian hukum ke dua' (second law-giving), yang
seharusnya diterjemahkan 'salinan hukum ini'.
Ulangan, mempunyai arti yang lebih akurat, artinya hukum
yang sama ditinjau, dikembangkan dan diulang dari
hukum yang aslinya diberikan di Sinai.
2. Tujuan
Untuk menegaskan akan kebutuhan hakiki bagi anak-
anak untuk mengasihi dan menaati Allah.
Untuk mengingatkan kembali kepada kita tentang hukum-
hukum Allah dan penyertaan-Nya kepada orang percaya.
3. Tema
Tema kitab ini, yaitu awasilah dirimu agar tidak alpa. Dimana
sesudah mengembara 40 tahun di padang gurun, umat Israel
segera masuk tanah perjanjian. Sebelum mereka masuk,
mereka perlu diingatkan kembali tentang semua hal yang
telah Allah kerjakan bagi mereka dan tentang hukum Allah
yang kudus dan hakiki bagi mereka agar dapat menjaga
keadaan mereka di tempat itu dan berfungsi sebagai umat
Allah yang kudus dan imamat yang rajani (Ul. 4:18).
4. Pasal dan Ayat Penting
Pasal kunci dalam kitab ini, yaitu: psl. 27 yang menjelaskan
inagurasi kovenan Israel dan psl. 28-30 menjelaskan janji
mengenai Israel di masa dekat, yaitu berkat bagi mereka
yang taat dan laknat bagi mereka yang tidak taat.
Ayat kunci dalam kitab inni, yaitu: psl. 6:4-5. Ayat-ayat ini
merupakan kunci iman kaum Yahudi hingga saat ini.
Sehingga perlu terus dihafalkan dan dilafalkan seumur hidup,
agar mereka tidak menyembah ilah-ilah lain. Referensi
pendukungnya: 10:12-13; 30:19-20.
5. Garis Besar
a. Pengulangan pidato Musa (psl. 1)
b. Sejarah bangsa Israel sebagai peringatan (psl. 2 - 4)
c. Anjuran percaya satu Tuhan dan ajaran mengasihi Allah
(psl. 5 - 11)
d. Norma tata ibadah dan nazar umat percaya (psl. 12 - 26)
e. Peringatan: berkat dan kutuk (psl. 27 - 28)
f. Ajakan untuk mereformasi kovenan dan hidup bagi Tuhan
(psl. 29 - 30)
g. Nyanyian Musa serta pelantikan Yosua (psl. 31 - 32)
Introduksi Kitab-Kitab Perjanjian Lama
Kitab - Kitab Sejarah
sesudah mempelajari kitab Pentateukh, sekarang kita akan
memepelajari kitab-kitab sejarah yang menjelaskan tentang
kehidupan umat Allah sejak menduduki tanah perjanjian sampai
mereka dideportasi dan kehilangan tanah pusaka leluhur mereka.
Secara lebih terinci kitab-kitab itu menceritakan: kisah tentang
penaklukkan dan pendudukan Kanaan, kepemimpinan hakim-
hakim, berdirinya pemerintahan raja-raja, pecahnya Israel
menjadi kerajaan Utara dan Selatan, jatuhnya kerajaan Utara
kepada Aram, kerajaan Selatan dideportasi ke Babilon dan
kembalinya Yerusalem di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia.
Kitab-kitab ini mempersiapkan kita untuk kedatangan
Kristus, Sang Mesias. Hal ini dijelaskan dalam diagram berikut
ini:
Kitab Sejarah Peristiwa Persiapan Mesianik
Yosua
Hakim-Hakim
Rut
Pendudukan tanah
Penindasan Bangsa
Theokrasi:
Mencakup periode
ketika Israel dipimpin
Allah (1405-1043 sM)
I Samuel
II Samuel
I Raja-raja 1-10
I Raja-raja 11-22
II Raja-raja 1-17
Stabilitasi bangsa
Ekspansi bangsa
Pemulihan bangsa
Perpecahan bangsa
Kemerosotan
Kerajaan Utara
Monarki:
Menelusuri monarki
Israel dari berdirinya
hingga
kehancurannya (586
sM)
36
II Raja-raja 18-25
I Tawarikh
II Tawarikh
Deportasi
Kerajaan Selatan
Persiapan Bait Suci
Penghancuran Bait
Suci
Ezra
Nehemia
Ester
Rekonstruksi Bait
Suci
Rekonstruksi Kota
Suci
Perlindungan Israel
Reformasi:
Menjabarkan
pulangnya
.................. sesudah
70 tahun
pengasingan (605-
536)
Kitab Yosua
1. Judul
Tidak seperti kitab Pentateukh, kitab Yosua ini mengambil
nama tokoh utamanya, yaitu Yosua, anak Nun, abdi Musa
sebagai judul kitab. Memang dalam kitab ini diceritakan
bagaimana Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah
Kanaan.
2. Tokoh Yosua
Yosua bin Nun dari suku Yusuf (separuh keturunan Efraim)
yang lahir di Mesir. Pada waktu bangsa Israel keluar dari
tanah Mesir, ia masih sangat muda (Kel. 33:11). Nama asli
Yosua sebenarnya yaitu Hosea (Bil. 13:8; Ul. 32:44) yang
berarti "keselamatan". Namun, selama pengembaraan di
padang belantara Musa mengubah namanya menjadi
Yehoshua (disingkat Yosua) artinya "Yahwe keselamatan
atau selamat Yahwe" (Bil. 13:16). Hal ini mengantisipasi
nubuatan dan peringatan bagi Yosua dan Kaleb dan para
pengintai lainnya bahwa jika mereka mengalahkan musuh
dan merebut tanah itu, semuanya yaitu pertolongan Tuhan,
bukan sebab kemampuan sama sekali.
Yosua dipilih Musa menjadi pembantu pribadinya dan hadir di
Gunung waktu Musa menerima Taurat (Kel. 24:13, dst.). Ia
menjadi penjaga kemah pertemuan ketika Musa bertemu
dengan Allah (Kel. 33:11). Yosua diberi tanggung jawab untuk
memimpin bala tentara Israel waktu mengalahkan bangsa
Amalek dan Rafidim (Kel. 17:9). Kemudian ia menjadi salah
satu pengintai tanah Kanaan (Bil. 13:8). Akhirnya ia diangkat
menjadi pemimpin bangsa Israel menggantikan Musa (Ul.
31:14-15). Yosua yaitu salah satu perancang strategi
terbaik dalam sejarah. Walau begitu, keberhasilan bangsa
Israel menaklukkan tanah Kanaan sebenarnya berasal dari
YESHUA panglima perang yang sesungguhnya, Juru selamat
satu-satunya. Jadi Tuhan sendirilah yang membawa
kemenangan bagi Israel dan mengalahkan musuh-musuh
Israel serta memberi tanah itu kepada mereka.
3. Penulis dan Tahun Penulisan
Sebenarnya tidak ada bukti yang menjelaskan siapa penulis
kitab Yosua. Dalam psl. 8:32 dijelaskan bahwa pada masa
kehidupan Yosua ada kegiatan-kegiatan tulis menulis di
antara umat Israel. Oleh sebab itu, sangat memungkinkan
jika kitab Yosua merupakan catatan sejarah pada zaman
itu. Dan kemungkinan ditulis oleh Yosua sendiri. sedang
tahun penulisannya, sebab ditulis pada zaman kehidupan
Yosua maka tahun penulisannya, yaitu: 1400-1370 sM.
4. Tujuan
Tujan Kitab yosua, yaitu menunjukkan kesetiaan Allah
terhadap kovenan-Nya (bnd. Kej. 15:18; Yos. 1:2-6; 21:43-
45). Peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam kitab Yosua
merupakan yang terpilih untuk menyatakan campur tangan
Allah secara khusus demi umat-Nya untuk melawan segala
macam rintangan yang hebat. Penggenapan janji-janji Allah
yang terbukti pada kelahiran Ishak melalui Abraham dan Sara
dan dalam pemilihan tanah serta kota-kota perlindungannya
yaitu pekerjaan Allah yang tak seorang pun dapat
melakukan sekuat apapun orang itu (lih. Rom. 4).
5. Tema
Tema kitab Yosua yaitu pendudukan, penaklukkan dan
pembagian tanah perjanjian. Tema ini sesuai dengan isi kitab
Yosuam, dimana dalam bab ini diceritakan bagaimana Israel
masuk ke tanah Kanaan. Mereka berhasil kembali merebut
tanah perjanjian yang telah dijanjikan kepada mereka sejak
zaman Abraham. sesudah semua dapat direbut kembali maka
tanah ini dibagi sesuai perintah Tuhan kepada ke-12
suku Israel.
39
6. Garis Besar
a. Penyerbuan Kanaan (psl. 1-5)
Pengangkatan Yosua (psl. 1)
Perintah Yosua kepada Israel
Penghancuran Yerikho (psl. 2)
Penyerangan Yordan (psl. 3
Peringatan dan pentahiran Israel (psl. 4-5)
b. Penaklukkan Kanaan (psl. 1)
Persyaratan kemenangan (psl. 5)
Penyerbuan di pusat ( psl. 6-8)
Penyerbuan di Selatan (psl. 9-19)
Penyerbuan di Utara (psl. 11)
Peninjauan kemenangan (psl. 12)
c. Pembagian Kanaan (ps. 13-31)
Untuk Ruben, Gad, Manaseh (psl. 13)
Untuk Yehuda dan Kaleb (psl. 14-15)
Untuk sembilan suku, Efraim (psl. 16-18)
Untuk Yosua (psl. 19)
Untuk kubu-kubu perlindungan (psl. 20)
Untuk kota-kota kaum Lewi (psl. 21)
d. Penutup (psl. 22-24)
Pertikaian mezbah (psl. 22)
Pidato Yosua (psl. 23)
Pesan terakhir Yosua (psl. 24)
Kitab Hakim-hakim
1. Judul
Judul kitab ini diambil dari gelar yang dianugerahkan kepada
para pemimmpin bangsa yang diangkat Tuhan untuk
memerintah bangsa Israel antara zaman Yosua hingga
zaman monarkhi. Shophetim (pada hakim, penguasa,
pembebas atau penyelamat) bertugas memperhatikan
kerohanian bangsa yang diatur sesuai hukum-hukum Tuhan.
Seorang hakim tidak hanya memelihara hukum keadilan dan
menyelesaikan pertikaian, melainkan juga membebaskan
mereka dari penindasan musuh. Judul kitab ini diekspresikan
paling indah, sebagai berikut: "Maka Tuhan membangkitkan
hakim-hakim yang melepaskan mereka dari tangan para
penjarah mereka (2:16).
2. Penulis
Sulit untuk menentukan siapa penulis kitab Hakim-hakim
sebab tidak ada informasi yang jelas. Namun menurut tradisi
orang Yahudi penulis kitab Hakim-hakim yaitu Samuel hal
ini didasarkan pada kehidupan Samuel yang sering mencatat
peristiwa dan tokoh penting dalam kehidupan bangsa Israel
pada waktu itu (bnd. 1 Taw. 29:29).
3. Tahun Penulisan
sebab ditulis oleh Samuel, kemungkinan besar tahun
penulisannya antara tahun 1050-1000 sM.
41
4. Tujuan
Tujuan kitab Hakim-hakim, yaitu:
Untuk memperingatkan bangsa Israel bahwa ketaata akan
membawa berkat, sebaliknya ketidak-taatan akan
mengundang disiplin dan hukuman Allah.
Mengingatkan bangsa Israel bahwa ketika umat Allah
berbalik kepada Tuhan, berseru kepada-Nya dan
bertobat, Allah yang setia panjang sabar dan penuh belas
kasihan, meresponinya dengan penyelamatan.
5. Tema
Tema-tema kitab Hakim-hakim, yaitu kegagalan bangsa
Israel. Nuansa kegagalan ini nampak jika kita
membandingkan antara kitab Yosua dan Hakim-hakim.
Dimana Israel berangkat dari pekik kemenangan dan ratap
kegagalan, dari kebebasan ke penindasan, dari kemajuan ke
kemerosotan.
Memang secara historikal, kitab ini menjembatani jenjang
antara zaman Yosua dan zaman Samuel dan mengawali
bentuk monarkhi di bawah kepemimpinan raja Daud. Namun
kitab ini mencatat tujuh siklus pelanggaran - penindasan -
permohonan - pembebasan. Dari ketidak-taatan pertama
(sejak zaman Adam), sejarah memaparkan pola kehidupan
manusia berdosa sampai ke periode Hakim-hakim, dimana
setiap pelanggaran hukum (2:11-13) senantiasa diikuti oleh
penghukuman melalui tangan musuh (2:14-15), sehingga
terhimpit dan terhukum untuk berteriak minta tolong agar
Tuhan melepaskan mereka dari malapetaka itu (2:15), dan
sebab kesetiaan Allah kepada kovenan-Nya, Tuhan
mengangkat Hakim-hakim untuk melepaskan mereka dari
hukuman (2:16). Itu sebabnya kitab ini juga melangsir
kebutuhan sebuah monarkhi di Israel. Ketika setiap
melakukan setiap apa yang benar menurut pandangan sendiri
(21:15), maka itulah pertanda betapa bangsa ini
membutuhkan kepemimpinan seorang raja yang adil.
Secara doktrinal, kitab Hakim-hakim menarik perhatian kita
kepada sejumlah kebenaran esensial, yaitu peringatan Tuhan
supaya orang Israel hidup dalam kehendak-Nya da juga
providensia-Nya yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.
6. Tokoh Kunci
Tokoh-tokoh penting dalam kitab Hakim-hakim, yaitu: Barak,
Debora, Gideon, Yefta, Simson. Kendati nama Debora lebih
mengemuka, namun yang tercantum dalam deretan orang
beriman justru Barak (Ibr. 11:32).
7. Garis Besar
a. Kemerosotan Hakim-hakim (psl. 1-2)
Kondisi politik (psl. 1-2)
Kondisi rohani (psl. 2)
b. Penugasan Hakim-hakim (psl. 3-16)
Pembebasan dari Mesopotamia oleh Otniel (psl. 3)
Pembebasan dari Moab dan Elihud
Pembebasan dari Filistin oleh Samgar
Pembebasan dari Kanaan oleh Debora (psl. 4-5)
Pembebasan dari Midian oleh Gideon (psl. 6-8)
Pelayanan dan perilaku Abimelek (psl. 9)
Pelayanan hakim Tola ( psl. 10)
Pelayanan hakim Yair
Pembebasan dari Amon oleh Yefta (psl. 11-12)
Pelayanan hakim Ebzan
Pelayanan hakim Elon
Pelayanan hakim Abdon
Pembebasan dari Filistin oleh Simson (13-16))
c. Kemurtadan Hakim-hakim (psl. 17-21)
Mikha dan migrasi suku Dan (psl. 17-18)
Memerangi Benyamin (psl. 19-21)
Kitab Rut
1. Judul
Nama kitab ini diambil dari salah satu tokoh utamanya, yaitu
Rut. Rut yaitu seorang muda dari Moab. Ia yaitu menanti
Naomi. Ia merupakan nenek buyut Daud dan salah satu
wanita yang masuk dalam silsilah Mesias (Mat. 1:5).
2. Penulis
Seperti penulis kitab Hakim-hakim, penulis kitab ini juga tidak
jelas. Namun tradisi Yahudi menunjuk Samuel sebagai
44
penulisnya. Walaupun demikian, sebenarnya pendapat
ini tidak memiliki alasan yang kuat sebab penulis kitab
Rut menyebut Daud, sedang Samuel sudah meninggal
sebelum Daud naik takhta (4:17, 22).
3. Periode penulisan
Kalau kitab Rut ditulis oleh Samuel maka kemungkinan besar
kitab ini ditulis sekitar tahun 1000 sM.
4. Tujuan
Untuk menunjukkan pada orang Yahudi kerinduan Allah
untuk menyelamatkan bangsa-bangsa non-Yahudi.
Untuk menunjukkan pada orang Yahudi bahwa di tengah-
tengah masa kemurtadan orang Israel, ternyata masih
ada orang yang saleh.
5. Tema
Tema kitab Rut yaitu keselamatan bangsa-bangsa. Hal ini
sesuai dengan isi kitab ini sendiri yang menceritakan
bagaimana Allah menyelamatkan Rut, orang Moab.
Walaupun Rut bukan seorang Yahudi namun ia memiliki iman
dan ketaatan yang biasa kepada Allah (lih. 1:16). Ia memiliki
loyalitas, integritas dan cinta murni dalam dalam kelemahan
masa hakim-hakim. Rut yaitu seorang figur iman dan
ketaatan di tengah-tengah kemurtadan umat Allah. Rut telah
membuktikan betapa Allah tetap setia pada kovenan-Nya.
6. Kanonisasi Kitab
Kitab Rut yaitu kitab penting yang harus dibaca pada hari
raya Pentakosta (penuaian gandum), sebagai pertanda
pentingnya tradisi Yahudi dalam narasi ini, sehingga Tanakh
menempatkan kitab Rut di posisi Ketubim (kitab-kitab sakral /
puisi), sedang Talmud menempatkannya sebelum kitab
Mazmur. Versi Inggris dan Indonesia mengikuti pembagian
Septuaginta, menempatkan kitab ini sesudah kitab Hakim-
hakim sebab terindikasi ada latar belakang sejarah. Tradisi ini
diikuti oleh Vulgata dan didukung oleh veri-versi Perjanjian
Lama masa kini.
7. Garis besar dan kerangka kitab
Garis besar kitab Rut, yaitu:
Pasal I Keputusan dan iman Rut
Pasal II Hak dan kewajiban Rut
Pasal III Permohonan Rut
Pasal IV Berkat dan silsilah Rut
Kerangka kitab:
1:1-15 Introduksi
1:6-18 Episode I: Kembalinya Naomi dan keputusan Rut
1:19-22 Interlude: Pulang ke Betlehem
2:1-17 Episode II: Perencanaan Naomi bagi Rut dan
Boas
2:18-22 Interlude: Percakapan antara mertua dan menantu
3:1-15 Episode III: Pelaksanaan rencana Naomi
3:16-18 Interlude: Percakapan antara Naomi dan Rut
46
4:1-12 Episode IV: Kekuatan hukum penebusan Boas
atas Rut
4:13-17 Inklusio
4:18-20 Konfirmasi Mesianik: Silsilah Daud, leluhur Yesus.
I dan II Samuel
1. Judul
Dalam Tanakh, kitab I & II Samuel digabung menjadi satu
kitab. Kedua kitab ini menuliskan sejarah periode awal
kerajaan Israel. Pada awalnya I Samuel mengisahkan tentang
bagaimana munculnya tokoh Samuel sebagai nabi, imam,
dan Hakim, yang kemudian digeser oleh Saul sebagai raja
pertama. sedang II Samuel mempersiapkan
pemerintahan Daud.
Dalam naskah aslinya, kitab Samuel ini hanya satu kitab
namun kemudian dibagi menjadi dua oleh para penerjemah
Septuaginta (LXX). Kemudia pembagian diikuti oleh Jerome
(Vulgata) dan versi-versi modern. Judul kitab ini bervarisi dari
waktu ke waktu, yaitu: kitab kerajaan (LXX), kitab Raja-raja
(Vulgata), dan Samuel (tradisi Ibrani dan sebagian besar
versi-versi modern).
2. Penulis
Identitas penulis tidak jelas diketahui, namun Talmud Yahudi
menyebut Samuel sebagai penulisnya. Meskipun judulnya
diambil dari nama tokohnya, hal itu bukan berarti ia menulis
semua kitab Samuel, sebab kematiannya tercatat dalam I
Samuel 25:1. Bukti internal menyebutkan bahwa Samuel
memang menulis sebuah kitab (I Sam. 10:25). I Tawarikh
29:29 menunjuk Natan dan Gad sebagai penulis peristiwa-
peristiwa yang tercatat dalam kitab Samuel. Rupanya ia
menulis sesudah masa pemerintahan Salomo, sebab I Sam.
27:6 menunjukkan bahwa kerajaan sudah terbagi dua.
3. Periode Penulisan
Kalau memang kitab Samuel ditulis oleh Samuel, Natan dan
Gad maka kemungkinan periode penulisannya sekitar tahun
390 sM, sebab mereka hidup pada zaman itu.
4. Tujuan
memberi penjelasan mengenai keberadaan bangsa
Israel yang hidup dalam masa peralihan, yaitu dari sistem
Theokrasi menjadi sistem Monarkhi.
Mencatat asal usul dinasti Daud.
memberi penjelasan akan kegagalan bangsa Israel
sebagai pelajaran bagi generasi penerus supaya tidak lagi
melakukan kegagalan yang sama seperti pendahulunya.
5. Tema dan Inti Berita
Tema kitab I & II Samuel, yaitu dosa dapat menggeroti
kemenangan menjadi kemalangan. Hal ini nyata dari isi kitab I
& II Samuel. Dimana kegagalan pemimpin dan bangsa untuk
menaati firman Tuhan menyebabkan mereka harus
menghadapi penderitaan dan kemalangan.
Kitab Samuel diawali dengan kelahiran Samuel sebagai hasil
pergumulan doa ibunya. Kata Shemuel berarti 'didengar Allah'
atau 'namanya Allah'. Samuel yaitu hamba Allah yang saleh
yang memimpin bangsa Israel sebagai nabi, imam dan hakim.
Namun kesalehannya tidak cukup mempengaruhi anak-
anaknya adan bangsa Israel untuk setia kepada Allah. Ia
tidak berhasil mempimpin bangsa Israel untuk tetap bertahan
pada pemerintahan Theokrasi. Bangsa Israel menolak sistem
Theokrasi dan meminta seorang raja. Kemudian Allah
memerintahakan Samuel mengurapi Saul sebagai raja
pertama. sebab ketidak-taatannya, Saul ditolak sebagai raja.
Sekali lagi Allah mengutus Samuel mengurapi Daud, seorang
yang berkenan di hati Allah sebagai ganti Saul.
Kitab ini menelusuri masa transisi bangsa Israel dari masa
pemerintahan hakim hingga masa penguasaan raja dan dari
masa Theokrasi menjadi masa Monarkhi. Bani Israel tidak
menghendaki Allah menguasai hidup mereka, sebab mereka
lebih suka melakukan apa yang baik menurut pandangannya
sendiri. Pada intinya, akar dosa manusia sejak mulanya
yaitu melawan pemerintahan Allah sebagai raja atas
mereka.
6. Garis Besar
Garis besar kitab I Samuel
a. Samuel, hakim terakhir (psl. 1-8)
Panggilan Samuel (psl. 1-3)
Pengutusan Samuel (psl. 4-7)
Prihatin Samuel (psl. 8)
b. Saul, raja pertama (psl. 9-15)
Pemilihan atas Saul (psl. 9-12)
Penolakan atas Saul (psl. 13-15)
c. Daud, raja pilihan (psl. 16-31)
Daud sebagai gembala, diurapi (psl. 16)
Daud mengalahkan Goliat, disambut Saul (psl. 17)
Daud sahabat Yonatan, ditolak Saul (psl. 18-19)
Daud sebagai pelarian, diburu Saul (psl. 20-26)
Daud dilindungi Yonatan (20)
Daud dilindungi Ahimelek, Akhis (psl. 21)
Daud dilindungi pasukannya (psl. 22-26)
Daud mencari perlindungan Filistin (psl. 27-31)
Saul mencari petenung di Endor (psl. 28)
Daud diusir dari Filistin (psl. 29)
Daud menghancurkan bangsa Amalek (30)
Saul mangkat (31)
Garis besar kitab II Samuel:
a. Kemenangan Daud (psl. 1-10)
Perayaan raja (psl. 1-5)
Persatuan kerajaan (psl. 5-6)
Perjanjian kerajaan (psl. 7)
Perjuangan raja (psl. 8-10)
b. Pelanggaran Daud (psl. 11)
Perzinahan
Pembunuhan
c. Permasalahan Daud (psl. 12-24)
Urusan keluarga (psl. 12-13)
Urusan kerajaan (psl. 13-24)
Kitab Raja-raja
1. Judul
Aslinya kitab I & II Raja-raja merupakan satu kitab saja sama
seperti kitab Samuel dan kitab Tawarikh. Biasa disebut "Raja-
raja" (Ibrani: Melechim). Judul ini sebenarnya sesuai dengan
isinya sebab kitab ini menelusuri sejarah raja-raja Israel dan
Yehudan dari masa Salomo sampai masa pembuangan di
Babel.
2. Penulis
Penulis kitab Raja-raja ini tidak jelas. Ada yang mengatakan
Yehezkiel, Ezra dan lain-lain. Orang Yahudi mengakui
Yeremia sebagai penulis semua kitab Raja-raja kecuali
bagian terakhir kitab II Raja-raja sebab Yeremia mati di Mesir,
bukan di Babilon (Yer. 43:6-7).
3. Periode Penulisan
Dibebaskannya Yehoakin dari penjara yaitu peristiwa
terakhir yang tercatat dalam II Raja-raja. Hal itu terjadi pada
tahun ke-37 masa pemerintahannya dan kira-kira terjadi pada
tahun 560 sM. Kitab ini tidak mungkin ditulis sepulangnya
kaum Yahudi dari masa pembuangan di Babel (538 sM),
sebab penulisannya tidak menyebutkan hal itu. Oleh sebab
itu, kemungkinan kitab ini ditulis antara tahun 560-538 sM.
4. Tujuan.
Tujuan penulisan kitab ini, yaitu:
Sebagai catatan sejarah tentang kerajaan-kerajaan
bangsa Israel yang terpecah belah.
Sebagai peringatan bahwa ketidak-taatan akan
mendatangkan bencana.
5. Tema dan Inti Berita
Tema kitab ini, yaitu: Ketidak-taatan membawa kehancuran
bagi kerajaan. Hal ini sesuai dengan isi kitab ini, yaitu
dijelaskan tentang ketidak-taatan bangsa Israel. Hal ini
dimulai sejak zama raja Salomo. Pertama-tama Salomo hidup
taat pada Tuhan, namun pada masa tuanya ia mulai menjauh
dari Tuhan sebab pengaruh para istrinya. Akibatnya kerajaan
terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Utara dan Kerajaan
Selatan. Walaupun mereka mengalami perpecahan, namun
raja-raja Israel dan Yehuda tetap melakukan hal-hal yang
tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga akhirnga kedua
kerajaan itu ditaklukkan dan diasingkan oleh kerajaan lain.
Kerajaan Utara dan Israel jatuh ke tangan bangsa Asiria pada
tahun 722 sM. sedang kerajaan Selatan atau Yehuda
jatuh ke tangan bangsa Babilonia pada tahun 586 sM. Dalam
situasi seperti itu sebenarnya para nabi terus
memperingatkan bangsanya bahwa Allah tidak akan
menghukum mereka jika mereka bertobat. Jadi kitab Raja-
raja ini mengajarkan bahwa ketidak-setiaan dan melanggar
titah Allah pastilah mendapatkan ganjaran Allah dan jatuhnya
kerajaan. Kedua kerajaan runtuk sebab kegagalan raja-raja
untuk memerintah dengan adil serta tidak mengindahkan
kebenaran Allah.
6. Garis Besar
Di bawah ini akan dijelaskan garis besar kitab I Raja-raja,
yaitu:
a. Kesatuan Kerajaan: 40 tahun (psl. 1-11)
Takhta raja Salomo (1-2)
Himat raja Salomo (3-4)
Bait Suci didirikan raja Salomo (5-8)
Kejayaan raja Salomo (psl. 9-10)
Kejatuhan raja Salomo (11)
b. Kerajaan terpecah: 80 tahun (psl. 12-22)
Penyebab pecahnya kerajaan (12)
Pemerintahan Yerobeam di Israel (13)
Dosa raja
Peringatan nabi Allah
Dosa nabi Allah
Penghakiman atas raja
Pemerintahan Yerobeam di Yehuda (14)
Pemerintahan dua raja di Yehuda: Abiyam dan Asa
(15)
Pemerintahan 5 raja di Israel (16): Nadab, Baasha,
Ela, Zimri, Omri.
Pemerintahan Ahab di Israel (17-22)
Dosa Ahab: penyembahan berhala
Pelayanan nabi Elia di Karmel
Perang api dengan Baal
Pembantaian nabi-nabi Baal
Pelarian nabi Elia
Perang melawan Siria
Dosa Ahab
Perampasan tanah Nabot
Pembunuhan pemilik tanah
Kematian Ahab yang memalukan
Pemerintahan Yehosafat di Yehuda
Pemerintahan Ahasia di Israel
Garis besar kitab II Raja-raja:
a. Bubarnya kerajaan Israel (psl. 1-17)
Pemerintahan Ahazia di Israel (psl. 1)
Pemerintahan Yoram di Israel (2-8)
Terangkatnya nabi Elia
Ekspedisi raja Yoram
Pelayanan nabi Elia
Pemerintahan Ahazia di Yehuda
Pemerintahan Yehu di Israel (psl. 9-10)
Pemerintahan Atalya, Yehoas di Yehuda (psl. 11-12
Pemerintahan Yoas di Israel (13)
Pemerintahan Amasia di Yehuda (14)
Pemerintahan Yerobeam II di Israel
Pemerintahan Azaria di Yehuda (psl. 15)
Pemerintahan Zakharia, Salum di Israel
Pemerintahan Menahem, Pekhanya di Israel
Pemerintahan Yotam, Ahas di Yehuda
Pemerintahan Ahaz di Yehuda (psl. 16)
Pemerintahan Hosea di Israel (17)
Penurunan kerajaan di Israel
Perzinahan rohani Israel
Pembubaran kerajaan Israel
b. Bertahannya kerajaan Yehuda (psl. 18-25)
Pemerintahan Hizkia (psl. 18-20)
Pemerintahan Manasye, Amon (21)
Pemerintahan Yosia (psl. 22)
Pemerintahan Yoahas (psl. 23)
Pemerintahan Yoyakim, Yoyakin (psl. 24)
Pemeritahan Zedekia (psl. 25)
Kehancuran Bait Allah
Deportasi ketiga ke Babel
Pembebasan raja Yoyakin di Babel
Kitab Tawarikh
1. Judul
Hingga tahun 180 sM, kedua kitab Tawarikh ini masih
menyatu dengan judul Ibraninya: "Riwayat hari ini" (the words
/ affairs of the days) yaitu tawarikh Israel dari Adam hingga
pengasingan di Babel dan dekrit Koresy yang mengijinkan
kaum Yahudi pulang ke negerinya. Kitab ini terkadang disebut
"miniatur Perjanjian Lama".
Septuaginta membagi kitab Tawarikh menjadi dua bagian,
dengan judul "Yang Terhapus" (of things omitted), ini merujuk
pada hal-hal yang terhapus dari kitab Samuel dan kitab Raja-
raja. Judul Tawarikh (Chronicorum) berasal dari Jerome
dalam Vulgata (385) -405, yaitu Chronicorum Liber. Yang
dimaksudkan yaitu "Tawarikh Sejarah Suci" (The
Chronicles of the whole of sacred history).
2. Penulis
Penulis kitab Tawarikh tidak jelas, namun tradisi Yahudi
merujuk pada Ezra sebagai penulisnya. Ada konsistensi cara
penulisan dalam seluruh kitab ini walaupun terindikasi
beberapa beberapa sumber digunakan untuk menyusunnya,
sehingga disimpulkan hanya seorang editor yang telah
menyusun kitan ini sebagai produk finalnya. Dari beragam
sumber termasuk catatan para nabi, Samuel (I Taw. 29:29),
Yesaya (II Taw. 32:32) dan lainnya (II Taw. 9:29; 12:15;
20:34; 33:19), secara khusus menyebut kitab ini sebagai
"kirab raja-raja Yehuda dan Israel" (II Taw. 16:11; 25:26). Isi
kitabnya menunjuk penulisnya dari golongan imam sebab
fokusnya yang kuat terhadap Bait Allah, imamat dan garis
teokratis Daud dan kerajaan Selatan yaitu Yehuda. Bahwa
Ezra yaitu penulis kitab ini juga didukung oleh tema umum
kitab Ezra - Nehemia yang berisi pembangunan dan inagurasi
Bait Allah.
3. Periode Penulisan
Kalau kitab ini ditulis oleh Ezra maka kemungkinan besar
ditulis sekitar tahun 450 - 425 sM.
4. Tujuan
Tujuan kitab Tawarikh, yaitu:
Untuk mengingatkan kaum remnan yang pulang dari
pengasingan bahwa mereka berasal dari keturunan raja
Daud dan bahwa mereka yaitu umat pilihan Allah.
Untuk mengajar bahwa masa purbakala sarat dengan
pelaharan bagi masa kini mereka. Bidat, berhala, kawin
campur dengan bangsa lain, serta kurangnya persatuan
yaitu kelanjutan penyebab kehancuran mereka.
5. Tema dan Inti Berita Kitab
Tema kitab ini, yaitu Allah setia dengan Kovenan-Nya".
Walaupun bangsa Israel sering memberontak kepada Al




